Stockholm, 15 Juli 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SUMITRO ITU UU NO.18/2001 NAD TENTANG SYARIAT ISLAM DI ACHEH PENIPUAN MEGAWATI, AKBAR & AMIEN RAIS
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS SUMITRO ITU ITU UU NO.18/2001 NAD TENTANG SYARIAT ISLAM DI ACHEH PENIPUAN MEGAWATI, AKBAR TANDJUNG & AMIEN RAIS

"Ahmad sudahlah perjuangan anda sia-sia dan tidak akan diridhoi oleh Allah SWT karena perjuangan anda dan Hasan tiro CS ( GAM ) bukan berjuang karena Syariah islam tapi berjuang karena kekuasaan dan UANG . bagaiamana mungkin anda memperjuangkan syariah Islam seperti jawaban2 anda sebelumnya bahkan dengan penuh ayat Al Qur'an dan hadist wong untuk di Aceh saja anda tidak tegas perjuangannya terhadap syariah Islam. Dari kata2 anda di tulisan berwarna diatas menandakan keraguan anda yang tidak tegas tentang perjuangan anda pada syariah Islam dan terbesit didalamnya kandungan yang tersembunya bahwa apabila Acheh kelak memisahkan diri dari NKRI maka kendali pemerintah ada pada kalian dan Hasan Tiro CS sedangkan penerapan syariah Islam itu ditetapkan atau tidak tergantungkalian karena saya lihat keraguan pada anda untuk menerapkan syariah Islamdi Aceh." (Sumitro mitro@kpei.co.id , Thu, 15 Jul 2004 08:35:57 +0700)

Baiklah saudara Sumitro di Jakarta, Indonesia.

Saudara Sumitro saudara harus sadar itu Negara kafir RI sama juga dinamakan Negara sekular pancasila RI yang dasar hukum negaranya bersumberkan kepada pancasila hasil kocekan Soekarno yang menduduki dan menjajah Negeri Acheh.

Jadi kalau Teungku Hasan Muhammad di Tiro belajar di Negara sekular Amerika sama juga dengan saudara Sumitro belajar di Universitas yang ada di Negara kafir RI atau Negara sekular pancasila RI.

Kemudian itu ketika Ahmad Sudirman menulis: "Lalu, perjuangan ASNLF atau GAM dari sejak dideklarkan ulang Negara Acheh pada tanggal 4 Desember 1976 adalah untuk penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila. Itu soal penegakkan syariat Islam akan diserahkan kepada seluruh rakyat Acheh yang muslim dalam penerapannya apabila kelak setelah Negeri Acheh secara de-facto penuh berdiri bebas merdeka dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila. Karena apa yang diterapkan berdasarkan UU No.18 tahun 2001 oleh pihak Pemerintah RI dibawah Megawati adalah penerapan syariat Islam yang bohong-bohongan dan penuh penipuan terhadap seluruh rakyat Acheh." (Ahmad Sudirman, 14 Juli 2004)

Jelas saudara Sumitro yang saya tuliskan itu benar adanya dan ada dasarnya. Mengapa ?

Karena Ahmad Sudirman telah membongkar itu kedok dibalik UU No.18 Tahun 2001 yang dibuat oleh DPR dibawah Akbar Tandjung bersama Pemerintah RI dibawah Megawati serta disetujui oleh MPR dibawah Amien Rais.

Dimana sebenarnya saya telah berulang kali membahas UU No.18 Tahun 2001 di mimbar bebas ini. Tetapi tidak mengapa saya kali ini mengulas kembali karena saudara Sumitro memang keras kepala masih saja menganggap itu UU No.18 Tahun 2001 merupakan produk UU DPR yang telah menyimpang dan bertentangan dengan apa yang telah di-Firmankan Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 44, 45, 47.

Mari kita buka kedok Undang Undang Nomor 18 tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi provinsi daerah istimewa Aceh sebagai provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang terdiri dari 14 Bab dan 34 pasal yang disahkan di Jakarta pada tanggal 9 Agustus 2001 oleh presiden RI Megawati Soekarnoputri dan diundangkan pada tanggal yang sama.

