Stockholm, 7 Juli 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SUMITRO CERITA ACHEH ASAL CUAP
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SUMITRO DARIPADA MELANTUR CERITA ACHEH LEBIH BAIK BELAJAR DULU SEJARAH ACHEH DAN SEJARAH RI YANG BENAR KEMUDIAN NGAJI DI SURAU SANA

"Begini menurut pandangan saya apa yang dikatakan oleh saudara Rokhmawan bahwa GAM atau ASNLF sama dengan yang dilakukan oleh kaum Khawarij itu sebagian besar benar karena apa yang dilakukan oleh GAM/ASNLF sama parsis dengan yang dilakukan oleh kaum Khawarij dimana GAM itu sebenarnya seperti yang telah saya uraikan sebelumnya dalam milis ini telah terpecah dalam dua kubu yakni kubu Teungku Daud Beureueh dan pengikut2 setianya yang menginginkan perdamaian dengan pemerintah dan kubu Hasan Tiro yang ingin memisahkan diri dari NKRI. baiklah berikut ini saya akan menyampaikan sejarah bagaiaman kaum khawarij itu terbentuk dan saya yakin anda semua mungkin sudah mengetahuinya." (Sumitro mitro@kpei.co.id , Wed, 7 Jul 2004 08:43:06 +0700)

Baiklah saudara Sumitro di Jakarta, Indonesia.

Kelihatan saudara Sumitro cerita soal Acheh asal cuap saja. Kemudian mencoba pula untuk mengkutak-katik Khawarij biar bisa cocok dengan ASNLF atau GAM. Tetapi ketika tidak bisa cocok, dan hal itu telah juga dikutak-katik oleh saudara Rokhmawan, akhirnya, dipaksakan juga untuk dicocok-cocokan, seolah-olah bisa cocok.

Ya, contohnya saudara Sumitro dalam emailnya pagi ini, dengan mengkutak-katik Khawarij, dan memberikan sedikit ulasan tentang perjuangan Teungku Muhammad Daud Beureueh dihubungkan dengan perjuangan Teungku Hasan Muhammad di Tiro, maka jadilah ASNLF atau GAM, menurut kesimpulannya, mengikuti kesimpulan saudara Rokhmawan, sama seperti kaum Khwaraij.

Saudara Sumitro, daripada saudara mungkutak-katik tanpa ilmu tentang perjuangan rakyat Acheh, perjuangan Teungku Muhammad Daud Beureueh, perjuangan Teungku Hasan Muhammad di Tiro, yang ujung-ujungnya hanya melantur saja, maka lebih baik saudara Sumitro belajar yang benar sejarah Acheh, sejarah pertumbuhan dan perkembangan negara RI dan sejarah perjuangan Rasulullah dan para Sahabat, para tabi'in dan umat Islam pada umumnya.

Sekarang kembali kepada apa yang ditulis oleh saudara Sumitro diatas: "Begini menurut pandangan saya apa yang dikatakan oleh saudara Rokhmawan bahwa GAM atau ASNLF sama dengan yang dilakukan oleh kaum Khawarij itu sebagian besar benar karena apa yang dilakukan oleh GAM/ASNLF sama parsis dengan yang dilakukan oleh kaum Khawarij dimana GAM itu sebenarnya seperti yang telah saya uraikan sebelumnya dalam milis ini telah terpecah dalam dua kubu yakni kubu Teungku Daud Beureueh dan pengikut2 setianya yang menginginkan perdamaian dengan pemerintah dan kubu Hasan Tiro yang ingin memisahkan diri dari NKRI. baiklah berikut ini saya akan menyampaikan sejarah bagaiaman kaum khawarij itu terbentuk dan saya yakin anda semua mungkin sudah mengetahuinya"

Nah saya luruskan itu hasil kutak-katik saudara Sumitro tentang perjuangan Teungku Muhammad Daud Beureueh dan perjuangan Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

Sebenarnya telah berpuluh kali saya kemukakan mengenai perjuangan kedua beliu itu di mimbar bebas ini. Karena itu sekarang ini saya persingkat saja menguraikannya.

