Stockholm, 21 Agustus 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

YUSA DAKHWAH IKUT ARUS SEDANGKAN WAHABIYIN ROKHMAWAN TETAP DEGIL TIDAK MAU BELAJAR
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MEMANG KELIHATAN ITU YUSA DAKHWAH IKUT ARUS SEDANGKAN WAHABIYIN ROKHMAWAN TETAP DEGIL TIDAK MAU BELAJAR

"Pak Ahmad Sudirman, (Ini bukan menggurui atau maksud apapun juga selain daripada sekedar mencari hikmah dari perkenalan anda dengan saya, tanpa bermaksud buruk terhadap anda, insya Allah). Guru saya pernah berkata kepada saya bahwa dulu sebelum Islam masuk ke tanah Indonesia memang sudah ada dan berkembang agama selain Islam, yaitu Hindu atau pun Budha. Yah, minimal itu. Kemudian datang pedagang dan para pendakwah Islam yang menyebarkan agama di Indonesia, dalam hal ini saya mengambil contoh di tanah Jawa. Wallahu a'lam dengan lainnya, saya belum tahu detailnya." (Yusa, at_taqwa@telkom.net , Sat, 21 Aug 2004 12:00:25 +0700)

"Bagaiman yang terjadi dengan NII lebih-lebih GAM/TNA jelas mereka tidak bisa sabar ketika berdakwah. Seharusnya bagi setiap umat islam yang ingin menegakkan kembali Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah maka wajib baginya untuk mengetahui langkah-langkah Rosululloh SAW dalam berdakwah di Makkah dan di Madinnah yang pada akhirnya terbentuklah DIR Madinnah, Futhul Makkah dll." (Rokhmawan , rokh_mawan@yahoo.com , Fri, 20 Aug 2004 23:39:37 -0700 (PDT))

Baiklah saudara Yusa di Jakarta, Indonesia dan Rokhmawan Agus Santosa dan Salafi di Solo, Jawa Tengah, Indonesia.

Setelah saya baca dan dalami apa yang ditulis oleh saudara Yusa, saya sampai kepada satu kesimpulan bahwa jalan pemikiran saudara Yusa dalam menegakkan nilai-nilai, aturan, hukum, undang-undang yang diturunkan Allah SWT mengikuti jejak dan jalur kemana arus mengalir, sehingga bisa diterapkan pribahasa tidak mengapa lambat asal sampai ketujuan, walaupun setelah lebih dari 700 tahun tetap saja tidak maju-maju dan tidak kelihatan hasil dakhwah Islam ini.

Memang kalau dilihat dari sudut sejarah sebelum dinasti Usmaniyah di Turki jatuh pada tahun 1923, di Sumatera telah berdiri kerajaan Samudra Pasai. Yang diawali ketika raja Mara Silu dari kerajaan Samudra masuk Islam dan berganti nama menjadi Malikul Saleh dan mampu memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke Pasai. Kerajaan Islam Samudra Pasai terus hidup dan berkembang dengan baik. Ditambah Sumatera adalah pulau yang terdekat letaknya ke negeri-negeri Arab. Sehingga banyak saudagar-saudagar Arab yang berdagang mengunjungi Kerajaan Samudra Pasai. Para pedagang Arab ini datang bukan khusus untuk berdakhwah, tetapi tujuan mereka adalah untuk berdagang. Tetapi banyak orang-orang Arab ini yang menetap di Samudra Pasai dan membangun keluarga dengan orang setempat. Sehingga banyak saudagar-saudagar Arab yang keluarganya orang asli Samudra Pasai.

Tetapi kemajuan dan ketentraman Kerajaan Islam Saumdra Pasai tidak lama, setelah datang pasukan Gajah Mada dari Kerajaan Hindu Majapahit menggempur Samudra Pasai pada tahun 1350. Kerajaan Islam Samudra Pasai mulai meredup. Tetapi ketika Samudra Pasai melemah, berdiri Kerajaan Malaka. Hanya Kerajaan Malaka tidak lama hidupnya, setelah datang Portugis dibawah pimpinan Albuquerque menggempur dan menaklukan Kerajaan Malaka pada tahun 1511.

