Stockholm, 7 Juli 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ROKHMAWAN DAN SALAFI-NYA BELUM MAMPU MENDALAMI DAN MENGHAYATI AL-MAIDAH 44, 45, 47
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS MAKIN KELIHATAN ITU ROKHMAWAN DAN SALAFI-NYA BELUM MAMPU MENDALAMI DAN MENGHAYATI AL-MAIDAH 44, 45, 47

"Mereka semua bukan ahli maksyiat ambil contoh saja Amin Rais dia sering melakukan puasa daud dengan istiqomahnya, sholat tahajud dll. Yang jelas mereka semua seperti kita masih melakukan sholat, puasa, zakat, haji dll, hanya saja mereka khilaf dalam mengartikan pancasila sebagai sumber dari segala sumber hokum. Boleh saja bapak mengatakan dengan begitu mereka membuat tandingan Alloh SWT yaitu sistym islam diganti dengan system pancasila atau system kafir. Apabila seandainya mereka itu sudah di cap kafir itu adalah hanya hak Alloh SWT, makhluknya tidak boleh ikut andil dalam mengkafirkan orang islam. Dengan perkataan bapak yang mengatakan mereka itu termasuk orang kafir berarti sama saja bapak telah menggolongkan mereka masuk ke dalam neraka ? telah kita ketehui orang kafir baik kafir jimmy maupun harby akan masuk neraka selama-lamanya (na'udzubillahi min dzalik)." (Rokhmawan , rokh_mawan@yahoo.com , Tue, 6 Jul 2004 23:49:51 -0700 (PDT))

Baiklah saudara Rokhmawan di Solo, Jawa Tengah, Indonesia.

Kelihatannya saudara Rokhmawan dan Salafi-nya ini terus saja berputar-putar, tidak ada ujung pangkalnya. Mengapa ?

Karena pembicaraan ini diawali ketika membicarakan surat Al Maidah ayat 44, 45, 47. Kemudian setelah panjang lebar saudara Rokhmawan dan Salafi-nya menjelaskan, tetapi ternyata setelah dipelajari secara seksama tidak ada satu dasar hukum yang kuat yang bisa memberikan argumentasi bahwa pimpinan Pemerintah RI dari mulai Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati yang telah membentuk lembaga tandingan untuk membuat aturan, hukum, undang-undang disamping aturan, hukum, undang-undang Allah SWT dianggap sebagai yang bukan kafir, zhalim, dan fasik. Padahal tindakan itu bertentangan dengan dasar hukum yang telah diturunkan Allah SWT dalam surat Al Maidah ayat 44, 45, 47.

Inilah awal kunci permasalahan utama yang sebelumnya dilambungkan oleh saudara Husaini Daud di mimbar bebas ini. Kemudian saudara Rokhmawan dan Salafi-nya merembet kemasalah ASNLF atau GAM, Hizbut Tahrir, NII, LDII digolongkan kedalam kaum Khawarij, dengan tuduhan mempergunakan ayat-ayat diatas untuk dipakai mengkafirkan orang-orang diluar kelompoknya. Kan, jadinya salah kaprah.

Padahal yang menjadi dasar dan kacamata yang dipakai untuk melihat permasalahan para pimpinan di RI yang hukum negaranya bersumberkan kepada pancasila itu adalah sebagaimana yang telah digariskan dalam surat Al Maidah ayat 44, 45, dan 47 diatas yaitu dasar hukum dan sumber hukum. Bukan yang lainnya.

Nah, dari dasar pijakan tersebutlah diskusi ini saya kembangkan. Tetapi oleh saudara Rokhmawan diputar-putar kemana-mana, akhirnya menjadi ngawur. Sedangkan inti permasalahannya tidak saudara Rokhmawan dan Salafi-nya jawab, yaitu "apakah pimpinan Pemerintah RI dari mulai Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati yang telah membentuk lembaga tandingan untuk membuat aturan, hukum, undang-undang disamping aturan, hukum, undang-undang Allah SWT dianggap sebagai bukan kafir, zhalim, dan fasik, padahal tindakan itu bertentangan dengan dasar hukum yang telah diturunkan Allah SWT dalam surat Al Maidah ayat 44, 45, 47 ?."

Jelas, sebelum persoalan inti diskusi ini tidak bisa dijawab oleh saudara Rokhmawan dan Salafi-nya, maka arah dari diskusi untuk mencapai jalan kesamaan dengan mencari keridhaan Allah SWT, akan makin ngawur saja.

