Stockholm, 8 juni 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SUMITRO ITU AMIEN RAIS MENYATAKAN NKRI SUDAH FINAL KARENA MEMBACA SEJARAH SOEKARNO
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS KELIHATAN SUMITRO ITU AMIEN RAIS MENYATAKAN NKRI SUDAH FINAL KARENA HANYA MEMBACA SEJARAH SOEKARNO

"Mengenai Soekarno mengambil keputusan untuk mengeluarkan Dekrit itu dengan pertimbangan yang matang dimana telah beberapa kali dilakukan pemungutan suara lewat musyawarah mufakat namun tidak berhasil dan kalaupun itu dilakukan lagi maka hasilnya tidak akan berubah. Dalam satu negara yang bernama Indonesia seperti hanya juga yang anda sendiri menyetujui diadakannya mufakat , musyawarah diutamakan maka itu telah dilakukan di badan kontituante namun hasilnya tetap sama dimana sebenarnya dalam beberapa kali pemungutan suara yang menginginkan kembali ke UUD'45 lebih banyak dari pada UUDS. Nach sebagai pemimpin maka soekarno harus mengambil jalan tengah sehingga soekarno saat itu khawatir kalau pemungutan suara itu terus dilakukan maka bisa terjadi konflik yang akan merugikan bangsa Indonesia nantinya. Itulah soekarno ..dia benar2 seorang pemimpin yang berani mengambil keputusan disaat-sat yang sangat menentukan." (Sumitro, mitro@kpei.co.id , Tue, 8 Jun 2004 08:23:42 +0700)

"Nach, yang menginginkan Islam jadi asas Negara hampr 50 % terus apakah anda mau menghargai suara yang menolak yang suaranya lebih dari 50% ? saya setuju bahwa apa yang dikatakan oleh sudara kamrasyid bahwa tidak lebih dari 50% itu tidak " begitu besar" karena saudara kamrasyid membandingkan dengan yang lebih dari 50% yakni yang memnentang Islam sebagai asas negara.Saudara Ahmad lah yang enggak punya otak ngaku2 dosen statistik lagi? ha ha ha ngajarin siapa bang alangkah ruginya siswa-siswi yang diajarkan oleh si Ahmad ?" (Sumitro, mitro@kpei.co.id , Tue, 8 Jun 2004 08:40:38 +0700)

"Oh yach Amien Rais menjawab loh bang Ahmad mengenai Aceh kata beliau " NKRI sudah final dan tidak adalagi yang akan dirubah, tinggal sekarang bagaimana NKRI itu semuanya makmur adil dan merata" Jadi enggak ada jalan dech bang Ahmad mempengaruhi orang untuk memisahkan diri dari NKRI mendingan kita semua sama2 memajukan aceh, ambon dan seluruh Indonesia ( NKRI) menjadi adil merata makmur dan sejahtera. Toh Aceh sudah diberikan OTDA secara penuh dan bebas menjalankan syariat islam terus apa lagi yang bang Ahmad CS mau ? aduh kok aku lupa yach bahwa bang Ahmad CS ini sebenarnya tujuan utamanya ingin mendapatkan kekayaan yang melimpah hidup mewah dengan cara gampang yakni mencaplok dan menguasai Aceh aduh enggak bakalan kesampaian dech yang akhirmnya bang Ahmad ujung2nya jadi stresss dan gila dech (sakit jiwa)" (Sumitro, mitro@kpei.co.id , Tue, 8 Jun 2004 08:46:35 +0700)

Baiklah saudara Sumitro di Jakarta, Indonesia.

Makin kelihatan saja saudara Sumitro kalau menjawab dalam disikusi di mimbar bebas ini asal mencuap mulut saja. Mengapa ?.

Coba saja perhatikan apa yang dikatakannya: "Sekarang saya yakin bahwa anda ini memang Islam tapi islam Radikal yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan membunuh sekalipun walaupun itu bertentangan dengan Islam sesungguhnya...Sekali lagi anda ini menganut Islam Radikal (aliran keras yang ujung-ujungnya akan sesat) ..aliran seperti anda inilah yang menciptakan teroris-teroris di dunia ini"

Mana ada dalam Al Quran dan As-Sunnah istilah Islam radikal. Itukan mengada-ada saja. Coba baca itu seluruh isi Al Quran ada itu istilah Islam radikal ?. Sampai dunia kiamatpun saudara Sumitro tidak akan menemukannya.

