Sandnes, 11 Juli 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ORANG-ORANG YANG ADA DALAM SYSTEM THOGHUT PANCASILA KELIRU 180 DERAJAT
Muhammad Al Qubra
Sandnes - NORWEGIA.

 

KELIHATAN JELAS ORANG-ORANG HINDUNESIA JAWA YANG BERSYSTEM THOGHUT PANCASILA KELIRU 180 DERAJAT

Orang-orang dari system Hindunesia pura-pura yang sedang berdebat kusir dengan Ustaz Ahmad Sudirman adalah contoh orangnya. Lihatlah betapa dangkalnya dalam berargumentasi.

"Surah Al Maidah ayat 44, 45 dan 47 sangat jelas termasuk ayat-ayat muhkamat (ayat hukum yang kath'i) namun mereka menganggap ayat mutasyabihat. Disebabkan banyaknya orang-orang yang keliru seperti itulah makanya pemimpin zhalim macam Sukarno, Suharto, Sutrisno, Yudoyono, Gus Dur, Wiranto, Wibowo, Widodo dan lainnya jauh kemungkinan untuk menyadari kezhalimannya.

Mereka tidak memahami mana yang dimaksudkan "Aqidah". Di mulut mereka mengaku tidak ada tuhan selain Allah, namun dalam kehidupan mereka membuat tandingan dengan Allah. Mereka tidak memahami bahwa kalau tidak mengaplikasikan sebagaimana kata Allah dalam keuhidupan keluarga, masjarakat dan negara, kita belum termasuk dalam katagori orang-orang yang beriman kendatipun telah kita ucapkan dengan lidah dan kita tasdiqkan dengan hati. Mereka menganggap Islam tidak boleh melawan musuh dengan kekerasan biarpun kita sudah dijajah, tak boleh melawan dengan senjata, cukup dengan dakwah terus-menerus. Seperti sontoloyo-sontoloyo Jawa saat dibredili Belanda dulu sehingga belum apa-apa sudah menyerah. Lalu dibawa ke Acheh sebagai umpan peluru.

Mereka tak sanggup berfikir bahwa paling kurang ada dua klasifikasi pemikiran jaitu klasifikasi syar'i dan klasifikasi filosofis. Setjara syar'i semua pemimpin Hindunesia-Jawa dan semua pengikutnya kecuali taqiah adalah munafiq (QS,2:8-20), namun setjara filosofis mereka adalah kafir. Secara syar'i mereka mengaku diri sebagai orang Islam.

Untuk menguatkan pengakuannya mereka melakukan shalat, puasa, upacara ritual seperti maulid, Isra`mi`raj, Musabaqah Qur'an, wirid, tahlil samadiah, kenduri kematian, naik Haji dan berdoa.

Diantara mereka ada yang berlagak ulama dengan penampilan bersorban dan berjenggot, tapi otaknya Snough Houghronye. Mereka takmampu berfikir bahwa System itu umpama bahtera yang sedang berada di tengah laut, sementara pemimpin adalah sang Nakhoda. Kalau nakhodanya seorang pemimpin yang kafir, zhalim dan fasiq (QS,5: 44, 45, dan 47), tentu secara pelan tapi pasti akan membawa bahteranya itu ke neraka bersama segenap pengikutnya, kendatipun pengikutnya menganggap diri alim seperti Rokhmawan, Sumitro, Hadi, dan lain-lainya yang memfungsikan diri sebagai wayang ketoprak.

Orang bodoh menyangka wayang Rokhmawan bergerak-gerak sendiri, padahal ada orang dibalik layar yang menggerakkan penampilan Rokhmawan, Sumitro dan Hadi. Namun andaikata nakhoda bahtera tersebut seorang Imam/Pemimpin yang mengikuti garis kepemimpinan Rasulullah sudah barang pasti dia akan membawa semua pengikut setianya menuju Syurga kecuali orang munafiq.

