Stockholm, 31 Agustus 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

WAHABIYIN ROKHMAWAN MAKIN BUTA HANTAM SANA HANTAM SINI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KELIHATAN ITU WAHABIYIN ROKHMAWAN DAN SALAFI-SOLO-WAHABI-SAUDI MAKIN BUTA TIDAK TAHUN APA YANG HARUS DIJADIKAN PEGANGAN HANTAM SANA HANTAM SINI

"Lihat dan baca lagi itu komentar Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman terutama mengenai dalil aqli dan dalil naqli. Memang Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman kalau mengartikan suatu pemahaman hanya berdasarkan hawa nafsu, masak sejarah dibilang dalil aqli. Ada-ada saja anda ini Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman. Itu menurut pikiran sempit anda saja." (Rokhmawan , rokh_mawan@yahoo.com , Mon, 30 Aug 2004 22:14:45 -0700 (PDT))

Baiklah Rokhmawan Agus Santosa dan Salafi di Solo, Jawa Tengah, Indonesia.

Coba saja perhatikan apa yang lambungkan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi untuk memberikan penjelasan dalil aqli dan dalil naqli dalam kita sedang membicarakan masalah pergerakan yang sedang digembar-gemborkan olej kaum wahabi dengan gerakan wahabiyah dan dakhwah salafiyyahnya di Negara kafir RI.

Sebenarnya kalau Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi itu seorang yang berpendikan dan telah mengenyam bagaimana cara belajar dan mengambil sumber-sumber ilmu pengetahuan dan menyimpulkannya, maka ketika Ahmad Sudirman mengatakan dalam tulisan kemaren yang intinya:

"Dengan akal inilah manusia dibedakan dari binatang. Justru manusia diharuskan menggunakan aqal, tanpa aqal manusia akan berbuat seenak udel. Hanya karena Allah SWT telah memberikan syariat, tauhid, petunjuk, akhlaq kepada ummat manusia, maka itu aqal harus dibarengi dengan petunjuk dari Allah SWT dan apa yang dicontohkan Rasulullah saw. Dalam dunia ilmu pengetahuan itu dalil aqli merujuk pada istilah pengetahuan yang memiliki ciri pembuktian dan fakta-fakta yang boleh diamati dengan pancaindera yang ilmu daruri. Sedangkan ilmu yang menggunakan dalil naqli dinamakan ilmu nadhari. Melihat kepada sejarah yang merupakan cabang ilmu pengetahuan digolongkan kedalam dalil aqli yang didalamnya berisikan fakta-fakta sejarah yang bisa dijadikan alat bukti untuk pembenaran sejarah tersebut. Agar supaya bia diterima secara menyeluruh oleh Islam, maka itu dalil aqli yang berupa sejarah harus ditunjang dengan nash-nash yang datang dari Al-Qur'an dan As-Sunnah."

Maka, dari sini saja, kalau Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi mengetahui bahwa memang itulah yang dinamakan dasar kalau menggunakan aqli dan dasar kalau menggunakan naqli. Tidak akan merumitkan diri mereka sendiri.

Kemudian karena sedang kita membahasas tentang ilmu pengetahuan yang menyangkut masalah keagamaan dan masalah umum, maka agar tidak terjerumus kedalam hawa nafsu, perlu dipadukan antara pandangan ilmu pengetahuan yang berdasarkan pengetahuan daruri yang berdalilkan aqal dengan pengetahuan yang berdasarkan pengetahuan nadhari yang berdalilkan naqli.

Inilah yang dimaksud Ahmad Sudirman bahwa ketika membicarakan dan membahas masalah ilmu pengetahuan agar supaya tidak terjerumus kedalam hawa nafsu.