Saudara Rokhmawan dan Salafi-nya, kalau saudara mau melihat dan mempelajari secara mendalam bahwa ketika Rasulullah saw membangun Daulah Islam di Yatsrib, diteruskan oleh Khulafaur Rasyidin, kemudian dikembangkan oleh dinasti Umaiyah di Syria, lalu pusat Pemerintah Islam dipindahkan ke Bagdad, Irak oleh dinasti Abbassiyah, diteruskan oleh dinasti Fathimiyah, begitu juga pemerintahan Islam dikembangkan oleh dinasti Usmaniyah di Andaluzie, Spanyol, dan terakhir dijalankan oleh dinasti Usmaniyah di Turki sampai kejatuhannya pada tahun 1923.

Itu Pemerintahan Islam yang dijalankannya dari mulai masa Rasulullah saw sampai kepada masa dinasti Usmaniyah di Turki semua dasar hukum dan sumber hukumnya bersumberkan kepada Islam atau bersumberkan kepada Al Qur'an dan Sunnah.

Sedangkan setelah lenyapnya kekhilafahan yang ada di Turki ini, semua negara termasuk juga negara RI atau negara pancasila ini dasar hukum dan sumber hukum negaranya adalah bersumberkan kepada yang non Islam. Kalau di Negara RI bersumberkan kepada pancasila.

Nah, inilah yang saya sorot dalam diskusi ini, yakni yang menyangkut masalah yang telah diterangkan dalam surat Al Maidah ayat 44, 45, 47.

Karena itulah saya selalu menyatakan bahwa Negara RI atau Negara Pancasila yang sumber hukumnya pancasila tidak bisa diqiaskan kepada Khilafah Islamiyah dimasa Khalifah Utsman bin Affan dan masa Khalifah Ali bin Abi Thalib. Mengapa ?

Karena jelas, saudara Rokhmawan semua hadist yang ada yang menyangkut masalah ketatanegaraan itu adalah berdasarkan kepada Pemerintahan dari sejak masa Rasulullah saw sampai kemasa dinasti Abbassiyah kemudian diqiaskan kepada masa dinasti Usmaniyah di Turki.

Jadi inilah awal dan fokus inti diskusi, kalau saudara Rokhmawan dan Salafi-nya belum mampu dan tidak sanggup menjawabnya, maka jelas, arah selanjutnya diskusi tidak akan nyambung: Mengapa ? karena saudara Rokhmawan dan Salafi-nya masih belum sanggup menjawab apa yang telah diturunkan Allah SWT dalam surat Al Maidah ayat 44, 45, 47. Sehingga mengawur dan dengan mudah menggolongkan orang atau kelompok yang percaya dan yakin dengan surat Al Maidah ayat 44, 45, 47 ini dan ada diluar Salafi dianggap dan digolongkan kepada kaum Khawarij.

Selama saudara Rokhmawan dan Salafi-nya tidak sanggup dan tidak bisa menjawab pertanyaan diatas tersebut, maka apa yang telah saya jelaskan dalam tulisan-tulisan sebelum ini tidak akan nyambung. Karena saudara Rokhmawan sendiri makin berputar-putar. Apalagi sampai berputar-putar dan membawa-bawa "contoh saja Amin Rais dia sering melakukan puasa daud dengan istiqomahnya, sholat tahajud dll. Yang jelas mereka semua seperti kita masih melakukan sholat, puasa, zakat, haji dll, hanya saja mereka khilaf dalam mengartikan pancasila sebagai sumber dari segala sumber hokum."

Kan jadi tidak benar apa yang dijadikan contoh oleh saudara Rokhmawan itu. Padahal yang dijadikan dasar utama yang dipakai menyorot ini adalah Negara RI yang hukum negaranya berdasarkan dan bersumberkan pada pancasila bukan pada Islam. Kemudian oleh para pimpinan RI sumber hukum pancasila dijadikan sebagai alat tandingan dalam pembuatan aturan, hukum, undang-undang disamping aturan, hukum, undang-undang Allah SWT. Dan perbuatan yang dilakukan oleh pemimpin RI itulah yang dijelaskan dan diterangkan dalam ayat 44, 45, 47 surat Al Maidah.

Apakah memang pimpinan RI itu khilap ketika menetapkan, memutuskan aturan, hukum, undang-undang di DPR, MPR yang kesemuanya tidak menurut aturan, hukum, undang-undang yang diturunkan Allah SWT ?.

