Stockholm, 15 Juli 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ROKHMAWAN & SALAFI-NYA DI SOLO MENAFIKAN AYAT-AYAT ALLAH JADILAH MEREKA GOLONGAN SESAT
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

AKHIRNYA KELIHATAN DENGAN JELAS KARENA ROKHMAWAN & SALAFI-NYA DI SOLO MENAFIKAN AYAT-AYAT ALLAH MENJADILAH MEREKA GOLONGAN SESAT

"Anda salah besar sekali pada saat Rosululloh SAW berdakwah di Makkah dengan cara sembunyai-sembunyi, maka yang pertama-tama masuk islam dan mengakui ke nabian beliau adalah Siti Khodijah R.ha yang tak lain adalah istrinya Rosululloh SAW, kemuadian setelah itu di ikuti oleh Abu Bakar Ash-Shidiq Ra. Nah apaka pada saat itu di makkah sudah ada itu pemerintahan islam ? Apakah Rosululloh SAW mengkafir-kafirkan sahabat-sahabatnya yang pada saat itu yang menjadi pemimpin di makkah adalah Abu Jahal ?. Jawabannya jelas sekali tidak pernah sekalipun, bahkan ketika beliau berhijrah ke Madinah dan berhasil mendirikan DIR Madinahnya apakah orang islam yang masih tinggal di Makkah di anggap kafir, dlolim, fasyik hanya karena mereka masih di pimpin Abu Jahal dll ?." (Rokhmawan , rokh_mawan@yahoo.com , Wed, 14 Jul 2004 23:13:02 -0700 (PDT))

Baiklah saudara Rokhmawan Agus Santosa di Solo, Jawa Tengah, Indonesia.

Akhirnya karena saudara Rokhmawan dan Salafi-nya keras kepala tidak mau dan tidak menerima dengan sepenuh hati dan sepenuh keyakinan ayat 44, 45, 47 surat Al-Maidah. Dan dengan terang-terangan mengesampingkan ayat-ayat perintah Hajaru (berhijrah) yang diulang-ulang sampai lima kali dalam surat Al-Anfal (harta-harta rampasan perang) pada ayat 72, 74, 75 yang diturunkan seluruhnya di Madinah berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua Hijrah menurut riwayat Ibnu Abbas ra, surat Al Baqarah, QS 2: 218, Al Ahzab, QS 33: 50, Ali 'Imran, QS 3: 195, At Taubah, QS 9: 20, An Nahl, QS 16: 41, 110, Al-Haj, QS 22: 58, An-Nisa, QS 4: 89, 97, 100. Juga menafsirkan sendiri pengertian hijrah dengan: "maksud yang sesungguhnya adalah pindah dari amalan keburukan kepada amalan kebaikan", maka ketika disodorkan kehadapan saudara Rokhmawan dan Salafi-nya ayat yang terkandung dalam surat Al-Maidah: 44, 45, 47, langsung meluncur kejurang kesesatan. Mengapa ?

Karena akibat dari menafikan dan ketidak yakinan pada ayat 44, 45, 47 surat Al-Maidah yang diturunkan di Madinah ketika Haji Wada' pada tahun 10 H, maka dikatakanlah oleh saudara Rokhmawan dan Salafi-nya: "Anda salah besar sekali pada saat Rosululloh SAW berdakwah di Makkah dengan cara sembunyai-sembunyi, maka yang pertama-tama masuk islam dan mengakui ke nabian beliau adalah Siti Khodijah R.ha yang tak lain adalah istrinya Rosululloh SAW, kemuadian setelah itu di ikuti oleh Abu Bakar Ash-Shidiq Ra. Nah apaka pada saat itu di makkah sudah ada itu pemerintahan islam ? Apakah Rosululloh SAW mengkafir-kafirkan sahabat-sahabatnya yang pada saat itu yang menjadi pemimpin di makkah adalah Abu Jahal ?. Jawabannya jelas sekali tidak pernah sekalipun, bahkan ketika beliau berhijrah ke Madinah dan berhasil mendirikan DIR Madinahnya apakah orang islam yang masih tinggal di Makkah di anggap kafir, dlolim, fasyik hanya karena mereka masih di pimpin Abu Jahal dll ?."

Apa yang sesat dari pernyataan dan keterangan saudara Rokhmawan dan Salafi-nya diatas itu ?

Karena saudara Rokhmawan dan Salafinya tidak mengetahui dengan pasti dan benar bahwa surat Al-Maidah diturunkan di Madinah ketika Haji Wada' tahun 10 H. Sehingga melantur dalam memberikan keterangannya seperti: "Nah apaka pada saat itu di makkah sudah ada itu pemerintahan islam ? Apakah Rosululloh SAW mengkafir-kafirkan sahabat-sahabatnya yang pada saat itu yang menjadi pemimpin di makkah adalah Abu Jahal ?. Jawabannya jelas sekali tidak pernah sekalipun, bahkan ketika beliau berhijrah ke Madinah dan berhasil mendirikan DIR Madinahnya apakah orang islam yang masih tinggal di Makkah di anggap kafir, dlolim, fasyik hanya karena mereka masih di pimpin Abu Jahal dll ?."