Sekarang kita lihat Islam di Jawa.

Ketika Kerajaan Islam Samudra Pasai digempur Gajah Mada dan Kerajaan Malaka digempur dan diduduki Portugis, maka tinggallah giliran Hayam Wuruk dan Gajah Mada dari Majapahit digempur Kesultanan Demak pada tahun 1525.

Nah di Kesultanan Demak inilah hidupnya Sunan Kalijaga yang disebut sebagai Wali yang diceritakan oleh saudara Yusa.

Itu menurut sejarah ada 9 Wali yakni, Maula Malik Ibrahim dari Gresik. Sunan Ngampel dari Ampel dekat Surabaya. Sunan Bonang. Sunan Drajat anak Sunan Ngampel. Sunan Paku atau Sunan Giri dari Gresik. Sunan Kalijaga dari Demak. Sunan Kudus dari Kudus. Sunan Muria dari bekeroj dekat daerah gunung Muria. Sunan Gunungjati yaitu Fatahillah yang dimakamkan di Gunung Jati Cirebon.

Jadi saudara Yusa, kita melihat dari sudut sejarah, itu Kesultanan Demak yang dibangun oleh Raden Patah yang masih keturunan Raja Majapahit yaitu raja Brawijaya. Dimana Raden Patah ini belajar Islam dari Sunan Ngampel. Raden Patah dengan Kesultanan Demak inilah yang menghancurleburkan Kerajaan Hindu Majapahit dibawah pimpinan raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada yang sangat digandrungi oleh Soekarno.

Walaupun bukan Raden Patah yang menggempur Kerajaan Hindu Majapahit, karena Raden Patah keburu meninggal pada tahun 1519, melainkan Trenggano yang menjadi Sultan Demak yang menghancurleburkan Kerajaan Hindu Majapahit pada tahun 1525.

Nah Kesultanan Demak bukan hanya menggempur Kerajaan Hindu Majapahit saja, tetapi juga menggempur Kerajaan Hindu Pajajaran di Jawa Barat. Dimana  pasukan Demak dibawah Fatahillah atau Falatehan inilah yang memimpin penggempuran Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat. Karena Kerajaan Pajajaran dianggap bersekutu dengan Portugis.

Kesultanan Demak ini makin agresif meluaskan daerah kekuasaannya, sehinga daerah Pajang dan daerah Mataram ditundukkannya. Begitu juga kerajaan Hindu Pasuruan Blambangan dan Bali diduduki oleh Kesultanan Demak.

Tetapi Kesultanan Demak hidupnya tidak lama. Karena setelah Sultan Trenggano meninggal. Timbul perang dan perebutan kekuasaan antara Prawoto anak Trenggano dengan Arya Penangsang keturunan Sekar Sedo Lepen. Prawoto dibunuh bahkan Arya Pangiri anaknya Prawoto mau dibunuh tetapi gagal. Kemudian tampil Adiwijoyo membunuh balik Arya Penangsang. Lalu Adiwijoyo alias Joko Tingkir naik jadi Sultan Demak dan memindahkan pusat Kesultanan Demak ke Pajang Dan Arya Pangiri dijadikan bupati di Demak.

Kemudian setelah Adiwijoyo alias Joko Tingkir meninggal pada tahun 1582 kembali timbul perebutan kekuasaan di Pajang. Lalu Sutowijoyo anak Kyai Gede Pemanahan merebut kekuasaan dan memindahkan pusat Pemerintahannya ke Mataram. Dimana Sultan Sutowijoyo bergelar Senopati (1583 - 1601). Pada tahun 1601 Sultan Senopati meninggal digantikan anaknya Mas Jolang (1601-1613).

Setelah Kesultanan Demak hampir melemah. Fatahillah menyingkir ke Banten dan sejak tahun 1552 pindah ke Cirebon dan membentuk Kesultanan di Cirebon sampai wafatnya tahun 1570 dan dimakamkan di Gungjati. Dan yang mengurus Pemerintah Kesultanan Banten diserahkan kepada anaknya Hasanuddin (1552-1570). Ketika Kesultanan Banten telah kuat, maka Kesultanan Banten melepaskan diri dari Kesultanan Demak yang sudah makin lemah. Ketika Sultan Hasanuddin meninggal digantikan oleh anaknya Sultan Jusuf (1570-1580). Ketika Sultan Jusuf meninggal Kesultanan Banten menjadi lemah dan pada masa inilah Belanda berhasil menjejakkan kakinya di Jayakarta (Jakarta sekarang).