Pernah saudara Abu Asadurrahman menulis dan dikirimkan oleh saudara Suparmo di Jakarta, Indonesia kepada saya menyatakan: "Yang jadi masalah adalah bukan Amirnya masih shalat atau dzalim saja, dasar hukum negara itu apa? Dan bagaimana si pemimpin dalam berhukum?. Dibawah dinukilkan dari kitab Al-wala wal baraa' tentang hukum. Tentang "berhukum". Ibnu-Qayyim telah menyebutkan bahwa berhukum atau memutuskan perkara tidak dengan apa yang diturunkan Allah, maka ia telah kufur tidak sebagaimana lazimnya kufur.

Sejak berdirinya masyarakat Islam di tangan Rasulullah saw, hukum sudah ditegakkan berdasarkan syariat Allah. Sesudah itu diteruskan Khulafaur Rasyidin dan dinasti Umaiyah. Meskipun dimasa ini mulai muncul sebagian penyimpangan, hanya saja dasar hukum yang dipakai manusia untuk memutuskan perkara tetap syariat Allah. Dasar hukum ini melindungi mereka dan memelihara mereka dengan keadilannya. Kemudian datang dinasti Abbassiyah. Ketentuan syariat tetap merupakan aturan hukum, meskipun muncul celah-celah kosong yang sangat kuat. Lalu datang bangsa Tartar dan Hulako yang mengobrak-abrik mereka. Dengan melihat masalahnya yang seperti itu, maka ucapan para Salaf, termasuk Ibnu-Qayyim, bisa dikatakan tidak ada yang ternoda sama sekali. Andaikata ada pemimpin yang memutuskan perkara karena dipengaruhi sogok atau hubungan kerabat atau permohonan tertentu atau yang lainnya, maka tidak diragukan bahwa perbuatannya itu merupakan kekufuran yang tidak sebagaimana lazimnya kufur.

Sedangkan apa yang nampak dalam kehidupan kaum Muslimin, dan ini yang pertama kali terjadi dalam sejarah mereka, yaitu menyingkirkan syariat Allah, menganggapnya ketinggalan jaman dan mundur, tidak sesuai dengan proses peradaban dan jaman modern.

Nukilan lbnul-Qayyim sendiri dan perkataan Imam Ahmad yang menyatakan: "Sehingga datang masalah yang tidak jauh berbeda dengan bentuk kekufuran itu."Benar. Ternyata memang muncul masalah yang tidak jauh berbeda, bahwa menyingkirkan syariat, menganggapnya terbatas dan kurang. Sedangkan undang-undang modern lebih komplit dan bisa mensejajari kehidupan modern, merupakan kufur yang sangat jelas.

Ucapan Ibnu-Qayyim sendiri, bahwa kufur yang tidak seperti lazimnya kufur (kufrun duuna kufrin). Lebih cocok bagi pemimpin yang mengikuti Islam dan syariatnya. Bila ia bertentangan dengan nash, maka dialah yang lebih tepat dikenai hukuman ini. Berarti hal ini tidak berlaku bagi orang yang menggantikan syari'at Allah dengan undang-undang.

Para ulama dahulu maupun sekarang sudah sepakat bahwa masalah pengharaman, penghalalan dan penentuan hukum, khusus merupakan kekuasaan Allah. Barangsiapa yang mengaku ia juga bisa berbuat seperti itu, berarti dia telah mengangkat dirinya sebagai sesembahan dan menjadikan dirinya sebagai tandingan selain Allah.

Menyampingkan syariat Allah dan menempatkan nafsu manusia pada kedudukan syariat termasuk sebagian perbuatan yang dikafirkan para ulama dahulu maupun sekarang, sebab hal ini terang-terangan mendatangkan mudharat terhadap agama. "Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. " (Al-A'raf: 54).

Salah seorang ulama kaum Muslimin, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Ali Asy-Sysikh menjelaskan perkataan Imam Ahmad: "Sehingga datang masalah yang tidak jauh berbeda dengan kekufuran itu", sebagai berikut:"Di antara kekufuran yang besar dan sangat jelas ialah menempatkan undang-undang yang terlaknat pada kedudukan wahyu yang diturunkan Jibril ke hati Muhammad saw, agar beliau menjadi salah seorang pemberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas. (lihat Tahkimul-kawanin, Mathabi'utsaqofah, Mekkah hal 1.)

