Stockholm, 30 Juni 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ROKHMAWAN COBA DALAMI DULU APA YANG TERKANDUNG DALAM SURAT AL MAIDAH AYAT 44, 45, 47
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SAUDARA ROKHMAWAN DALAMI DULU APA YANG TERKANDUNG DALAM SURAT AL MAIDAH AYAT 44, 45, 47

"Sekali lagi pak saya tidak seperti yang bapak sangka. Walaupun saya orang Jawa tulen tetapi Manhaj yg saya ikuti tidak seperti orang-orang NKRI. Bapak Ahmad Sudirman yang saya hormati setelah saya berdiskusi dengan bapak Husaini Daud kemudian kadang-kadang bapak juga mengomentarinya, terus terang saya jadi geli mendengar jawaban bapak yang intinya mereka (munafik, fasyik, dlolim tidak bisa di masukkan kedalam Islam) padahal bapak sendiri telah mengatakan kepada saya atas pertanyaan saya tentang seputar NII Adah Jaelani Tirtapradja yang menyatakan bahwasanya orang yang diluar NII adalah kafir, orang yang di dalam NII Kartosuwiryo adalah sama kedudukannya dengan yang di luar NII Kartosuwiryo tsb (pasti yang di maksud bapak adalah keislamannya), kalau saya ambil kesimpulan bapak mengatakan orang yg di luar NII dan yg di dlm NII adalah sama-sama islam. Bagaimana seeh sebenarnya menurut bapak (Bapak khan orang NII Kartosuwiryo juga)?. Kalau kita lihat orang yang di luar NII itu banyak sekali pak, ada Ahlussunnah Wal Jamaah ( Salafy), Ikhwanul Muslimin, NU, Muhammadiyah dll termasuk orang yang pancasilais. Mohon di perjelas lagi" (Rokhmawan , rokh_mawan@yahoo.com , Tue, 29 Jun 2004 23:36:01 -0700 (PDT))

Baiklah saudara Rokhmawan di Solo, Jawa Tengah, Indonesia.

Kalau saudara Rokhmawan menyatakan bahwa manhaj yang saudara ikuti tidak seperti orang-orang NKRI. Ya, itu hak saudara Rokhmawan untuk megikuti jalan, cara, metode, manhaj sebagaimana yang telah diturunkan Allah SWT kepada Rasul-Nya Muhammad saw. Saya tidak menyangka yang bukan-bukan kepada saudara Rokhmawan.

Selanjutnya saudara Rokhmawan menulis: "Saya akan menjawabnya : Pak (Husaini Daud) anak SD pun sudah tahu apa itu yg di namakan orang dlolim, orang fasik dan munafik, kalau bapak pelajari itu ilmu fikih maka akan di temukan bahwa mereka adalah orang Islam juga seperti kita (sholat, puasa, dll), tapi tentu derajatnya berbeda (bapak pernah mengenyam bangku SD khan), mereka itu termasuk orang-orang yang bermaksyiat kpd Alloh SWT. Sedangkan orang yang tidak bermaksyiat kpd Alloh tidak bisa langsung di golongkan sebagai orang mukmin." (Rokhmawan, Sun, 27 Jun 2004 22:52:23 -0700 (PDT))

Saudara Rokhmawan itu ilmu fiqh Islam sendiri dalilnya diambil dari: pertama, Al-Qur'an. Kedua, Hadist. Ketiga, Ijma' Mujtahidin. Dan keempat, Qias. Adapun hukum-hukum Islam ditinjau dari sudut pengambilannya dibagi kedalam empat bagian. Pertama, hukum yang diambil dari nas yang tegas, yakin adanya dan yakin pula akan maksudnya yang menunjukkan atas hukum itu. Kedua, hukum yang diambil dari nas yang tidak yakin maksudnya terhadap hukum-hukum itu. Ketiga, hukum yang tidak ada nas, tetapi pada suatu masa telah drpakat (ijmak) mujahidin atas hukum-hukumnya. Dan keempat, hukum yang tidak ada dari nas, baik qath'i ataupun zhanni, dan tidak pula ada kesepakatan mujtahidin atas hukum itu.

