Stockholm, 9 Juli 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SUMITRO ITU BERITA KOMPAS DAN SINAR INDONESIA BARU TELAH DISENSOR PDMD ACHEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SUMITRO KALAU MENAMPILKAN BERITA DARI KOMPAS DAN SINAR INDONESIA BARU YANG TERJADI PADA MASA DARURAT MILITER HARUS BENAR-BENAR DISERTAKAN FAKTA DAN BUKTINYA.

"Waow saudara ahmad ini benar-benar pintar dalam bersilat lidah. Saya telah beberapa kali menyampaikan dalam mimbar ini bahwa saya Tidak mendukung TNI maupun GAM dalam hal ini saya tidak suka dengan cara2 TNI maupun GAM dalam menyelesaiakan masalah Aceh yang kedua-duanya telah menyengsarakan rakyat aceh. Saudara Ahmad sejak pertama sekali saya kenal anda dalam milis ini TIDAK ada satupun anda mengakui semua kekejaman, dan kesalahan anggaota GAM terhadap rakyat sipil di Aceh minimal anda sekali saja mengirimkan berita mengenai kesalahan anggota anda ( GAM ) dalam menjalankan tugasnya dilapangan. Dan anda menjatuhkan kesalahan itu semua pada TNI . Nach begitu sempurnahkah GAM ? lantas berita2 yang kami baca dikoran atau cerita2 nyata dari para pedagang di Aceh bahkan cerita salah satu rekan yang ada di milis ini anda sangkal juga. Sebagai seorang moeslim ( saya mulai meragukan status anda sebagai moeslim ) yang selalu berkoar dengan mulut saudara ahmad yang bau busuk seharusnya bersikap adil dimana dalam satu kejadian sepertiu halnya di aceh tidak mungkin hanya satu pihak saja yang berbuat salah karena dua kubu antara GAM dan TNI merupakan sama2 manusia yang tidak mungkin sempurna." (Sumitro mitro@kpei.co.id , Fri, 9 Jul 2004 13:26:38 +0700)

Baiklah saudara Sumitro di Jakarta, Indonesia.

Saudara Sumitro sekali lagi saya tekankan disini kalau melampirkan berita harus disebutkan dan disertakan sumbernya biar orang yang membacanya dapat juga mencek kebenaran sumber berita berita tersebut. Jangan hanya ambil dan kirim saja. Tidak cukup hanya disebutkan nama Kompas saja, tetapi harus disebutkan alamat sumber kompas itu, biar dapat ditelusuri sumber berita itu.

Di Negeri Acheh sedang terjadi perang modern dan perang rahasia yang dikobarkan oleh pihak Pemerintah RI dan TNI/POLRI-nya dalam usaha untuk tetap menduduki dan menjajah Negeri Acheh.

Jelas, pihak rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasibnya sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pamcasila akan terus berjuang untuk mencapai kemerdekaan Negeri Acheh dari penjajah RI yang didukung oleh salah satunya saudara Sumitro Cs.

Sekarang itu soal berita yang dimuat Kompas yang menyangkut "Tentara Bakar Ladang Ganja". Dimana menurut berita Kompas "TNI menghanguskan ladang ganja seluas dua hektar yang diduga ditanam oleh simpatisan Gerakan Aceh Merdeka di Dusun Alue Garut, Desa Seumirah, Nisam, Aceh Utara. Penemuan ladang ganja itu semakin menambah keyakinan pihak TNI bahwa kawasan Nisam itu merupakan basis pertahanan GAM. "Hasil penjualan ladang ganja tersebut diduga telah menjadi sumber keuangan mereka," kata Komandan Tim Alfa 2 Letnan Dua Infanteri Faisal saat ditemui di tengah pembakaran ratusan tanaman ganja tersebut, Senin (7/7)."

Nah itu baru dugaan dari pihak TNI yang menghubung-hubungkan pemilik ladang yang dipakai menanam ganja itu dituduh sebagai simpatisan GAM.

Ya, kalau hanya sekedar menduga dan menuduh bisa saja. Tetapi, jelas kita harus menunggu hasil dari pemeriksaan selanjutnya dan apakah kasus tersebut telah diajukan kehadapan Pengadilan di Acheh atau belum. Jangan hanya baru baca berita yang telah melalui sensor Penguasa Darurat Militer Daerah Acheh dibawah Mayjen TNI Endang Suwarya.