Disini terlihat adanya perpaduan yang satu dengan lainnya saling memperkuat, pandangan dan pijakan yang berdasarkan akal diperkuat dengan pandangan yang berdasarkan naqli seperti nas-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Tetapi itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi memang kurang daya pikir dan daya tangkapnya dalam masalah ilmu pengetahuan ini, maka dengan mudahnya memberikan komentar, yang sebenarnya kalau mau didalami dan digali lebih dalam adalah sama seperti yang Ahmad Sudirman kemukakan. Walaupun menurut istilah Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi itu apa yang dikemukakan oleh Ahmad Sudirman dengan sebutan "Yang dibahas Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah itu pengertian Hawa Nafsu secara syar'I (agama), sedangkan pengertian secara harfiah adalah keinginan-keinginan yang ada pada diri kita dan sekaligus yang terdapat pada hewan."

Jelas, dalam kita memberikan ulasan, pendangan, pemikiran, baik itu yang ada hubungannya dengan teknologi, sosial, sejarah, politik, itu didasarkan kepada pengetahuan yang bersifat daruri. Artinya berlandaskan kepada daya kemampuan aqal dalam usaha mengadakan pembuktian atas hasil penyelidikan secara empiris yang bisa dibuktikan secara burulang-ulang dengan hasil yang sama.

Kalau hasil pemikiran yang dihasilkan hanya menggunakan dasar pengetahuan daruri saja, menurut pandangan sudut Islam itu merupakan hasil dari hawa nafsu. Karena belum dibuktikan secara benar berdasarkan pengetahuan nadhari yang berlandaskan pada dalil naqli, yakni dilihat dari sudut Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Kalau kita kaitkan dengan apa yang dikatakan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi dengan hawa nafsu secara harfiyah, artinya secara sebenarnya, memang itulah hawa nafsu. Tetapi dengan hawa nafsu itu tidak mungkin melahirkan pemikiran pemikiran dalam dunia ilmu pengetahuan baik itu yang menyangkut sejarah, sosial, ekonomi, teknologi dan yang lainnya.

Dalam membahas ilmu pengetahuan tidak bisa dengan hanya teriak-teriak. Tetapi harus tersusun rapi dengan berdasarkan fakta, bukti, dan hukum yang melandasi dari teori dan pemikiran diajukan atau dikembangkan.

Walaupun menurut kaedah ilmu pengetahuan cara penampilan dan pengungkapan seperti yang saya kemukakan diatas telah memenuhi sarat diterima oleh dunia ilmu pengetahuan, tetapi kalau dilihat dari sudut Islam, apa yang telah dikemukakan dan diungkapkan itu masih harus diuji oleh dasar pengetahuan nadhari yang berlandaskan kepada dalil naqli, yakni Al-Qur'an dan As-Sunnah. Agar supaya tidak terjerumus kedalam hawa nafsu.

Nah, kalau Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi memahami tentang proses tumbuh dan berkembangnya ilmu pengetahuan maka tidak akan bisa menolak apa yang dijelaskan oleh Ahmad Sudirman ini.

Sekarang, seperti yang Ahmad Sudirman telah jelaskan kemaren, apabila cara penganalisaan, penguraian, dan penyimpulan ini dihubungkan dan dijadikan sebagai dasar berpijak untuk membicarakan, mempelajari, mendalami, dan menganalisa tentang sejarah gerakan wahabi bersama keluarga Ibnu Saud yang telah melakukan pemberontakan terhadap dinasti Usmaniyah.

Jelas kalau hanya dilihat dari sudut sejarah saja, artinya hanya bersandarkan pada dalil aqli saja, maka itu sejarah yang dituliskan oleh Ahmad Sudirman hanyalah berupa hasil hawa nafsu. Tetapi, kalau sejarah itu ditunjang oleh sumber-sumber naqli dari Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka hasilnya bisa diterima oleh Islam, dan tidak dinamakan hasil hawa nafsu lagi.

Contohnya salah satu sumber dalil naqli yang terdapat dalam Al Qur'an adalah seperti yang terkandung dalam An-Nisaa: 59 "Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul dan Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnah Nabi), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya" (An Nisaa, QS, 4: 59).

