Stockholm, 6 juni 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SERAMBI INDONESIA MENGARANG SENDIRI CERITA PEMBUNUHAN DI KRUENG JANGKO
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KELIHATAN ITU SERAMBI INDONESIA MENGARANG SENDIRI CERITA PEMBUNUHAN DI KRUENG JANGKO

Terima kasih saudara Reyza Zain di Harrisburg, Pennsylvania, USA yang telah mengirimkan berita tentang penembakan terhadap Herlinawati, 25, istri seorang tervonis GAM yang sedang dipenjarakan (Effendi), melukai Ernita, anaknya yang berumur 2 bulan, Hamidah ibu mertuanya, dan Saiful adek iparnya yang dilakukan oleh TNI/Polri atau milisi bentukan TNI/Polri pada hari Kamis tanggal 3 Juni 2004 malam di desa Krueng Jangko, Glumpang Tiga, Pidie.

Hanya ada cerita yang dimuat oleh Serambi Indonesia berdasarkan sumber Dandim Pidie, Letkol Inf A Rochim Siregar yang disampaikan kepada wartawan, Jumat petang, 4 Juni 2004, di Makodim Pidie. Dimana wartawan Serambi Indonesia yang berinisial Ran dan Da pada hari Sabtu, 5 Juni 2004 menulis:

Kronologis dari peristiwa yang menyedihkan itu, menurut Dandim Rochim Siregar, bermula dari kedatangan dua anggota GAM yang mengenderai sepeda motor ke rumah korban. Ketika itu, kedua anggota GAM menanyakan keberadaan Abdullah Yusuf, suami Hamidah. Namun, Hamidah beserta dua anaknya memberitahukan kalau Abdullah tak ada di rumah.

Ternyata, lanjut Dandim, jawaban dari istri beserta dua anak Abdullah Yusuf tak diterima oleh kedua GAM itu. Bahkan, kedua anggota GAM tersebut memeriksa isi rumah korban untuk mencari Abdullah Yusuf yang sehari-hari menjabat sebagai keuchik desa setempat.

Setelah itu, kata Rochim Siregar, kedua anggota GAM tersebut langsung menyatakan kepada keluarga Abdullah, bahwa mereka tak sabar lagi dengan janji-janji keuchik selama ini tak pernah ditepatinya. Selanjutnya, kedua anggota GAM terus menerus meminta apa yang mereka inginkan.

Permintaan tersebut tak dipenuhi oleh Hamidah sembari memarahi anggota GAM. Sambil menggendong cucunya, Hamidah mencoba melarikan diri, namun GAM yang sudah kalap mata langsung menembak korban dan cucunya, Ernita. Tidak hanya Hamidah dan cucunya, GAM juga memuntahkan peluru ke tubuh Herlinawti. Sehingga, ibu muda tersebut tewas ketika sampai di RSU Sigli.

Anggota GAM tersebut, juga menembak kaki Saiful (14) siswa SLTP. Karena, Saiful marah oleh tingkah GAM yang minta-minta pajak nanggroe. Setelah mengeksekusi keempat korban dengan AK 47 dan pistol, kedua anggota kelompok GAM kabur meninggalkan lokasi. Sementara korban dilarikan warga setempat ke RSU Sigli untuk mendapat perawatan medis. (ran/da)
indomedia.com/serambi/2004/06/050604h2.htm

Tetapi, cerita yang dimuat hari ini, Minggu, 6 Juni 2004 yang ditulis oleh wartawan Serambi Indonesia yang berinisial AS, lain pula cerita kejadian penembakannya itu. Dimana saudara AS menulis:

Diceritakan, kejadian itu bermula ketika dua orang anggota berpakaian hitam dan bertopeng menendang pintu, lalu masuk ke dalam rumah dan melepaskan tembakan secara membabibuta. Orang-orang yang ada di rumah, menurut Ernita, adalah ibunya (Hamidah), kakak Ernawati (korban meninggal), Saifullah , Jufriadi, Rahmadi dan Sineng (bayinya). Sementara ayahnya Geucik Abdullah Yusuf, tambah Ernita, sejak kejadian ditembak oleh GAM pada bulan Nopember tahun lalu, memang jarang pulang ke rumah (menetap di desa lain yang lebih aman).(as)
indomedia.com/serambi/2004/06/060604h2.htm

Nah, coba perhatikan berita penembakan dengan versi yang berbeda yang ditulis oleh wartawan yang berbeda tetapi sama dari Serambi Indonesia.

