Stockholm, 30 Agustus 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

WAHABIYIN ROKHMAWAN MENUTUP MATA DARI HASIL GERAKAN WAHABIYAH & IBNU SAUD
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

WAHABIYIN ROKHMAWAN DAN SALAFI-SOLO-WAHABI-SAUDI MENUTUP MATA DARI APA YANG DILAKUKAN OLEH GERAKAN WAHABI & KELUARGA SAUD DARI KERAJAAN SAUDI

"Coba kalau bisa anda tampilkan dalil aqli dan dalil naqli tentang kebolehan melawan pemerintahan yang dzalim yg masih sholat dll?. Sampai kiamatpun anda semua tidak bisa menemukan itu dalil aqli dan naqlinya karena apa ? Jelas Rosululloh SAW tidak pernah membolehkan memerangi, memberontak kpd pemerintahan tersebut walaupun dalam keadaan yg sangat terjepit. Ingat jangan ungkit-ungkit masa lalu, Syeikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab dan Syeik Muhammad Ibnu Saud. Anda Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah bisanya hanya menengok kebelakang saja sehingga di depan anda ada jurang mengangapun tetap anda lewati (kiasan saja, jangan dibahas)." (Rokhmawan , rokh_mawan@yahoo.com , Fri, 27 Aug 2004 00:57:29 -0700 (PDT))

Baiklah Rokhmawan Agus Santosa dan Salafi di Solo, Jawa Tengah, Indonesia.

Kalian itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi, memang kalian dengan gerakan wahabiyah yang berdakhwah salafiyyah itu telah kelihatan belang kalian.

Kalian Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi berusaha untuk menutup-nutupinya tidak akan mungkin tertutupi. Tidak akan bisa ditutupi hanya dengan sekedar "Ingat jangan ungkit-ungkit masa lalu, Syeikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab dan Syeik Muhammad Ibnu Saud Anda Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah bisanya hanya menengok kebelakang saja sehingga di depan anda ada jurang mengangapun tetap anda lewati (kiasan saja, jangan dibahas)."

Bagaimana kalian Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi belajar pada ulama-ulama pada masa Rasulullah, kalau kalian tidak menengok kebelakang. Itu yang kalian pelajari adalah hasil karya ulama-ulama pertama pada masa Rasulullah saw dan pada masa Khulafaur Rasyidin dan tabiin.

Apakah ketika kalian Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi mempelajari karya-karya itu bukan kembali menengok kepada sejarah masa silam, sejarah ketika Rasulullah saw dengan para sahabatnya masih hidup ?. Atau apakah kalian ketika membaca karya-karya ulama pertama itu langsung datang begitu saja didepan muka kalian pada waktu sekarang ini ?.

Janganlah terlalu picik dalam berpikir, kalian ini memang terlalu terkurung oleh adanya kekangan paham wahabi kalian yang terfokus kepada sebagian kecil manhaj Rasulullah saw saja, yakni ketahuidan saja. Padahal manhaj Rasulullah saw adalah mencakup seluruh kehidupan manusia di dunia ini. Kalian hanya memotong sebagian kecil saja dari perjuangan yang luas yang telah dicontohkan Rasulullah saw sejak dianggat sebagai Nabi dan Rasul selama 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Yatsrib.

Karena kepicikan dan kesempitan kalian mempelajari dan memahami manhaj Rasulullah saw yang luas itu, terbukti ketika menengok apa yang telah dilakukan oleh kaum wahabi dengan gerakan wahabiyah dan dakhwah salafiyyahnya dengan kekuatan pasukan muwahidinnya yang telah ikut bersama pendiri kerajaan Saudi dari keluarga Ibnu Saud dengan tujuan mendirikan kerajaan Saudi dari dinasti Islam Usmaiyah yang kalian anggap dinasti khurafat, syirik, bid'ah, sufi, sehingga akibat dari pengobaran perang yang dilakukan kaum wahabi bersama keluarga Ibnu Saud yang bersekongkol dengan Pemerintah Kerajaan kafir Inggris menjadi salah satu penyebab hancurnya dinasti Islam Usmainyah, ternyata kalian mencoba dengan sekuat tenaga untuk menutupinya dengan tulisan kalian yang berbunyi: "Ingat jangan ungkit-ungkit masa lalu, Syeikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab dan Syeik Muhammad Ibnu Saud Anda Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah bisanya hanya menengok kebelakang saja sehingga di depan anda ada jurang mengangapun tetap anda lewati (kiasan saja, jangan dibahas)."

Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi, apa yang telah dilakukan oleh kaum wahabi dan gerakan wahabiyah dengan dakhwah salafiyyahnya itu yang bersekongkol dengan kelurga Ibu Saud dan Pemerintah Kerajaan Kafir Inggris menggempur pemimpin Islam yang syah dari dinasti Islam Usmaniyah yang kalian anggap khurafat, bid'ah dan syirik, itu adalah telah melanggar perintah Allah SWT yang diwajibkan untuk ditaati.

Sekarang kalian Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi akan menutupi apa yang telah dilakukan oleh kaum wahabi itu.

Kemudian kalian Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi ketika membaca apa yang Ahmad Sudirman tulis dalam tulisan sebelum ini yang berbunyi:

"Seterusnya, apa yang ditulis Mazda: "Mereka rajin melancarkan propaganda untuk memberontak dan meruntuhkan penguasa muslim" Mazda, yang kalian jadikan alasan "untuk memberontak dan meruntuhkan penguasa muslim" itu adalah salah kaprah. Mengapa ? Kalian memang buta, itu contohnya di Negara kafir RI, dianut sistem trias politika dengan pemilu-nya. Jadi, untuk menjatuhkan Presiden itu caranya melalui pemilu. Apakah yang ingin menjatuhkan presiden Megawati lewat pemilu dianggap memberontak dan meruntuhkan penguasa Megawati?. Yang benar saja kalau kalian bicara ini Mazda. Nah, kalau kalian menyingung ASNLF atau GAM yang berjuang untuk penentuan nasibsendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Penguasa Negara kafir RI, memang ada alasannya yang jelas dan terang, yaitu karena penguasa RI menjajah Negeri Acheh. Lagi pula ASNLF atau GAM tidak bisa disamakan dengan apa yang dilakukan khawarij terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib." (Ahmad Sudirman, 28 Agustus 2004)

Kemudian Ahmad Sudirman juga pernah menulis sebagai berikut:

"Tetapi tentu saja, kalaulah Ahmad Sudirman tinggal di Negara kafir RI, maka Ahmad Sudirman tidak akan memilih Megawati ataupun Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden Negara kafir RI. Mengapa ? Karena pertama, memilih Megawati jelas walaupun dibenarkan menurut dasar hukum dan sumber hukum pancasila, tetapi Ahmad Sudirman sebagai seorang muslim yang mukmin telah melanggar nash Al Qur'an dan Sunnah Rasul. Kedua, kalau Ahmad Sudirman memilih Susilo Bambang Yudhoyono, jelas dia itu dan pengikutnya anti syariat Islam, disamping itu Susilo Bambang Yudhoyono adalah arsitek pembuat Keppres No.28/2003 yang dijadikan dasar hukum membunuh dan memerangi rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara kafir Pancasila. " (Ahmad Sudirman, 21 Agustus 2004)

Ternyata Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi memberikan tanggapan dengan menulis: "Naa tiba-tiba itu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah balik mengomentari seperti kalimat di atas yg berhuruf miring dan bergaris bawah (Apakah yang ingin menjatuhkan presiden Megawati lewat pemilu dianggap memberontak dan meruntuhkan penguasa Megawati?). Memang mulut atau ucapan Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman tidak bisa di pegang (plin-plan) bukan cuman itu sudah plin plan ditambah menyesatkan umat islam lagi. Kalau orang islam yg bisa berfikir dan bersandarkan dengan Al-qur'an dan Al-hadist maka tidak akan terkecoh dengan kesesatan-kesesatan dan penyimpangan NII, GAM/TNA ataupun Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs, Hasan Tiro dan antek-anteknya."

Setelah saya pelajari mengapa itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi memberikan tanggapan demikian. Rupanya, Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi tidak memahami dan mengerti apa yang ditulis oleh saudara Mazda yang berbunyi: "Apa yang diucapkan Ahmad Sudirman ini tidak jauh beda seperti apa yang diucapkan oleh para pengikut hawa baik itu pengikut Muhammad Surur, atau para pengikut kelompok Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan Al Banna. Tiap hari siang malam mulut mereka kotor mencaci maki penguasa muslim yang memerintah dinegeri-negeri kaum muslimin. Mereka rajin melancarkan propaganda untuk memberontak dan meruntuhkan penguasa muslim" (Mazda, Fri, 27 Aug 2004 02:26:45 -0700 (PDT))

Karena memang Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi tidak mengerti persoalan dan permasalahan, maka ketika saya menyatakan: "Apakah yang ingin menjatuhkan presiden Megawati lewat pemilu dianggap memberontak dan meruntuhkan penguasa Megawati?". Ternyata Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi mengomentari dengan: "Memang mulut atau ucapan Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman tidak bisa di pegang (plin-plan) bukan cuman itu sudah plin plan ditambah menyesatkan umat islam lagi."

Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi, itu ketika Ahmad Sudirman mengatakan: "Apakah yang ingin menjatuhkan presiden Megawati lewat pemilu dianggap memberontak dan meruntuhkan penguasa Megawati?" Itu dilihat dari sudut kacamata yang dipakai oleh Mazda yang memandang "Tiap hari siang malam mulut mereka kotor mencaci maki penguasa muslim yang memerintah dinegeri-negeri kaum muslimin. Mereka rajin melancarkan propaganda untuk memberontak dan meruntuhkan penguasa muslim"

Karena Mazda melihat dari sudut pihak Penguasa Megawati, maka keluarlah perkataan: "Mereka rajin melancarkan propaganda untuk memberontak dan meruntuhkan penguasa muslim". Kemudian Ahmad Sudirman menanggapi: "Apakah yang ingin menjatuhkan presiden Megawati lewat pemilu dianggap memberontak dan meruntuhkan penguasa Megawati?" Mengapa Ahmad Sudirman mengatakan demikian ?. Karena sebagian besar rakyat di RI itu melakukan pemilu. Kalau ada yang dituduh oleh Mazda "Mereka rajin melancarkan propaganda untuk memberontak dan meruntuhkan penguasa muslim", ternyata dalam kenyataannya mereka sebagian besar melakukan pemilu.