Ketika Presiden RIS Soekarno menelan, mencaplok, menduduki, dan menjajah Negeri Acheh melalui PP RIS No.21/1950 pada tanggal 14 Agustus 1950 dan PERPPU No.5/1950 tanpa keikhlasan, persetujuan, kesediaan seluruh rakyat Acheh dan pemimpin rakyat Acheh, maka tidak lama setelah itu Teungku Muhammad Daud Beureueh memproklamasikan Negara Islam Indonesia yang bebas dari pengaruh kekuasaan Pancasila atau Negara Pancasila atau RI atau NKRI di Acheh pada tanggal 20 September 1953 dan berada bersama Negara Islam Indonesia SM Kartosoewirjo di Jawa Barat.

Dalam langkah selanjutnya pada tanggal 8 Februari 1960 diputuskanlah pembentukan Republik Persatuan Indonesia (RPI) yang berbentuk federasi yang anggota Negaranya adalah Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara dan M. Natsir Cs, NII Teungku Muhammad Daud Beureueh, Perjuangan Semesta (Permesta).

Kelihatan bahwa untuk membangun Negara yang berbentuk federasi yang didalamnya terdiri dari berbagai aliran yang terdapat dalam setiap Negara bagian Federasi, yang disponsori oleh M.Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara adalah bertujuan untuk menampung sebanyak mungkin Daerah-Daerah lainnya yang menginginkan berdiri sendiri dan bergabung dalam RPI sebagai alternatif dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dibawah Soekarno. Ide yang dilontarkan oleh M.Natsir ini memang disetujui oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh. Sehingga NII masuk menjadi Negara bagian RPI.

Mengapa NII Teungku Muhammad Daud Beureueh masuk kedalam Republik Persatuan Indonesia (RPI) padahal NII Acheh berada dalam NII Jabar? Karena situasi dan kondisi yang sedemikian sulit untuk melakukan hubungan kenegaraan antara NII Acheh dan NII Jabar, sehingga langkah perjuangan selanjutnya tidak begitu terlihat, maka NII Acheh masuk kedalam RPI.

Berdirinya Republik Persatuan Indonesia tidak lama, dan pada tanggal 17 Agustus 1961 RPI dinyatakan lenyap, sedangkan NII Teungku Muhammad Daud Beureueh keluar dari RPI dua hari sebelum RPI dibubarkan, dan membentuk Republik Islam Acheh (RIA) pada tanggal 15 Agustus 1961. Dimana RIA Teungku Muhammad Daud Beureueh berdiri sendiri tidak punya hubungan struktur pemerintahan dengan pihak NII Imam SM Kartosoewirjo.

Perjalanan RIA selanjutnya adalah ketika terjadi Musyawarah Kerukunan Rakyat Acheh yang diselenggarakan pada bulan Desember tahun 1962 dan diikuti oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh yang diselenggrakan Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin.

Dimana prosesnya sebelum terjadinya Musyawarah Kerukunan Rakyat Acheh adalah ketika Soekarno memberikan amnesti dan abolisi kepada mereka yang dianggap memberontak kepada NKRI dengan batas akhir 5 Oktober 1961.

Pada tanggal 4 Oktober 1961 datang 28 orang delegasi dari wakil-wakil semua lapisan masyarakat, para ulama, pemuda, pedagang, tokoh-tokoh adat, termasuk wakil pemerintah resmi sipil dan militer menjumpai Teungku Muhammad Daud Beureueh di Markasnya dengan misi meminta kepada Teungku Muhamad Daud Beureueh demi untuk kepentingan masyarakat Aceh seluruhnya agar sudi kembali ketengah-tengah masyarakat untuk memimpin mereka. Batas waktu tanggal 5 Oktober berakhir, dengan mempertimbangkan harapan rakyat Aceh yang tulus dan jaminan-jaminan kebebasan beliau untuk melanjutkan perjuangan telah membuka pintu untuk perundingan. Dimana perundingan-perundingan ini berlangsung sampai sepuluh bulan.

