Stockholm, 6 Juli 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SUMITRO ITU KERJA YUDHOYONO NOL UNTUK ACHEH BUKAN UNTUK ABDURRAHMAN WAHID
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS SUMITRO ITU KERJA YUDHOYONO NOL UNTUK ACHEH BUKAN UNTUK ABDURRAHMAN WAHID

"Terima kasih loh bang Ahmad akhirnya kata2 Acheh yang telah ditelan, dicaplok, diduduki, dan dijajah oleh Presiden RIS Soekarno tidak dimasukan dalam tulisannya walaupun masih ada dikit saja yakni "dirampas, dirampok, dan diduduki sampai sekarang". Oh yach Apa yang dilakukan oleh seorang SBY enggak NOL besar seperti yang ahmad sampaikan loh. Satu azah saya berikan contoh yach? di saat genting Gus Dur megusulkan untuk dikeluarkan Dekrit (yang saya yakin apa bila itu terjadi maka Indonesia akan bergolak dan ihhh ngeri ngebayanginnya) tapi Dengan arif dan bijak SBY menolak usulan GD tersebut walaupun akhirnya SBY dikeluarkan dari kabinet. Itu salah satu lon..jadi enggak benar itu kerjanya SBY nol besar. Udahlah bang Ahmad aku yakin melihat perkembangan suara SBY di pemilu GAM makin gerah termasuk anda." (Sumitro mitro@kpei.co.id , Tue, 6 Jul 2004 10:06:05 +0700)

Baiklah saudara Sumitro di Jakarta, Indonesia.

Itu kerja untuk penyelesaian Acheh yang dilakukan oleh Susilo Bambang Yudhoyono ketika masih menjabat Menko Polkam dibawah Kabinet Abdurrahman Wahid memang nol besar.

Kemudian kalau itu disinggung oleh saudara Sumitro: "Oh yach Apa yang dilakukan oleh seorang SBY enggak NOL besar seperti yang ahmad sampaikan loh. Satu azah saya berikan contoh yach? di saat genting Gus Dur megusulkan untuk dikeluarkan Dekrit (yang saya yakin apa bila itu terjadi maka Indonesia akan bergolak dan ihhh ngeri ngebayanginnya) tapi Dengan arif dan bijak SBY menolak usulan GD tersebut walaupun akhirnya SBY dikeluarkan dari kabinet"

Itu bukan salah satu kerja Susilo Bambang Yudhoyono yang berhasil melainkan karena kebodohan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang tidak tahu menerapkan Dekrit Presiden dihubungkan dengan Konstitusi atau UUD 1945.

Itu Dekrit Presiden Gus Dur adalah dekrit-dekritan yang menyimpang. Mau ikut-ikutan itu Soekarno dengan Dekrit Presiden-nya 5 Juli 1959, tetapi ternyata Abdurrahman Wahid alias Gus Dur membuat Dekrit Presiden yang salah kaprah. Mengapa ?

Karena yang melatarbelakangi timbulnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang dipropagandakan oleh pihak Soekarno adalah

1. Konstituante tidak berhasil membuat UUD yang menggantikan UUDS 1950. Ketika pada tanggal 22 April 1959 Soekarno menyampaikan amanat kepada Konstituante yang memuat anjuran untuk kembali ke Undang-Undang dasar 1945. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.140).

2. Kemudian setelah dibicarakan dalam Konstituante usul Presiden Soekarno terutama mengenai dasar Negara, apakah Islam atau pancasila. Ternyata setelah dilakukan 3 kali pemungutan suara, yaitu pemungutan suara pada tanggal 30 Mei 1959 setuju kembali ke UUD 1945 berjumlah 269 suara, tidak setuju ke UUD 1945 berjumlah 199 suara. Pada tanggal 1 Juni 1959, setuju ke UUD 1945 berjumlah 263 suara, tidak setuju ke UUD 1945 berjumlah 203 suara. Pada tanggal 2 Juni 1959, setuju ke UUD 1945 berjumlah 264 suara, tidak setuju ke UUD 1945 berjumlah 204 suara. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.140-141). Karena menurut UUDS 1950 Pasal 137 suara harus dicapai 2/3 dari seluruh suara yang masuk, ternyata setelah 3 kali pemungutan suara tidak mencapai jumlah yang telah ditetentukan oleh UUDS 1950.

3. Pada tanggal 3 Juni 1959 Penguasa Perang Pusat mengeluarkan larangan kegiatan politik dengan Peraturan Nomor PRT/PERPERPU/040/1959. Pada hari itu Konstituante reses. Berbagai fraksi dalam Konstituante kemudian berturut-turut menyatakan tidak akan menghadiri sidang Konstituante.

4. Karena sebagian besar anggota Konstituante tidak menghadiri lagi sidang, Konstituante tidak mungkin lagi menyelesaikan tugas yang dipercayakan oleh rakyat kepadanya.

Akhirnya dengan ketidak berhasilan Konstituante menghasilkan keputusan, maka situasi inilah yang dimanfaatkan oleh Presiden Soekarno untuk mengembalikan kekuasaan pemerintahannya berdasarkan UUD 1945, yakni mengambil langkah menyatakan kembali berlaku UUD 1945 melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Dalam UUDS 1950 tidak menjelaskan bahwa Presiden bisa membubarkan Konstituante. Tetapi UUDS 1950 menganut sistem ketatanegaraan bersifat parlementer. Dimana pemerintah bisa membubarkan parlemen, sebaliknya parlemen dapat menjatuhkan pemerintah. Walaupun Presiden hanya berkedudukan sebagai Kepala Negara (Pasal 45 ayat 1), Presiden memiliki kewenangan untuk membubarkan parlemen.

