Stockholm, 3 Juli 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

KAMRASYID ITU PARA POLITIKUS GOMBAL RI YANG MENJAJAH ACHEH MANA MAU TEGAKKAN ISLAM
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JAYADI KAMRASYID ITU PARA POLITIKUS GOMBAL RI YANG MENJAJAH ACHEH MANA MAU TEGAKKAN ISLAM

"Tuduhan kafir Ahmad Sudirman bukan hanya keliru tetapi sangat menyesatkan. Ia tidak hanya memahami konsep-konsep modernisasi islam dan kegagalan sistem autoritarian dalam pemerintahan kerajaaan islam sebelumnya..yang membuat islam lenyap dari Eropah dan ketertinggalan islam di Timur Tengah. Ahmad Sudirman gagal memahami bahwa islam harus menjadi the leading power pembangunan sistem politik yang religious democracy..bukan secular democracy. Pemikiran Gus Dur dan Cak Nur sangat patut dihargai dalam konteks ini. Dialog politik yang berkembang selama Pemilu 2004 patut dihargai. Kita ingin membangun islam yang inklusif yang lebih menghargai pengamalan daripada pelabelan. Kita mencita-citakan islamic society bukan islamic histria. Kita menginginkan sistem politik yang memberi peluang putra-putra terbaik Indonesia menjadi pemimpin, bukan putra terbaik atas dasar fatwa ulama gombal seperti Ahmad Sudirman." (Jayadi Kamrasyid, JKamrasyid@aol.com , Sat, 3 Jul 2004 01:04:52 -0400 (EDT))

Baiklah saudara Jayadi Kamrasyid di New Haven, Connecticut, USA.

Saudara Kamrasyid, saudara yang begitu gigih dan menggelora membela pancasila untuk tetap dijadikan sebagai dasar negara, sumber hukum negara, pandangan hidup rakyat, pegangan rakyat, alat pemersatu rakyat, alat acuan hukum, ternyata dalam kenyataannya apa itu yang dinamakan pancasila hanyalah merupakan tulisan diatas kertas saja. Rincian pancasila hanyalah dituliskan diatas kertas pembukaan UUD 1945 saja.

Kemudian saudara Kamrasyid secara retorik dan gombal mengatakan: "Mari Kita membangun demokrasi Indonesia dengan nilai-nilai islam. Mari Kita dukung wakil-wakil kita di DPR untuk melahirkan sebanyak mungkin Undang-undang yang sejalan dengan ajaran islam. Mari Kita dukung potensi islamisasi demokrasi ini sekarang juga. Mari Kita lawan pejuang gombal islam seperti Ahmad Sudirman."

Itulah retorik gombal saudara Kamrasyid. Mengapa ? bagaimana mungkin itu demokrasi bisa sesuai dengan nilai-nilai Islam. Bagaimana itu Undang-Undang, Hukum, aturan-aturan Islam bisa dilahirkan dengan cara pemungutan suara ala demokrasi yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Jelas, saudara Kamrasyid sebelum saudara membuka mulut di mimbar bebas ini, apalagi itu menyinggung masalah nilai-nilai islam, ajaran Islam dihubungkan dengan demokrasi sebagaimana demokrasi gombal di Negara RI atau Negara Pancasila yang menjajah Negeri Acheh ini, tidak akan dapat nyambung dan kena saudara Kamrasyid. Jangan mimpi untuk membangun demokrasi diatas nilai-nilai Islam.

Saya dalam tulisan-tulisan sebelum ini telah banyak menyinggung masalah demokrasi dihubungkan dengan Islam yang dikumpulkan di www.dataphone.se/~ahmad/opini.htm Tidak perlu saya kupas lagi disini.

Saudara Kamrasyid. Itu alasan omong kosong "Hasan Tiro menjual negara sekuler di Barat". Kalau bicara harus betul-betul didasarkan kepada fakta dan bukti, sejarah dan dasar hukumnya. Mana ada itu Teungku Hasan Muhammad di Tiro menjual Negeri Acheh sekuler di Barat. Mereka rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila sedang berjuang untuk menuntut dan memperebutkan kembali Negeri Acheh yang telah ditelan, dicaplok, diduduki, dan dijajah oleh RIS, RI atau NKRI. Mereka rakyat Acheh bukan menjual Negeri Acheh sekular di Barat. Jelas itu pandangan dan pemikiran saudara Kamrasyid sangat keliru dan salah fatal.

