Stockholm, 8 Juli 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

PDSD ACHEH & POLRESTA BANDA ACHEH SEENAKNYA MENAHAN & MENYIKSA SAMPAI MATI TGK M. JOHAN
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

PENGUASA DARURAT SIPIL DAERAH ACHEH & POLRESTA BANDA ACHEH SEENAKNYA MENAHAN DAN MENYIKSA SAMPAI MATI TGK M.JOHAN

"Tentara Negara Acheh mengutuk dengan sekeras-kerasnya tindakan biadab TNI/Polri yang telah menjalankan berbagai kelakuan primitif dan kejahatan kemanusiaan di Acheh" (Sofjan Dawood, Jurubicara Tentara Negara Acheh, 7 Juli 2004). "Saya Tgk. Hamzah, memberitahukan, bahwa mertua saya, Tgk. Johan telah meninggal akibat penganiayaan berat. Meninggal semalam pukul 1 malam Rabu. Beliau ditangkap tanggal 2, jam 11 malam. Almarhum dituduh sebagai Bupati Acheh Rayeuk" (T Hamzah, Panglima GAM Gajah Keng, Pesan SMS, 7 Juli 2004). "Masalah ini tolong jangan diekspos. Tolong" (AKP Sigit Maryanta, Kasat Intelkam Polresta Banda Aceh, bicara per telepon, 7 Juli 2004)."

Memang kelihatan, makin hari, makin menjadi-jadi itu Penguasa Darurat Sipil Daerah Acheh yang dibantu oleh aparat Polresta Banda Aceh dalam melakukan kejahatan pendudukan dan penjajahan di Negeri Acheh.

Coba perhatikan saja, itu Teungku M. Johan usia 67 tahun salah seorang veteran yang mendapat gaji dari NKRI tetapi dituduh sebagai anggota GAM dan celakanya itu Koporesta Banda Aceh, AKBP Eko Daniyanto asal Jawa, memasukkan Teungku M. Johan menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO) dengan dugaannya sebagai Bupati GAM Aceh Besar (Rayeuk). Akhirnya itu Teungku M. Johan ditangkap tanggal 2 Juli 2004, jam 11 malam oleh aparat Polresta Banda Aceh atas hasil laporan intelijen Intelkam Polresta Banda Aceh.

Teungku M. Johan yang sudah lanjut usia itu bukan hanya ditahan dan di interogasi begitu saja, melainkan disiksa pula, sehingga orang tua itu yang sudah lemah phisiknya itu tidak sanggup mempertahankan dari tekanan psikis dan siksaan phisiknya yang dilakukan oleh aparat Polresta Banda Aceh.

Akhirnya, ketika dibawa ke Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin, Selasa sore, 6 Juli 2004, itu Teungku M. Johan pada hari besoknya, pukul 1 malam Rabu, 7 Juli 2004 menghembuskan nafasnya yang terakhir. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Semoga amal ibadah dan perjuangan Teungku M. Johan diterima Allah SWT, dan pihak penjajah RI dan TNI/POLRI-nya dapat segera keluar dan berakhir di Negeri Acheh, amin.

Nah, dari apa yang telah dilakukan oleh Penguasa Darurat Sipil Daerah Acheh yang dibantu oleh aparat Polresta Banda Aceh terhadap Teungku M. Johan ini adalah merupakan satu gambaran bagaimana sebenarnya pihak penjajah RI melalui wakilnya PDSD Acheh dan aparat Polresta Banda Aceh telah melakukan tindakan sewenang-wenang dengan cara menduga dan menahan seseorang rakyat Acheh dengan alasan sebagai anggota GAM dan dituduh sebagai Buptai GAM yang tanpa fakta dan bukti yang jelas, benar dan kuat.

Karena itu wajarlah kalau itu AKP Sigit Maryanta, Kasat Intelkam Polresta Banda Aceh, menyatakan per telepon pada 7 Juli 2004: "Masalah ini tolong jangan diekspos. Tolong"

Mengapa itu AKP Sigit Maryanta, Kasat Intelkam Polresta Banda Aceh menyatakan seperti itu ? Karena itu AKP Sigit Maryanta telah dengan seenak udel-nya menduga dan menahan Teungku M. Johan veteran yang mendapat gaji dari NKRI tetapi dituduh sebagai anggota GAM dan dituduh pula sebagai Bupati GAM Aceh Besar (Rayeuk) tanpa ditunjang oleh fakta dan bukti yang jelas, benar dan kuat.

