Stockholm, 28 Juni 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ROKHMAWAN ITU KAFIR, ZHALIM & FASIK SAMA TIDAK MEMUTUSKAN PERKARA MENURUT HUKUM ALLAH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.
 

SAUDARA ROKHMAWAN ITU KAFIR, ZHALIM & FASIK ADALAH SAMA KARENA TIDAK MEMUTUSKAN PERKARA MENURUT HUKUM ALLAH

"Bapak Husaini menuliskan "Kafir, dhalim dan fasiq adalah tidak termasuk dalam golongan Islam (Mu`min)". Saya akan menjawabnya : Pak (Husaini Daud) anak SD pun sudah tahu apa itu yg di namakan orang dlolim, orang fasik dan munafik, kalau bapak pelajari itu ilmu fikih maka akan di temukan bahwa mereka adalah orang Islam juga seperti kita ( sholat, puasa, dll ) tapi tentu derajatnya berbeda ( bapak pernah mengenyam bangku SD khan ), mereka itu termasuk orang-orang yang bermaksyiat kpd Alloh SWT. Sedangkan orang yang tidak bermaksyiat kpd Alloh tidak bisa langsung di golongkan sebagai orang mukmin. Bapak sebaiknya sebelum memberi komentar dg dalil yg salah kaprah mendingan pelajari dulu itu yang di namakan " derajat keimanan kepada Alloh SWT". Insyaalloh akan saya bahas secara ringkas. Derajat keimanan seseorang kepada Alloh ada 4 macam yaitu Muslim, Mukmin, Muttaqin, Mukhsin ( muhklish)." (Rokhmawan , rokh_mawan@yahoo.com , Sun, 27 Jun 2004 23:44:16 -0700 (PDT))

Baiklah saudara Rokhmawan di Jawa Tengah, Indonesia.

Kalau ditelaah kembali apa yang diFirmankan Allah SWT dalam Surat Al-Maidah ayat 44, 45, dan 47, itu adalah menggambarkan bagaimana kaum Yahudi yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah. Misalnya diawal ayat 44 diFirmankan: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi)...". Kemudian diakhir ayat di Firmankan: "...Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir" (Al-Maidah, QS, 5: 44). Jelas disini disebut orang kafir, bagi Yahudi yang tidak memutuskan berdasarkan Kitab Taurat.

Kemudian, pada ayat 45. Diawal ayat di Firmankan: "Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka didalanya (Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya.". Kemudian diakhir ayat 45 di Firmankan: "Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim" (Al-Maidah, QS, 5: 45)

Jadi, disini orang Yahudi yang telah diturunkan kepada mereka Kitab Taurat yang mengandung hukum kisas, tetapi mereka orang Yahudi tersebut tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah dalam Kitab Taurat, maka mereka adalah orang-orang yang zhalim.

Menurut Imam Jalaluddin Al Mahalliy dan Imam Jalaluddin As Suyuthi dalam tafsir Jalalain-nya, menafsirkan zhalim dengan orang-orang yang aniaya (Jalalain, Kitab bag. I, hal. 471). Menurut Prof TM Hasbi Ash Shiddieqy dalam tafsir Al-Bayaan-nya menafsirkan ayat 45 yang mengandung kata zhalim "syari'at orang dahulu, apabila diterangkan oleh Al-Qur'an secara membenarkan dan tidak memansukhkan, maka menjadi juga syari'at bagi kita. Dan seluruh ulama berhujjah dengan ayat ini." (Al-Bayaan, hal. 412). Jadi menurut Ash Shiddieqy, orang-orang yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah (dalam hal ini Al Qur'an), maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim. Jadi bukan orang yang beriman lagi kepada Al Qur'an, tetapi orang yang sudah menjadi orang yang aniaya, menurut Imam Jalaluddin Al Mahalliy dan Imam Jalaluddin As Suyuthi.

Begitu juga menurut Sayid Qutb dalam tafsir Fi Zhilalil Qur'an menafsirkan Surat Al Maidah ayat 44, 45 dan 47 adalah "Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir". "Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim". "Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik" (Fi Zhilalil Qur'an, Bag 2, hal. 725).

Jadi, menurut Sayid Qutub yang menafsirkan ayat 44, 45, dan 47 adalah orang yang kafir, yang zhalim, dan yang fasik adalah sama, yaitu orang yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah. Atau dengan kata lain orang yang kafir, yang zhalim, dan yang fasik adalah sama, yaitu bukan orang yang beriman. Atau orang yang kafir, yang zhalim, dan yang fasik adalah sama, yaitu bukan orang Islam.

