Stockholm, 20 Juli 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MENLU NOER HASSAN WIRAJUDA INGIN JERAT TGK MALIK MAHMUD & TGK ZAINI ABDULLAH HANYA MIMPI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS KELIHATAN DENGAN NYATA ITU MENTERI LUAR NEGERI RI NOER HASSAN WIRAJUDA INGIN JERAT TGK MALIK MAHMUD & TGK ZAINI ABDULLAH HANYA MIMPI DISIANG HARI BOLONG

"Soal Tiro, memang ada ketentuan hukum yang berlaku di banyak negara, mereka yang kondisi kejiwaan dan fisiknya kurang cukup layak untuk dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang telah dilakukannya. Seperti halnya di kita, seseorang bisa bebas dalam proses pemeriksaan yang terjadi atas kasus Tiro. Dari segi itu, kita sangat memahami. Bukan hanya dari segi hukum di Swedia, hukum di Indonesia juga sama. Tapi perlu dijelaskan di sini, terhadap Malik Mahmud yang mengklaim sebagai Menlu GAM, dan Abdullah Zaini yang mengklaim sebagai Menlu dan Menkes GAM, mereka masih dikenakan proses hukum yang berlaku di Swedia. Jadi kita masih mengharapkan itu." (Menlu Noer Hassan Wirajuda, Hotel Grand Melia Kuningan Jakarta Selatan, Selasa, 20 Juli 2004)

Memang kelihatan itu Menteri Luar Negeri Noer Hassan Wirajuda telah mendapat pukulan berat dari pihak GAM di Swedia, terutama dari pihak Menteri Luar Negeri Dr. Zaini Abdullah dan Perdana Menteri Negara Acheh dalam Pengasingan Teungku Malik Mahmud.

Bagaimana tidak. Noer Hassan Wirajuda telah berusaha bertahun-tahun selama menjadi Menteri Luar Negeri Kabinet Gotong Royong berusaha keras untuk bisa melumpuhkan GAM. Dimana puncak usahanya Noer Hassan Wirajuda ini adalah meminta pihak Pemerintah Swedia untuk bekerja sama meringkus Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan Stafnya guna melumpuhkan kekuatan GAM.

Usaha Noer Hassan Wirajuda cs ini hampir berhasil dengan ditahannya Teungku Malik Mahmud dan Teungku Zaini Abdullah pada tanggal 15 Juni 2004 dengan tuduhan melanggar hukum internasional dalam bentuk memimpin Pemerintah Acheh Merdeka di pengasingan di Swedia untuk tujuan memisahkan Acheh dari Republik Indonesia. Memerintahkan pasukan gerilya yang mereka pimpin di Acheh untuk membakar 6 sekolah. Memerintahkan untuk menyandera 243 orang.

Tetapi pada tanggal 18 Juni 2004 Tim Hakim di Pengadilan Huddinge, Swedia memutuskan bukti tidak cukup untuk memperpanjang penahanan mereka, dan mereka segera harus dibebaskan.

"Pengadilan menunjukkan keberanian dengan membebaskan Zaini Abdullah. Tidak ada bukti-bukti untuk dijadikan alat penetapan keputusan penahanan" kata Advokat Peter Althin pembela Teungku Zaini Abdullah.

"Bukti yang dituduhkan kepada Malik Mahmud sangat tipis. Kami tidak mau pengadilan politik di Swedia. Pengadilan di Swedia tidak dibenarkan diatur oleh masukan dari pemerintah asing" kata Advokat Leif Silbersky pembela Teungku Malik Mahmud.

Kepala Jaksa Penuntut Umum Tomas Lindstrand menyatakan bahwa walaupun mereka telah dibebaskan, tetapi sangkaan terhadap mereka masih tetap ada..

Nah apa yang dinyatakan oleh Kepala Jaksa Penuntut Umum Tomas Lindstrand diatas itulah yang dipegang oleh Noer Hassan Wirajuda.

Tetapi pengharapan Noer Hassan Wirajuda kepada Kepala Jaksa Penuntut Umum Tomas Lindstrand bisa meringkus Teungku Malik Mahmud dan Teungku Zaini Abdullah adalah sangat jauh dari kenyataan. Mengapa ?

Karena mana ada bukti-bukti baru lainnya yang lebih kuat dari bukti-bukti yang sudah ada yang dikirimkan oleh pihak Kepolisian RI kepada pihak Kepala Jaksa Penuntut Umum Tomas Lindstrand untuk bisa dipakai meyakinkan tim Hakim di Pengadilan Huddinge. Malahan bukti-bukti baru itu ternyata belum dikirimkan pihak Kepolisian RI.