Itu berita memang telah disensor ketika Darurat Militer masih berlaku di Acheh. Mengapa ? Karena berita itu disiarkan oleh Kompas pada hari Selasa, 8 Juli 2003. Ketika Darurat Militer masih dijalankan di Negeri Acheh.

Nah sekarang, saudara Sumitro, apakah ada bukti yang telah dikeluarkan oleh pihak Penguasa Darurat Militer Daerah Acheh Mayjen TNI Endang Suwarya ?. Karena kejadian tersebut sudah lebih satu tahun. Apakah memang benar itu GAM yang memiliki ladang tananam ganja yang dimusnahkan oleh TNI itu ?.

Coba kumpulkan lagi itu fakta dan buktinya, saudara Sumitro, jangan hanya mengambil cerita dari Media massa saja langsung diekspos, padahal cerita itu sudah setahun yang lalu. Ketika DM masih diberlakukan di Acheh.

Kemudian itu cerita lainnya, yang dipublikasikan oleh Harian Sinar Indonesia Baru pada hari Kamis, 5 Februari 2004, dengan judul berita "TNI Temukan 1 Hektar Ladang Ganja di Pidie, Ratusan Butir Amunisi Disita"

Inipun berita telah disensor oleh Mayjen TNI Endang Suwarya Penguasa Darurat Militer Daerah Acheh. Yang langsung saja menuduh bahwa "Satu hektar ladang ganja milik GAM ditemukan oleh pasukan TNI di kawasan Kecamatan Mila, Pidie."

Bagaimana pihak Penguasa Darurat Militer Daerah Acheh Mayjen TNI Endang Suwarya dan Kolonel Laut Ditya Soedarsono dengan seenaknya saja menuduh "Satu hektar ladang ganja milik GAM ditemukan oleh pasukan TNI di kawasan Kecamatan Mila, Pidie".

Kapan itu penyelidikan, pemeriksaan, dan pengadilannya dilaksanakan oleh pihak Penguasa Darurat Militer Daerah Acheh ? Tahu-tahu langsung saja dituduh itu ladang ganja milik GAM?.

Ini kan tuduhan dan dugaan yang seenak perut Mayjen TNI Endang Suwarya dan Kolonel Laut Ditya Soedarsono saja.

Coba, sekarang setelah 6 bulan itu berita dimuat oleh Sinar Indonesia Baru, apakah sudah ada pembuktian kebenaran tuduhan dari pihak Mayjen TNI Endang Suwarya dan Kolonel Laut Ditya Soedarsono?

Saudara Sumitro, kalau hanya menampilkan cerita.-cerita yang dirilis oleh PDMD Acheh yang memberlakukan Darurat Militer, jelas semua berita itu telah disaring dengan ketat lewat sensor yang dilakukan oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono di kantor PDMD Acheh.

Itu kerjaan Kolonel Laut Ditya Soedarsono untuk menyensor berita-berita tentang Acheh yang akan dimuat di media massa di RI itu.

Itulah taktik dan strategi propaganda pihak Penguasa Darurat Militer Daerah Acheh Mayjen TNI Endang Suwarya dan Kolonel Laut Ditya Soedarsono untuk mengkambinghitamkan GAM dengan ganjanya. Padahal mana ada itu beritanya sampai detik ini bahwa memang benar itu ladang ganja yang ditemukan oleh "pasukan TNI dari Yonif-600 pada saat melaksanakan patroli di Kecamatan Mila, Kabupaten Pidie" adalah milik GAM.

Karena itu kalau saudara Sumitro mau jujur dengan tuduhan itu perlu dikemukakan semua bukti-bukti yang lengkap biar kita olah dan teliti di mimbar bebas ini. Bukan hanya mengutip berita dari Kompas dan SIB saja.

Kemudian itu cerita Trangun yang polos yaitu sebuah kecamatan yang letaknya jauh di pedalaman Kabupaten Gayo Lues, yang dimuat oleh acehkita.com pada hari Selasa, 29 Juni 2004. Dimana disinggung didalamnya masyarakat Gayo takut kepada GAM. "Mereka (masyarakat Gayo yang berbahasa Gayo) mengaku selalu dihantui rasa takut jika hendak mencari nafkah ke ladang. Para petani tak lagi berani ke sawah menanam padi dan takut membudidayakan nilam di ladang. Lahan pertanian terbengkalai karena ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. "Sejak ada kabar banyak GAM yang sembunyi di semak-semak ladang, masyarakat jadi tak berani lagi ke ladang. Maklum, mereka di sini tak banyak tahu tentang GAM. Selain takut sama GAM, juga takut kalau nanti ketemu dengan TNI yang sedang memburu GAM," kata seorang tokoh masyarakat di Kabupaten Gayo Lues, sebut saja namanya Nurhayati (32)."