Ummah yang tunduk patuh kepada sang Imam sejati (bukan Imam palsu) sama dengan tunduk patuh kepada Rasul sama dengan tunduk patuh kepada Allah. Artinya Allah yang menyuruh ummah agar benar-benar tunduk patuh kepada Khalifah-Nya (Imam). Imam memahami betul bahwa Islam mustahil diperjuangkan dalam system Thaghut.

Jadi kalau orang-orang seperti Amien Rais memahami Aqidah Islam yang belum mengalami dekaden, dia akan memperjuangkan Islam di luar System Hindunesia-Jawa seperti Kahar Muzakkar, Imam Kartosoewirjo, Tgk. Hasan Muhammad di Tiro dan lain-lain.

Dengan cara demikianlah yang dapat terlepas dari surah Al Maidah ayat 44,45 dan 47. Sayangnya Amien sekarang sudah larut dalam system Thaghut Hindunesia-Jawa. Jadi kaum dhu'afa di kepulauan Melanesia itu harus mampu memahami bahwa itu bukan lagi Amien Rais yang dulu, yang pernah mendapat cap jempol dalam melawan Suhartoisme.

"Kemudian atas pertanyaan Bpk Ahmad kepada Rokhmawan tentang SBY, Mega, Amin dll apakah mereka kafir, dlolim, fasyik. Sebenarnya ini tidak perlu saya jawab mengapa ? Apabila bapak Ahmad benar-benar memperhatikan komentar-komentar saya dengan seksama dan teliti maka pasti bapak bisa menemukan jawaban dari saya, tetapi sayangnya Bapak Ahmad ini orangnya terlalu lugu sehingga tidak bisa mengambil kesimpulannya (mirip anak SD dan SMP ketika di suruh gurunya utk mengambil kesimpulan suatu artikel, bacaan dll). Tapi tidak masalah karena bapak terlalu lugu maka akan saya simpulkan Bahwasanya yang berhak untuk mengatakan orang islam si A, si B termasuk kafir, dlolim, fasyik hanyalah Alloh SWT, akan tetapi walaupun yang berhak mengakafirkan orang islam adalah Alloh SWT, Dajjalpun ikut andil dalam mengkafirkan orang islam si A, si B." (Rokhmawan, 9 Juli 2004)

Betapa lugunya Rokhmawan dalam berargumentasi. Yang mengkafirkan SBY, Mega, Amin Rais, dan sebagainya. Justru Allah sendiri melalui surah Al Maidah tersebut, sedangkan Ustaz Ahmad Sudirman hanya menjelaskan ayat-ayat Allah kepada manusa, dan dia menjadi saksi kelak dihadapan Allah terhadap orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah di mimbar bebas ini (QS 36: 60-65).

Kalau Allah sudah membuat keputusan bahwa orang-orang yang tidak menghukum dengan hukumNya adalah Kafir, lalu kita membantahnya, kita juga termasuk kafir disisiNya. Yang jelas orang-orang yang benar-benar beriman memiliki pandangan yang sama sebagaimana pandangan Allah, bagaimana kata Allah demikian kata mereka. (sami`na wa ata`na).

Disini sebetulnya Rokhmawan mengatakan bahwa Ustaz Ahmad Sudirman adalah Dajjal. Hal ini kembali kepadanya. Rokhmawan, Sumitro dan Hadi-lah yang termasuk Dajjal menurut Al Qur-an. Yaitu orang orang yang menuduh Pembela Al-Qur'an Dajjal, akan tetapi mereka tidak sadar (QS,2:9-10).

