Stockholm, 6 Juli 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ROKHMAWAN DAN SALAFI-NYA MENGKUTAK-KATIK KHAWARIJ
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS ROKHMAWAN DAN SALAFI-NYA ITU HANYA MENGKUTAK-KATIK KAUM KHAWARIJ SEBAGAI MUSUHNYA

"Bapak Ahmad Sudirman yang kami hormati sebenarnya kami tidak ingin mengelompokkan GAM/TNA, NII ke dalam kaum khowarij tetapi sayang sekali ternyata cirri-ciri khowarij ada pada NII, GAM/TNA yaitu jahil terhadap ilmu fiqih, fitrah manusia dan syariat islam, mudah mengkafirkan umat islam di luarnya dll. Sekali lagi kami mengelompokkan mereka dalam kaum khowarij atas dasar ilmu, dalil aqli, dalil naqli yg shohih. Kemudian untuk menggolongkan mereka ke kaum khowarij maka tidak bisa melihat dari segi pemerintahan sekarang dengan pemerintahan ali bin abu tholib tetapi yang kita lihat adalah cirri-cirinya. Sudah saya katakan bahwasanya kaum khowarij adalah orang-orang yang menberontak kepada pemerintahan yg syah yang memerintah sebagian besar umat islam sehingga memecah belah umat islam di dalamnya (pelajari lagi pengertian kaum khowarij), di sana tidak dikatakan apakah itu pemerintahan islam atau pemerintahan kafir. Justru mereka yg memecah belah umat islam inilah yg juga akan dilaknat Alloh SWT. Perlu bapak renungkan dalam hati tidak dibenarkan bagi orang yg ingin melaksanakan suatu tujuan dg mengorbankan kewajiban yg lebih penting." (Rokhmawan , rokh_mawan@yahoo.com , Tue, 6 Jul 2004 00:17:23 -0700 (PDT))

Baiklah saudara Rokhmawan di Solo, Jawa Tengah, Indonesia.

Memang saudara Rokhmawan dan Salafi-nya ini hanya sekedar mengutak-atik kaum Khawarij untuk dijadikan sebagai tameng dan alat pengelompokan diluar kelompok Rokhmawan dan Salafi-nya.

Saudara Rokhmawan, saya dalam diskusi di mimbar bebas ini tidak emosi, hanya saya menyayangkan saudara Rokhmawan ternyata tidak mampu memberikan argumentasi secara dalil fiqh Islam untuk mempertahankan bahwa para pimpinan Negara sekular RI dari mulai Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid dan sekarang Megawati yang telah membuat lembaga tandingan pembuat aturan, hukum, dan undang undang disamping aturan, hukum dan undang-undang Allah SWT, tidak digolongkan kepada kafir, zhalim, dan fasik.

Saudara Rokhmawan hanya mampu mencari-cari apa yang dibuat oleh kaum Khawarij, kemudian dikatakan menurut "dasar ilmu, dalil aqli, dalil naqli yg shohih".

Padahal tidak ada dalam sejarah perjuangan kaum Khawarij yang berusaha untuk membebaskan diri dari kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Sedangkan ASNLF atau GAM jelas merupakan usaha untuk memperjuangkan Negerinya yang telah diduduki dan dijajah oleh Pemerintah sekular RI yang dasar hukum negaranya bersumberkan kepada pancasila.

Perjuangan GAM bukan perjuangan ashobiyah atau kebangsaan. Melainkan perjuangan pembebasan tanah air Negeri Acheh yang diduduki dan dijajah oleh Negara RI yang menjelma menjadi NKRI.

Kemudian, itu soal mengkafirkan, menzhalimkan, dan memfasik-an berdasarkan surat Al Maidah ayat 44, 45 dan 47, sudah jelas dalil hukum pengambilannya.

