Stockholm, 30 Agustus 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

WAHABIYIN ROKHMAWAN KETAKUTAN BACA MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB & IBNU SAUD SERANG DINASTI USMANI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

WAHABIYIN ROKHMAWAN DAN SALAFI-SOLO-WAHABI-SAUDI KETAKUTAN MEMBACA PASUKAN MUWAHIBIN DAN GERAKAN WAHABI MENYERANG DINASTI USMANI

"Coba kalau bisa anda tampilkan dalil aqli dan dalil naqli tentang kebolehan melawan pemerintahan yang dzalim yg masih sholat dll?. Sampai kiamatpun anda semua tidak bisa menemukan itu dalil aqli dan naqlinya karena apa ? Jelas Rosululloh SAW tidak pernah membolehkan memerangi, memberontak kpd pemerintahan tersebut walaupun dalam keadaan yg sangat terjepit. Ingat jangan ungkit-ungkit masa lalu, Syeikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab dan Syeik Muhammad Ibnu Saud. Anda Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah bisanya hanya menengok kebelakang saja sehingga di depan anda ada jurang mengangapun tetap anda lewati (kiasan saja, jangan dibahas)." (Rokhmawan , rokh_mawan@yahoo.com , Fri, 27 Aug 2004 00:57:29 -0700 (PDT))

Baiklah Rokhmawan Agus Santosa dan Salafi di Solo, Jawa Tengah, Indonesia.

Sebenarnya itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi selalu berulang-ulang mengatakan dalil aqli dan dalil naqli, tetapi dalam penggunaannya kalian itu tidak mengerti.

Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi itu yang namanya aqli itu adalah akal manusia. Dengan akal inilah manusia dibedakan dari binatang. Justru manusia diharuskan menggunakan aqal, tanpa aqal manusia akan berbuat seenak udel. Hanya karena Allah SWT telah memberikan syariat, tauhid, petunjuk, akhlaq kepada ummat manusia, maka itu aqal harus dibarengi dengan petunjuk dari Allah SWT dan apa yang dicontohkan Rasulullah saw.

Atau dalam kata lain itu dalil aqli merujuk pada istilah pengetahuan yang memiliki ciri pembuktian dan fakta-fakta yang boleh diamati dengan pancaindera. Dalam Islam itu ilmu yang menggunakan dalil aqli dinamakan ilmu daruri. Sedangkan ilmu yang menggunakan dalil naqli dinamakan ilmu nadhari.

Sejarah adalah ilmu pengetahuan yang digolongkan kedalam dalil aqli yang didalamnya berisikan fakta-fakta sejarah yang bisa dijadikan alat bukti untuk pembenaran sejarah tersebut. Untuk bisa diterima secara menyeluruh oleh Islam, maka itu dalil aqli yang berupa sejarah harus ditunjang dengan nash-nash yang datang dari Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Artinya kebenaran sejarah yang sifatnya aqli itu harus dibarengi dan diperkuat oleh nash yang datang dari Al Qur'an dan As-Sunnah, agar supaya bisa diterima oleh Islam secara lengkap.

Menyinggung kepada apa yang selalu dikemukakan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi tentang hawa nafsu. Disini yang dinamakan hawa nafsu adalah apabila hasil yang diperoleh dari pengetahuan yang bersandarkan pada dalil aqli lebih ditonjolkan. Adapun dalil naqli yang datangnya dari Al Qur'an dan As-Sunnah dikesampingkan.

Tetapi kalau hasil penyelidikan dan penelitian secara empiris yaitu yang bersifat aqli ditunjang dengan dalil naqli yang datangnya dari Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka hasil dari penyelidikan atau penelitian itu bukan lagi didasarkan pada hasil hawa nafsu melainkan hasil dari perpaduan antara dalil aqli dengan dalil naqli yang menjadi sempurna dipandang dari sudut Islam.

Sekarang, kalau Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi selalu mengatakan kepada Ahmad Sudirman dengan sebutan "Ahlul Ahwa". Jelas kalau Ahmad Sudirman dalam mengemukakan permasalahan hanya didasarkan kepada hasil penelitian dan penyelidikan secara empiris saja, artinya hanya dilihat dari sudut ilmu pengetahuan, misalnya sejarah saja, tanpa ditunjang oleh dasar Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Tetapi kalau dalam peninjauan dari sudut sejarah itu diperkuat dengan sumber-sumber yang diambil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka jadilah hasil penyelidikan yang berupa sejarah itu bisa diterima oleh Islam.

