Stockholm, 2 Juli 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ROKHMAWAN GALI LAGI ISLAM SAMBIL LURUSKAN PARA PIMPINAN NEGARA PANCASILA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SARAN SAYA UNTUK ROKHMAWAN GALI LAGI ISLAM SAMBIL LURUSKAN PARA PIMPINAN NEGARA PANCASILA

"Terimakasih atas komentar bapak, (maaf) beginilah kalau kita mau berdiskusi kepada orang tergesa-gesa dalam menafsirkan orang. Dan lucunya Pak Ahmad selalu berkutat (berputar) kepada Surat Al-Maidah ayat 44, 45, 47. Sudahlah pak, saya tidak perlu mencari itu hadist shohih lagi dan pendapat jumhur ulama maupun Mahaj Shalafush Shahih karena mungkin akan percuma saja kalau bapak hanya berpegang kepada terjemahan Surat Al-maidah ayat 44, 45, 47 tanpa mencari hadist shahih maupun tafsiran para sahabat ra yg berhubungan secara tidak langsung dengannya.Baiklah untuk sementara kita tinggalkan dulu yang di atas tapi bukan berarti saya menyerah karena kemanapun bapak ingin mempertahankan pendapat bapak maka akan saya luruskan dengan pemahaman Manhaj Shalafus Sahih dll." (Rokhmawan , rokh_mawan@yahoo.com , Thu, 1 Jul 2004 20:28:15 -0700 (PDT))

Baiklah saudara Rokhmawan di Solo, Jawa Tengah, Indonesia.

Saudara Rokhmawan itu Al-Qur'an adalah sumber hukum dan sekaligus dasar hukum yang tertinggi dalam tingkatan hukum-hukum yang ada dalam Islam. Karena itu kalau sudah jelas dan terang itu dalilnya yang tegas, yakin adanya dan yakin pula maksud yang menunjukkan atas hukum itu, seperti surat Al Maidah ayat 44. 45. Dan 47, dan tidak ada ayat-ayat lainnya yang melemahkan dan memansukhkan, maka itu dasar hukum adalah dasar hukum yang terkuat diatas semua dasar hukum yang ada dalam tingkatan hukum Islam.

Jadi, berpegang kepada dasar hukum Al Qur'an yang kuat inilah seluruh ulama berhujjah.
Karena itu bukan Ahmad Sudirman "selalu berkutat (berputar) kepada Surat Al-Maidah ayat 44, 45, 47", sebagaimana yang dikatakan oleh saudara Rokhmawan. Tetapi, karena memang itu Surat Al-Maidah ayat 44, 45, 47 adalah dasar hukum Islam yang terkuat yang telah ditetapkan Allah SWT dalam Al-Qur'an yang diturunkan di Yatsrib atau Madinah.

Sekarang saran saya, gali lagi itu Islam sambil menggali luruskan dan peringatkan itu para pimpinan Negara RI atau Negara Pancasila ini. Jangan biarkan mereka berjingkrak-jingkrak diatas dasar hukum Negara RI yang sumbernya bergantung pada pancasila hasil kutak-katik Soekarno.

Bagaimana itu para pimpinan RI yang terus saja sibuk memperebutkan kekuasaan. Para politikus karbitan muslim bertaburan dan bertumbuhan bagai jamur di musim hujan, sambil bergoyang dan berjingkrak-jingkrak diatas dasar pancasila dan sumber hukum pancasila.

Coba luruskan mereka itu, peringatkan apa yang telah dilakukan oleh para ulama di Negara RI itu. Mereka para pimpinan RI yang tidak menginginkan dan tidak mau menerima ditegakkannya syariat Islam. Mereka lebih senang dan bahagia hidup bebas dengan sumber hukum pancasila hasil kocekan Soekarno yang telah menggabungkan nasionalisme, agama dan komunis itu.

Peringatkan itu para pimpinan Negara RI harus menyadari bahwa kelakuan Soekarno yang telah menelan, mencaplok, menduduki dan menjajah Negeri Acheh adalah suatu perbuatan pelanggaran hukum nasional dan internasional. Jangan terus saja menjalankan politik pencaplokan yang bekedok mempersatukan Nusantara ala Gajah Mada dari kerajaan hindu Majapahit saja.