Dan berbeda dengan apa yang dikatakan Ahmad Sudirman: "kalaulah Ahmad Sudirman tinggal di Negara kafir RI, maka Ahmad Sudirman tidak akan memilih Megawati ataupun Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden Negara kafir RI. Mengapa ? Karena pertama, memilih Megawati jelas walaupun dibenarkan menurut dasar hukum dan sumber hukum pancasila, tetapi Ahmad Sudirman sebagai seorang muslim yang mukmin telah melanggar nash Al Qur'an dan Sunnah Rasul. Kedua, kalau Ahmad Sudirman memilih Susilo Bambang Yudhoyono, jelas dia itu dan pengikutnya anti syariat Islam, disamping itu Susilo Bambang Yudhoyono adalah arsitek pembuat Keppres No.28/2003 yang dijadikan dasar hukum membunuh dan memerangi rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara kafir Pancasila."

Jadi, Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi, pelajari dulu apa permasalahannya, sebelum kalian dengan seenak perut kalian melambungkan tanggapan yang salah kaprah.

Selanjutnya Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi mengatakan: "Itu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman Tidak Berkutik Melawan Orang-orang Islam yang Bermanhaj lurus"

Memang kelihatan makin budek saja itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi. Coba perhatikan dalam masalah gerakan wahabiyah dan dakhwah salafiyyah saja yang telah Ahmad Sudirman uraikan dilihat dari sudut sejarah, dasar nash Al-Qur'an sebagaimana yang dipakai oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, dan dasar dari ulama yang selalu dibanggakan oleh kaum wahabi, ternyata terbukalah bahwa itu gerakan wahabiyan dan kaum wahabi itu telah masuk kedalam golongan khawarij.

Jadi, janganlah Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi seenak kalian putar balik bukti yang jelas baik itu dilihat dari sudut Al Qur'an dan contoh Rasulullah saw. Itu yang kalian agungkan gerakan wahabi dengan paham wahabi ternyata tidak selurus pelaksanaannya seperti yang kalian gembar gemborkan.

Seterusnya Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi mengatakan: "disini saya tidak membicarakan Kartosuwiryo (orang yg sdh meninggal) tetapi saya membicarakan pimpinan NII, GAM/TNA sekarang yg tidak sesuai dengan Sunnah-sunnah Rosululloh SAW bahkan bertentangan."

Kalian Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi memang betul-betul sudah keterlaluan dalam menganggap diri kalian paling lurus mengikuti contoh Rasulullah saw. Sehingga dengan seenak udel sendiri menyatakan: "pimpinan NII, GAM/TNA sekarang yg tidak sesuai dengan Sunnah-sunnah Rosululloh SAW bahkan bertentangan."

Karena Ahmad Sudirman telah menjelaskan pemimpin NII dan ASNLF atau GAM, maka sekarang begini saja Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi, siapa pemimpin kalian sekarang yang ada di Negara kafir RI, dipersilahkan untuk tampil di mimbar bebas ini dan menunjukkan visi dan misi perjuangan kalian di Negara kafir RI. Jangan hanya mengobral omong kosong. Biar seluruh rakyat di Negeri Acheh dan di Negara kafir RI mengetahui siapa sebenarnya pemimpin gerakan wahabi di Negara kafir RI sekarang ini.

Selanjutnya Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi menulis: "Baiklah wahai Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman, dengan anda menampilkan proklamasi NII tersebut secara intinya saya dapat menyimpulkan, Proklamasi NII atas nama Alloh SWT, dan NII berdasarkan Al-qur'an dan Al-hadist. Memang kalau secara teorinya bagus itu NII tetapi realisasinya mana ? Noool Besaar."

Makin bodoh dan budek saja Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi ini. Sekarang apa hasil perjuangan gerakan wahabi di dunia ?. Apa yang telah dilakukan kaum wahabi melalui kerajaan Saudi ? Bisakah itu ulama wahabi mencegah Ibu saud dan keturunannya untuk tidak bertekuk lulut kepada George W. Bush ? Sudahkan itu khurafat, bid'ah, syirik dihapuskan dari muka bumi ?. Sudahkan itu kuburan-kuburan yang diatasnya dibangun bangunan-bangunan yang ada disekitar Solo dihancurkan oleh kalian para pengikut paham wahabi?.

Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi kalian tidak melihat itu hasil persekongkolan pasukan wahabi, keluarga Ibnu Saud dan Pemerintah Kerajaan kafir Inggris dari hasil penyerangan terhadap dinasti Islam Usmani, sehingga lahir kerajaan Saudi.

Apakah itu kerajaan Saudi telah mengikuti manhaj Rasulullah dengan Daulah Islam pertama di Yatsrib ?. Apakah yang telah dijalankan oleh penerus dari Ibnu Saud sampai Fahd sekarang ini ? Apakah itu Daulah yang bisa menjadi tempat berlindung dan tempat untuk mempetahankan Islam, umat Islam, dari ancaman sekularisme, khurafat, bid'ah dan syirik, sebagaimana yang kalian gembar-gemborkan ?.

Mata kalian hanya tertuju kepada apa yang diluar gerakan wahabi, tetapi kalian buta melihat apa yang terjadi dalam diri dan kerajaan Saudi kalian. Adakah dasar nash yang kuat yang dijadikan alasan oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dengan Amir Muhammad bin Saud ketika akan membangun kerajaan Saudi dari hasil pendudukan daerah-daerah diluar daerah Dar'iyah dan dari penyerangan terhadap Dinasti Islam Usmaniyah ?. Apakah ada bunyi isi deklarasi atau isi proklamasi berdirinya kerajaan Saudi yang dibangun oleh Ibnu Saud yang bersekongkol dengan Pemerintah Kerajaan kafir Inggris ?.

Jangan dulu banyak cuap Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi. Buktikan dulu apa yang telah dibuat dan sedang dijalankan oleh kerajaan Saudi kalian itu dengan gerakan wahabi kalian itu untuk meluruskan tauhid yang kalian gembar gemborkan itu ?.

Kemudian apa yang akan kalian lakukan pada tanggal 20 September 2004, apakah kalian dengan seluruh kaum wahabi yang di Negara kafir RI akan memilih Megawati atau Susilo Bambang Yudhoyono atau kalian itu menjadi golongan putih ?. Dan bagaimana sikap kalian terhadap pembunuhan yang diperintahkan oleh Megawati cs melalui TNI untuk tetap menjalankan pendudukan dan penjajahan di Negeri Acheh ?

Kalian Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi jangan munafik, disatu pihak kalian akan golput, tetapi dipihak lain kalian tetap mempertahankan sistem thaghut pancasila dalam bentuk mempertahankan kebijaksanaan politik pendudukan dan penjajahan di Negeri Acheh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Sun, 29 Aug 2004 23:01:54 -0700 (PDT)
From: rohma wawan <rokh_mawan@yahoo.com>
Subject: Itu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman Tidak Berkutik Berdiskusi dan Berdebat Melawan Orang-orang Islam yang Bermanhaj lurus
To: ahmad@dataphone.se
Cc: ahmad_jibril1423@yahoo.com, hudoyo@cbn.net.id, sea@swipnet.se,siliwangi27@hotmail.com, habearifin@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com, yuhe1st@yahoo.com, dityaaceh_2003@yahoo.com, megawati@gmt.net, hassan.wirayuda@ties.itu.int, alchaidar@yahoo.com, perlez@nytimes.com, syifasukma@yahoo.com, imarrahad@eramuslim.com, viane@kon-x.com, muhammad59iqbal@yahoo.com, husaini54daud@yahoo.com, abu_farhan04@yahoo.com

Bismillahirrohmaanirroohiim
Assalaamu'alaikum Wr.Wb

Itu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman Tidak Berkutik Melawan Orang-orang Islam yang Bermanhaj lurus

Wahai Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman, anda semakin hari semakin kalang kabut merndapat siraman hadist-hadist atau dalil naqli dan dalil aqli yang kami lontarkan kpd anda semua dan begitu anda membaca komentar saya, itu dalil aqli dan dalil naqli tidak kalian resapkan dalam hati sehingga komentar balik yang anda tujukan kpd saya pun tidak ada nilainya sama sekali (mana ada itu dalil aqli dan dalil naqlinya).

Coba kalau bisa anda tampilkan dalil aqli dan dalil naqli tentang kebolehan melawan pemerintahan yang dzalim yg masih sholat dll?. Sampai kiamatpun anda semua tidak bisa menemukan itu dalil aqli dan naqlinya karena apa ? Jelas Rosululloh SAW tidak pernah membolehkan memerangi, memberontak kpd pemerintahan tersebut walaupun dalam keadaan yg sangat terjepit. Ingat jangan ungkit-ungkit masa lalu, Syeikhul Islam Muhammad bin abdul wahab dan Syeik Muhammad Ibnu saud. Anda Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah bisanya hanya menengok kebelakang saja sehingga di depan anda ada jurang mengangapun tetap anda lewati (kiasan saja, jangan dibahas).

Kemudian anda Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman lebih plin-plan karena apa ?. Apabila orang bisa membaca artikel Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Dirman dari 5 tahun yang lalu jelas itu banyak sekali komentarnya yang bertentangan dengan yg kemaren-kemaren.

Nah hari sabtu kemaren pun Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah berkata yg demikian, "Mazda, yang kalian jadikan alasan "untuk memberontak dan meruntuhkan penguasa muslim" itu adalah salah kaprah. Mengapa ? Kalian memang buta, itu contohnya di Negara kafir RI, dianut sistem trias politika dengan pemilu-nya. Jadi, untuk menjatuhkan Presiden itu caranya melalui pemilu. Apakah yang ingin menjatuhkan presiden Megawati lewat pemilu dianggap memberontak dan meruntuhkan penguasa Megawati?. Yang benar saja kalau kalian bicara ini Mazda".

Naah khan, dulu anda Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman mengatakan intinya saja "kalau saya (Ahmad dirman) berada di negara kafir RI maka saya tidak akan mendukun SBY atau Mega" dengan kata lain Golput. Dari pernyataan ini sebenarnya memang sudah benar sesuai dengan prinsip Kami, tetapi begitu lain hari sdr Mazda mengatakan "Mereka rajin melancarkan propaganda untuk memberontak dan meruntuhkan penguasa muslim". Dan juga, "sebagian yang lain hanya sibuk berdemo dan berdemo dengan melabel demo mereka adalah jihad atau sebagian yang lain cuman bisa berorasi dimimbar-mimbar bebas, atau didalam masjid sekalipun."

Naa tiba-tiba itu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah balik mengomentari seperti kalimat di atas yg berhuruf miring dan bergaris bawah. Memang mulut atau ucapan Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman tidak bisa di pegang (plin-plan) bukan cuman itu sudah plin plan ditambah menyesatkan umat islam lagi. Kalau orang islam yg bisa berfikir dan bersandarkan dengan Al-qur'an dan Al-hadist maka tidak akan terkecoh dengan kesesatan-kesesatan dan penyimpangan NII, GAM/TNA ataupun Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs, Hasan Tiro dan antek-anteknya.

