Stockholm, 16 Juli 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

KETIKA DITYA & ENDANG SUWARYA BERKUASA DI ACHEH SURUH ISTRI-ISTRI ANGGOTA GAM CERAI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KOLONEL LAUT DITYA SOEDARSONO & MAYJEN TNI ENDANG SUWARYA UNTUK MEMUKUL GAM SURUH ISTRI-ISTRI ANGGOTA GAM CERAI

Terimakasih untuk saudara Reyza Zain yang telah mengirimkan berita dari acehkita.com tentang Penguasa darurat Militer Daerah Acheh yang dipimpin oleh Mayjen TNI Endang Suwarya dan Kolonel Laut Ditya Soedarsono yang telah melakukan berbagai cara untuk melumpuhkan GAM. Dimana salah satu caranya adalah menyuruh istri-istri anggota GAM untuk bercerai dari suaminya.

"Setahu saya PDMD tidak pernah keluarkan maklumat agar para istri GAM menceraikan suaminya. Tapi mungkin itu bagian dari apa yang sering disebut strategi pemisahan GAM dari rakyat. Ini sudah menjadi prosedur di tingkat desa. Ini bukan lagi rahasia. Awalnya, mereka (aparat keamanan, red) menggunakan pola pendekatan istri GAM, agar mendapatkan informasinya. " (Dini (nama samaran) salah seorang relawan kemanusian di Aceh, acehkita.com, 16 Juli 2004)

"Suami kamu kapan pulang? Ngapain kamu punya suami GAM? Makan kamu seperti apa? Kalau kamu cerai itu lebih bagus, kita lindungi, dan kamu tidak lagi berurusan dengan kami (aparat keamanan, red)." Omongan seperti itu sudah sering didengar Siti (nama samaran) saat wajib lapor. Pernyataan itu pula yang membuat hari-hari Siti menjadi tak nyaman. (Sulaiman, acehkita.com , 16 Juli 2004)

Menurut keterangan Rosmani Daud, Panitera Muda Hakim Makhamah Syari'yah menyebutkan bahwa pada tahun 2003, saat diterapkannya Darurat Militer (DM), jumlah suami yang minta cerai naik menjadi 394 perkara sementara dari pihak istri menjadi 820 perkara. Itu berarti, sepanjang tahun lalu, total kasus cerai di Aceh mencapai 1.214 perkara atau naik lebih dari 20 persen. (Sulaiman, acehkita.com, 16 Juli 2004)

Memang kelihatan cara apa saja akan dilakukan oleh pihak Pemerintah RI melalui Pemerintah Daerah Acheh, untuk terus berusaha melumpuhkan GAM dan TNA. Dimana seperti yang dilaporkan oleh saudara Sulaiman dari acehkita.com menggambarkan bahwa bagaimana pihak Penguasa Darurat Militer Daerah Acheh dibawah pimpinan Mayjen TNI Endang Suwarya dan Kolonel Laut Ditya Soedarsono berusaha untuk menghancurkan GAM dengan salah satu caranya menyuruh dan memaksa istri-istri anggota GAM untuk lapor dan untuk bercerai daripada suami.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Thu, 15 Jul 2004 11:50:25 -0700 (PDT)
From: Reyza Zain warzain@yahoo.com
Subject: Dipaksa cerai oleh TNI !
To: ahmad@dataphone.se

Dipaksa cerai oleh TNI !

Wasalam

Reyza Zain

warzain@yahoo.com
achehcenter@yahoo.com
ACHEH CENTER
PO BOX 6356, Harrisburg, Pennsylvania 17112. USA
----------

http://www.acehkita.com/content.php?op=modload&name=berita&file=view&coid=739&lang=

Sebuah Perintah Cerai
Reporter: Sulaiman - Banda Aceh, 2004-07-16 00:24:31

Sebagai seorang istri, lumrah bila Siti (bukan nama sebenarnya) mengidamkan sang suami yang selalu berada di sisinya. Tapi Siti lebih sering harus mengiklaskan sang suami meninggalkan rumah. Bukan karena cinta yang mendua, namun karena Hasan (nama samaran), sang suami, lebih sering berada di belantara, memikul senjata menjadi gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Kendati berstatus istri kedua, cinta perempuan asal Pase, Aceh Utara ini tidak meluntur. Bertahun dia menanti sang suami kembali ke desanya. Asanya semakin sulit terbayar ketika pemerintah memutuskan status Darurat Militer (DM) untuk Aceh, 19 Mei 2003. Bukan hanya soal rindu, tapi sekaligus ancaman kehancuran rumah tangganya.

Tiga bulan kemudian, Agustus 2003, namanya terdaftar di kantor aparat keamanan setempat sebagai istri gerilyawan GAM. Muasal itulah, suatu ketika di bulan tersebut, Siti dipangil ke pos aparat. Di sana, dia dicecar beragam pertanyaan ihwal keterlibatan suaminya dalam gerakan yang mereka sebut separatis.

Perempuan setengah baya itu lebih sering menjawab; "tidak tahu". Siti menjawab seperti itu bukan karena memilih bungkam, tapi memang dia tidak banyak tahu. Hasan memang lebih memilih melepas penat saat bersua daripada berkisah tentang aktivitasnya. Selepas itu, dia kembali ke belantara.