Dan pada 9 Mei 1962 Teungku Muhammad Daud Beureueh bersama stafnya kembali ketengah-tengah masyarakat . (S.S. Djuangga Batubara, Teungku Tjhik Muhammad Dawud di Beureueh Mujahid Teragung di Nusantara, Gerakan Perjuangan & Pembebasan Republik Islam Federasi Sumatera Medan, cetakan pertama, 1987, hal. 97-98)

Itulah mengenai proses berjalannya sebelum Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh yang diselenggarakan pada bulan Desember tahun 1962 diselenggrakan Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin.

Disini berarti dengan kembalinya Teungku Muhammad Daud Beureueh ke Masyarakat dan mengikuti Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh yang diselenggarakan pada bulan Desember tahun 1962 oleh Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin, secara de-facto dan de-jure RIA yang diperjuangkan Teungku Muhammad Daud Beureueh telah hilang, karena telah dianggap kembali kepada NKRI dengan pancasilanya. Karena Teungku Muhammad Daud Beureueh telah kena jerat Soekarno Penguasa Negara Pancasila alias NKRI.

Nah, karena secara de-jure dan de-facto RIA sudah lenyap, maka Teungku Hasan Muhammad di Tiro mendeklarasikan ulang Negara Aceh sebagai lanjutan dari Negara Aceh yang telah dinyatakan lenyap kedaulatannya karena telah dijajah Belanda, Jepang dan NKRI.

Deklarasi Negara Aceh Sumatera pada tanggal 4 Desember 1976 merupakan deklarasi ulangan dari Negara Aceh Sumatera yang secara de-facto telah diduduki dan dijajah oleh Belanda, Jepang dan diteruskan oleh pihak RI atau NKRI.

Dimana deklarasi ulangan Negara Aceh Sumatera pada 4 Desember 1976 ini adalah sebagai penerus dan pelanjut Negara Aceh Sumatera yang pada waktu itu dipimpin oleh Panglima Perang Teungku Tjheh Maat yang meninggal dalam perang Alue Bhot, Tangse tanggal 3 Desember 1911. Dimana Teungku Tjheh Maat ini adalah cucu dari Teungku Tjhik di Tiro atau paman dari Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Sejak gugurnya Panglima Perang Teungku Tjheh Maat ditembak serdadu Belanda pada tanggal 3 Desember 1911, maka berakhirlah secara de-jure dan de-facto kekuasaan Panglima Perang Teungku Tjheh Maat yang memimpin Negara Aceh Sumatera dan jatuh secara de-facto dan de-jure ke tangan Belanda.

Nah, sebagai pelanjut dari Negara Aceh Sumatera yang telah hilang secara de-facto dan de-jure pada tanggal 3 Desember 1911 dari tangan Panglima Perang Teungku Tjheh Maat, maka Teungku Hasan Muhammad di Tiro pada tanggal 4 Desember 1976 meneruskan dan menghidupkan kembali Negara Aceh Sumatera melalui deklarasi ulangan Negara Aceh Sumatera yang bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI yang telah menduduki dan menjajah Negeri Aceh dari sejak tanggal 14 Agustus 1950 melalui tangan Presiden RIS Soekarno dengan menggunakan dasar hukum PP RIS No. 21/1950 dan PERPPU No.5/1950.

Dari penjelasan yang saya uraikan diatas, maka kelihatan bahwa apa yang ditulis oleh saudara Sumitro tentang perjuangan Teungku Muhammad Daud Beureueh dan perjuangan Teungku Hasan Muhammad di Tiro memang tidak benar dan telah menyimpang dari pada fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang sebenarnya.

Karena itu sepak terjang kedua pemimpin Acheh diatas tidak ada hubungan sedikitpun dengan apa yang dikatakan oleh saudara Sumitro dan saudara Rokhmawan sifat-sifat kaum Khawarij.

