Sandnes, 25 Juni 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ISLAM IDIOLOGY VS ISLAM KEBUDAYAAN (ACHEH-SUMATRA VS HINDUNESIA-JAWA)
Husaini Daud Sp
Sandnes - NORWEGIA.

 

MENYOROT ISLAM IDIOLOGY VS ISLAM KEBUDAYAAN (ACHEH-SUMATRA VS HINDUNESIA-JAWA)

Islam ideologi adalah Islam yang diproklamirkan Rasulullah di Madinah yang tujuannya adalah "Rahmatan lil 'alamin". Islam yang murni ini akhirnya mengalami dekaden di tangan Mu'awiyah bin Abu Sofyan inilah orang pertama yang merobah wajah Islam (dari Islam Idiologi menjadi Islam kebudayaan) Kubu Islam Idiologi sebetulnya sanggupdipertahankan oleh Imam Ali bin Abu Thalib, namun sayangnya banyak pengikut Imam Ali yang terpengaruh dengan tipudaya Amru bin Ask, politikus licik yang sepak terjangnya banyak ditiru politikus Hindunesia-Jawa dalam berhadapan dengan politikus Acheh-Sumatra

Islam Idiologi kemudian dilanjutkan oleh Hasan dan Husein bin Ali namun kedua pemimpin ini gugur. Hasan diracun Mu'awiyah dan Husein dibunuh Yazid bin Mu'awiyah di Karbala dalam suatu pertempuran yang tidak seimbang nyakni 47 versus 3000. Kalau ada yang bertanya bagaimana system negara yang dibangun Mu'awiyah, Yazid dan keturunannya, lihat saja bagaimana system yang dibangun Sukarno, Suharto, Habibi, Gusdur dan Megawati sekarang ini. Mereka mengaku Islam namun disisi yang lain mereka menempatkan diri sebagai Pembunuh.

Betapa banyak orang Acheh-Sumatra, Papua, Burneo, Slebes dan Ambon yang mereka bunuh. Pembunuh manusia yang pertama sekali adalah Qabil, Justru itu mereka lebih tepat disebut "Qabil-qabil". Mereka mengaku Islam namun mereka memposisikan diri sebagai "Pencuri Berdasi" alias Koruptor, mereka mengaku Islam namun mereka memposisikan diri sebagai penzina, kecuali Habibi.

Kalau Ahmad Sudirman menyatakan negara Hindunesia adalah negara kafir, orang orang Hindunesia macam cacing kepanasan, mereka tidak memahami bahwa di dunia ini hanya ada dua System, yaitu System Thaghut dan System Allah (Daulah Thaghut dan Daulah Allah). Negara manapun yang tidak memperlakukan Hukum Allah tergolong kedalam System Thaghut. Secara filosofis, siapapun yang bersatu dalam System tersebut, kecuali "Taqiyah" adalah kafir disisi Allah, kendatipun mereka mengaku diri sebagai orang Islam, (Q.S,2:6-7). Shalat, puasa, zakat naik Haji dan latin-lain sebagainya tak ada arti sama sekali kalau Aqidah nya tidak betul, kalau pedoman hidupnya bukan Al-Qur-an, kalau tidak mendambakan agar berlakunya hukum Allah dipermukaan bumi Allah ini.

Makanya betapapun jelasnya penjelasan yang dikemukakan Ahmad Sudirman, Ahmad Latif, Omar Puteh, Yusra Habib, Nurdin AR dan lainya, namun orang-orang Hindunesia tetap membantahnya, sebab ditinjau dari kacamata Syar-iy, mereka termasuk orang-orang Munafik (Q.S,2:8-20 dan Q.S,29:2-5)

Orang-orang Islam yang tidak benar 'aqidahnya (Idiologinya) sesungguhnya mereka bukan orang Islam, mereka adalah "buih-buih dilautan" bakkata Rasul. Mereka adalah orang-orang Islam Palsu, kata Ali Syariati, Architect Refolusi Islam Iran. Mereka tunduk Patuh kepada atasannya bukan kepada Allah. Jangankan kepada atasan, kepada ibu dan ayah pun, orang Islam sejati dilarang tunduk patuh, andaikata bertentangan dengan perintah Allah (Q.S,29:8). Bagaimana mungkin mereka dikatakan Islam, sementara mereka tidak mengingini berlakunya Hukum Allah di negaranya.

Bagaimana mungkin mereka dikatakan Islam sementara Pedoman Hidup Mereka adalah Pancasila, sedangkan orang Islam sejati Pedoman Hidupnya adalah Al-Qur-an. Pancasila berasal dari bahasa Sangskerta: Panca=Lima yang berarti lima sila. Kami orang Acheh-Sumatra menyebutnya Punca silap. Maksudnya disitulah punca silapnya orang-orang Hindunesia-Jawa. Bagaimana mungkin mereka dikatakan Islam, sementara kedhaliman mereka biarkan merajalela.

Lihatlah Negara Hindunesia-Jawa, kendatipun disana banyak mesjid, namun tidak semua ayat-ayat Allah dapat dibahas didalamnya. Kalau ada seorang Khatib yang berani membahas ayat semacam;"........barang siapa yang tidak menghukum dengan hukum yang diturunkan Allah, mereka itulah yang namanya kafir", tempat khatib tersebut adalah penjara atau dibunuh secara rahasia. Kendatipun disana banyak Pesantren, disana juga banyak tempat-tempat maksiat seperti; Rumah pelacuran, Warung remang-remang, Discotek, Casino dan bermacam-macam tempat maksiat lainnya. Hotel berbintang lima banyak dimanfaatkan Pejabat-pejabat Negara dan "orang-orang besar" untuk berzina.