Pernyataan Ibnu-Qayyim dalam bukunya Madarijus-Salikin. Setelah menjelaskan panjang lebar masalah hukum, ia berkata, "Yang benar, memutuskan perkara dengan selain apa yang diturunkan Allah memungkinkan tersesat pada dua macam kufur: kecil dan besar, tergantung pada keadaan orang yang memutuskan perkara. Bila ia percaya kewajiban memutuskan perkara seperti apa yang diturunkan Allah, namun ia berbuat adil dan menyadari hukuman baginya, maka ini disebut kufur kecil. Bila ia percaya tidak harus berhukum seperti apa yang diturunkan Allah, namun ia juga percaya bahwa hukum itu datang dari Allah, maka ini dinamakan kufur besar. Bila ia memutuskan perkara karena tidak tahu tentang apa yang diturunkan Allah dan salah, maka ia dihukumi sebagai orang yang bersalah. (Madarijus-salikin 1/337).

Syaikhul-Islam Ibnu Thaimiyah berkata dalam buku Minhajus Sunnah: "Tidak diragukan lagi bahwa orang yang tidak percaya tentang kewajiban memutuskan hukum seperti apa yang diturunkan Allah terhadap Rasul-Nya, dia adalah orang kafir. Barangsiapa yang memperkenankan untuk memutuskan hukum di antara manusia dan menganggapnya sudah adil tanpa harus mengikuti apa yang diturunkan Allah, adalah orang kafir. Setiap umat tentu memerintahkan agar membuat hukum yang adil. Bisa jadi keadilan dalam masalah agama dilihat dari apa yang dibuat oleh para pemimpin mereka. Bahkan banyak orang-orang yang mengaku Islam, memutuskan hukum berdasarkan tradisi, tidak seperti yang diturunkan Allah, sebagai mana tradisi di kalangan orang-orang badui. Mereka beranggapan bahwa itulah yang harus diperbuat dalam memutuskan hukum di samping Kitab dan Sunnah. Ini juga dinamakan kufur. Memang banyak orang yang masuk Islam. Tapi mereka tidak memutuskan hukum kecuali berdasarkan tradisi-tradisi yang berlaku. Andaikata mereka mengetahui bahwa mereka tidak boleh berhukum kecuali kepada apa yang diturunkan Allah, tapi mereka tetap tdak mau mengikutinya, dan justru mereka berhukum kepada selain apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.(Majmu'atut-tauhid hal 278)

Ibnu-Qayyim menafsiri ayat ini: "Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam", sebagai berikut: "Persamaan ini dalam masalah kecintaaan, penyembahan dan mengikut hukum yang mereka putuskan, bukan dalam masalah penciptaan, kekuasaan dan ketuhanan. Inilah persekutuan yang dikabarkan Allah tentang orang-gorang kafir, seperti firman-Nya: "Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, mengadakan gelap dan terang, namun orarg-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Rabb mereka." (AI-An'am:1). Maksud ayat ini : Mereka menjadikan sekutu bagi Allah, lalu mereka mencintai, mensucikan dan manyembahnya, sebagaimana mereka menyembah Allah. Persamaan antara Allah dan sekutu yang mereka maksudkan disini bukan pada masalah perbuatan dan sitat tapi dalam hal kecintaan, sembahan dan pengagungan, yang tentunya dengan mengakui perbedaan di antara keduanya. Untuk membenarkan hal ini ialah dengan membenarkan syahadah laa ilaaha illallah.

Di antara yang bisa memperjelas hakikat penggunaan undang-undang yang menggantikan kedudukan hukum syariat, apa yang telah dikatakan para ulama bahwa kufur I'tiqady dibagi menjadi lima macam yaitu:

1. Kufur takdzib. Artinya meyakini adanya kedustaan pada diri para Rasul. Kufur semacam ini sangat sedikit menghinggapi pikiran orang-orang kafir. Yang jelas Allah telah menguatkan para Rasul dan memberi penjelasan serta bukti penguat tentang kebenaran mereka, yang bisa dijadikan hujjah dan menyingkirkan bantahan. Allah telah berfirman tentang Fir'aun dan kaumnya : "Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." (An-Naml: 14). Allah juga berfirman yang ditujukan kepada Rasulullah saw: "Sebenarnya mereka bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang yang zhalim itu, mengingkari ayat-ayat Allah. "(Al- An'am: 33)

2. Kufur iba' atau istikbar, seperti kufurnya lblis, termasuk pula orang yang mengetahui Rasul tapi tidak mau tunduk kepadanya karena enggan dan sombong. Jenis kufur ini sering terjadi pada diri orang-orang yang memusuhi para Rasul, seperti firman Allah tentang Fir'aun dan kaumnya: "Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita juga padahal kaum mereka (bani Israel) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?" (Al-Mukminun:47).