Walaupun saudara Sumitro dalam emailnya ini melampirkan cerita kaum Khawarij, jelas itu tidak nyambung dan tidak bisa dijadikan sebagai dasar dan alasan untuk menggolongkan ASNLF atau GAM kedalam golongan Khawarij.

Dan tentu saja, sekali lagi saya nyatakan disini adalah itu Pemerintah sekular RI atau NKRI yang hukum negaranya bersumberkan kepada pancasila yang dipimpin oleh Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati tidak bisa diqiaskan kepada Khilafah Islamiyah dibawah pimpinan Khalifah Utsman bin Affan dan juga tidak bisa diqiaskan kepada Khilafah Islamiyah dibawah pimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Terakhir, apapun yang dikutak-katik oleh saudara Sumitro dan saudara Rokhmawan tentang kaum Khawarij kemudian menggolongkan ASNLF atau GAM kedalam kaum Khawarij adalah salah fatal.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

From: Sumitro mitro@kpei.co.id
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, Serambi Indonesia <serambi_indonesia@yahoo.com>, Aceh Kita <redaksi@acehkita.com>, ahmad jibril <ahmad_jibril1423@yahoo.com>, balipost <balipost@indo.net.id>, waspada <newsletter@waspada.co.id>, PR <redaksi@pikiran-rakyat.com>, Pontianak <editor@pontianak.wasantara.net.id>, Hudoyo <hudoyo@cbn.net.id>, JKT POST jktpost2@cbn.net.id
Cc: rokh_mawan@yahoo.com, ahmad@dataphone.se
Subject: RE: ROKHMAWAN DAN SALAFI-NYA MENGKUTAK-KATIK KHAWARIJ
Date: Wed, 7 Jul 2004 08:43:06 +0700

Assalamu'allaikum,
Bapak2 dan Ibu2 sekalian..( cailehhh..kaya' pidato azah yach?)

Begini menurut pandangan saya apa yang dikatakan oleh saudara Rokhmawan bahwa GAM atau ASNLF sama dengan yang dilakukan oleh kaum KHAWARIJ itu sebagian besar BENAR karena apa yang dilakukan oleh GAM/ASNLF sama parsis dengan yang dilakukan oleh kaum KHAWARIJ dimana GAM itu sebenarnya seperti yang telah saya uraikan sebelumnya dalam milis ini telah terpecah dalam dua kubu yakni kubu Teungku Daud Beureueh dan pengikut2 setianya yang menginginkan perdamaian dengan pemerintah dan kubu Hasan Tiro yang ingin memisahkan diri dari NKRI. baiklah berikut ini saya akan menyampaikan sejarah bagaiaman kaum khawarij itu terbentuk dan saya yakin anda semua mungkin sudah mengetahuinya.

Perbedaan faham dalam Islam mulai berkembang dari sekedar masalah politik ke masalah theologi (aqidah) dan aspek-aspek lainnya di ujung kekhalifahan Ali r.a., khalifah keempat dan terakhir. Pada waktu itu terjadi perang saudara yang kedua yang disebut perang "Shiffien" antara pasukan pemerintahan Ali r.a. dengan pasukan pemberontak Mu'awiyyah. Pasukan Ali di bawah pimpinan Abu Musa Al-As'ari sudah akan berhasil mengalahkan pasukan Mu'awiyyah di bawah pimpinan Amr Ibn 'Ash. Namun karena siasat Amr Ibn 'Ash yang mengacungkan mushaf al-Qur'an diujung tombaknya sebagai tanda perdamaian, Abu Musa Al-As'ari menghentikan peperangannya. Khalifah Ali r.a. pun setuju diadakannya perdamaian itu. Terhadap usaha perdamain ini pasukan Ali terpecah, ada yang setuju dan ada yang tidak setuju dan bersikeras untuk melanjutkan pertempuran hingga mencapai kemenangan.

