Stockholm, 9 juni 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

TATI TIDAK PAHAM KONFLIK ACHEH TIMBUL KARENA PENDUDUKAN & PENJAJAHAN
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MEMANG KELIHATAN TATI TIDAK PAHAM KONFLIK ACHEH TIMBUL KARENA PENDUDUKAN & PENJAJAHAN

"Saya bukan lama tinggal di Aceh. Saya bulan juli 2002 hanya berkunjung kerumah sepupu saya. Betul pihak GAM bermusuhan dg TNI tapi yang tidak kita mengerti kenapa kita pendatang langsung dicurigai" (Tati, narastati@yahoo.com , Tuesday, June 08, 2004 1:11 PM)

Baiklah saudari Tati di Jakarta, Indonesia.

Setelah saya membaca cerita saudari Tati yang dikirimkan kepada saya tentang pengalamannya selama dua minggu pada bulan juli 2002 di Negeri Acheh. Saya menemukan satu gambaran yang menggambarkan situasi akibat dari deklarasi perang yang dijalankan oleh Penguasa RI Presiden Megawati. Dimana Presiden Megawati pada waktu itu telah mengeluarkan dasar hukum Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Peningkatan langkah komprehensif dalam rangka percepatan penyelesaian masalah Aceh yang dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 10 Februari 2002 oleh Presiden RI Megawati Soekarnoputri.

Sebagian isi dari Inspres No.1/2002 memberikan kekuasaan kepada pihak Panglima TNI membantu Kepala Kepolisian Negara RI dalam upaya pemulihan keamanan di Acheh dengan mengerahkan unsur TNI melalui upaya mengatasi dan menanggulangi ASNLF atau GAM. Unsur Kepolisian Negara RI dibantu unsur TNI secara bersama untuk menghadapi pihak ASNLF atau GAM dan TNA. Dengan alasan bahwa pihak ASNLF atau GAM merupakan ancaman terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI dan secara hukum merupakan kejahatan terhadap keamanan negara. Padahal, yang sebenarnya adalah justru sebaliknya, pihak NKRI-lah yang menelan dan menduduki Negeri Acheh melalui tangan Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 dengan menggunakan PP RIS No.21/1950 dan PERPPU No.5/1950.

Nah, selama deklarasi perang pihak RI melalui pengeluaran Inspres No.1/2002 diberlakukan di Negeri Acheh, maka dalam saat dan situasi konfrontasi antara pihak Pemerintah RI dan pihak ASNLF atau GAM datangka saudari Tati ke Acheh untuk berjumpa sepupunya yang menikah dengan orang Acheh asli.

Selama dalam perjalannan dalam bus sampai selama dua minggu di Negeri Acheh, tidak disebutkan di kota mana di Achehnya (apakah di Louksemawe?). Saudari Tati telah menceritakannya. Cerita yang dilihat dari sudut seorang wanita yang sepupunya merantau ke Negeri Acheh dan membangun keluarga di Acheh.

Tentu saja, akibat dari deklarasi perang yang dinyatakan oleh pihak Presiden Megawati dengan Inspres No.1/2002 pada tanggal 10 Februari 2002 itulah yang menimbulkan bahan cerita saudari Tati ini.

Tetapi, karena saudari Tati, bercerita pengalamannya tidak memasukkan unsur penyebab timbulnya konflik di Acheh itu, maka yang tampak oleh pembaca cerita Tati itu adalah ketegangan, ketakutan, kecemasan rakyat luar atau pendatang dari luar Acheh yang menentap di Negeri Acheh terhadap GAM.

Padahal sebenarnya, timbulnya situasi mencekam itu akibat dari pihak Pemerintah Megawati yang sedang menjalankan dan meneruskan kebijaksanaan politik pendudukan dan penjajahan di Negeri Acheh melanjutkan penjajahan yang dijalankan oleh Soekarno.

