Sandnes, 12 Juli 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SUMITRO, ROKHMAWAN, HERMAWAN & ORANG-ORANG DI BALIK LAYAR PEMBELA SISTEM HINDUNESIA JAWA
Muhammad Al Qubra
Sandnes - NORWEGIA.

 

JELAS ITU SUMITRO, ROKHMAWAN AGUS SANTOSA, AGUS HERMAWAN DAN ORANG-ORANG DI BALIK LAYAR ADALAH PEMBELA SISTEM HINDUNESIA JAWA & SISTEM THOGHUT PANCASILA

Komunitas manusia yang pertama di dunia ini adalah keluarga Nabi Adam dan Hawa. Perpecahan terjadi akibat ulah Qabil yang tak mau tunduk kepada hukum perkawinan yang ditetapkan Allah. Qabil berargumen bahwa peraturan itu bukan dari Allah, sebaliknya dari ayahnya sendiri.

Secara filosofis, Qabil telah menuduh Rasul (Nabi Adam/Ayahnya sendiri) berbohong. Hukum menuduh Rasul Allah berbohong adalah "murtad" (otomatis berada di luar Islam). Namun siapapun yang bertanya kepada Qabil, tentang kedudukan ayahnya disisi Allah, pasti jawabannya "Rasulullah".

Demikian jugalah anda-anda pembela sistem Hindunesia Jawa (mayoritas pemimpinnya adalah orang Jawa) andaikata kami tanya pada kalian, apa fungsinya Al Qur'an untuk manusia ?. Anda akan menjawab "sebagai Pedoman Hidup". Jawaban anda benar 100% (QS,2:2). Namun realitanya anda tidak berpedoman pada Al Qur'an, tapi anda tempatkan Al Qur'an dibawah Hadist, Sirah Rasul, Fiqh, Ahlu Sunnah wa al-Jamaah, Shalafiah, Manhaj dan entah apa lagi yang mengkaburkan persoalan uatama yaitu tentang ketentuan Allah perihal kedudukan orang-orang yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah.

Tidak ada Hadist, Sirah Rasul, Fiqh, Jamaah tertentu (baca Ahlu Sunnah wa al-Jamaah), Salafiah, Manhaj dan Pancasila yang dapat membatalkan ayat-ayat Allah (Al Qur'an). Membantah ayat-ayat Allah = membantah Allah.

Betapa hebatnya kalian, telah mengambil posisi Qabil, namun tidak pernah mengaku salah, seperti Qabil. Kalimat saya ini memang sakit, tapi itulah obatnya yang dapat menyembuhkan penyakit malarianya kalian (pil kenine). Memang pahit, justru orang-orang yang mampu berfikirlah yang mau menelan itu pil kenine.

Didunia ini ada dua model pendakwah, yakni pendakwah yang ber-islakh (muslikhun) dan pendakwah yang berkhidmad (mufsidun). Pendakwah Al-Muslikhun adalah pendakwah yang senantiasa menyampaikan yang "Haq" untuk memperbaiki komunitas manusia yang sudah keliru namun tidak menyadarinya, kecuali merasakan pahitnya, sehingga menganggap pendakwah itu sudah menghinanya, lalu melawan walau berhadapan dengan ayat-ayat Allah. Pendakwah Al Mufsidun adalah pendakwah yang senatiasa menyampaikan hal-hal yang menyenangkan publik, walaupun terpaksa mempelintirkan ayat-ayat Allah demi menyenangkan komunitasnya, untuk hal ini pendakwah tersebut mendapatkan sedekah yang banyak sekali dari pemimpin-pemimpin zhalim.

Pendakwah semacam ini banyak sekali bergentayangan didalam Sistem Hindunesia-Jawa. Mereka mendapat cap jempol dari pemimpin-pemimpin zhalim. Pendakwah semacam ini, kedudukannya = Bal'am-bal'am dalam sistem Fir'aun. Merekalah yang meninabobokkan rakyat jelata untuk tidak melawan kezhaliman Sukarno, Suharto, Gusdur, Megawati dan antek-anteknya, sebab mereka masih shalat, puasa, naik haji dan rajin berdoa.

Pendakwah Al Muslikhun (Penyeru-penyeru kebenaran) adalah umpama dokter yang memberikan pil kenine kepada orang-orang yang menderita penyakit malaria, sedangkan Pendakwah Al-Mufsidun adalah umpama seorang toke yang memberikan susu kepada penderita penyakit malaria yang sudah barang pasti tak pernah menyembuhkan penyakitnya kecuali bertambah parah.