Saudara Rokhmawan dan Salafi-nya tidak mampu memberikan sanggahan berdasarkan dalil fiqh Islam untuk mempertahankan bahwa para pimpinan RI dari mulai Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati yang membangkang membuat tandingan dengan cara mempebuat lembaga pembuat aturan, hukum, undang-undang disamping aturan, hukum, undang-undang Allah, tetapi mereka oleh saudara Rokhamawan dan salafi-nya tidak dimasukkan kedalam orang yang kafir, zhalim, dan fasik. Padahal sudah jelas surat Al Maidah ayat 44, 45, dan 47 itu ayat-ayat muhkamat bukan ayat-ayat mutasyabiahat.

Jadi, saudara Rokhmawan, kalau ada orang Acheh yang berpegang kepada ayat 44, 45, 47 surat Al Maidah itu bukan berarti itu otomatis dan langsung saja itu ASNLF atau GAM digolongkan kedalam kaum Khawarij. Itu cara pengambilan kesimpulan yang demikian adalah salah fatal.

ASNLF atau GAM adalah wadah perjuangan. Orang Acheh adalah individu atau perseorangan.

Lagi pula, sekali lagi, saya tekankan disini, bahwa itu Pemerintah RI adalah tidak bisa diqiaskan kepada pemerintahan Khilafah Islam dibahwa pimpinan Khalifah Ustman bin Affan dan dibawah pimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Pemerintah RI adalah pemerintah yang menduduki, menjajah Negeri Acheh. Menzhalimi rakyat dan Negeri Acheh.

Aapakah saudara Rokhmawan dan Salafi-nya tetap ngotot untuk mempertahankan pemerintahan RI dibawah Megawati yang dasar hukumnya bersumberkan pada pancasila, bukan bersumberkan pada Islam ?.

Bagaimana saudara Rokhmawan dan Salafi-nya ingin mencontoh Rasulullah saw waktu masa di Mekkah ? apakah Rasulullah saw membela para pimpinan Penguasa Negara Quraisy ?

Rasulullah saw selama 13 tahun di Mekkah telah berusaha untuk membina masyarakat muslim yang bermental Islam yang kuat keyakinan kepada Allah yang mengesakan Allah SWT yang tabah dan sabar dalam tekanan kaum musyrikin Quraisy Mekkah.

Jelas Rasulullah saw di Mekkah berdakhwah dengan tidak mengenal lelah. Tidak ikut terlibat dalam sistem musyrik Quraisy Mekkah. Rasulullah saw berada diluar sistem pemerintah Quraisy Mekkah. Setelah Rasulullah saw menerima perintah: "Maka jalankanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik" (Al Hijr, QS, 15: 94). Beliau mulai lantang dan mengecam agama berhala kaumnya dengan mencela sembahan mereka beserta membodohkan para penyembahnya-penyembahnya, malahan beliau membodoh-bodohkan pula nenek moyang mereka yang menyembah berhala itu. (Tim Yayasan Penyelenggara penterjemah/Penafsir Al Qur'an, Al Quran dan terjemahnya, Jamunu, 1971, hal.74)

Jadi, saudara Rokhmawan kalau saudara masih tenggang rasa, ah itu Megawati tidak apalah dia pegang erat-erat pancasila dan dijadikan sumber pancasila, kita kan harus dengan hikmah dengan lembut, penuh toleransi kalau berdakhwah.

Kemudian apa yang terjadi setelah jalan yang ditempuh oleh Rasulullah saw mencapai titik puncaknya di Mekkah, maka Allah SWT memerintahkan untuk berhijrah. Kemana Rasulullah saw berhijrah ?. Tentu saja bukan berhijrah didalam Negeri Mekkah, melainkan keluar daerah kekuasaan de-facto dan de-jure Pemerintah Quraisy, yakni daerah Yatsrib atau Madinah.