Nah karena, saudara Tati tidak memahami dan tidak mempelajari akar masalah konflik Acheh yang sebenanrnya, maka ketika mengambil kesimpulan dari apa yang dilihatnya selama dua minggu di Negeri Acheh, lahirlah pendapat saudari Tati: "Sebenarnya konflik ini terpicu faktor kesenjangan sosial yg muncul sifat iri karena pendatang banyak berhasil. apalagi di daerah rawan konflik seperti louksemawe hampir rata-rata pekerjanya diperusahaan2 asing dan besar suku pendatang sementara kehidupan masyarakatnya miskin. Alasan memusuhi suku Jawa adalah alasan yg dicari2 karena kebanyakan tentara yg dikirim dari pulau Jawa."

Nah kan kelihatan, hasil kesimpulan yang diambil oleh saudari Tati adalah kesimpulan yang salah besar. Masa akar masalah konflik Acheh yang bermula dari penelanan, pencaplokan, pendudukan, dan penjajahan yang dilakukan oleh Presiden RIS Soekarno ada tanggal 14 Agustus 1950 ditukarnya oleh saudari Tati dengan masalah "faktor kesenjangan sosial yg muncul sifat iri karena pendatang banyak berhasil. (Adapun) Alasan memusuhi suku Jawa adalah alasan yg dicari2 karena kebanyakan tentara yg dikirim dari pulau Jawa".

Disinilah, akibat adanya ketidaktahuan dan kekuarangan pengetahuan dari rakyat di RI tentang akar masalah sebenarnya konflik Acheh ini. Sehingga sebagian rakyat di RI menduga dan atau menganggap bahwa konflik di Acheh adalah konflik kesenjangan sosial. Dimana para transmigran yang datang ke Acheh mendapat kesempatan bekerja di perusahaan minyak dan mendapat penghasilan yang baik, sedangkan rakyat Acheh sendiri tetap dalam kemiskinan.

Padahal sebenarnya masalah kesenjangan sosial dan masalah perbedaan status ekonomi antara para transmigran dan penduduk Acheh bukanlah yang menjadi akar masalah sebenanrnya dan yang utama. Karena akar masalah yang utama adalah Negeri Acheh yang diduduki dan dijajah oleh pihak RI yang menjelma menjadi NKRI.

Adapun soal yang menimpa para transmigran di Acheh itu akibat dari kebijaksanaan politik pihak Soeharto yang diterapkannya di Negeri Acheh, tanpa mempelajari akibatnya dikemudian hari. Karena masalah perpindahan penduduk dari sati daerah kedaerah lain tanpa dipelajari secara mendalam ditinjau dari segala sudut, maka akibatnya akan fatal. Khususnya kalau timbul konflik di daerah Acheh. Dimana ditinjau dari segi politik, adanya perpindahan penduduk Jawa ke Acheh itu merupakan penampilan yang demonstratif dari pihak Soeharto yang menyatakan bahwa Negeri Acheh adalah milik dan bagian RI, walaupun kenyataannya Negeri Acheh adalah diduduki dan dijajah RI.

Jadi, selama akar masalah konflik Acheh ini tidak mau diakui dan tidak ingin diterima oleh pihak Pemerintah RI, maka selama itu konflik Acheh akar terus berlangsung.

Kecurigaan pihak rakyat Acheh terhadap para transmigran dan mereka pendatang yang datang dari luar Acheh adalah suatu sikap yang wajar dan masuk diakal. Karena memang pada saat saudari Tati berkunjung ke Acheh sedang berlaku perang antara pihak TNI dan pihak ASNLF atau GAM dengan TNA-nya dengan berdasarkan dasar hukum Inspres no.1/2002 yang dikeluarkan oleh Presiden Megawati.

Tentu saja pihak Pemerintah RI dan TNI berusaha terus untuk membelokkan akar konflik Acheh ini kearah jurusan masalah kesenjangan sosial dan perbedaan masalah status ekonomi antara para transmigran dan rakyat Acheh setempat.

Disinilah sebagian besar rakyat di RI tertipu oleh taktik dan strategi pendudukan dan penjajahan yang dijalankan oleh pihak RI melalui propaganda isap jempol-nya yang membelokkan akar utama konflik Acheh ini.