Memang jelas, karena diseluruh Acheh dan Gayo juga itu merupkan daerah perang modern dan perang rahasia yang dikobarkan oleh Pemerintah dan TNI/POLRI-nya.

Kalau mau damai dan aman, maka sebaiknya setelah Darurat Militer diturunkan menjadi Darurat Sipil, itu seluruh pasukan TNI yang jumlahnya melebih dari 50.000 pasukan itu ditarik dari Daerah Acheh. Jangan terus saja bercokol di Negeri Acheh.

Tetapi ini kan tidak. Namanya saja Darurat Sipil, tetapi TNI/POLRI tetap saja merajalela dalam penumpasan dan pembunuhan terhadap rakyat Acheh yang sudah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila.

Jadi, sebenarnya pihak Pemerintah RI, TNI/POLRI ingin tetap menduduki dan menjajah Negeri Acheh. Karena itu, selama Pemerintah RI, TNI/POLRI menduduki dan menjajah Negeri Acheh, maka selama itu di Negeri Acheh tidak akan ada kedamaian, keamanan dan kesejahteraan.

Terakhir, saudara Sumitro itu yang dikatakan saudara: "Saudara Ahmad hati-hati karena saya tau anda dan GAM benar2 termasuk dalam kelompok kaum Khawarij oleh karena itu segeralah tobat dan mohon ampunan Allah SWT."

Saudara Sumitro, itu khawarij gombal rekayasa saudara Rokhmawan dan Salafi-nya saja dan juga saudara Sumitro ikut-ikutan. Itu alasan gombal dari saudara Rokhmawan dan Salafi-nya, karena mereka tidak percaya sepenuh hati dan sepenuh keyakinan akan kebenaran ayat 44, 45, 47, 48 surat Al-Maidah.

Jadi itu tuduhan khawarij adalah tuduhan khawarij gombal yang kosong tidak ada artinya. Justru yang membuat kerusakan dan penghancuran rakyat Acheh muslim adalah pihak Pemerintah RI, TNI/POLRI. Khawarij-khawarij gombal itu hanya buatan dan rekayasa saudara Rokhmawan dan Salafi-nya dan diekori oleh saudara Sumitro yang sok tahu saja.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

From: Sumitro mitro@kpei.co.id
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, Serambi Indonesia <serambi_indonesia@yahoo.com>, Aceh Kita <redaksi@acehkita.com>,
ahmad jibril <ahmad_jibril1423@yahoo.com>, balipost <balipost@indo.net.id>, waspada <newsletter@waspada.co.id>, PR <redaksi@pikiran-rakyat.com>, Pontianak <editor@pontianak.wasantara.net.id>, Hudoyo <hudoyo@cbn.net.id>, JKT POST <jktpost2@cbn.net.id>, Redaksi Detik <redaksi@detik.com>, Redaksi Kompas <redaksi@kompas.com>, Redaksi Satu Net <redaksi@satunet.com>, Redaksi Waspada redaksi@waspada.co.id
Cc: ahmad@dataphone.se
Subject: RE: SUMITRO ITU PEMERINTAH RI, DPR, MPR YANG TELAH MENYIMPANG DARI SYARIAT ISLAM
Date: Fri, 9 Jul 2004 13:26:38 +0700

Waow saudara ahmad ini benar-benar pintar dalam bersilat lidah. Saya telah beberapa kali menyampaikan dalam mimbar ini bahwa saya Tidak mendukung TNI maupun GAM dalam hal ini saya tidak suka dengan cara2 TNI maupun GAM dalam menyelesaiakan masalah Aceh yang kedua-duanya telah menyengsarakan rakyat aceh.