Disini kelihatan karena saudara Rokhmawan dan Salafi-nya disamping tidak tahu kapan surat Al-Maidah: 44, 45, 47 diturunkan juga saudara Rokhmawan dan Salafi-nya menafikan dan menolak ayat 44, 45, 47 surat Al-Maidah tersebut, maka ketika diajukan kehadapannya surat Al-Maidah: 44, 45, 47 dibuatlah jawabannya oleh saudara Rokhmawan dan salafi-nya keadaan dan kejadian di masa periode Mekkah.

Penjelasan dan alasan saudara Rokhmawan dan Salafi-nya diatas tidak nyambung dan salah kaprah, mengapa ?

Karena tidak mungkin dan tidak masuk diakal, Rasulullah saw menjatuhkan hukuman terhadap orang-orang yang tidak menetapkan perkara menurut apa yang diturunkan Allah SWT dengan sebutan kafir, zhalim, fasik, sedangkan dasar hukum surat Al-Maidah: 44, 45, 47 yang dijadikan landasan hukum untuk memvonis itu belum ada atau belum diturunkan Allah SWT. Bahkan sampai pada waktu periode Madinah-pun, Rasulullah saw tidak menjatuhkan vonis hukuman kepada orang-orang yang tidak menetapkan sesuatu perkara menurut apa yang diturunkan Allah SWT dengan sebutan kafir, zhalim, dan fasik, karena memang dasar hukum surat Al-Madinah: 44, 45, 47 untuk menjatuhkan vonis itu belum diturunkan Allah SWT. Barulah dasar hukum untuk memvonis orang-orang yang tidak menetapkan sesuatu perkara menurut apa yang diturunkan Allah SWT dengan sebutan kafir, zhalim, dan fasik dipergunakan setelah surat Al-Maidah itu diturunkan pada Haji Wada' tahun 10 Hijrah, yakni tahun terakhir Rasulullah saw menyampaikan Risalahnya kepada ummatnya. Yang tidak lama setelah melaksanakan Haji Wada' Rasulullah saw menghadap kehadlirat Allah SWT. Dan yang ditinggalkan Rasulullah saw salah satunya dasar hukum surat Al-Maidah ayat 44, 45, 47.

Sekarang, karena saudara Rokhmawan dan Salafi-nya di Solo menafikan ayat 44, 45, 47 surat Al-Maidah, maka ketika saudara Rokhmawan dan Salafi-nya melihat para pimpinan Pemerintah RI dari mulai Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati yang telah membentuk lembaga tandingan untuk membuat aturan, hukum, undang-undang disamping aturan, hukum, undang-undang Allah SWT, para pimpinan RI itu masih dianggap sebagai bukan kafir, bukan zhalim, dan bukan fasik, walaupun tindakan para pimpinan RI itu bertentangan dengan dasar hukum yang telah diturunkan Allah SWT dalam surat Al Maidah ayat 44, 45, 47.

Jadi berdasarkan penjelasan diatas, saya menyarankan kepada saudara Rokhmawan dan Salafi-nya di Solo, belajarlah dahulu Islam dengan baik, jangan menafikan dan menolak ayat-ayat Allah SWT. Karena kalau saudara Rokhmawan dan Salafi-nya di Solo menafikan dan menolak ayat-ayat Allah SWT, maka saudara dan kelompok Salafi saudara di Solo itu masuk kedalam golongan sesat.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Wed, 14 Jul 2004 23:13:02 -0700 (PDT)
From: rohma wawan rokh_mawan@yahoo.com
Subject: Itu Bapak Ahmad Sudirman cs Lebih Lugu Dari Pada Anak SD
To: ahmad@dataphone.se
Cc: om_puteh@hotmail.com, narastati@yahoo.com, JKamrasyid@aol.com, mubasysyir@plasa.com, dityaaceh_2003@yahoo.com, yuhe1st@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com, habearifin@yahoo.com, editor@jawapos.co.id, suparmo@tjp.toshiba.co.jp, siliwangi27@hotmail.com, sea@swipnet.se, solopos@bumi.net.id, Padmanaba@uboot.com, kompas@kompas.com, mitro@kpei.co.id, yusrahabib21@hotmail.com, imarrahad@eramuslim.com, webmaster@detik.com, waspada@waspada.co.id, redaksi@waspada.co.id, redaksi@satunet.com

Assalamu'alaikum Wr.Wb
Bismillahirrhmaanirrohiim

Itu Bapak Ahmad Sudirman cs Lebih Lugu Dari Pada Anak SD

Bapak Ahmad Sudirman yg kami hormati, bapak mulai bosan bin jengkel ya dengan komentar saya terbukti bapak belum segera mengomentari kami secara langsung. Malah bapak menampilkan tulisan sdr M.Al-Kubro. Anda Al-Kubro kalau mengomentari itu di pikir yang masak-masak dulu. Apa yang akan di tulis di cerna dulu jangan tergopoh-gopoh. Semua umat islam akan mengetahui betapa lugunya anda dan ternyata anda tida mengetahui sejarah Rosululloh SAW.

