Stockholm, 12 juni 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

DHARMINTA ITU PIHAK MEGA NYATAKAN NKRI SUDAH FINAL MENUNJUKKAN PENJAJAHAN DI ACHEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MATIUS DHARMINTA ITU PIHAK MEGA NYATAKAN NKRI SUDAH FINAL MENUNJUKKAN PENJAJAHAN DI ACHEH

"Dalam hal ini juga tidak bisa dikatakan akibat propaganda pusat. Bicara soal propaganda, apakah selama ini propaganda/provokasi yang dilancarkan pihak lawan pemerintah kurang lancar? perasaan propaganda/provokasi yang dilancarkan cukur gencar, tapi kenapa tidak tepat sasaran? yang menjadi pertanyaan dimana letak kesalahanya hingga tak mendapatakan respon/reaksi dari warga. Dengan mentahnya propaganda/provokasi yang dilancarkan dan tidak mendapat respon/dukungan dari warga hingga membuat si pembuat propaganda/provokasi jadi stres dan putus asa hingga jalan pikiranya terkesan ngawur, itu terbukti apa aja yang dikatakan warga atas nama bangsanya yakni Indonesia selalu dituduh yang dicocok hidungyalah, mengekorlah dsb. Tapi pada dasarnya yakni seseorang yang tidak mampu mengukur/mengontrol/mengoreksi diri dimana letak kekurangan dalam hal provokasi/ideologinya hingga tidak menarik/mengena sasaran yakni minat warga yang dibidiknya." (Matius Dharminta, mr_dharminta@yahoo.com , Thu, 10 Jun 2004 23:12:18 -0700 (PDT))

Baiklah saudara wartawan Jawa Pos Matius Dharminta di Surabaya, Indonesia.

Masalahnya terletak pada pihak Pemerintah RI yang menutup diri dan memagar diri dari rakyat Acheh yang telah menyadari dan mengetahui bahwa Negerinya diduduki dan dijajah pihak RI. Cara penutupan dan pemagaran diri itu ditunjukkan dalam bentuk pernyataan sikap bahwa NKRI sudah final. Negeri Acheh dalam kerangka NKRI.

Sikap Pemerintah yang demikianlah yang justru makin menimbulkan gejolak rakyat Acheh untuk menuntut penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negar Pancasila. Dengan cara pura-pura menututup telinga dan ditunjukkan dalam bentuk "cuekin" saja. Jelas itu menggambarkan bahwa pihak Penguasa RI sudah tidak mampu memberikan argumentasi yang bisa diterima secara faktual dan bukti, secara hukum dan menurut jalur sejarah yang benar.

Cara dan model menutup diri karena memang untuk menyembunyikan kekurangan dari pihak Pemerintah RI inilah yang menyebabkan konflik di Acheh tidak akan selesai.

Dengan cara menyatakan NKRI sudah final itu saja menggambarkan bahwa ketidak mampuan pihak Pemerintah untuk memberikan argumentasi yang benar dalam masalah Negeri Acheh, mengapa sampai berada dalam tubuh NKRI.

Kalau ditanya apa yang membuktikan NKRI itu sudah final ? Paling jawabannya, ya, itu sudah final. Acheh sudah dikuasai. Teungku Muhammad Daud Beureueh sudah menyerah. Rakyat Acheh sudah memberikan sumbangan uang dan emas untuk beli dua pesawat. Pengibaran bendera. Maklumat Ulama Acheh.

Padahal akar utama yang mengakibatkan konflik Acheh, tidak pernah disinggung sedikitpun oleh pihak Pemerintah. Karena kalau kunci utama konflik Acheh dibongkar, maka runtuhlah benteng pertahanan diri pihak RI. Karena itu agar supaya tidak terbongkar lebih jauh, maka pihak RI terus bungkam, paling NKRI sudah final. Itu saja alasanannya. Istilah lainnya "cuekin" saja. Itu kan style orang Jawa. Atau istilah lainnya "Emangnya gue pikirin"

Itu kan merupakan benteng pertahanan diri pihak Pemerintah RI karena kelemahan dan ketidak mampuan menghadapi kenyataan dan realita yang sebenarnya tentang akar masalah utama konflik Acheh.

Jelas, dari pihak rakyat Acheh, makin pihak Penguasa RI menututup diri dengan style "diamnya" itu, makin rakyat Acheh tampil kedepan.

