Stockholm, 15 juni 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SUMITRO TIDAK MELIHAT PERANG ACHEH YANG TERJADI DIDEPAN MATA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SUMITRO KARENA PAKAI KACAMATA MBAK MEGA PERANG ACHEH YANG TERJADI DIDEPAN MATA TIDAK KELIHATAN

"Bung Ahmad, anda selalu menyatakan Acheh itu di jajah oleh Indonesia, kapan sich di jajah ? kalau di jajah itu yang saya tahu khan pendudukan satu negara oleh negara lain dengan cara dipaksa, kekerasan yakni melalui "perang". Pernah enggak sich Acheh berperang melawan "Indonesia"? Dulu juga Aceh seperti halnya kalimantan, NTB, Sulawesi, Irian Jaya dll yang sebagian besar merupakan negara kerajaan masuk ke Indonesia dengan sukarela kok dan membentuk bersama NKRI. Loh namanya juga negara besar yang beribi-ribu pulaunya, wajar kalau belum bisa merata pembangunannya. Ditambah lagi pemimpin2nya banyak yang korup. Jadi menurut saya enggak ada tuh Indonesia menjajah Aceh" (Sumitro, mitro@kpei.co.id , Tue, 15 Jun 2004 09:28:10 +0700)

Baiklah saudara Sumitro di Jakarta, Indonesia.

Saudara Sumitro Ahmad Sudirman telah mengatakan berpuluh kali bahwa Acheh dijajah oleh pihak Presiden RIS Soekarno sejak tanggal 14 Agustus 1950 memakai PP RIS No.21/1950 dan PERPPU No.5/1950 yang seterusnya dijajah RI yang menjelma NKRI sejak 15 Agustus 1950 sampai sekarang.

Apabila hak rakyat untuk menentukan nasib sendiri, hak kebebasan untuk memilih di satu daerah atau negeri, aspirasi untuk bebas dan merdeka dihalangi, ditekan, oleh pihak Penguasa asing, maka menurut hukum internasional Resolusi PBB nomor 2621 (XXV) dan Resolusi PBB nomor 2711 (XXV) adalah merupakan bentuk penjajahan.

Tindakan Presiden RIS Soekarno menelan, mengambil, memasukkan Negeri Acheh yang berada diluar wilayah kekuasaan de-facto dan de-jure RIS dan yang berada diluar daerah wilayah kekuasaan de-facto dan de-jure Negara RI menurut perjanjian Renville 17 Januari 1948 kedalam RIS dan diteruskan kedalam RI yang menjelma menjadi NKRI, maka tindakan Presiden RIS Soekarno adalah tindakan penjajahan terhadap rakyat dan Negeri Acheh.

Kemudian dalam perjalanan proses menjajah yang dilakukan oleh pihak RI ini, telah muncul gerakan dan semangat rakyat Acheh untuk menentang penjajahan di Negeri Acheh ini. Mereka rakyat Acheh tampil untuk menjalankan hak penentuan nasib sendiri, hak kebebasan untuk memilih, dan hak untuk bebas merdeka telah dihancurkan TNI yang dikirimkan ke Acheh oleh pihak Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid dan sekarang oleh Megawati.

Dimana gerakan rakyat Acheh yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh, kemudian yang dipimpin oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro telah ditekan, ditumpas dan dihancurkan oleh pihak RI bersama-sama TNI/POLRI. Tetapi tentu saja pertahanan, perlawanan, yang ditunjukkan oleh rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasia terus berlangsung tidak dapat dibendung.

Saudara Sumitro, dalam sejarah Negeri Acheh tidak ada disebutkan bahwa Negeri Acheh masuk ke dalam Indonesia dengan sukarela. Begitu juga ketika pada masa kerajaan hindu Majapahit. Tidak ada Negeri Acheh sukarela masuk kedalam kerajaan hindu Majapahit. Yang ada kerajaan hindu Majapahit menggempur dan menjajah kerajaan Islam Samudra-Pasai di Acheh.