Kemudian untuk sdr Peace org sekali lagi kalau mau mengomentari saya kirimkan saja lewat email saya karena sampai saat inipun ini acces sedang trouble khusus www.ahmad.swaramuslim.net.

Sdr Peace org dan Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman anda itu begitu lugu sekali, coba anda baca komentar-komentar saya dengan baik-baik jangan asal-asalan. Mana pernah saya mengatakan orang yang berjenggot, berjubah, celana di atas mata kaki merupakan orang yang beriman dan solih.

Tapi yg saya katakan sekitar 2 bln yg lalu adalah ciri kesolehan dan keimana terletak pada fisik dan bathin atau salah satu ciri kesholehan adalah berjubah, berjenggot (sesuai dg fisik Rosul). Yang jelas Alloh berfirman, "Katakanlah wahai Muhammad, barangsiapa yg mencintai Alloh maka taatilah aku.....".

Nah jelas sekali khan kalau kita mengakui cinta kepada Alloh maka harus mentaati dan mengikuti Rosululloh SAW.

Mana ada itu NII, GAM/TNA termasuk Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman mengikuti Sunnah-sunnah Rosululloh SAW kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya seperti PERANG, HIJRAH. Itupun mereka semua salah besar tentang penafsirannya.

Orang yg mengaku cinta atau taat kpd Rosululloh SAW sudah pasti dia akan senatiasa mengamalkan sunnah-sunnah Rosululloh SAW, seandainya ada yg mengaku taat dan cinta kpd Rosululloh tetapi sangat sedikit bahkan bertentangan dengan Sunnah beliau berarti cintanya dan ketaatannya tidak sempurna atau palsu. Bisakah kau fahami sdr Peace org dan Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman ? padahal itu sudah saya ulang-ulang lewat komentar saya kemaren

Kemudian untuk Si Ahlul Ahwa dan Si Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman, disini saya tidak membicarakan Kartosuwiryo (orang yg sdh meninggal) tetapi saya membicarakan pimpinan NII, GAM/TNA sekarang yg tidak sesuai dengan Sunnah-sunnah Rosululloh SAW bahkan bertentangan.

Ini antara lain dari segi lahiriah saja mereka tidak mencirikan kesholehan, Alloh berfirman yang intinya "orang-orang yg bersama dengan Rosul terlihat bekas sujud dan mereka berkasih sayang kpd umat islam serta keras terhadap kafir". Kalau orang yang tidak tahu ilmu tafsir jelas mereka akan membantah dengan perkataan, khan berarti itu menunjukkan kpd sahabat Rosululloh SAW karena mereka yg berada di dekat atau bersama Rosululloh SAW. Nah terlepas dari tahu atau tidak tafsir ayat di atas tetapi dengan perkataan ini berarti mereka mempermainkan Ayat-ayat Alloh SWT.

Baiklah wahai Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman, dengan anda menampilkan proklamasi NII tersebut secara intinya saya dapat menyimpulkan, Proklamasi NII atas nama Alloh SWT, dan NII berdasarkan Al-qur'an dan Al-hadist. Memang kalau secara teorinya bagus itu NII tetapi realisasinya mana ? Noool Besaar.

Yang jelas itu proklamasi adalah terlahir dari akal manusia yang tidak maksum bahkan bisa juga sebaliknya. Masak proklamasi NII bisa mengalahkan hadist-hadist Rosululloh SAW ?. Anda Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman meyakini kalau NII baik dan benar di lihat dari proklamasinya, naah mengapa anda Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah tidak meyakini dan mangamalkan Sunnah-sunnah Rosululloh SAW, untuk contohnya saja anda Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman termasuk Sdr Peace org, berkeberatan tampil Sunnah (Jubbah, jenggot) malah anda semua mempermainkan Sunnah-sunnah beliau dengan perkataan ini..itu..dll.

Sebenarnya anda Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs serta sdr Peace org berat hati menerima Sunnah-sunnah Rosululloh SAW. Nah akan saya pertanyakan yg satu ini, lhoo katanya dalam proklamasinya NII berdasarkan Al-hadist ? Mana buktinya ? Eh..Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs, NII, GAM/TNA sebenarnya tahu nggak seh yang namanya hadist ? jangan-jangan nggak tahu atau yang anda maksudkan hadist yang sesuai dengan nafsu kaliyan ?. Ayoo jawab yang namanya hadist atau Sunnah itu apa ?.

Wahai Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman kalau hanya sekedar teori she mudah sekali. Saya bisa mengatakan (anggap saja ada) NIJ ( negara islam jawa) berdasarkan Alqur'an dan Al-hadist. Tetapi tidak mudah itu lansung dikatakan sebagai negara yg baik dan benar dalam pandangan Alloh SWT. Itu khan baru teori. Alloh SWT tidak membutuhkan atau tidak memandang teori tetapi niat dan perbuatan. Rosululloh SAW bersabda, "Alloh SWT memandang seorang hamba bukan dari rupanya tetapi dari niat dan perbuatannya". Justru Alloh SWT akan membenci orang yang pintar berteori tapi tidak bisa mengamalkan bahkan bertentangan dengan teori tersebut (saya yakin Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah hafal diluar kepala peristiwa dan hadist yg menggambarkannya). Dalam hal ini yang pandai berteori islam adalah NII, GAM/TNA termasuk Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs serta Hasan Tiro dan antek-anteknya.
Hayoo mau lari kemana lagii..

Kemudian dengan lugunya Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman menulis, "Apakah dengan mendirikan Negara Islam di wilayah daerah yang bernama Indonesia itu Imam SM Kartosoewirjo dikatakan membuat bid'ah ?. Padahal beliau mencontoh Rasulullah saw ketika membangun Daulah Islam di daerah Yatsrib yang dasar dan sumber hukum Daulah-nya adalah Islam dan kosntitusinya adalah Undang Undang Madinah".

Sekali lagi saya tidak membicarakan Kartosuwiryo karena saya tidak mengetahui sepak terjang dia, yang saya bicarakan orang-orang NII, GAM/TNA masa sekarang. Anggap saja itu Kartosuwiryo full Sunnah, lemah lembut, anti kekerasan dll. Ini khan Kartosuwiryo bukan Hasan Tiro, NII sekarang. Alloh SWT memandang perbuatan dan niat itu tidak berdasarkan generasi yg lalu. Lihat itu Hasan Tiro bukan seorang yg zuhud bahkan mengutamakan kekayaannya untuk hidup di dunia yg fana ini.

Para sahabat bertanya kpd Rosululloh SAW, sesungguhnya kami mencintai engkau yaa Rosul. Beliaupun bersabda "fikirkanlah terlebih dahulu". Begitu seterusnya sampai tiga kali kemudian beliau bersabda " Bersiap-siaplah mengahadapi kesengsaraan dan kemelaratan".

Nah kalau orang lugu seperti Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs, Hasan Tiro dkk serta sdr Peace org menyimpulkan berarti orang islam tidak boleh hidup kaya donk. Kalau benar betapa lugunya kamu semua..

Hadist di atas dimaksudkan kemiskinan bukan masalah, asal punya keimanan yg mantap. Nah makanya itu para sahabat sedikit sekali yg hidup kaya atau berlebih. Dan ketika di tanya tentang Abdurrahman bin auff ( sahabat Rosul yg terkaya ) maka beliau bersabda yang intinya, "Abdurrahman bin auff akan melewati jemabatan shirot dengan merangkak". Maksudnya dibanding dengan para sahabatnya yg zuhud.

Naah bagaimana dengan si pelarian politik yg pengecut Hasan Tiro dan antek-anteknya termasuk Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman ?. Kalau saja mereka semua niat dan perbuataanya sesuai dengan Rosululloh SAW tapi tetap kaya maka tetap kalah dengan orang islam yg setaraf tingkatan imannya tetapi zuhud. Dapatkah kau ( Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs, sdr Peace org ) mengambil pelajaran ini ?.

Kemudian itu Daulah Islam di Madinah terbentuk karena dakwah Rosululloh SAW dengan hikmah dan bijaksna serta kesabaran yg luar biasa dan atas perjanjian antara beliau dan kaum ansor di madinah (umat islam, yahudi dan nasrani). Coba fikirkan yang masak-masak hai Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman tentang bagaimana pembentukan Daulah Islam di Madinah ini.
Apakah (semoga Alloh mengampuni saya yg telah membicarakan orang yg sudah meninggal) Kartosuwiryo berhasil mengadakan perjanjian antara umat islam, nasrani, budha, hindu dll ? Jangan bohong Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Dirman. Itu proklamasi NII hanya dihadiri oleh Warga NII (pejabat NII).

Kemudian kembali lagi saya disini saya membicarakan NII, GAM/TNA saat sekarang yang penuh hawa nafsu, ambisi, dendam dan sakit hati.

Kemudian saya berada di mimbar bebas ini bukan berarti membela mati-matian atau memihak RI (TNI). Jadi jangan salah sangka Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudiman. Menurut saya pribadi itu TNI dan GAM/TNA serta NII sama-sama tidak mengindahkan adab perang, seandainya mereka semua tahu perang dan adab perang yg dimaksud maka jelas tidak akan terjadi itu peperangan sesama umat islam sendiri.

Yang jelas kami berkata demikian di atas dan komentar-komentar lalu ada dalil aqli dan naqlinya. Nah mana ada itu NII, GAM/TNA berbuat melawan RI sesuai dengan dalil aqli dan naqli ?.

Coba anda Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah cari dan tampilkan itu dalil aqli dan naqli yg membolehkan melawan pemerintahan atau mempertahankan diri dari kedzaliman pemerintahan atau menentukan nasib sendiri. Sampai dunia hancurpun anda tidak akan dapat menemukan hadist yg dimaksud. Karena Rosululloh SAW sudah memberi rambu-rambu mengenai bagaimana sikap kita kpd penguasa yg dzalim.

Saya yakin Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman sudah mengetahui hadist-hadist yang saya maksud tetapi karena sakit hati dan dendamnya kpd RI sehingga dia menutupi kebenaran hadist tersebut.

Kemudian sekedar canda, siapa diantara saya dan Ahlul Ahwa, Bid'ah Ahmad Sudirman yang termasuk Bal'am kelas teri ?. Kalau menurut Husaini atau Alqubro jelas dia akan mengatakan "Bal'am kelas teri itu ya kamu (Rokhmawan)". Kalau Cuma menuduh, memfitnah tanpa ilmu, sejarah, bukti dan fakta she anak SD pun bisa. Yang jelas saya dan kami melangkahkan kaki ada dalil aqli dan dalil naqlinya sedangkan NII, GAM/TNA bahkan Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman melangkahkan kakinya di bumi ini hanya berdsarkan sejarah yang penuh dengan nafsu, marah-marah, saki hati dan dendam serta ambisi.