Jadi, saudara Rokhmawan, saudara mendasarkan kepada ilmu fiqh Islam yang dalilnya yang paling utama dan pertama diambil dari Al-Qur'an, yang telah dengan yakin adanya dan yakin pula akan maksudnya yang menerangkan Surat Al Maidah, ayat 44, 45 dan 47 yakni "Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir" (QS,5: 44). "Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim" (QS, 5: 45). "Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik" (QS, 5: 47).

Kemudian itu saudara Rokhmawan menyatakan: "Duluuuu saya menganggap bapak ini seorang yang faham ilmu tafsir Al-Qur'an, tetapi ketika bapak mengamini pendapatnya bapak Husaini Daud saya jadi ragu 100 %. Pak Ahmad Sudirman, Untuk mengetahui makna Al-qur'an yg sesungguhnya tidak bisa langsung kita makan mentah-mentah (sekedar tahu artinya dan sedikit hadist yg berkenaan dengannya), tetapi sudah saya jelaskan untuk memahami/menafsirkan/mengetahui makna Al-quran di butuhkan minimal menguasai 15 cabang ilmu agama Islam."

Memang untuk menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an tidak boleh sembarang dan seenaknya. Misalnya metode atau manhaj yang telah disepakati oleh para ulama terdahulu menyebutkan: Pertama, untuk menafsirkan satu ayat terlebih dulu harus dicari tafsirnya dengan ayat yang lain. Kedua, apabila tidak ada ayat yang menafsirkan ayat tersebut, maka harus dicari sunnah (hadits) Nabi SAW. Ketiga, apabila tidak ditemukan sunnah (hadist) yang menerangkan ayat tersebut, maka dicarikan perkataan dari sahabat yang diakui Nabi SAW sebagai penyambung ummat. Keempat, apabila tidak ada perkataan sahabat tentang tafsir ayat tersebut, maka dicari dari perkataan para tabi'in. Kelima, apabila tidak ada perkataan tabi'in, maka dicarikan dari para imam, seperti Syafi'i, Maliki, Hambali, Hanafi, dll. Keenam, apabila semua dasar yang diperlukan untuk menafsirkan ayat tersebut tidak ada baru ayat tersebut ditafsirkan secara bahasa.

Begitu juga persyaratan untuk menafsirkan ayat Al-Qur'an harus dipenuhi. Kalau menurut Imam Suyuti menyatakan bahwa seorang menafsirkan ayat Al-Quran sedikitnya harus memenuhi: pertama, paham makna mufrodat lughah. Kedua, menguasai ilmu nahwu. Ketiga, menguasai ilmu sorof. Keempat, i'rob. Kelima, ma'ani. Keenam, badi'. Ketujuh, menguasai nasikh mansukh. Kedelapan, menguasai asbabunnuzul. Kesembilan, menguasai penafsiran para ulama terdahulu. Kesepuluh, mengetahui yang mana yang disepakati dan yang mana yang tidak. Sedangkan menurut Imam Thabari harus memiliki tiga syarat pertama, orang mempunyai akidah yang sehat dan benar. Kedua, memahami perkataan para sahabat mengenai tafsir Alquran. Ketiga, mengetahui perkembangan bahasa arab.

