Stockholm, 9 Juli 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SUMITRO ITU AYAT 44, 45, 47 SURAT AL-MAIDAH, AYAT MUHKAMAT BUKAN AYAT MUTASYABIHAT
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SAUDARA SUMITRO KALAU MENGAMBIL TULISAN ORANG HARUS DISEBUTKAN SUMBERNYA JANGAN ASAL CAPLOK SAJA

"Kalau berbicara mengenai Al Qur'an maka ayat-ayat al-Qur'an yang umum, tidak jelas dan mempunyai pelbagai makna yang dipanggil tidak qati'iyyah adalah atau tidak muktamad sering digunakan orang-orang tertentu untuk menghukum Negara atau kerajaan sebagai tidak Islam atau kafir." (Sumitro mitro@kpei.co.id , Fri, 9 Jul 2004 14:22:43 +0700)

Baiklah saudara Sumitro di Jakarta, Indonesia.

Kelihatan memang saudara Sumitro ini hanya mengambil saja cerita atau tulisan orang kemudian dilampirkan dalam emailnya dan dikirimkan ke mimbar bebas ini dengan tujuan untuk mempertahankan dan menjawab pertanyaan saya dalam tulisan sebelum ini yaitu: "Apakah pimpinan Pemerintah RI dari mulai Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati yang telah membentuk lembaga tandingan untuk membuat aturan, hukum, undang-undang disamping aturan, hukum, undang-undang Allah SWT dianggap sebagai bukan kafir, zhalim, dan fasik, padahal tindakan itu bertentangan dengan dasar hukum yang telah diturunkan Allah SWT dalam surat Al Maidah ayat 44, 45, 47 ?".

Dimana sebenarnya pertanyaan saya itu ditujukan kepada saudara Rokhmawan dan Salafi-nya, tetapi karena saudara Sumitro merasa lebih tahu dengan mengambil jawaban dari hasil tulisan dan pendapat orang lain (kemungkinan besar hasil tulisan orang yang tinggal di Malaysia), maka dianggapnya tulisan orang lain itu bisa memberikan jawaban kepada pertanyaan saya itu.

Jelas saudara Sumitro itu ayat 44, 45, dan 47 surat Al Maidah bukan ayat mutasyabihat atau ayat yang kurang terang dan kurang jelas artinya, tetapi ayat muhkamat atau ayat yang terang dan jelas artinya.

Contoh ayat yang mutasyabihat, seperti ayat 238 surat Al-Baqarah yang mengandung kata: "sholatil wustho". Sebagian mufasirin menerangkan bahwa yang dimaksud dengan "sholatil wustho" adalah sholat 'Ashar, sedangkan yang lainnya menerangkan bahwa yang dimaksud itu adalah sholat Subuh.

Kemudian contoh ayat yang mutasyabihat yaitu ayat 63 surat Al Baqarah yang menyangkut kata: "ath-thur". Para Mujahid berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kata "ath-thur" adalah bukit, sedangkan Ibnu Abbas berpendapat bukit Tursina. Dan yang lainnya berpendapat bukit yang bertumbuh-tubuhan.

Jadi itulah yang dinamakan ayat-ayat mutasyabihat. Sedangkan dalam masalah ayat 44, 45, dan 47 surat Al-Maidah para mufasirin tidak ada perbedaan dalam hal kata kafir, zhalim, dan fasik. Karena kata-kata itu bukanlah kata-kata yang mutasyabihat, tetapi kata-kata yang muhkamat atau ayat yang terang dan jelas artinya.

Surat Al-Maidah ayat 44, 45, dan 47 yang telah ditetapkan Allah SWT yang diberlakukan kepada kaum Yahudi (ayat 44, 45) , dan Nasrani (ayat 47), tetapi oleh Al Qur'an dibenarkan dan tidak dimansukhkan, maka syariat untuk kaum Yahudi dan Nasrani itu berlaku kepada kaum muslimin juga. Dan seluruh ulama berhujjah dengan ayat-ayat ini. Sebagaimana yang ditafsirkan oleh Hasbi Ash Shiddieqy (Al-Bayaan, Bag. 1, hal. 412).

