Stockholm, 7 Agustus 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SAGIR ITU PENEGAKKAN DASAR HUKUM AN-NISA: 92 TIDAK BISA DICAMPUR DENGAN DASAR HUKUM PANCASILA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SAGIR ALVA YANG PERLU DIPERHATIKAN ADALAH PENEGAKKAN DASAR HUKUM AN-NISA: 92 TIDAK BISA DICAMPUR DENGAN PELAKSANAAN DASAR HUKUM THAGHUT PANCASILA

"Bapak Ahmad, kalo diperhatikan dari apa yang terkandung dalam QS An-Nisa 92-93 tentang hukum membunuh orang mukmin, maka QS An-Nisa berlaku untuk semua Umat muslim dimanapun dia berada, apakah di negara Islam atau sekuler ataupun di negara non Islam. Karena QS An-Nisa 92-93, hanya menyatakan bahwa orang mukmin tidak layak membunuh mukmin yang lain secara sengaja, dan jika dilakukan secara tak sengaja, maka dia perlu memerdekakan hamba sahaya dan bayar diat, tapi jika tak mampu maka disuruh berpuasa 2 bulan berturut-turut. Nah jika dilakukan secara sengaja, maka Allah akan mencampaknya dalam Jahanam dan kekal selamanya, dan Allah murka kepadanya serta mengutuknya. Sehingga dari apa yang saya uraikan tersebut, jelas ini memperlihatkan bahwa eksekusi datang langsung dari Allah yaitu dengan memasukan dalam api neraka. Karena yang berhak memasukkan seorang kedalam api neraka hanya Allah semata, bukan makhluk ciptaan-NYA" (Sagir Alva , melpone2002@yahoo.com , Wed, 4 Aug 2004 20:26:47 -0700 (PDT))

Baiklah saudara Sagir Alva di Selangor, Malaysia.

Saudara Sagir itu An-Nisa: 92, 93 adalah dasar hukum bagi seseorang mu'min membunuh mu'min lain. Dan berlaku bagi setiap orang Islam, tanpa memandang dimana ia tinggal dan hidup.

Masalahnya sekarang adalah dalam penegakkan dan pelaksanaan dasar hukum An-Nisa: 92 ini.
Bagaimana untuk membuktikan secara hukum dihadapan lembaga peradilan hukum Islam bahwa mu'min A membunuh mu'min B ? Apakah dengan mudah diketahui bahwa memang benar mu'min A membunuh mu'min B. Misalnya kalau mu'min A membunuh mu'min B disuatu tempat yang tidak ada seorangpun yang menyaksikan pembunuhan itu. Bagaimana untuk membuktikan dan menahan si mu'min A dan dituduh bersalah membunuh mu'min B ?.

Jelas sangat sulit untuk membuktikannya, saudara Sagir. Apakah saudara Sagir beranggapan bahwa mu'min A akan datang suka-rela kepada pihak Kepolisian mengaku sendiri telah membunuh mu'min B ?. Itu hanya terjadi dalam mimpi, saudara Sagir Alva.

Jadi, saudara Sagir yang dipersoalkan dan dipermasalahkan dalam dasar hukum An-Nisa: 92, 93 ini adalah bukan berlaku atau tidaknya dasar hukum ini untuk seluruh ummat Islam. Tetapi yang menjadi persoalan dan permasalahan yang mendasar ini adalah penegakkan dan pelaksanaan dasar hukum An-Nisa: 92, 93 ini.

Apakah mungkin bisa ditegakkan dan dilaksanakan dasar hukum An-Nisa: 92 di wilayah kekuasaan de-facto dan de-jure RI yang dasar dan sumber hukum negaranya pancasila ?.

Jelas suatu hal yang mustahil terjadi.

Bagaimana mungkin Kitab Undang-Undang Hukum Pidana pembunuhan yang berlaku dalam Negara RI bisa digantikan oleh dasar hukum An-Nisa: 92, 93 ? Dan bagaimana mungkin di Pengadilan Tinggi Negeri Acheh bisa dijalankan sidang pengadilan berdasarkan syariat Islam dengan mengacu kepada dasar hukum An-Nisa: 92, 93 ?. Itu suatu hal yang mustahil bisa terjadi dan terlaksana.

Karena itulah saya mengatakan bahwa yang menjadi persoalan dan permasalah yang sangat penting bukan dasar hukum An-Nisa: 92, 93. Tetapi yang menjadi permasalah besar adalah penegakkan dan pelaksanaan dasar hukum An-Nisa: 92, 93 dalam sistem pancasila, kalau itu dijalankan di Negara RI.