Sehingga wajar kalau saudari Tati bercerita pengalamannya selama dua minggu di Negeri Acheh lalu menyimpulkan bahwa faktor kesenjangan sosial yg muncul sifat iri karena pendatang banyak berhasil.

Bagi orang yang tidak mengetahui akar masalah sebenarnya konflik Acheh ini akan mudah terjerat oleh propaganda murahan pihak Pemerintah RI dan TNI yang menyatakan bahwa konflik Acheh adalah karena adanya kesenjangan sosial dan perbedaan status kehidupan ekonomi antara para transmigran dan rakyat pribumi Acheh.

Sedangkan bagi rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasibnya sendiri bebas dari pengaru kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI justru penyebab konflik Acheh karena memang Soekarno dengan RIS-nya menelan, mencaplok, menduduki, dan menjajah Negeri Acheh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Tue, 8 Jun 2004 22:20:19 -0700 (PDT)
From: tati - narastati@yahoo.com
Subject: RE: GAM OH GAM
To: "Sadan AS (AgusHermawan) KUW" <sadanas@equate.com>,mitro@kpei.co.id
Cc: ahmad@dataphone.se

Sebenarnya sikap masyarakat aceh itu sama juga dengan sikap masyarakat Indonesia pada umumnya ramah hanya mereka sekarang sedikit lebih hati2.jadi sama seperti kita pada umumnya saling bertegur sapa cuma sedikit kaku lagian mereka kebanyakan didalam rumah. paling muncul sore2 tapi disana tdk ada ngobrol ngerumpi seperti ibu2 pd umumnya. untuk kita pendatang terasa tdk nyaman tapi bagi sy itu tdk masalah wajar karena situasi yg membentuk mereka spt itu. Tapi rasa kedekatan disaat kerusuhan itu ada, saling menyelamatkan misal; ketika GAM melakukan perlawanan istilahnya kalau tidak salah "MOGOK" biasanya pihak GAM memberitahu nah itu orang tua sibuk menjemput anaknya disekolah. mereka juga membawa anak2 yg orang tuanya kerja dan belum datang.contohnya anak sepupu sy mereka dijemput ketiganya disekolah pihak sekolah juga kooperatif memberitahu keorang tua murid, mereka saling bantu menyelamatkan. Sebab kontak senjata bisa terjadi kapan saja.

Memang iya kalau bertemu pendatang dg pendatang tegur sapanya terasa tidak kaku mungkin krn kita merasa senasib dan gak perlu saling mencurigai jadi tulus. Pembantu kakak sy orang aceh dari dia juga sy dapat informasi bahwa sesungguhnya mereka tidak suka dg perjuangan GAM sekarang. tapi ketika saudaranya satu kampung datang, dia wanti2in juga apa yg dia bicarakan itu jg disampaikan kesaudaranya jadi antara orang aceh dg orang aceh itu sendiri tdk saling percaya, sepupu sy misalnya klu lagi bicarakan GAM dan kami bisik2, krn ada istilah dinding bisa bicara. pas adik iparnya berada ditengah kita, itu langsung pembicaraan dialihkan.

Ketika di pasar belanja (sy hanya 2x ikut belanja kepasar ngeri..) suasana memang terasa kaku bagi kita orang baru tapi ibu-ibu yg belanja sih tatapannya biasa aja.pedagangnya juga biasa tapi tidak seperti pasar rakyat daerah lainnya antara sipenjual dan pembeli kan saling komunikasi yg aktif. kebencian memang mereka tdk tampakkan tapi tatapan curiga dan gak bersahabat itu ada, yg sy tak suka mata situkang becak seolah ikut mengawasi kita. krn menurut sepupu sy tukang2 becak itu kebanyakan mata2 GAM. apalagi saat sy belanja,istri2 TNI/Polri juga belanja dan mereka dikawal lengkap dg senjata aduh.... benar2 bikin jantung copot berseliweran didepan sy. biasanya nonton di film adegan seperti ini ...nah sekarang sy alami..wih seram. istri2 /Polri ini memang incaran pihak GAM makanya mereka belanja bersama-sama naik Truk dg pengawalan. ada keinginan sy untuk menegur atau berbincang tapi gimana suasana tdk memungkinkan.