Setelah digali, ternyata saya menemukan sesuatu yang menyimpang dan salah fatal terutama dalam hal yang menyangkut syariat Islam dalam UU RI Nomor 18 tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi provinsi daerah istimewa Aceh sebagai provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, karena UU No.18 Tahun 2001 ini tidak lebih dan tidak kurang merupakan satu alat untuk mengelabui rakyat Aceh yang sudah lebih dari setengah abad dibawah jajahan Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid dan sekarang Presiden Megawati bersama DPR dibawah Akbar Tandjung dan MPR dibawah Amien Rais.

UU NO. 18 TAHUN 2001 MELECEHKAN HUKUM ISLAM DAN PELAKSANAANNYA

Jelas, apa yang tertuang dalam Bab XII, pasal 25, ayat 1, 2 dan 3 sudah jauh menyimpang dari apa yang digariskan dalam Islam, yaitu hukum-hukum Islam dan pelaksanaanya tidak bisa dicampur adukkan dengan sistem hukum nasional yang bersumberkan kepada pancasila dan mengacu kepada UUD 1945 serta TAP-TAP MPR yang bukan bersumberkan kepada Islam dan Sunnah Rasulullah saw. Atau kalau saya katakan bersumberkan kepada sumber hukum Pancasila.

Nah, karena itu Peradilan Syariat Islam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebagai bagian dari sistem peradilan nasional dilakukan oleh Mahkamah Syar'iyah yang bebas dari pengaruh pihak mana pun (Bab XII, pasal 25, ayat 1) dan Kewenangan Mahkamah Syar'iyah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), didasarkan atas syariat Islam dalam sistem hukum nasional, yang diatur lebih lanjut dengan Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Bab XII, pasal 25, ayat 2), serta Kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberlakukan bagi pemeluk agama Islam (Bab XII, pasal 25, ayat 3), adalah semuanya hanyalah satu alat penipu yang terselubung bagi penglihatan mata rakyat Aceh yang tidak waspada dan tidak sadar.

Mengapa sebagai alat menipu pihak Presiden Megawati, Akbar Tandjung dan Amien Rais terhadap rakyat Aceh ?

Karena, sistem peradilan nasional atau sistem yang mengatur segala sesuatu pengenai perkara pengadilan yang dijalankan dan dilaksanakan melalui Mahkamah Agung NKRI adalah hukumnya bersumberkan kepada pancasila dengan mempertimbangkan kepada UUD 1945 yang tidak bersumberkan kepada Islam, atau bersumberkan kepada nilai-nilai sekular.

Jadi, walaupun Peradilan Syariat Islam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang pelaksanaannya diatur oleh Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang Qanun itu sendiri merupakan peraturan daerah sebagai pelaksanaan UU NAD di wilayah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, tetapi karena sumber hukumnya berdasarkan kepada pancasila dengan mempertimbangkan kepada UUD 1945, maka Peradilan Syariat Islam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah tidak lebih dan tidak kurang hanya merupakan penjabaran-kebawah dari pada sistem peradilan nasional dibawah Mahkamah Agung NKRI yang berdasar sumber hukum pancasila.

Inilah yang saya sebut Peradilan Syariat Islam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah satu alat melabu atau alat menipu rakyat Aceh yang masih belum sadar akan pelaksanaan hukum-hukum Islam yang seharusnya dilaksanakan dan dijalankan secara menyeluruh di negara yang hukumnya bersumberkan kepada Islam.

Atau dengan kata lain, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dimana rakyatnya yang hidup di seluruh wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam diatur oleh satu pemerintah daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang sistem peradilannya adalah bagian dari sistem peradilan nasional yang hukumnya bersumberkan kepada pancasila yang bukan didasarkan kepada agama (Islam), maka Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang bukan bersumberkan hukumnya kepada Islam atau bisa dikatakan bersumberkan kepada pancasila yang memiliki nilai-nilai hukum sekular.

Kesimpulan yang bisa diambil adalah Peradilan Syariat Islam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebagai bagian dari sistem peradilan nasional dilakukan oleh Mahkamah Syar'iyah yang bebas dari pengaruh pihak mana pun adalah juga tidak benar menurut Islam. Hukum-hukum Islam tidak dibenarnarkan dicampuradukkan dengan hukum yang bersumberkan kepada pancasila.