Jadi, saudara Rokhmawan ketika saudara menyatakan: "setelah saya berdiskusi dengan bapak Husaini Daud kemudian kadang-kadang bapak juga mengomentarinya, terus terang saya jadi geli mendengar jawaban bapak yang intinya mereka (munafik, fasyik, dlolim tidak bisa di masukkan kedalam Islam)"

Jelas, ketika saya menguraikan apa yang tercantum dalam surat Al Maidah ayat 44, 45, 47, itu didasarkan kepada para mufasirin yang telah menafsirkan surat Al Maidah ayat 44, 45, dan ayat 47 tersebut, seperti Imam Jalaluddin Al Mahalliy dan Imam Jalaluddin As Suyuthi dalam tafsir Jalalain-nya. Prof. TM -nya. Sayid Qutb dalam tafsir Fi Zhilalil Qur'an-nya. Tim Yayasan Hasbi Ash Shiddieqy dalam tafsir Al-Bayaan Penyelenggara Penterjemah/Penafsir Al Qur'an dalam Al Qur'an dan terjemah-nya, yang anggota-anggotanya diantaranya Prof. TM Hasbi Ash Shiddieqy, Prof. Bustami A. Gani, Prof. Muchtar Jahja, Prof. M. Toha Jahja Omar.

Sekarang, bagaimana penjelasan surat Al Maidah ayat 44, 45, 47 itu kalau menurut saudara Rokhmawan ?.

Seterusnya itu soal NII Imam SM kartosoewirjo menyinggung istilah kafir. Itu termaktub dalam straf Recht NII. BAB I, Pasal 2 HUKUM ISLAM DALAM MASA PERANG, 5. Didalam masa perang dalam Negara Islam Indonesia, hanja ada dua golongan Ummat, ialah:
1.Ummat (rakjat) Negara Islam (Ummat Muslimin)
2.Ummat (rakjat) pendjadjah (Ummat Kafirin)

Jadi, menurut Straf Recht NII dalam masa perang hanya ada dua golongan ummat yakni, ummat atau rakyat Negara Islam (ummat muslimin) dan ummat atau rakyat penjajah (ummat kafirin).

Sekarang, apakah masih berlangsung perang antara RI atau NKRI melawan NII saat sekarang ini ?

Pihak NKRI menganggap perang melawan NII telah selesai dari sejak Imam NII SM Kartosoewirjo tertangkap 4 Juni 1962 dan sebagian pengurus NII menyerah pada tanggal 1 Agustus 1962. Tetapi di dalam NII masih tetap berlaku undang undang masa perang, walaupun Imam SM Kartoseowirjo tertangkap, dan Imam NII baru belum dipilih.

Baru setelah Abdul Fattah Wirananggapati yang tertangkap pada tanggal 20 september 1953, dan diasingkan ke Nusakambangan, pada tahun 1963 dibebaskan, setelah Soekarno mengeluarkan amnesti abolisi tahun 1961, tetapi pada tahun 1975 ditangkap kembali oleh pihak RI dan dibebaskan tahun 1983, diangkat sebagai Imam NII penerus Imam NII SM Kartosoewirjo pada tahun 1987 berdasarkan Maklumat Komandemen Tertinggi (MKT) Nomor 11 tahun 1959, maka dari sejak itu NII dijaharkan melalui Attibyan yang ditulis oleh Abdul Fattah Wirananggapati pada tanggal 13 Mei 1987 yang dipublikasikan oleh Eksekutif Sentral Daulah Islam Indonesia Bidang Publikasi Ummat (Eksen Disina) pada tanggal 15 Mei 1987. Setelah Imam NII baru dipilih dan NII dijaharkan, ternyata dari NII tidak ada pernyataan atau deklarasi perang melawan NKRI. Jadi disini bisa terjadi dengan tidak adanya pernyataan atau deklarasi perang dari pihak NII, maka dinyatakan antara NKRI dan NII telah berhenti melakukan permusuhan satu sama lain. Dan bisa terjadi juga perang masih terus berlangsung antara RI atau NKRI melawan NII, walaupun bukan perang secara terbuka. Kalau perang antara RI atau NKRI melawan NII sudah selesai, maka hukum yang berlaku pada masa perang dinyatakan tidak berlaku lagi. Sedangkan kalau perang masih terus berlangsung, walaupun tidak terbuka, maka Straf Recht masih tetap berlaku pada masa perang.