Contohnya ketika Ahmad Sudirman membahas tentang sejarah gerakan wahabi bersama keluarga Ibnu Saud yang telah melakukan pemberontakan terhadap dinasti Usmaniyah. Jelas kalau hanya dilihat dari sudut sejarah saja, artinya hanya bersandarkan pada dalil aqli saja, maka itu sejarah yang dituliskan oleh Ahmad Sudirman hanyalah berupa hasil hawa nafsu, kalau dilihat dari sudut Islam. Tetapi, kalau sejarah itu ditunjang oleh sumber-sumber naqli dari Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka hasilnya akan bisa diterima oleh Islam, dan tidak dinamakan hasil hawa nafsu lagi.

Misalnya salah satu sumber dalil naqli yang terdapat dalam Al Qur'an adalah seperti yang terkandung dalam An-Nisaa: 59 "Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul dan Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnah Nabi), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya" (An Nisaa, QS, 4: 59).

Jadi kalau kita menggabungkan penelitian sejarah berdasarkan dalil aqli yang menceritakan tentang gerakan wahabi bersama keluarga Ibnu Saud yang telah melakukan pemberontakan terhadap dinasti Usmaniyah dengan sumber dalil naqli An-Nisaa: 59, maka hasilnya adalah apa yang telah dilakukan oleh gerakan wahabi bersama keluarga Ibnu Saud yang telah melakukan pemberontakan terhadap dinasti Usmaniyah ternyata telah melanggar perintah taat dari Allah SWT terhadap Ulil Amri. Dan itulah yang dinamakan pemberontakan menurut Islam.

Kemudian kalau pemberontakan terhadap dinasti Usmaniyah yang dilakukan oleh kaum wahabi bersama keluarga Ibnu Saud diperkuat lagi dengan pendapat ulama seperti Asy-Syihristani yang menyatakan: "Siapa saja yang keluar dari ketaatan terhadap pemimpin yang sah, yang telah disepakati, maka ia dinamakan Khariji (seorang Khawarij), baik keluarnya di masa shahabat terhadap Al-Khulafa Ar-Rasyidin atau terhadap pemimpin setelah mereka di masa tabi'in, dan juga terhadap pemimpin kaum muslimin di setiap masa" (Al-Milal wan Nihal, hal. 114), maka jelaslah bahwa apa yang dilakukan oleh kaum wahabi bersama Ibnu Saud bisa digolongkan kepada khawarij.

Inilah pembuktian secara sejarah yang ditunjang oleh dasar dalil aqli dan dasar dalil naqli. Jadi bukan berdasarkan hawa nafsu sebagaimana yang selalu dikatakan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi.

Dan pembuktian sejarah secara aqli dan naqli tentang wahabi dan Ibnu Saud inilah yang ditakuti oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Sun, 29 Aug 2004 23:01:54 -0700 (PDT)
From: rohma wawan <rokh_mawan@yahoo.com>
Subject: Itu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman Tidak Berkutik Berdiskusi dan Berdebat Melawan Orang-orang Islam yang Bermanhaj lurus
To: ahmad@dataphone.se
Cc: ahmad_jibril1423@yahoo.com, hudoyo@cbn.net.id, sea@swipnet.se,siliwangi27@hotmail.com, habearifin@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com, yuhe1st@yahoo.com, dityaaceh_2003@yahoo.com, megawati@gmt.net, hassan.wirayuda@ties.itu.int, alchaidar@yahoo.com, perlez@nytimes.com, syifasukma@yahoo.com, imarrahad@eramuslim.com, viane@kon-x.com, muhammad59iqbal@yahoo.com, husaini54daud@yahoo.com, abu_farhan04@yahoo.com

Bismillahirrohmaanirroohiim
Assalaamu'alaikum Wr.Wb

...Coba kalau bisa anda tampilkan dalil aqli dan dalil naqli tentang kebolehan melawan pemerintahan yang dzalim yg masih sholat dll?. Sampai kiamatpun anda semua tidak bisa menemukan itu dalil aqli dan naqlinya karena apa ? Jelas Rosululloh SAW tidak pernah membolehkan memerangi, memberontak kpd pemerintahan tersebut walaupun dalam keadaan yg sangat terjepit. Ingat jangan ungkit-ungkit masa lalu, Syeikhul Islam Muhammad bin abdul wahab dan Syeik Muhammad Ibnu saud. Anda Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah bisanya hanya menengok kebelakang saja sehingga di depan anda ada jurang mengangapun tetap anda lewati (kiasan saja, jangan dibahas)....

Wassalaam

Rokhmawan Agus Santosa

rokh_mawan@yahoo.com
rokh-mawan@plasa.com
solo, jateng, Indonesia
----------