Lihat saja itu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman ketika mengomentari tulisan saya, mana bisa dia menampilkan dalil aqli dan naqli, paling-paling yang bisa di cuap-cuapkan mengenai sejarah aceh dan seputar Al-maidah 44, 45, 47. Dan yang terkesan adalah marah-marahnya atau perkataan joroknya itu yang dari dulu tidak bisa dibendung (bodoh, tuli, budek, dungu, biadab dll).

Sebenarnya kata-kata ini menunjukkan kalau Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman tidak bisa berdebat dengan baik yang menampilkan pikiran seorang dewasa (dalil aqli dan naqli). Ingat di sini bukan diskusi ilmu umum tetapi mengenai agama, jelas sekali tidak boleh hanya pakai logika-logikaan atau permainan kata.

Apa kamu mau mengatakan Rosululloh SAW yang tidak-tidak, seperti Bal'am kelas teri dll ? (Sekedar sindiran). Jelas sekali kami mengatakan ada dalilnya baik Al-qur'an, Al-hadist maupun pendapat ulama.

Untuk Sdr Peace org anda begitu lugu ketika membaca pertanyaan saya mengenai, " Coba Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman tampilkan dalil naqli atau aqli yg mengisyaratkan Manhaj Salafush Sahalih termasuk Khowarij". Maksud pertanyaan saya di atas adalah apakah ada dalil aqli dan naqli tentang penimpangan-penyimpangan yang dilakukan Manhaj Salafy. Anda sdr Peace org sampai kapan kamu akan lugu terus mungkin sampai kakek-kakek yaa...sudah lugu, bandel lai ditambah hobynya mempermainkan Sunnah Rosululloh SAW bahkan Ayat Al-qur'an.

Kemudian Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs, sdr Peace org ternyata tidak mengerti yang dinamakan TAKLID BUTA. Yang dinamakan taklid buta itu seperti mengikuti suatu manhaj, amir, pemimpin islam tetapi tidak mau belajar ilmu sehingga tatkala ada kesesatannya ia tetap saja mengikutinya.

Nah yang terjadi pasda Kami bukan TAKLID BUTA terhadap Syeikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab namun setelah kami pelajari ternyata memang di dalam Manhaj Salafy benar-benar berpijak pada Al-qur'an dan Al-hadist sehingga setiap perbuatan kami baik untuk diri sendirii atau yang berhubungan Alloh SWT, berhubungan dg manusia atau pemerintahan ada dalil aqli dan naqlinya.

O yaaa kayaknya artikel saya tentang Definisi Bid'ah kemaren belum di bahas tuntas dan ditampilkan ? mungkin Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman takut ketauhan boroknya ya. (biar ditutup-tutupi sekalipun itu orang islam yg pemahamanya lurus tetap mengetahui boroknya) ?. Terpaksa saya copykan lagi.

Definisi Bid'ah. Oleh : Dr. Ibrahim Ruhaily dalam Mauqif Ahlus Sunnah

Sdr Peace org cs setelah anda renungkan dan pahami secara mendalam dengan tidak ada rasa emosi maka anda akan mengetahui siapa itu Ahmad Sudirman yang anda hormati dan anda jagokan, ternyata dia adalah Seorang Ahlul Ahwa ( pengekor hawa nafsu ) dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman.

Coba mana ada dia bisa menampilkan Ayat-ayat Al-qur'an maupun hadist-hadist Rosululloh SAW untuk menyanggah tuduhan Manhaj Salafy bahwasanya NII, GAM/TNA merupakan Kaum Khowarij melainkan berdasarkan hawa nafsu belaka.

Karena Ahmad Sudirman cs hanya mengutamakan Hawa Nafsu (logika) saja maka dia pun mendapat gelar sebagai Ahlul Ahwa (pengekor hawa nafsu) dan Ahlul Bid'ah.

Kita boleh menggunakan logika kita asal jangan bertentangan dengan Ayat-ayat Al-qur'an maupun hadist-hadist Rosululloh SAW. Tetapi itupun harus diminimalkan terutama dalam berdiskusi atau berdebat dengan kata lain kalau kita berdiskusi tentang agama islam maka harus banyak merujuk dalil aqli (pendapat ulama) dan dalil naqli ( Al-qur'an dan Al-hadits ).

Sdr Peace org cs termasuk Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman tidak usah anda membantah dengan kata-kata " lho mana logika yang bertentangan dengan Alqur'an dan Al-hadist "?.

Coba baca ulang lagi dari 3 bulan yg lalu komentar-komentar saya dan Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman, kalau anda seorang muslim yang mukmin dan bermanhaj lurus maka akan mengetahui titik kelemahan-kelemahan Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs dan lebih celaka lagi kelemahan-kelemahan itu yang sering dilontarkan Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman.

Kapan-kapan insyaAlloh akan saya bahas perjuangan NII, GAM/TNA yang menunjukkan ke Ashobiyahan dan berdasarkan Hawa Nafsu belaka.
Wallohu'alam bi showab

NB : Besok selasa atau rabo InsyaAlloh kami akan menentukan sikap kami (seorang mukmin) kepada pemerintahan yang dzalim (syarat dengan dalil aqli dan naqli)
Wassalaam

Rokhmawan Agus Santosa

rokh_mawan@yahoo.com
rokh-mawan@plasa.com
solo, jateng, Indonesia
----------

Definisi Bid'ah
Oleh : Dr. Ibrahim Ruhaily dalam Mauqif Ahlus Sunnah

Para ulama telah memberikan beberapa definisi bidah. Definisi-definisi ini walaupun lafadl-lafadlnya berbeda-beda, menambah kesempurnaannya disamping memiliki kandungan makna yang sama. Termasuk definisi yang terpenting adalah

1.Definisi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata,"Bidah dalam agama adalah perkara wajib maupun sunnah yang tidak Allah dan rasu-Nya syariatkan. Adapun apa-apa yang Ia perintahkan baik perkara wajib maupun sunnah maka diketahui dengan dalil-dalil syriat, dan ia termasuk perkara agama yang Allah syariatkan meskipun masih diperslisihkan oleh para ulama. Apakah sudah dikierjakan pada jaman nabi ataupun belum dikerjakan.

2. Definisi Imam Syathibi
Beliau berkata,"Satu jalan dalam agama yang diciptakan menyamai syariat yang diniatkan dengan menempuhnya bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah".

3. Definisi Ibnu Rajab
Ibnu Rajab berkata,"Bidah adalah mengada-adakan suatu perkara yang tidak ada asalnya dalam syariat. Adapun yang memiliki bukti dari syariat maka bukan bidahwalaupun bisa dikatakan bidah secara bahasa"

4. Definisi Suyuthi
Beliau berkata,"Bidah adalah sebuah ungkapan tentang perbuatan yang menentang syariat dengan suatu perselisihan atau suatu perbuatan yang menyebabkan menambah dan mengurangi ajaran syariat".

Dengan memperhatikan definisi-definisi ini akan nampak tanda-tanda yang mendasar bagi batasan bidah secara syariat yang dapat dimunculkan ke dalam beberapa point di bawah ini

1.Bahwa bidah adalah mengadakan suatu perkara yang baru dalam agama.
Adapun mengadakan suatu perkara yang tidak diniatkan untuk agama tetapi semata diniatkan untuk terealisasinya maslahat duniawi seperti mengadakan perindustrian dan alat-alat sekedar untuk mendapatkan kemaslahatan manusia yang bersifat duniawi tidak dinamakan bidah.

2.Bahwa bidah tidak mempunyai dasar yang ditunjukkan syariat.
Adapun apa yang ditunjukkan oleh kaidah-kaidah syariat bukanlah bidah, walupun tidak ditentukan oleh nash secara husus. Misalnya adalah apa yang bisa kita lihat sekarang: orang yang membuat alat-lat perang seperti kapal terbang,roket, tank atau selain itu dari sarana-sarana perang modern yang diniatkan untuk mempersiapkan perang melawan orang-orang kafir dan membela kaum muslimin maka perbuatannya bukanlah bidah. Bersamaan dengan itu syariat tidak memberikan nash tertentu dan rasulullah tidak mempergunakan senjata itu ketika bertempur melawan orang-orang kafir. Namun demikian pembuatan alat-alat seperti itu masuk ke dalam keumuman firman Allah taala,"Dan persiapkanlah oleh kalian untuk mereka (musuh-musuh) kekuatan yang kamu sanggupi".Demikian pula perbuatan-perbuatan lainnya. Maka setiap apa-apa yang mempunyai asal dalam sariat termasuk bagian dari syariat bukan perkara bidah.

3.Bahwa bidah semuanya tercela.
4.Bahwa bidah dalam agama terkadang menambah dan terkadang mengurangi syariat sebagaimana yang dikatakan oleh Suyuthi di samping dibutuhkan pembatasan yaitu apakah motivasi adanya penambahan itu agama. Adapun bila motivasi penambahan selain agama, bukanlah bidah.

Contohnya meninggalkan perkara wajib tanpa udzur, maka perbuatan ini adalah tindakan maksiat bukan bidah. Demikian juga meninggalkan satu amalan sunnah tidak dinamakan bidah. Masalah ini akan diterangkan nanti dengan beberapa contohnya ketika membahas pembagian bidah. InsyaAllah.
Inilah definisi-definisi terpenting tentang bidah yang mencakup hukum-hukumnya. Telah nampak dari sisi-sisinya batasan bidah dan jelas pula kaidah-kaidahnya yang benar untuk mendefinisikannya. Adapun cakupan setiap definisi itu bagi hukum-hukum bidahmaka berbeda-beda

Menurut anggapanku definisi bidah yang paling menyeluruh dengan hukum-hukumnya yang membatasi pengertian bidah secara syari dengan batasan yang rinci adalah definisi Imam Syathibi. Dengan demikian definisi Imam Syathibilah yang terpilih dari definisi-definisi tersebut di atas karena mencakup batasan-batasan yang menyeluruh yang mengeluarkan apa-apa yang tidak termasuk perkara bidah. Wallahu Alam.