Perpecahan itu semakin tajam setelah ternyata perdamaian itu dianggap tidak fair dan menguntungkan kubu pasukan Mu'awiyyah. Sejarah kemudian mencatat bahwa pasukan Mu'awiyyah dapat mengalahkan pasukan Ali.

Pasukan Ali yang tidak menyetujui perdamaian itu bereaksi keras dengan menyatakan keluar (kharij) dari kubu Ali, sehingga mereka dikenal dengan sebutan kaum Khawarij. Kaum Khawarij ini lalu mengembangkan theologi tersendiri. Golongan yang setuju dengan sikap Ali tidak menerima pernyataan kelompok Khawarij ini dan mereka tetap setia kepada Ali dan bahkan mengkultuskannya. Mereka disebut golongan Syi'ah. Merekapun mengembangkan theologi tersendiri yang berbeda dengan theologi kaum Khawarij. Sementara itu kubu Mu'awiyyah yang memenangkan peperangan merasa berkepentingan untuk mempertahankan status quonya.

Karenanya merekamengembangkan paham theologi Jabariyah kepada kaum muslimin. Menurut faham ini ummat Islam harus pasrah kepada nasib dan tunduk kepada pemimpin mereka karena semua itu adalah ketetapan ('qada) dari Allah.

Seorang putra Ali bernama, Muhammad Ibn Ali al-Hanafiyyah menentang faham ini dengan menawarkan faham Qadariyyah. Pemikiran ini merupakan cikal-bakal lahinya faham Mu'tazilah yang dicetuskan oleh Ibn 'Atha', salah seorang murid Muhammad Ibn Ali al-Hanafiyyah. Faham ini menyatakan setiap manusia memiliki kebebesan penuh untuk menentukan nasibnya sendiri.

Perbedaan faham theologi (aqidah) yang bermula dari pertentangan politik itu ternyata menjalar ke aspek-aspek lain termasuk syari'ah, muamalah, syiasah, dsb. Hal ini cukup membingungkan ummat Islam. Di tengah-tengah maraknya perbedaan dan pertentangan itu muncullah pemikiran moderat, akomodatif dan jalan tengah yang ingin menyatukan berbagai faham itu dan mengembalikan ke ajaran Islam yang dibawakan Nabi Muhammad saw. Pemikiran ini dipelopori oleh Abu Sa'id Hasan Ibn Abi Yasar al-Bashri, dikembangkan oleh Abdullah Ibn Kullab dan al-Muhasibi serta dilanjutkan oleh Abu Hasan al-Asy'ari dan Abu Manshur al-Maturidi. Faham ini disebut "Ahlus Sunnah wal Jama'ah" yang dikenal juga dengan nama Sunni.

Dalam nama "Ahlus Sunnah wal Jama'ah" ada kata "Sunnah" dan "Jama'ah" yang memiliki arti penting. "Sunnah" yang dimaksud adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Rasulullah Muhammad saw baik yang berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, akhlak maupun perlikunya. Sedangkan "Jama'ah" adalah persatuan. Dengan demikian "Ahlus Sunnah wal Jama'ah" merupakan golongan orang-orang yang menghendaki persatuan ummat Islam dan ingin mengembalikan pemahaman keIslaman dengan segala aspeknya sesuai dengan apa yang diajarkan Nabi Muhammad saw yang bersumberkan dari al-Qur'an.

Mungkin dengan fahamnya ini dan karena sifatnya yang moderat, akomodatif dan jalan tengah Sunni telah bisa diterima oleh mayoritas ummat Islam disetiap kurun waktu dan tempat. Di Indonesia misalnya, hampir semua organisasi keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Perti, Persis, dsb menggunakan faham "Ahlus Sunnah wal Jama'ah" sebagai ruh perjuangannya.

Demikian tanggapan dari saya. Bila benar, datangnya dari Allah; kalau salah, semata karena kelemahan saya. Mohon dikoreksi bila terdapat kekeliruan dan mohon ma'af.

Wassalamu'alaikum wr. Wb

Sumitro

mitro@kpei.co.id
Jakarta, Indonesia
----------