Saudara Yusa, dari apa yang tergambar dalam sejarah Islam di Demak sampai ke Banten dan jatuh ke tangan Belanda. Itu bukan melalui jalan dakhwa model Wahabiyin Rokhmawan dengan dakhwah-dakhwah lembeknya ala paham wahabi made in Saudi. Tetapi itu para Sunan tampil sebagai Sultan disamping menyebarkan Islam tetapi juga ikut menghancurkan Kerajaan Hindu Majapahit.

Jadi, kalau hanya mengikut metode dakhwah ala Wahabiyin Rokhmawan sampai kiamat tidak akan berhasil. Coba saja kalau waktu itu Demak tidak bangkit, jelas itu Kerajaan Hindu Majapahit dibawah pimpinan Hayam Wuruk dan Gajah Mada masih bercokol di Samudra Pasai dan diseluruh Nusantara. Kecuali di Pajajaran, karena Pajajaran tidak berhasil dihancurkan oleh Gajah Mada. Tetapi baru Kerajaan Hindu Pajajaran digempur habis oleh Kesultanan Demak dibawah pimpinan pasukan Fatahillah atas perintah Sultan Trenggano.

Saudara Yusa, boleh saja saudara menjalankan dakwah ala Sunan Kalijaga dari Kesultanan Demak. Tetapi jangan lupa itu justru Kesultanan Demak dibawah Sultan Trenggano yang menyapu habis Kerajaan Hindu Majapahit yang berpusat di Madura itu.

Jadi kalau ada yang menggembar-gemborkan dakhwah para Wali itu ikut-ikut saja kebiasaan Hindu, itu namanya memutar balikkan fakta, bukti, sejarah dan hukum. Itu Kesultanan Demak yang Wali Kalijaga hidup didalamnya, yang justru menghancurkan dengan kekuatan senjata kekuatan Kerajaan Hindu Majapahit dibawah pimpinan Raja Hindu Hayam Wuruk dengan Patih-nya Gajah Mada yang dijadikan acuan oleh Soekarno penipu licik yang menjajah Negeri Acheh.

Dan Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi kalau kalian menafsirkan dakhwah mujahid-mujahid dan sultan-sultan di Kesultanan Demak, Kesultanan Banten, Kesultanan Mataram, Kesultanan Cirebon memakai taktik lembut dan mengulur model dakhwah Wahabiyin Rokhmawan, mana bisa itu Kerajaan Hindu Majapahit bisa digempur habis, dan Islam bisa tegak di Jawa.

Itu setelah Rasulullah saw membangun Daulah Islam di Yatsrib sampai jatuhnya dinasti Khilafah Usmani di Turki justru harus mencontoh apa yang telah dicontohkan Rasulullah saw di Yastrib. Lihat itu para sultan di Demak, Mataram, Banten, Cirebon, mana mengikut lagi model dakhwah ala paham wahabi.

Begitu juga dengan NII, Imam SM Kartoseowirjo mengikut manhaj Rasulullah saw di Yatsrib. Dengan cara hijrah. Ke tempat dimana Daerah Jawa Barat yang bebas dari pengaruh kekuasaan negara kafir RI yang diproklamasikan Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945, tetapi pada 17 Junari 1948 telah mundur ke Yogyakarta dan berkuasa disana, setelah ditandatangani Perjanjian Renville.

Itu daerah Tasikmalaya, Jawa Barat daerah Hijrah SM Kartosoewirjo dengan seluruh kaum muslimin dari pihak Soekarno yang anti syariat dan Negara Islam.