Menurut versi wartawan yang berinisial Ran dan Da, dua anggota GAM datang mengenderai sepeda motor ke rumah korban. Menanyakan keberadaan Abdullah Yusuf, suami Hamidah. Memeriksa isi rumah korban untuk mencari Abdullah Yusuf.
Nah disini Ran dan Da berdasarkan info dari sumber Dandim Pidie, Letkol Inf A Rochim Siregar telah menuding GAM yang menembak.
Jadi GAM dituduh sebagai pelaku penembakan. (Jelas kelihatan wajah pelakunya).

Sedangkan menurut versi wartawan yang berinisial AS, kejadian itu bermula ketika dua orang anggota berpakaian hitam dan bertopeng menendang pintu, lalu masuk ke dalam rumah dan melepaskan tembakan secara membabibuta.
Nah disini wartawan Serambi Indonesia yang berinisial AS menyatakan sipenembak adalah dua orang anggota berpakaian hitam dan bertopeng menendang pintu.
Jadi disini pelaku penembakan tidak jelas kelihatan wajahnya, karena bertopeng, dan tidak jelas anggota apa)

Nah sekarang, dari adanya dua versi cerita yang tidak pasti siapa pelakunya, maka jelas, bahwa cerita yang diambil dari sumber Dandim Pidie, Letkol Inf A Rochim Siregar yang disampaikan kepada wartawan, Jumat petang, 4 Juni 2004, di Makodim Pidie adalah pelakunya tidak benar dan tidak pasti.

Dandim Pidie, Letkol Inf A Rochim Siregar hanya menuduh seenaknya kepada anggota GAM. Dan memang menurut sumber informasi yang sampai kepada saya bahwa yang menembak itu adalah anggota TNI/Polri atau milisi bentukan TNI/Polri. www.dataphone.se/~ahmad/040605b.htm

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

http://indomedia.com/serambi/2004/06/050604h2.htm
GAM Bantai Keluarga Kades
*Seorang Tewas, Tiga Kritis

SIGLI - Kelompok separatis GAM kembali menoreh peristiwa berdarah yang sangat menyayat hati. Kali ini, terjadi atas keluarga Kepala Desa (Kades) Krueng Jangko Kecamatan Glumpang Tiga, Kabupaten Pidie. Sehingga, membuat Herlinawati (25) tewas (meninggal dunia), sedangkan bayinya, Ernita (2 bulan), serta adik dan ibunya mengalami luka cukup kritis. Dan, kini terpaksa diboyong ke RSU Zainoel Abidin Banda Aceh.

Peristiwa yang cukup mengenaskan itu, terjadi Kamis (3/6) malam di Desa Jangko. Kelompok separatis GAM, dengan membabi buta, menembaki korban Herlinawati, Ernita (anaknya), Saiful (adiknya), dan Hamidah (isteri Kades Krueng Jangko yang juga ibu dari Herlinawati), papar Dandim Pidie, Letkol Inf A Rochim Siregar kepada wartawan, Jumat petang kemarin, di Makodim Pidie.

Korban yang menemui ajal dalam kejadian itu adalah Herlinawati (25). Korban tewas sesampai di Rumah Sakit Umum (RSU) Sigli. Sementara tiga korban lain masing-masing Hamidah, Saiful, dan Ernita mengalami luka tembak cukup kritis. Bahkan, Hamidah dan Saiful terpaksa diboyong ke RSU Zainoel Abidin Banda Aceh.

Kronologis dari peristiwa yang menyedihkan itu, menurut Dandim Rochim Siregar, bermula dari kedatangan dua anggota GAM yang mengenderai sepeda motor ke rumah korban. Ketika itu, kedua anggota GAM menanyakan keberadaan Abdullah Yusuf, suami Hamidah. Namun, Hamidah beserta dua anaknya memberitahukan kalau Abdullah tak ada di rumah.