Jadi kalau kita menggabungkan penelitian sejarah berdasarkan dalil aqli yang menceritakan tentang gerakan wahabi bersama keluarga Ibnu Saud yang telah melakukan pemberontakan terhadap dinasti Usmaniyah dengan sumber dalil naqli An-Nisaa: 59, maka hasilnya adalah apa yang telah dilakukan oleh gerakan wahabi bersama keluarga Ibnu Saud yang telah melakukan pemberontakan terhadap dinasti Usmaniyah ternyata telah melanggar perintah taat dari Allah SWT terhadap Ulil Amri. Dan itulah yang dinamakan pemberontakan menurut Islam.

Kemudian kalau pemberontakan terhadap dinasti Usmaniyah yang dilakukan oleh kaum wahabi bersama keluarga Ibnu Saud diperkuat lagi dengan pendapat ulama seperti Asy-Syihristani yang menyatakan: "Siapa saja yang keluar dari ketaatan terhadap pemimpin yang sah, yang telah disepakati, maka ia dinamakan Khariji (seorang Khawarij), baik keluarnya di masa shahabat terhadap Al-Khulafa Ar-Rasyidin atau terhadap pemimpin setelah mereka di masa tabi'in, dan juga terhadap pemimpin kaum muslimin di setiap masa" (Al-Milal wan Nihal, hal. 114), maka jelaslah bahwa apa yang dilakukan oleh kaum wahabi bersama Ibnu Saud bisa digolongkan kepada khawarij.

Inilah pembuktian secara sejarah yang ditunjang oleh dasar dalil aqli dan dasar dalil naqli. Bukan berdasarkan hawa nafsu sebagaimana yang selalu dikatakan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi.

Jadi Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi, cobalah sedikit bukakan itu pikiran untuk menguasai dunia ilmu pengetahuan yang luas ini, baik itu yang menyangkut agama maupun yang menyangkut umum yang kesemuanya adalah nikmat dari Allah SWT.

Kalau kalian Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi tetap hidup dalam kesempitan dan ketaklidan saja, maka kalian tidak akan sanggup membaca dan menguasai ilmu yang telah diberikan Allah kepada umat manusia di dunia ini.

Kalian hanya terfokus kepada masalah yang sempit yang justru makin menjerat dan membelenggu kalian.

Misalnya dengan cara kalian berpikir masalah dasar aqli dan naqli yang sempit, sehingga tidak bisa mencerna apa menjadi dasar untuk memberikan argumentasi dilihat dari sudut Islam yang luas dan penuh hikmah ini.

Nah, setelah Ahmad Sudirman menjelaskan dasar pemikiran dan landasan ilmu pengetahuan dalam melihat dan menerapkan dalil aqli dan naqli ini, maka tidak bisa dikatakan bahwa penjelasan Ahmad Sudirman tentang gerakan wahabiyah dan Ibnu Saud itu didasarkan pada hawa nafsu, seperti emosi, marah, kebodohan, kepicikan. Melainkan justru didasarkan pada ilmu pengetahuan daruri yang berbentuk pengetahuan sejarah dan ilmu pengetahuan yang berdasarkan pengetahuan nadhari yang berlandaskan pada naqli Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Mana mungkin Ahmad Sudirman mampu memberikan kupasan yang dilihat dari sejarah dan Al Qur'an dan pendapat Ulama kalau itu semua hanya didasarkan kepada hawa nafsu Ahmad Sudirman. Mana mungkin Ahmad Sudirman kalau hanya berlandaskan pada hawa nafsu mampu berpikir jernih mengupas dan menggali sejarah.

Jadi, sebenarnya istilah hawa nafsu yang dikemukakan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi adalah istilah yang sempit dan kurang tepat bila dipakai untuk menjadi dasar argumentasi dalam dunia ilmu pengetahuan dan pendidikan untuk mempertahankan suatu pemikiran atau pendapat dihadapan tim penguji.

