Jakarta, 3 Juli 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

DOSA SYIRIK MENAFIKAN HUKUM ALLAH & MEMPERTAHANKAN HUKUM THOGHUT-PANCASILA
Salman
Jakarta - INDONESIA.

 

LEMBAGA NEGARA RI MERUPAKAN INSTITUSI TANDINGAN YANG MENYELENGGARAKAN HUKUM KUFUR

Subhanalloh, tidakkah justru saudara Rokhmawan dan Tati meresapi lebih kepada makna utama yang ada dalam beberapa dalil yang dikemukakannya sendiri ?

Secara umum dalil-dalil yang dikemukakan saudara Rokhmawan itu dalam ruang lingkup penafsiran suatu perbuatan, apa itu Nabi dan Rosul, tentang amalan-amalan baik dan buruk serta banyak dan sedikit. Yang lebih digarisbawahi adalah suatu tindakan atau perlakuan musyrik (syirik), syarika = sekutu, yakni mengadakan suatu tandingan (min dunillahi), dengan vonis dosa syirik tersebut tidak akan pernah diampuni. Adalah termasuk dosa syirik itu menafikan hukum Alloh dan mempertahankan hukum thoghut!, Dan diwujudkannya hal tersebut dalam sebuah lembaga Negara yang menjadi sarana fasilitasi hukum (undang-undang) yang seharusnya digunakan untuk mengejawantahkan hukum Alloh, malah digunakan untuk membuat mulkiyyah (institusi) tandingan yang menyelenggarakan hukum kufur!

Kemudian bercerita mengenai amal sholeh atau akhlaq mulia seperti hal nya Rosul, saya ingin jadi tanya apa yang dimaksud amal sholeh atau batasan dari akhlaq mulia yang dicontohkan Rosululloh saw itu ? Apakah sekadar manis bicara, ramah, murah hati, dan senantiasa tersenyum pada siapapun, atau bagaimana ?

Bila mendengar persaksian isteri beliau saw (`Aisyah ra) ketika ditanya tentang akhlaq Nabi Muhammad Saw. Jawabnya :"Kaana khuluquhul qur`an", adalah akhlaq beliau saw itu al`Quran! Dari sini bisa ditarik simpulan bahwa yang dimaksud dengan memuliakan akhlaq manusia adalah menjadikan akhlaq manusia seperti akhlaq beliau saw sendiri, berakhlaq Qur`an!

Berakhlaq Qur`an berarti semua prilaku manusia tersebut terikat dengan hukum-hukum Qur`an, senantiasa berjalan di atas perundang-undangan wahyu. Tidak dikatakan mulia akhlaq manusia bila hukum yang dijalankan (dalam segala aspek hidupnya) bukanlah Qur`an, perintah yang diakui bukanlah perintah Ilahi.

Mari kita ambil sebuah misal, bila seorang tuan memerintahkan kepada hambanya untuk membersihkan rumah, tapi si hamba hanya membungkuk-bungkuk saja di depan si tuan tadi sambil memuji-muji, tanpa beranjak pergi membersihkan rumah. Maka tentu sikap kelakuan hamba tadi malah mengundang kemarahan tuannya. Pada saat yang lain rumah sang tuan kecurian, kemudian disuruhnya sang hamba untuk mengejar dan merebut kembali barang yg dicuri tadi. Si hamba bukannya berlari mengejar, ia malah tetap saja membungkuk-bungkuk, memuji dan menyebut nama tuannya, atau ia malah menyanyi-nyanyi mengulangulang perintah menangkap pencuri tadi. Bagaimana kira-kira reaksi tuannya atas kelakuan hamba tadi, adakah ia disebut sebagai hamba yang berbakti ? Bisakah kita katakan hamba model begitu berakhlaq mulia ??

Begitupun kita selaku hamba Alloh, Dia menyuruh kita untuk menata dunia ini dengan hukum yang datang dari pada-Nya (Q.S. 4:105 "litahkuma bainannas", Q.S. 5:49-50), lantas apa yang kita lakukan ? Sekadar membungkuk-bungkuk memuji-Nya ? Itukah akhlaq mulia ?? Alloh menyuruh memotong tangan pencuri, mendera bujangan yang berzina, membagi waris sesuai dengan ketentuan-Nya, kita lihat apa yang dilakukan kebanyakan yang mengaku hamba Alloh saat ini ? Bukannya bergegas mengusahakan terlaksananya perintah tadi, ia hanya membungkuk-bungkuk saja, menyebut nama Alloh dan memuji-Nya, atau mengulang-ulang perintah tadi dengan nada yg syahdu merayu. Inikah akhlaq mulia ?