Memilih daerah wilayah Yatsrib atau Madinah bukanlah pilihan begitu saja, melainkan telah dipersiapkan jauh sebelumnya. Rasulullah saw telah menjalin hubungan yang erat dengan masyarakat Yatsrib. Pada bulan Rajab tahun kesepuluh kenabian Rasulullah saw menjalin kerjasama dengan enam utusan dari Kaum Aus dan kaum Khazray yang mengunjungi Mekkah dan mendapat ajaran-ajaran Islam yang disampaikan Rasulullah saw disuatu tempat yang benama Aqabah, dan lahirlah ikrar Aqabah pertama. Ketika mereka itu pulang ke Yatsrib dan menyebarkan ajaran Islam yang telah diperolehnya dari Rasulullah saw kepada pihak lainnya, sehingga pada tahun depannya sekitar 12 orang dari Yatsrib datang ke Mekkah dan memeluk Islam di Aqabah. Pengucapan ikrar masuk Islam inilah dikenal dengan ikrar Aqabah kedua.

Selanjutnya pada tahun keduabelas kenabian datanglah 72 orang muslim Yatsrib yang datang di musim haji dan menerima ajaran-ajaran Islam dari Rasulullah. Kali ini mereka justru mengundang Rasulullah saw untuk datang ke Yatsrib atau Madinah.

Kemudian pada tahun ketigabelas kenabian Rasulullah saw bersama Abu Bakar berhijrah ke Yatsrib dan sampai di Yatsrib pada hari Jumat tanggal 12 Rabi'ulawal tahun 1 H atau bertepatan dengan tanggal 24 September tahun 622 M.

Itulah perjuangan Rasulullah saw selama 13 tahun di Mekkah dan diakhiri dengan berhijrah ke Yatsrib. Di Yatsrib inilah Rasulullah saw membangun masyarakat Muslim dibawah Daulah Islam sebagai tempat dan sebagai suatu lembaga untuk penerapan aturan-aturan, hukum-hukum dan undang-undang Allah SWT untuk dijalankan dan dilaksanakan dalam masyarakat muslim di Yatsrib.

Nah sekarang kembali kepada masalah perjuangan saudara Rokhmawan dan Salafi-nya yang katanya mengikuti jejak Rasulullah saw masa di Mekkah, dengan cara dakhwah, meluruskan aqidah, membuang bid'ah-bid'ah, menerbitkan majalah-majalah, mendakhwahi para pimpinan RI, dakhwah keliling RI, dsb.

Kemudian target selanjutnya bagaimana cara merobah sistem thaghut-pancasila kepada sistem Islam tidak dijelaskan. Kemudian bagaimana itu dasar pancasila, setelah didakhwahi para pimpinan RI dengan Islam, tetapi tetap saja pancasila dijadikan sebagai dasar negara RI, belum bisa juga dicarikan jalan keluarnya oleh saudara Rokhmawan dan Salafi-nya. Jadi kalau juga sampai kiamat itu para pimpinan RI tidak mau melepaskan pancasilanya, jelas itu saudara Rokhmawan tidak ada jalan pemecahannya.

Padahal Rasulullah saw sudah jelas menunjukkan dan mencontohkan, bahwa bukan penguasa dan pimpinan serta negara Quraisy Mekkah yang dirobah systemnya, melainkan Rasulullah saw berhijrah dahulu ke Yatsrib. Baru setelah kuat kedudukan masyarakat dan Daulah Islam di Yatsrib menyebarkan dakhwah risalah Islam ke luar Yatsrib. Sehingga akhirnya itu Negeri Mekkah dapat dikuasai oleh kaum Muslimin pada bulan Ramadha 8 Hijrah.

Jadi, tidak ada itu Rasulullah memberikan contoh merubah sistem thaghut negara Quraisy Mekkah dengan sistem Islam ketika Rasulullah saw berjuang di Mekkah. Seperti yang dijalankan oleh saudara Rokhmawan dan Salafi-nya. Itu telah menyalahi metode atau manhaj Rasulullah saw di Mekkah.

Karena itu Saudara Rokhmawan dan Salafi-nya kebingungan menghadapi para pimpinan RI yang membangkang tidak mau melepaskan pancasila sebagai sumber hukum di Negara RI untuk diganti dengan sumber hukum Islam. Paling yang bisaa dilaksanakan dakhwah-dakhwah begitu saja, sehabis dakhwah tetap saja itu para pimpinan RI membandel, pancasila tetap saja didekapnya erat-erat.

