Sandnes, 28 Juni 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

JAWABAN TERAKHIR HUSAINI DAUD UNTUK ROKHMAWAN CS
Husaini Daud Sp
Sandnes - NORWEGIA.

 

JAWABAN TERAKHIR UNTUK ROKHMAWAN CS.

Dalam berargumentasi yang Islami, diperlukan dalil aqli dan Naqli. Dalil aqli adalah pikiran/logika yang selaras dengan dalil naqli. Dalil nakli adalah ayat Al-Qur'an dan Hadist Shahih. Wahyu/Qur'an mutlaq kebenarannya sedangkan argumentasi dan juga Hadist perlu disesuaikan dengan Wahyu. Wahyu takada yang palsu, kendatipun banyak pihak yang berusaha untuk memalsukannya, namun selalu ketahuan. Hal ini sesuai dengan janji Allah sendiri, Dialah yang menjaganya. Sedangkan hadist banyak sekali yang palsu. Kendatipun ditulis sebagai hadist shahih, namun belum tentu tidak palsu, palsu tidaknya tergantung sesuaikah menurut Wahyu atau tidak, yang jelas Wahyulah ukurannya.

Ilmu yang terdapat dalam fiq itu sama juga kedudukannya dengan logika, masih diperlukan Wahyu untuk membuktikan kebenarannya. Lucunya dewasa ini orang berpegang teguh pada kitap Fiq bukan pada kitab Al-Qur'an. Kalau kita menguatkan argumentasi berdasarkan Fiq, memang tak akan pernah final, fiq itu bermacam ragam nya sebagaimana beragamnya mazhab, makanya kalau ingin menyatukan pendapat gunakanlah Wahyu.

Apa yang saya ungkapkan diatas sama dengan apa yang terjadi antara Rokhmawan dan saya. Rokhmawan berkilah dengan Fiq, bukan fiq yang benar tapi saya katakan "hikayat musang" sementara saya memaparkan wahyu Allah dalam tulisan saya itu. Bagi saya tak perlu mencari Hadist lagi sebab sudah jelas dengan Wahyu saja sesuai wilayah yang saya bahas. Sementara argumentasi Rokhmawan, silakan pengamat telusuri kembali, tak satupun dilengkapi dengan Wahyu atau Hadist makanya saya kata kan itu semua "hikayat musang"

Bukankah Rokhmawan yang duluan melakukan cara yang tidak sopan kepada saya, coba telusuri kembali tanggapannya yang pertama. Justru itulah saya bantah dengan jurus knock down. Dia (Rokhmawan) menuduh saya menafsirkan Qur'an se udel dewe (bhs.sipa-i) setelah tuduhan yang sama dia lontarkan kepada ustaz Ahmad Sudirman. Ustaz Sudirman tidak menanggapinya, saya kira tepat sekali, untuk apa kalau hanya debat kusir saja, lucunya dia tuduh kekita debat kusir, sama persis seperti kejadian TNI dengan TNA. TNI menuduh TNA pemberontak padahal TNI lah yang duluan menjajah Acheh-Sumatra. TNI menuduh TNA membunuh, merampok, pengacau. Padahal kesemuanya ini adalah perbuatan TNI yang kitasimpulkan dengan satu kata yaitu Penjajah. Jadi persoalan TNI dengan TNA baru selesai kalau dibawa kemeja hukum internasional.

Secara filosofis orang-orang seperti Sukarno, Suharto, Habibi, Gusdur, megawati, SBY, Wiranto dan lain-lain serta semua pengikut mereka adalah kafir dan tidak salah juga kalau kita katakan orang-orang dhalim atau fasiq. Namun secara syar-`i mereka semua adalah munafiq. Menurut fiq Rokhmawan (saya tak tau entah fiq apa yang dia pakai) mereka tak termasuk kafir, namun masih tergolong ke dalam mukmin, ini yang lucu bin ajaib. Disebabkan banyaknya orang-orang yang berpendapat demikianlah, makanya orang-orang dhalim didunia ini merasa aman dalam melakukan kedhalimannya. Mereka beranggapan di akhirat kelak akan dimasukkan juga akhirnya ke dalam syurga, kendatipun mampir di neraka duluan sebagaimana ceramah Zainuddin Mz, pendakwah sejuta ummat yang nyaring terdengar di mulutnya, "Fir-aun-fir-aun moderen", sebaliknya berjing krak-jingkrak dalam ketiak firaun moderen tersebut dalam system Hindunesia-Jawa, akibatnya kaburlah pemahaman rakyat jelata yang mana sesungguhnya fir-aun yang dimaksudkan MZ.. Suharto, Sutrisno, Wiranto, itu juga kawannya.