Jadi secara hukum itu syariat yang telah ditetapkan bagi kaum Yahudi dan Nasrani berlaku juga bagi kaum Muslimin. Apalagi dengan diperkuat oleh ayat selanjutnya, ayat 48 surat Al Maidah: "wa anjalna ilaika al kitaba bil haqi mushaddikan lima baina yadaihi minal kitabi wa muhaimina 'alaihi fahkum bainahum bima anjala Allahu wa la tattab'i ahwa ahum 'amma ja aka minal haq..." (Al Maidah, QS,5: 48)

Jadi lengkaplah sudah, pertama Al-Quran telah membenarkan syariat kaum Yahudi dan kaum Nasyrani dan tidak memansukhkan, dan kedua diperkuat dengan ayat 48.

Kita lihat sekarang kepada apa yang diambil oleh saudara Sumitro dari tulisan orang lain, yang tidak diberitahukan siapa yang menulisnya menyatakan: "Di antara ayat-ayat yang tidak muktamad yang sering digunakan oleh orang-orang tertentu secara tidak tepat ialah ayat 44 daripada surah al- Maidah: Dan sesiapa yang tidak menghukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah (kerana mengingkarinya), maka mereka itulah orang-orang kafir. Ayat ini boleh dikategorikan sebagai ayat yang membincangkan tentang politik dan agama sekaligus. Untuk tujuan menghentam suatu Negara, ayat ini digunakan oleh golongan tertentu sebagai bukti bahawa Negara tidak melaksanakan hukum yang diturunkan oleh Allah. Maka ia dianggap kafir."

Nah, sipenulis tersebut mengatakan bahwa ayat 44 surat Al Maidah adalah ayat mutasyabihat atau ayat yang kurang terang dan kurang jelas artinya. Dengan alasan ayat tersebut "untuk tujuan menghentam suatu Negara, ayat ini digunakan oleh golongan tertentu sebagai bukti bahawa Negara tidak melaksanakan hukum yang diturunkan oleh Allah. Maka ia dianggap kafir".

Jelas, dari sini saja sudah kelihatan itu sipenulis pertama, telah menyalah artikan ayat itu sendiri, dengan menggolongkan kedalam ayat mutasyabihat, padahal ayat itu adalah ayat muhkamat. Kedua, sipenulis menafsirkan hukum sama dengan politik. Padahal pengertian aturan, hukum, undang-undang itu berbeda dengan pengertian politik. Jadi sipenulis itu sendiri telah menafsirkan dan memaksakan ayat 44 surat Al-Maidah dengan tafsiran paksaan dari masalah aturan, hukum, undang-undang Allah SWT ditukar kepada politik Allah SWT. Kan, tidak nyambung.

Sedangkan Syaikh Muhammad bin Ibrahim Ali Asy-Sysikh yang menjelaskan perkataan Imam Ahmad: "Sehingga datang masalah yang tidak jauh berbeda dengan kekufuran itu", sebagai berikut:"Di antara kekufuran yang besar dan sangat jelas ialah menempatkan undang-undang yang terlaknat pada kedudukan wahyu yang diturunkan Jibril ke hati Muhammad saw, agar beliau menjadi salah seorang pemberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas. (Tahkimul-kawanin, Mathabi'utsaqofah, Mekkah, hal 1.).

Kemudian, disini saya ulang kembali apa yang ditulis oleh Ibnu-Qayyim dalam bukunya Madarijus-Salikin: "Yang benar, memutuskan perkara dengan selain apa yang diturunkan Allah memungkinkan tersesat pada dua macam kufur: kecil dan besar, tergantung pada keadaan orang yang memutuskan perkara. Bila ia percaya kewajiban memutuskan perkara seperti apa yang diturunkan Allah, namun ia berbuat adil dan menyadari hukuman baginya, maka ini disebut kufur kecil. Bila ia percaya tidak harus berhukum seperti apa yang diturunkan Allah, namun ia juga percaya bahwa hukum itu datang dari Allah, maka ini dinamakan kufur besar. Bila ia memutuskan perkara karena tidak tahu tentang apa yang diturunkan Allah dan salah, maka ia dihukumi sebagai orang yang bersalah. (Madarijus-salikin 1/337).