Jadi, kalian Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi, kalian itu jangan seenak udel menuduh yang bukan-bukan terhadap NII, kalau kalian itu tidak memiliki dasar pengetahuan sejarah, agama, dan kalau kalian hanya mengikut paham sesat wahabi saja.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

From: "Yusa" at_taqwa@telkom.net
To: "Ahmad Sudirman" ahmad@dataphone.se
Cc: <husaini54daud@yahoo.com>, <mazda_ok@yahoo.com>, "rohma wawan" <rokh_mawan@yahoo.com>, "Sumitro" <mitro@kpei.co.id>, "warwick aceh" <universityofwarwick@yahoo.co.uk>, acheh_karbala@yahoo.no
Subject: Islam di Indonesia
Date: Sat, 21 Aug 2004 12:00:25 +0700

Aslkm wr. wb.
Pak Ahmad Sudirman, (Ini bukan menggurui atau maksud apapun juga selain daripada sekedar mencari hikmah dari perkenalan anda dengan saya, tanpa bermaksud buruk terhadap anda, insya Allah.)

Guru saya pernah berkata kepada saya bahwa dulu sebelum Islam masuk ke tanah Indonesia memang sudah ada dan berkembang agama selain Islam, yaitu Hindu atau pun Budha. Yah, minimal itu. Kemudian datang pedagang dan para pendakwah Islam yang menyebarkan agama di Indonesia, dalam hal ini saya mengambil contoh di tanah Jawa. Wallahu a'lam dengan lainnya, saya belum tahu detailnya.

Di Jawa, lambat laun Islam berkembang dan akhirnya terdapat kerajaan Islam di tanah Jawa, Mataram misalnya. Yah, walau mungkin pemeluk Islam kala itu masih mencampur-baurkan dengan adat mereka yang dilatarbelakangi dengan ajaran dan kebudayaan Hindu Budha. Tapi yah itu lebih baik bukan daripada sebelumnya? Maksud saya lebih baik daripada mereka memeluk agama Hindu atau Budha, ya saya tahu memang mereka lebih buruk jika dibandingkan dengan orang-orang seperti para Sahabat R.a dkk dulu. Tapi bukankah ini suatu perkembangan yang cukup menggembirakan bagi seorang pendakwah yaitu dari yang semula menganut agama Hindu dan Budha mau berpindah ikut agama yang termulia yaitu Islam.

Kemudian ada era Wali Songo (sembilan wali), saya salut kepada Sunan Kalijaga yang dikenal lebih "Njawani" daripada Sunan-sunan yang lainnya.

Njawani: Lebih akrab dengan budaya Jawa

Beliau mengajarkan Islam dan ajaran-ajarannya kepada para penganut Hindu dan Budha (itu seingat saya, wallahu a'lam) lewat cara yang sangat halus sehingga dengan tidak sadar mereka ikut menikmati ajaran-ajaran dan nilai-nilai Islam yang disampaikan Sunan Kalijaga lewat kebudayaan.

Misalnya kesenian wayang kulit, yah memang awalnya wayang adalah kebudayaan Hindu tapi itu digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk menyampaikan Islam kepada mereka. Sunan Kalijaga membuat cerita yang di dalamnya ada nilai-nilai Islam.

Dalam salah satu cerita wayang buatan Sunan Kalijaga ada yang disebut dengan jimat Kalimasada yang sangat sakti mandraguna. Nama Kalimasada itu adalah kependekan dari Kalimat Syahadat yang termasuk dalam rukun Islam.

Ada juga Sunan-sunan yang lain yang menyebarkan Islam lewat lagu Jawa, seperti "Sluku-sluku bathok" misalnya. Lagu tsb dalam bahasa Jawa tentunya, tapi inti dan maksud yang terkandung di dalamnya adalah sangat Islami karena memang nilai-nilai Islam-lah yang dimasukkan ke dalamnya.

Kemudian "Gapura", GAPURA berarti pintu gerbang, yang dalam bahasa arabnya Ghafura yang juga mempunyai makna Islam yang dalam. Juga "Sekaten", Sunan Kalijaga-lah yang merencanakan nama tsb, maksud dari nama tsb adalah "Syahadatain", ritual tsb menggabungkan antara kebudayaan Hindu atau Budha dengan Islam.

Ini untuk menyebarkan Islam dengan memasukkan nilai-nilai Islam di dalam kebudayaan mereka.