Jadi kalau sy ikut kekantor baru sy nyaman tapi kalau dirumah dg pembantu sy stress habis sy jadi kebawa sifat curiga jg2...dst.... dirumahpun kalau siang tdk ada yg duduk diteras didalam saja semua pintu ditutup...ya sama juga kebanyakan rumah di komplek cuma ada kecemasan aja...mana tau TNI/Polri atau GAM salah sasaran nembaknya.

Wassalam

Tati

narastati@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------

Assalamu'alaikum wr.wb.
Mbak Tati, apa khabar? Semoga mbak selalu ada dalam keadaan sehat wal'afiat selamanya...amiin.

Mbak, maaf saya send email ini,saya sangat tertarik dengan cerita yg mbak tulis ini. Saya juga salah seorang yg begitu trenyuh melihat konflik di Aceh,tapi kalau memperhatikan sikap sikap orang Aceh yg pro GAM, kayanya rasa simpatik itu mulai luntur.

Saya pingin Tanya,gimana sebenarnya masyarakat Aceh sendiri sikapnya terhadap pendatang, misalnya kalau Mbak Tati pergi ke pasar atau ketempat mana aja yg banyak orang, apakah tatapan mereka penuh kebencian atau gimanalah pokona cerita yg banyak wae, ok?

Saya tunggu replynya.

Wassalam

AgusHermawan

sadanas@equate.com
Kuwait
----------

From: Sumitro mitro@kpei.co.id
To: tati - <narastati@yahoo.com>, ahmad@dataphone.net
Subject: RE: GAM OH GAM
Date: Tue, 8 Jun 2004 13:29:04 +0700

Saya benar2 terkesima dengan cerita anda...saya memang belum pernah ke Aceh tapi dari cerita anda yang sebagian kecil dari peristiwa2 yang membuat merinding maka say ikut terhanyut didalamnya. Saya bisa membayangkan bagaimana rasa ketakutan rakyat aceh dan bagaimana ketidak tenagan kehidupan disana....Ya..Allah Yang Maha Kuasa..lindungilah umatmu dan hamba-hambamu di Aceh sehingga mereka terhindar dari kebiadaban dan kekejaman dari orang2 yang sesat dari ajaranMu.

Terima kasih tati atas masukanmu dan ini menjadi pertimbangan bagi saya dan teman2 sikap apa yang akan diambil sehubungan dengan Aceh.

Wasallam.

Sumitro

mitro@kpei.co.id
Jakarta, Indonesia
----------

From: tati - [mailto:narastati@yahoo.com]
Sent: Tuesday, June 08, 2004 1:11 PM
To: mitro@kpei.co.id; ahmad@dataphone.net
Subject: Re: GAM OH GAM

Maaf pak Suwarto, sy baru buka email jadi terlambat utk menjawab terima kasih atas attn. Bapak email yg sy kirim berdasarkan pengalaman sy.