Dengan dasar pemikiran saya tersebut diatas, bukan berarti bahwa Ahmad Sudirman tidak percaya kepada dasar hukum An-Nisa: 92, 93, karena tidak bisa dilaksanakan dan ditegakkan dasar hukum An-Nisa: 92, 93 tersebut di Negara RI. Jangan disalah artikan dan jangan salah mengambil kesimpulan. Seperti yang selalu dibuat oleh Rokhmawan dalam tanggapan-tanggapannya kepada saya.

Menyangkut dasar hukum An-Nisa: 93, memang itu menyangkut vonis langsung dari Allah SWT yakni "Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam; kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya" (An-Nisa, QS, 4: 93).

Disini ada dua hukuman. Pertama hukuman di dunia. Dan kedua, hukuman kelak di akherat. Kalau di akherat langsung masuk kedalam Jahannam dengan dikutuki Allah SWT (An-Nisa: 93). Adapun di dunia setelah disidangkan dalam sidang Pengadilan Islam divonis sesuai dengan isi dasar hukum An-Nisa: 92. Walaupun tidak disebutkan seberapa berat vonis hukumannya itu. Sebabnya yang ada hanya vonis hukuman bagi yang membunuh mu'min tersalah atau tidak disengaja yang sesama warga daulah Islam dengan vonis hukuman memerdekakan hamba sahaya yang beriman dan membayar diat. Sedangkan kalau mu'min yang terbunuh tersalah itu berasal dari Negara yang memusuhi Daulah Islam, maka vonis hukumannya memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Adapun kalau mu'min yang dibunuh tersalah dari Negara kafir yang ada perjanjian damai dengan Daulah Islam, maka divonis hukuman dengan membayar diat dan memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Bagi yang membunuh kalau tidak bisa memerdekakan hamba sahaya beriman, maka berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari Allah SWT.

Bagi mu'min yang membunuh mu'min lain dengan sengaja jelas akan divonis hukuman masuk Jahannam kelak bila sudah mati. Sedangkan di dunia walaupun tidak kena hukuman menurut dasar hukum An-Nisa: 92, tetapi kalau diajukan kedepan pengadilan hukum Pancasila, maka dikenakan dasar hukum KUHPidana.

Jadi saudara Sagir Alva untuk menegakkan dan menjalankan dasar hukum An-Nisa: 92, 93 ini memang harus dibawah lembaga peradilan hukum Islam. Tidak bisa dilakukan bersamaan dalam lingkungan dan lindungan Negara yang dasar dan sumber hukumnya non Islam, seperti pancasila di Negara RI.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Wed, 4 Aug 2004 20:26:47 -0700 (PDT)
From: sagir alva <melpone2002@yahoo.com>
Subject: An-Nisa 92-93 berlaku untuk semua Muslim
To: ahmad@dataphone.se
Cc: melpone2002@yahoo.com, rokh_mawan@yahoo.com, mitro@kpei.co.id

Ass.Wr.Wb.

Selamat pagi Pak Ahmad. Bagaimana kabar anda sekeluarga sekarang? Semoga anda sekeluarga baik-baik selalu serta senantiasa mendapat perlindungan Allah SWT.

Bapak Ahmad, kalo diperhatikan dari apa yang terkandung dalam QS An-Nisa 92-93 tentang hukum membunuh orang mukmin, maka QS An-Nisa berlaku untuk semua Umat muslim dimanapun dia berada, apakah di negara Islam atau sekuler ataupun di negara non Islam.

Karena QS An-Nisa 92-93, hanya menyatakan bahwa orang mukmin tidak layak membunuh mukmin yang lain secara sengaja, dan jika dilakukan secara tak sengaja, maka dia perlu memerdekakan hamba sahaya dan bayar diat, tapi jika tak mampu maka disuruh berpuasa 2 bulan berturut-turut. Nah jika dilakukan secara sengaja, maka Allah akan mencampaknya dalam Jahanam dan kekal selamanya, dan Allah murka kepadanya serta mengutuknya.

Sehingga dari apa yang saya uraikan tersebut, jelas ini memperlihatkan bahwa eksekusi datang langsung dari Allah yaitu dengan memasukan dalam api neraka. Karena yang berhak memasukkan seorang kedalam api neraka hanya Allah semata, bukan makhluk ciptaan-NYA.

Berbeda dengan hukum Qishos yang nyawa dibalas nyawa, ini yang melakukan eksekusi adalah manusia atas perintah Allah SWT melalui Al-Qur'an, dan ini baru terlaksana jika sistem yang digunakan adalah sistem Allah.

Saya kira ini saja yang dapat saya sampaikan, dan jika ada yang salah mohon maaf dan mohon diperbetulkan, Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada rekan milis yang memberikan komentar yang positif dan negatif terhadap apa yang saya sampaikan.

Wassalam

Sagir Alva

melpone2002@yahoo.com
Universitas Kebangsaan Malaysia
Selangor, Malaysia
----------