Itulah yang saya tuliskan dalam tulisan kemaren bahwa: "Karena apa yang diterapkan berdasarkan UU No.18 tahun 2001 oleh pihak Pemerintah RI dibawah Megawati adalah penerapan syariat Islam yang bohong-bohongan dan penuh penipuan terhadap seluruh rakyat Acheh." (Ahmad Sudirman, 14 Juli 2004)

Jadi saudara Sumitro kalau saudara mau jujur dan seluruh para pimpinan di Negara sekular Pancasila atau Negara kafir RI kalau kalian ingin menegakkan syariat Islam, maka itu sumber hukum Negara sekular Pancasila atau Negara kafir RI harus dibuang diganti dengan sumber hukum Islam atau Al-Qur'an dan As-Sunnah. Jangan ngaco seperti sekarang di wilayah daerah Negara kafir RI selain Acheh berlaku hukum yang bersumberkan pada pancasila, sedangkan di Negeri Acheh diberlakukan syariat Islam yang harus tunduk kepada sumber hukum pancasila. Kan salah kaprah dan konyol.

Itu soal Teungku Hasan Muhammad di Tiro belajar di Negara sekular Amerika tidak mempengaruhi kepada jiwa perjuangannya. Walaupun telah tinggal 25 tahun di Negara AS, tetapi jiwanya tetap tidak terpengaruh oleh nilai-nilai sekular. Lain dengan saudara Sumitro belajar di Universitas di Negara sekular RI atau Negara kafir RI, eh, setelah setelah selesai kuliah, otak sudah dipenuhi dengan racun sekular pancasila hasil kutak-katik Soekarno. Malahan celakanya harus ditaati dan dipegang erat-erat pula.

Apalagi itu dibandingkan dengan Soekarno yang belajar di ITB. Lebih parah lagi. Sudahlah jiwanya jiwa nasionalis Marhaenis, dicampur pula dengan komunis, tidak cukup sampai disitu dicampur pula dengan Islam, jadilah Nasionalisme Agama Komunis yang disingkat menjadi Nasakom. Tambah gila itu Soekarno yang telah memimpin Negara kafir RI yang menelan Negeri Acheh dan menjajahnya sampai detik sekarang ini yang celakanya didukung pula oleh saudara Sumitro Cs.

Bagaimana bisa diridhai Allah SWT itu perjuangan Soekarno yang telah mencampur adukkan nasionalisme Islam dan komunis kedalam ajarannya dan harus dilaksanakan oleh rakyat di Negara kafir RI atau Negara sekular Pancasila.

Makanya itu Negara kafir RI atau Negara sekular Pancasila makin meluncur saja kelembah kemaksiatan dan kezhaliman seperti terus saja menduduki dan menjajah Negeri Acheh.

Sadarlah segera dan bertaubat nasuhalah saudara Sumitro sebelum terlambat. Sebelum Allah SWT memberikan dan menjatuhi hukuman kepada para pimpinan Negara kafir RI yang telah membangkang kepada aturan-aturan Allah SWT yang telah diperintahkan untuk dijalankan di muka bumi ini, khususnya di Negara sekular Pancasila atau di Negara kafir RI.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

From: Sumitro mitro@kpei.co.id
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, Serambi Indonesia <serambi_indonesia@yahoo.com>, Aceh Kita <redaksi@acehkita.com>,
ahmad jibril <ahmad_jibril1423@yahoo.com>, balipost <balipost@indo.net.id>, waspada <newsletter@waspada.co.id>, PR <redaksi@pikiran-rakyat.com>, Pontianak <editor@pontianak.wasantara.net.id>, Hudoyo <hudoyo@cbn.net.id>, JKT POST <jktpost2@cbn.net.id>, Redaksi Detik <redaksi@detik.com>, Redaksi Kompas <redaksi@kompas.com>, Redaksi Satu Net <redaksi@satunet.com>, Redaksi Waspada <redaksi@waspada.co.id>Cc: ahmad@dataphone.se
Subject: RE: SUMITRO ITU TIDAK ADA NEGARA DI DUNIA YANG MENYATAKAN GAM TERORIS KECUALI RI
Date: Thu, 15 Jul 2004 08:35:57 +0700