Itulah propaganda perang modern dan perang rahasia di Negeri Acheh yang telah dikobarkan oleh pihak Pemerintah RI dan TNI/POLRI-nya untuk terus menduduki dan menjajah Negeri Acheh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Wed, 7 Jul 2004 20:49:12 -0700 (PDT)
From: Reyza Zain warzain@yahoo.com
Subject: acehkita.com: Polisi: "Masalah ini tolong jangan diekspos. Tolong".
To: ahmad@dataphone.se

Dituduh Bupati GAM, Tewas Sebagai Tahanan
Reporter: Tim acehkita, 2004-07-08 11:21:38

M. Johan (67) yang oleh aparat Polresta Banda Aceh dituduh sebagai Bupati GAM Wilayah Aceh Rayeuk, meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin, Selasa sore (06/07). Sampai dengan ajalnya, M. Johan masih berstatus sebagai tahanan di Polresta Banda Aceh.

M. Johan ditangkap di rumahnya, Desa Peunyerat, Kecamatan Meuraksa pada Kamis dini hari, (01/07) pukul 02.00 WIB, oleh aparat Polresta Banda Aceh. Setelah ditangkap, M. Johan dan beberapa barang bukti langsung diboyong ke Maporesta Banda Aceh untuk pemeriksaan.

Saat itu, Koporesta Banda Aceh, AKBP Eko Daniyanto, menyatakan sudah lama M. Johan menjadi DPO (Daftar Pencarian Orang) karena dugaannya sebagai Bupati GAM Aceh Besar (Rayeuk). Penangkapannya ketika itu didasarkan kepada laporan intelijen dan laporan masyarakat.

Walau begitu, M. Johan tidak mengakui jabatan bupati yang dituduhkan kepadanya. Dalam pemeriksaan, dia mengaku hanya sebagai salah seorang panglima sagoe, yang hanya dimintai beberapa nasihat. (baca: Bupati GAM Aceh Rayeuk Ditangkap)

Hanya selang beberapa hari setelah penangkapannya, dalam pemeriksaan oleh Polresta Banda Aceh, M. Johan dinyatakan sakit dan selanjutnya dibawa ke RSUZA Banda Aceh untuk menjalani perawatan.

Dari keterangan salah seorang pegawai RSUZA, M. Johan dibawa ke rumah sakit pada hari Selasa (06/07), sekitar pukul 10.00 WIB, oleh beberapa aparat polisi dan langsung dirawat di ruang saraf rumah sakit tersebut. Kondisinya agak kritis, sehingga beberapa petugas langsung memberikan pertolongan seperti memasang infus dan bantuan pernafasan.

Namun tak lama kemudian, M. Johan pingsan dan tak sadarkan diri. Baru pada pukul 15.00 WIB, M. Johan meninggal dunia dan selanjutnya langsung dibawa ke ruang mayat untuk menunggu keluarganya menjemput.

Saat masih berada di RSUZA, beberapa wartawan media cetak dan elektronik berusaha mengambil gambar mayat M. Johan, tetapi mereka dilarang oleh aparat untuk meliput dan mengekspos kejadian tersebut.
***

Pihak GAM bereaksi keras atas tewasnya M. Johan yang menurut mereka akibat mendapat penyiksaan selama dalam tahanan. Dalam keterangan persnya yang dikirim ke redaksi acehkita, Juru Bicara Militer GAM, Sofjan Dawood menyatakan pihaknya mengutuk peristiwa tersebut.

"Tentara Negara Acheh mengutuk dengan sekeras-kerasnya tindakan biadab TNI/Polri yang telah menjalankan berbagai kelakuan primitif dan kejahatan kemanusiaan di Acheh," tulis Sofjan.

Hal serupa juga disampaikan menantu M. Johan yang juga Panglima GAM Gajah Keng, T. Hamzah. Melalui pesan SMS-nya, T. Hamzah juga mensinyalir terjadinya penyiksaan terhadap diri M. Johan yang juga mertuanya tersebut. T. Hamzah menikahi putri M. Johan, Ainal Mardiyah (25) dan telah memiliki satu orang putra usia lima tahun.