Agak sulit Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi ini terus melakukan diskusi kalau cara berpikirnya masih sedemikian terkungkung oleh pemikiran yang sempit, yang hanya berdasarkan pada alam pikirannya yang ditunjang oleh apa yang tertera dalam buku-buku yang dibacanya atau didengarnya dari uztad-uztadnya saja yang terbatas itu.

Nah, Ahmad Sudirman telah memberikan ulasan secara ilmu pengetahuan tentang gerakan wahabiyah dan Ibnu Saud hubungannya dengan pemberontakan terhadap dinasti Islam Usmani dilihat dari sudut pengetahuan daruri dan pengetahuan nadhari. Dan memang jelas pemberontakan yang dilakukan oleh gerakan wahabiyah dan Ibnu Saud itu telah melanggar apa yang diperintahkan Allah SWT dalam An Nisaa: 59.

Sekarang apakah Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi mampu mempertahankan apa yang dilakukan oleh gerakan wahabiyah dan Ibnu Saud itu yang bersekutu dengan Pemerintah Kerajaan kafir Inggris tidak bertentangan dengan dasar pengetahuan nadhari yang berlandaskan dalil naqli An-Nisaa: 59 ?

Tanggapan Ahmad Sudirman lainnya akan menyusul.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Mon, 30 Aug 2004 22:14:45 -0700 (PDT)
From: rohma wawan rokh_mawan@yahoo.com
Subject: Itu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs, NII, GAM/TNA Pemahaman Agamanya Sangat Sempit
To: ahmad@dataphone.se
Cc: ahmad_jibril1423@yahoo.com, hudoyo@cbn.net.id, sea@swipnet.se, siliwangi27@hotmail.com, habearifin@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com, yuhe1st@yahoo.com, dityaaceh_2003@yahoo.com, megawati@gmt.net, hassan.wirayuda@ties.itu.int, alchaidar@yahoo.com, perlez@nytimes.com, syifasukma@yahoo.com, imarrahad@eramuslim.com, viane@kon-x.com, muhammad59iqbal@yahoo.com, husaini54daud@yahoo.com, abu_farhan04@yahoo.com

Bismillaahirrohmaanirrohiim
Assalaamu'alaikum Wr.Wb

Itu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs, NII, GAM/TNA Pemahaman Agamanya Sangat Sempit

Lihat dan baca lagi itu komentar Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman terutama mengenai dalil aqli dan dalil naqli. Memang Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman kalau mengartikan suatu pemahaman hanya berdasarkan hawa nafsu, masak sejarah dibilang dalil aqli. Ada-ada saja anda ini Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman. Itu menurut pikiran sempit anda saja.

Memang kalau secara harfiah itu dalil aqli adalah penunjuk jalan bagi manusia yg berasal dari akal manusia. Nah jelas sekali kalau pemahan orang mengenai dalil aqli seperti di atas maka kacaulah kita hidup di dunia karena yg namanya manusia itu tidak luput dari bahkan banyak dosa. Begitu pula dengan sejarah, bisa saja itu sejarah diputar balikkan fakta (ini Cuma misal saja jangan di bahas). Nah apabila dalil aqli di jajarkan dengan dalil naqli maka dalil aqli adalah penunjuk jalan bagi manusia yang berasal dari pemahan para ulama ( pendapat ulama ).

Kemudian yang jelas itu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, yang paling utama yaitu adakah dalil aqli (pendapat ulama) dan dalil naqli yg membolehkan kita memberontak atau memerangi pemerintahan yg dzalim ?. Jawabnya jelas tidak ada, sesuai dengan tulisan saya kemaren, karena Rosululloh SAW telah memberi rambu-rambu bagaimana menghadapi pemimpin yg dzalim. InsyaAlloh setelah komentar saya ini, akan saya tampilkan itu dalil aqli dan dalil naqli yang dimaksudkannya.