Sedangkan menurut Tim Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsir Al Qur'an dalam Al Qur'an dan terjemahnya menyatakan bahwa "orang yang tidak memutuskan perkara menurut hukum Allah ada tiga macam: a. Karena benci dan engkarnya kepada hukum Allah, orang yang semacam ini kafir (menurut ayat 44 surat Al Maidah). b. Karena menurut hawa nafsu dan merugikan orang lain dinamakan zhalim (ayat 45 surat Al Maidah). c. Orang yang tidak menjalankan hukum Allah, bukan karena benci dan tidak pula merugikan orang lain, orang itu fasik (ayat 47 surat Al Maidah). (Al Quran dan Terjemahnya, Jamunu, Jakarta, 1971, Hal. 167-168)

Berdasarkan uraian diatas dari apa yang terkandung dalam ayat 44, 45, 47 surat Al Maidah, memang benar seperti yang dikatakan oleh saudara Husaini Daud, yaitu: "Baiklah Rokhmawan, dalam surah al-Maidah ayat 44 dinyatakan Allah sebagai kafir, ayat 45 sebagai dhalim dan ayat 47 sebagai fasiq. Kafir, dhalim dan fasiq adalah tidak termasuk dalam golongan Islam (Mu`min),.." (Husaini Daud, 26 Juni 2004)

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Sun, 27 Jun 2004 23:44:16 -0700 (PDT)
From: rohma wawan <rokh_mawan@yahoo.com>
Subject: Itu Pak Daud Kehabisan Bahan Untuk Mempertahankan Argumennya
To: ahmad@dataphone.se
Cc: dityaaceh_2003@yahoo.com, yuhe1st@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com, habearifin@yahoo.com, editor@jawapos.co.id, suparmo@tjp.toshiba.co.jp, siliwangi27@hotmail.com, sea@swipnet.se, solopos@bumi.net.id, Padmanaba@uboot.com, kompas@kompas.com

Assalaamu'alaikum Wr.Wb
Bismillaahirrohmaanirrohiim

"Itu Pak Daud Sudah Tidak Bisa Mempertahakan Argumennya" (Rokhmawan, jateng-indonesia)

Bapak Hasan Daud cs yang kami homati, sebenarnya saya ingin langsung meluruskan argumen anda yang salah kaprah bin amburadul bin ngawur dan salah besara mengenai komentar anda yg di beri judul oleh Pak Ahmad Sudirman "Jawaban Husain Daud Kepada Rokhmawan" ketika saya membaca komentar anda yang salah kaprah bin Amburadul.

Bapak Husaini menuliskan "Kafir, dhalim dan fasiq adalah tidak termasuk dalam golongan Islam (Mu`min)"

Bapak juga menuliskan "Kembali ke persoalan kamu, kemanakah hendak kumu masukkan orang-orang fasiq dan orang-orang Dhalim? Pada hari Qiamah, Allah membagi manusa hanya dalam 2 golongan saja yaitu golongan yang Hitam muram wajahnya dan golongan yang putih berseri-seri (Q.S,3:106-107)".

Dengan kemampuan saya atas hidayah Alloh SWT yg diberikan, akan saya luruskan pemahaman bapak yang salah kaprah, pak kalau orang kafir tidak mungkin di golongkan sebagai orang mukmin ( ini memang benar ). Tetapi bapak menulis orang yg dlolim, fasiq tdk termasuk dlm golongan islam/mukmin, ini namanya salah kaprah pak. Ini dasarnya apa ? dalilnya mana ? kemudian kalau bapak hanya berdasarkan dalil Q.S 3: 106-107, maka bapak salah kaprah lagi. Baiklah akan saya luruskan pemahaman bapak yang (anak kecil menganggap pemahaman bpk bnr) salah kaprah bin amburadul.

Saya akan menjawabnya : Pak anak SD pun sudah tahu apa itu yg di namakan orang dlolim, orang fasik dan munafik, kalau bapak pelajari itu ilmu fikih maka akan di temukan bahwa mereka adalah orang Islam juga seperti kita ( sholat, puasa, dll ) tapi tentu derajatnya berbeda ( bapak pernah mengenyam bangku SD khan ), mereka itu termasuk orang-orang yang bermaksyiat kpd Alloh SWT. Sedangkan orang yang tidak bermaksyiat kpd Alloh tidak bisa langsung di golongkan sebagai orang mukmin. Bapak sebaiknya sebelum memberi komentar dg dalil yg salah kaprah mendingan pelajari dulu itu yang di namakan " derajat keimanan kepada Alloh SWT". Insyaalloh akan saya bahas secara ringkas. Derajat keimanan seseorang kepada Alloh ada 4 macam yaitu Muslim, Mukmin, Muttaqin, Mukhsin ( muhklish). Tentunya bapak tahu tho artinya. Naaah setelah bapak tahu maka orang yang sudah islam ( muslim ) maka tidak bisa langsung di katakana sbg orang yg ber iman ( mukmin ), begitu pula orang mukmin belum tentu orang yg muttaqin dst. Bapak sudah jelas belum ( kalau belum ada yg jelas saya persilakan bpk utk bertanya ).

Bapak nggak usah malu untuk mengatakan bahwasanya bapak memang kurang bisa memahami ilmu agama islam apalagi tafsir al-qur'an yg shahih!

Akan saya bahas soal tentang perjalanan manusia dari alam barzah menuju syurga maupun neraka secara singkat. Insyaalloh ini akan meluruskan argumen bapak yang salaaaah kapraaah.

