Tranbjerg, 27 Juni 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ACHEH: DERITA TANPA AKHIR
Yusra Habib Abdul Gani
Tranbjerg - DENMARK.

 

26 JUNI 2004 HARI ANTI PENYIKSAAN INTERNASIONAL

26 Juni 2004 adalah hari Anti Penyiksaan Internasional, mengingatkan manusia yang beradab untuk tidak melakukan penyiksaan, penganiayaan daalam bentuk apapun yang berlawanan dengan prinsip pri kemanusiaan, kebenaran dan keadilan.

Adalah mustahil perbuatan ini berakhir, jikalau penjajahan masih terus terjadi dimana-mana di belahan bumi ini. Sebab bagi penjajah, tidak ada tutur yang mereka pakai, kecuali bahasa kekerasan. Jika serdadu sipenjajah tertawa, itu berarti baru saja mereka memperkosa; jika serdadu penjajah tersenyum, itu berari baru saja mereka mencuri dan merampok; jika serdadu penjajah merah mata, itu berarti baru saja mereka membakar; jika serdadu penjajah membentak, itu berarti baru saja mereka mengisap darah, jika serdadu penjajah marah, itu berarti baru saja mereka membunuh massal, dan jika mereka meminta maaf, itu berarti semua tindakan biadabnya dianggap lunas.

Dalam konteks ini, khususnya di Acheh, kita dapat melihat dengan terang bagaimana tindakan biadab TNI di Acheh. Tindakan penyiksaan/kekerasan merupakan pemandangan sehari-hari selama rezim Indonesia menjajah Acheh. Banyak cerita yang mesti disajikan, tapi fakta dibawah cukup sekedar memperingati hari Penyiksaan Internasional. Misalnya:

1. Tindakan kekerasan dalam bentuk penyiksaan yang dihadapi oleh rakyat Aceh dapat dilihat dengan penderitaan seorang anak yatim piatu bernama M Yusuf (12 tahun), penduduk Desa Blang Talon, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara yang pada saat berumur 6 tahun ayahnya, yang bernama Mustafa telah disiksa oleh tiga petugas berpakaian loreng hitam, dimana kepala sang ayah dikoyak sadis dan dikuliti secara paksa, selanjutnya begitu saja dicampakkan ke dalam kendaraan Kijang;

2. Pengalaman seorang ibu muda bernama Nyak Maneh Abdullah (35), selain diperkosa, mendapat siksaan dengan cara payudara dan kemaluannya disetrum, serta ditahan beberapa hari di Pos Pintu I Tiro;

3. Pengalaman Muhammad Jalil, penduduk Desa Maneh, Kecamatan Geumpang, Pidie, yang telah ditembak petugas dan kepalanya ditebas hingga terpisah dengan badannya, sebagaimana diuraikan oleh istrinya, Saodah Saleh (41);

4. Tindakan kekerasan/penyiksaan juga dialami seorang Kepala Desa Rengkam, Aceh Utara yaitu Aman Ismail, yang pernah ditangkap dan digebuki di pekarangan suatu sekolah dasar, hingga muntah darah. (sumber:Kualisi NGO HAM, point 1-4)

5. Tindakan kekerasan dan penganiayaan terhadap 14 orang sipil di kawasan Simpang Ulim, Peureulak 1 Januari 1999. (sumber: Waspada 31 Desember 98);

6. Pada 3 Januari 199, seramai 40 orang sipil telah ditembak mati setelah dianiaya dan disiksa di Lh“k Seumaw‚, 50 orang ditahan dan 23 orang diantara yang ditahan tersebut meninggal setelah dianiaya dan disiksa oleh TNI. Semua korban adalah warga kampung Pusong (Sumber: SHWRN);

7. Pada 6 Januari 1999, TNI telah menahan 40 orang sipil, 38 orang diantara yang ditahan tersebut mengalami penganiayaan dan penyiksaan berat di Gedung KNPI, Lh“k Seumaw‚, sehingga mesti dirawat di Rumah Sakit dan 4 orang diantara yang dianiaya itu meninggal (sumber: Serambi Indonesia 11 Januari 1999);