Itu kalau seorang muslim yang mukmin harus menjalankan apa yang terkandung dalam Al Quran dan mengikuti contoh Rasulullah saw, bukan mengada-adakan sendiri, mengambil pancasila sebagai sumber hukum negara RI. Kan salah kaprah. Bagi seorang sekular itu tidak menjadi masalah. Bagi seorang komunis, itu bukan soal besar. Bagi seorang sosialis, itu juga bukan masalah besar. Tetapi, bagi seorang muslim yang mukmin, baca dulu Al Quran dan As-sunnah saudara Sumitro sebelum berdebat tentang Negeri Acheh melawan Ahmad Sudirman. Jangan asal bercuap saja.

Jadi Saudara Sumitro, apabila seorang muslim yang mukmin menjalankan apa yang terkandung dalam Al Quran dan As-Sunnah, itu tidak akan sesat, saudara Sumitro. Coba tunjukkan dalam Al Quran dan As-Sunnah yang menyatakan orang akan sesat kalau menjalankan semua isi Al Quran dan As-Sunnah, orang tersebut adalah menganut Islam radikal, dan akan menghasilkan teroris ?.

Saudara Sumitro, saudara hanya menelan dan mencaplok pendapat orang-orang saja. Mendengar dari sana-sini tanpa ilmu pengetahuan Islam. Akhirnya jawabannya dalam debat tentang Acheh di mimbar bebas ini menjadi salah kaprah.

Seterusnya saudara Sumitro menyatakan: "Mengenai Soekarno mengambil keputusan untuk mengeluarkan Dekrit itu dengan pertimbangan yang matang dimana telah beberapa kali dilakukan pemungutan suara lewat musyawarah mufakat namun tidak berhasil dan kalaupun itu dilakukan lagi maka hasilnya tidak akan berubah. Dalam satu negara yang bernama Indonesia seperti hanya juga yang anda sendiri menyetujui diadakannya mufakat , musyawarah diutamakan maka itu telah dilakukan di badan kontituante namun hasilnya tetap sama dimana sebenarnya dalam beberapa kali pemungutan suara yang menginginkan kembali ke UUD'45 lebih banyak dari pada UUDS. Nach sebagai pemimpin maka soekarno harus mengambil jalan tengah sehingga soekarno saat itu khawatir kalau pemungutan suara itu terus dilakukan maka bisa terjadi konflik yang akan merugikan bangsa Indonesia nantinya. Itulah soekarno ..dia benar2 seorang pemimpin yang berani mengambil keputusan disaat-sat yang sangat menentukan. Lantas apakah keputusan itu salah?"

Saudara Sumitro, saudara menjawab itu telah membaca mengapa Soekarno mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959 ?. Atau hanya menjiplak kata orang saja. Atau hanya mengekor kepada pendapat para pengikut Soekarno saja ?.

Jelas, itu dilihat dari sudut alasan hukum, Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 adalah salah kaprah. Mengapa?

Pertama, setelah tiga kali hasil pemungutan suara dalam Konstituaten ternya tidak dicapai hasil mayoritas dua pertiga dari jumlah suara yang masuk menurut pasal 137 UUD 1950.

Kedua, tidak ada dasar hukumnya dalam UUDS 1950 yang menyatakan secara jelas dan terang hak dan kekuasaan Presiden untuk mengeluarkan Dekrit untuk membubarkan Konstituante (pembuat UUD). Soekarno hanya membuat logika sendiri saja. Mengapa ?

Karena dalam UUDS 1950 tidak menjelaskan bahwa Presiden bisa membubarkan Konstituante (pembuat UUD). Hanya dalam UUDS 1950 yang menganut sistem ketatanegaraan bersifat parlementer. Dimana pemerintah bisa membubarkan parlemen (DPR), dan sebaliknya parlemen (DPR) dapat menjatuhkan pemerintah. Juga dalam system ketatanegaraan bersifat parlementer ini Presiden hanya berkedudukan sebagai Kepala Negara (Pasal 45 ayat 1), namun Presiden memiliki kewenangan untuk membubarkan parlemen (DPR). Nah disini, karena Soekarno menganggap parlemen (DPR) sama tingkat dan kekuatannya dengan Konstituante (pembuat UUD), maka itu Konstituante disantapnya juga dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Jadi Soekarno membuat Dekrit Presiden 5 Juli 1959 hanyalah logika-logikaan. Yang celakanya diaminkan oleh kalangan ABRI, khususnya AD.