3. Kufur i'radh, seperti orang yang berpaling dari Nabi saw, tidak mau mendengarkannya, tidak membenarkannya tapi juga tidak mendustakannya, tidak mencintainya tapi juga tidak memusuhinya serta tidak mau memperhatikan apa yang beliau sampaikan sama sekati. Hal ini seperti yang dikatakan salah seorang dari bani Abdi Yalail kepada Nabi: "Bila engkau benar, maka engkau terlalu agung dalam pandanganku bila aku harus membantahmu. Dan bila engkau dusta, maka engkau terlalu hina bila aku harus berkata-kata denganmu"

4. Kufur syak seperti sikap orang yang tidak yakin untuk membenarkan Nabi saw tapi juga tidak yakin untuk mendustakan beliau. Dia ragu-ragu. Sebenarnya keragu-raguan ini ticlak akan berlanjut kecuali bila memang ia sengaja memalingkan diri dari bukti-bukti penguat kebenaran Rasulullah saw secara keseluruhan. Bila ia mau memperhatikan bukti-bukti penguat itu, tentu ia ticlak akan ragu-ragu.

5. Kufur nifaq. Artinya: memperlihalkan iman dengan ucapan, namun didalam hatinya terpendam kedustaan. Inilah kemunafikan yang paling besar. (Abu Asadurrahman, Australia , January 14, 2002 +0700 09:52 +0700)

Jadi saudara Rokhmawan, apabila saudara dan Salafi-nya masih juga belum mampu dan masih juga tidak bisa menjawab pertanyaan, saya ulangi lagi disini: "Apakah pimpinan Pemerintah RI dari mulai Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati yang telah membentuk lembaga tandingan untuk membuat aturan, hukum, undang-undang disamping aturan, hukum, undang-undang Allah SWT dianggap sebagai bukan kafir, zhalim, dan fasik, padahal tindakan itu bertentangan dengan dasar hukum yang telah diturunkan Allah SWT dalam surat Al Maidah ayat 44, 45, 47 ?", maka arah diskusi selanjutnya hanya ngawur saja. Karena saudara dan Salafi-nya terus ngotot mempertahankan pendapatnya sendiri, dan menganggap orang-orang atau kelompok yang ada diluar kelompok saudara dan Salafi-nya sebagai golongan Khawarij.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Tue, 6 Jul 2004 23:49:51 -0700 (PDT)
From: rohma wawan rokh_mawan@yahoo.com
Subject: assalaamu'alaikum wr.wb
To: ahmad@dataphone.se
Cc: om_puteh@hotmail.com, narastati@yahoo.com, JKamrasyid@aol.com, mubasysyir@plasa.com, dityaaceh_2003@yahoo.com, yuhe1st@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com, habearifin@yahoo.com, editor@jawapos.co.id, suparmo@tjp.toshiba.co.jp, siliwangi27@hotmail.com, sea@swipnet.se, solopos@bumi.net.id, Padmanaba@uboot.com, kompas@kompas.com, mitro@kpei.co.id, yusrahabib21@hotmail.com, imarrahad@eramuslim.com

Assalaamu'alaikum Wr.Wb
Bismillahirrohmaanirrohiim

" Ikutilah sunnahku dan sahabatku, barangsiapa mengada-adakan suatu perkara dalam beragama berarti bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat dan setiap sesat adalah neraka".

Bapak Ahmad Sudirman dalam berdiskusi memang anda pintar sekali tetap sayangnya anda selalu lari dari permasalahan yang utama yaitu bahwasanya sesungguhnya kami mengelompokkan NII, GAM/TNA, LDII, Hizbut Tahir ke dalam kelompok kaum khowarij berdasarkan ilmu sejarah, bukti, fakta, dalil aqli dan dalil naqli yang shohih, kami mengelompokkan bukan karena mereka di luar jamaah kami melainkan mereka memang cirri-cirinya (kaum khowarij dulu) ada pada mereka. Jadi jangan salahkan kami kalau mengelompokkan jamaah anda ke kaum khowarij, sudah saya bilang kalau NII, GAM/TNA tidak mau dikatakan kaum khowarij yaaa seharusnya kejahilan-kejahilan yang ada pada anda dan cirri-ciri yg lain segera dihilangkan.