Kemudian kalau "Ahlussunnah Wal Jamaah (Salafy), Ikhwanul Muslimin, NU, Muhammadiyah" tidak menyatakan perang melawan NII, jelas pihak NII tidak menganggap mereka musuh yang menjajah NII.

Selanjutnya saudara Rokhmawan menyatakan: "menurut bapak apa syurga itu hanya ada satu saja. Padahal kalau kita buka dalam Al-Qur'an syurga itu ada sekitar 7 bagian seperti syurga firdaus, syurga na'im, syurga adn dll."

Dalam Al-Qur'an sudah jelas berpuluh kali diulang-ulang kata jannah yang diartikan sorga dalam bahasa Indonesia. Jannah atau Sorga itu hanya satu. Tidak ada dua Jannah. Tetapi Jannah itu memiliki bermacam nama, seperti:

Jannah Na'im (Al-Ma'arij, QS, 70: 38), (Al-Maidah, QS, 5: 65), (Yunus, QS, 10: 9), (Asy-Syura, QS, 26: 85), (Al-Waqi'ah, QS, 56: 12, 89), (Al-Haj, QS, 22: 56), (Lukman, QS, 31: 8), (As-Shaffat QS, 37: 43) , (Al-Qalam, QS, 68: 34), (Al Bayyinah, QS, 98: 8)

Kemudian Jannah 'Aliyah (Al-Ghasyiyah, QS 88: 10), (Al-Haqqah, QS, 69: 22).
Lalu Jannah Ma'wa (An-Najm, QS, 53: 15), (An-Naji'at, QS, 79: 41), (As-Sajdah, QS 32: 19).

Seterusnya Jannah 'Adn (At-Taubah, QS, 9: 72), (Ar-R'ad, QS, 13: 23), (An-Nahl, QS, 16: 31), (Al-Kahfi, QS, 18: 31), (Maryam, QS, 19: 61), (Thaha, QS, 20: 76), (Fathir, QS, 35: 33), (Shad, QS, 38: 50), (Al-Mu'min, QS, 40: 8), (As-Shaf, QS, 61: 12).

Juga dinamakan Jannah Firdaus (Al-Kahfi, QS 18: 107).

Menurut Imam Jalaluddin Al Mahalliy dan Imam Jalaluddin As Suyuthi dalam tafsir Jalalain menafsirkan surat Yunus, ayat 9 yang mengandung kata "jannati an-Na'im" dengan "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk (diberi bimbingan) oleh Rabb mereka karena keimanannya (kepada-Nya; kelak pada hari kiamat Allah SWT akan menjadikan bagi mereka cahaya, dengan cahaya itu mereka mendapat petunjuk) dibawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan) (Jalalain, hal. 851). Begitu juga surat At-Taubah, ayat 72 yang mengandung kata "jannati 'Adn" ditafsirkan dengan "Allah menjanjikan kepada orang-orang yang Mukmin lelaki dan perempuan, akan mendapat surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka didalamnya dan mendapat tempat-tempat yang bagus di surga Adn (yaitu tempat tinggal) Dan keridhaan Allah adalah lebih besar (lebih agung daripada kesemuanya itu) itu adalah keberuntungan yang besar" (Jalalain, hal 793).

Sedangkan Sayed Qutb dalam tafsir Fi Zhilalil Qur'an menafsirkan surat Al-Kahfi ayat 107 yang mengandung kata "jannatu al-Firdausi" dengan : "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal" (Dan tempat inilah bagi orang beriman dan beramal saleh dalam surgi Firdaus) (Fi Zhilalil Qur'an, Bag.5 hal. 416).

