Stockholm, 10 Juli 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SAGIR ALVA ITU KARENA MENGIMANI APA YANG TERCANTUM DALAM AYAT 44, 45, 47 SURAT AL-MAIDAH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SAUDARA SAGIR ALVA TIDAK ADA YANG MENGKAFIRKAN KARENA SEMUA ITU DIDASARKAN KEPADA APA YANG DIFIRMANKAN ALLAH SWT DALAM AYAT 44, 45, 47 SURAT AL-MAIDAH

"Selamat petang pak Ahmad, bagaimana Pak Ahmad disana? semoga bapak sekeluarga senantiasa mendapat perlindungan Allah SWT. Pak Ahmad memang kalo dilihat dari apa yang tercantum di Surat Al-Maidah ayat 44,45, 47, maka Indonesia juga sudah masuk dalam kategori yang dimaksudkan, termasuk juga negara bapak, Swedia dan negara2 skandinavia lainnya. Tapi disini kita tidak perlulah mengkafirkan sesama umat Islam sendiri, seperti perkataan pak Husaini Daud, yang mengatakan secara filosofis orang Indonesia adalah kafir karena mendukung sistem pemerintahan yang kafir. Sebenarnya, kalo dilihat dari sudut pandang yang seperti ini, berarti sama aja kan dengan beberapa orang Indonesia yang berada di Swedia dan dibeberapa negara Skandinavia yang telah mengubah status kewarganegaraan menjadi warga negara Swedia or negara2 yang ada didaerah Skandinavia lainnya, bukankan bapak dan yang lainnya sebagai warganegara dinegara yang bersangkutan juga mendukung sistem pemerintahan dan sistem hukum yang diterapkan oleh negara bapak dan yang lainnya itu? Apakah sistem yang dipakai adalah hukum Allah, setau saya Swedia dan negara skandinavia lainnya tidak mengunakan hukum Allah, jadi apa bapak dan yang lainnya juga termasuk kedalam apa yang dikatakan dalam surat Al-Maidah tersebut?, terlebih-terlebih ayat tersebut dengan jelas menujukan kepada kaum Yahudi, walopun sebenarnya ia juga ditujukan kepada umat Islam, dimana Swedia dan negara2 Skandinavia adalah negara kaum Yahudi dan Nasrani." (Sagir Alva , melpone2002@yahoo.com , Sat, 10 Jul 2004 00:32:47 -0700 (PDT))

Terimakasih saudara Sagir Alva di Selangor, Malaysia.

Sebagaimana yang telah dituliskan dalam tulisan-tulisan sebelum ini, saya tidak menafikan atau membantah, memang benar dilihat dari sumber hukum yang dipakai oleh Kerajaan Swedia, maka Kerajaan Swedia digolongkan kepada Negara kafir. Itu telah saya aku dengan penuh kesadaran. Begitu juga saya mengakui dengan penuh kesadaran bahwa Negara RI yang sumber hukumnya pancasila adalah Negara kafir.

Saya mengakui secara jujur Kerajaan Swedia dan Negara RI adalah negara kafir karena sama sumber hukumnya bukan kepada sumber hukum Islam atau Al-Qur'an dan Sunnah, maka saya berusaha untuk terus mengikuti dan menerapkan apa yang telah diFirmankan Allah SWT, seperti yang tertuang dalam ayat 44, 45, 47 surat Al-Maidah.

Saya sekarang di Swedia, berusaha dengan sekemampuan yang ada dalam diri saya untuk tidak melanggar apa yang telah di Firmankan Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 44, 45, 47 itu.

Kalau toh ada produk hukum dan undang-undang yang dihasilkan oleh lembaga pembuat hukum dan undang-undang di Kerajaan Swedia yang bertentangan dan tidak mengikuti apa yang diturunkan Allah SWT, jelas saya berusaha sekuat mungkin untuk tidak mengakui dan sekemampuan untuk tidak menjalankannya. Misalnya undang-undang hidup bersama tanpa kawin. Peraturan yang membolehkan memperjual belikan minuman keras. Peraturan yang membolehkan memakan apa saja asal yang tidak membahayakan badan dan kesehatan. Undang-undang mendonasikan organ tubuh kalau mati. Peraturan penyembelihan binatang. Dan yang lainnya.