Jadi, saudara Rokhmawan dan Salafi-nya kalau saudara memang ingin mengikuti manhaj atau metode Rasulullah saw semasa di Mekkah ikutlah cara Rasulullah saw itu dengan betul jangan dipotong-potong. Bukan dilanggarnya.

Coba sekarang saudara Rokhmawan kalau ditanya mau hijrah kemana ? Pasti pusing tujuh keliling karena memang tidak ada atau belum ada persiapan untuk melakukan hijrah. Padahal Rasulullah saw sebelum hijrah ke Yatsrib telah dipersiapkan matang. Hijrah para sahabatnya ke Abyssinia pada tahun kelima kenabian. Adanya perjanjian atau ikrar Aqabah pertama dengan utusan Yatsrib pada tahun kesepuluh kenabian, ikrar Aqabah kedua juga dengan para utusan Yatsrib pada tahun kesebelas kenabian. Datangnya utusan Yatsrib yang mengundang Rasulullah saw untuk datang ke Yatsrib pada tahun keduabelas kenabian.

Karena itu saudara Rokhmawan ketika ditanya oleh saudara Abu Farhan tentang: 1.Anda tidak ingin merubah Negara Indonesia menjadi NII. Tapi anda dan manhaj anda hanya akan meluruskan sumber dari segala sumber hukum adalah Alqur'an dan Alhadits. Bagaimana caranya ?, bukankah Negara RI sumber Hukumnya Pancasila (dan sepertinya akan tetap dipertahankan sampai kapanpun oleh para pendukungnya), Lalu kalau anda ingin meluruskan dan merubah system itu dengan Alqur'an dan Alhadist tanpa adanya Negara atau masih dalam Negara Pancasila. Apakah itu Bisa ? 2.Terus Apa langkah kongkrit manhaj anda dan langkah-langkah yg sudah berhasil ditempuh dalam rangka merubah sistem didalam yg anda maksud ? 3.Apakah kita selaku penduduk RI yg mayoritas Muslim ini tidak ingin menjadikan Hukum Allah tegak dibumi Indonesia ? Yg secara otomatis Harus merubah Dasar Negara, dan semua sistemnya ? 4.Bukankah Allah SWT mengangkat kita dibumi ini sebagai Khalifah-Nya yang mendapatkan mandat dari Allah untuk merealisasikan Hukum-hukum-Nya ? Dan kalau kita tidak ingin digelari oleh Allah SWT seperti dalam QS. Almaidah 44, 45 dan 47 ( Kafir, Fasiq dan Zalim ).

Ternyata saudara Rokhmawan tidak bisa menjawabnya dengan jelas dan pasti. Hanya sekedar menceritakan "meluruskan aqidah mereka (pejabat RI dan pendukungnya) dan ini sudah saya lakukan dengan banya berdakwah ke seluruh pelosok RI, juga kami telah menerbitkan berbagai majalah/buku islami".

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Tue, 6 Jul 2004 00:17:23 -0700 (PDT)
From: rohma wawan <rokh_mawan@yahoo.com>
Subject: Jangan Suka Membantah dan Menolak Kebenaran
To: ahmad@dataphone.se
Cc: om_puteh@hotmail.com, narastati@yahoo.com, JKamrasyid@aol.com, dityaaceh_2003@yahoo.com, yuhe1st@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com, habearifin@yahoo.com, editor@jawapos.co.id, suparmo@tjp.toshiba.co.jp, siliwangi27@hotmail.com, sea@swipnet.se, solopos@bumi.net.id, Padmanaba@uboot.com, kompas@kompas.com, mitro@kpei.co.id, yusrahabib21@hotmail.com

Assalaamu'alaikum Wr.Wb
Bismillahirrohmaanirrohiim

Jangan Suka Membantah dan Menolak Kebenaran

Bapak Ahmad Sudirman yg kami hormati kalau bapak membaca komentar saya jangan terus emosi begitu sehingga dengan mudahnya bapak mengatakan kami picik (tapi kami nggak masalah, semua yg menilai adalah Alloh SWT). Sebelum saya mengomentari bapak saya akan bercerita pengalaman yang saya alami dulu.