Begitu juga dengan Pemimpin Islam Kahar Muzakar dari Sulawesi Selatan. Beliau adalah pemimpin Islam yang memperjuangkan Negeri Sulawesi Selatan berdiri diatas kaki sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Soekarno yang telah mencaplok negeri Sulawesi Selatan. Alasan yang dikemukakan oleh saudara Jayadi Kamrasyid: "Kahar pun demikian, karena kcewa tidak diangkat jadi Panglima Teritorium VII, ia memberontak. Rakyat yang tidak mau ikut rumahnya di bakar. Emas dan harta rakyat dirampas dengan alasan jihad Islam. Kurang ajar. Yusuf menghadap Soekarno, dan meminta posisi Panglima Hasanuddin untuk menghabisi Kahar."

Itu alasan yang gombal dan omong kosong saja. Mana itu Kahar Muzakar kecewa tidak diangkat jadi Panglima Teritorium VII Indonesia Timur. Yang jelas kalau dilihat dari sudut RIS dan sudut militer ketentaraan atau APRIS, itu Kaha Muzakar justru setelah berjuang di Jawa kembali ke Sulawesi Selatan, beliau berhasil menghimpun dan memimpin laskar-laskar gerilyawan di Sulawesi Selatan yang kemudian bergabung kedalam Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS). Dimana pada tanggal 30 April 1950 Kahar Muzakar mengirimkan surat kepada Presiden RIS Soekarno dan pimpinan APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) yang isinya antara lain menuntut agar semua anggota Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) dimasukkan kedalam APRIS dengan nama Brigade Hasanuddin. Tuntutan tersebut ditolak oleh Pemerintah RIS Soekarno dengan alasan Pemerintah RIS telah membuat satu keputusan politik bahwa bekas gerilyawan-gerilyawan disalurkan kedalam Korps Cadangan Nasional.

Kemudian pihak Pemerintah RIS Soekarno melakukan pendekatan-pendekatan kepada Kahar Muzakar ini dengan diiming-iming janji diberi pangkat Letnan Kolonel oleh Soekarno. Tetapi apa yang terjadi, pada saat pelantikannya pada tanggal 17 Agustus 1951 Kahar Muzakar bersama dengan pasukannya tidak muncul. Melainkan Kahar Muzakar dengan para gerilyawannya, dari pada hidup bersama dengan Presiden RIS Soekarno, Kahar Muzakar masuk gunung dan pada bulan Januari 1952 Kahar Muzakar menyatakan daerah Sulawesi Selatan sebagai Negara Islam dan menjadi bagian dari Negara Islam Indonesia dibawah pimpinan Imam SM Karstosoewirjo.

Itulah sejarah sebenarnya saudara Jayadi Kamrasyid, jangan memutar balik fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang jelas ini. Itu fakta dan bukti yang dikeluarkan oleh Sekretariat RI pada tahun 1986.

Kemudian lagi itu soal pemilu. Jelas, mana bisa diterima itu pemilu Legislatif 5 April 2004 dan pemilu Capres & Cawapres 5 Juli 2004 di Negeri Acheh. Itu pemilu-pemilu-an untuk mengelabui mata rakyat Acheh dan dunia internasional saja. Penipuan dan akal bulus untuk menutupi penelanan, pencaplokan, pendudukan dan penjajahan di Negeri Acheh saja.

Selanjutnya, dalam Pemilu Legislatif 5 April 2004 yang dikatakan saudara Kamrasyid: "Hasil Pemilu 2004 sekali lagi menunjukkan bahwa partai radikal yang memperjuangkan islam simbolis (PBB) semakin kehilangan pengikut."

Ya, jelas pihak Partai Bulan Bintang itu kalah karena sebagian besar para pimpinan dan anggota partai politik yang ikut pemilu tersebut tidak menginginkan syariat Islam ditegakkan di RI. Bagaimana mungkin bisa berhasil itu PBB. Jangan ngaco saudara Kamrasyid.

