Stockholm, 21 Juli 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SUMITRO MEMANG BUTA SEJARAH ACHEH & RI, MENGIKUTI JALUR PIKIRAN SENDIRI & IKUT YUDHOYONO
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KARENA SUMITRO BUTA SEJARAH ACHEH & RI, MENGIKUTI JALUR PIKIRAN SENDIRI & MENGIKUTI SUSILO BAMBANG YUDHOYONO SAJA, MAKA GOMBAL-LAH APA YANG DITAMPILKANNYA TENTANG ACHEH DI MIMBAR BEBAS INI

"Yach bang Ahmad kalau saya mach yang lain berjuang untuk Acheh murni untuk rakyat sich bisa diterima tapi yang berjuang itu Ahmad dan Hasan Tiro CS ma'af2 azah dech karena berjuangnya untuk kepentingan pribadi bukan untuk kepentingan rakyat Aceh. Ahmad, Hasan Tiro khan pernah menjadi pejabat untuk Indonesia dari kurun waktu tahun 1945 s/d tahun 1954. Diantaranya menjadi staff wakil Perdana Menteri, staf penerangan Kedutaan Besar Indonesia di PBB dan lain2, loh. Wong dia waktu itu jadi pejabat kok ? berwarganegara Indonesia kok ? punya KTP Indonesia kok ? Kalau memang saudara Hasan Tiro itu ngerti dan paham sejarah Aceh yang kata anda dijajah dan dicaplok dll seperti yang anda katakan kenapa enggak dari dulu berjuangnya ? kenapa setelah tidak menjadi pejabat lagi dan dicabut kewarganegaraannya baru berjuang ? Ahmad Ahmad aku mah menyanyampaikan berdasarkan penilaian saya dengan sejarah2 hidup kalian kalaupun itu salah yach hanya kalian dan Allah SWT saja yang tahu karena itu sudah menyangkut hati kalian tul enggak ?" (Sumitro , mitro@kpei.co.id , Wed, 21 Jul 2004 12:49:28 +0700)

Baiklah saudara Sumitro di Jakarta, Indonesia.

Sumitro, itu alasan Teungku Hasan Muhammad di Tiro pernah "menjadi staff wakil Perdana Menteri, staf penerangan Kedutaan Besar Indonesia di PBB, berwarganegara Indonesia, punya KTP Indonesia dan lain2" sebagaimana yang saudara tuliskan adalah bukan alasan dasar hukum yang bisa memperkuat penelanan, pencaplokan, pendudukan, dan penjajahan pihak RI di Negeri Acheh.

Dan memang terbukti, karena jabatan staff wakil Perdana Menteri, staf penerangan Kedutaan Besar Indonesia di PBB, berwarganegara Indonesia, ber-KTP Indonesia bukanlah suatu dasar hukum yang kuat, maka ketika semuanya itu diambil dan dicabut oleh pihak Pemerintah RI dari diri Teungku Hasan Muhammad di Tiro tidak otomatis itu Negeri Acheh bebas merdeka bersamaan dengan dicabutnya kewarganegaraan Indonesia dari diri Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

Jadi soal kewarganegaraan itu hanyalah sebagai status rakyat didepan hukum yang diakui oleh Negara yang memberikan kewarganegaraannya itu. Bukan sebagai dasar hukum untuk memperkuat dan memperkokoh penelanan, pencaplokan, pendudukan, dan penjajahan pada satu Negeri. Misalnya seperti hal kewarganegaraan Indonesia yang diberikan kepada Teungku Hasan Muhammad di Tiro bukan berarti pemberian kewarganegaraan Indonesia kepada Teungku Hasan Muhammad di Tiro merupakan alat pengikat Negeri Acheh masuk kedalam RI atau NKRI.

Sekarang Sumitro makin bingung dan tidak tahu bagaimana untuk menjawab dan mempertahankan berdasarkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum guna membenarkan kejahatan Soekarno menelan, mencaplok, menduduki, dan menjajah Negeri Acheh.