Termasuk pokok-pokok ahlul bidah ialah:

I.KHAWARIJ
Khawarij jamak dari kata kharijah (yang keluar). Mereka dinamakan itu karena mereka keluar dari agama dan keluar (memberontak) dari pilihan kaum muslimin. Pertama kali mereka memberontak Ali bin Abi Thalib tatkala terjadi penentuan hukum. Kemudian mereka berkumpul di Harura, daerah pinggiran kota Kufah. Di Nihran Ali memerangi mereka dengan sengit setelah berdebat dan menjelaskan hujjah kepada mereka. Hanya kurang dari sepuluh orang dari mereka yang berhasil meloloskan diri dari sergapan tentara Ali dan hanya kurang dari sepuluh tentara Ali yang berhasil mereka bunuh. Dua orang lari terbirt-birit ke Aman, dua orang prajurit ke Kirman, dua orang prajurit ke Sajistan dan dua orang prajurit ke al-Jazzirah serta satu orang prajurit ke Tel Marwan di Yaman. As-Syahrstani mengatakan, "Bidah-bidah Khawarij berkembang di tempat-tempat tersebut sampai hari ini". Khawarij mempunyai banyak gelar antara lain Haruriyah, Syurrah, Mariqah (yang keluar dari agama), Muhakimah (yang menghukumi), dan mereka ridha mendapatkan gelar-gelar itu kecuali Mariqah. Dalam kelompok ini terdapat duapuluh sekte. Sekte terbesar adalah Muhakkimah, al-Azariq, Najdat, Baihasiah, Ajaridah, Tsualibah, Ibadhiah, Shafriah dan sisanya adalah cabang-cabangnya.Meskipun terdiri-dari sekte-sekte yang berbeda-beda, mereka satu kata dalam mengafirkan Utsman, Ali, sahabat yang ikut perang Jamal, sahabat yang berhukum dengan Ali, orang yang ridha dan membenarkannya dengan hukum yang beliau jalankan atau salah satu dari keduanya, dan memberontak terhadap penguasa Islam yang lalim. Mereka berkeyakinan bahwa setiap pelaku dosa besar adalah kafir kecuali sekte Najdat yang tidak berkeyakinan demikian.

Terdapat banyak hadits shahih mencela Khawarij dari sepuluh sisi sebagaimana dikatakan al-Khalal dari Imam Ahmad. Beliau berkata, "Khawarij adalah kaum yang jahat. Aku tidak mengetahui suatu kaum yang lebih jahat daripada mereka. Hadits-hadits nabi yang shahih menjelaskan tentang jeleknya mereka dari sepuluh sisi. Syaikhul Islam telah menyebutkan Bukhari
dan Muslim mengeluarkan hadits tentang sekelompok dari Khawarij dalam kitab Shahih mereka

Para peneliti telah sepakat wajibnya memerangi Khawarij bila mereka memberontak terhadap pemerintah Islam, menyelisihi jamaah dan memecah belah orang-orang taat setelah adanya peringatan. Pernyataan kesepakaan tersebut dinukil oleh Nawawi dan Syaikhul Islam. Menurut Syaikhul Islam pengafiran terhadap mereka masih diperselisihkan ulama. Terdapat dua pendapat yang mashur dari Imam Ahmad. Masalah ini dibahas secara panjang lebar oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dengan membawakan hujah masing-masing pendapat. Pendapat yang benar ialah pendapat yang tidak mengafirkan mereka sebagaimana yang dinukilkan oleh Syaikhul Islam dari ijmasahabat. Para sahabat tidak mengafirkan mereka baik Ali maupun selainnya bahkan mereka memperlakukan Khawarij sebagaimana kaum muslimin yang dhalim dan durhaka..

II.SYIAH

Para peneliti telah mengkualisfikasikan golongan Syiah menjadi tiga kualifikasi : Ghulah, Imamiyah dan Zaidiyah. Mereka menyebutkan bahwa setiap bagian itu bercabang-cabang menjadi beberapa golongan. Berikut akan saya terangkan secara ringkas golongan-golongan yang ada pada Firqah Syiah.
A.Ghulah
As-Syahrstani berkata, "Golongan ini mengkultuskan para pemimpin mereka sampai mengeluarkan dari batasan sebagai mahluk, menghukumi pemimpin dengan hukum-hukum ilahiah, terkadang menyerupakan salah seorang dari para pemimpin itu dengan Allah dan terkadang menyerupakan Allah dengan mahluk. Mereka berada pada dua posisi, belebihan dan meremehkan.

Kerancuan logika mereka itu diilhami oleh pemikiran Hulululiah, Tanasikhiyah, Yahudiyah dan Nasraniyah ". Kelompk ini telah tepecah belah menjadi banyak golongan yang saling mengafirkan
Yang termasuk pecahan dari golongan ini ialah Sabaiyah, golongan pengikut Abdullah bin Saba yang mengkultuskan Ali dan menganggapnya nabi hingga meyakinya sebagai Tuhan. Pemahamannya itu ia sebarkan di Kufah. Keberadaan mereka tercium oleh Ali lalu beliau memerintahkan anak buahnya untuk membakar mereka.

Sabaiyah berkeyakinan bahwa Ali tidak akan mati, mempunyai sebagian sifat ilahiah, suaranyalah yang datang di awan dan guruh, kilatan petir tersenyum kepadanya dan setelah itu ia akan segera turun ke bumi. Kemudian ia memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana pernah dipenuhi oleh kedurhakaan. Tidak diragukan lagi mereka adalah golongan yang telah keluar dari Islam. Para ulama telah memerangi segolongan dari mereka yang telah dianggap keluar dari Islam walaupun mereka menisbatkan kepadanya.

BATHINIYAH

Golongan ini mempunyai banyak julukan antara lain Qaramthah, Khurramiyah, Khurramdiniyah, Ismailiyah, Sabiyyah, Babikiyah, Muhammirah dan Talimiyah. Imam Ghazali mengatakan, "Telah disepakati bahwa dakwah ini tidak dibangun di atas suatu ajaran agama mana pun. Tidak diikatkan pada suat ajaran agama yang dikuatkan oleh kenabian. Karena sesungguhnya tempat berjalannya digiring oleh keterlepsannya dari agama sebagaimana rambut terlepas dari adonan. Tetapi ia mengikuti golongan Majusi, Muzdakiyah, segolongan kecil penyembah berhala yang menyeleweng dari tauhid, dan sekelompok besar tokoh-tokoh failosof terdahulu. Mereka mempergunakan panah logika dalam mengambil hukum suatu urusan yang diringankan bagi mereka. Sebagai ganti dari kekuasaan ahli agama.

Beliau menyebutkan, bertujuan memalingkan manusia dari agama, mereka mengatakan, " Berlindunglah dengan menasabkan diri ke ahli bait, menangislah atas musibah yang menimpa mereka, dan bertawasullah dengan itu". Mereka mencela para ulama agar manusia ragu terhadap kabar-kabar yang mereka nukil dari Rasulullah. Bila terdapat suatu ayat al-Quran dan kabar-kabar yang mutawatir mereka membuat keraguan pada manusia dengan pernyataan, "Dalam nash-nash terdapat rahasia-rahasia dan hal-hal yang tidak dinampakkan. Orang bodoh adalah orang yang terpedaya dengan ayat-ayat dhahir dan tanda fitnah adalah keyakinan terhadap perkara batin yang dilontarkan oleh imam yang maksum".

Beliau menyebutkan pula, sebagian madzhab mereka adalah menolak agama dan batin mereka murni kufur. Rincian madzhab mereka adalah mereka berkeyakinan adanya dua sesembahan yang terdahulu yang tidak berawal karena terus menerus ada di setiap jaman. Mereka tidak beriman dengan kenabian. Logika mereka tentang tumbuh-tumbuhan sama dengan logika ahli filsafat. Mereka sepakat mengingkari hari qiyamat atau peristiwa yang terjadi di dunia berupa pergantian siang dan malam, terbentuknya manusia dari nutfah dan nuthfah dari manusia dan tumbuhnya pohon-pohonan hanyalah rumus daripada keluarnya imam dan seorang yang akan menguasai jaman. Para ulama antara lain Al-Baghdadi, Ibnu Taimiyah, dan al-Ghazali terus terang mengafirkan mereka. Disebutkan oleh ad-Dailami bahwa kekafiran mereka dapat diketahui dari duapuluh sudut.

NASHIRIYAH

Termasuk sekte Syiah adalah Nashiriyah. Nama ini dinisbatkan kepada Muhammad bin Nashir an- Namiri yang hidup pada abad ketiga hijriyah dan mati pada tahun 270 H. Sejaman dengan para tokoh itsna asyariyah (Tokoh syiah yang duabelas) antara lain Ali al-Hady, al-Hasan al-Aksari dan Muhammad al-Mahdy. Dia mengaku bahwa ia pintu masuk yang kedua kepada imam al-Hasan dan al-Hujjah orang yang setelahnya. Nashiriyah menyangka Allah taala menyatu dengan Ali pada sebagian waktu dan mengangkat Ali ke posisi ilahiyah.

Para tokoh mereka setelah Ali dianggap mempunyai sifat ketuhanan sebagaimana keyakinan mereka terhadap Ali. Berkeyakinan ruh-ruh saling bergantian masuk ke jasad-jasad. Mereka mengafirkan Abu Bakar dan Umar. Mengadakan ulang tahun hari kelahiran Isa. Tidak puasa di bulan Ramadhan. Ibadah shalat menurut mereka adalah sekedar rumus bagi Ali, dua anaknya dan Fatimah. Mereka menggambarkan tentang surga sebagai simbol kenikmatan dan neraka sebagai simbol siksa dan mereka menghalalkan minuman keras(khamr).

Syaikhul Islam pernah ditanya tentang mereka dan menjawab, "Segala pujian milik Allah, mereka adalah kaum yang dinamakan dengan Nashiriyah. Mereka dan seluruh jenis Qaramithah, Bathiniyah lebih kafir daripada Yahudi dan Nashara. Bahkan lebih kafir daripada seluruh kaum musyrikin. Bahaya mereka mereka lebih besar daripada bahayanya orang-orang kafir yang menjajah kaum muslimin seperti Tartar, Perancis dan selain mereka. Karena mereka menampilkan kecintaaan kepada ahli bait di hadapan orang-orang muslim yang bodoh padahal mereka pada hakikatnya tidak beriman dengan Aallah dan rasul-Nya, kitab-Nya, perintah dan larangan-Nya, siksa dan pahala, sorga, neraka, salah satu dari para rasul sebelum Muahammad dan tidak beriman dengan millah dari millah sebelumnya.

Pada jaman sekarang golongan ini dapat ditemukan di Suriya sebelah kiri, di sebuah gunung yang tekenal dengan nama gunung Nashiriyah, di Iskandariyah, di Humsh dan Humah, di Halab beberapa orang di Pallestina, di kiri Nabilis dan di Libanon

DARUZ

Syaikhul Islam berkata, "Mereka adalah pengikut Hisytakin ad-Daruzi dia termasuk maula al-Hakim Bi Amrillah diutus ke penduduk lembah Taimullah bin Tsalabah.Lalu mengajak mereka untuk menyembah al-Hakim. Mereka menamakannya al-Bari alAlam (yang menciptakan alam), dan mereka bersumpah dengan namanya. Mereka termasuk Ismailyah yang mengatakan bahwa Muhammad bin Ismail menghapus Syariat Muahammad bin Abdillah. Orang-orang ini lebih kafir daripada al-Ghaliyah. Mereka tidak percaya akan terjadinya hari qiyamat, mengingkari kewajiban Islam dan mengingkari hal-hal yang haram....logika mereka tersusun dari logikanya ahli filsafat dan Majusi. Pura-pura menampakkan kecintaan kepada ahli bait.