Adapun Hasbi Ash Shiddieqy dalam tafsir Al-Bayaan menafsirlan surat As-Sajdah ayat 19 yang mengandung kata "jannatu ma'wa" dengan "Adapun sekalian mereka yang telah beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, maka bagi merekalah Jannatul Ma'wa (surga yang menjadi tempat kediaman yang hakiki), sebagai sajian (pahala) - dari Allah- terhadap segala apa yang telah mereka kerjakan" (Al-Bayaan, Bag 2, Hal. 1038-1039). Adapun kata "Jannatin 'Aliyah" yang terdapat dalam surat Al-Haqqah, ayat 22 ditafsirkan dengan "surga yang tinggi" bagi "orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya" (sebagaimana tercantum dalam ayat 19) yaitu orang yang mendapat keberuntungan (Al-Bayaan, Bag.2, hal. 1411-1412)

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Tue, 29 Jun 2004 23:36:01 -0700 (PDT)
From: rohma wawan rokh_mawan@yahoo.com
Subject: Assalaamu'alaikum...
To: ahmad@dataphone.se
Cc: dityaaceh_2003@yahoo.com, yuhe1st@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com, habearifin@yahoo.com, editor@jawapos.co.id, suparmo@tjp.toshiba.co.jp, siliwangi27@hotmail.com, sea@swipnet.se, solopos@bumi.net.id, Padmanaba@uboot.com, kompas@kompas.com

Assalaamu'alaikum Wr.Wb

Bapak Ahmad Sudirman yang saya hormati setelah saya berdiskusi dengan bapak Husaini Daud kemudian kadang-kadang bapak juga mengomentarinya, terus terang saya jadi geli mendengar jawaban bapak yang intinya mereka (munafik, fasyik, dlolim tidak bisa di masukkan kedalam Islam) padahal bapak sendiri telah mengatakan kepada saya atas pertanyaan saya tentang seputar NII Adah Jaelani Tirtapradja yang menyatakan bahwasanya orang yang diluar NII adalah kafir, orang yang di dalam NII Kartosuwiryo adalah sama kedudukannya dengan yang di luar NII Kartosuwiryo tsb (pasti yang di maksud bapak adalah keislamannya), kalau saya ambil kesimpulan bapak mengatakan orang yg di luar NII dan yg di dlm NII adalah sama-sama islam. Bagaimana seeh sebenarnya menurut bapak (Bapak khan orang NII Kartosuwiryo juga)?. Kalau kita lihat orang yang di luar NII itu banyak sekali pak, ada Ahlussunnah Wal Jamaah ( Salafy), Ikhwanul Muslimin, NU, Muhammadiyah dll termasuk orang yang pancasilais. Mohon di perjelas lagi.

Kemudian jawaban dari Bapak Husaini yang terakhir kalinya mengatakan yang intinya saya menggolongkan orang fasyik, orang dlolim, munafik termasuk orang mukmin (mana sech tulisan saya yg menyatakan itu). Bapak Husaini telah memfitnah saya padahal saya mengatakan yang intinya orang islam yg fasik , dolim, munafik termasuk juga golongan islam. Sebenarnya orang muslim belum tentu orang yang mukmin. Kalau orang yg mukmin sudah pasti orang muslim. Kemudian kalau bapak Husaini Daud tetap berpegang teguh dengan pendapatnya yg mengatakan orang fasik, munafik, dlolim tidak termasuk golongan muslim itu hak beliau ( semoga Alloh mengampuninya).

Duluuuu saya menganggap bapak ini seorang yang faham ilmu tafsir Al-Qur'an, tetapi ketika bapak mengamini pendapatnya bapak Husaini Daud saya jadi ragu 100 %. Pak Ahmad Sudirman, Untuk mengetahui makna Al-qur'an yg sesungguhnya tidak bisa langsung kita makan mentah-mentah (sekedar tahu artinya dan sedikit hadist yg berkenaan dengannya), tetapi sudah saya jelaskan untuk memahami/menafsirkan/mengetahui makna Al-quran di butuhkan minimal menguasai 15 cabang ilmu agama Islam.

Kemudian menurut bapak apa syurga itu hanya ada satu saja. Padahal kalau kita buka dalam Al-Qur'an syurga itu ada sekitar 7 bagian seperti syurga firdaus, syurga na'im, syurga adn dll.