Dan memang kelihatan dari apa yang ditulis Sumitro: "Yach bang Ahmad kalau saya mach yang lain berjuang untuk Acheh murni untuk rakyat sich bisa diterima tapi yang berjuang itu Ahmad dan Hasan Tiro CS ma'af2 azah dech karena berjuangnya untuk kepentingan pribadi bukan untuk kepentingan rakyat Aceh."

Coba saja perhatikan, itu Sumitro hanya sanggup menjawab: "Yach bang Ahmad kalau saya mach yang lain berjuang untuk Acheh murni untuk rakyat sich bisa diterima tapi yang berjuang itu Ahmad dan Hasan Tiro CS ma'af2 azah dech. Aku mah menyanyampaikan berdasarkan penilaian saya dengan sejarah2 hidup kalian kalaupun itu salah yach hanya kalian dan Allah SWT saja yang tahu karena itu sudah menyangkut hati kalian tul enggak ?".

Nah disini sudah ada melibatkan masalah ke-aku-an Sumitro atau subjektifitas Sumitro yang besar. Tidak murni lagi berdasarkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum. Melainkan Sumitro hanya mendasarkan kepada pridabi Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan Ahmad Sudirman saja dan hasil penilaian pribadi Sumitro saja.

Padahal sejarah pribadi Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan Ahmad Sudirman bukanlah dasar hukum yang bisa dijadikan alasan pembenaran untuk merampok, menelan, menduduki, dan menjajah Negeri Acheh.

Selanjutnya itu menyinggung perjuangan pembebasan Negeri Acheh dari pendudukan dan penjajahan Soekarno bukan dilakukan dari sejak Teungku Hasan Muhammad di Tiro saja, melainkan sudah dilaksanakan jauh sebelum itu. Ketika Soekarno sebagai Presiden RIS menelan Negeri Acheh pada tanggal 14 Agustus 1950 memakai dasar hukum PP RIS No.21/1950 dan PERPPU No.5/1950, maka tidak lama kemudian, pada tanggal 20 September 1953 Teungku Muhammad Daud Beureueh memproklamasikan Negara Islam Indonesia di Acheh bebas dari pengaruh kekuasaan negara Pancasila atau Negara RI atau NKRI.

Disini membuktikan bahwa memang benar secara hukum itu Negeri Acheh telah dirampas, dirampok, diduduki, dan dijajah oleh pihak Soekarno, sehingga pihak Teungku Muhammad Daud Beureueh memproklamasikan Negara Islam Indonesia di Acheh bebas dari pengaruh kekuasaan negara Pancasila atau Negara RI atau NKRI pada tanggal 20 September 1953.

Selanjutnya, karena pihak Teungku Muhammad Daud Beureueh dinyatakan dan dianggap menyerah kepada pihak Soekarno melalui Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh yang diselenggarakan pada bulan Desember tahun 1962 yang diikuti oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh yang diselenggrakan Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin, maka secara de-jure dan de-facto Teungku Muhammad Daud Beureueh bersama dengan RIA atau Republik Islam Acheh-nya yang menggantikan NII-nya, dianggap telah lenyap dari permukaan bumi Acheh.

Tetapi, karena masih adanya semangat perjuangan rakyat Acheh yang terus bergolak, disebabkan Negeri Acheh masih tetap dalam genggaman dan jajahan pihak RI, maka 14 tahun kemudian ketika Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang pertama kalinya, setelah 25 tahun di exil di Amerika, menginjakkan kakinya di bumi Acheh pada tanggal 30 Oktober 1976 mulailah perjuangan rakyat Acheh bangkit kembali dengan makin menggelora.