Anggota kami pernah ada yang ditugasi oleh ustadz kami ke NAD dan ternyata setelah berada di Aceh selama kurang lebih 1 bulan mereka menyimpulkan bahwasanya GAM/TNA banyak juga yang melakukan pemerasan kepada penduduk aceh terutama orang kaya yang buaka asli aceh, apabila tidak mau memberikan sumbangan maka GAM ini tidak segan-segannya menganiaya penduduk tadi, GAM juga ada yg menjual ganja begitupula dengan TNI. Kenapa GAM dan TNI bisa melakukan begitu, dikarenakan mereka GAM dan TNI yg melakukan kejahatan thd penduduk sipil tersebut termasuk orang yang tidak berpangkat. Misal ada pemuda pengangguran di aceh yang
pemahaman agamanya minim langsung ikut-ikutan saja bergabung ke GAM begitu dia tahu kalau GAM ditakuti penduduk yang tidak pro dengan aceh dengan seenaknya dia memanfaatkan kesempatan yaitu memeras, menjual ganja dll, begitupula yang terjadi dengan TNI, dia adalah orang-orang yang merasa tidak diperhatikan Pemerintah terutama dalam masalah kebutuhan pangan, finansial dll. Mungkin bapak akan menolak anggapa ini dengan keras-keras dan mengatakan ini adalah fitnah. Ya...mana mungkin pencuri dikatakan pencuri dan seandainya bapak pergi langsung ke NAD maka bapak baru akan percaya. Selama ini bapak mendapat informasi hanya dari GAM/TNA. Sedangkan kami mendapatkan informasi adalah dengan terjun langsung ke NAD, yang kami tidak mendukung siapa-siapa, tidak berpihak kpd GAM maupun TNI, sedangkan bapak jelas sekali berpihak kepada GAM dan memusuhi RI, jelas sekali di saat ada yang tahu akan
boroknya GAM maka dengan segala argumen dan memutarbalikkan fakta, bapak akan segera menyanggahnya. Bukankah begitu pak ?

Kita kembali kpd permasalahan di atas yaitu NII, GAM/TNA, Hizbut Tahir, LDII merupakan harakah yang terjangkiti virus khowarij dan boleh dikatakan walau tidak ada hubungan sama sekali dengan kaum khowarij dulu tetapi mereka sebenarnya adalah kaum khowarij, ini karena cirri-ciri kaum khowarij dulu ada pada kelompok mereka dan dipegang erat-eratnya seperti Jahil thd fitarah manusia, jahil thd ilmu fiqih yang bersumber hadist shohih, jahil thd syariat islam yang begitu banyak, mengkafirkan orang islam dll. Kemudian telah kita ketahui di RI ini banyak sekali jamaah yang tidak saya golongkan kepada kaum khowarij seperti NU, Muhammadiyah, Ikwanul Muslimin
dll dikarenakan memang mereka tidak memiliki cirri-ciri kaum khowarij yg dulu walaupun satu saja. Bukankah kami tidak seperti yang bapak kira bahwasanya saya menggolongkannya ke kaum khowarij dikarenakan diluar jamaah kami ? Sekali lagi pelajari itu pengertian kaum khowarij dan cirri-cirinya. Dan alangkah baiknya mulai detik saat ini hapus saja cirri-ciri kaum khowarij yg ada pada NII, GAM/TNA, cukup itu saja...

Kemudian karena bapak Ahmad lari dari pokok permasalahan yaitu NII, GAM/TNA, LDII dll adalah kaum khowarij maka dia langsung mengalihkan perhatiannya ke arah pemerintahan megawati cs ( ini adalah salah satu strategi ulama syiah dll ). Bapak Ahmad anda jangan menulis yang tidak-tidak, mana ada itu Rokhmawan ingin mempertahankan pemerintahan megawati cs/pendudukan RI di aceh (tunjukkan tulisan saya yang mengatakan dengan tegas bahwasanya saya mempertahankannya), pasti tidak bisa. Karena bapak ahmad ini kalau menulis asal-asalan saja tanpa mempelajari dengan sunguh-sungguh tulisan-tulisa saya ( ini mirip sekali dengan saudari tati cs ketika mengomentari bapak ahmad).

