Stockholm, 13 Juli 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

TGK LAMKARUNA ITU SOEKARNO DAPAT MELUMPUHKAN RIA TETAPI GAM MAMPU BERTAHAN
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

REPUBLIK ISLAM ACHEH DAPAT DILUMPUHKAN SOEKARNO TETAPI ASNLF/GAM MAMPU BERTAHAN SAMPAI DETIK INI

"Perlu diketahui sebelumnya bahwa arsitek GAM sesungguhnya adalah Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Beliau punya banyak kader, di antaranya kader itu termasuk Hasan Tiro yang sedang berada di luar negeri. Sedangkan di kalangan cerdik pandai dari golongan ulama seperti : Tgk. Ilyas Leubee, Tgk. Hasbi Geudong, Dr. Muchtar Yahya Hasbi Geudong, Tgk. Fauzi Hasbi Geudong, Tgk. Yusuf Hasan, Tgk. Jamil Syamsuddin, Ayah Sabi, Uzair Jailani, Tgk. Muhammad Yunus Kembang Tanjong, Tgk. Zainal Abidin, Tgk. Habib Jali, Tgk. Ali Piyeung, Tgk. Ayah Syamaun, Tgk. Haji Affan dan lain-lain. Mereka ini adalah orang-orang yang menggerakkan kembali jihad fisabilillah dalam membentuk negara Islam. Perjuangan Jihad Fisabilillah ini merupakan kelanjutan perjuangan RIA yang telah diporoklamirkan tanggal 15 Agustus 1961 oleh Abu Beureueh sendiri dalam rangka 'iddatul quwwah (Persiapan kekuatan) guna berhasilnya perjuangan, pertama-tama yang disusun adalah rencana-rencana perlawanan dan memperkokoh basis perjuangan, dan kemudian mempersiapkan peralatan perang. Dalam rangka persiapan ini Abu Beureueh mengutus delegasi menemui Hasan Tiro di luar negeri." (Tgk. Lamkaruna Putra, abupase@yahoo.com , Tue, 13 Jul 2004 05:14:04 -0700 (PDT))

Baiklah Teungku Lamkaruna Putra di Medan, Indonesia.

Kelihatan Abu Pase alias Teungku Lamkaruna Putra masih tetap membolak-balik Republik Islam Acheh (RIA) dalam tulisannya sekarang ini, setelah lama menghilang dari mimbar bebas ini, kini muncul lagi dengan membawa subject atau topik Hasan Tiro menjanjikan senjata dengan diberi judul tulisan Macam-macam intrik politik Hasan Tiro (menjanjikan Senjata) Bahagian 1.

Padahal fakta, bukti dan sejarah membuktikan bahwa dengan kembalinya Teungku Muhammad Daud Beureueh ke Masyarakat dan mengikuti Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh yang diselenggarakan pada bulan Desember tahun 1962 oleh Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin, secara de-facto dan de-jure RIA yang diperjuangkan Teungku Muhammad Daud Beureueh telah hilang, karena telah dianggap kembali kepada NKRI dengan pancasilanya. Teungku Muhammad Daud Beureueh telah kena jerat Soekarno Penguasa Negara Pancasila alias NKRI.

Kelemahan dan kegagalan dari pihak pimpinan RIA dalam menghadapi taktik dan strategi politik Soekarno inilah yang menyebabkan pihak Soekarno mampu melumpuhkan pihak RIA. Kelemahan dan kegagalan RIA menghadapi taktik dan strategi politik Soekarno inilah yang tidak dipahami oleh sebagian para kader Teungku Muhammad Daud Beureueh.

Para pimpinan RIA menganggap bahwa Soekarno dapat dilumpuhkan dengan kekuatan senjata. Disinilah titik lemah dari pihak kader Teungku Muhammad Daud Beureueh.

Ternyata dengan hadirnya Teungku Hasan Muhammad di Tiro ditengah kancah perjuangan rakyat Acheh untuk membebaskan Negeri Acheh dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila telah merobah 180 derajat taktik dan strategi perjuangan rakyat Acheh menghadapi pihak Penjajah RI.

Taktik dan strategi yang dijalankan Teungku Hasan Muhammad di Tiro inilah yang ternyata pihak penjajah RI tidak mampu melumpuhkan pihak ASNLF atau GAM dan TNA-nya sampai detik sekarang ini. Mengapa ?

