Stockholm, 17 juni 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ROKHMAWAN ITU PENYELESAIAN ACHEH HARUS DIMULAI DARI AKAR PENYEBAB TIMBULNYA KONFLIK
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KALAU KONFLIK ACHEH INGIN SELESAI HARUS DIMULAI DARI AKAR PENYEBAB TIMBULNYA KONFLIK

"Seharusnya TNI/RI tidak perlu mengadakan Darurat Militer tetapi diselesaikan lewat perundingan dan inipun harus tidak ada kata batas akhir perundingan. Kedua belah pihak harus bisa menyelesaikan dengan kepala dingin (tidak boleh menang-menangan). Mengenai hasil perundingan yang telah disepakati nanti maka ke dua belah pihakpun harus ikhlas menerimanya walaupun mungkin ada yg merasa dirugikan, ambil contoh perjanjian hudaibiyah antara kaum muslimin (Rosululloh) dan kaum kafir quraisy dimana pihak kaum muslimin banyak di rugikan dg perjanjian tsb tetapi Rosululloh tetap menerimanya dg ikhlas. Sedangkan yg terjadi pada GAM dan TNI/RI malah sebaliknya, TNI/RI malah memberlakukan Darurat Militer..dan GAM pun melakukan perlawanan. Ini tidak di contohkan para nabi kita" (Rokhmawan, rokh_mawan@yahoo.com ,Tue, 15 Jun 2004 22:02:45 -0700 (PDT))

Baiklah saudara Rokhmawan di Solo, Jateng.

Tentang apa yang dipertanyakan saudara Rokhmawan: "Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana dengan GAM dan RI/TNI ? padahal telah kita ketahui bersama2 GAM itu juga umat Islam begitu pula TNI/RI sebagian besar umat Islam. Apabila kita (umat Islam) baik pihak GAM maupun pihak RI/TNI benar2 bisa memahami hadits di atas maka tidak akan terjadi peperangan di Aceh."

Dalam membahas penyelesaian konflik Acheh saya akan melihat dari dua sudut. Pertama, dari sudut keadilan menurut Islam. Kedua, dari sudut dasar hukum yang diterapkan di RI.

Kalau dilihat dari sudut keadilan menurut Islam, maka bisa diambil dasar hukum keadilannya adalah apa yang telah di Firmankan Allah SWT: "Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu'min berperang maka damainkanlah antara keduanya, jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sampai golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." (Al-Hujurat, 49: 9)

Sekarang, secara fakta memang telah terjadi perang antara RI melalui TNI melawan GAM dan TNA. Pejuang dari GAM dan TNA adalah seluruhnya orang muslim. Dari pihak RI melalui TNI-nya sebagian juga muslim.

Kemudian, pihak RI dan GAM telah melakukan perundingan. Perundingan yang dilaksanakan paling akhir adalah perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama, antara pihak Pemerintah Republik Indonesia (PRI) dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003. Yang ternyata digagalkan oleh pihak RI.

Persoalannya adalah dalam perundingan itu tidak dimulai dari akar penyebab konflik Acheh yang sebenarnya. Mengapa ?. Karena dengan mau mengakui dan mau menerima akar utama penyebab konflik Acheh, maka untuk penyelesaiannya sangat mudah sekali. Yang menjadi akar utama penyebab konflik Acheh adalah akibat pihak RI menelan, menduduki, dan menjajah Negeri Acheh.

Hanya sekarang yang menjadi halangan dalam perundingan itu adalah karena dari pihak RI, sudah mengklaim bahwa apa yang dijalankan oleh Soekarno itu adalah betul, sehingga pihak RI mengklaim yang namanya NKRI sudah final. Kalau mau berunding harus dalam kerangka NKRI. Nah inilah persoalannya. Sampai kiamatpun kalau pihak RI secara ngotot menganggap Negeri Acheh milik Soekarno, milik RIS, milik RI dan milik NKRI, maka penyelesaian konflik Acheh tidak akan sampai kepada ujungnya.

Kemudian kalau dikembalikan kepada dasar hukum Islam untuk menyelsaikan konflik antara dua golongan muslim yang berperang adalah dengan cara penyelesaian yang adil. Apakah cara penyelesaian yang adil itu ?. Dalam tulisan-tulisan sebelum ini saya telah mengajukan beberapa kali bahwa penyelesaian konflik Acheh yang adil adalah menyerahkan seluruh persoalannya kepada seluruh rakyat Acheh melalui penentuan pendapat dengan cara jajak pendapat atau referendum dengan dua opsi, opsi pertama YA bebas dari RI dan opsi kedua TIDAK bebas dari RI.

Nah, inilah menurut saya penyelesaian konflik Acheh yang adil sebagaimana dijelaskan dan diterangkan dalam Al-Qur'an diatas.