Nah untuk menutupi kelemahan dari pihak Pemerintah RI inilah TNI jalan keluarnya. Akhirnya itu kekerasan senjata tidak bisa dilenyapkan di bumi Acheh. Sebagai alasan untuk mengelak dari ketidak mampuan menyelesaikan konflik Acheh dan ketidak inginan mengakui dengan jujur bahwa Acheh diduduki, dituduhlah rakyat Acheh melakukan pemberontakan dan separatis.

Itu kan jelas salah kaprah. Kelihatan dangkal dan piciknya pihak Pemerintah RI. Dengan cara menuduh rakyat Acheh memberontak dan melakukan gerakan separatis, itu menunjukkan bahwa pihak Pemerintah RI melakukan penutupan diri atas kebohongan yang dilakukan oleh Soekarno.

Alasan kalau Negeri Acheh lepas, kemudian Negeri-Negeri lainnya lepas, itu kan tidak bisa diterima secara logis. Lihat saja sejarah pertumbuhan dan perkembangan Negara RI. Itu yang secara jelas bisa dibuktikan berdasarkan fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah, hanya tiga Negeri yang ditelan secara terang-terangan oleh Soekarno, pertama Negeri Acheh, kedua negeri Maluku Selatan, dan ketiga, Papua atau Irian barat. Dimana ketiga negeri ini berada diluar wilayah kekuasaan de-facto dan de-jure RIS dan RI.

Karena itu, selama pihak Pemerintah RI menutup diri, dan bertahan dalam posisi yang salah dibalik perkataan NKRI sudah final, maka selama itu di tiga Negeri tersebut akan terus bergolak.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Thu, 10 Jun 2004 23:12:18 -0700 (PDT)
From: matius dharminta <mr_dharminta@yahoo.com>
Subject: Re: HERMAWAN ITU DALAM DS HAK KEBEBASAN BERSUARA BAGI RAKYAT ACHEH SANGAT DIBATASI
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>
Cc: PPDI@yahoogroups.com

Seperti yang udah sering aku katakan, dalam konflik pasti ada perselisihan dan perbedaan satu sama lain, kalau tiada perselisihan udah barang tentu tidak bakalan akan munculnya konflik. Sari hal tersebut dari dua belah pihak pasti akan muncul pula argumentasi-argumentasi yang bertentangan pula, entah itu diambil atau berdasar dari tatanan atau perundangan yang berlaku/baku, atau sekedar dikutif dari cuplikan-cuplikan sejarah, bahkan tak lepas dari pemikiran-pemikiran yang culun dan memble sekalipun untuk mengkanter argumen satu sama lain.

Bertolak kemasalah hak bersuara, kalau ada seorang pelajar, warga yang menyebut GAM adalah musuh rakyat Aceh, bahkan ditempatkan di nomor urutan atas, itu adalah hak mereka sepenuhnya, bertolak dari ditarik hidungnya atau tidak oleh Ryacudu hanya warga yang punya pernyataan yang tahu orang lain tak bisa menilai.

Bertolak dari itu pengaruh yang kuat dari Pemerintah Pusat atau Penguasa Darurat, itu semua juga perlu dibuktikan/surpe lapangan. dan sebenarnya itu merupakan hal yang wajar-wajar aja kalu warga mengikuti anjuran/keputusan pemerintah, berarti waraga itu masih bisa dibilang sehat jasmani & rohani dan masih punya tanggung jawab atas bangsa dan negaranya. Itu semua bukan suatu hal yang aneh bagi warga yang menyatakan sebagai musuh pemberontak dalam hal ini GAM.

Dalam hal ini juga tidak bisa dikatakan akibat propaganda pusat. Bicara soal propaganda, apakah selama ini propaganda/provokasi yang dilancarkan pihak lawan pemerintah kurang lancar? perasaan propaganda/provokasi yang dilancarkan cukur gencar, tapi kenapa tidak tepat sasaran? yang menjadi pertanyaan dimana letak kesalahanya hingga tak mendapatakan respon/reaksi dari warga.

Dengan mentahnya propaganda/provokasi yang dilancarkan dan tidak mendapat respon/dukungan dari warga hingga membuat si pembuat propaganda/provokasi jadi stres dan putus asa hingga jalan pikiranya terkesan ngawur, itu terbukti apa aja yang dikatakan warga atas nama bangsanya yakni Indonesia selalu dituduh yang dicocok hidungyalah, mengekorlah dsb.

Tapi pada dasarnya yakni seseorang yang tidak mampu mengukur/mengontrol/mengoreksi diri dimana letak kekurangan dalam hal provokasi/ideologinya hingga tidak menarik/mengena sasaran yakni minat warga yang dibidiknya.

Matius Dharminta

mr_dharminta@yahoo.com
Surabaya, Indonesia
----------