Dulu semasa masih kuliah saya diajak ustadz saya untuk mengikuti dialog dan diskusinya para ulama ( saya lupa nama para ulama'nya yg jelas mereka dari timur tengah dan berdarah arab). Dan ternyata ada pula ulama dari kaum syiah (ulama syiah inilah yg akan menjadi nara sumber). Setelah melalui diskusi yg panjang lebar di sertai dalil aqli dan naqli dari ulam syiah dan ulama lainnya, akhirnya ulama yang menjadi nara sumber tsb (ulama kaum syiah) mulai kalah dalam berdiskusi, semulanya mereka semua menggunakan adab-adab berdiskusi tetapi ketika seorang ulama mengatakan kesesatan ulama syiah ini maka ulama syiah ini langsung berdiri dengan geramnya,
mukanya merah membara. Kemudian ulama yg bukan dari syiah memberikan argumen-argumennya yang kuat berdasarkan Al-qur'an dan Al-hadist langsung seketika itu ulama kaum syiah ini menghampiri ulama tadi dan menarik jenggotnya dan akhirnya karena sudah malunya maka ulama syiah inipun segera meninggalkan acara tersebut.

Nah kalau kita ambil contoh pengalaman saya di atas maka dapat di simpulkan orang yang ketika berpendapat salah dan di luruskan oleh orang yg bermanhaj lurus maka orang tadi akan terlihat emosinya dan ketika di sodorkan kesesatan mereka maka dia akan marah besar. Hal ini mirip sekali denga apa yang terjadi pada diskusi minggu-minggu ini antara saya dengan pak Husaini Daud dan pak Ahmad Sudirman. Seandainya saya dg mereka bisa berdiskusi langsung (tatap muka), bisa dipastikan bapak Husaini Daud dan bapak Ahmad akan marah besar sama saya ( bisa-bisa jenggot saya akan ditarknya dll). Orang yang sudah taqlid tanpa belajar ilmu agama islam
secara istiqomah, bisa dipastikan orang tersebut akan mempertahankan argumennya yang salah tadi. Jangankan apa yang terjadi pada bapak Ahmad ini, orang ahli maksyiatpun ketika datang kebenaran, ia akan marah-marah. Sehingga bapak Ahmad dengan seenaknya mengatakan kami picik, seenak udel hanya karena kami menggolongkan mereka ke dalam kaum khowarij (padahal kami menggolongkannya ke dalam khowarij berdasarkan ilmu, dalil aqli dan dalil naqli yang shohih dll). Apa bapak tidak terima dengan kenyataan bahwasanya NII, GAM/TNA dll di anggap kaum khowarij ? Kalau bapak tidak ingin di katakan sebagai kaum khowarij maka segera hapuslah kejahilan-kejahilan dan cri-ciri kaum khowarij yang ada pada NII. GAM/TNA, LDII dll. Nah mudah khan ...gitu aza kok pusing.