Karena sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro:

"Our people is in such state of affairs now, that is before the establishment of the National Liberation Front, in October, 1976. That was before I came home. Under such memory-less condition or rather under conditions of mental and spiritual paralysis, we cannot organize ourselves to do anything especially not to do the fighting. Our first task, therefore, should be to restore the national consciousness, to revive national memory, then to organize and to mobilize ourselves. Now, all these are not military activities but political, cultural, and educational. They are absolutely necessary to prepare before we can engage in armed struggle. So the gun is neither the first nor the last thing! We lost our chance to regain our independence in 1945 not because of any lack of guns - you knew there were plenty of guns in Acheh at that time - but precisely because of the lack of national political consciousness and correct national political direction at that time." (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra, 1984, p. 48)

"Keadaan rakyat kita sekarang, sebelum didirikan Front Pembebasan Nasional, bulan Oktober 1976. Sebelum saya kembali ke Acheh. Dalam keadaan situasi lemahnya pikiran atau lebih cocok dikatakan dalam keadaan mental dan semangat yang lumpuh, kita tidak mungkin bisa mengorganisir untuk melakukan sesuatu khususnya untuk melakukan perang. Karena itu usaha pertama yang harus dilakukan adalah mengembalikan kesadaran nasional, mengingatkan kembali sejarah nasional, kemudian mengorganisir dan memobilisasi diri kita sendiri. Sekarang, untuk mencapai itu semua bukan melalui kegiatan militer, tetapi melalui kegiatan politik, kebudayaan, dan pendidikan. Itulah yang sangat diperlukan untuk mempersiapkan diri sebelum kita terjun kemedan perang. Oleh karena itu senjata bukanlah hal yang penting. Kita telah kehilangan kesempatan untuk mencapai kemerdekaan tahun 1945 bukan karena kekurangan senjata - seperti yang diketahui senjata melimpah di Acheh pada waktu itu - tetapi tepatnya karena kurangnya kesadaran politik nasional dan arah politik nasional pada waktu itu." (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra, 1984, hal. 48)

Nah model pandangan dan pikiran yang dimiliki oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro ini belum ada tertanam pada setiap kader Teungku Muhammad Daud Beureueh pada waktu itu. Mereka menganggap bahwa Soekarno dan Soeharto dapat dilumpuhkan dengan senjata.

Kenyataan, sebaliknya, justru Soekarno dengan senjata politik dan taktik diplomasi dan bujuk rayunya yang bisa menjerat Teungku Muhammad Daud Beureueh. Sehingga Teungku Muhammad Daud Beureueh dengan tanpa disadari sepenuhnya telah mampu dijerat oleh Soekarno melalui Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh yang diselenggarakan pada bulan Desember tahun 1962 oleh Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin.

Mereka para kader Teungku Muhammad Daud Beureueh tidak menyadari bahwa dengan ikutnya Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh itu merupakan tanda jatuhnya kekuasaan RIA secara de-facto dan de-jure.

Keadaan politik yang demikianlah yang terlihat oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro, sehingga Teungku Hasan Muhammad di Tiro mendeklarasikan ulang Negara Aceh sebagai lanjutan dari Negara Aceh yang telah dinyatakan lenyap kedaulatannya karena telah dijajah Belanda, Jepang dan NKRI. Artinya Deklarasi Negara Aceh Sumatera pada tanggal 4 Desember 1976 adalah deklarasi ulangan Negara Aceh Sumatera yang secara de-facto telah diduduki dan dijajah oleh Belanda, Jepang dan diteruskan oleh pihak RI atau NKRI.

Deklarasi ulangan Negara Aceh Sumatera pada 4 Desember 1976 ini adalah sebagai penerus dan pelanjut Negara Aceh Sumatera yang pada waktu itu dipimpin oleh Panglima Perang Teungku Tjheh Maat yang meninggal dalam perang Alue Bhot, Tangse tanggal 3 Desember 1911. Dimana Teungku Tjheh Maat ini adalah cucu dari Teungku Tjhik di Tiro atau paman dari Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Sejak gugurnya Panglima Perang Teungku Tjheh Maat ditembak serdadu Belanda pada tanggal 3 Desember 1911, berakhirlah secara de-jure dan de-facto kekuasaan Panglima Perang Teungku Tjheh Maat yang memimpin Negara Aceh Sumatera dan jatuh secara de-facto dan de-jure ke tangan Belanda.