Kemudian telah bapak tulis sendiri yang intinya Rosululloh SAW ketika berdakwah di mekah dilakuka dengan sunguh-sungguh, tanpa kenal lelah. Begitu pula dengan manhaj kami, dalam berdakwah kami tidak hanya menerbitkan buku/majalah islami saja melainkan kami juga sering berdakwah kesana-kemari seperti mengisi pengajian umum dll, kami sering menyinggung masalah aqidah, pemerintahan islam dll, kami juga memberantas kebid'ahan (yang jelas walaupun negara kita negara islam Indonesia tetapi manakala amalan bid'ah sering dilakukan pemerintahan dan warganya, jelas dia adalah sesat dan setiap sesat adalah neraka).

Kemudian bapak mengatakan bagaimana mungkin Rokhmawan dan grupnya bisa berhijrah ? inilah pemahaman yang sempit sekali (lihat cirri-ciri kaum khowarij). Memang Hijrah artinya secara harafiah adalah pindah tetapi maksud yang sesungguhnya adalah pindah dari amalan keburukan kepada amalan kebaikan (pergi menuju ke hal yg baik dari hal yg jelek).

Kemudian bapak Ahmad mengatakan yang intinya Rokhmawan cs kebingungan ketika melihat megawati cs tetap mempertahankan pancasila ? manamungkin Rokhmawan cs bingung, justru yang kebingungan itu pak ahmad buktinya lihat saja di mimbar bebas ini ( dia banyak menghujat sukarno cs), padahal telah kita ketahui menghujat orang yang masih islam (sholat, puasa dll) tidak di benarkan dalam alqur'an (lihat terjemahan surat al-hujurot ayat 11). Rosululloh SAW bersabda " Apabila umatku sudah mengagungkan dunia maka akan hilang kehebatan islam, apabila umatku sudah meninggalkan amar ma'ruf nahi munkar maka akan hilang keberkahan wahyu, apabila umatku saling mencacimaki/menghujat maka akan jatuh dalam pandangan Alloh". Nahh khan kenapa sekarang banyak kaum muslimin saling menghujat, menjelek-jelekan lebih-lebih kepada orang yang sudah tiada (ini tidak dicontohkan Rosul).

Mungkin bapak Ahmad akan bertanya lha kenapa Rokhmawan juga seenaknya menggolongkan kami kedalam khowarij ? Sudah saya bilang ini menurut cirri-ciri yang ada pada NII, GAM/TNA, LDII dll. Alloh SWT sendiri menegur kepada Rosululloh SAW "Ajaklah mereka kepada agama-Ku (yaa Muhammad) dengan hikmah dan bijaksana dan bantahlah mereka dengan yang lebih bijaksana.........". Kemudian Alloh juga menegurnya "Apakah akan kau paksakan mereka untuk beriman kepadaku". Kemudian Alloh menegurnya lagi "Seandainya kamu berlaku kasar maka mereka akan lari". Bapak Ahmad, ini umat islam yang saling menghujat saja akan jatuh dalam pandangan Alloh SWT, bagaimana kalau umat islam sudah saling mengkafirkan ? Yang berhak mengkafirkan orang islam itu hanya Alloh SWT, sedangkan Rosululloh SAW sendiri tidak pernah mengkafirkan orang islam yang banyak bermaksyiat.

Baiklah akan saya kisahkan perjalanan Rosululloh SAW di saat isro' mi'roj, Rosululloh SAW ketika melihat ahli maksyiat berada di syurga tetapi ahli ibadah (dlm pengertian luas) berada di neraka, maka Rosululloh SAW bertanya kepada jibril, mengapa bisa demikian hai jibril ? Malaikat jibrilpun berkata ketika hidupnya si ahli maksyiat tsb bertanya kepada ahli ibadah, apakah Alloh bisa mengampuni dosa-dosaku, maka si ahli ibadah tsb menjawab tempatmu adalah neraka, kamu tidak akan diampuni Alloh SWT karena dosamu yang begitu banyak dan besar, kamu termasuk orang-orang kafir. Akan tetapi si ahli maksyiat tsb tetap mengharap rahmat Alloh SWT agar dia bisa dmasukkan ke syurga-Nya.