Nyata bahwa misi Nabi memuliakan akhlaq (beramal sholeh), bukan sekadar menghaluskan budi bahasa atau khusyuk dalam ibadah ritual semata (habluminalloh), tapi menempatkan diri sebagai sebenar-benarnya hamba dari Robb-nya, yang cerdas, giat, penuh kerja keras mewujudkan setiap titah-Nya. Seperti pula salah satunya dicontohkan Rosululloh saw dalam upayanya membentuk akhlaq mulia, nampak sekali dalam kesungguhan beliau saw menyusun konstitusi Madinah (Shohifat).

Ada yang mengatakan akhlaq mulia itu adalah memelihara habluminalloh dan habluminannas. Ini tepat sekali. Cuma sayang mereka membuat definisi sendiri mengani apa itu habluminallh dan apa itu habluminannas. Mereka artikan habluminannas itu artinya baik dengan orang, memelihara hubungan sesama manusia, dan semacamnya. Padahal dalam kitab-kitab tafsir, habluminannas, bukan seakdar baik dengan orang tapi dalam pelaksanaannya memiliki ikatan struktural. Lebih jelas kita lihat catatan kaki terjemahan Al Qur`an departemen agama RI no 218 (yang merupakan hasil 10 orang ulama dan merujuk pada 53 kitab acuan) :"maksudnya perlindungan yang ditetapkan Alloh dalam Al-Qur`an dan perlindungan yang diberikan pemerintahan Islam".

Jadi habluminannas yang dimaksud di sana adalah interaksi positif di antara manusia, di bawah perlindungan pemerintahan Islam. Kembali kita bertanya, jika mereka menyatakan bahwa Nabi diutus untuk membangun akhlaq mulia, baik secara habluminalloh maupun habluminannas. Maka sudahkah berhabluminannas secara benar ?? Jika belum, maka camkan peringatan dalam Q.S. 3:112

"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada habluminalloh dan habluminannas..."

Dengan demikian, nyatalah bahwa kemuliaan dan amal sholeh yang dibina Nabi tidak terhenti pada pembenahan etika pribadi, tapi berlanjut hingga ummatnya berubah dari sekadar para pengembala kambing jadi khalifah yang menata manusia dengan perundangan Ilahi!

Kalau bukan Islam yang tegak sebagai hukum bagi seluruh aspek hidup (termasuk undang-undang hajat hidup orang banyak dalam skup negara), akibatnya kerusakan di bumi pasti merebak di mana-mana (Q.S. 23:71).

Jika ini sampai terjadi, maka yang ditanya duluan bukan mereka (orang yang ingkar), tapi KITA (Umat yang mengaku beriman dan beramal sholeh sebagai hamba Alloh). Mengapa ? Sebab bumi ini dititipkan kepada kita (orang sholeh), bukan mereka (Q.S. 21:105). Apa mau di dunia tidak ikut apa-apa dan tidak peduli akan keharusan tegaknya huum wahyu, tidak pula kebagian apa-apa, tapi kita yang duluan kena getahnya ? Di akhirat disiksa akibat diri cuma jadi pengikut, sedang yang diikuti bukan ulil amri muminin yang bertanggung jawab (aparatur hukum Alloh) ? -lihat pertengkaran antara pemimpin bathil dan pengikutnya di Q.S. 34:31-33, 38:55-64, 14:21, 11:59-60 & 96-99, 33: 66-68-

Di samping itu, semua muminin diperintah untuk mentho`ati pemerintahan (ulil amri) dari kalangan muminin sendiri (Q.S. 4:59). Ini menunjukkan bahwa pemerintahan islam harus ada, sebab kalau tidak, kepada siapa muminin akan tho`at ? Pada pemerintahan yang membekukan hukum Ilahi ? Terlalu berat akibatnya di akhirat nanti (Q.S. 33:64-68).

Perintah mentho`ati pemimpin yang dari kalangan kamu (muminin) jelas memberikan isyarat bahwa kita mesti memiliki kepemimpinan dan sistem Islam yang mandiri! Jika tidak...dosa! Maukah dosa terus menerus karena salah yang ditho`ati ?

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang kafir (orang yang menafikan hukum Alloh) sebagai pemimpin dengan mengabaikan kepemimpinan orang-orang yang beriman. Inginkah kalian dengan perbuatan itu jadi alasan bagi Alloh untuk menyiksa kalian?" (Q.S. 4:144).

Lalu di mana tempatnya kepemimpinan kufur itu ? ialah yang dinamakan darul kuffar alias Negara kufar/sekuler. Di tanah wilayah Indonesia, bentuk seperti itu diwujudkan dengan keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang menganut dasar asas dan falsafah Negara thoghut-pancasila!

Wallohu`alam bi showab.

Salman

imarrahad@eramuslim.com
Indonesia
----------