Sebagai pelanjut dari Negara Aceh Sumatera yang telah hilang secara de-facto dan de-jure pada tanggal 3 Desember 1911 dari tangan Panglima Perang Teungku Tjheh Maat inilah, Teungku Hasan Muhammad di Tiro pada tanggal 4 Desember 1976 meneruskan dan menghidupkan kembali Negara Aceh Sumatera melalui deklarasi ulangan Negara Aceh Sumatera yang bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI yang telah menduduki dan menjajah Negeri Aceh dari sejak tanggal 14 Agustus 1950 melalui tangan Presiden RIS Soekarno dengan menggunakan dasar hukum PP RIS No. 21/1950 dan PERPPU No.5/1950.

Melalui taktik dan strategi yang dijalankan oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro inilah ternyata pihak Pemerintah RI dibawah Soeharto gagal total menghadapi kekuatan mental dan semangat juang rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila.

Bukan hanya pihak Soeharto yang gagal menghadapi ASNLF atau GAM ini, melainkan juga para penerusnya, dari mulai BJ Habibie, Abdurrahman Wahid dan sekarang Megawati.

Nah, disini membuktikan bahwa memang benar, dalam perjuangan untuk penentuan nasib sendiri adalah yang diutamakan terlebih dahulu dijalankan adalah melalui kegiatan politik, kebudayaan, dan pendidikan dalam usaha untuk mengembalikan kesadaran nasional, mengingatkan kembali sejarah nasional, kemudian untuk mengorganisir dan memobilisasi diri kita sendiri.

Sekarang rakyat Acheh telah menyadari bahwa memang benar Negeri Acheh telah ditelan, diduduki dan dijajah oleh pihak RI. Rakyat Acheh telah menyadari bahwa apa yang telah dilakukan oleh pihak RI dan TNI/POLRInya di Negeri Acheh adalah merupakan bagian dari usaha pendudukan dan penjajahan. Undang-Undang no.18 tahun 2001 merupakan undang-undang yang isinya penuh penipuan, terutama dalam hal penerapan syariat Islam.

Jadi, selama pihak Pemerintah RI ini terus saja menutupi kejahatan yang telah dilakukan oleh pihak Soekarno terhadap rakyat dan Negeri Acheh melalui cara penelanan, pencaplokan, pendudukan dan penjajahan dengan cara menetapkan dasar hukum PP RIS No.21/1950 dan PERPPU No.5/1950 tanpa mendapat kerelaan, persetujuan dan keikhlasan dari seluruh rakyat Acheh dan pimpinan rakyat Acheh, maka selama itu konflik di Negeri Acheh tidak akan dapat diselesaikan.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Tue, 13 Jul 2004 05:14:04 -0700 (PDT)
From: abu pase <abupase@yahoo.com>
Subject: HASAN TIRO MENJANJIKAN SENJATA
To: "Sadan AS (AgusHermawan) KUW" <sadanas@equate.com>, media Indonesia <sekred@mediaindonesia.co.id>, serambi indonesia <serambi_indonesia@yahoo.com>,
seuramoe aceh <seuramoe_aceh@yahoo.co.uk>, hidayat syarif <siliwangi27@hotmail.com>,
Muhammad Sjahidaton <sjahidaton@yahoo.com>, sidney <sjones@crisisweb.org>,
asnawi ali <stavanger_norway@malaysia.com>, ahmad latif <sumatra_merdeka@yahoo.com>,
syahbuddin Abdurrauf <syahbuddin@swipnet.se>, teuku mirza <teuku_mirza@hotmail.com>,
Tgk Barat <tgk_dibarat@yahoo.com>

MACAM-MACAM INSTRIK POLITIK HASAN TIRO
(MENJAJIKAN SENJATA)
Bahagian 1

Kehadiran Hasan Tiro dalam kancah perjuangan Aceh ternyata telah membawa dampak negatif. Kenegatifan itu ditandai dengan ketidaksungguhan dalam membawa misi perjuangan yang telah diamanahkan kepadanya, di mana amanah tersebut sebagian besar sudah diubah menurut seleranya. Lebih dari itu, intrik politiknya, telah memakan banyak korban. Nyawa rakyat Aceh dijadikan
tumbal guna melanggengkan kedudukan politiknya.