Sebagai penerus perjuangan para nenek moyangnya dulu yang telah menentang penjajah Belanda, dan sekarang menghadapi pihak penjajah NKRI, maka pada tanggal 4 Desember 1976 Teungku Hasan Muhammad di Tiro mendeklarasikan ulang Negara Acheh yang berdaulat. Dimana deklarasi Negara Aceh 4 Desember, merupakan simbol jatuhnya Negara Acheh dibawah pimpinan pemimpin perang Teungku Tjhik Maat yang satu hari sebelumnya, 3 Desember 1911 ditembak oleh pasukan Belanda dalam perang di Alue Bhot, Tangse. Jadi pada tanggal 4 Desember 1911 merupakan hilangnya kemerdekaan Negara Acheh. Berdasarkan tanggal inilah Teungku Hasan Muhammad di Tiro secara simbolis menghidupan dan meneruskan kembali kedaulatan Negara Acheh yang telah lenyap karena diduduki dan dijajah Belanda, diteruskan oleh Jepang dan oleh pihak RI yang menjelma menjadi NKRI.

Selanjutnya itu Sumitro menyinggung: "sekarang ini khan Hasan Tiro lagi berbaring ditempat tidur, pake selang di hidung lagi beliau udah uzur bahkan enggak lancar lagi ngomongnya dan istilah umumnya udah Pikun. Terus kalau beliau kira2 tahun ini meninggal terus yang ganti'in siapa ? Soalnya sekarang azah GAM dalam hal kepemimpinan yang gantiin Hasan Tiro udah pada pecah tuh dari Malaysia klaim diri, Swedia klaim juga, yang di Aceh juga klaim yang di Amrik juga klaim. Kalau yang di Amrik udah tentu anaknya Hasan Tiro yang doktor itu tuh, cuman dia mungkin enggak bisa karena berdarah amrik soalnya Istrinya Hasan Tiro khan Yahudi Amrik. Jadi saya enggak bisa ngebayangin tuh pasca meninggalnya Hasan Tiro. Bisa2 berebutlahan tuh, maklum ibarat tikus ngerebutin sepotong roti tuh."

Kesehatan Teungku Hasan Muhammad di Tiro terganggu karena usia sudah berumur yang sekarang sudah hampir masuk usia ke 74. Itu soal gangguan kesehatan memang biasa diusia yang demikian.

Persoalannya bukan masalah usia sudah tua atau belum, permasalahannya adalah kemampuan berpikir dari Teungku Hasan Muhammad di Tiro masih tetap berjalan dan mampu berpikir secara mendalam. Karena kemampuan berpikir Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang masih tajam dan mendalam inilah pihak Pemerintah RI tidak mampu menjerat Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

Seterusnya soal hidup dan mati itu semuanya ada ditangan Allah SWT. Jadi tidak perlu diperbincangkan dan diperdebatkan. Hidup dan mati adalah urusan Allah SWT.

Selanjutnya soal siapa yang akan meneruskan dan menggantikan Teungku Hasan Muhammad di Tiro memimpin perjuangan rakyat Acheh untuk penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan negara itu tidak dibicarakan dalam tubuh Negara Acheh. Karena Pemerintahan Negara Acheh dalam pengasingan di Swedia sudah wujud dan berjalan. Itu semuanya diserahkan kepada pihak Pemerintah negara Acheh dalam pengasingan yang akan menentukan kemudian. Dan hal itu tidak dibicarakan sekarang. Sekarang rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan negara Pancasila bukan mempersoalkan siapa yang akan menjadi pemimpin, melainkan rakyat Acheh sekarang sedang giat berjuang untuk penentuan nasib sendiri bebas dari penjajahan pihak RI.

Terakhir itu Sumitro menulis: "oh yach hampir lupa apa Ahmad juga pingin jadi pemimpin gantiin Hasan Tiro juga ? tapi itu khan enggak mungkin soalnya anda wong Solo ( sekarang wong Swedia, bule dan rambut dicat merah yach) bukan wong Aceh."

Saudara Sumitro saya adalah asal Sunda bukan asal Jawa dan tidak pernah tinggal di Solo. Sebagian besar di mimbar bebas ini sudah mengetahui asal suku Ahmad Sudirman adalah suku Sunda.

Kemudian itu pertanyaan Sumitro: "apa Ahmad juga pingin jadi pemimpin gantiin Hasan Tiro juga?"