Jadi Islam lebih dikembangkan lewat perlambang-perlambang agar lebih mudah diterima masyarakat Hindu dan Budha. Karena penerimaan setiap orang itu tidak sama dalam menerima ajaran agama, apalagi untuk penganut agama lain.

(Saya pernah mencoba untuk menyampaikan Islam kepada teman non Muslim saya, tapi itu ternyata sangat teramat sulit sekali, Pak! Jangankan menyampaikan intinya, mencari bahasa yang termudah yang sekiranya dia mau menerima apa yang saya akan katakan itu saja sudah bukan main sulitnya. Sejak itu saya jadi tahu bahwa memang sulit menyampaikan Islam kepada penganut agama lain seperti yang dilakukan oleh para Wali dulu. Semoga Allah Swt meridhoi Beliau-beliau
semuanya, amin.)

Seperti buah durian, Pak! Kasar dan tajam luarnya tapi manis dan lembut dalamnya. Begitulah cara penyebaran Islam di tanah Jawa yang saya tahu, Beliau-beliau tahu bahwa menyebarkan agama di lingkungan yang sudah menganut suatu agama itu sangat sulit jika dilakukan dengan langsung.

Oleh karena itu Beliau-beliau melakukannya dengan cara yang sangat halus, yang dipakai adalah lewat kebudayaan karena dengan kebudayaanlah agama dapat lebih mudah disebarkan.

Yah sama dengan sekarang ini, Pak. Negara Indonesia sudah mulai dimasuki budaya dan adat non Muslim yang semakin merajalela. Tentu Bapak lebih tahu daripada saya.

Beliau-beliau sudah meninggal, tapi perjuangan Beliau-beliau belumlah selesai, Pak! Walaupun hasil perjuangan Beliau-beliau sudah bisa dilihat sekarang dengan berkembangnya Islam di tanah Jawa. Tentunya juga hasil dari perjuangan tokoh-tokoh pendakwah dari luar Jawa lainnya yang tak kalah pentingnya.

Tapi melihat keadaan tanah Jawa sekarang ini, saya sudah sangat bersyukur alhamdulillah karena keadaan sekarang jauh lebih baik daripada dahulu kala yang menganut Hindu dan Budha. Yah walaupun belum sempurna Islam kami, tapi setidaknya masih banyak ulama-ulama yang berjuang melanjutkan dakwahnya di sini. Yah walaupun sedikit tapi setidaknya masih ada yang peduli dengan kami. Beliau-beliau insya Allah selalu ada saat kami membutuhkan bimbingan ke jalan yang lebih benar. Beliau-beliau itu ibarat mutiara diantara lumpur kotor, Pak! Rela berkubang lumpur kotor demi untuk menyampaikan Islam kepada kami. Semoga Allah Swt meridhoi Beliau-beliau itu, amin.

Memang sih, Pak, masih banyak tempat-tempat maksiat dan orang-orang yang berbuat maksiat, bahkan mungkin saya termasuk di dalamnya (semoga Allah Swt mengampuni saya, amin). Tapi perjuangan belumlah selesai, Pak! Sesulit apapun itu, saya lihat banyak ulama yang pantang menyerah dalam menyebarkan dan menyampaikan Islam di tanah Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Sebagian dari mereka berkata bahwa jika yang dewasa tidak mau mendengar dakwah mereka, maka biarlah mereka begitu, tapi sasaran selanjutnya untuk berdakwah adalah anak-anak mereka yang sudah dewasa tadi, Pak. Karena anak-anaklah harapan para pendakwah tsb agar Indonesia dapat berubah ke arah yang lebih baik lagi dan diridhoi oleh Allah Swt. Toh nanti yang dewasa
juga akan mati dan otomatis yang tidak mau menerima dakwah tadi akan hilang dan berganti dengan generasi selanjutnya yang lebih baik. Amin.

Contohnya, pelacuran. Jika pelaku pelacuran dan penikmatnya tidak mau mendengarkan lagi dakwah Islam maka biarlah mereka begitu adanya. Yang harus dicegah agar jangan sampai berbuat zinah adalah anak-anak mereka. Jika orang tuanya sudah meninggal semua maka dengan otomatis pelacuran akan hilang, insya Allah. Dan berganti dengan generasi yang menolak perzinahan, bagaimana pun bentuknya. Amin.