Nah khan...orang yang ahli maksyiatpun masih diberi kesempatan untuk masuk syurga, tentunya ketika nyawanya sebelum dikerongkongan dia bertaubat dulu kpd Alloh SWT. Terpaksa saya akan membela orang-orang yang anda katakan kafir, seperti SBY, Amin Rais, Hamzah Haz, Megawati dll termasuk pengikutnya.

Mereka semua bukan ahli maksyiat ambil contoh saja Amin Rais dia sering melakukan puasa daud dengan istiqomahnya, sholat tahajud dll. Yang jelas mereka semua seperti kita masih melakukan sholat, puasa, zakat, haji dll, hanya saja mereka khilaf dalam mengartikan pancasila sebagai sumber dari segala sumber hokum. Boleh saja bapak mengatakan dengan begitu mereka membuat tandingan Alloh SWT yaitu sistym islam diganti dengan system pancasila atau system kafir. Apabila seandainya mereka itu sudah di cap kafir itu adalah hanya hak Alloh SWT, makhluknya tidak boleh ikut andil dalam mengkafirkan orang islam. Dengan perkataan bapak yang mengatakan mereka itu termasuk orang kafir berarti sama saja bapak telah menggolongkan mereka masuk ke dalam neraka ? telah kita ketehui orang kafir baik kafir jimmy maupun harby akan masuk neraka selama-lamanya (na'udzubillahi min dzalik).

Jangan di bilang orang yang berbuat dosa besar itu hanya mereka yang tidak berhukum kepada hokum Alloh SWT, dosa besar itu banyak pak syirik, zinah, mencuri, meninggalkan sholat dll. Sudah jelas saya terangkan dalam Tingkatan-tingkatan Amal seseorang di syurga (baca lagi dan renungkanlah), di sana dikatakan tingkatan di syurga nomer dua dari bawah adalah mereka yg banyak berdosa baik dosa besar kecuali syirik maupun dosa kecil tetapi adakalanya mereka berbuat
keshalehan walau sekecil dzarroh. Bapak mungkin akan berkata mereka itu telah melakukan kesyirikan karena mereka berhukum kepada hokum selain Alloh. Bapak baca lagi sejarah kaum khowarij dengan seksama ya pak...

Namun seandainya mereka itu dikatakan syirik maka masih ada kemungkinan untuk bertaubat sebelum nyawa dikerongkongan, sedangkan yang terjadi pada pihak GAM/TNA, NII dlll yang mereka lakukan adalah bid'ah, memecah belah umat islam dll. Dan hal ini sulit untuk bertaubat karena "syaiton lebih mencintai amalan bid'ah daripada amalan syirik".

Naaah khan....Semua ini yang mengatakan, yang berpendapat bukan saya melainkan Manhaj kami berdasarkan sejarah/ilmu, dalil aqli dan dalil naqli yang shoheh, fakta dan bukti. Seandainya bapak tidak ingin GAM/TNA, NII dicap ke dlm golongan kaum khowarij maka tunjukkan sejarah
(jangan dibuat-buat), fakta, buktinya. Paling-paling bapak hanya bisa mengatakan pemerintahan mega tidak bisa di kiaskan seperti pemerintah ali (kalau yg ini saya sudah tahu, faham bin mahfu) dan apakah khowarij dulu ingin membebaskan dari penjajahan pemerintahan ali ?. Paling bapak bisanya hanya menampilkan dua bukti itupun buktinya tidak kuat sama sekali (ketahuan kalau bapak ahmad hanya akan lari dari kaum khowarij). Seandainya itu dianggap juga bukti kuat maka masak bukti dua bisa mengalahkan bukti, cirri-ciri yang begitu banyak dan fakta, dalil aqli serta
dalil naqli yg shoheh.

Bapak Ahmad mau lari kemana lagi.... Saya sarankan kepada bapak berantas itu kebid'ahan yang ada pada GAM/TNA, NII sebelum bapak melangkah jauh. Kemudian kalau bapak ahmad mau berdiskusi melawan Rokhmawan sertakan sejarah/ilmu, bukti, fakta, dalil aqli, dalil naqli yg shoheh, jangan seperti saudara sumitro cs ketika berdebat dengan bapak yang ingin mempertahankan pancasila, aceh tanpa sejarah, hukum, bukti dan fakta.

Wallohu'alam bi showab
Rokmawan

rokh_mawan@yahoo.com
rokh-mawan@plasa.com
solo, jateng, Indonesia
----------