Sy bukan lama tinggal di Aceh. Sy bulan juli 2002 hanya berkunjung kerumah sepupu sy. Betul pihak GAM bermusuhan dg TNI tapi yg tidak kita mengerti kenapa kita pendatang langsung dicurigai. Contoh: ketika sy berangkat dari medan-aceh dg bus jam 5.00 sore di terminal sy sudah diberitahu oleh pihak bus yakni supir dan kernet-nya bahwa sy harus menggunakan tutup kepala (wajib) memang sebelumnya ipar sy mengingatkan tapi sy merasa itu bukan wajib jadi sy tidak kenakan apalagi sy yakin ipar sy orang aceh. Tapi ketika supir itu mengatakan sy harus menutup kepala sebab nanti bisa jadi masalah terpaksalah sy sibuk mencari apa yg bisa menutup kepala untung sy bawa scarf panjang jadi itu sy gunakan. Memasuki malam suasan mencekam sy rasakan dan sepanjang jalan sy hanya berdzikir. Saat mata sy mengantuk tiba-tiba sy dikejutkan dg naiknya oranng2 tak dikenal kedlm bus pas berdiri didepan saya, krn sy duduk paling depan pintu masuk, moncong senjatanya tepat mendekati muka sy ketika dia berdiri. Dan sy melihat mereka dg mata setengah terpejam. Mereka periksa spi kebelakang yg terdengar oleh sy teriakan mereka "Ada Loreng tak" kemudian mereka berbicara dlm bahasa aceh kepada supir. Rata-rata mereka tidak berpakaian dinas ada yg hanya memakai celana panjang digulung tanpa baju dan sarung diselempangkan. Jalan mereka hambat dg drum bekas. Lucunya pemeriksaan ini ber-ulang kodenya cukup dg menggunakan senter. Dan nanti pihak kernet turun memberikan uang. Ini adalah pengalaman yg paling menakutkan bagi sy dan tak pernah terlupakan seumur-umur baru sekali ini sy melihat langsung senjata dimana moncongnya bertepatan diarahkan ke sy. Dan yg tak sy suka mereka pandangi sy lama sptnya mereka menebak-nebak krn sy duduk sendiri, perempuan lagi ipar sy duduk dibelakang dan kebanyakan penumpang laki-laki.

Hari pertama sy disana sepupu sy mewanti-wanti jg keluar selama dia bekerja. Apalagi kalau terdengar suara sepeda motor biasanya memutar berulang-ulang. Krn mereka curiga dg pendatang. memang benar sorenya terdengar suara sepeda motor tiba2 orang-orang dikomplek semua masuk rumah yg tadinya bermain didepan. Dan selang berapa waktu terdengar bunyi tembakan sy nangis hampir menjerit ketakutan sepupu menenangkan utk tidak bersuara takut nanti mereka malah kerumah. Setelah suasana tenang dan suara sepeda motor hilang satu persatu warga keluar rupanya 4 atau 5 rumah dari sepupu sy jadi korban. Mengenaskan sekali. Malam kedua sy disana jam 8.30 malam terdengar kejar-kejaran dan tembakan serta letusan yg kuat. Disitulah ponaan sy umur 4 th ajarkan sy tiarap sepertinya mereka sdh terbiasa sementara sy ketakutan minta pulang tapi sepupu sy melarang malah dia katakan biar tau juga gimana situasi aceh sebenarnya. Ini benar2 nyata ada telp.gelap diatas jam 9.00 malam sy pernah mengangkatnya karena sy tdk bisa bahasa aceh mereka membentak sy katanya kamu sudah tinggal enak2 dirumah bagus, bekerja disini. Jadi kamu harus menyumbang kalau mau hidup enak disini waktu itu mereka minta uang 40 juta kepada sy, sy bengong mereka teriak2 dlm bahasa Aceh.

Tiba-tiba sepupu sy keluar dari kamar langsung matikan telp. Dia bilang sama sy jg lagi angkat telp.diatas jam 9.00. Pantasan kalau ada bunyi telp. dibiarkan. Sementara sy risi krn telp. Berdering terus. Atas kejadian itu sy usulkan kepd sepupu utk lapor ke markas Polri yg tidak jauh dari komplek..wah.. sepupu sy malah bilang apa mau didor seperti tetangga? berani-berani berhubungan dg TNI/POLRI mata-mata disini banyak.

Itulah ketegangan2 yg sy alami. Masih banyak lagi hal yg mengerikan sy lihat. Disinilah sy baru tau berapa tidak berharganya manusia ketika mayat2 tak berdosa diletakkan dijalan waktu itu kita melihat pukul 8.00 pagi mungkin dibunuh malam. Kekerasan memuncak krn mau menyambut HUT RI jadi warga bulan juli sudah disuruh memasang bendera sementara pihak GAM tidak terima. Warga jadi serba salah. Satu pihak takut GAM satu sisi lagi dg TNI/Polri krn disangka anggota GAM. Terkadang bendera-bendera ditumbangkan dan ada yg diambil pihak GAM.