Sekarang, maukah pihak RI dan TNI menyelesaikan konflik Acheh sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Qur'an diatas ?

Itu kan cara penyelesaian yang tidak mempergunakan kekerasan senjata dan pengerahan pasukan bersenjata.

Inilah tawaran yang diajukan kepada pihak RI. Seandainya pihak RI menolak tawaran ini, jelas, konflik Acheh tidak akan bisa diselesaikan dengan adil dan bijaksana.

Selanjutnya kalau dilihat dari sudut dasar hukum yang diterapkan di RI.

Dalam penyelesaian konflik Acheh dilihat dari sudut dasar hukum yang diterapkan di RI, saya telah jelaskan berpuluh kali dimimbar bebas ini. Yakni karena pihak Soekarno telah menjalankan kebijaksanaan politik, pertahanan, keamanan, di Negeri Acheh melalui cara penelanan, pencaplokan, pendudukan, dan penjajahan di negeri Acheh dengan memakai dasar hukum PP RIS No.21/1950 dan PERPPU No.5/1950 yang tanpa mendapat kerelaan, keikhlasan, persetujuan dari seluruh rakyat Acheh dan pemimpin rakyat Acheh.

Cara penyelesaiannya pun harus dikembalikan kepada seluruh rakyat Acheh untuk menentukan sikapnya. Jangan memakai kekuatan pasukan TNI dengan senjata dan pesawat tempurnya.

Nah bentuk penyelesaian yang jujur, adil dan bijaksana adalah sama seperti yang dijelaskan diatas, yakni memberikan kepada seluruh rakyat Acheh kebebasan untuk menentukan pilihannya melalui cara jajak pendapat atau referendum dengan dua opsi, yakni opsi YA bebas dari RI dan opsi TIDAK bebas dari RI.

Jadi, sekarang bola ada dipihak RI, apakah pihak RI mau menyelesaikan konflik Acheh dengan cara yang adil seperti yang saya jelaskan diatas, atau tetap ngotot dengan mempergunakan kekuatan TNI dan senjatanya.

Kalau pihak RI tetap ngotot bahwa Negeri Acheh yang ditelan Soekarno itu telah menjadi milik RI dan sekarang NKRI telah final, maka jelas itu penyelesaian konflik Acheh dengan cara yang jujur dan adil tidak mungkin terlaksana.

Jadi selama pihak RI terus mengklaim bahwa Negeri Acheh sudah menjadi milik RI, padahal sebenarnya Negeri Acheh ditelan dan dimasukkan kedalam tubuh RIS yang selanjutnya dimasukkan kedalam tubuh RI yang menjelma menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950, maka selama itu konflik Acheh tetap tidak akan bisa diselesaikan.

Terakhir, menyinggung masalah perang di Acheh. Sekarang perang di Acheh adalah perang modern. Artinya perang yang terjadi disemua front. Bukan hanya dilapangan saja, tetapi juga disetiap bidang. Perang yang tidak hanya terjadi dimedan perang saja, melainkan juga di luar lapangan medan perang. Bentuk perangnya bukan hanya perang terbuka melainkan juga perang gerilya. Ini adalah memang perang modern. Siapa yang lengah mereka yang kena getuk. Siapa yang waspada, merekalah yang akan mengatur. Jadi jangan harap melihat penjuang GAM dan TNA berbaju loreng. Dalam perang modern ini, siapa yang cerdik dan ulet dengan mempergunakan berbagai alat teknologi, intelligen, maka merekalah yang akan menguasai medan perang.

Nah, kalau itu Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu mengusai dan memahami perang modern di Acheh ini, maka mereka berdua harus sudah siap dengan resiko yang akan dialami dan diderita oleh pihak TNI ini. Siapa yang mengobarkan dan memulai menyulut api peperangan modern di Acheh itu, maka merekalah yang akan menerima akibatnya. Dan selama pihak RI masih juga tidak mau menerima dan tidak ingin mengakui bahwa akar utama penyebab konflik Acheh adalah penelanan, pencaplokan, pendudukan, dan penjajahan di Negeri Acheh oleh pihak RI, maka selama itu konflik Acheh tidak akan bisa diselesaikan.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Tue, 15 Jun 2004 22:02:45 -0700 (PDT)
From: rohma wawan <rokh_mawan@yahoo.com>
Subject: perang yang di la'nat Alloh SWT
To: ahmad@dataphone.se
Cc: narastati@yahoo.com

Assalaamu'alaikum Wr.Wb

Terimakasih atas jawaban dari bapak dan semuanya sudah jelas bagi saya tetapi bukan berarti saya membenarkan apa yang telah bapak tuliskan tadi. Saya harus banyak mengkaji itu shiroh nabawiyah salah satunya insayaalloh saya akan bertanya kepada ulama dari Manhaj Salafus Shahih dll, tentunya mengenai apa yg telah bapak tulis barusan. Dan insyaalloh setelah itu saya akan konsultasikan lagi ke bapak ahmad.