Begitu juga dengan tokoh-tokoh pemerintahan, kalau mereka tidak mau lagi mendengarkan dan mengikuti dakwah Islam maka biarkanlah mereka begitu adanya. Yang harus dilakukan untuk memimpin negara dengan aturan yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad Saw adalah generasi selanjutnya, anak-anak muda bangsa Indonesia. Jika generasi baru tsb mau menerima dakwah Islam dan generasi tua sudah tidak lagi memimpin pemerintahan maka sekarang giliran generasi muda Indonesia yang lebih baik yang mau menerima dakwah Islam yang siap menggantikan memimpin Indonesia. Amin.

Ini cita-cita sebagian dari mereka para pendakwah, Pak! Sampai kapan tidak ada yang tahu itu, Pak! Kami hanya bisa berusaha dan berdo'a pada Allah Swt, Allah Swt Maha Mendengar do'a hamba-Nya. Semoga Allah Swt meridhoi kita semua kaum Muslim semua sekeluarga sekalian, amin.

Perjuangan menyampaikan Islam belum selesai, semua mungkin berubah sebelum kematian datang menjemput kami. Semoga Allah Swt ridho, amin. Beberapa hari yang lalu telah datang di Indonesia dari Madinah seorang pendakwah yaitu Al-Habib Zein bin Smith, beliau berencana berdakwah selama beberapa bulan di Indonesia dan sekitarnya, bahkan ke Singapura. Beliau salah satu bukti bahwa masih ada orang yang peduli dengan nasib kami. Semoga Allah Swt meridhoi Beliau, amin.

Bagaimana menurut anda, Pak Ahmad? Semoga Allah Swt meridhoi anda sekeluarga sekalian, amin.

Mohon ingatkan saya jika saya salah. Terima kasih sebelumnya. (Maafkan saya)

Wallahu a'lam bishshowab.
Wslkm wr. wb.

Yusa.

at_taqwa@telkom.net
Jakarta, Indonesia
----------

Date: Fri, 20 Aug 2004 23:39:37 -0700 (PDT)
From: rohma wawan rokh_mawan@yahoo.com
Subject: Fwd: Islam di Indonesia
To: ahmad@dataphone.se
Cc: ahmad_jibril1423@yahoo.com, hudoyo@cbn.net.id, sea@swipnet.se, siliwangi27@hotmail.com, habearifin@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com, yuhe1st@yahoo.com, dityaaceh_2003@yahoo.com, megawati@gmt.net, hassan.wirayuda@ties.itu.int, alchaidar@yahoo.com, perlez@nytimes.com, syifasukma@yahoo.com, imarrahad@eramuslim.com, viane@kon-x.com, muhammad59iqbal@yahoo.com, husaini54daud@yahoo.com, abu_farhan04@yahoo.com, seuramoe_aceh@yahoo.com.uk, narastati@yahoo.com, netty_suwarto@hotmail.com, me_yuni@yahoo.com, dhienpayabujok@yahoo.com, djuli@pc.jaring.my

Assalaamu'alaikum Wr.Wb

Saya pribadi salut dengan artikel sdr Yusa, coba anda (Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman) komentarilah artikel Yusa kali ini dengan kejujuranmu (kalau bisa).

Yang jelas sdr Yusa menuliskan: "Begitu juga dengan tokoh-tokoh pemerintahan, kalau mereka tidak mau lagi mendengarkan dan mengikuti dakwah Islam maka biarkanlah mereka begitu adanya. Yang harus dilakukan untuk memimpin negara dengan aturan yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad Saw adalah generasi selanjutnya, anak-anak muda bangsa Indonesia. Jika generasi baru tsb mau menerima dakwah Islam dan generasi tua sudah tidak lagi memimpin pemerintahan maka sekarang giliran generasi muda Indonesia yang lebih baik yang mau menerima dakwah Islam yang siap menggantikan memimpin Indonesia".