Jadi saudara Sumitro kalau saudara mengatakan: "Soekarno mengambil keputusan untuk mengeluarkan Dekrit itu dengan pertimbangan yang matang dimana telah beberapa kali dilakukan pemungutan suara lewat musyawarah mufakat namun tidak berhasil dan kalaupun itu dilakukan lagi maka hasilnya tidak akan berubah. Lantas apakah keputusan itu salah?".

Itu jawaban saudara Sumitro hanya sekedar bercuap saja tanpa didasarkan pada dasar hukum yang kuat. Dan hanya mengikuti propaganda Soekarno dan para pengikutnya saja yang tidak menginginkan Islam menjadi sumber hukum. Dan Hanya mengekor kepada Soekarno cs dengan ideologi nasionalisme dan komunisme-nya, yang dicampur adukkan menjadi nasakom, atau nasionalisme agama komunis saja.

Nah, coba kalau Soekarno itu pandai, bijaksana, pemimpin yang hebat, maka jelas dalam menyelesaikan ketidak berhasilan pemungutan suara, adalah bukan dengan cara membuat Dekrit Presiden 5 Juli 1959, melainkan dengan cara kompromi, yaitu kembali kepada apa yang sudah dibuat oleh Panitia sembilan yang telah merumuskan pancasila, yang mana salah satu anggota panitia sembilan itu adalah Soekarno. Tetapi, Soekarno yang telah membuat rumusan Piagam Jakarta, ternyata melemparkannya jauh-jauh.

Seterusnya saudara Sumitro mengatakan: "Nach, yang menginginkan Islam jadi asas Negara hampir 50 % terus apakah anda mau menghargai suara yang menolak yang suaranya lebih dari 50%? saya setuju bahwa apa yang dikatakan oleh sudara kamrasyid bahwa tidak lebih dari 50% itu tidak "begitu besar" karena saudara kamrasyid membandingkan dengan yang lebih dari 50% yakni yang memnentang Islam sebagai asas negara.Saudara Ahmad lah yang enggak punya otak ngaku2 dosen statistik lagi? ha ha ha ngajarin siapa bang alangkah ruginya siswa-siswi yang diajarkan oleh si Ahmad ?"

Saudara Sumitro, saudara ini buta hukum dalam menjawab debat tentang negeri Acheh ini. Saya sudah menjelaskan diatas, itu hasil suara yang lebih dari 50% adalah belum mencukupi dua pertiga suara seperti apa yang termaktub dalam pasal 137 UUD 1950. Jadi, apapun alasannya adalah salah menurut konstitusi atau Undang Undang Dasar 1950 yang dijadikan dasar hukum RI.

Justru jalan keluarnya yang terbaik adalah cari jalan melalui kompromi dan musyawarah. Itu Piagam Jakarta sebagai jalan keluarnya, yang telah dibahas dan disetujui oleh Soekarno Cs dalam rapat panitia sembilan. Bukan seenak udel main logika-logikaan membuat Dekrit 5 Juli 1959 untuk membubarkan Konstituante Lembaga pembuat UUD.

Selanjutnya saudara Sumitro menulis: "Oh yach Amien Rais menjawab loh bang Ahmad mengenai Aceh kata beliau " NKRI sudah final dan tidak adalagi yang akan dirubah, tinggal sekarang bagaimana NKRI itu semuanya makmur adil dan merata". Jadi enggak ada jalan dech bang Ahmad mempengaruhi orang untuk memisahkan diri dari NKRI mendingan kita semua sama2 memajukan aceh, ambon dan seluruh Indonesia ( NKRI) menjadi adil merata makmur dan sejahtera. Toh Aceh sudah diberikan OTDA secara penuh dan bebas menjalankan syariat islam terus apa lagi yang bang Ahmad CS mau ? aduh kok aku lupa yach bahwa bang Ahmad CS ini sebenarnya tujuan utamanya ingin mendapatkan kekayaan yang melimpah hidup mewah dengan cara gampang yakni mencaplok dan menguasai Aceh aduh enggak bakalan kesampaian dech yang akhirmnya bang Ahmad ujung2nya jadi stresss dan gila dech (sakit jiwa)"

Saudara Sumitro, saudara ini makin pusing tujuh keliling saja. Itu cerita Amin Rais yang menyatakan NKRI sudah final, karena mengikuti para penerus Soekarno saja. Masa Negeri Acheh yang dengan jelas dan terang ditelan, dicaplok, diduduki, dan dijajah oleh Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 memakai PP RIS No.21/1950 dan PERPPU No.5/1950 dan dimasukkan kedalam tubuh RI yang menjelma menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950, dan dipertahankan sampai detik sekarang ini oleh Presiden RI Megawati dikatakan sudah final oleh Amien Rais ?