Itulah, saran saya dari pada mengkutak-katik mencari cari dalil lain untuk menjatuhkan dan mengenyampingkan dalil kuat dalam tingkatan hukum Islam seperti yang tercantum dalam surat Al-Maidah ayat 44, 45, dan 47. Sampai kiamatpun tidak akan ada dalil lain yang lebih rendah yang bisa menumbangkan dalil kuat surat Al-Maidah ayat 44, 45, dan 47.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Thu, 1 Jul 2004 20:28:15 -0700 (PDT)
From: rohma wawan <rokh_mawan@yahoo.com>
Subject: Bapak Ahmad Sudirman CS Segera Beristighfarlah
To: ahmad@dataphone.se
Cc: om_puteh@hotmail.com, narastati@yahoo.com, JKamrasyid@aol.com, dityaaceh_2003@yahoo.com, yuhe1st@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com, habearifin@yahoo.com, editor@jawapos.co.id, suparmo@tjp.toshiba.co.jp, siliwangi27@hotmail.com, sea@swipnet.se, solopos@bumi.net.id, Padmanaba@uboot.com, kompas@kompas.com,mitro@kpei.co.id, yusrahabib21@hotmail.com

Assalaamu'alaikum Wr.Wb
Bismillahirrohmaanirrohiim

Bapak Ahmad Sudirman CS Segera Beristighfarlah

Terimakasih atas komentar bapak, (maaf) beginilah kalau kita mau berdiskusi kepada orang tergesa-gesa dalam menafsirkan orang. Dan lucunya Pak Ahmad selalu berkutat (berputar) kepada Surat Al-Maidah ayat 44,45,47.

Bapak menuliskan "Dimana karena tidak ada satu ayat pun yang menerangkan kelemahan atau menghilangkan ayat 44, 45, dan 45 surat Al Maidah itu, maka sebagaimana yang ditafsirkan oleh Hasbi Ash Shiddieqy "syari'at orang dahulu, apabila diterangkan oleh Al-Qur'an secara membenarkan dan tidak memansukhkan, maka menjadi juga syari'at bagi kita. Dan seluruh ulama berhujjah dengan ayat ini." (Al-Bayaan, Bag. 1, hal. 412).

Jelas, kalau saudara Rokhmawan membaca dan mencari dari awal sampai akhir seluruh surat dan ayat Al-Qur'an, yang semisal surat Al Maidah ayat 44, 45, dan 47, tidak akan saudara temukan. Atau ayat lain yang melemahkan atau menghilangkan surat Al Maidah ayat 44, 45, dan 45, jelas saudara Rokhmawan tidak akan menemukannya

Setelah kita baca maka secara tidak langsung seolah-olah bapak telah menuduh saya bahwasanya saya memansyukhkhan Al-maidah Ayat 44,45,47 ( tunjukkan tulisan saya yang menyatakan secara tegas bahwa saya menulis itu), segera beristighfarlah pak, sudah saya bilang ( menurut Manhaj Ahlus sunnah Wal Janaah bahkan di perkuat dengan hadist-hadist shohih dan ayat al-qur'an yang tidak langsung berhubungan dengannya lihat dalil-dalil ttg tingkatan syurga ) tidak mudah untuk menggolongkan orang dlolim, fasyik ke dalam golongan orang kafir. Ini harus di lihat dari tingkat
kekufurannya. Saya sudah menjabarkan kalau yang di namakan fasyik dan dlolim dll itu tidak hanya menyangkut hukum had, rajam dll tetapi juga menyangkut hal-hal yang bathinah. Bapak baca lagi komentar saya sebelum ini, tetapi kalau bapak malas membukanya maka akan saya copikan lagi

"Setelah saya kaji (pada waktu dulu) ternyata tidak mudah untuk menggolongkan mereka
(fasyik, dlolim ) ke dalam kafir.

Ini harus melihat tingkat kekufurannya, walaupun begitu kita tidak boleh langsung Mengatakan orang Islam si fulan bin fulan adalah kafir ( kecuali kalau mereka benar-benar beragama non-islam). Yang berhak mengatakan orang islam fasyik, dlolim itu kafir adala Alloh SWT. Kefasyikan, kedloliman tidak hanya menyangkut hal-hal yang dlohir saja ( missal orang menghukumi pezinah dengan kurungan penjara dll ) tetapi kefasikan dan kedloliman ini juga menyangkut hal-hal yang batin missal kita tahu bahwasanya sholat jumat itu wajib bagi laki-laki tetapi ada juga orang yang
kadang-kadang masih meninggalkannya, kita mengetahui pahalanya sholat berjamaah di masjid tapi kita sering/meninggalkannya ( ini termasuk mendlolimi diri sendiri ).

Bahkan Rosululloh SAW pernah bersabda "kedloliman, kemaksyiatan, kemunafikan yang terbesar adalah orang mendengar suara adzan tetapi tidak segera mendatanginya ". Rosululloh juga bersabda " Apabila di kumandangkan suara adzan maka segeralah ke masjid kecuali orang yang ada udlur". Lalu para sahabat bertanya apa udlurnya yaaa Rosululloh ? Rosulullohpun bersabda " udlurnya adalah sakit dan ketakutan ". Menurut saya pribadi yang di namakan sakit adalah sakit keras dan yg di namakan ketakutan seperti dalam peperangan, perjalanan".