Melihat sudah begitu banyak korban, maka selayaknya Hasan Tiro harus segera mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada rakyat Aceh. Sebelum pengadilan Allah turut bicara. Atau setidaknya, ia segera bertaubat kepada Allah dengan taubatan nashuha. Itulah
jalan keluar bagi dirinya, sesuai dengan sabda Nabi : "Semua anak Adam sering berbuat salah. Dan,
sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat." (Al-Hadist). Dalam kesempatan ini penulis ingin menguraikan beberapa bentuk intrik politik Hasan Tiro, di antaranya adalah :

MENJANJIKAN SENJATA

Perlu diketahui sebelumnya bahwa arsitek GAM sesungguhnya adalah Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Beliau punya banyak kader, di antaranya kader itu termasuk Hasan Tiro yang sedang berada di luar negeri. Sedangkan di kalangan cerdik pandai dari golongan ulama seperti : Tgk. Ilyas Leubee, Tgk. Hasbi Geudong, Dr. Muchtar Yahya Hasbi Geudong, Tgk. Fauzi Hasbi Geudong, Tgk. Yusuf Hasan, Tgk. Jamil Syamsuddin, Ayah Sabi, Uzair Jailani, Tgk. Muhammad Yunus Kembang Tanjong, Tgk. Zainal Abidin, Tgk. Habib Jali, Tgk. Ali Piyeung, Tgk. Ayah Syamaun, Tgk. Haji Affan dan lain-lain.

Mereka ini adalah orang-orang yang menggerakkan kembali jihad fisabilillah dalam membentuk negara Islam. Perjuangan Jihad Fisabilillah ini merupakan kelanjutan perjuangan RIA yang telah diporoklamirkan tanggal 15 Agustus 1961 oleh Abu Beureueh sendiri dalam rangka 'iddatul quwwah (Persiapan kekuatan) guna berhasilnya perjuangan, pertama-tama yang disusun adalah rencana-rencana perlawanan dan memperkokoh basis perjuangan, dan kemudian mempersiapkan peralatan perang. Dalam rangka persiapan ini Abu Beureueh mengutus delegasi menemui Hasan Tiro di luar negeri.

Kenyataan yang didapat ternyata terjadi manipulasi berita karena ketidakjujuran Hasan Tiro, padahal tidak sedikit dana yang terkumpul pada saat itu hasil dari patungan rakyat Aceh yang kemudian diserahkan kepadanya. Karena kecerdikan Hasan Tiro dalam membuat diplomasi
maka ketiga orang utusan Abu Beureueh hanya mendapat janji kosong belaka.

Kejadian itu sungguh di luar perkiraan para Mujahidin Aceh. Kenapa bisa-bisanya Hasan Tiro bertindak keji. Memanfaatkan dana perjuangan untuk kepentingan pribadinya. Padahal para mujahidin Aceh saat itu sangat berharap datangnya peralatan perang guna menghadapi musuh-musuh mereka.

Di antara ketiga utusan itu terdapat abangnya sendiri Tgk. Zainal Abidin. Pada tahun 1972 ia mendapat mandat Abu Beureueh untuk menemui adiknya di Amerika menanyakan perihal senjata. Jawaban Hasan Tiro keika itu, "Barang senjata sudah lengkap mulai dari senjata ringan dan berat. Oleh karena itu, segeralah abang pulang menjumpai Abu dan berilah kabar untuk mempersiapakan helikopter". Mendengar pernyataan Hasan Tiro tersebut Abu Beureueh memanggil Abu Hasbi dan anaknya Tgk. Fauzi Hasbi guna mempersiapkan tempat pendaratan Helikopter. Maka disisiplah sebuah tempat seluas 2 Ha di desa Nisam, Krueng Geukeuh, bersama dengan Kompi Yunus. Namun setelah ditunggu selama 2 tahun pendaratan itu tidak pernah ada.