Amien Rais ini belajar sejarah perkemabangan Negeri Acheh dan sejarah Nasional RI ketika masih di bangku sekolah Muhammadiyah atau tidak ?. Oh, kalau sudah belajar sejarah Acheh dan sejarah nasional RI yang diajarkan oleh penerus Soekarno memang wajar, akhirnya Amien Rais yang jadi Capres dari PAN menyatakan NKRI sudah final. Itulah karena memang benar Amien Rais hanyalah mengekor kepada Soekarno dan para penerusnya.

Coba saya ajak Amien Rais atau para pengikut setia Amien Rais untuk berdebat di mimbar bebas ini tentang Acheh. Apakah alasan utama yang menjadi dasar hukum sehingga Amien Rais mengatakan NKRI sudah final ?

Terakhir saudara Sumitro menyatakan: "Toh Aceh sudah diberikan OTDA secara penuh dan bebas menjalankan syariat islam terus apa lagi yang bang Ahmad CS mau ? aduh kok aku lupa yach bahwa bang Ahmad CS ini sebenarnya tujuan utamanya ingin mendapatkan kekayaan yang melimpah hidup mewah dengan cara gampang yakni mencaplok dan menguasai Aceh aduh enggak bakalan kesampaian dech yang akhirnya bang Ahmad ujung2nya jadi stresss dan gila dech"

Saudara Sumitro mengenai otonomi daerah Acheh berdasarkan UU RI Nomor 18 tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi provinsi daerah istimewa Aceh sebagai provinsi Nanggroe Aceh Darussalam telah saya bahas dasar hukumnya dalam tulisan sebelum ini sebagai jawaban kepada tulisan saudara Jayadi Kamrasyid. Lihat lagi di www.dataphone.se/~ahmad/040608.htm

Lalu, darimana saudara membaca bahwa "bang Ahmad CS ini sebenarnya tujuan utamanya ingin mendapatkan kekayaan yang melimpah hidup mewah dengan cara gampang yakni mencaplok dan menguasai Aceh"

Saudara Sumitro, saudara ini memang karena tidak mempunyai alasan kuat yang berisikan fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah tentang Negeri Acheh yang dianggap milik RI atau NKRI, sehingga dengan seenak udel menuliskan bahwa Ahmad Sudirman Cs tujuannya utamanya ingin mendapatkan kekayaan yang melimpah hidup mewah dengan cara gampang, yakni mencaplok Acheh.

Nah, saudara Sumitro ini jelas, tidak mau paham dan tidak mau mengerti, tidak mau menerima fakta dan bukti, dasar hukum, dan sejarah penelanan, pencaplokan, pendudukan dan penjajahan Negeri Acheh yang dilakukan oleh Presiden RIS Soekarno.

Sudah jelas termaktub dalam deklarasi Negara Acheh yang dideklarasikan pada tanggal 4 Desember 1976 yang sebagian isinya berbunyi: "We, the people of Acheh, Sumatra, exercising ou rright of self-determination, and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland, do hereby declare ourselves free and independent from all political control of the foreign regime of Jakarta and the alien people of the island of Java. (Kami bangsa Acheh Sumatra, telah melaksanakan hak hak kami untuk menentukan nasib sendiri, dan melaksanakan tugas kami untuk melindungi hak suci kami atas tanah pusaka peninggalan nenek moyang, dengan ini menyatakan diri kami dan negeri kami bebas dan merdeka dari penguasaan dan penjajahan regime asing Jawa di Jakarta.)" (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra, 1984, page 15).