Jelas, di mimbar bebas ini telah diterangkan berpuluh kali bahwa Ahmad Sudirman mendukung dan menyokong penuh perjuangan rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila karena Ahmad Sudirman ingin melihat Negeri Acheh kembali lagi ketangan seluruh rakyat Acheh. Bukan karena ada maksud lainnya. Titik.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

From: Sumitro mitro@kpei.co.id
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, Serambi Indonesia <serambi_indonesia@yahoo.com>, Aceh Kita <redaksi@acehkita.com>, ahmad jibril <ahmad_jibril1423@yahoo.com>, balipost <balipost@indo.net.id>, waspada <newsletter@waspada.co.id>, PR <redaksi@pikiran-rakyat.com>, Pontianak <editor@pontianak.wasantara.net.id>, Hudoyo <hudoyo@cbn.net.id>, JKT POST <jktpost2@cbn.net.id>, Redaksi Detik redaksi@detik.com
Cc: Sumitro <mitro@kpei.co.id>, ahmad@dataphone.se
Subject: RE: SUMITRO ITU KARENA KEDEGILAN PIMPINAN RI, TNI/POLRI, DPR, MPR KONFLIK ACHEH MAKIN MENYALA
Date: Wed, 21 Jul 2004 12:49:28 +0700

Yach bang Ahmad kalau saya mach yang lain berjuang untuk Acheh murni untuk rakyat sich bisa diterima tapi yang berjuang itu Ahmad dan Hasan Tiro CS ma'af2 azah dech karena berjuangnya untuk kepentingan pribadi bukan untuk kepentingan rakyat Aceh.

Ahmad, Hasan Tiro khan pernah menjadi pejabat untuk Indonesia dari kurun waktu tahun 1945 s/d tahun 1954. Diantaranya menjadi staff wakil Perdana Menteri , staf penerangan Kedutaan Besar Indonesia di PBB dan lain2, loh. Wong dia waktu itu jadi pejabat kok ? berwarganegara Indonesia kok ? punya KTP Indonesia kok ? Kalau memang saudara Hasan Tiro itu ngerti dan paham sejarah Aceh yang kata anda dijajah dan dicaplok dll seperti yang anda katakan kenapa enggak dari dulu berjuangnya ? kenapa setelah tidak menjadi pejabat lagi dan dicabut kewarganegaraannya baru berjuang ?

Ahmad Ahmad aku mah menyanyampaikan berdasarkan penilaian saya dengan sejarah2 hidup kalian kalaupun itu salah yach hanya kalian dan Allah SWT saja yang tahu karena itu sudah menyangkut hati kalian tul enggak ?

Oh iya bang Ahmad, sekarang ini khan Hasan Tiro lagi berbaring ditempat tidur, pake selang di hidung lagi beliau udah uzur bahkan enggak lancar lagi ngomongnya dan istilah umumnya udah Pikun. Terus kalau beliau kira2 tahun ini meninggal terus yang ganti'in siapa ? Soalnya sekarang azah GAM dalam hal kepemimpinan yang gantiin Hasan Tiro udah pada pecah tuh dari Malaysia klaim diri, Swedia klaim juga, yang di Aceh juga klaim yang di Amrik juga klaim. Kalau yang di Amrik udah tentu anaknya Hasan Tiro yang doktor itu tuh, cuman dia mungkin enggak bisa karena berdarah amrik soalnya Istrinya Hasan Tiro khan YAHUDI AMRIK. Jadi saya enggak bisa ngebayangin tuh pasca meninggalnya Hasan Tiro. Bisa2 berebutlahan tuh, maklum ibarat tikus ngerebutin sepotong roti tuh.

Yach semoga baik2 saja dech, oh yach hampir lupa apa Ahmad juga pingin jadi pemimpin gantiin Hasan Tiro juga ? tapi itu khan enggak mungkin soalnya anda wong Solo ( sekarang wong Swedia, bule dan rambut dicat merah yach) bukan wong Aceh.

Sumitro

mitro@kpei.co.id
Jakarta, Indonesia
----------