"Pak kalau cuma mengkafirkan orang islam karena tidak berhukumkan Alloh SWT tetapi tidak menyebutkan si A, si B dll itu masih bisa maklumi, tetapi yang tidak di perbolehkan Alloh SWT adalah mengkafirkan orang islam si A, si B dll yang masih menjalankan syariat islam seperti sholat, puasa, zakat, haji dsb." (Rokhmawan, 9 Juli 2004)

Apa artinya shalat, puasa, zakat, haji dsb, sementara mereka adalah otaknya Pembunuh, Penindas dan Koruptor. Dapatkah anda memahaminya ? Pembunuhan yang dilakukan TNI terhadap rakyat jelata dalam peristiwa Tanjung Periuk adalah perpanjangan tangan Suharto, pembunuhan yang dilakukan TNI/POLRI terhadap rakyat Papua Nugini, Maluku, Selebes, Timor Larose dan Acheh Sumatra adalah perpanjangan tangan Sukarno, Suharto, Gusdur, Megawati dan juga tanggung jawab seluruh anggota DPR/MPR, serta pejabat-pejabat negara lainnya. Mampukah anda melihatnya?

Yang jelas semua orang-orang yang bersekongkol dengan pemimpin-pemimpin zhalim yang saya sebutkan diatas adalah sama seperti penumpang dari sebuah bahtera yang sedang digiring Nakhodanya ke neraka, kecuali Taqiah.

"Pak Ahmad ambil pelajaran tuh dari perjalanan Rosul ketika isro' mi'roj, si ahli ibadah masuk neraka hanya karena memvonis si ahli maksyiat termasuk orang kafir dan tidak akan diampuni dosanya padahal si Ahli maksyiat tsb slalu mengharap rahmat Alloh SWT. Mungkin bapak tidak bisa mengambil inti sarinya karena apa ? yaa karena bapak Ahmad ini hanya menginginkan kemerdekaan rakyat Aceh, Anggota GAM/TNA. Sehingga segala cara ditempuhnya untuk memuluskan tujuannya seperti mengkafir-kafirkan orang islam si A, si B, memerangi umat islam dll. Yang jelas bapak Ahmad memang pintar membelokkan pembicaraan saya dalam diskusi di mimbar bebas ini ke arah yang sebenarnya manhaj kami sudah menjawabnya. Ini dilakukan karena apa ? yaaa karena bapak Ahmad merasa terpojokkan oleh pertanyaan-pertanyaan saya dan tidak bisa menjawabnya (serba salah kalau mau menjawabnya), seandainya dijawab dengan jujur berarti akan menghalangi tujuannya yaitu memerdekakan aceh, seandainya dijawab dengan seenaknya sendiri, takut laknat Alloh SWT. Untuk satu contoh saja, Apa pernah Rosululloh mengatakan orang islam si A, si B adalah termasuk orang kafir, dlolim, fasyik. Kelihatan sekali itu pak Ahmad cs menafikkan hadist shoheh. Jangan dikatakan kalau orang islam yang hidup pada jaman Rosululloh SAW itu semuanya orang islam yang kaffah, pengikut Rosul tsb ada yang islamnya munafik, islam tetapi fasyik,islam tetapi dlolim. Walaupun begitu Rosululloh tidak pernah mengatakan si A, si B adalah kafir, dlolim, fasyik apalagi membicarakannya dengan sahabatnya. Nah kalau bapak Ahmad cs tetap ngotot mengkafirkan orang islam si A, si B dengan berdasarkan Al-maidah 44, 45, 47 berarti bapak tidak mau di atur oleh Rosululloh SAW atau dengan kata lain bapak ingin menegakkan syariat islam di bumi ini dengan cara bapak sendiri atau bapak mencampuradukkan shiroh nabawiyah dengan cara bapak sendiri yang erdasarkan (maaf) hawa nafsu." (Rokhmawan, 9 Juli 2004)