Jadi saudara Sumitro, rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI adalah bukan dengan tujuan untuk mendapatkan kekayaan yang melimpah hidup mewah dengan cara gampang, melainkan untuk menentukan nasib sendiri, dan melaksanakan tugas untuk melindungi hak suci rakyat Acheh kami atas tanah pusaka peninggalan nenek moyang yang telah ditelan, dicaplok, diduduki, dan dijajah oleh RIS pada 14 Agustus 1950 yang diteruskan oleh RI yang menjelma menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950 sampai detik sekarang ini.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

From: Sumitro mitro@kpei.co.id
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, Ditya Soedarsono <dityaaceh_2003@yahoo.com>,
Yuhendra <yuhe1st@yahoo.com>, Matius Dharminta <mr_dharminta@yahoo.com>, Habe Arifin <habearifin@yahoo.com>, MT Dharminta <editor@jawapos.co.id>, Suparmo suparmo@tjp.toshiba.co.jp
Cc: nettysuwarto@yahoo.com, netty_suwarto@hotmail.com
Subject: RE: NETTY MEMINTA PERS TAMPIL MENJEMBATANI PENYELESAIAN KONFLIK ACHEH SECARA NETRAL
Date: Tue, 8 Jun 2004 08:46:35 +0700

Oh yach Amien Rais menjawab loh bang ahmad mengenai Aceh.....kata beliau " NKRI sudah final dan tidak adalagi yang akan dirubah,,tinggal sekarang bagaimana NKRI itu semuanya makmur adil dan merata " jadi enggak ada jalan dech bang ahmad mempengaruhi orang untuk memisahkan diri dari NKRI......mendingan kita semua sama2 memajukan aceh, ambon dan seluruh Indonesia ( NKRI) menjadi adil merata makmur dan sejahtera. Toh Aceh sudah diberikan OTDA secara penuh dan bebas menjalankan syariat islam...terus apa lagi yang bang ahmad CS mau ? ..aduuuuuuuuuuuuuuuuuu kok aku lupa yach bahwa bang ahmad CS ini sebenarnya tujuan utamanya ingin mendapatkan kekayaan yang melimpah hidup mewah dengancara gampang yakni mencaplok dan menguasai ACEH....aduuuuuuuhhhhhhhhhhh enggak bakalan kesampaian dech....yang akhirmnya bang ahmad ujung2nya jadi stresss dan GILA dech...( sakit jiwa)

Sumitro

mitro@kpei.co.id
Jakarta, Indonesia
----------

From: Sumitro mitro@kpei.co.id
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, Ditya Soedarsono <dityaaceh_2003@yahoo.com>, Yuhendra <yuhe1st@yahoo.com>, Matius Dharminta <mr_dharminta@yahoo.com>, Habe Arifin <habearifin@yahoo.com>, MT Dharminta <editor@jawapos.co.id>, Suparmo <suparmo@tjp.toshiba.co.jp>, Hidajat Sjarif siliwangi27@hotmail.com
Cc: JKamrasyid@aol.com
Subject: RE: KAMRASYID ITU FAKTA & BUKTI SOEKARNO MENOLAK ISLAM
Date: Tue, 8 Jun 2004 08:40:38 +0700

Saudara Ahmad...anda megatakan :
Coba pikir, kata saudara Kamrasyid, Soekarno tidak menolak asas Islam, melainkan rakyat Indonesia. Hasil Pemilu 1955". Ternyata setelah saya gali itu sejarah hasil pemilu 1955. Eh, rupanya justru hampir 50 % yang menginginkan asas Islam dalam UUD.

Jelas itu adalah besar, hampir 50 % yang menginginkan Islam menjadi asas dalam UUD. Padahal menurut saudara Kamrasyid ditolak oleh rakyat (para anggota Konstituante) hasil pemilu 1955. Memang saudara Kamrasyid ini mengarang-ngarang, semau udelnya sendiri.

Nach.....yang menginginkan Islam jadi asas Negara hampr 50 % terus apakah anda mau menghargai suara yang menolak yang suaranya lebih dari 50% ??? saya setuju bahwa apa yang dikatakan oleh sudara kamrasyid bahwa tidak lebih dari 50% itu tidak " begitu besar" karena saudara kamrasyid membandingkan dengan yang lebih dari 50% yakni yang memnentang Islam sebagai asas negara.Saudara Ahmad lah yang enggak punya otak..ngaku2 dosen statistik lagi.......???/ha..ha...ha..........ngajarin siapa bang..........alangkah ruginya siswa-siswi yang diajarkan oleh si ahmad...???