Bapak Ahmad Sudirman dalam menggolongkan suatu harokah kedalam kaum khowarij tidak hanya berdasarkan tujuan semata (coba bapak pelajari lagi itu KAUM KHOWARIJ). Kalau bapak mengatakan GAM tujuannya untuk menegakkan syariat islam, maka kaum khowarij dulupun mereka memberontak kepada Ali karena Ali berhukum kepada manusia dll. Sedangkan kalau tujuan GAM untuk melepaskan diri dari kekuasan RI/ingin merdeka, apa ini pernah dicontohkan Rosululloh SAW ketika beliau berdakwah. Rosululoh SAW ketika dalam berdakwah tidak pernah menggembar-gemborkan kemerdekaan. Dan yang lebih parah lagi mereka (GAM/TNA) ingin memuluskan tujuannya dengan menggunakan Al-qur'an. Ini namanya bid'ah, Rosululloh SAW bersabda "Iktutilah sunnahku dan sahabatku, barangsiapa yang mengada-adakan suatu urusan dalam beragama berarti ia telah melakukan bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat dan setiap sesat adalah neraka". Dikatakan oleh ulama bahwasanya syaiton lebih senang amalan bid'ah daripada amalan syirik, karena apa? karena seorang yg beramal sririk kemungkinan untuk taubat masih ada dan dapat diusahakan, tetapi orang yang melakukan bid'ah kemungkinan untuk taubat sangat keciiiil dan sulit di usahakan. Bid'ah adalah orang yang mengada-adakan suatu urusan dalam beragama yang tidak pernah dicontohkan Rosululloh SAW dan para sahabatnya. Untuk mengetahui amalan ini bid'ah atau tidak maka kita harus berilmu.

Nah mana ada GAM/TNA akan memberantas kebid'ahan ? karena mereka sendiri telah bersungguh-sungguh dalam kebid'ahan. Memang telah ketahui bersama bahwasanya Rosululloh SAW berhasil menakhlukkan dunia di bawah pemerintahan islam, namun semua ini adalah hanya hasil bagi orang-orang yg beriman saja bukan tujuan (sedangkan tujuan GAM/TNA, NII adalah mendirikan pemerintahan yg islam). Dalam dunia pendidikan tujuannya adalah agar kita pandai dan benar-benar menguasai ilmu yang diberikan guru kita...sedangkan nilai yang baik adalah hasil. Nah bagaimana kalau sorang murid tujuannya salah yaitu mereka hanya ingin mendapatkan nilai baik, maka segala cara ia halalkan untuk mendapatkan nilai tsb (pakai nyontek, Tanya ke temen dll). Begitu pula dalam kehidupan beragama ini tujuan kita yaitu untuk beribadah/menyembah kepada Alloh SWT, tentunya ibadah dalam artian yang luas. Sedangkan hasilnya adalah pemerintahan yg islam. "Alloh akan memberikan kekuasaan kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya.....". Bagaimana jadinya kalau kita salah dalam bertujuan yaitu ingin mendirikan pemerntahan yang islam, maka sudah bisa dittebak segala cara akan dihalalkan untuk memuluskan
tujuannya tsb seperti perang antar umat islam, mengkafir-kafirkan orang islam yang di luar kelompoknya hanya karena tidak sependapat dengannya dll.

Bapak Ahmad Sudirman yang kami hormati sebenarnya kami tidak ingin mengelompokkan GAM/TNA, NII ke dalam kaum khowarij tetapi sayang sekali ternyata cirri-ciri khowarij ada pada NII, GAM/TNA yaitu jahil terhadap ilmu fiqih, fitrah manusia dan syariat islam, mudah mengkafirkan umat islam di luarnya dll. Sekali lagi kami mengelompokkan mereka dalam kaum khowarij atas dasar ilmu, dalil aqli, dalil naqli yg shohih. Kemudian untuk menggolongkan mereka ke kaum khowarij maka tidak bisa melihat dari segi pemerintahan sekarang dengan pemerintahan ali bin abu tholib tetapi yang kita lihat adalah cirri-cirinya. Sudah saya katakan bahwasanya kaum
khowarij adalah orang-orang yang menberontak kepada pemerintahan yg syah yang memerintah sebagian besar umat islam sehingga memecah belah umat islam di dalamnya (pelajari lagi pengertian kaum khowarij), di sana tidak dikatakan apakah itu pemerintahan islam atau pemerintahan kafir. Justru mereka yg memecah belah umat islam inilah yg juga akan dilaknat
Alloh SWT. Perlu bapak renungkan dalam hati tidak dibenarkan bagi orang yg ingin melaksanakan suatu tujuan dg mengorbankan kewajiban yg lebih penting.