8. Aksi tindak penyiksaan dan penganiayaan oleh TNI terjadi Bukit Tengkorak, Seureuke, Pas‚. Bersamaan dengan penganiayaan ini, telah ditemukan kuburan massal oleh KOMHAMNAS;

9. Aksi tindak penyiksaan dan penganiayaan oleh TNI terjadi Bukit Seuntang. Bersamaan dengan penganiayaan ini, telah ditemukan kuburan massal oleh KOMHAMNAS;

10. Aksi tindak penyiksaan dan penganiayaan oleh TNI terjadi Tj“t Panglima. Bersamaan dengan penganiayaan ini ditemukan kuburan massal oleh KOMHAMNAS,

"Dalam kurun waktu sepuluh tahun saja selama pelaksanaan operasi (1989-1998) tercatat 871 orang tewas di TKP karena tindak kekerasan, 387 orang hilang kemudian ditemukan mati, 550 orang hilang, 368 korban penganiayaan, 120 korban dibakar rumahnya, serta 102 korban perkosaan". (sumber: Kualisi NGO HAM).

Akibatnya, tindakan kekerasan/penyiksaan atau penangkapan tanpa prosedur atau penculikan atau pelecehan seks dan pemerkosaan atau penghilangan nyawa manusia maupun praktek-praktek pelanggaran hukum dan HAM lainnya berlangsung hampir setiap saat.

Baru-baru ini NGO HAM mengeluarkan hasil penelitian yang mengahasilkan data sbb: "jenis-jenis pelanggaran HAM yang terjadi masa DOM dapat diklasifikasikan kepada Gross Violation of the Human Rights (pelanggaran berat) dan masuk ke dalam kategori Crime Againts Humanity (Kejahatan Terhadap Kemanusiaan) yang lengkap dan nyaris meliputi semua aspek pelanggaran HAM, antara lain:

1. Involuntary Dissapearance (penghilangan secara paksa),
2. Extrajudicial, summary or arbitrarry executions (pembantaian termasuk Pembunuhan atau penghilangan nyawa secara paksa),
3. Torture (penyiksaan),
4. Arbitrary detention (penahanan semena-mena dan penangkapan sewenang-wenang),
5. Violence againts women (kekerasan terhadap perempuan), termasuk didalamnya Perkosaan,
Pelecehan Seksual, dan kekerasan terhadap alat Reproduksi Manusia (sexsual Assault).

Secara umum, masyarakat yang menjadi korban diambil secara paksa atas tuduhan :

1. Terlibat sebagai anggota GAM (Gerakan Aceh Merdeka)
2. Membantu anggota GAM
3. Pernah bertemu atau berdialog dengan anggota GAM
4. mempunyai atau menyembunyikan senjata gelap
5. korban mengetahui keberadaan GAM
6. korban merupakan anggota keluarga orang yang dituduh sebagai anggota GAM

Untuk membuktikan bahwa korban benar-benar melakukan hal sebagaimana yang dituduhkan
terhadapnya, maka dapat dilihat beberapa pola usaha pembuktian :

1. Korban diambil secara paksa tanpa alasan, tanpa prosedur hukum yang jelas dan tanpa diketahui pihak keluarga korban atau tanpa pemberitahuan kepada keluarga korban.
2. korban dipaksa mengakui tuduhan yang dilontarkan kepadanya dengan ancaman atau intimidasi fisik maupun mental.

Melihat dari bentuk intimidasi dan ancaman yang dilakukan terhadap masyarakat, maka korban dapat dikatagorikan ke dalam 2 kelompok :

1. Korban Langsung, yaitu korban yang mengalami intimidasi baik secara fisik maupun mental. Korban mengalami keletihan dan penderitaan fisik yang teramat sangat bahkan sampai pada batas toleransi daya tahan korban, artinya korban tewas akibat penyiksaan atau intimidasi tersebut.

2. Korban tidak langsung, yaitu korban yang tidak mengalami kejadian namun dipaksa atau terpaksa mendengar atau menyaksikan proses atau hasil penyiksaan terhadap korban langsung. Sehingga korban mengalami penderitaan mental atau tekanan secara kejiwaan baik berat maupun ringan.