Kurang puas dengan utusan pertamanya, pada tahun 1974, Abu Beureueh mengutus Tgk. Hasbi Geudong tangan kanan Abu Beureueh untuk menjumpai Hasan Tiro di Malaysia, lalu dilanjudkan di rumah Abdullah Musa, Singapura. Setelah berjumpa dengannya, Hasan Tiro memberi jawaban "Abu senjata sudah siap. Namun kita tidak bisa memasukkan senjata tersebut lewat udara karena suara pesawat akan terdengar oleh musuh. Oleh karena itu, untuk lebih amannya pemasokan senjata kita harus menggunakan kapal selam". Setelah mendengar uraian Hasan Tiro, Abu Hasbi melaporkan berita itu kepada Abu Beureueh, "Kita sudah siap, sebentar lagi akan dikirim".

Kemudian Abu Beureueh memerintahkan kepada Tgk. Hasbi, Tgk. Jamil Syamsuddin Panton Labu untuk membersihkan Alur sungai Simpang Ulim selama enam bulan, 280 orang membersihkan pohon bakau di daerah Simpang Ulim menunggu dengan setianya kedatangan kapal selam yang akan menyangkut senjata. Namun, sampai orang-orang dimakan nyamuk bahkan ada yang kena penyakit kurap bertahun-tahun lamanya senjata yang ditunggu-tunggu ternyata belum juga tiba.

Menyadari senjata tidak kunjung tiba, maka Abu Beureueh mengutus utusan ketiga yaitu Dr. Muchtar. Untuk meyakinkan Dr. Muchtar, akhirnya Hasan Tiro membawa Dr. Muchtar ke Pangkalan Militer Amerika yaitu Pangkalan Subic di Philipina. Dengan bertubi-tubi Hasan Tiro mengatakan kepada Dr. Muchtar bahwa "Dengan senjata inilah kita akan memerdekakan bangsa Aceh", kata Hasan Tiro. Selanjudnya Dr. Muchtar kembali ke Aceh untuk melaporkan perihal perjumpaannya dengan Hasan Tiro sambil mengatakan kepada Abu Beureueh: "Abu, senjata telah saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, dan cukup banyak". kata Dr. Muchtar. Tetapi yang namanya senjata tak kunjung tiba. Belajar dari pengalaman terdahulu, ternyata sebahagian besar mujahidin sudah menunjukkan tanda-tanda sikap apatis terhadap Hasan Tiro.

Memang wajar-wajar saja sikap itu muncul, karena bagaimanapun sikap Hasan Tiro menambah beban psikologis mereka. Bagaimana tidak? Mental berperang yang sudah terbina dengan baik ini harus dirusak oleh intrik Hasan Tiro membohongi para mujahidin. Namun, untuk tetap mempertahankan semangat juang, tidak kurang-kurangnya Abu Beureueh dan Dr. Muchtar memberikan penjelasan bahwa Hasan Tiro tidak mungkin menipu terus-menerus. Tetapi masih banyak para mujahidin tersebut yang tetap menyangsikan akan kebenaran Hasan Tiro, terutama para ulama dan tokoh-tokoh teras Darul Islam dulu.

Kesaksian mereka terbukti ketika Hasan Tiro pulang ke Aceh, ternyata senjata yang dibawa hanya lima pucuk, 3 pucuk pistol colt, selebihnya jenis double luke. Pada saat itulah mereka mempersoalkan masalah senjata kepada Hasan Tiro. Bukanlah Hasan Tiro kalau tidak bisa berkelip. dengan "Kepandaian ilmunya" ia berkilah bahwa untuk saat sekarang ini kita tidak akan
berperang, kita akan menempuh beberapa jalur, yaitu jalur politik, diplomasi, propaganda dan ekonomi. Setelah putusnya jalur-jalur tersebut, baru kita lancarkan peperangan, dan pasti perjuangan kita akan berhasil.

Karena sedari awal para mujahidin sudah kurang percaya kepadanya setelah Hasan Tiro mengutarakan pendapatnya, lalu mereka tetap mendesak Hasan Tiro dengan sebuah pertanyaan : "Jika pada waktunya nanti kita harus berperang, kapan senjatanya akan masuk" Nampaknya, karena terdesak dengan peertanyaan tersebut Hasan Tiro hanya bisa terdiam tanpa memberikan alasan lagi.
Bersambung!!

Wassalam

abu pase alias Tgk. Lamkaruna

abupase@yahoo.com
Medan, Indonesia
----------