Terakhir, untuk saudara Sumitro, daripada mengutip dan mengambil tulisan orang lain yang tidak disebutkan sumber siapa penulisnya lebih baik saudara belajar dulu Islam dengan baik sebelum berdebat di mimbar bebas ini menghadapi Ahmad Suidirman.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

From: Sumitro mitro@kpei.co.id
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, Serambi Indonesia <serambi_indonesia@yahoo.com>, Aceh Kita <redaksi@acehkita.com>, ahmad jibril <ahmad_jibril1423@yahoo.com>, balipost <balipost@indo.net.id>, waspada <newsletter@waspada.co.id>, PR <redaksi@pikiran-rakyat.com>, Pontianak <editor@pontianak.wasantara.net.id>, Hudoyo <hudoyo@cbn.net.id>, JKT POST <jktpost2@cbn.net.id>, Redaksi Detik <redaksi@detik.com>, Redaksi Kompas <redaksi@kompas.com>, Redaksi Satu Net redaksi@satunet.com
Cc: rokh-mawan@plasa.com, ahmad@dataphone.se
Subject: RE: ROKHMAWAN & SALAFI-NYA TERUS BERPUTAR-PUTAR MENGELAK DARI AYAT 44, 45, 47, 48 SURAT AL-MAIDAH
Date: Fri, 9 Jul 2004 14:22:43 +0700

Yach terpaksa dech saya kirim lagi e-mail saya sebelumnya. Nach saudara Achmad baca baik2, dicerna terus dikomentari yach! satu saya minta sama anda. Tolong mengartikan ayat Al-Qur'an jangan sepotong-potong..karena kalau sepotong-sepotong anda ambil maka maknanyabisa lain.

Saudara Ahmad CS.

Kalau berbicara mengenai Al Qur'an maka AYAT-ayat al-Qur'an yang umum, tidak jelas dan mempunyai pelbagai makna yang dipanggil tidak qati'iyyah adalah atau tidak muktamad sering digunakan orang-orang tertentu untuk menghukum Negara atau kerajaan sebagai tidak Islam atau kafir.

Terus terang saya sangat sedih karean Penggunaan ayat-ayat yang tidak muktamad ini dilakukan secara meluas oleh kumpulan atau bangsa pembangkang terutama dalam ceramah dan internet. Pokoknya penggunaan ayat-ayat al-Quran secara tidak tepat ini sudah menjadi satu fenomena yang membimbangkan kerana ada keghairahan di kalangan orang-orang tertentu yang bukan ahli dalam bidang agama mahu berhujah dengan ayat-ayat al-Quran.

Yang anehnya orang yang menggunakan ayat-ayat al-Quran secara tidak tepat ini bukan saja orang yang bukan ahli dalam bidang agama, tetapi ada juga mereka yang pernah mendapat pendidikan agama secara formal termasuk yang bergelar ustaz dan ulama.

Sebenarnya kita perlu mengambil tahu tentang kaedah memahami hukum-hakam yang terkandung dalam al-Quran agar tidak mudah tertipu dan terpedaya serta menganggap ayat-ayat yang dibaca oleh orang-orang tertentu tepat atau tidak dengan maksud dan hukum yang akan dijatuhkan kepada perkara-perkara yang dibincangkan.

Umpamanya seseorang membincangkan mengenai hukum hudud, sedangkan dia berhujah dengan ayat yang menyebut perkataan al-hudud. Ayat itu sebenarnya tidak ada kaitan dengan hukum hudud yang bermaksud hukuman potongan tangan dan rejam yang tidak dilaksanakan pada zaman Rasulullah s.a.w dan Khulafa Rasyidun itu. Sebaliknya maksud al-hudud itu ialah batasan atau segala suruhan dan larangan agama yang umum.

Para pembaca perlu faham dengan baik tentang kaedah untuk memahami hukum-hakam yang terkandung dalam al-Quran ini. Jika kita dapat memahami kaedah ini, insya-Allah kita akan dapat mengenali sedikit sebanyak sama ada ayat yang diguna dan dihujahkan oleh orang-orang tertentu itu tepat atau tidak.

Kaedah itu secara mudahnya diuraikan seperti berikut: Setiap kali kita membaca al-Quran atau mendengar orang lain membacanya, kita perlu mengetahui apakah ia ayat yang muktamad atau tidak.

Jika ia ayat muktamad, maka wajiblah kita mengguna pakainya sebagai hukum tanpa boleh berbelah-bahagi, mempertikai dan memilih. Contoh ayat berkenaan ialah ayat-ayat yang membincangkan tentang pelbagai ibadat yang wajib seperti sembahyang, puasa, zakat dan lain-lain ibadat yang wajib.