Namun, aparat keamanan juga tak putus asa. Siti dikenakan wajib lapor hingga sehari dua kali. Tentu saja hal itu memberatkan Siti yang juga harus mencari nafkah. Apalagi, bebannya tak hanya itu. Aparat juga menugaskan Siti untuk mencari informasi tentang keberadaan suaminya. Dan kalau sudah ketemu, tugas selanjutnya adalah membujuk Hasan, agar segera menyerahkan diri, kembali ke "pangkuan ibu pertiwi".

Terakhir, titah yang paling berat yang pernah didengarnya adalah perintah untuk menceraikan sang suami. Titah itu harus dijalankan Siti jika tak ingin kembali ke kantor aparat keamanan lagi.

Menurut Dini (bukan nama sebenarnya) salah seorang relawan kemanusian di Aceh, perintah mencari, menyuruh menyerah, dan menceraikan suami bagi para istri-istri GAM jamak terjadi di beberapa kabupaten sejak Darurat Militer berlangsung.

"Ini sudah menjadi prosedur di tingkat desa. Ini bukan lagi rahasia. Awalnya, mereka (aparat keamanan, red) menggunakan pola pendekatan istri GAM, agar mendapatkan informasinya," papar Dini blak-blakan.

Dini juga mengaku beberapa kali sempat mendapat pengaduan dari istri GAM tentang perintah cerai ini. Namun dia mengaku kesulitan untuk melakukan pendataan lebih lanjut tentang jumlah istri GAM yang senaas Siti selama penerapan Darurat Militer.

Menurut Dini, Penguasa Darurat Militer Daerah (PDMD) sendiri secara resmi tidak pernah mengeluarkan maklumat agar para istri GAM menceraikan suaminya. "Setahu saya PDMD tidak pernah keluarkan maklumat agar para istri GAM menceraikan suaminya. Tapi mungkin itu bagian dari apa yang sering disebut strategi pemisahan GAM dari rakyat," ungkapnya.

Dini tak salah. Yang terjadi di lapangan memang tak ada urusannya dengan kebijakan PDMD. Misalnya tentang penyilangan rumah-rumah warga yang dituduh terlibat GAM. PDMD membantah telah memerintahkan aparatnya untuk menyilang merah, rumah-rumah milik keluarga GAM. Faktanya, dari Sabang, Meulaboh hingga Kluet Selatan di Aceh Selatan, banyak rumah warga yang disilang merah.
***

Kewajiban melapor dua kali sehari, akhirnya dilewati Siti. Namun, Siti masih harus sering ke kantor aparat keamanan. Soalnya, Siti hanya memperoleh keringanan setelah dua bulan menjalani wajib lapor. Setelah itu seminggu dua kali.

"Suami kamu kapan pulang? Ngapain kamu punya suami GAM? Makan kamu seperti apa? Kalau kamu cerai itu lebih bagus, kita lindungi, dan kamu tidak lagi berurusan dengan kami (aparat keamanan, red)."

Omongan seperti itu sudah sering didengar Siti saat wajib lapor. Pernyataan itu pula yang membuat hari-hari Siti menjadi tak nyaman.

"Kami memang sudah bercerai, saya tidak pernah lagi diberi nafkah. Untuk apalagi saya bersamanya, dia tidak lagi mempedulikan saya," kilah Siti menangkal pertanyaan aparat keamanan.

Namun kelit Siti tak dipercaya begitu saja. Aparat lalu meminta bukti. "Kalau benar kamu sudah bercerai mana suratnya?"

Pucat pasilah Siti menghadapi pertanyaan itu. Di satu sisi, ia tak mau mengikuti titah aparat agar menceraikan suami, karena khawatir gunjingan tetangga bahwa ia telah menceraikan sang suami tanpa sepengetahuan suaminya sendiri. Lebih mustahil lagi bila dia mencari surat cerai dan mengesampingkan aturan perceraian yang diatur agama.

Tapi di sisi lain, Siti jenuh terus menurus harus menjalani wajib lapor ke kantor aparat dan hanya surat cerai lah satu-satu jalan.

Akhirnya, setelah beberapa bulan, Siti menemukan jalan lain. Dia memilih meninggalkan kampung halaman, menghindar dari segala resiko. Siti memilih mencari suami sebagai alasan untuk menghindar dari kecurigaan. Ia membawa pakaian seadanya, untuk meyakinkan aparat bahwa dirinya tidak pergi untuk waktu lama. Siti berangkat ke kota yang relatif aman; Banda Aceh.

Berbekal informasi yang dihimpunya, Siti melangkah ke salah satu lembaga kemanusian di pingir kota dan bertemulah dengan Dini.

Malang bagi Siti. Lembaga tempat Dini bekerja, tak dapat banyak membantu. Tak lama, Siti lalu pergi, entah ke mana.
***

Jumlah kasus perceraian di Aceh meningkat. Pada tahun 2002, Pengadilan Agama Aceh telah menerima 343 perkara cerai yang diajukan oleh suami (thalaq), serta 634 perkara cerai gugat yang diajukan istri (fasakh). Dengan demikian, maka sepanjang tahun 2002, total kasus perceraian adalah 977 perkara.

Namun pada tahun 2003, saat diterapkannya Darurat Militer (DM), jumlah suami yang minta cerai naik menjadi 394 perkara sementara dari pihak istri menjadi 820 perkara. Itu berarti, sepanjang tahun lalu, total kasus cerai di Aceh mencapai 1.214 perkara atau naik lebih dari 20 persen.

Demikian keterangan Rosmani Daud, Panitera Muda Hakim Makhamah Syari'yah kepada acehkita, Kamis (15/7) di Banda Aceh. [A]
----------