Bapak Ahmad Sudirman yg kami hormati, saya akan berbicara sedikit mengenai GAM dan TNI/RI.

Rosuluuloh SAW pernah di tanya oleh sahabatnya, " Yaaa Rosululloh, sesungguhnya ada dua pemuda muslim yg berkelahi dan ada yg terbunuh, yg membunuh jelas masuk neraka tetapi bagaiman dg yg terbunuh ?". Maka Rosululloh bersabda "kedua2 nya masuk neraka" (dari kitab Riyadlush Sholihin). Kenapa demikian karena yg terbunuh itu kalau tidak terbunuh yaaa membunuh.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana dengan GAM dan RI/TNI ? padahal telah kita ketahui bersama2 GAM itu juga umat islam begitu pula TNI/RI sebagian besar umat islam. Apabila kita (umat islam) baik pihak GAM maupun pihak RI/TNI benar2 bisa memahami hadits di atas maka tidak akan terjadi peperangan di aceh.Tetapi ternyata hadits di atas belum di fahaminya 100 %.

Saya tidak akan menilai mana yang benar dan mana yang salah, yang benar adalah Rosululloh dan para sahabatnya serta para pengikutnya yg benar-benar ber-itiba' kpd rosul.

Bagi masyarakat aceh maupun GAM, akan membenarkan langkahnya karena yang mereka perjuangkan selama ini adalah keinginan untuk menentukan nasib sendiri ( terlepas dari penjajahan TNI dan kekuasaan pemerintahan RI tentunya ini ada bukti, fakta dan sejarahnya) dan demi tegaknya Syariat islam di NAD. Sedangkan bagi TNI atau RI, merekapun juga akan membenarkan langkahnya yaitu dengan diadakannya Darurat Militer, mereka menganggap GAM itu pemberontak dan ini perlu di selesaikan dg secepatnya sebelum terjadi hal-hal yg lebih berbahaya.

Seharusnya TNI/RI tidak perlu mengadakan Darurat Militer tetapi diselesaikan lewat perundingan dan inipun harus tidak ada kata batas akhir perundingan. Kedua belah pihak harus bisa menyelesaikan dengan kepala dingin (tidak boleh menang-menangan). Mengenai hasil perundingan yang telah disepakati nanti maka ke dua belah pihakpun harus ikhlas menerimanya walaupun mungkin ada yg merasa dirugikan, ambil contoh perjanjian hudaibiyah antara kaum muslimin (Rosululloh) dan kaum kafir quraisy dimana pihak kaum muslimin banyak di rugikan dg perjanjian tsb tetapi Rosululloh tetap menerimanya dg ikhlas.

Sedangkan yg terjadi pada GAM dan TNI/RI malah sebaliknya, TNI/RI malah memberlakukan Darurat Militer..dan GAM pun melakukan perlawanan. Ini tidak di contohkan para nabi kita....

Kita ambil contoh mengenai kisah habil dan qobil putra Nabi Adam dimana keduanya terjadi pertikaian yang mengakibatkan (kalau tidak salah) habil mati, ketika habil di kejar qobil dan akhirnya tertangkap maka habilpun berkata "sekali2 saya tidak akan menggerakkan tanganku untuk membunuh/melawanmu.........."

Sudah jelas bahwa orang muslim itu tidak boleh saling membunuh walau dengan alasan apapun (ingin mempertahankan keutuhan wilayahnya, ingin menentukan nasib sendiri atau ingin menegakkan syariat islam dll).

Tetapi ternyata (afwan) kedua belah pihak GAM dan TNI/RI sama-sama ingin cari menangnya saja dan TNI/RI terlanjur memutuskan Darurat Militer/Perang ( sebenarnya tidak di inginkan masyarakat aceh) maka langkah bagi GAM/TNA seharusnya adalah menghindarinya agar tidak terjadi peperangan tetapi kalau Anggota GAM ingin melawannya/mempertahankan maka carilah daerah yg jauh dari pemukiman penduduk dan umumkan kpd TNI kalau Anggota GAM tidak berada di tengah2 masyarakat aceh, anggota GAM tidak membaur ke masyarakat aceh dan gunakan seragam yang bisa membedakan antara masyarakat aceh dan Anggota GAM/TNA. Tetapi sebenarnya perang yang dilakukan sesama muslim dg alasan apapun tidak akan mendapat ridlo Alloh SWT. Wallohu'alam bi showab.

Wassalaaam

Rokhmawan

rokh_mawan@yahoo.com
Solo,Jateng
----------