"Sebenarnya bapak Ahmad, dulu ustadznya siapa sech ? paling-paling orang yang seperti bapak, keras pendiriannya (menganggap pendapatnya yang paling benar). Pak tunjukkan pada saya kalau ada ulama yang bapak anut pernah mengatakan orang islam si A, si B adalah termasuk kafir, dlolim, fasyik. Kalau benar-benar ada berarti dia mau menyamai Alloh SWT dalam memvonis seseorang (na'udzubillaahi min dzalik). Kemudia lihat itu komentarnya bapak Ahmad pasti tidak pernah membahas apa-apa yang saya sampaikan kepadanya (baca lagi komentar-komentar saya). Misal saja bapak Ahmad menghujat, memaki membicarakan kejelekan orang islam yang sudah tiada ( sukarno cs), naah apa ini juga di contohkan Rosululloh SAW. Kalau Abu Jahal, Abu Lahab dll...dia kan orang kafir harby." (Rokhmawan, 9 Juli 2004)

Rokhmawan! Betapa lugunya kamu, kamu tidak mampu memahami definisi orang Islam. Pintu masuk dalam Islam adalah mengucapkan dua kalimat Syahadah. Namun yang harus kamu fahami bahwa tidak ada artinya atau belum termasuk orang yang beriman kalau hanya mengucapkan saja dengan lidah tanpa meyakini sepenuhnya dalam hati (tasdiq). Membuktikan bahwa adanya keyakinan yang benar didalam hati dapat di ukur dengan sepak terjangnya dalam kehidupan sehari-hari dalam berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara. Jelasnya mengucap dua kalimah syahadah terdiri dari tiga syarat: "Pertama, mengucapkan dengan lidah. Kedua, mentasdiqkan dengan hati dan yang paling menentukan beriman tidaknya adalah syarat yang ke tiga yaitu membuktikan dengan amaliah dalam kehidupannya."

Apa artinya kita mengucapkan dengan lidah beribu-ribu kali bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah namun dalam kehidupan kita tunduk patuh kepada pemimpin zhalim dan merasa senang berada dalam system thaghut yang anti kepada hukum-hukum Allah, dimana kaum dhuafa menjadi bulan-bulanan "fir-aun-firaun" moderen.

Untuk lebih jelas coba simak alinia berikut ini: Seorang anak selalu memuji-muji ayahnya dan senantiasa memberitahukan orang lain itu adalah ayahnya. Namun ketika sang ayah menyuruhnya untuk berbuat sesuatau, dia selalu memberi alasan yang tidak dapat diterima sang Ayah. Pokoknya anak tersebut tidak taat kepada Ayahnya. Secara syar'i, sang Ayah adalah orang tuanya. Tetapi secara filosofis sang Ayah itu bukan orang tuanya. Anak tersebut tidak menjalanlan kewajibannya sebagai sang anak terhadap sang Ayah. Demikian juga dewasa ini banyak orang yang mengaku beragama Islam senantiasa bersalawat kepada Nabi, namun apa kewajibannya yang utama diperintahkan rasul, senantiasa diabaikan. Secara syar'i orang tersebut termasuk ummah Muhammad namun secara filosofis mereka adalah termasuk orang-orang munafiq.

Tugas Rasul yang utama adalah membebaskan kaum dhuafa dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk merka (QS,7:157). Dengan demikian kita orang-orang beriman sudah barang pasti "Haq" untuk bersatupadu pada satu poros dibawah pemimpin yang meneladani kepemimpinan Raul (membebaskan kaum dhua-fa dan melawan setiap bentuk penindasan diatas permukaan bumi ini.).

Dewasa ini banyak juga orang yang keliru cara untuk meneladani Rasul yaitu dengan hanya berpenampilan seperti Rasul (berjenggot dan bersorban) tetapi membiarkan kaum dhuafa merintih digubuk reot. Apa artinya kita bersorban dan berjenggot, sementara kerjanya Nabi membebaskan kaum dhuafa dari penindasan tidak kita gubris sama sekali kecuali asik dengan ibadah ritual untuk bertaqarrup kepada Allah, kan persis sama dengan contoh seorang anak di alinia diatas.Yang seperti ini adalah ajarannya Tuan Snough Houghronye.

Billahi fi sabililhaq

Muhammad Al Qubra

acheh_karbala@yahoo.no
Sandnes, Norwegia
----------