"Saya Tgk. Hamzah, memberitahukan, bahwa mertua saya, Tgk. Johan telah meninggal akibat penganiayaan berat. Meninggal semalam pukul 1 malam Rabu. Beliau ditangkap tanggal 2, jam 11 malam. Almarhum dituduh sebagai Bupati Acheh Rayeuk," demikian bunyi pesan sinkat Hamzah.

Menanggapi tuduhan tersebut, Kasat Intelkam Polresta Banda Aceh, AKP Sigit Maryanta ketika dihubungi per telepon, hanya mengatakan, "Masalah ini tolong jangan diekspos. Tolong".
***

Sore hari, ketika warga kota Banda Aceh sibuk membicarakan isu-isu pemilu, beberapa anggota keluarga M. Johan datang menjemput jenazah untuk dibawa pulang ke rumahnya. Pak Keuchik Penyeurat, ikut serta dan juga salah seorang anaknya, Ainal Mardiyah yang juga istri Panglima GAM Gajah Keng, Aceh Rayeuk, T. Hamzah.

Selepas magrib, mayat M. Johan dibawa pulang dengan mobil jenazah RSUZA dan sampai di rumahnya di Desa Penyeurat sekitar jam 19.30 WIB. Jenazah M. Johan lalu disemayamkan di rumah duka selama satu malam, menunggu untuk dikuburkan esok harinya.

Menurut salah seorang warga yang juga tetangga M. Johan, Mansur (nama samaran) pemulangan jenazah tidak diantar oleh aparat kepolisian. Baru sesaat kemudian beberapa aparat kepolisian dari Polsek Meuraksa datang ke rumah duka untuk berkunjung dan mengucapkan bela sungkawa.

"Karena desa ini masih dalam wilayah saya, maka saya harapkan kepada warga untuk dapat memperlakukan jenazah Bapak M. johan, seperti layaknya, dan saya turut berduka dengan berpulangnya Bapak M. Johan," sebut salah seorang polisi yang berpakaian sipil seperti ditirukan Mansur.

Di rumah duka malam itu, para tetangga dan warga desa seperti biasanya, melantunkan ayat-ayat suci Al Quran dan mendoakan M. Johan. Di desanya, warga memanggilnya sebagai Pak Bur, singkatan dari Burhanuddin, sesuai dengan nama di KTPnya.

Malam itu juga, karena curiga, Mansur sempat memeriksa kondisi mayat M. Johan. Dia memperhatikan dari kepala sampai batas pinggang. Menurutnya tidak ditemukan kelainan pada jasad tersebut.

"Kondisinya seperti biasa, tidak ada memar, luka dan lainnya," sebut Mansur kepada acehkita. Hanya saja, Mansur menemukan kelainan di telapak tangan jasad M. Johan, seperti agak keras dan kapalan.

Selesai dimandikan dan disembahyangkan, sekitar pukul 12.00 WIB, Rabu (07/07), jenazah M. Johan dimakamkan di sebuah perkuburan keluarga, yang terletak di Desa Reuloh, masih dalam kecamatan yang sama. Jarak Desa Penyeurat dengan Desa Reuloh sekitar satu kilometer.
***

Ketika acehkita berkunjung ke rumah duka, prosesi pemakaman masih berlangsung, hanya beberapa warga dan Mansur sendiri yang berada di rumah tersebut, sementara seluruh anggota keluarga dan peutua kampung sedang melaksanakan prosesi itu di Desa Reuloh.

Oleh warga Desa Penyeurat, M. Johan semasa hidupnya dikenal sebagai sosok yang ramah dan mudah bergaul. Warga juga ragu tentang tuduhan yang ditimpakan kepadanya oleh kepolisian, sebagai Bupati GAM.

"Lon rasa, hana terbukti gobnyan sebagai awak GAM (saya rasa, tidak terbukti dia sebagai anggota GAM)," sebut salah seorang warga. Alasannya, warga jarang melihat M. Johan bepergian dan lebih sering berada di desa, mengerjakan apa saja untuk menghidupi keluarganya.

Dulunya Johan adalah salah seorang veteran yang mendapat gaji dari pemerintah. Tetapi setelah dituduh sebagai GAM, pensiun itupun dihentikan. Dalam pemeriksaanya di Polresta, aparat juga mendapatkan bukti kartu tanda pengenal sebagai anggota veteran atas namanya.[A]

http://www.acehkita.com/content.php?op=modload&name=berita&file=view&coid=699&lang=
----------