M.Al-kubro menuliskan : "Dijaman Rasululah saw belum ada orang yang mengaku Islam hidup dalam system Thaghut dan membela pemimpin-pemimpin Thaghut (baca Rokhmawan cs). Bagaimana mungkin Rasulullah saw mengkafirkan mereka, sedangkan realitanya belum ada. Betapa lugunya kamu, sama lugunya dengan Gusdur. Yang mengkafirkan Sukarno, Suhartoisme dan semua orang-orang yang bersekongkol dalam system Thaghut Pancasila adalah Allah SWT sendiri melalui Surah Al-Maidah ayat 44, 45 dan 47".

Sekali lagi anda jangan menulis komentar seenaknya sendiri. Siapa yang bilang umat islam pada jaman Rosululloh SAW dulu belum ada system toghut ?. Anda itu jangan hanya membicarakan pada saat kejayaan umat islam. Memang pada saat kejayaan umat islam atau dengan kata lain Rosululloh SAW telah berhasil mengemban tugas sebagai khilafah fil ardli, tidak itu sistem toghut di bangsa arab dulu. Perlu di ketahui bahwa islam/ketauhidan sudah ada sejak nabi Adam 'Alaihi Salam. Kemudian ketika Nabi Muhammad SAW di lahirkan ke dunia ini , setelah beliau dewasa pada usia 40 maka beliau diangkat menjadi Rosululloh dan merupakan khotamun ambiya'. Nah apakah ketika beliau SAW masih berdakwah di makkah yang pada waktu itu dipimpin oleh kafir quraisy seperti Abu Jahal dan Abu Lahab ini tidak dikatakan Sistym Toghut ?. Sdr Al-kubro,
Bapak Ahmad cs anda jangan mengada-ada dengan cerita anda sendir ( memangnya saya ini anak SD yang mudah di cekoki sejarah Nabi SAW versi M.Al-kubro ).

Anda salah besar sekali pada saat Rosululloh SAW berdakwah di Makkah dengan cara sembunyai-sembunyi, maka yang pertama-tama masuk islam dan mengakui ke nabian beliau adalah Siti Khodijah R.ha yang tak lain adalah istrinya Rosululloh SAW, kemuadian setelah itu di ikuti oleh Abu Bakar Ash-Shidiq Ra. Nah apaka pada saat itu di makkah sudah ada itu pemerintahan islam ?

Apakah Rosululloh SAW mengkafir-kafirkan sahabat-sahabatnya yang pada saat itu yang menjadi pemimpin di makkah adalah Abu Jahal ?. Jawabannya jelas sekali tidak pernah sekalipun, bahkan ketika beliau berhijrah ke Madinah dan berhasil mendirikan DIR Madinahnya apakah orang islam yang masih tinggal di Makkah di anggap kafir, dlolim, fasyik hanya karena mereka masih di pimpin Abu Jahal dll ?. Sebenarnya jawaban ini pernah di sampaikan saya dari Bapak Ahmad Sudirman melalui email pribadi dan di tampilkan di situsnya www.ahmad.swaramuslim.net Dan Bapak Ahmad pun dengan NII Kartosuwiryonya tidak setuju kalau semua orang islam di RI di anggap kafir maka oleh karena itu dengan adanya seorang yang menjadi imam NII ( Abdul Fatah Wiranggapati ), NII mulai di jaharkan dan terbuka untuk umum sehingga orang islam di luar NII dan di dalam NII adalah sama yaitu sama-sama islam. Tetapi sayangnya Bapak Ahmad ini justru perkataannya tidak menentu, kadang ke sana, kadang ke sini dengan kata lain kata-kata Bapak Ahmad tidak bisa dipegang.

Mengenai komentar Bapak Ahmad kpd saya yang mengatakan bahwasanya Rokhmawan dalam berdiskusi tidak disertai dengan Nash yg kuat. Sebenarnya saya sudah pernah menyampaikan komentar saya kpd Bpk Husaini Daud cs (Bapak Ahmad baca lagi komentar-komentar say).