Sumitro

mitro@kpei.co.id
Jakarta, Indonesia
----------

From: Sumitro mitro@kpei.co.id
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, Ditya Soedarsono <dityaaceh_2003@yahoo.com>, Yuhendra <yuhe1st@yahoo.com>, Matius Dharminta <mr_dharminta@yahoo.com>, Habe Arifin <habearifin@yahoo.com>, MT Dharminta <editor@jawapos.co.id>, Suparmo <suparmo@tjp.toshiba.co.jp>, Hidajat Sjarif siliwangi27@hotmail.com
Cc: Sumitro <mitro@kpei.co.id>, JKamrasyid@aol.com, ahmad@dataphone.se
Subject: RE: SUMITRO & KAMRASYID DUKUNG PANCASILA TETAPI TIDAK TAHU ASAL USUL PANCASILA
Date: Tue, 8 Jun 2004 08:23:42 +0700

Sekarang saya yakin bahwa anda ini memang Islam tapi islam Radikal yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan membunuh sekalipun walaupun itu bertentangan dengan Islam sesungguhnya. Dan Anda ini bahkan lebih biadab dariupada kafir yang anda tuduhkan. Saudara Achmad....andai anda ada saat pembentukan atau sejarah bagaimana lahirnya pancasila dan kenapa harus ada pancasila dan UUD'45 dan bagaimana proses itu berlangsung serta hanya berapa waktu yang harus ditempuh untuk membuat itu semua maka mungkin saudara ahmad akan mengerti.

Mengenai Soekarno mengambil keputusan untuk mengeluarkan Dekrit itu dengan pertimbangan yang matang dimana telah beberapa kali dilakukan pemungutan suara lewat musyawarah mufakat namun tidak berhasil dan kalaupun itu dilakukan lagi maka hasilnya tidak akan berubah. Dalam satu negara yang bernama Indonesia seperti hanya juga yang anda sendiri menyetujui diadakannya mufakat , musyawarah diutamakan maka itu telah dilakukan di badan kontituante namun hasilnya tetap sama dimana sebenarnya dalam beberapa kali pemungutan suara yang menginginkan kembali ke UUD'45 lebih banyak dari pada UUDS. Nach sebagai pemimpin maka soekarno harus mengambil jalan tengah sehingga soekarno saat itu khawatir kalau pemungutan suara itu terus dilakukan maka bisa terjadi konflik yang akan merugikan bangsa Indonesia nantinya. Itulah soekarno ..dia benar2 seorang pemimpin yang berani mengambil keputusan disaat-sat yang sangat menentukan.

Lantas apakah keputusan itu salah? bagi yang menginginkan Indonesia sebagai negara Islam memang kecewa tapi bagi yang nasionalis ( non islam maupun islam itu sendiri) maka keputusan soekarno itu merupakan keputusan yang bijak. Dalam satu keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin maka pasti ada yang suka dan ada yang tidak suka, itulah konekuensi dari sebuah keputusan . Negar kita udah jelas bukan negara Islam kok mau dipaksakan..????? Emannya nenek
lo berjuang enggak sih untuk Indonesia ?

Sebelumnya saya sudah paprkan bahwa negara kita ini merdeka , korban harta,benda, bahkan darah sekalipun bukan hanya dilakukan oleh Islam tapi semua elemen dan agam ikut andil didalamnya..nach itu harus kita hargai.Lantas dengan berasaskan Pancasila dan UUD-45 rakyat indonesia mengamuk ? TIDAK ! bahkan kalau hal tersebut tidak diberlakukan maka
Indonesia dalam hal ini NKRI sudah lama pecah berkeping-keping.

Saudara Ahmad....sekali lagi anda ini menganut Islam Radikal ( aliran keras yang ujung-ujungnya akan SESAT ) ..aliran seperti anda inilah yang menciptakan teroris-teroris di dunia ini.....anda meyakini sesuatu yang tidak benar sayang ...sebelum terlambat segera tobat dan sadarlah bahwa sebentar lagi anda akan meninggalkan dunia ini sayangkan kalau anda menghadap Allah SWT dengan iman yang sesat ? cobalah baca Qur'an dan pahami dengan benar sehingga hati anda kembali terbuka dan suci sehingga anda kelak dapat mempertanggung jawabkan perbuatan2 anda dihadapan Allah SWT.

Sallam.

Sumitro

mitro@kpei.co.id
Jakarta, Indonesia
----------