Coba saja perhatikan, pada tahun 1350 kerajaan hindu Majapahit menggempur Samudera-Pasai dan mendudukinya. 27 tahun kemudian pada tahun 1377 giliran kerajaan budha Sriwijaya digempurnya, sehingga habislah riwayat kerajaan budha Sriwijaya sebagai negara buddha yang berpusat di Palembang ini. Ketika raja Hayam Wuruk dari kerajaan hindu Majapahit meninggal tahun 1389, digantikan oleh putrinya Kusumawardani dan suaminya, timbul perang saudara antara Kusumawardani dengan Wirabhumi (putra Hayam Wuruk dari selirnya), yang dikenal dengan nama Paregreg (1401-1406), Wirabhumi bisa dikalahkan. Akibat perang saudara ini kerajaan hindu Majapahit menjadi lemah dan mundur. Dimana titik lemahnya terjadi ketika Girindrawardana pegang pimpinan Majapahit, dan pada tahun 1525 digempur oleh Kerajaan Islam Demak yang dibangun oleh Raden Patah, keturunan raja MajapahitBrawijaya, yang tertarik untuk belajar Islam di Sunan Ngampel.

Ketika kerajaan Islam Samudera-Pasai lemah setelah dipukul Gajah Mada dari kerajaan hindu Majapahit, muncul Kerajaan Islam Malaka dibawah Paramisora (Paramesywara) yang masuk Islam dan bergelar Iskandar Syah. Kerajaan Islam Malaka ini maju pesat sampai pada tahun 1511 ketika Portugis dibawah pimpinan Albuquerque dengan armadanya menaklukan Malaka.

Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis, Acheh bangkit dibawah pimpinan Sultan Ali Mukayat Syah (1514-1528). Diteruskan oleh Sultan Salahuddin (1528-1537). Tampil Sultan Alauddin Riayat Syahal Kahar (1537-1568). Muncul Sultan Ali Riyat Syah (1568-1573). Dilanjutkan Sultan Seri Alam 1576. Diteruskan Sultan Muda (1604-1607). Muncul Sultan Iskandar Muda, gelar marhum mahkota alam (1607-1636). Dimasa Sultan Seri Alam, persaingan dagang dan politik antara Acheh dengan Portugis di Malaka makin meruncing. Portugis menyerang Acheh tetapi dapat ditangkisnya. Selama periode akhir abad 17 sampai awal abad 19 keadaan Aceh tenang. Baru kembali pecah perang Aceh, ketika Belanda mendeklarasikan perang melawan Acheh pada 26 Maret 1873. (R.H.Saragih, J.Sirait, M.Simamora, Sejarah Nasional, Medan, Cetakan III, 1987, hal. 21-42, 58-60)

Jadi, saudara Sumitro dilihat dari sudut sejarah Acheh tidak ditemukan rakyat dan Negeri Acheh sukarela masuk ketubuh kerajaan hindu Majapahit. Begitu juga rakyat dan Negeri Acheh tidak sukarela masuk kedalam tubuh Negeri Belanda. Sama juga tidak ditemukan seluruh rakyat dan Negeri Acheh sukarela masuk kedalam tubuh RI.

Kemudian kalau itu soal tidak merata pembangunan dan banyak pemimpin-pemimpin RI yang korup, seperti yang dikemukakan oleh saudara Sumitro, itu semua alasan tersebut bukan akar utama konflik Acheh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

From: Sumitro mitro@kpei.co.id
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, Ditya Soedarsono <dityaaceh_2003@yahoo.com>, Yuhendra <yuhe1st@yahoo.com>, Matius Dharminta <mr_dharminta@yahoo.com>, Habe Arifin <habearifin@yahoo.com>, MT Dharminta <editor@jawapos.co.id>, Suparmo <suparmo@tjp.toshiba.co.jp>, Hidajat Sjarif siliwangi27@hotmail.com
Cc: nettysuwarto@yahoo.com, narastati@yahoo.com
Subject: RE: TATI COBA BELAJAR PADA NETTY UNTUK MENCAPAI AKAR UTAMA KONFLIK ACHEH
Date: Tue, 15 Jun 2004 09:28:10 +0700

Bung Ahmad...anda selalu menyatakan Acheh itu di jajah oleh Indonesia...kapan sich di jajah ? kalau di jajah itu yang saya tahu khan pendudukan satu negara oleh negara lain dengan cara dipaksa ,kekerasan yakni melalui " PERANG " . Pernah enggak sich Acheh berperang melawan "indonesia"?

Dulu juga Aceh seperti halnya kalimantan, NTB, Sulawesi, Irian Jaya dll yang sebagian besar merupakan negara kerajaan masuk ke Indonesia dengan sukarela kok dan membentuk bersama NKRI...loh.....namanya juga negara besar yang beribi-ribu pulaunya...wajar kalau belum bisa merata pembangunannya..ditambah lagi pemimpin2nya banyak yang korup. Jadi menurut saya enggak ada tuh Indonesia menjajah Aceh.

Sumitro

mitro@kpei.co.id
Jakarta, Indonesia
----------