Ternyata, lanjut Dandim, jawaban dari istri beserta dua anak Abdullah Yusuf tak diterima oleh kedua GAM itu. Bahkan, kedua anggota GAM tersebut memeriksa isi rumah korban untuk mencar iAbdullah Yusuf yang sehari-hari menjabat sebagai keuchik desa setempat.

Setelah itu, kata Rochim Siregar, kedua anggota GAM tersebut langsung menyatakan kepada keluarga Abdullah, bahwa mereka tak sabar lagi dengan janji-janji keuchik selama ini tak pernah ditepatinya. Selanjutnya, kedua anggota GAM terus menerus meminta apa yang mereka inginkan.

Permintaan tersebut tak dipenuhi oleh Hamidah sembari memarahi anggota GAM. Sambil menggendong cucunya, Hamidah mencoba melarikan diri, namun GAM yang sudah kalap mata langsung menembak korban dan cucunya, Ernita. Tidak hanya Hamidah dan cucunya, GAM juga memuntahkan peluru ke tubuh Herlinawti. Sehingga, ibu muda tersebut tewas ketika sampai di RSU Sigli.

Anggota GAM tersebut, juga menembak kaki Saiful (14) siswa SLTP. Karena, Saiful marah oleh tingkah GAM yang minta-minta pajak nanggroe. Setelah mengeksekusi keempat korban dengan AK 47 dan pistol, kedua anggota kelompok GAM kabur meninggalkan lokasi. Sementara korban dilarikan warga setempat ke RSU Sigli untuk mendapat perawatan medis.

Dalam perjalanan yang cukup jauh atau berkisar 30 km dari tempat korban ke RSU Sigli, akhirnya Herlinawati meninggal dunia sesampai di rumah sakit. Sedangkan bayinya, meski menderita luka tembak, namun masih selamat. Dan, kini bersama adiknya dan ibu kandungnya menjalani pengobatan secara intensif.

Dandim lebih lanjut menyebutkan, dari peristiwa tersebut yang menjadi target penembakan adalah Kades Abdullah Yusuf. Yang bersangkutan, tambah Dandim, sudah lama menjadi target penembakan kelompok GAM. Abdullah sempat lolos dari penembakan GAM pada November tahun lalu. Pada malam naas tersebut, Keuchik Krueng Jangkoeu itu tidak berada di rumah, melainkan di Kota Bakti, Kecamatan Sakti.

Sementara itu, Jumat (4/6) pagi, kedua korban masing-masing Hamidah dan anaknya Saiful yang mengalami luka parah terpaksa diboyong ke RSU Zainoel Abidin Banda Aceh guna memperoleh perawatan yang lebih instensif. Ernita, bocah berumur dua bulan yang mengalami luka tembak tembus di bagian pergelangan tangan, dirawat di RSU Sigli.

Keuchik tewas

Sebelumnya, kata Dandim Pidie, kelompok GAM yang dikomandoi Saifullah juga beraksi di kecamatan sama. Mereka menembak hingga tewas Ramli (45), Keuchik Desa Krueng Njong. Korban ditembak tak jauh dari lokasi rumahnya oleh ke dua anggota GAM yang mengenderai sepeda motor.

Penembakan ini, jelas Rochim, adalah merupakan suatu upaya dari kelompok GAM untuk memberikan ketakutan pada masyarakat. Hal itu, sebut Dandim, agar masyarakat tetap mendukung kelompok GAM dengan cara memaksa, menembak dan membunuh apabila tak mengikuti perintah mereka. "GAM sebaiknya menyadari dan sadar bahwa membunuh masyarakat merupakan perbuatan salah," tandas Dandim.

Terhadap kedua peristiwa tersebut, tegas Dandim, pihaknya sampai sekarang terus melakukan pengejaran dan pengepungan untuk mencari pelaku pembunuhan terhadap masyarakat tak berdosa dan lemah. Apalagi dilakukan kepada kaum wanita dan anak-anak yang tak tahu apa-apa.