Sy hanya kuat 12 hari disana itupun dg ketakutan mendalam. Selama itu pula sy dpt dengar langsung informasi tentang Aceh dari sepupu sy yg sudah menetap di Aceh mulai th 80. Diantara saudara sy cuma dia yg bertahan di aceh mungkin karena suaminya orang Aceh, kebanyakan saudara sy kerja di PT. arun krn alasan tdk aman sekarang bergabung diperusahaan minyak lainnya. Rumah saudara-saudara sy ditinggalkan begitu saja di Aceh.

Dari sepupu, sy ketahui bahwa pendatang yg mereka tidak sukai yg kehidupannya lebih baik, mapan. Contoh; ketika sy pulang via medan, sy sudah diwanti-wanti agar tdk memakai pakaian seperti blazer/jas krn sy bisa diculik dan mereka minta tebusan. Jadi harus berpakaian sesederhana mungkin.

Sebenarnya konflik ini terpicu faktor kesenjangan sosial yg muncul sifat iri karena pendatang banyak berhasil. apalagi di daerah rawan konflik seperti louksemawe hampir rata-rata pekerjanya diperusahaan2 asing dan besar suku pendatang sementara kehidupan masyarakatnya miskin.

Alasan memusuhi suku Jawa adalah alasan yg dicari2 karena kebanyakan tentara yg dikirim dari pulau Jawa.

Jadi sy rasa tidak perlu lagi ada dialog yg bertele-tele, GAM itu sendiri sekarang ini sudah tidak ada pamor krn perjuangannya sudah menyimpang.

Sebelumnya sy masih ada meragukan pihak TNI/Polri bermain dlm menakut-nakuti masyarakat bisa jadi ini trik pemerintah kita itu terus bermain di kepala sy waktu pulang dari aceh. Sekarang setelah sy secara tidak sengaja melihat milis dari tokoh2 dibalik layar semakin membuka mata saya oh...memang ini memang sudah menjadi rencana kerja pentolan GAM jadi pembunuhan2 yg sy saksikan dimana mayatnya nanti pihakTNI/polri yg mengurus adalah benar2 kebiadaban GAM.

Pak Suwarto sy membuka milis ini kebetulan saja. tadinya teman memberi informasi kalau ingin banyak mempelajari agama klik swaramuslim nah krn semua sy buka terakhir sy buka juga milisnya pak ahmad ini. ternyata terjawab sudah keraguan sy.

Dan mulai saat ini sy sudah memutuskan utk tdk berkomentar apapun kpd pak Ahmad cs.krn sia2 saja yg sy hadapi bukan orang tapi setengah setan bin iblis! tengkar, tidak bisa dikasih tahu, sombong!! sama ketika iblis diberitahu sama Allah mana dia mau menurut. Kasihan pemuda Aceh yg diprovokasinya dg informasi yg ngaco bersumber dari egonya sendiri.

Kita tahu munculnya pemberontakan2 di tiap daerah pada masa soekarnno sampai soeharto krn kesalahan pemerintahannya yg tidak merata dalam pembangunan dan perlakuan terhadap daerah yg senjang sehingga kuat kenginan daerah utk berpisah dari kerangka NKRI. putra-putra daerah tidak dioptimalkan membangun daerahnya sendiri malah didaerah nya sendiri dia hanya jadi pengangguran dan kacung jadi ini yg membuat munculnya konflik.
Maaf kalau ada kt2 sy yg salah.

Wassalam

Tati

narastati@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------

Ass.wr.wb

Bu Tati yang sudah pernah lama tinggal di Aceh saya ingin tahu apa sih persisnya tindakan GAM disana ? Mereka kan musuhan sama yang namanya tentara itu sudah pasti ! Tapi kok ada brita mereka membunuh para guru, rakyat Aceh yang tidak berdosa yang non tentara. Jadi berarti mereka tidak hanya membenci tentara atau orang2 yang dekat dengan tentara tapi lebih dari itu. Ibu bisa cerita spesifikasinya kaum pendatang seperti apa yang di benci oleh GAM itu ?.
Wassalam.

Suwarto
----------