Beliau berkata , "Mereka kafir. Barang siapa yang ragu terhadap kekafiran mereka maka ia kafir semisal mereka. Mereka tidak seperti ahli kitab maupun musyrik. Bahkan mereka kafir dan sesat. Tidak diperbolehkan menyantap makanan mereka dan wanita mereka ditawan. Diambil harta mereka. Mereka adalah orang-orang zindiq, murtad dan tidak diterima taubat mereka bahkan mereka boleh dibunuh di mana saja mereka berada. Tidak diperbolehkan menjadikan mereka sebagai penjaga dan wajib membunuh ulama dan tokoh mereka....

Sekarang mereka tinggal di Suriya, Libanon dan Palistina. Jumlah mereka sekitar 150-200 ribu jiwa. Dari suku apa mereka belum bisa dipastikan. Sebagian penulis sejarah yakin bahwa Daruz termasuk sisa-sisa suku orang terdahulu.

B. IMAMIYAH ATAU RAFIDLAH

Mereka dinamkan Rafidlah karena mereka menolak(rafdl) kepemimpinan Abu Bakar dan Umar. Abdullah bin Ahmad berkata"Aku bertanya kepada ayahku tentang Rafdlah. Beliau menjawab, "Orang-orang yang mencela Abu Bakar dan Umar".

Rafidlah terpecah menjadi banyak golongan. Para ulama menyebutkan, mereka ada lima belas golongan. Sebagian mereka menghitungnya sampai duapuluh empat golongan. Mereka sepakat bahwa nabi memberikan mandat kepada Ali bin Abi Thalib dengan namanya. Mereka publikasikan keyakinan mereka dan memproklamasikan sebagian besar sahabat sesat karena tidak mengikuti Ali setelah wafatnya Nabi dan keimaman tidak ada kecuali dengan nash dan tauqif (Menerima dan tunduk). Komitmen mereka ini dianggap taqarrub.

Syaikh mereka al-Mufid berkata, "Imamiyah sepakat berkeyakinan mayat wajib kembali ke dunia sebelum hari qiyamat walaupun di antara mereka masih berselisih tentang makna rajah(kembali). Mereka sepakat menjuluki Bada(berubahnya takdir Allah sesuai dengan kondisi) kepada sifat Allah yang diambil dari pendengaran tanpa qiyas. Mereka sepakat bahwa para tokoh sesat itu telah menyelisihi kebanyakan penulis al-Quran dan mereka menyimpangkan makna al-Quran dan hadits yang sesungguhnya. Telah sepakat Khawarij, Mutazila, Zaidyiah, Murjiah dan ahli hadits atas berbedanya seluruh Imamiyah yang saya hitung.

Celaan terhadap Rafdhah banyak terdapat kitab-kitab salaf dan disebutkan bahwa mereka sejelek-jelek golongan. Hal ini adalah dalam rangka untuk memperingatkan umat dari bahaya mereka. Syaikhull Islam berkata, Tidak ada golongan bidah yang menisbatkan diri kepada Islam yang lebih jelek dai mereka. Tidak ada yang lebih bodoh, dusta, dhalim, tidak ada yang lebih dekat kepada kekufuran dan kefasikan dan kemaksiatan dan paling jauh dari hakiakat keimanan daripada mereka. Maka golongan Rafidhah itu mungkin munafik dan mungkin bodoh. Seorang tidak menjadi Rafidhi, Jahmi kecuali munafik atau bodoh terhadap apa yang dibawa Nabi.

Syaikhul Islam menyebutkan, ada dua pendapat tentang kafirnya Khawarij dan Rafidlah. Kemudian beliau berkata, "Dan yang benar bahwa ucapan-ucapan yang mereka katakan diketahui dengan jelas menyelisihi ajaran Nabi maka dihukumi kafir. Demikian juga perbuatan mereka yang sejenis dengan perbuatan orang-orang kafir yang masuk ke dalam tradisi kaum muslimin dihukumi kafir juga...... Akan tetapi mengafirkan seorang tertentu dari golongan mereka dan menvonisnya masuk neraka haruslah ditentukan dengan adanya syarat-syarat pengkafiran dan hilangnya penghalang-penghalangnya.

C. ZAIDIYAH

Mereka ialah pengikut Zaid bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. Mereka memberikan mandat keimamahan kepada anak-anak Fathimah dan tidak memberikannya kepada selainnya. Akan tetapi mereka membolehkan setiap pengikut golongan Fatimy yang alim, pemberani dan dermawan tampil menjadi imam yang wajib ditaati apakah ia dari anak-anak al-Hasan atau dari anak-anak al-Husain Kelompok Zaidiyah ini terbagi menjadi enam golongan sebagaimana yang disebutkan oleh Abul Hasan al-Asyari.

Golongan Zaidiyah ini sepakat menghukumi pelaku dosa-dosa besar semuanya kekal di neraka, membenarkan peperangan yang dilakukan Ali dan menyalahkan orang (sahabat) yang menyelisihinya. Bahwa Ali pada posisi yang benar ketika menghukukmi dua pasukan yang bertikai. Zaidiyah secara keseluruhan membolehkan brontak kepada penguasa muslim yang dhalim untuk menghilangkan kedhaliman mereka dan tidak shalat di belakang imam yang berbuat dosa
Mereka lebih mengutamakan Ali daripada semua sahabat lainnya dan berkeyakinan tidak ada orang yang lebih afdhal setelah rasulullah daripada Ali.

III. QADARIYAH

Golongan Qadariyah ini mengingkari Allah mengetahui perbuatan-perbuatan sebelum terjadinya dan meyakini Ia belum menentukannya. Mereka mengatakan, "Tidak ada takdir, bahwa semua kejadian itu baru". Yaitu kejadian itu baru, tidak didahuluhi oleh takdir dan tidak diketahui Allah sebelumnya. Allah hanya mengetahui setelah adanya kejadian itu. Mereka berkeyakinan Allah tidak menciptakan perbuatan-perbuatan hamba-Nya dan takdir-Nya tidak berkaitan dengannya.
Al-Lalikai meriwayatkan melalui alur sanadnya sendiri dari Syafii, katanya, "Qadary adalah yang orang yang mengatakan Allah tidak menciptakan sesuatu sampai sesuatu iu ada". Beliau meriwayatkan juga bahwa Abu Tsaur ditanya tentang Qadariyah maka ia menjawab, "Qadariyah adalah orang yang berkeyakinan, sesungguhnya Allah tidak menciptakan perbuatan-perbuatan hamba-hamba-Nya. Bahwa kemaksiatan-kemaksiatan bukanlah Ia yang menakdirkan dan menciptakannya. Maka merekalah Qadariyah...

Dinamakan Qadariyah karena mereka mengingkari takdir sebagaimana dikatakan oleh imam Nawawi dan konon mereka meyakini manusia berkuasa sepenuhnya atas usaha-usaha mereka. Peletak dasar pemahaman ini adalah Mabad al-Juhani. Ia lontarkan pemahamannya ini pada ahir jaman sahabat.

Muslim meriwayatkan dari Yahya bin Yamar katanya, " Orang pertama yang berdalam-dalam membicarakan masalah takdir di Bashrah adalah Mabad al-Juhani". Konon Mabad al-Juhani menyadap pemahamannya dari seorang Nashara bernama Susan. Selanjutnya dari Mabad, Ghailan penduduk Damaskus mengambil pemikirannya. Al-Auzai mengatakan , "Orang pertama yang membicarakan masalah takdir dengan berlebihan adalah penduduk Irak bernama Susan, seorang Nasrani yang masuk Islam kemudian masuk Kristen lagi. Mabad mempelajari pemahamannya, kemudian dipungutlah ilmu sesat itu dari tangan al-Mabad oleh Ghailan."
Bidah Qadariyah mempunyai dua konsepsi pokok yaitu,

Pertama : Mengingkari ilmu Allah.
Kedua : Hamba-hambalah yang menciptakan perbuatan-perbuatan mereka dengan sendirinya.(tanpa ada kaitannya dengan takdir Allah) Akan tetapi madzhab ini dinyatakan para ulama telah hilang dan tidak berkembang lagi sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar melalui penukilan dari al-Qurthubi. Al-Qurthubi mengatakan, "Madzhab Qadariyah ini telah hilang dan Aku tidak mengetahui seorang pun di jaman sekarang yang menisbatkan dirinya kepada madzhab ini. Qadariyah sekarang bersepakat bahwa Allah mengetahui perbuatan-perbuatan hamba-hamba-Nya sebelum terjadinya. Tetapi perbedaan mereka dengan salaf adalah terletak pada konsepesi mereka yang menyatakan bahwa pebuatan-perbuatan hamba-hamba telah ditakdirkan untuk mereka dan dari hasil usaha mereka sendiri tidak ada kaitannya dengan kekuasaan Allah. Kebatilan madzhab yang terahir ini lebih ringan daripada madzhab pertama".

Al-Khallal meriwayatkan dari Abdullah bin Ahmad katanya, "Ayahku ditanya tentang Qadari, apakah ia kafir? Beliau menjawab, "Bila ia mendustakan ilmu Allah"(maka ia kafir-penj). Beliau meriwayatkan juga dari Abu Bakar al-Marwadzi katanya, "Aku bertanya kepada Abdullah tentang Qadary maka ia tidak mengafrirkannya selama tidak mendustakan ilmu Allah." Ibnu Taimiyah menjelaskan maksud perkatakaan-perkataan salaf yang mengafirkan Qadariy, "Para ulama salaf mengkafirkan golongan Qadariyah yang menolak al-Kitab dan ilmu Allah dan mereka tidak menvonis kafrir seorang (Qadariy)yang menetapkan ilmu Allah dan seorang Qadariy yang mengingkari perbuatan-perbuatan hamba itu ciptaan Allah". Ibnu Rajab mengatakan, "Para ulama masih berselisih pendapat dalam menvonis kafir golongan Qadariyah. Imam Syafi, Imam Ahmad dan para imam yang lainnya menvonis kafir seorang Qadariy yang mengingkari ilmu Allah yang terdahulu". Golongan Qadariyah telah hilang, akan tetapi Mutazilah membangun konsepsinya di atas konsepsi Qadariyah dan menyebarluaskannya. Dengan demikian kita dapat memprediksikan bahwa Mutazilah mewarisi ilmu dari Qadariyah. Oleh karena itu Mutazilah disebut juga Qadariyah.