Umumnya metode penyiksaan yang dilakukan terhadap korban DOM adalah penyiksaan dengan metode fisik dan dengan metode psikologis. Namun umumnya dilakukan sebagai kombinasi dari kedua cara tersebut.

Beberapa bentuk penyiksaan yang umumnya dialami oleh korban langsung :

1. Ditelanjangi, atau ditelanjangi dan diarak dikerumunan massa;
2. Dipukul dengan tangan kosong;
3. Ditendang dengan kaki tidak bersepatu maupun bersepatu;
4. Disetrum termasuk pada alat Vital korban;
5. Dipukul dan dicambuk dengan rotan, kayu balok, Ekor Ikan pari yang seluruh kerangkanya berduri, selang air, dan bahkan dengan besi;
6. Disalib, digorok atau ditembak;
7. Digantung dengan berpakaian atau pun telanjang;
8. Dikubur hidup-hidup atau dikubur sebatas leher dan dibiarkan kelaparan dan mati;
9. Disekap dalam kubangan atau tempat kotoran air (Comberan);
10. Dibentak dengan perkataan yang kasar atau dicaci maki;
11. Ditelanjangi dan digabung anatar laki-laki dan perempuan;
12. Leher ditarik dengan tali;
13. Kaki dirantai;
14. Ditindih dengan kayu balok berukuran besar lalu kayu balok tersebut diduduki oleh pelaku. Dipaksa melakukan perbuatan asusila dengan korban lainnya;
15. Anggota tubuh disayat-sayat dengan silet atau benda tajam lain dan diberi garam atau cuka;
16. Diganduli batu atau pemberat lain lalu ditenggelamkan ke sungai baik dalam kondisi hidup ataupun mati;
17. Dikubur massal.
18. Diperkosa dibawah ancaman dan todongan senjata;
19. Diperkosa didepan anggota keluarganya;
20. Penghilangan (destrukturisasi) anggota tubuh dan fungsi-fingsinya, seperti penghilangan gigi, tangan atau kaki diamputasi (tanpa bius). Atau dilumpuhkan sehingga anggota tubuh tetap ada namun tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya;
21. Dipaksa memakan kotoran sendiri atau kotoran korban lain;
22. Dipaksa memakan alat kelamin korban yang telah tewas;
23. Korban diancam akan dibunuh atau anggota keluarganya akan disiksa atau dibunuh jika tidak memberitahukan keberadaan GAM;
24. Harta benda korban dimusnahkan.

Bentuk-bentuk intimidasi yang dialami oleh korban tidak langsung :

1. Korban dipaksa melihat istri atau anaknya diperkosa atau mengalami pelecehan seksual;
2. Mendengar jeritan korban lain yang sedang mengalami penyiksaan;
3. Dipaksa atau terpaksa melihat harta bendanya dimusnahkan;
4. Mayat-mayat korban DOM dibuang dijalanan dan ditempat yang dilalui masyarakat, sehingga masyarakat ketakutan dan terteror;
5. Terpaksa atau dipaksa menyaksikan korban yang ditelanjangi dan diarak;
6. Terpaksa atau dipaksa menyaksikan proses penyiksaan atau pembunuhan (eksekusi) terhadap korban lain.

Awal bulan ini terjadi penganiayaan terhadap 112 warga Kampung Seunebok Pidie, Peureulak, yang disiksa dan dianiaya berat, hanya lantaran M. Yusuf, anak didik Dayah (Pesantren) Madinatuddiyah yang nekad membawa lari senjata milik salah seorang serdadu Indonesia, personel TNI. 38 orang diantara korban ini terpaksa dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Peureulak, sementara Syarbaini Sulaiman dan Zainuddin (guru) dihantar ke RSU Langsa, karena mengalami luka serius.

Bersamaan dengan hari Anti Penyiksaan Internasional ini, dunia Internasional kiranya membuka mata terhadap pelanggaran-pelanggaran HAM yang dilakukan oleh TNI di Acheh dan menyeret pelaku-pelakunya ke Mahkamah Internasionl.

Wallahu'aklam bissawab

Yusra Habib Abdul Gani

yusrahabib21@hotmail.com
Tranbjerg, Denmark
----------