Contoh ayat yang tidak muktamad pula ialah ayat-ayat yang umum, tidak jelas dan mempunyai banyak maksud seperti kebanyakan ayat yang membincangkan tentang politik, ekonomi, sosial dan lain-lain perkara yang berkaitan dengan urusan kehidupan kita.

Di antara ayat-ayat yang tidak muktamad yang sering digunakan oleh orang-orang tertentu secara tidak tepat ialah ayat 44 daripada surah al-Maidah: Dan sesiapa yang tidak menghukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah (kerana mengingkarinya), maka mereka itulah orang-orang kafir.

Ayat ini boleh dikategorikan sebagai ayat yang membincangkan tentang politik dan agama sekali gus. Untuk tujuan menghentam suatu Negara, ayat ini digunakan oleh golongan tertentu sebagai bukti bahawa Negara tidak melaksanakan hukum yang diturunkan oleh Allah. Maka ia dianggap kafir.

Bahkan saya berpendapat bahwa penggunaan ayat secara tidak tepat seperti ayat 44 daripada surah al-Maidah itu oleh mereka yang mendakwa atau didakwa menjadi ustaz yang berdialog dalam beberapa majlis ceramah. Hal ini juga terlihat pada apa yang di sampaikan oleh saudara Ahmad CS yang banyak orang menganggap ( terutama para anggota GAM ) si Ahmad CS ini sebagai ustaz ( tetapi sebenarnya beliau hanya guru agama anak2 ) yang telah menggunakan ayat ini berdialog dengan saudara rokh mawan.Bagi saya sebaiknya Ahmad CS harus memberikan jawaban atau pendapat yang berhubungan dengan ayat 44, 45, dan 47 Surah Al- Maidah janganlah sepotong-sepotong,

cobalah baca sambungan ayat 44 daripada surah al-Maidah itu, iaitu ayat 45 dan 47. Ayat 45 itu bermaksud: dan sesiapa yang tidak menghukum dengan apa yang telah diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim, manakala ayat 47 pula bermaksud: dan sesiapa yang tidak menghukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

Membaca ayat 44 surah al-Maidah dan memberi erti yang bersifat hukum sedemikian tidak tepat.
Maksud tidak berhukum dengan hukum Allah dalam ayat-ayat berkenaan mempunyai tiga hukum iaitu kafir, zalim dan fasik.

Inilah yang dipanggil ayat tidak jelas dan mempunyai banyak maksud yaitu tidak muktamad dan tidak qati'iyyah ad-dalalah. Selain itu, ayat-ayat tersebut pula diturunkan ke atas kaum Yahudi dan tidak diturun ke atas orang Islam. Cuba perhatikan ketiga-tiga ayat itu sepenuhnya.

Dalam ayat al-Maidah: 44 Allah berfirman: Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat, yang mengandungi petunjuk dan cahaya yang menerangi; dengan kitab itu nabi-nabi yang menyerah diri (kepada Allah) menetapkan hukum bagi orang-orang Yahudi, dan (dengannya juga) ulama mereka dan pendeta-pendetanya (menjalankan hukum Allah), sebab mereka diamanahkan memelihara dan menjalankan hukum-hukum dari kitab Allah (Taurat) itu, dan mereka pula
adalah menjadi penjaga dan pengawasnya (dari sebarang perubahan). Oleh itu janganlah kamu takut kepada manusia tetapi hendaklah kamu takut kepada-Ku (dengan menjaga diri daripada melakukan maksiat dan patuh akan perintah-Ku); dan janganlah kamu menjual (membelakangkan) ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit (kerana mendapat rasuah, pangkat dan lain-lain keuntungan dunia); dan sesiapa yang tidak menghukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah (kerana mengingkarinya), maka mereka itulah orang-orang kafir.

Dalam ayat al-Maidah: 45 Allah berfirman: Dan kami telah tetapkan atas mereka di dalam kitab Taurat itu, bahawa jiwa dibalas dengan jiwa, dan mata dibalas dengan mata, dan hidung dibalas dengan hidung, dan telinga dibalas dengan telinga, dan gigi dibalas dengan gigi, dan luka-luka hendaklah dibalas (seimbang). Tetapi sesiapa yang melepaskan hak membalasnya, maka menjadilah ia penebus dosa baginya; dan sesiapa yang tidak menghukum dengan apa yang telah diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Dalam ayat al-Maidah: 47 pula Allah berfirman: Dan hendaklah ahli kitab Injil menghukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah di dalamnya; dan sesiapa yang tidak menghukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

Jadi hanya dengan memerhatikan kepada maksud sepenuh ketiga-tiga ayat itu dapat kita mengetahui bahawa ia tidak muktamad kerana ayat itu diturunkan ke atas kaum Yahudi di mana hanya perlu mengambil iktibar saja. Cuba kita perhatikan sedikit lagi apa kata Rasulullah, para sahabat, tabii dan ulama tentang ayat-ayat itu.