Yang jelas percuma saja saya menyodorka dalil aqli, dalil naqli (Al-qur'an dan Al-Hadits) yang kuat kalau bapak tetap menyanggahnya juga. Bukankah Tingkatan-tingkatan syurga menurut Ibnu Qoyyim yang lalu itu sudah cukup menjadi dasar yang kuat bahwasanya orang yang berbuat dosa baik dosa besar maupun dosa kecil tidak dikatakan kafir. Disana banyak di temukan dalil-dalil yang shohih baik dalil aqli, nash Al-qur'an maupun Hasdist yang Shohih. Tetapi karena memang Bapak Ahmad ini tidak mau mengambil pelajaran dari apa yang di tulisnya maka walaupun seribu dalil yg kuat pun tetap akan disanggahnya.

Bapak Ahmad Sudirman bilang saja kalau anda ini memang yang susah di atur oleh islam yang syammil ini.

Bapak Ahmad ini sangat lucu sekali, jelas sekali bapak Ahmad tinggal di Negara swedia yang mayoritas masyarakatnya adalah kafir/non islam, apa bapak mau di katakana kalau bapak juga kafir, dlolim, fasyik ?. Tidak mungkin bapak bisa berhukum dengan hukumnya Alloh secara kaffah, memangnya bapak bisa menerapkan itu hukum potong tangan, rajam di negara sekuler swedia sana ?. Jelas sekali tidak bisa, jangankan di swedia, di negara-negara yang mayoritas masyarakatnya islampun sedikit yang bisa berhukumkan dengan hokum Alloh SWT bahkan mungkin tidak/belum ada. Ini bisa terjadi karena apa ? karena umat islam di dunia ini mayoritas masih terjajah oleh pemikiran toghut. Apakah mereka semua orang islam di dunia ini yang masih
berhukumkan dengan hokum selain hokum Alloh SWT juga dikatakan kafir, dlolim, fasyik?. Kalau bapak menjawab iya berarti bapak sendiri juga kafir. Lucu sekali khan masak maling teriak maling ( pencuri teriak pencuri).

Justru bapak yang seharusnya urus diri sendir, keluarga, masyarakat di swedia sana, agar di negara tsb mayoritas penduduknya islam. Pak Ahmad, masih mending keadaan kami( Manhaj Salafi dll ) walaupun pemerintahan kami merupakan pemerintahan tandingan Alloh SWT namun kami semua masih hidup berdampingan dengan penduduk yang mayoritas islam dari pada Bapak Ahmad yang hidup di swedia dengan pemerintahan toghutnya dan mayoritas masyarakatnya non islam, padahal Rosululloh SAW menganjurkan kepada kita agar hidup berdampingan dengan orang-orang islam (berkumpul dengan orang-orang sholeh).

Pada saat Rosululloh SAW isro' mi'roj, beliau melihat seseorang di neraka yang menggunting lidahnya sendiri. Maka Rosululloh SAW bertanya kepada jibril, mengapa mereka bisa demikian ?. Jibrilpun menjawab, dia adalah mubaligh/ustadz dari kalangan umatmu tetapi tidak mau mengamalkan apa yang di ucapkannya ?. Bapak Ahmad dengan susah payahnya anda menginginkan tegaknya negara islam di Indonesia ini dengan cara mengkafirkan umat islam di dalamnya, sejauh mana bapak menegakkan syariat islam di swedia sana ?. Pak Ahmad tegurlah itu pemerintahan swedia agar segera mau masuk islam dan segera mendirikan negara islam. Lewat artikel yang bapak kirimkan kepada seseorang anggota milis ini, bapak mengatakan kalau bapak mulai mendakwahkan islam ke masyarakat islam di swedia sana, menjadi ustadz, meninggalkan produk swedia dll. Kalau hanya itu kami semua umat islam yang perduli dengan keadaan umat islam di Indonesia dan di dunia ini lebih dari apa yang bapak lakukan terhadap masyarakat swedia.

Kemudian Bapak tidak pernah berdiskusi dengan baik melawan Rokhmawan semenjak bapak mengamini itu Bpk Husaini Daud yang telah mengkafir-kafirkan umat islam si A, si B (ingat cirri-ciri kaum khowarij), terbukti dalam komentar bapak tidak pernah menyinggung apa yang saya tuliskan kepada bapak kecuali hanya sedikit sekali. Padahal kalau Bapak Ahmad berdebat melawan Sdr Sumitro cs pasti hampir setiap alinea yg di tulisnya selalu bapak luruskan dengan argumen bapak. Kemudian mana ada itu permintaan maaf dari bapak Ahmad atas tuduhannya kpd Manhaj kami, padahal saya sudah minta maaf kalau saya mencatut nama bapak Ahmad. Ini salah satu cirri ulama syiah dalam berdebat ( tidak mau minta maaf )

Wallohu'alam bi showab

Wassalaam

Rokhmawan Agus Santosa

rokh_mawan@yahoo.com
rokh-mawan@plasa.com
solo, jateng, Indonesia
----------