Saudara Ahmad sejak pertama sekali saya kenal anda dalam milis ini TIDAK ada satupun anda mengakui semua kekejaman, dan kesalahan anggaota GAM terhadap rakyat sipil di Aceh minimal anda sekali saja mengirimkan berita mengenai kesalahan anggota anda ( GAM ) dalam menjalankan tugasnya dilapangan. Dan anda menjatuhkan kesalahan itu semua pada TNI . Nach begitu sempurnahkah GAM ? lantas berita2 yang kami baca dikoran atau cerita2 nyata dari para pedagang di Aceh bahkan cerita salah satu rekan yang ada di milis ini anda sangkal juga. Sebagai seorang moeslim ( saya mulai meragukan status anda sebagai moeslim ) yang selalu berkoar dengan mulut saudara ahmad yang bau busuk seharusnya bersikap adil dimana dalam satu kejadian sepertiu halnya di aceh TIDAK mungkin hanya satu pihak saja yang berbuat salah karena dua kubu antara GAM dan TNI merupakan sama2 manusia yang tidak mungkin sempurna.

Mengenai ganja sebaiknya baca dulu berita sbb:

Tentara Bakar Ladang Ganja
Lhok Seumawe, Kompas - TNI menghanguskan ladang ganja seluas dua hektar yang diduga ditanam oleh simpatisan Gerakan Aceh Merdeka di Dusun Alue Garut, Desa Seumirah, Nisam, Aceh Utara. Penemuan ladang ganja itu semakin menambah keyakinan pihak TNI bahwa kawasan Nisam itu merupakan basis pertahanan GAM. "Hasil penjualan ladang ganja tersebut diduga telah menjadi sumber keuangan mereka," kata Komandan Tim Alfa 2 Letnan Dua Infanteri Faisal saat ditemui di tengah pembakaran ratusan tanaman ganja tersebut, Senin (7/7). Barang bukti, saat ini, diserahkan ke Pos Komando Batalyon 403/ Wirasada Pista Kodam IV/Diponegoro yang bergabung dalam Detasemen Pemukul (Denkul) 3 Satuan Mobil (Satgas) 2.Faisal mengatakan bahwa penemuan ladang ganja tersebut terjadi pada saat pasukan TNI yang dipimpinnya menyisir kawasan lereng-lereng bukit di kawasan Dusun Alue Garut pada 4 Juli 2003 sekitar pukul 07.30 waktu setempat. Pada saat yang sama, pasukan yang sama juga menemukan sepasang sepatu pakaian dinas lapangan (PDL) bertulisan "Army", yang diduga merupakan pakaian dinas milik GAM.

Menurut Faisal, ladang ganja seluas dua hektar tersebut ditemukan pada tiga tempat yang terpisah-pisah. "Kami bahkan menemukan ganja-ganja kering yang siap jual dalam bentuk paket-paket dalam karung-karung. Kami perkirakan beratnya sekitar sepuluh kilogram dan disembunyikan di dalam semak-semak," ujarnya.

Faisal mengatakan bahwa lokasi ladang ganja tersebut sengaja dibuka dilokasi yang sangat sulit untuk dijangkau oleh warga sekitarnya. Hal itu terjadi karena kawasan tersebut terletak di lereng-lereng bukit yang curam, tersembunyi, dan berada sekitar lima kilometer dari permukiman penduduk.

Seorang tersangka pemilik ladang ganja tersebut, yang bernama Ibrahim, sudah diamankan di Pos Komando Operasi TNI di Lhok Seumawe. Penemuan Ibrahim sebagai pemilik ladang ganja tersebut terjadi setelah pihak TNI mengembangkan pemeriksaan terhadap warga Alue Garut tersebut.

"Pada awalnya dia bersikap seperti warga sipil biasa, namun setelah kami interogasi, akhirnya dia mengaku pernah menanam ganja. Hasil penjualan ganja tersebut diberikan kepada GAM," kata Faisal.

Sementara itu, Komandan Batalyon 403/ Wirasada Pista Kodam IV/Diponegoro yang bergabung dalam Detasemen Pemukul (Denkul) 3 Satuan Mobil (Satgas) 2 Letnan Kolonel Rimbo Karyono mengatakan bahwa pihaknya telah menghancurkan sepasang portal, yang menghalangi jalur jalan antara Simpang KKA, Aceh Utara dengan Kecamatan Permata, Kabupaten Aceh Tengah.

Penghancuran portal jalan tersebut dengan sendirinya telah membuka akses jalan yang menghubungkan kedua kabupaten itu. (oin)

TNI Temukan 1 Hektar Ladang Ganja di Pidie, Ratusan Butir Amunisi Disita
Jakarta (SIB)
Satu hektar ladang ganja milik GAM ditemukan oleh pasukan TNI di kawasan Kecamatan Mila, Pidie. Selain itu, pasukan TNI juga menyita ratusan butir amunisi di wilayah Aceh Timur.