Sejauh itu, Dandim menyebutkan, prajurit TNI masih berada di lokasi kejadian. Mudah-mudahan pelaku pembunuhan terhadap masyarakat lemah itu bisa tertangkap. "Kita berharap kelompok Saifullah tersebut menyerah secara baik-baik. Jika tidak, ia akan menerima hukuman setimpal," sebut Dandim.

Pada kesempatan itu, Dandim meminta masyarakat senantiasa membantu prajurit TNI yang sedang menjalankan tugas operasi, dengan saling bahu membahu. Apalagi kelompok GAM sekarang ini sudah berani masuk desa menakuti rakyat. "Kami sangat berharap keterbukaan dari masyarakat, karena jika tidak masyarakat sendiri yang kesulitan oleh tindakan GAM," kata Dandim Rochim Siregar yang dikenal ramah dan terbuka kepada siapa saja kalangan masyarakat. (ran/da)

Serambi Indonesia Redaksi Jln. Laksamana Malahayati, Km 6 Desa Baet, Aceh Besar/Banda Aceh Tel (0651) 51800 Fax (0651) 51756
----------

http://indomedia.com/serambi/2004/06/060604h2.htm
Serambi Minggu, 06 Juni 2004
Korban Krueng Jangko Masih Kritis di RSUZA

BANDA ACEH - Tiga korban pembantaian kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Desa Krueng Jangko, Geulumpang Minyeuk, Kabupaten Pidie, masih kritis. Ketiga korban yang sekarang dirawat di Ruang Bedah Wanita Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin, Banda Aceh itu masing- masing Hamidah (45), Saifullah (15) dan bayi alias Sineng (2 bulan).

Menurut keterangan keluarga korban yang ditemui Serambi di RSUZA Banda Aceh, Sabtu (5/6), peristiwa pembantaian itu dilakukan kelompok GAM pada terjadi Kamis (3/6) pukul 20.00 WIB. Dikatakan, sepertinya GAM ingin membunuh seluruh isi keluarga Geucik Abdullah Yusuf. Sebab, sekitar 10 bulan lalu, Kades Krueng Jangko itu -- Abdullah Yusuf -- juga pernah ditembaki oleh GAM sebanyak delapan kali. "Ayah juga pernah ditembak oleh GAM. Lama juga dirawat di rumah sakit ini," tutur Ernita yang juga putri dari korban Hamidah.

Korban Hamidah (isteri Kades Abdullah Yusuf) dan Saifullah (putranya), kini masih kritis. Karena, dua peluru yang mengenai bagian bahu Hamidah, membuat korban tak berdaya. Begitu juga dengan kondisi putranya Saifullah. Dia mengalami luka tembak sebanyak tiga kali di bagian kaki.

Sementara seorang bayi (cucu Hamidah) yang ikut menjadi korban dalam peristiwa itu mengalami luka pada tangan kanan karena diterpa serpihan peluru. Menurut keterangan ibu bayi tersebut, Ernita, saat kejadian dia sedang ke kios membeli sesuatu. Sedangkan bayinya, dibangku oleh yahbitnya (paman), Saifullah.

Diceritakan, kejadian itu bermula ketika dua orang anggota berpakaian hitam dan bertopeng menendang pintu, lalu masuk ke dalam rumah dan melepaskan tembakan secara membabibuta. Orang-orang yang ada di rumah, menurut Ernita, adalah ibunya (Hamidah), kakak Ernawati (korban meninggal), Saifullah , Jufriadi, Rahmadi dan Sineng (bayinya). Sementara ayahnya Geucik Abdullah Yusuf, tambah Ernita, sejak kejadian ditembak oleh GAM pada bulan Nopember tahun lalu, memang jarang pulang ke rumah (menetap di desa lain yang lebih aman).(as)

Serambi Indonesia Redaksi Jln. Laksamana Malahayati, Km 6 Desa Baet, Aceh Besar/Banda Aceh Tel (0651) 51800 Fax (0651) 51756
----------