Rosululloh SAW bersabda " Tidak akan masuk syurga seseorang yang di hatinya ada kesombongan walaupun seberat dzarroh". Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Saya berdoa kepada Alloh agar bapak tidak dikatakan orang-orang yang sombong. Tetapi tatkala saya menunjukkan argumen-argumen yang kuat berdasarkan dalil aqli dan dalil naqli yg shohih, kenapa bapak menolaknya ? dalam berargumen saya jarang sekali menurut nafsu saya (kecuali dalam berdiskusi umum) melainkan menurut pendapatnya ulama salafy, jumhur ulama bahkan Rosul dan para sahabatnya.

Kemudian untuk saudara abu farhan yang menanyakan bagaimana cara manhaj saya untuk merobah system pancasila ke dalam system islam ? inilah yang membedakan antara perjuangan Rosululloh SAW dengan perjuangan Hasan Tiro cs. Sebelum Rosululoh SAW bisa menaklukkan dunia dibawah kakinya maka Rosululloh SAW berdakwah tiada hentinya, karena dengan kesungguhan Rosululoh SAW akhirnya beliau mendapat beberapa pengikut dan berhijrahlah beliau dengan pengikutnya ke madinah. Begitu pula dengan manhaj kami, kami tidak akan merobah itu system RI sebelum kami berdakwah dengan kesungguhan (dengan ilmu dan amal yg dicontohkan Rsullulloh SAW). Rosululloh SAW bersabada "akhlaq suatu negara terletak pada wanita". Apabila para wanita di negara tersebut akhlaqnya baik dan sesuai dengan Sunnah Rosul maka bisa di pastikan pemerintahan di negara tesebut akan menjadi baik dan benar sesuai dengan apa yang di katakana Bapak Ahmad Sudirman cs yaitu sumber dari segala sumber hukum adalah Al-qur'an dan Al-hadits.

Kemudian kami berusaha meluruskan aqidah mereka (pejabat RI dan pendukungnya) dan ini sudah saya lakukan dengan banya berdakwah ke seluruh pelosok RI, juga kami telah menerbitkan berbagai majalah/buku islami. Inilah langkah pertama yang dilakukan Rosululloh SAW yaitu amar ma'ruf nahi munkar atau istilahnya bedakwah, dalam berdakwah maka kita harus sampaikan dengan hikmah dan bijaksana, tidak boleh memaki-maki, menghujat (seperti Bapak Ahmad cs terhadap Sukarno cs), tidak boleh berdemo seperti yang ada saat sekarang yang isinya merekapun banyak saling menghujat, tidak boleh melakukan kerusuhan seperti yang anda lihat sekarang, yang terpenting adalah dalam berdakwah kita tidak boleh memakai bendera negara kita yang di atasnamakan agama islam seperti NII (ini tidak pernah dicontohkan sama sekali oleh Rosululloh SAW), Nah apabila kita mau berdakwah dengan sungguh-sunguh berdasa ilmu dan amal maka Alloh SWT akan memberikan janji-Nya yaitu memberikan kita kekuasaan dan perlu di ingat ini adalah hasil apabila kita benar-benar beriman kepada-Nya. Kita tidak boleh mendeklarkan NII atau Negara Islam Aceh karena ini jelas bertentangan dengan sunnah. Rosululloh bersabada "Bukan termasuk golonganku orang yang menyeru kepada asyobiyah, bukan golonganku orang yg berjuang karena asyobiyah, bukan golonganku orang yg mati krn ashobiyah".

Sebagai seorang yang muslim maka seharusnya sangat senang apabila syariat islam ditegakkan di bumi ini dan memang kami mengharap agar Alloh SWT agar memberikan pemerintahan yang bersumberkan Al-qur'an dan Al-hadist. Sedangkan langkah konkret kami adalah berdakwah dengan berilmu, memberantas kebid'ahan dlm beragama.

Wallohu'alam bi showab

Wassalam

Rokmawan

rokh_mawan@yahoo.com
rokh-mawan@plasa.com
solo, jateng, Indonesia
----------