Itulah makanya saya telah menyimpulkan sebelumnya bahwa tidak ada sedikitpun niat awal daru saudara Ahmad ini untuk menjalankan sariat Islam di Aceh seperti halnya cita2 awal adanya GAM / ASNLF oleh para pendiri-pendirinya. Harus ahmad akui bahwa keberadaan GAM itu yang paling utama adalah untuk menjalankan syariah Islam di Aceh dan Indonesia pada umumnya yang terus dilandasi oleh ketidak adilan yang didapatkan oleh rakyat Aceh dari pemerintah. Perjuangan untuk menetapkan syariah Islam tersebut berubah sejak masuknya Hasan Tiro yang sebenarnya seorang "bocah ingusan" dalam GAM karena hasan tiro pada saat itu masih sebagai mahasiswa di Amerika sono ( yang kata si ahmad sebagai negara sekuler waktu menjawab e-mail pak OGAH ).

si Ahmad tanpa sadar bahwa jawaban itu telah memukul si Hasan Tiro dimana Hasan Tiro besar dan belajar ilmu justru di Amerika yang sekuler tersebut. si hasan Tiro udah pulang2 ngaku sebagai keturunan raja terakhir ec...dia juga melenceng dan menghianati perjuangan rakyat aceh yang anti kekerasa untuk mendoirikan syariah Islam di aceh malah menuntut merdeka. Itu semua akibat pergaulan dan lingkungan di Amerika sono yang serba vulgar, kapitalis dan penuh kemewahan sehingga alam pikiran hasan tiro terhipnotis untuk mendapatkan kenikmatan2 semu seperti halnya apa yang dialami dan didapatkannya di Amerika.

Ahmad sudahlah perjuangan anda sia-sia dan tidak akan diridhoi oleh Allah SWT karena perjuangan anda dan Hasan tiro CS ( GAM ) bukan berjuang karena Syariah islam tapi berjuang karena kekuasaan dan UANG . bagaiamana mungkin anda memperjuangkan syariah Islam seperti jawaban2 anda sebelumnya bahkan dengan penuh ayat Al Qur'an dan hadist wong untuk di Aceh saja anda tidak tegas perjuangannya terhadap syariah Islam .

Berikut jawaban anda yang bertentangan dengan apa yang anda sampaikan sebelum2nya ( syariah Islam ) terutama di Aceh dimana jawaban anda ini penuh keraguan dan ternyata Allah SWT telah menegur anda ( dengan tanpa sadar jawaban anda tidak mencerminkan perjuangan anda terhadap Islam )

"Lalu, perjuangan ASNLF atau GAM dari sejak dideklarkan ulang Negara Acheh pada tanggal 4 Desember 1976 adalah untuk penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila. Itu soal penegakkan syariat Islam akan diserahkan kepada seluruh rakyat Acheh yang muslim dalam penerapannya apabila kelak setelah Negeri Acheh secara de-facto penuh berdiri bebas merdeka dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila. Karena apa yang diterapkan berdasarkan UU No.18 tahun 2001 oleh pihak Pemerintah RI dibawah Megawati adalah penerapan syariat Islam yang bohong-bohongan dan penuh penipuan terhadap seluruh rakyat Acheh." (Ahmad Sudirman, 14 Juli 2004)

Dari kata2 anda di tulisan berwarna diatas menandakan keraguan anda yang tidak tegas tentang perjuangan anda pada syariah Islam dan terbesit didalamnya kandungan yang tersembunya bahwa apabila Acheh kelak memisahkan diri dari NKRI maka kendali pemerintah ada pada kalian dan Hasan Tiro CS sedangkan penerapan syariah Islam itu ditetapkan atau tidak tergantungkalian karena saya lihat keraguan pada anda untuk menerapkan syariah Islamdi Aceh.

Demikian dan terima kasih.

Sumitro

mitro@kpei.co.id
Jakarta, Indonesia
----------