Banyak orang orang seperti Liem Sliong, Beurahim Arsyad dan konglomerat-konglomerat lainnya menjadi kaya-raya karena mendapat legitimate dari sang penguasa untuk mengelola kekayaan Negara seperti mengelola kekayaan moyangnya.

Islam Kebudayaan adalah Islam yang sudah kontraversi dengan Islam yang sebenarnya. Mereka sangat terikat dengan apa saja yang sudah menjadi kebiasaan atau apasaja yang sudah membudaya dalam masyarakat tanpa kritis sedikitpun. Apakah hal tersebut sesuai menurut ajaran Islam atau tidak, sebagai contoh Pancasila itu sendiri sebagai pedoman hidup mereka, sesuaikah menurut Allah (Al-Qur-an) atau tidak. Mereka hanya melihat tak ada seorang ulamapun yang mengatakan bahwa Pancasila itu bertentangan dengan Al-Qur-an. Padahal orang-orang yang mereka minta fatwa itu bukan "Ulama" tapi "Bal-am", yaitu Badut-badut yang berlagak sebagai "Ulama", sementara Ulama telah mereka bunuh atau ditempatkan dalam penjara. Mesjid, Pesantren dan tempat-tempat pengajian lainnya tunduk patuh kepada Penguasa. Kalau ada khatib, Kiyai, Teungku
Pesantren atau siapapun yang berani menjelaskan bahwa Pancasila itu bertentangan dengan Al-Qur-an, tempat mereka adalah penjara, kalau tidak dibunuh secara rahasia.

Al-Qur-an mereka tempatkan dibawah Pancasila. Al-Qur-an mereka gunakan hanya sebagai Hiburan dan Kesenian yaitu untuk di musabaqahkan dan Kaligrafi. Selebihnya Al-Qur-an mereka gunakan sebagai alat sumpah pejabat negara, bacaan barqah pada setiap upacara, bacaan untuk orang mati, bacaan pada bulan puasa dan wirit yasin untuk mendapatkan pahala. Kesemuanya ini mereka lakukan sebagai bacaan semata-mata tanpa berusaha untuk memahami apa yang diperintahkan Allah dalan Al-Qur-an tersebut, sebagai pedoman hidup bagi orang Islam sejati/Islam Idiologi.

Orang-orang Hindunesia Jawa senantiasa mempersoalkan kami (Acheh-Sumatra) kenapa berperang dengan mereka sesama Islam, kenapa tidak memerangi orang-orang eropa yang jelas-jelas sebagai kafir. Islam Mereka (Islam Kebudayaan) tidak memahami bahwa Islam sejati melarang memerangi siapapun (termasur kafir) kecuali mereka memerangi kita duluan. Orang-orang kafir dimana bangsa Acheh tinggal sekarang ini tidak memusuhi kami, bahkan mereka senantiasa membantu kami. Sedangkan kafir Hindunesia-Jawa senantiasa mendhalimi (menjajah kami). Sejak Belanda lari angkat kaki dari bumi Acheh, kafir Hindunesia-Jawa memposisikan diri mereka sebagai Neo-colony Belanda dan berlagak tuan di negara kami.

Islam secara garis besar terdiri dari dua Dimensi, Ritual dan Sosial (Hablum minallah dan Hablum minannas). Ritual yang terbesar dan merupakan sebagai kunci masuk adalah mengucapkan Dua Kalimah Syahadah dengan syarat: Mengucapkan dengan lidah, mentasdiqkan dengan hati dan meng-aplikasikan (aksi) dalam kehidupan sehari-hari baik dalam berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara, sedangkan sosial yang terbesar adalah mendirikan Daulat Allah (System Allah). Persoalan apapun tak akan berhasil dituntaskan tanpa berdirinya Daulat Allah dan Daulat Allah mustahil diwujudkan tanpa adanya seorang Pemimpin (Imamah).

Imamah adalah Imam, Wali, Pemimpin yang mengikuti garis kepemimpinan Rasulullah (Ulama warasatul ambia) Yaitu Pemimpin yang haqqul yakin dan Consisten dalam mendirikan Daulah Allah serta memiliki ummah yang bersatu padu pada satu poros dibawah kepemimpinannya. Nilai Imamah adalah nilai Ummah. Demikian pentingnya keberadaan Imamah ditengah-tengah Ummah. Imam Adalah pemimpin kaum dhu'afa. Sebagai "Khalifah fil ardhi", Para Imam bertanggung jawab untuk membebaskan kaum dhu'afa dari belenggu penindasan yang menimpa kuduk-kuduk mereka (Q.S,7:157).

Bangsa Acheh kini sudah memiliki Imam yang memenuhi target sebagaimana yang saya uraikan diatas. Justru itulah bangsa Acheh sekarang sudah sadar dan memahami apa "Tujuan Hidup" yang sesungguhnya (Q.S,51:56). Tulisan ini saya tutup dengan firman Allah:

"Hai orang-orang yang beriman, ta-atilah Allah, Rasul dan Pemimpin (yang berasal) dari kamu (sendiri). Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya(Q.S,4:59)

Billahi fi sabililhaq.

Husaini Daud Sp

husaini54daud@yahoo.com
Sandnes, Norwegia
----------