Manusia di alam kubur di bagi menjadi dua bagian yaitu orang kafir dan orang muslim ( mukmin dan munafik, fasyik, dlolim). Kalau orang kafir jelas tidak akan di bagi lagi menjadi golongan seperti yg kita ketahui (harby dan jimmy), mereka setelah melewati Alam Mizan maka langsung di masukkan ke neraka dan tidak akan di angkat ke syurga. Sedangkan orang mukmin setelah ke mizan maka akan mendapat syafaat ( syafaat tidak hanya untuk orang mukmin saja tetapi semua orang yg berhasil melewati mizan maka akan mendapatkan syafaat termasuk orang dlolim, fasik, munafik dll) ingat paak syafat itu bukan berarti orang yg di beri syafaat langsung terbebas dari neraka, ini tergantung orangnya. Orang yang di beri syafaat maka syafaat tsb dpt mengurangi dosa-dosanya. Naaah setelah mendapat syafaat maka akan melewati shirotolmustaqim ( Rosululloh SAW bersabda Shirot itu sangat tipis sekali dan lebih tajam dari pedang, ada orang yg bisa melewati secepat kilat/sekejap mata, ada yg melewatinya seperti tiupan angin, ada yg terbang spt burung, ada yg spt berkuda, ada yang mlewatinya seperti berjalan bahkan ada yg melewatinya sampai lecet-lecet namun aklhirnya berhasil dan ada orang yg gagal melewatinya dan di benamkan ke neraka).

Pak orang yang berhasil melewati shirot itu jelas orang muttaqin, mukhsinin/mukhlishin. Kemudian orang yang di benamkan tadi suatu saat akan di angkat ke syurga. Kemudian akan saya lanjutkan ke perjalanan orang yg selamat tadi, setelah selamat dari shirot maka tidak langsung bisa masuk suyrga tetapi akan melewati jembatan qishosh dulu. Kemudian setelah itu maka akan di masukkan Alloh ke syurga.

Naaaah di syurganya Alloh SWT banyak sekali tingkatannya tergantung dari keimanan seseorang dan amal sholihnya di dunia ini. Tidak perlu saya bahas secara mendetail. Yang jelas orang yang selamat melewati jembatan shirot tsb akan mendapatkan syurga sesuai dg keimanan mereka. Paaak tingkatan manusia di syurga nanti yang paling rendah adalah Kelompok manusia yg tidak beriman, tidak bermaksyiat, tidak pula beramal shalih mereka adalah orang-orang gila, orang yg blm kedatangan dakwah sekalipun, bayi/anak kecil yg orang tuanya kafir, orang yg tuli sejak lahir.
Kemudian tingkatan yg kedua dari bawah adalah Kelompok manusia yg ketika hidupnya berbuat banyak kemaksyiatan tetapi adakalanya mereka berbuat keshalihan seperti orang yg fasyik, dlolim dll. Masih banyak sekali tingkatan manusia di syurga dan tidak perlu saya lanjutkan karena mungkin bapak pusing membacanya karena saya bukan seorang guru atau dosen agama.

Bapak telah melakukan kesalahan yg besar karena bapak menganggap orang fasyiq, orang dlolim, munafik itu bukan termasuk orang islam ( Semoga dengan keterangan saya di atas tadi yg sedikit akan dpt membukakan pintu hati bapak untuk segera bertaubat sebelum ajal menjemput bapak )

Bapak juga menulis "Kalau kamu belum mampu memahami dan membedakan antar ulama palsu
dengan ulama sejati, kamu pasti tidak mampu memahami dan membedakan antar Islam palsu dengan Islam sejati".

Waaaah bapak ini mau bertanya atau mau memastikan, kalau bapak mau bertanya ttg hal di atas tadi, maka akan saya jawab : InsyaAlloh saya bisa memahami islam yg syamil, islam yg benar ( tidak spt bappak yg asal berargumen tanpa dasar/dalil yg kuat ) Sedangkan kalau bapak memastikan bahwasanya saya ini tidak bisa memahami islam yg benar, jelas bapak ini yg salah kaprah lagi, atas dasar apa bpk mengatakan itu. Justru bapak ini yang ketahuan kurang bisa memahami islam yg benar ( kalau tidak mau dikatakan tidak bisa ).

Bapak Husein yang saya hormati, kalau bapak menjawab tafsiran al-qur'an yang shahih dan benar ini...jangan terus marah-marah malah ngajak perang lagi. Ini khan kelihatan kalau bapak itu perlu belajar kpd ulama Rusydi dsb ( saya sering mengikuti diskusinya mereka). Bapak menafsirkan al-quran dg tafsiran yg salah kaprah tadi terus ada orang yg mau meluruskannya tiba-tiba bapak memberontak/tidak setuju dg tafsiran yg benar berarti ada tujuan yang tersembunyi dari bapak ( saya sudah tahu tujuan bapak ).

Pak sekali lagi jangan debat kusir lagi yaaaa....apalagi melawan Rokhmawan yg insyaAlloh manhajnya lurus. Kemana saja bapak lari dari saya maka akan saya kejar dg pemahaman yg lurus. Wallohu'alam bi showab

Hanya Kepada Alloh kita menyembah dan minta pertolongan

Wassalaam

Rokhmawan

rokh_mawan@yahoo.com
Jateng, Indonesia
----------