Saya sudah berusaha meluruskan pendapat bapak dengan mengikuti Manhaj Shalafush Shahih dan jumhur ulama bahkan tafsirannya Abu Hudzaifah ra dan Ibnu Abbas ra dan contoh kehidupa Rosululloh SAW di mana beliau tidak pernah mengkafir-kafirkan orang islam, padahal pada saat itu banyak juga orang islam yang fasyik, dlolim bahkan munafik. Rosululloh hanya mendiamkan (tidak mau bertegur sapa ) kepada mereka sampai mereka bertaubat. Tetapi orang yang namanya sudah (maaf) saklek dan taqlid kpd ulama tertentu maka walaupun di kupas tuntas dengan menyodorkan Hadist shohih yang banyak, tafsiran Sahabat bahkan contoh kehidupan Rosulpun, mereka akan tetap bersikukuh dengan argumennya dan (maaf) di balik ini ada tujuan tertentu seperti merdeka. Menurut saya kalau ingin merdeka maka gunakanlah cara-cara yang terpuji ( jangan perang, saling membunuh dll ).

Bapak juga menuduh saya yang intinya Rokhmawan, jangan mengotak-atik Surat Al-Maidah ayat 44,45,47 untuk membatah orang fasyiq, dlolim tertmasuk orang kafir. Pak berani itu Rokhmawan mengotak-atiknya, sudah saya bilang dalam Manhaj Shalafush Shahih dan jumhur ulama/kesepakatan ulama bahwa tidak mudah untuk mengatakan orang islam yang dlolim dll adalah kafir. Ini di lihat dari tingkat kekufurannya ( Wah kok saya jadi seperti Pak Ahmad yg selalu berputar pd perkataan saya).

Sudahlah pak, saya tidak perlu mencari itu hadist shohih lagi dan pendapat jumhur ulama maupun Mahaj Shalafush Shahih karena mungkin akan percuma saja kalau bapak hanya berpegang kepada terjemahan Surat Al-maidah ayat 44,45,47 tanpa mencari hadist shahih maupun tafsiran para sahabat ra yg berhubungan secara tidak langsung dengannya.

Dan yang jelas mana mungkin itu Rokhmawan mencari-cari dalil untuk mempertahankan RI/Pancasila ( buktikan kalau saya mencari-carinya) pak, saya memahami Surat Al-maidah ayat 44,45,47 dan hadist shohih yg berhubungan tidak langsung maupun pemahaman Ahlussunnah wal jamaah/shalafus sahih dan jumhur ulama itu sudah sejak duluuuuuuu. Dan saya tidak perlu mencarinya lagi karena saya sudah hafal, faham bin mahfum.

Kalau kita baca ulang itu komentar Bapak Ahmad secara tidak langsung bapak menganggap saya seperti mereka ( katanya bapak tidak menuduh saya yg bukan-bukan). Pak yang namanya sumber dari segala sumber hukum itu adalah Al-qur'an dan Al-hadist bukan pancasila ( Bapak khan juga tahu itu)

Bapak mengatakan "Tetapi, kalau tetap juga bersikukuh mempertahankan sumber hukum pancasila, maka jelas, jangan mencoba.coba untuk mempergunakan Islam sebagai perisai atau alat untuk memperkokoh pancasila. Karena, akhirnya bukan makin kuat, malahan makin melemah, dan bisa hancur itu pancasila".

Kalau kita baca dengan seksama itu komentar bapak dan komentar saya yang lalu, jelas secara tidak langsung bapak menuduh saya lagi, selama ini khan yang memberi komentar ke Bapak Ahmad dengan merujuk Al-qur'an dan Al-hadist yg shahih hanya saya. Hati-hati pak kalau menulis komentar kepada Rokhmawan.

Baiklah untuk sementara kita tinggalkan dulu yang di atas tapi bukan berarti saya menyerah karena kemanapun bapak ingin mempertahankan pendapat bapak maka akan saya luruskan dengan pemahaman Manhaj Shalafus Sahih dll.

Pak kemaren saya sudah mengatakan kepada bapak Husaini Daud yang intinya salah satu cirri dari kaum khowarij adalah mudah mengkafirkan saudaranya yg islam hanya karena tidak sesuai dengan pendapatnya ( bukankan ini sama persis dengan Bapak Husaini Daud cs dan NII sekarang). Kaum khowarij tidak hanya terjadi pada masa pemerintahan Ali Bin Abi Tholib dst tetapi khowarij yang terbesar adalah yang terjadi pada zaman Rosululloh SAW. Saya akan menguraikan panjang lebar berdasarkan sejarah Rosululloh SAW tetapi untuk sementara sampai disini dulu karena saya akan jum'atan. Untuk sdri Tati cs sabar dulu suatu saat saya akan menulis siapa itu Hasan Tiro yg banyak orang GAM/TNA mengidentikkan dengan perjuangan Rosululloh SAW. Tentunya di pandang dari shiroh nabawiyah.

Wallohu'alam bi showab

Wassalam

Rokmawan

rokh_mawan@yahoo.com
rokh-mawan@plasa.com
solo, jateng, Indonesia
----------