Bukti-bukti lama yang dikirimkan oleh pihak Kepolisian RI itu semuanya sudah tidak bisa dipakai karena tidak cukup dan tidak kuat. Sedangkan bukti-bukti baru tidak ada. Adapun bukti-bukti baru yang diambil oleh pihak Kepolisian Stockholm ketika menyita barang-barang bukti dari rumah Teungku Zaini Abdullah, Teungku Malik Mahmud, dan Teungku Hasan Muhammad di Tiro, bersamaan waktunya ketika pihak Kepolisian Stockholm menahan mereka pada tanggal 15 Juni 2004, itu semua bukti sangat merugikan pihak Pemerintah RI. Jelas bukti-bukti dari barang sitaan itu tidak akan dipakai oleh Kepala Jaksa Penuntut Umum Tomas Lindstrand. Malahan barang-barang bukti yang disita pihak Kepolisian itu telah dikembalikan lagi kepada pemiliknya, Teungku Hasan Muhammad di Tiro, Teungku Malik Mahmud, dan Teungku Zaini Abdullah.

Selama itu bukti-bukti baru yang kuat dari pihak Pemerintah RI tidak ada, maka selama itu tidak mungkin pihak Kepala Jaksa Penuntut Umum Tomas Lindstrand bisa membuka proses baru lagi berdasarkan pada bukti baru yang kuat agar bisa mengkap dan menahan lagi Pimpinan GAM yang telah dibebaskan itu untuk diproses lebih lanjut dan diajukan kepada pihak Tim Hakim Pengadilan Huddinge, Swedia guna diadili.

Jadi selama ini, apa yang diharapkan oleh Menteri Luar Negeri Noer Hassan Wirajuda adalah harapan kosong, seperti fatamorgana saja. Bahkan sampai Menteri Luar Negeri Noer Hassan Wirajuda turun dari Kursi Menlu-nya, itu Teungku Malik Mahmud dan Teungku Zaini Abdullah tidak akan bisa ditangkap dan ditahan lagi.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2004/bulan/07/tgl/20/time/105422/idnews/178702/idkanal/10

Hasan Tiro Distop, Mahmud & Zaini Tetap Diproses Hukum
Reporter: M. Rizal Maslan

detikcom - Jakarta, Kejaksaan Distrik Stockholm, Swedia menghentikan pemeriksaan terhadap Pimpinan Tertinggi GAM Hasan Tiro (74) karena sudah uzur. Namun Menlu GAM Malik Mahmud dan Menkes GAM Abdullah Zaini tetap diproses hukum.

"Soal Tiro, memang ada ketentuan hukum yang berlaku di banyak negara, mereka yang kondisi kejiwaan dan fisiknya kurang cukup layak untuk dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang telah dilakukannya."

Hal itu disampaikan Menlu Hassan Wirayudha di Hotel Grand Melia Kuningan Jakarta Selatan, Selasa (20/7/2004). Dia usai membuka acara dialog 'Kebijakan nasional pelaksanaan hasil konferensi utama PBB di bidang ekonomi sosial secara terintegrasi dan terkoordinasi pada tingkat nasional'.

"Seperti halnya di kita, seseorang bisa bebas dalam proses pemeriksaan yang terjadi atas kasus Tiro," lanjutnya.

Ketika polisi Swedia pertama kali melakukan penggerebekan di rumah Hasan Tiro, tutur dia, tampaknya menurut jaksa Stockholm, Tiro tidak menyadarinya. Belum lagi dalam proses pemeriksaan, sangat sulit untuk memperoleh keterangan dari Tiro karena melihat kondisinya.

"Dari segi itu, kita sangat memahami. Bukan hanya dari segi hukum di Swedia, hukum di Indonesia juga sama. Tapi perlu dijelaskan di sini, terhadap Malik Mahmud yang mengklaim sebagai Menlu GAM, dan Abdullah Zaini yang mengklaim sebagai Menlu dan Menkes GAM, mereka masih dikenakan proses hukum yang berlaku di Swedia. Jadi kita masih mengharapkan itu," kata Hassan.

Dengan alasan sudah uzur, Tiro dianggap Kejaksaan Swedia tidak bisa memberikan kontribusi terhadap proses penyidikan kasus pelanggaran berat hukum internasional yang melibatkan dirinya.

Menurut keterangan dokter Ragnhild Rosengren Lindquist dari RS Universitas Huddinge, kondisi kesehatan Tiro tidak memungkinkan untuk diperiksa. Kemampuan bergerak Tiro sudah lama sangat terbatas.

Karena penyakitnya itu, menurut Kepala Kejaksaan Distrik Stocholm Tomas Lindstrand, Tiro tidak lagi menjalankan kepemimpinan dalam arti sesungguhnya. Berdasarkan hasil pemeriksaan, kepemimpinan gerakan separatis di Aceh telah diambil alih oleh Malik Mahmud dan Abdullah Zaini. (sss)
----------