Bapak apa benar syurga itu hanya di peruntukkan bagi mereka yang maksum (jauh dari dosa), orang Islam yang kaffah. Kalau jawaban bapak iya maka apa ada orang yang terhindar dari dosa dan apa ada orang yang benar-benar kaffah mengingat sekarang adalah zaman yg banyak fitnah. Seandainya ada dan itu insyaalloh ada maka sangat sedikit sekali. Terus gunanya apa Alloh menciptakan syurga yang begitu banyak tingkatannya. Saya telah menyebutkanTingkatan-tingkatan amal seseorang di syurga walaupun hanya sampai dua tingkatan dari bawah.

Alloh SWT telah berfirman dalam surat Al-Zalzalah ayat 7-8 : Barangsiapa yg mengerjakan kebaikan sebesar dzarrohpun maka Dia akan melihatya (menbalasnya). Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrohpun maka Dia akan melihatnya (membalasnya).

Naaaah bukankah orang Islam yg dlolim, orang islam yg fasyik dll juga pernah berbuat amal kebaikan/kesholehan walaupun sedikit.

Saya tidak mungkin membela orang-orang seperti mereka (seperti kata Bapak Husaini Daud yg menuduh saya begini : "Secara tidak langsung Rokhmawan telah menjadi pembela orang-orang dhalim, makanya saya katakan masuk perangkap "Bal-am". Idiologi Islamnya kosong. Secara filosofis dia juga termasuk orang dhalim dan ilmu Islamnya keliru 180 derajat". Saya hanya mengatakan sebenarnya.

Yang jelas orang Islam yang banyak berbuat kemaksyiatan dan ada kalanya dia berbuat amal kesholehan, suatu saat ia ( dengan Rahmatnya Alloh SWT ) akan masuk syurga, tentunya akan mendekam di neraka entah berapa juta thn lamanya.

Kemudian bapa Husaini mengatakan : "Sedangkan hadist banyak sekali yang palsu. Kendatipun ditulis sebagai hadist shahih, namun belum tentu tidak palsu, palsu tidaknya tergantung sesuaikah menurut Wahyu atau tidak, yang jelas Wahyulah ukurannya". Kelihatan bapak ini (ma'af ) tidak menguasai ilmu hadits yang shahih. Memang banyak hadits yang palsu, dloif, hasan, shoheh dll. Naaah kalau bapak Husaini Daud belum faham hadits yang shoheh atau hadits palsu maka alangkah baiknya bapak belajar dulu ilmu hadits (jangan hanya taklid kpd hasan tiro dll).

Saya tujukan kepada Pak Huseini Daud, kalau kita mengkafirkan negara karena negara tsb tidak berhukum dengan Al-qur'an dan Al-hadits, saya setuju. Tetapi kita tidak boleh langsung mengkafirkan orang Islam yang hanya karena mereka berhukum dg pancasila (saya heran kok ada-adanya orang kayak Pak Husaini ). Kalau orang yang beragama non islam maka tidak ada masalah. Apa pernah Rosululloh SAW mengkafir-kafirkan orang Islam ? kalau memang pernah, inikan Rosululloh di mana beliau seorang yg maksum dan setiap beliau berkata atas petunjuk Alloh.

Orang-orang seperti Bapak Husaini Daud, kader NII Adah Djaelani dll dengan mudahnya mereka mengkafir-kafirkan saudaranya yang muslim hanya karena tidak sesuai dengan poendapatnya. Naaah inilah salah satu cirri dari Kaum Khowarij yaitu mudah mengkafirkan saudaranya yg Islam hanya karena tidak sesuai dengan pendapatnya. Sekali lagi pak saya tidak seperti yang bapak sangka. Walaupun saya orang jawa tulen tetapi Manhaj yg saya ikuti tidak seperti orang-orang NKRI. Wallohu'alam bi showab

Wassalaam

Rokmawan

rokh_mawan@yahoo.com
rokh-mawan@plasa.com
solo, jateng, Indonesia
----------