Persoalan yang sedang saya bahas ini adalah persoalan antara Habil dan Qabil; antara pengikut Ibrahim dan pengikut Namrud; antara pengikut Musa dan pengikut Fir'aun; antara 'Isa cs dan Kaisar-kaisar di Roma; antara Muhammad dan Abu Sofyan; antara 'Ali dan Muawiyan bin Abu Sofyan; antara Hussein bin 'Ali dan Yaziz bin Mu'awiyah; antara Imam Kartosoewirjo, Kahar Muzakkar, Hasan Muhammad di Tiro dan Sukarno, Suharto, Gusdur, Megawati; antara Ahmad Sudirman cs dan Rokhmawan cs; antara yang haq dan yang bathil; antara pendakwah yang ber-islakh dan pendakwah yang ber-khidmad; antara pemberi pil kenine dan pemberi susu; antara pembela ayat-ayat Allah dan penentang ayat-ayat-Nya.

Persoalan inilah sebetulnya yang harus digarisbawahi, namun Rokhmawan cs telah berbicara segudang masalah yang lain dengan bermacam-macam persoalan yang membingungkan masyarakat awam, seolah-olah mereka banyak ilmu, padahal semuanya hikayat musang (istilah Husaini Daud)

Disebabkan ngawurnya persoalan yang dikemukakan Rokhmawan cs, sayapun mencopot sana-sini dalam tanggapan saya itu. Makanya tuntaskan persoalan yang utama dulu, setelah itu baru kita selesaikan perkara yang lain.

Rokhmawan !

Orang kafir yang sudah mengaku terang terangan tidak diperlukan keterangan, sebab memang sudah menyatakan sendiri akan kekafirannya, yang menjadi persoalan adalah orang-orang kafir, tapi tidak mengaku tentang kekafirannya (baca Hindunesia-Jawa). Orang-orang semacam itulah yang memerlukan keterangan dari Allah sendiri. Allah lah yang berhaq menentukan, sedangkan Rasul, Imam dan penyeru-penyeru kebenaran memberikan penjelasan kepada manusia yang tidakmampu memahaminya. Sedangkan Qabil-qabil atau Bal'am-bal'am senantiasa bersikukuh untuk mempelintirkan Ayat-ayat Allah.

Jelasnya di mimbar bebas ini ada dua kutub pemikiran, yaitu kutub Habil dan kutub Qabil, namun kedua kutub tersebut meyakini merekalah yang termasuk kutub Habil. Persoalan seperti ini juga dialami Rasul sendiri sampai mengajak pembantah ayat-ayat Allah itu untuk sama-sama pergi ke lapangan meminta langsung kepada Allah untuk menjatuhkan kutukanNya kepada pihak yang bathil (bermubahalah).

Kata orang diluar Islam, orang Islam kalau berkuasa menjadi koruptor. Sebetulnya pemimpin yang koruptor itu bukan orang Islam, tapi kafir yang mengaku Islam (Islam palsu). Pemimpin Islam sejati pantang melakukan korupsi (pencuri berdasi), sebab mereka merupakan amanah Allah kepada ummahnya.

Lihatlah NKRI mulai sejak dipimpin Sukarno sampai anaknya Megawati, rakyat jelata senantiasa hidup dalam keadaan morat-marit, sementara pemimpin dan kroni-kroninya hidup mewah. Lucunya sebagian rakyat jelata seperti Apha Maop tidak tau diri berjingkrak-jingkrak dibawah kaki sang Penjajah zhalim. Di sana juga banyak Bal'am-bal'am yang berlagak ulama serta mengetahui persis bahwa koruptor (pencuri berdasi) wajib potong tangan, namun jangankan potong tangan dihukum penjarapun tidak. Lihat itu Suharto sebagai rajanya koruptor, rajanya pembunuh, rajanya penzina, dimana dia sekarang.

Orang orang yang termasuk dalam golongan yang bertaqiah dan kaum dhuafa yang tidak mengaku kepemimpinan thaghut itu tidak termasuk orang kafir, kendatipun dia orang Jawa tulen. Mereka pasti memihak kepada kami bangsa Acheh yang sadar. Andaikata kami berhasil menghalau tentara-tentara "yazid" kelak (merdeka), kewajiban kami selanjutnya adalah menerima mereka sebagai saudara kami sendiri untuk tinggal di negara kami agar terlepas dari penderitaan yang dicetuskan pemimpin pemimpin zhalim. Tetapi sebaliknya orang-orang seperti Apha Maop, go away from Acheh !

Akhirnya saya tutup tulisan ini dengan surah Yasin ayat 60-65: "Bukankah sudah kuperintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak tunduk patuh kepada syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi kamu. Dan tunduk patuhlah kepada da Ku. Inilah jalan yang selurus-lurusnya. Sesungguhnya syaithan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantarakamu. Apakah kamu tidak berfikir ? Inilah Jahannam yang dulu kamu diancam (dengannya). Masuklah kamu kedalamnya hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, tangan dan kaki Kami minta kesaksian terhadap apa yang telah mereka kerjakan dahulu"

Billahi fi sabililhaq

Muhammad Al Qubra

acheh_karbala@yahoo.no
Sandnes, Norwegia
----------