Coba kita lihat dari kaca mata dakwahnya Rosululloh SAW, Rosululloh SAW ketika berdakwah di Makkah yang pada waktu itu dipimpin oleh Abu Jahal dan Abu Lahab jelas dilakukan dengan perlahan-lahan (tidak sekaligus mendakwahi atau memerangi kafir quraisy dan pejabatnya), ketika beliau mendapat kenabian pada usia 40 tahun, maka yang pertama2 di dakwahi dan masuk islam adalah siti khodijah kemudian menyusul sahabatnya Abu bakar Ash shidiq dst...

Rosululloh SAW mendakwahi orang-orang yang terdekat dengan beliau dan yang sekiranya memungkinkan lebih mudah menerima kebenaran.

Ingat, Rosululloh SAW dalam berdakwah tidak menggunakan kekerasan fisik melainkan dengan hikmah dan bijaksana. Bahkan Rosululloh sering juga mendakwahi Abu Jahal maupun Abu Lahab dengan hikmah ( sunnah) dan bijaksana kendati beliau mendapat ancaman dan hinaan darinya. Padahal yang didakwahi Rosululloh SAW adalah seorang kafir tulen dan gembongnya.

Nah seharusnya NII, GAM/TNA mencontoh dakwahnya Rosululloh SAW yang hikmah (sunnah) dan bijaksana, lebih-lebih yang dihadapinya adalah umat Islam sendiri. Jelas mendakwahi atau menunjukkan jalan kebenaran kepada orang Islam (pejabat RI) harus lebih bijaksana daripada mendakwahi orang kafir.

Seandainya kita dalam berdakwah kepada orang kafir (non Islam) atau kepada umat Islampun mendapat ancaman, hinaan maka kita harus sabar, "innallooha ma'ash shobiriin". Namun apabila kita dimusuhi atau diperangi (perang fisik) orang kafir tersebut maka kita boleh balas memeranginya, tentunya dengan tata cara yang telah ditetapkan Alloh dalam Al Qur'an yaitu mengenai Adab-adab Perang. Akan tetapi apabila yang memusuhi itu adalah umat islam sendiri maka kewajiban kita adalah untuk menghindari agar tidak terjadi peperangan antara umat islam sendiri.

Bagaiman yang terjadi dengan NII lebih-lebih GAM/TNA jelas mereka tidak bisa sabar ketika berdakwah. Seharusnya bagi setiap umat islam yang ingin menegakkan kembali Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah maka wajib baginya untuk mengetahui langkah-langkah Rosululloh SAW dalam berdakwah di Makkah dan di Madinnah yang pada akhirnya terbentuklah DIR Madinnah, Futhul Makkah dll.

Yang perlu di pahami adalah Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah bukanlah tujuan dan alat melainkan hasil bagi orang-orang yang berimana dan bertakwa kepada Alloh SWT.

Nah kita lihat yang terjadi dalam NII dan GAM/TNA mereka ternyata tidak mengetahui langkah-langkah dalam berdakwah, mereka menggunakan langkah terakhir (penegakan khilafah islamiyah) sebagai langkah awal. Bagaimana kalau kita menggunakan langkah akhir sebagai langkah awal, jelas akan binasa dan tidak mendapat pertolongan Alloh SWT di karenakan salah satunya tidak sabar. Lihat sendiri saja itu NII atau GAM/TNA bukannya tujuan mereka yang didapat tapi malah usaha mereka sia sia dan berakhir dengan binasanya itu NII atau GAM/TNA. Kita ketahui bersama lewat uraian Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman bahwa NII sekarang hampir-hampir tidak ada semurni dengan NII Kartosuwiryo (pecah menjadi 14 faksi), sedangkan GAM/TNA jelas banyak yang keok dan menyerah.

Dengarkanlah wahai Warga NII, Anggota GAM/TNA apabila anda menggunakan kekerasan dalam berddakwah maka anda akan binasa dan tidak akan mendapat pertolongan Alloh SWT.
Wallohu'alam bi showab

Wassalam

Rokhmawan Agus Santosa

rokh_mawan@yahoo.com
rokh-mawan@plasa.com
solo, jateng, Indonesia
----------