Dalam beberapa hadis yang diriwayat oleh Muslim, Ahmad, Abu Daud, an-Nasa'i dan lain-lain ada menyebut bahawa Rasulullah s.a.w telah melihat orang Yahudi dikenakan hukuman dengan dicoreng muka dan dipukul. Lalu baginda bertanya apakah salah orang Yahudi itu? Mereka menjawab, orang Yahudi itu telah berzina. Lalu baginda berkata, apakah ini hukumnya dalam kitab kamu? Mereka menjawab, ya. Bagaimanapun, Rasulullah tidak percaya. Lalu baginda menyuruh panggil seorang ulama mereka dan menuntutnya membaca hukum dalam kitab Taurat. Ulama Yahudi itu dengan terus terang berkata bahawa hukum dalam Taurat tidak begitu terhadap penzina kerana hukum sebenarnya ialah rejam. Ulama Yahudi itu berkata, jika bukan Rasulullah s.a.w yang bertanya tentang perkara itu, dia akan berdiam diri saja dan tidak akan menceritakan hukum yang sebenar. Ulama Yahudi itu bercerita bahawa hukum yang ringan itu dilaksanakan kerana perzinaan sangat berleluasa di kalangan golongan bangsawan. Maka dengan itu dikenakan hukuman yang ringan itu. Mendengar keterangan ulama Yahudi yang jujur itu Rasulullah menyeru kepada Allah: Ya Allah! Akulah yang mula-mula menghidupkan kembali perintah Engkau yang telah mereka matikan.

Bagaimanapun, para sahabat, tabii dan ulama berbeza pandangan mengenai hukum yang dikenakan ke atas Yahudi mesti dikenakan ke atas orang Islam atau tidak. Malah mereka juga berbeza pandangan tentang hukum orang yang tidak berhukum dengan ketiga-ketiga hukum iaitu kafir, zalim dan fasik sebagaimana tersebut dalam ayat-ayat al-Quran di atas. Abdullah bin Abbas berpendapat ayat-ayat berkenaan diturun kepada Ahlul Kitab dan kepada orang Islam sekali gus. Cuma Ibn Abbas pula berpendapat bahawa hukum kafir itu bukan mencapai hukum kafir syirik, hukum zalim bukan mencapai hukum zalim syirik dan hukum fasik bukan mencapai hukum fasik
syirik.

Asy-Sya'abi berpendapat bahawa ayat pertama dan kedua diturunkan kepada kaum Yahudi dan ayat ketiga diturunkan kepada kaum Kristian. Said bin Jubair pula berpendapat bahawa ketiga-tiga ayat itu diturunkan kepada kaum Yahudi dan orang Islam sekali gus.

Manakala para ulama pula seperti bekas Syeikh al-Azhar Syeikh Mahmd Shaltut berpendapat bahawa kebanyakan mereka menganggap yang dianggap kafir itu ialah kafir amali (perbuatan) dan bukan kafir iktikadi (pegangan) kecuali jika seseorang itu beriktikad bahawa hukum Allah itu tidak betul dan tidak sesuai.

Sebahagian kecil ulama pula berpegang dengan zahir ayat-ayat tanpa mentakwil iaitu kerana luaran ayat-ayat itu menyebut hukum kafir, zalim dan fasik, maka mereka menghukum orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah adalah kafir, zalim dan fasik.

Seorang aktivis al-Ikhwan al-Muslim yang dikenakan hukum gantung oleh Presiden Gamal Abdel Nassir, Abdul Qadir Audah menyokong pandangan ulama kategori ini. Perlu dijelaskan bahawa jika berlaku perbezaan pandangan di kalangan ulama terhadap sebarang hukum yang tidak jelas dalam al-Quran, maka hukum berkenaan tidak dianggap muktamad.

Demikian dan semoga bermanfaat.

Wassalam.

Sumitro

mitro@kpei.co.id
Jakarta, Indonesia
----------