Secara tidak langsung Rokhmawan telah menjadi pembela orang-orang dhalim, makanya saya katakan masuk perangkap "Bal-am". Idiologi Islamnya kosong. Secara filosofis dia juga termasuk orang dhalim dan ilmu Islamnya keliru 180 derajat.

Tentang Imamah terdapat dua definisi, yaitu imamah chusus dan imamah umum. Yang dimaksudkan imamah khusus adalah keimamaham Rasul sendiri (qiyadah nabawiyah) mereka itu adalah: Imam Ali bin abu Thalib, Hasan bin Ali, Husain bin Ali, Ali bin Husein, Muhammad bin Ali, Jakfar bin Muhammad, Musa bin Jakfar, Ali bin Musa Muhammad bin Ali, Ali bin Muhammad, Hasan bin Ali dan Al-Mahdi Al Munthazar. Tentang imam 12 ini diriwayatkan juga oleh Bukhari dan Muslim. Sekarang ini, di dunia Islam tidak ada Imam, sebab imam keduabelas dalam keadaan gaib, tetapi garis imamah dilanjutkan para ulama. Konsep imamah dalam Islam meliputi aspek rohaniah dan duniawiah. Jadi seorang imam bukan hanya mampu memimpin negara setelah memperjuangkannya, tapi juga mampu berijtihat, berfatawa sesuai wahyu, menulis kitab yang diperlukam ummah, berkhutbah dan lain-lain.

Imamah secara umum adalah "ulama warasatul ambia". Sebetulnya dari perkataan saja dapat kita fahami bahwa warasatul ambia adalah waris Nabi, artinya orang-orang yang kerjanya sebagaimana kerjanya Nabi. Kerjanya Nabi bukan hanya mengadakan pengajian seperti di rumah Arqam tapi juga yang terpenting sebagai folow up dan consistennya adalah membebaskan kaum dhu-afa dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka (QS.7:175). Dalam proses inilah kerjanya Nabi mendirikan System Allah. Jadi menurut definisi ini orang-orang alim yang kerjanya hanya membuat pengajian belum termasuk sebagai ulama. Sedangkan Tgk. Dr. Hasan Muhammad Di Tiro, memimpin perjuangan untuk membebaskan kaum dhuafa Acheh setelah membuat pengajian kaderisasi yang mantab untuk tujuan tersebut. Tgk. DR. Hasan Muhammad Di Tiro juga telah menulis lebih kurang 20 buah kitab yang dapat digunakan ummah, khususnya ummah Islam Acheh.

Justru itu wali (baca Tgk. Syik Ditiro) tidak pernah khawatir kepada bangsanya andaikata dia berpulang kerahmatullah. Tungku-tungku yang mengaji di dayah-dayah Acheh yang seimbang bahu/bekerjasama dengan perjuangan wali juga disebut ulama. Sedangkan tungku-tungku yang juga membuat pengajian di dayah-dayah tapi masih menempatkan diri dibawah system Hindunesia-Jawa adalam Bal-am, bukan ulama kendatipun banyak ilmu.

Ya Allah betapa lugunya sebahagian orang-orang yang sedang membaca tulisanku ini. Mereka belum mampu memahaminya kalau berbicara sesuatu yang berhubungan dengan wilayah Aqidah/idiologi. Jadi imam seperti Tgk. DR. Hasan Di Tiro khusus untuk Acheh sedangkan untuk daerah lain tentu ada imam yang lainnya.

Terakhir sekali perlu saya sampaikan bahwa jangan ada yang menuduh saya Syiah disebabkab satu alinia yang diatas. Saya bukan Syiah dan juga bukan Ahlussunnah, saya adalah orang Islam. Orang-orang Syi-i dan Sunni sejati adalah saudaraku, insya Allah.

Billahi fi sabililhaq

Husaini Daud Sp

husaini54daud@yahoo.com
Sandnes, Norwegia
----------