Menurut rilis yang diterima detik.com disebutkan, ladang ganja satu hektar itu ditemukan pasukan TNI dari Yonif-600 pada saat melaksanakan patroli di Kecamatan Mila, Kabupaten Pidie. Bersamaan dengan itu ditemukan pula 2 buah charger HT, 4 buah bivak, 2 buah HT, 5 butir munisi 5,6 mm, 1 buah bendera GAM dan 1 buah teropong. Sementara di Kampung Sutai, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie terjadi kontak senjata antara pasukan TNI dari Yonif-725 dengan pemberontak GAM.

Akibat kejadian pasukan TNI berhasil menyita 1 buah bivak, 2 buah teropong, 2 butir munisi GLM, 3 stel pakaian loreng, 5 pasang sepatu PDL dan 3 buah bendera GAM. Sedangkan di Kabupaten Aceh Timur pasukan TNI dari Yonif-500 kontak senjata dengan GAM di Kampung Alue Nere, Peureulak. Di lokasi itu, berhasil disita 3 buah magazen campuran, 124 butir amunisi kaliber 5,56 mm, 1 stel pakaian loreng dan 2 pasang sepatu PDL.

Trangun yang polos
Trangun. Sebuah kecamatan yang letaknya jauh di pedalaman Kabupaten Gayo Lues. Nuansa kehidupannya sarat dengan ketertinggalan pembangunan. Untuk mencapai Trangun, diperlukan perjalanan yang tak ringan. Dari pusat kabupaten, tepatnya di Blang Kejeren, hanya ada satu sarana transportasi, sebuah mobil tua. Pintu dan jendelanya sudah entah ke mana. Berada di dalamnya serasa menunggang kuda karena jalan tak beraspal dan menempuh jarak sejauh 42 km. Jalanan itupun jauh dari kesan rata. Mendaki pegunungan dan menuruni lembah. Belum lagi debu musim kemarau yang membuat baju para penumpang tak lagi berwarna aslinya. Semilir angin berhembus menghalau keringat belasan penumpang yang saling bersesakan. Ada yang duduk di bangku dengan saling pangku. Atau tak sedikit yang harus menumpang di atap mobil. Bahkan seorang perempuan. Hari itu, Kamis, 10 Juni 2004.

Memasuki Trangun seperti berada di luar Aceh. Masyarakatnya tak berbahasa Aceh atau berbahasa Indonesia. Mereka hidup dengan bahasa Gayo. Tak heran bila pendatang selalu menemui kesulitan menjalin komunikasi dengan masyarakat setempat. Sekitar lima tahun lalu, sebelum konflik di Aceh menjadi-jadi, kehidupan masyarakat di Trangun berkecukupan. Ada nilam sebagai produk pertanian andalan. Namun konflik telah mengubah segalanya. "Kami tak mengerti apa-apa dengan konflik Aceh," ujar seorang warga ketika dimintai tanggapannya.

Mereka mengaku selalu dihantui rasa takut jika hendak mencari nafkah ke ladang. Para petani tak lagi berani ke sawah menanam padi dan takut membudidayakan nilam di ladang. Lahan pertanian terbengkalai karena ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya.

"Sejak ada kabar banyak GAM yang sembunyi di semak-semak ladang, masyarakat jadi tak berani lagi ke ladang. Maklum, mereka di sini tak banyak tahu tentang GAM. Selain takut sama GAM, juga takut kalau nanti ketemu dengan TNI yang sedang memburu GAM," kata seorang tokoh masyarakat di Kabupaten Gayo Lues, sebut saja namanya Nurhayati (32).

Gerakan Aceh Merdeka memang lebih populer di pesisir timur, khususnya di masyarakat yang berbahasa Aceh, seperti di Aceh Besar, Pidie, Bireuen, Lhoksuemawe hingga Aceh Timur. Di pesisir barat, seperti Meulaboh atau Aceh Selatan, atau kawasan tengah seperti Takengon, Gayo Lues hingga Aceh Tenggara, GAM kurang populer. Kendati mereka eksis dalam jumlah yang
terbatas.