IV. MURJIAH

Secara bahasa kata Murjiah diambil dari kata irja yang mengandung dua makna.
Pertama : Memberi tangguh sebagaimana tersebut dalam ayat, "Pemuka-pemuka itu menjawab, "Beri tangguhlah dia dan saudaranya".
Kedua : Memberikan harapan. Adapun secara istilah bermakna seperti yang disebutkan oleh Imam Ahmad. Beliau berkata, "Mereka adalah orang yang berkeyakinan bahwa iman itu hanya ucapan semata dan semua manusia sama keimanannya. Keimanan manusia pada umumnya , malaikat dan para nabi adalah satu. Iman menurut mereka tidak bertambah dan berkurang, iman tidak dikecualikan. Barang siapa yang telah beriman dengan ucapannya tetapi tidak beramal shaleh maka ia seorang mukmin yang sebenarnya".

Terdapat kaitan antara makna Murjiah secara bahasa dan istilah sehingga golongan ini boleh dinamakan dengan Murjiah. Nama ini diambil dari kata irja. Karena mereka menagguhkan amal setelah adanya niat dan tujuan. Sebagaimana boleh juga dinamakan dari makna yang kedua yaitu mereka meyakini maksiat itu tidak membahayakan keimanan sebagaimana juga ketaatan tidak bermanfaat bagi naiknya keimanan. Mereka memberikan harapan(irja) pahala orang yang bermaksiat di sisi Allah.

Golongan Murjiah terbagi menjadi tiga jenis, sebagaimana yang disebutkan Syaikhul Islam ibnu Taimyiah :Jenis pertama : Orang yang mengatakan iman hanya ada di hati. Di antara mereka ada yang memasukkan amal hati ke dalamnya. Merekalah kelompok Murjiah yang terbesar dan di antara mereka ada yang tidak memasukkan amal hati ke dalam iman.seperti Jahm bin Shafwan.
Jenis kedua : Orang yang mengatakan iman sekedar ucapan semata. Inilah pendapat golongan Karamiyah.
Jenis ketiga : Orang yang mengatakan iman itu hanya membenarkan dalam hati dan ucapan. Inilah pendapat para ahli fiqih Murjiah.

Syaikhul Islam mengatakan, "Dan demikian pula Murjiah moderat, kebidahan mereka adalah kebidahan ahli fiqh yang tidak ada kekafiran padanya. Para ulama tidak berselisih dalam hal ini. Bila ada kawan-kawan kami yang memasukkan kebidahan mereka ke dalam lingkup kekafiran maka ini adalah suatu kesalahan. Mereka (Murjiah moderat) itu tidak memasukkan ama-amal dan perbuatan-perbuatan dalam lingkup keimanan. Berartu kewajiban ditinggalkan. Adapun Murjiah eksrtrim adalah orang-orang yang mengingkari siksa neraka dan berkeyakian bahwa nash-nash yang berisi ancaman yang menakutkan hakikatnya tidak ada. Ucapan ini berbahaya dan berarti kewajiban ditinggalkan. Di tempat lain beliau berkata tentang ahli Fiqh dari kalangan Murjiah, "Kemudian Salaf sangat mengingkari dan menvonis bidah dan menyalahkan pendapat mereka. Aku tidak mengetahui seorang pun dari Salaf menvonis mereka kafir. Bahkan mereka sepakat golongan ini tidak dikafirkan. Salah seorang ulama telah membawakan dalil yang menguatkan bahwa Murjiah tidaklah kafir. Barang siapa menukil dari Imam Ahmad atau selainnya menvonois kafir mereka atau menggolongkan mereka ke dalam ahlul bidah yang masih diperselisihkan kekafirannya maka sungguh ia telah berkesimpulan dengan amat salah.

V. JAHMIYAH

Mereka adalah golongan pengikut Jahm bin Shafwan seorang penduduk Tirmidz, Khurasan. Ia adalah seorang pandai berdebat, sangat berdalam-dalam membicarakan sifat Allah, berkeyakinan Quran itu mahluk, Allah tidak mengajak bicara kepada Musa, Ia tidak dilhat dan Ia tidak berada di atas Arsy.

Para ulama menyebutkan, orang pertma kali yang mengahapal dan menuyusun konsepsi tersebut adalah Jad bin Dirham. Kemudian diseraplah kosepsi itu oleh Jahm bin Shafwan dan ia sebarluaskan yang selanjutnya nama golongan ini dinisbatkan kepadanya. Konon Jad bin Dirham menyerap ilmu itu dari Aban bin Saman murid dari Thalut bin Ukhti Labid bin Al-Asham. Thalut sendiri berguru pada Yahudi terlaknat pensihir rasulullah, Labid bin al-Asham. Jahm bin Shafwan dianggap sebagai pemuka kejahatan bidah ini. Dia mengumpulkan tiga kebidahan yang buruk yaitu:

Pertama :Membuang sifat Allah. Ia berkeyakinan Allah tidak diperbolehan disifati dengan sifat-sifat karena dapat menimbulkan persepsi penyerupaan dengan mahluk.
Kedua : Ia berkeyakinan, manusia tidak dapat menguasai sesuatu dan tidak pula disifati dengan kemampuan. Manusia dipaksa dalam berbuat. Ia tidak berkuasa terhadap perbuatanya sendiri dan tidak mempunyai kehendak serta pilihan.
Ketiga : Keimanan adalah sekedar pengetahuan(marifat). Orang yang mendustakan iman dengan ucapannya tidak dapat divonis kafir karena ilmu dan pengetahuan(marifat) tidak bisa hilang dengan pedustaannya terhadap keimanan. Iman tidak dapat berkurang dan keimanan tidak bertingkat-tingkat.

Para salaf menganggap sangat berbahaya pendapat Jahm bin Shafawan ini dan mereka telah menvonis kafir. Telah disebutkan di muka bahwa Abdullah bin Al-Mubarak mengeluarkannya dari golongan orang-orang Islam.
Dari Salam bin Abi Muthi katanya, "Golongan Jahmiyah itu kafir jangan kamu shalat di belakangnya".
Dari Sufyan as-Tsauri katanya, "Barang siapa yang berkeyakinan bahwa firman Allah taala, Hai Musa sesungguhnya Aku adalah Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, mahluk maka ia telah kafir, boleh dibunuh". Sufyan As-Tsauri mengatakan, "Al-Quran kalamullah, barang siapa mengatakan ia mahluk maka sungguh kafir dan barang siapa ragu akan kekafirannya maka ia kafir(juga)".

Imam Ahmad berkata, "Barang siapa yang mengatakan Al-Quran mahluk maka ia menurut kami kafir karena al-Quran bersumber dari Allah dan di dalamnya terdapat nama Allah azza wa jalla".

Imam ad-Darimi menuliskan dalam kitabnya ar-Rad aal Jahmiyah (Membantah Jahmiyah) satu bab husus yang membahas kekafiran Jahmiyah. Beliau menerangkan, "Bab Pengambilan dalil Untuk Mengafirkan Jahmiyah, " kemudian beliau berkata di bawahnya, " Di Baghdad, seorang laki-laki mendebatku dalam rangka membela golongan Jahmiyah. Ia bertanya, "Ayat apa yang Anda jadikan dasar untuk mengafirkan Jahmiyah, padahal kita dilarang mengafirkan ahli kiblat(Orang yang masih shalat), apakah dengan kitab yang dapat berbicara Anda mengafirkan mereka? Atau dengan dengan hadits? Atau dengan ijma? Maka aku jawab, "Jahmiyah menurut pendapat Kami bukanlah ahli kiblat, dan kami tidaklah mengafirkan mereka kecuali dengan kitab yang tertulis, atsar yang masyhur dan kekafiran mereka telah masyhur kemudian beliau merinci dalil-dalil yang mengafirkan mereka".

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah meriwatyatkan, sebagian besar ulama mengafirkan Jahmiyah. Beliau berkata, "Dan yang terkenal dari madzhab Imam Ahmad dan mayoritas ulama sunnah adalah mengafirkan Jahmiyah. Merekalah yang menolak sifat-sfat Allah dan ucapan mereka sangat jelas menentang apa yang dibawa rasululah.

Ibnul Qoyyim dalam syair Nuniyahnya mengatakan : Sungguh limapuluh dari puluhan ulama telah mengafirkan mereka di berbagai negeri Al-Imam Al-Likai meriwaytkan dari mereka bahkan sebelumnya sudah ada yang mendahuluinya, at-Tahabrani. Sebagian orang menyangka bahwa Golongan Jahmiyah sekarang sudah hilang. Namun pada hakikatnya, yang tidak perlu diperdebatkan lagi, bahwa pemikiran-pemikiran Jahmiyah terus ada sampai hari ini walaupun muncul dengan baju baru dan di bawah logo yang baru. Paham ini terus digencarkan oleh tokoh-tokoh ilmu kalam atau failosof seperti Mutazilah dan Asyairah(Kelompok as-Ariyah).

Imam Jamaluddin al-Qasimi mengomentari tentang Jahmiyah dengan perkataannya, "Diasangka oleh kebanyakan orang bahwa Jahmiyah telah hilang padahal Mutazilah cabang darinya. Jumlahnya milyaran, sebagaimana kamu ketahui, bahwa ahli kalam yang menisbatkan kepada Asyari menyerap pemahaman madzhab Jahmiyah. Sebagaimana hal ini telah diketahui oleh orang yang sangat mengerti tentang ilmu kalam dan kaidah-kaidah antara ucapan-ucapan mereka dengan ucapan-ucapan Salaf".

Ahlul bidah memiliki tanda-tanda yang lengkap dan nampak sehingga mereka mudah dikenal. Dalam al-Quran dan haditsnya Allah dan Rasul-Nya telah mengabarkan tentang sebagian tanda-tanda mereka untuk dijadikan peringatan bagi umat dari bahaya mereka dan larangan mengambil jalan hidup mereka. Para Salaf pun telah menerangkan masalah ini.

Saya akan menyampaikan sebagian dari tanda itu yang dengan tanda itu mereka membedakan diri. Sebagai jembatan penolong supaya mengerti tentang mereka Insaya Allah.

Termasuk tanda-tanda mereka adalah:

1. BERPECAH-BELAH
Sesungguhnya Allah taala telah mengabarkan tentang mereka dalam al-Quran. Ia berkata ,"Janganlah kalian menjadi orang-orang yang berpecah belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan. Dan mereka mendapatkan adzab yang besar". Ia berfirman,"Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka (terpecah-belah menjadi beberapa golongan) tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka". Ibnu Katsir menjelaskan makna ayat ini,"Ayat ini secara umum menerangkan orang yang memecah-belah agama Allah dan mereka berselisih. Sesungguhnya Allah mengutus nabi-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar memenangkannya atas semua agama. Syariatnya adalah satu yang tidak ada perselisihan dan perpecahan padanya. Barang siapa yang berselish padanya maka merekalah golongan yang memecah belah agama seperti halnya pengikut hawa nafsu dan orang-orang sesat. Sesungguhnya Allah taala berlepas diri dari apa yang mereka lakukan".

Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa syiar ahli bidah adalah perpecahan,"Oleh karena itu al-Firqatun Najiah disfati dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan mereka adalah jumhur dan kelompok terbesar umat ini. Adapun kelompok lainnya maka mereka adalah orang-orang yang nyleneh, berpecah belah, bidah dan pengikut hawa nafsu. Bahkan terkadang di antara firqah-firqah itu amat sedikit dan syiar firqah-firqah ini ialah menyelisihi al-Quan, as-Sunnah serta ijma".

2. MENGIKUTI HAWA NAFSU

Dialah sifat mereka yang paling kentara. Allah taala berkata mensifati mereka, "Maka kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya". Ibnu Katsir berkata," Yakni ia berjalan dengan hawa nafsunya. Apa yang dilihat baik oleh hawa nafsunya maka ia lakukan dan apa yang dilihatnya jelek maka ia tinggalkan. Inilah manhaj Mutazilah dalam menganggap baik dan jelak denga logika mereka".

Nabi telah mengabarkan bahwa hawa nafsu tidak akan terlepas dari ahli bidah dalam hadits perpecahan di mana beliau mengatakan,"Sesungguhnya ahli kitab terpecah dalam agama mereka menjadi tujuh dua puluh millah dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menadi tujuh puluh tiga millah -yakni hawa nafsu- semuanya di neraka kecuali satu millah yaitu al-Jamaah. Sesunguhnya akan muncul pada umatku beberapa kaum hawa nafsu mengalir pada mereka sabaimana mengalirnya penyakit anjing dalam tubuh mangsanya. Tidak tersiksa darinya satu urat dan persendian pun kecuali diamasukinya".

3. MENGIKUTI AYAT-AYAT YANG SAMAR

Sifat mereka ini telah Allah kabarkan dalam firman-Nya,"...Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang samar untuk menimbukan fitanh dan untuk mencari-cari takwilnya". Bukhari meriwayatkan hadits dari Aisyah katanya,"Rasulullah membaca ayat ini,"Dialah yang menurunkan al-quran kepada kamu di antara isinya ada aya-ayat yang muhkamat. Itulah pokok-pkok isi ajaran al-Quran dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya ...sampai ayat ... orang-orang yang berakal". Ia berkata," Rasulullah, berkata, Bila engkau melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutashyabihat maka merekalah yang Allah namakan sebagai orang-orang yang harus dijauhi". Dari Amiril Mukminin Umar bin Al-Khathab katanya,"Akan datang manusia mendebat kalian dengan ayat-ayat mutaysabihat maka balaslah mereka dengan sunah-sunnah karena Ahlus Sunnah lebih mengetahui akan kitabullah".

4. MEMPERTENTANGKAN SUNNAH DENGAN AL-QURAN

Termasuk tanda ahli bidah adalah mempertentangkan al-Quran dengan sunnah dan merasa cukup mengambil al-quran dalam pelaksanaan hukum-hukum syara sebagaimana yang diberitakan Nabi: "Seorang laki-laki hampir bersandar di atas ranjangnya dibacakan haditsku lalu mengatakan, "Antara kami dan kalian adalah kitabullah. Perkara halal yang kita temukan padanya maka kita halalkan dan perkara haram yang kita temukan padanya maka kita haramkan. Ketahuilah apa-apa yang Rasulullah haramkam adalah sama dengan apa yang Allah haramkan.

Al-Imam Al-Barbahari mengatakan :"Bila kamu melihat seorang mencela hadits atau menolak atsar /hadits atau menginginkan selain hadits, maka curigailah keislamnnya dan jangan ragu-ragu bahwa dia adalah ahli bidah(pengikut hawa nafsu)" Beliau berkata:"Bila kamu mendengar seorang dibacakan hadits di hadapannya tetapi ia tidak menginginkannya dan ia hanya mengingnkan al-Quran maka janganlah kamu ragu bahwa dia seorang yang telah dikuasai oleh kezindikan. Berdirilah dari sisinya dan tinggalkanlah ia!"

Mempertentangkan sunnah dengan al-Quran dan menolaknya bila belum ditemukan pada al-Quran apa-apa yang menguatkan sunnah, termasuk tanda ahli bidah yang paling kentara. Nabi telah mengabarkannya sebelum terjadi dan benarlah beliau. Sekarang apa yang beliau kabarkan telah terjadi. Sungguh kita mendengar dan membaca peristiwa semisal itu dari sebagian ahli bidah pada jaman dulu. Hingga kita melihat salah satu dari ahli bidah dan orang sesat jaman sekarang menghujat kitab shahih Bukhari yang telah disepakati oleh umat ini keshahihannya.Ia yakin bahwa padanya terdapat seratus dua puluh hadits yang tidak shahih yang ia sebut sebagai hadits Israiliat. Ia menghilangkannya dan mempertentangkannya dengan al-Quran kemudian ia bantah dan ingkari. Tampillah seorang tokoh ulama sekarang menentang, meruntuhkan sybuhatnya (kerancuannya), menolak kebatilannya, menampakkan penyimpangan dan kepalsuannya dengan karyanya untuk membantahnya dan orang yang menempuh jalanya, ahli bidah. Semoga Allah membalas amalnya dengan sebaik-baik pembalasan.

5. MEMBENCI AHLI HADITS

Termasuk tanda ahli bidah adalah membenci dan mencela ahli hadits dan atsar. Dari Ahamad bin Sinan al-Qaththan katanya: "Dan tidaklah ada di dunia ini seorang mubtadi pun kecuali membenci ahli hadits". Abu Hatim ar-Razi berkata,"Tanda ahli bidah adalah mencela ahli hadits dan tanda orang zindik adalah menamakan Ahlus Sunnah bengis. Dengan sebutan itu mereka menghendaki hilangnya hadits".

6. MENGGELARI AHLUS SUNNAH DENGAN TUJUAN MERENDAHKAN MEREKA

Termasuk tanda mereka adalah menggelari Ahlus Sunnah(yang bertolak belakang dengan sifat mereka) dengan tujuan merendahkan mereka. Abu Hatim ar-Razi berkata:"Tanda Jahmiah adalah menamakan Ahlus Sunnah musyabbahah(menyerupakan Allah dengan mahluk). Ciri-ciri Qadariah adalah menamakan Ahlus Sunnah mujabbirah(mahluk tidak mempunyai kehendak.) Ciri-ciri Murjiaah adalah menamakan Ahlus Sunnah menyimpang dan mengurangi.Ciri-ciri Rafidhah adalah menamakan Ahlus Sunnah nashibah(mencela Ali). Ahlus Sunnah tidak digabungkan kecuali kepada satu nama dan mustahil nama-nama ini mengumpulkan mereka.

Al-Barbahari berkata,"Dan orang yang tertutup(kejelekannya) adalah yang jelas ia tertutup(kejelekannya) dan orang yang terbuka kejelekannya adalah orang yang jelas aibnya. Bila kamu mendengar seorang mengatakan fulan Nashibi, ketahuilah bahwa ia adalah Rafidly. Bila kamu mendengar seorang mengatakan fulan musyabbihah atau fulan menyerupakan Allah dengan makhluk, ketahuilah bahwa ia adalah Jahmy. Bila kamu mendengar seorang berkata tentang tauhid dan mengatakan,"Terangkan padaku tauhid!", ketahuilah bahwa ia adalah Kharijy dan Mutazily. Atau mengatakan, fulan Mujabbirah atau mengatakan, dengan ijbar atau berkata dengan adilm ketahuilah bahwa ia adalah Qadari karena nam-nama ini bidah yang dibuat-buat oleh ahli bidah"

Syaikh Ismail as-Shabuni mengatakan,"Ciri-ciri ahli bidah amat jelas dan terang Sedang tanda-tanda mereka yang paling jelas adalah sangat keras memusuhi para pemilkul hadits, dan menghinakan mereka dan mengelari mereka kaku,bodoh,dhahiri,(tekstual) musyabbihah(golongan yang menyerupakan Allah dengan mahluk). Semua itu didasari keyakinan mereka bahwa hadits-hadts itu masih berupa benda mentah (bukan ilmu). Dan yang dinamakna ilmu adalah ilham yang dijejalkan setan kepada mereka, hasil dari olah akal mereka yang rusak, intuisi hati nurani mereka yang gelap....

7. TIDAK BERPEGANG DENGAN MADZHAB SALAF

Syaikhul Islam berkata,"Kelompok-kelompok bidah yang terkenal di kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang tidak menganut madzhab salaf antara lain kelompok: Rafidhah, sampai orang awam tidak mengetahui syiar-syiar bidah kecuali rafdl(menolak kepemimpinan khulafaur rasyidin selain Ali). Dan sunni menurut istilah orang awam adalah orang yang bukan rafidhi ....Sehinga diketahui syiar ahli bidah menolak madzhab Salaf. Oleh karena itu dalam risalah yang ditujukan kepada Abdus bin Malik Imam Ahamad berkata,"Asas sunnah menurut kami adalah berpegang dengan apa yang dijalani sahabat Muhammad...".

8. MEMVONIS KAFIR ORANG YANG MENYELISIHI MEREKA TANPA DALIL

Dalam banyak tempat Syaikhul Islam menyebutkan tentang bantahan terhadap orang yang menvonis orang yang masih belum jelas kekafirannya,"Pendapat ini tidak diketahui dari seorang sahabat, tabiin, yang mengikuti mereka dengan baik dan tidak pula dari salah satu imam tetapi ini termasuk salah satu pokok dari pokok-pokok ahli bidah yang membuat bidah dan menvonis kafir orang yang menyelisihi mereka semisal Khawarij, Mutazilah dan Jahmiah". Beliau berkata,"Khawarij,Mutazilah, dan Rafidhah, menvonis kafir Ahlus Sunnah wal Jamaah. Golongan yang belum mereka vonis kafir maka mereka vonis fasik. Demikian juga mayoritas ahlul ahwa menvonis bidah dan kafir golongan yang menyelisihi mereka berdasarkan logika semata.
Akan tetapi Ahlus Sunnah adalah golongan yang mengikuti kebenaran dari rab mereka yang dibawa oleh rasul-Nya,tidak menvonis kafir golongan yang menyelisihi mereka. Mereka golongan yang paling tahu tentang kebenaran dan kondisi manusia". Syaikh Abdul Lathif bin Abdur Rahman Alu Syaikh ditanya tentang orang yang menvonis kafir sebagian golongan yang menyelisihinya. Beliau menjawab,"Jawabannya, Saya tidak mengetahui sandaran ucapan itu. Berani menvonis kafir golongan lain yang menampakkan keislaman tanpa dasar syari dan keterangan yang akurat menyeilisihi manhaj para pakar ilmu agama dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Jalan ini adalah jalannya ahlul bidah dan orang-orang sesat".
----------