Seterusnya itu soal yang dikemukakan saudara Kamrasyid: "UUD45 hasil amandemen merupakan refleksi ideologik ajaran islam dimana cita-cita demokrasi RI bukanlah demokrasi sekuler sebagaimana dituduhkan oleh Ahmad Sudirman. Cita demokrasi Indonesia adalah demokrasi religious yang berarti agama harus mendapat temat terhormat sebagai landasan etika dan moral perundangan-undangan (sila pertama Pancasila)."

Jelas, itu jawaban, para wakil-wakil MPR yang duduk dalam komisi yang membicarakan masalah UUD 1945, mana mereka itu benar-benar memperjuangkan tegaknya syariat Islam di RI. Yang jelas, mereka para anggota MPR sebagian besar hanyalah memperjuangkan untuk kekuasaan, bukan untuk menegakkan nilai-nilai Islam. Karena itulah ketika akan mengamandemen "UUD 1945 BAB XI AGAMA Pasal 29(1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu," gagal berantakan. Karena kebanyakan para anggota MPR itu hanyalah memakai Islam sebagai topi saja.

Seterusnya itu masalah Negara kafir RI dan para pimpinannya saudara Kamrasyid menyatakan: "Tuduhan kafir Ahmad Sudirman bukan hanya keliru tetapi sangat menyesatkan. Ia tidak hanya memahami konsep-konsep modernisasi islam dan kegagalan sistem autoritarian dalam pemerintahan kerajaaan islam sebelumnya..yang membuat islam lenyap dari Eropah dan ketertinggalan islam di Timur Tengah. Ahmad Sudirman gagal memahami bahwa islam harus menjadi the leading power pembangunan sistem politik yang religious democracy..bukan secular democracy."

Ya jelas, bagaimana saudara Kamrasyid mengerti dan paham surat Al Maidah ayat 44, 45, dan 47 membacapun tidak pernah. Karena terus-menerus otaknya diisi oleh cairan pancasila hasil kutak-katik Soekarno. Saudara Kamrasyid janganlah mengkutak-katik itu ayat-ayat Al-Qur'an kalau tidak pernah membacanya. Kemudian itu soal jatuh dan runtuhnya dinasti-dinasti Islam di Andaluzie dan di Turki perlu saudara gali kembali yang benar.

Kemudian bagaimana bisa Islam sebagai "the leading power pembangunan sistem politik yang religious democracy..bukan secular democracy" kalau mencampur adukkan nilai-nilai Islam dengan demokrasi, ditambah dengan para pimpinan RI dan politikus karbitan di RI sudah demikian pobia terhadap syariat Islam. Lihat saja itu Abdurahman Wahid, Nurcholismadjid yang menyatakan Islam yes partai Islam no. Itu sama saja dengan mengatakan baiklah Islam untuk pribadi jangan dimasukkan itu semua hukum-hukum dan sumber Islam kedalam kehidupan bernegara di RI ini. Kan ngaco dan salah kaprah, maka wajarlah itu Negeri RI terus terpuruk dan sebagian besar para pimpinan RI dan politikus RI adalah tidak setuju dengan syariat Islam tegak di RI. Padahal mereka itu mayoritas muslim. Membuat malu seluruh ummat Islam di dunia. Semangatnya saja yang besar tetapi tenaga kurang karena tidak ada kemauan, motivasi dan keimanan yang kuat. Digebrak saja oleh sebagian kecil non muslim, itu hati sudah menciut.

Saudara Kamrasyid bagaimana bisa Islam itu diamalkan secara menyeluruh di RI, kalau para pimpinan RI, para pimpinan dan anggota partai politik dan para anggota DPR dan MPR-nya saja sudah tidak berminat dan tidak mempunyai program untuk menegakkan syariat Islam di RI ?. Ah, mereka itu adalah memang para politikus karbitan yang haus kekuasaan saja.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Sat, 3 Jul 2004 01:04:52 -0400 (EDT)
From: JKamrasyid@aol.com
Date: Sat, 3 Jul 2004 01:04:51 EDT
Subject: Indonesia dan Islam
To: "ahmad@dataphone.se, serambi_indonesia@yahoo.com, redaksi@acehkita.com, ahmad_jibril1423"@yahoo.com>, balipost@indo.net.id, newsletter@waspada.co.id, redaksi@pikiran-rakyat.com, editor@pontianak.wasantara.net.id, hudoyo@cbn.net.id, jktpost2@cbn.net.id, redaksi@detik.com, redaksi@kompas.com, redaksi@satunet.com, redaksi@waspada.co.id, waspada@waspada.co.id, webmaster@detik.com, kompas@kompas.com
Cc: JKamrasyid@aol.com, IMANY@yahoogroups.com

Assalamu'alaikum wr.wb.

