Sydney, 19 Juni 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

RI DIPUKUL ASNLF/GAM DI TIGA MEDAN
Nurdin Abdul Rahman
Sydney - AUSTRALIA

 

JELAS KELIHATAN ITU RI DIPUKUL ASNLF/GAM DI MEDAN DIPLOMASI, HUKUM & PERANG GERILYA

Alhamdulillah, dengan kudrah dan iradah ALLAH Yang Maha Agung lagi Maha Kuasa, GAM sudah menang di tiga medan perjuangan; medan perang, medan diplomasi dan bidang hukum. Rahmat terbesar yang telah Allah berikan kepada kita dalam dua hari ini sungguh sangat membahagiakan hati kita; lepasnya kedua pimpinan kita dari segala tuduhan yang dibuat-buat dan diada-adakan oleh penguasa Indonesia terhadap GAM dan pimpinannya.

Bagi kita rakyat biasa, penahanan pimpinan GAM tersebut sempat mengganggu pikiran dan ketenangan kita, karena kita mungkin terpengaruh sedikit banyaknya dengan propaganda penguasa Indonesia. Namun semua pejuang GAM malah melihat penahanan tersebut sebagai suatu bagian yang alami dari proses perjuangan panjang untuk mencapai kemerdekaan. Sikap ini telah pula mendorong semangat rakyat untuk menapih semua propaganda yang dibuat oleh penguasa Indonesia.

Pembebasan yang dilakukan oleh Hakim Pengadilan Sweden terhadap pimpinan GAM dari segala tuduhan merupakan kemenangan di medan hukum bagi GAM yang pengaruhnya sangat penting dalam proses perjuangan selanjutnya. Kemenangan ini merupakan kemenangan dalam medan hukum, yang selama ini penguasa Indonesia telah merekayasa untuk mempengaruhi opini publik internasional dalam usahanya menempatkan GAM sebagai kelompok teroris. Ternyata sudah, penguasa Indonesia telah kalah telak alias TECHNICAL KNOCK OUT.

Kemenangan ini juga telah memunculkan satu kemenangan di medan lain lagi ke permukaan arena opini internasional, yaitu kemenangan di medan diplomasi yang selama ini kelihatannya seperti terpendam sepi; walau bersuara tapi tidak berpengaruh, ada suara tapi tidak bergaung. Dengan penahanan pimpinan GAM ini telah pula secara sepontan bermunculan rasa simpati yang sangat besar terhadap GAM dan perjuangannya. Hampir di semerata belahan dunia dalam dua hari ini muncul tulisan tentang Acheh dan perjuangan kemerdekaan. Bahkan ada yang sampai menganalisa tentang kemungkinan kemenangan perjuangan GAM dimasa hadapan.

Banyak yang melihat semakin lama operasi TNI/Polri di Acheh semakin ramai warga masyarakat internasional bersimpati kepada perjuangan GAM, dan semakin bersangatan pula rasa takut penguasa Indonesia akan terbukanya kotak pandoran kejahatan politik dan kemanusiaan yang dilakukannya di Acheh dan bahkan di seluruh nusantara yang sekarang ini dinamakan Indonesia itu. Bersamaan dengan itu nama TNI/Polri dan politisi Indonesia akan semakin buruk di mata masyarakat internasional. Bukan hanya itu, warga masyarakat Indonesia sendiri semakin terpandang hina di mata penguasa dan masyarakat dunia. Sekarang saja, warga Indonesia merasa malu menampakkan paspor cap elang di kalangan warga negara lain dalam suatu forum atau keramaian. Mereka mungkin masih mengatakan diri berasal dari Indonesia karena mereka tidak tahu perkara yang sebenarnya bahwa Indonesia itu adalah nama sebutan kemudian terhadap kepuluan Melayu atau kepulauan Keling (Indo-nesos), sekedar untuk memudahkan penyebutan peta dunia. Secara politik Indonesia itu baru muncul setelah tahun 1950an, sebelumnya kawasan itu disebut Holland East Indies (Kepulauan India Belanda di Timur). Kalau memang Indonesia sudah ada waktu itu, tentu Belanda tak akan menamakan wilayah jajahannya itu dengan Holland East Indies.

Nah, kembali kepada perkara operasi militer (TNI/Polri) di Acheh, dan bahkan juga di Papua Barat dan Maluku. Hal ini akan membuat citra TNI/Polri semakin terpuruk, yang ujungnya mereka akan semakin dalam masuk ke lubuk tindakan kejahatan kemanusian dan kejahatan kriminal lainnya, sebagai akibat langsung dari rekayasa untuk kempentingan sendiri para jendral mereka di atas; para jendral memakai prajurit mereka untuk membuat proyek pembunuhan rakyat jelata. Sementara yang dikatakan berdosa dan dihukum adalah perajurit-perajurit cabe di lapangan. Pada pandangan masyarakat awam justru perajurit cabe ini yang menjadi sasaran kebencian dan kemarahan warga masyarakat; memang sudah waktu mereka mengadakan mutiny terhadap pimpinan mereka.

Dilihat dari segi itu, sangatlah masuk akal kalau sekarang di medan perang juga kemenangan GAM sudah sangat jelas. Lima puluh ribu lebih - malah kalau kita kalkulasikan angka dari lapuran Panglima TNI di DPR Indonesia, setengah dari jumlah seluruh anggota pasukan TNI telah ditempatkan dalam operasinya di Acheh sekarang ini, itu artinya jumlahnya telah mencapai 150,000 (seratus limapuluh ribu) - dengan berbagai mesin perang yang canggih lagi mahal, dan biaya yag telah dikeluarkan sebanyak 15 triliun rupiah - prajurit di lapangan jangan terkejut dengan jumlah dana ini, sebab ini adalah proyek para jendral kalian - ditambah dengan sekatan terhadap wartawan untuk meliput apa yang terjadi di lapangan, Alhamdulillah GAM dengan segala kesederhanaannya masih tetap solid dan bersemangat, berjaya dan didukung rakyat.

Alhamdulliah, semua ini adalah rahmat dan karunia dari ALLAH Yang Maha Agung lagi Maha Kuasa. Marilah kita bersujud kepada NYA, bersyukur dan minta ampun. Insya ALLAH kemenangan dari berbagai medan yang lain akan terus kita capai. Pencaplokan NKRI terhadap Acheh akan berakhir dengan ulah penguasa NKRI itu sendiri. Memang sudah selayaknya Neo-Kolonialis Republik Indonesia (NKRI) itu dikategorikan sebagai satu negara teroris (terrorist state), untuk menjadi kenangan kepada anak-cucu mereka di masa hadapan kelak.
Tinggal menunggu waktu.

Wassalam.

Nurdin Abdul Rahman

ndin_armadaputra2002@yahoo.com
Sydney,Australia
----------