Nah, sejak darurat militer diterapkan, batas-batas wilayah operasi GAM menjadi semakin kabur. Mereka bergerilya, berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain. Hingga ke Trangun. Akibat kemiskinan masyarakat yang semakin mewabah, anak-anak kecil banyak terlihat bertelanjang dada. Ketika ditanya mengapa tak memakai baju, orang tuanya mengatakan dalam bahasa Gayo yang artinya kira-kira begini; "Bukan tidak mau pakai baju, tapi baju yang mau dipakaikan yang tidak ada. Tidak ada duit untuk beli baju." Padahal, dinginnya udara pegunungan pastinya bukan sesuatu yang membuat mereka nyaman. Belum lagi gizi yang tidak memadai. Apalagi pelayanan kesehatan atau fasilitas umum lainnya. Pernah suatu ketika, seorang ibu yang akan melahirkan, kepayahan mencari pertolongan dari Puskesmas atau rumah sakit terdekat. Ia harus diboyong jauh ke pusat kabupaten untuk mendapatkan pertolongan dokter. "Aku hampir mati waktu mau melahirkan," ujar Ida (35) mengenang saat-saat persalinannya.

Tak hanya urusan melahirkan yang harus berjauh-jauh ke kota kabupaten. Anak-anak yang ingin sekolah pun, harus berpayah-payah menempuh jarak yang cukup jauh. Alih-alih perguruan tinggi, SMP dan SMU saja belum ada bangunannya. Baru bangunan tingkat Sekolah Dasar (SD) yang telah ada di Trangun. Sehingga tak perlu heran, mengapa hanya ada dua sarjana di Trangun. Di sebuah keluarga yang dikunjungi acehkita, menu yang terhidang adalah sepiring nasi dengan ikan asin bakar, ditambah ulekan bawang mentah, tomat, dan cabe mentah. Persoalan gizi menjadi nomor sekian. Yang penting bisa mengenyangkan dan makan dengan lahap. Itu adalah menu makanan keluarga yang ada sarjananya tadi. Namanya Rohayati (23), yang pada tahun 2003 lalu berhasil meraih gelar sarjana di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Sebuah jenjang yang sudah luar biasa bagi masyarakat Trangun kebanyakan.

Selebihnya, adalah lingkungan yang dikitari desa-desa miskin. Angkutan antardesa tak bisa diharapkan untuk membawa hasil bumi. Satu-satunya pilihan untuk bertahan hidup adalah berjalan kaki menuju pusat-pusat perdagangan. Seorang ibu dengan tujuh putra misalnya, harus berjalan dari satu desa ke desa lainnya. Boleh percaya boleh tidak, untuk melakoni itu semua, tak kurang dari seminggu waktu yang diperlukan untuk pulang lagi ke rumah setelah pergi berdagang. Barang yang dijual mulai dari pakaian atau jamu serta obat-obatan tradisional.

Golongan masyarakat yang lebih berada, seperti Ida (35), harus menghadapi balak lain berupa pemerasan dengan dalih pajak nanggroe. Suatu hari, dua orang yang tak dikenalnya datang meminta sumbangan pajak nanggroe. Dua orang itu mengaku sebagai anggota GAM. Mereka meminta uang sebesar Rp 6 juta saat mengetahui Ida baru saja selesai memanen padi di ladangnya. Dengan bahasa yang susah difahami maknanya, Ida menirukan kembali kata-kata pemungut "pajak" itu. "Hasil panen Anda, harus diserahkan ke kami sebanyak Rp 6 juta," kata orang itu. Setelah kejadian itu, Ida semakin kesulitan mencari nafkah. Ladangnya dibiarkan begitu saja menjadi semak belukar. Sebelumnya, Ida dan suaminya sering menginap di ladang yang jaraknya harus ditempuh dengan berjalan kaki seharian.

Trangun memang seperti kawasan di sebuah negeri antah berantah. Toh, gerilyawan yang terdesak, sering muncul di kawasan tersebut. Dari Trangun, jalan tembus ke Blang Pidie (Aceh Barat Daya) bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama tiga hari. Memang ada satu pos TNI di kawasan Trangun. Namun ironisnya, masyarakat yang terbelakang itu juga tak mengerti apa fungsi kehadiran mereka. Seperti saat kejadian yang dialami Ida, dia mengaku tidak tahu bila ada kasus pemerasan seperti itu, seharusnya melapor ke TNI. Masih ada satu kecamatan pedalaman lagi. Namanya Pinding. Orang-orang menyebutnya sebagai salah pusat ladang ganja di Serambi Mekkah.

Saudara Ahmad hati-hati karena saya tau anda dan GAM benar2 termasuk dalam kelompok kaum Khawarij oleh karena itu segeralah tobat dan mohon ampunan Allah SWT.

Wassallam

Sumitro

mitro@kpei.co.id
Jakarta, Indonesia
----------