Jadi, kalau ada produk hukum dan undang-undang yang dikeluarkan dan dihasilkan oleh lembaga pembuat hukum dan undang undang Kerajaan Swedia, maka saya sebagai seorang muslim yang mukmin dan sekaligus sebagai rakyat Kerajaan Swedia berusaha sekuat tenaga untuk menyaringnya dengan hukum yang berlaku dalam Islam, walaupun hukum Islam tidak diakui dan dibenarkan untuk dijalankan di Kerajaan Swedia. Tetapi bagi pribadi saya, keluarga dan masyarakat muslim lainnya itu hukum Islam bisa dijadikan sebagai filter atau alat penyaring hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh lembaga pembuat hukum dan undang-undang di Kerajaan Swedia. Dan saya bersama keluarga dan seluruh kaum muslimin yang ada di Swedia belepas diri dari tanggung jawab para pimpinan Kerajaan Swedia yang telah menetapkan dan memutuskan hukum dan undang-undang yang tidak dibuat menurut apa yang diturunkan Allah SWT. Semoga Allah SWT memaafkan dan tetap memberikan Petunjuk dan Bimbingan-Nya kepada kaum muslimin di Kerajaan Swedia, serta mengampuni dosa-dosa kaum muslimin di Kerajaan Swedia khususnya dan di Negara Scandinavia pada umumnya dan diseluruh Negara Eropa lainnya.

Begitu juga saya mengharapkan kaum muslimin di Negara RI yang katanya mayoritas beragama Islam. Mengapa mereka para pimpinan di Negara RI itu dalam hal pembuatan aturan, hukum, undang-undang tidak mengikuti apa yang telah diturunkan Allah SWT ?. Alasan karena menganut pancasila. Itu alasan yang kecil, alasan yang tidak kuat, tidak ada dalil nash-nya yang kuat dan benar untuk terus dipertahankan menganut dan memegang erat-erat pancasila.

Kemudian itu yang dikatakan oleh saudara Sagir Alva: "Tapi disini kita tidak perlulah mengkafirkan sesama umat Islam sendiri, seperti perkataan pak Husaini Daud, yang mengatakan secara filosofis orang Indonesia adalah kafir karena mendukung sistem pemerintahan yang kafir."

Saudara Sagir Alva, itu saudara Husaini Daud telah menulis: "Baiklah Rokhmawan, dalam surah al-Maidah ayat 44 dinyatakan Allah sebagai kafir, ayat 45 sebagai dhalim dan ayat 47 sebagai fasiq. Kafir, dhalim dan fasiq adalah tidak termasuk dalam golongan Islam (Mu`min), makanya dalam setiap acara Hari raya Islam (Aidil Fitri dan aidil Adh-ha) dan juga di lembah mina, dikumandangkan kalimah: .......walau karihal kafirun, dhalimun, fasiqun, musjrikun dan munafiqun yang menandakan bahwa mereka itu adalah musuh-musuh islam." (Husaini Daud, Sat, 26 Jun 2004 05:04:06 -0700 (PDT)). Kemudian pernah juga saudara Husaini Daud menulis: "Secara filosofis orang-orang seperti Sukarno, Suharto, Habibi, Gusdur, megawati, SBY, Wiranto dan lain-lain serta semua pengikut mereka adalah kafir dan tidak salah juga kalau kita katakan orang-orang dhalim atau fasiq. Namun secara syar-`i mereka semua adalah munafiq." (Husaini Daud, Mon, 28 Jun 2004 10:48:01 -0700 (PDT))

Nah, itu yang ditulis oleh saudara Husaini Daud. Kemudian semua alasan-alasannya telah saya terangkan dalam tulisan-tulisan saya sebelum ini. Semuanya bermuara dan mendasarkan kepada ayat 44, 45, 47 surat Al-Maidah yang tidak diakui dengan sepenuh keyakinan oleh saudara Rokhmawan dan Salafi-nya. Jadi dalam tulisan ini tidak perlu lagi saya jelaskan panjang lebar.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Sat, 10 Jul 2004 00:32:47 -0700 (PDT)
From: sagir alva melpone2002@yahoo.com
Subject: jangan saling mengkafirkan
To: ahmad@dataphone.se
Cc: melpone2002@yahoo.com