Jadi pihak Soekarno ketika mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 telah mengambil logika yaitu karena menurut UUS 1950 Presiden memiliki kewenangan untuk membubarkan parlemen (DPR), maka Presiden bisa juga membubarkan Konstituante.

Nah sekarang, kembali kepada Abdurrahman Wahid yang mengeluarkan Dekrit Presiden 23 Juli 2001, pukul 01.10 wib pembubaran DPR/MPR yang ternyata tidak ditanggapi dan dituruti oleh para anggota DPR/MPR juga oleh Wakil Presiden Megawati.

Dimana alasan dikeluarkannya Dekrit Presiden 23 Juli 2001 itu sebagai penolakan Presiden Abdurrahman Wahid untuk memberikan pertanggungjawaban di depan sidang paripurna MPR pada tanggal 23 Juli 2001.

Tetapi satu hal kebodohan Presiden Abdurrahman Wahid dan Stafnya itu yakni mereka tidak mengerti bahwa dalam UUD 1945 tidak ada dinyatakan Presiden memiliki kewenangan untuk membubarkan parlemen (DPR). Sedangkan Presiden NKRI Soekarno ketika mendeklarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 berdasarkan kepada UUDS 1950 dengan memakai logika.

Jadi saudara Sumitro kalau itu Susilo Bambang Yudhoyono tidak mau patuh kepada Presiden Abdurrahman Wahid memang wajar, karena Dekrit yang dikeluarkan oleh Gus Dur itu dekrit-dekritan. Jadi, bukan karena keberhasilan kerja Susilo Bambang Yudhoyono.

Jelas, mana itu Ahmad Sudirman menjadi gerah melihat Susilo Bambang Yudhoyono keluar dalam putaran I Pemilu Presiden 5 Juli 2004 untuk ikut putaran ke-II bulan September mendatang. Justru yang kegerahan adalah itu Susilo Bambang Yudhoyono yang tidak mungkin menerapkan visi dan misinya di Negeri Acheh.

Saudara Sumitro, itu Susilo Bambang Yudhoyono akan kalangkabut nanti ketika menerapkan visi dan misinya di Acheh. Mengapa ? Karena mata dunia Internasional dan PBB akan terus menyorot kepada kelakuan Pemerintah RI yang telah melakukan pelanggaran HAM berat di Negeri Acheh dan Papua.

Itu Susilo Bambang Yudhoyono tidak bisa bersembunyi lagi. Dunia Internasional dan PBB sudah siap untuk memantau dan melaporkan apa yang telah dilakukan pihak RI dan TNI/POLRI-nya di Negeri Acheh sebagai suatu pelanggaran kejahatan HAM terhadap rakyat Acheh.

Dan tentu saja Negeri Acheh yang diduduki dan dijajah RI akan terus diperjuangkan oleh rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

From: Sumitro mitro@kpei.co.id
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, Serambi Indonesia <serambi_indonesia@yahoo.com>, Aceh Kita <redaksi@acehkita.com>, ahmad jibril <ahmad_jibril1423@yahoo.com>, balipost <balipost@indo.net.id>, waspada <newsletter@waspada.co.id>, PR <redaksi@pikiran-rakyat.com>, Pontianak <editor@pontianak.wasantara.net.id>, Hudoyo <hudoyo@cbn.net.id>, JKT POST <jktpost2@cbn.net.id>, Redaksi Detik <redaksi@detik.com>, Redaksi Kompas <redaksi@kompas.com>, Redaksi Satu Net <redaksi@satunet.com>, Redaksi Waspada <redaksi@waspada.co.id>, Waspada waspada@waspada.co.id
Cc: ahmad@dataphone.se
Subject: RE: YUDHOYONO INGIN JADIKAN AMAN DAN DAMAI DI ACHEH PAKAI SENJATA OMONG KOSONG
Date: Tue, 6 Jul 2004 10:06:05 +0700

Terima kasih loh bang Ahmad akhirnya kata2 Acheh yang telah ditelan, dicaplok, diduduki, dan dijajah oleh Presiden RIS Soekarno tidak dimasukan dalam tulisannya walaupun masih ada dikiiiiiiiittttt saja yakni "dirampas, dirampok, dan diduduki sampai sekarang".

Oh yach Apa yang dilakukan oleh seorang SBY enggak NOL besar seperti yang ahmad sampaikan loh. Satu azah saya berikan contoh yach? di saat genting Gus Dur megusulkan untuk dikeluarkan Dekrit (yang saya yakin apa bila itu terjadi maka Indonesia akan bergolak dan ihhh ngeri ngebayanginnya) tapi Dengan arif dan bijak SBY menolak usulan GD tersebut walaupun akhirnya SBY dikeluarkan dari kabinet. Itu salah satu lon..jadi enggak benar itu kerjanya SBY nol besar.

Udahlah bang Ahmad aku yakin melihat perkembangan suara SBY di pemilu GAM makin gerah termasuk anda.

Sumitro

mitro@kpei.co.id
Jakarta, Indonesia
----------