Jakarta, 4 Juli 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

AMIEN RAIS TIDAK TERTARIK PADA ISLAM SEBAGAI DASAR HIDUP BERNEGARA
Asrir Sutan
Jakarta - INDONESIA.

 

CAPRES AMIEN RAIS TIDAK TERTARIK PADA ISLAM SEBAGAI DASAR HIDUP BERMASYARAKAT, BERBANGSA, DAN BERNEGARA

Dalam tulisannya "Pemimpin Islam Belum Siap Mengisi Kebangkitan Islam?", menurut Abdul Manan Salam "Suara-suara sumbang justru datang dari kaum intelektual Muslim sendiri. Misalnya sebagaimana dikatakan oleh Dr Amien Rais, bahwa tidak ada negara ISLAM dalam alQur:an dan asSunnah. Dan pendapat ini pun mendapat dukungan dari bapak Muhammad Roem" (KIBLAT, No.10, Th.XXXI, 5-20 Oktober 1983, hal 23).

Dr HM Amien Rais bersama almarhum Mr Muhammad Roem mengingatkan bahwa aspirasi hukum Islam sepenuhnya dapat ditampung dalam negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD-45 (DR HM Amien Rais : "Hubungan Antara Politik Dan Dakwah", PANDUAN UMUM Musyawarah Wilayah Muhammadiyah 'Aisyiyah Nasyiatul 'Aisyiyah DKI Jakarta Periode 1995-2000, hal 56, Penutup).

Dalam suatu wawancara, Amien Rais mengemukakan "Saya ini, diputar dibalik seperti apapun tetap dikatakan sebagai tokoh Islam. Itu sebabnya, tidak mungkin berpasangan dengan tokoh Islam lainnya. Itu sama saja dengan incest atau kawin dalam satu keluarga dan ini tidak produktif. Paling pas jika berpasangan dengan tokoh nasionalis dan berlatar belakang militer, serta juga punya dukungan yang jelas" (KOMPAS, Sabtu, 20 Maret 2004, hal 25, wawancara dengan Ketua Amien Rais : "Pemberantasan Korupsi Andalan").

Dalam Tabloid AKSI (Vol 2, No.93, 25-31 Agustus 1998, hal 24 kolom 5 atas) Amien Rais lebih menginginkan menjadi tokoh bangsa dari pada menjadi tokoh umat. Untuk mewujudkan keinginannya itu, Amien Rais berkunjung ke Blitar dan mnanggap wayang (KOMPAS, Sabtu, 8 Mei 2004).

Dr Amien Rais, penyanjung Syi'ah Iran mengatakan bahwa para pejuang Mujahidin Afghanistan itu tidak memiliki persepsi yang sama mengenai bagaimana membangun Afghanistan di masa depan. Pernyataan bernada dengki semacam ini banyak dilontarkan oleh kelompok yang selalu menampilkan segi-segi negatif dari keberhasilan atau kemenangan Muslimin di negeri-negeri Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Sebaliknya, bagi mereka Iran yang Syi'ah sama sekali tidak bercacat (ALMUSLIMUN, No.267, Juni 1992, hal 9, Tadzkirah : "Antara Natijah Mujahidin Afghan Dan Gayah Syi'ah Irah".

Ketenaran DR HM Amien Rais sebagai tokoh reformasi belumlah mendapat dukungan dari semua pihak, baik nasionalis maupun Islam, bahkan dari akar rumput sekalipun, sehingga seorang pembaca Tabloid AMANAT (Edisi 035, Kamis, 17 Juni 1999, hal 2) risau dengan bahasa strategis politik Dr HM Amien Rais yang tidak dipahaminya).

Disamping berkutat dengan buku-buku politik kapitalis-sekuler, Amien Rais juga menyempatkan diri bergumul memahami tulisan, pikiran Musthafa asSiba'I, Sayid Qutub. Abu Zahra, Hasan alBanna, alBahi alKhuli, Jamaluddin alAfghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Muhmmad Iqbal, Muhammad Natsir, Said Ramadhan, Muhammad alGhazali, Abul A'la alMaududi, Namik Kemal ("Hubungan Antara Politik dam Dakwah", PANDU UMUM,1995-2000, hal 47, 52).

Meminjam bahasa Firdaus AN, Meskipun telah bersusah payah meyakinkan bahwa seluruh bidang kegiatan hidup manusia merupakan lahan, arena, sarana, alat dakwah, dan bahwa hukum-hukum yang berdasarkan wahyu itu jauh lebih unggul, lebih superior dari pada hukum-hukum buatan manusia (man-made) manapun (PANDUAN UMUM, hal 44, 48), namun Amien Rais tak tertarik mendakwahkan untuk menjadikan ajaran wahyu itu (Islam) sebagai dasar hidup berbangsa, bernegara dan berpemerintahan secara murni, bersih dari dominasi ideologi buatan manusia.

Kenapa orang semacam Dr M Amien Rais, sang tokoh reformasi yang lulusan University of Chicago tak tertarik pada Islam sebagai dasar hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara. Bahkan menyatakan kalau konsep Negara Islam hanya di seputar hudud (sanksi hukum), jilbab (busana Muslimah), ia (Amien Rais) sudah lama murtad dari Islam (PANDUAN UMUM, hal 45, 47). Padahal ia pernah menyatakan, bahwa pengelolaan seluruh kehidupan manusia termasuk kehidupan bernegara dan berpemerintahan (idem, hal 49). Juga memahami dan menguasai karya Abul A'la al Maududi, yang pernah mengatakan bahwa "Kami akan tetap berusaha menciptakan masyarakat Islam, betapapun andainya Anda tidak melihat kebobrokan-kebobrokan ini di depam mata kita".
Yang juga mengatakan, bahwa rekonsiliasi Islam dan Sekularisme, adalah mustahil (idem, hal 49).

Wassalam.

Asrir Sutan

asrirs@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------