Ass.Wr.Wb

Selamat petang pak Ahmad, bagaimana Pak Ahmad disana? semoga bapak sekeluarga senantiasa mendapat perlindungan Allah SWT. Pak Ahmad memang kalo dilihat dari apa yang tercantum di Surat Al-Maidah ayat 44,45, 47, maka Indonesia juga sudah masuk dalam kategori yang dimaksudkan, termasuk juga negara bapak, Swedia dan negara2 skandinavia lainnya. Tapi disini kita tidak perlulah mengkafirkan sesama umat Islam sendiri, seperti perkataan pak Husaini Daud, yang mengatakan secara filosofis orang Indonesia adalah kafir karena mendukung sistem pemerintahan yang kafir.

Sebenarnya, kalo dilihat dari sudut pandang yang seperti ini, berarti sama aja kan dengan beberapa orang Indonesia yang berada di Swedia dan dibeberapa negara Skandinavia yang telah mengubah status kewarganegaraan menjadi warga negara Swedia or negara2 yang ada didaerah Skandinavia lainnya, bukankan bapak dan yang lainnya sebagai warganegara dinegara yang bersangkutan juga mendukung sistem pemerintahan dan sistem hukum yang diterapkan oleh negara bapak dan yang lainnya itu? Apakah sistem yang dipakai adalah hukum Allah, setau saya Swedia dan negara skandinavia lainnya tidak mengunakan hukum Allah, jadi apa bapak dan yang lainnya juga termasuk kedalam apa yang dikatakan dalam surat Al-Maidah tersebut?, terlebih-terlebih ayat tersebut dengan jelas menujukan kepada kaum Yahudi, walopun sebenarnya ia juga ditujukan kepada umat Islam, dimana Swedia dan negara2 Skandinavia adalah negara kaum Yahudi dan Nasrani.

Bapak Ahmad, Indonesia memang menganut paham Pancasila, dan sebenarnya banyak tokoh-tokoh Islam yang saat ini sedang berjuang, agar di Indonesia dapat dilaksanakan syariat Islam, mengahapus kemaksiatan, namun semua itu tidak bisa secara serta merta atau yang namanya revolusi, karena jika dilakukan secara radikal, maka Indonesia bisa oleng dan karam, namun dilakukan perlahan-lahan, diperbaiki sedikit demi sedikit hukum-hukumnya, bukankah Rasullah SAW perlu mengambil masa juga dalam memperjuangkan tegaknya hukum Allah, dan usaha itu dimulai dari yang kecil, yaitu diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar dan akhirnya sampai pada wilayah yang lebih luas lagi.

Saya yakin bapak tau dengan kalimat ini "kalo kamu melihat kemungkaran dan kemaksiatan berlaku maka rubahlah dengan tanganmu, namun jika kamu tidak mampu, maka rubahlah dengan lisanmu, tapi jika kamu tidak mampu juga, maka lakukan dengan berdo'a, tapi yang ketiga merupakan selemah-lemahnya Iman."

Jadi disini kita juga diberi pilihan, cara mana yang mesti kita tempuh jika ingin memperbaiki dan menegakkan syariat Islam, dan tentu ini disesuaikan dengan kekeuatan yang dipunyai, jika kekuatan cukup memadai ya kita guna yang pertama, jika kekuatan kurang yach kita boleh ambil cara kedua, namun jika kita tidak punya kekuatan, maka kita coba cara ketiga sambil kita coba terus untuk berjuang menegakkan hukum Allah.

Jadi saya kira, tidak perlulah saling mengkafirkan satu sama lain, karena jika saling mengkafirkan, ini hanya memperlemah umat, lebih baik coba untuk memikirkan bagaimana untuk menegakkan syariat Islam dan hukum Allah itu, setidak-tidaknya untuk diri sendiri, dan keluarga kita.

Saya mohon maaf, jika ada perkataan saya yang menyinggung perasaan pembaca milis lainnya, dan saya mengucapkan terima kasih atas komentar yang diberikan kepada saya baik yang positif ataupun yang negatif.

Wassalam

Sagir Alva

melpone2002@yahoo.com
Universitas Kebangsaan Malaysia
Selangor, Malaysia
----------