Pasang surut issue islam dalam perpolitikan di Indonesia telah menjadi agenda politik dari masa ke masa. Hasan Tiro, Kahar Muzakkar (Sulawesi Selatan) maupun Daud Bareuh pada dasarnya tidak mencita-citakan negara Islam. Hasan Tiro menjual negara sekuler di Barat. ia main dua kartu. Kahar pun demikian, karena kcewa tidak diangkat jadi Panglima Teritorium VII, ia memberontak. Rakyat yang tidak mau ikut rumahnya di bakar. Emas dan harta rakyat dirampas dengan alasan
jihad Islam. Kurang ajar. Yusuf menghadap Soekarno, dan meminta posisi Panglima Hasanuddin untuk menghabisi Kahar.

Di era reformasi Indonesia, kepedulian akan aspirasi daerah menjadi titik perhatian. UU otonomi daerah memberi peluang itu dengan sangat tegas. Sayangnya kesempatan ini tidak digunakan daerah..tapi malah dijadikan kesempatan lebih untuk korupsi dan memerdekakan diri.

Hasil Pemilu 2004 sekali lagi menunjukkan bahwa partai radikal yang memperjuangkan islam simbolis (PBB) semakin kehilangan pengikut. UUD45 hasil amandemen merupakan refleksi ideologik ajaran islam dimana cita-cita demokrasi RI bukanlah demokrasi sekuler sebagaimana dituduhkan oleh Ahmad Sudirman. Cita demokrasi Indonesia adalah demokrasi religious yang berarti agama harus mendapat temat terhormat sebagai landasan etika dan moral perundangan-undangan (sila pertama Pancasila).

Tuduhan kafir Ahmad Sudirman bukan hanya keliru tetapi sangat menyesatkan. Ia tidak hanya memahami konsep-konsep modernisasi islam dan kegagalan sistem autoritarian dalam pemerintahan kerajaaan islam sebelumnya..yang membuat islam lenyap dari Eropah dan ketertinggalan islam di Timur Tengah. Ahmad Sudirman gagal memahami bahwa islam harus menjadi the leading power pembangunan sistem politik yang religious democracy..bukan secular democracy.

Pemikiran Gus Dur dan Cak Nur sangat patut dihargai dalam konteks ini. Dialog politik yang berkembang selama Pemilu 2004 patut dihargai. Kita ingin membangun islam yang inklusif yang lebih menghargai pengamalan daripada pelabelan. Kita mencita-citakan islamic society bukan islamic histria. Kita menginginkan sistem politik yang memberi peluang putra-putra terbaik Indonesia menjadi pemimpin, bukan putra terbaik atas dasar fatwa ulama gombal seperti Ahmad Sudirman.

Semua ini hanya akan tercapai hanya jika Kita mengeliminasi potensi anti demokrasi yang mengatasnamakan islam. Orang-orang yang dengan sengaja menganggap dirinya paling islam dan kemudian mengkafirkan sesama muslim bukan hanya harus dimusuhi bersama, tetapi harus dianggap sebagai bom nuklir yang perlu diwaspadai secara berkelanjutan.

Mari Kita membangun demokrasi Indonesia dengan nilai-nilai islam. Mari Kita dukung wakil-wakil kita di DPR untuk melahirkan sebanyak mungkin Undang-undang yang sejalan dengan ajaran islam. Mari Kita dukung potensi islamisasi demokrasi ini sekarang juga. Mari Kita lawan pejuang gombal islam seperti Ahmad Sudirman.

Wassalam,

Jayadi Kamrasyid

JKamrasyid@aol.com
New Haven, Connecticut, USA
----------