Untuk sdr Yusa ( sdr Peace org silakan fahami ) ternyata sebelum saya membahas pertanyaan anda tentang pengertian hawa nafsu, sudah dibahas terlebih dahulu oleh Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahma Sudirman. Yang dibahas Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah itu pengertian Hawa Nafsu secara syar'I ( agama ), sedangkan pengertian secara harfiah adalah keinginan-keinginan yang ada pada diri kita dan sekaligus yang terdapat pada hewan. Namun saya perlu memberikan contoh yg konkret dalam kehidupan sehari-hari misalnya makan-minum, tidur, kawin, marah, berkelahi/perang, ingin jadi penguasa dll. Tetapi apabila semua hawa nafsu tersebut menggunakan adab-adabnya maka insyaAlloh akan di nilai sebagai ibadah.

Contohnya kita sebelum makan-minum berdoa dulu dan mencontoh Rosululloh SAW. Begitu pula dengan berkelahi atau perang, seandainya kita mengetahui perang dan adab-adabnya yg di maksud dlm Al-qur'an maka kita pun akan mendapat pahala yg besar yaitu sebagai mujahid atau tentara-tentara Alloh SWT, nah dalam Al-qur'an jelas itu PERANG yang di maksudkannya adalah perang terhadap kafir harby. Untuk lebih lanjutnya mengenai itu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs, Hasan Tiro dkk, NII, GAM/TNA memang pas sekali digelari sebagai Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah, mengapa demikian ?. Pertama tentang Ahlu Ahwa, mana ada itu NII, GAM/TNA menggunakan dalil aqli ( pendapat ulama ) dan dalil naqli dalam kehidupannya baik untuk dirinya sendiri, masyarakat atau bernegara.

Contoh konkret ketika mereka berpenampilan tidak Sunnah, kemudian ditegur baik-baik eee malah melawan dengan argumennya yang amburadul berdasarkan orang banyak. Bahkan nafsu itu ada yg menyalahi Rosululloh SAW, contoh mereka semua memakai kain atau celana sampai di bawah mata kaki, jelas ini neraka. Di dalam kitab Riyadlush Sholihin BAB 2 di terangkan, Rosululloh SAW bersabda, "Apa-apa yg di bawah mata kaki tempatnya neraka".

Kemudian mengenai sholat berjamaah dimasjid, kalau menurut nafsu mereka mereka (Waraga NII, GAM/TNA ) mengatakan sholat wajib dengan berjama'ah di masjid hukumnya sunnah.

Naah ini namanya BOHONG dan berdasarkan HAWA NAFSU, padahal yg benar adalah sholat wajib bagi laki-laki dengan cara berjasma'ah di masjid adalah hukumnya WAJIB tentunya ada udzurnya.Untuk pemahaman selanjutnya silakan buka itu Situs Salafy. Saya tidak akan memperpanjang contoh nafsu-nafsu mereka, yang jelas kelihatan sekali dari perdebatan di mimbar bebas ini, mereka semua banyak yang menggunakan Nafsunya untuk mengomentari saya (tdk menggunakan dalil aqli ( pendapat ulama ) dan dali naqli kecuali hanya seputar ayat Al-maidah 44, 45, 47 yg pada saat ini masih menjadi bahasan para ulama). Adapun kebid'ahan mereka (Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs, Hasan Tiro dkk, NII, GAM/TNA ) saya yakin andapun sudah tahu. Untuk contohnya mereka berperang melawan RI dengan kata-kata JIHAD dan matinya mati SYAHID sbg Syuhada, dengan mudahnya mereka mengatakan Yang duduk dalam lembaga pemerintahan RI dan pendukungnya termasuk kafir, padahal mereka ( pemerintahan RI ) masih sholat dll.

Kemudian mengenai peringatan untuk tidak menengok kebelakangpun juga dipahami sempit oleh Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman. Sebenarnya saya yakin dia mengetahui yg saya maksudkan tetapi memang Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman ingin membingungkan bahkan menyesatkan umat islam di mimbar bebas ini yg sedang belajar agama islam seperti sdr Peace org cs. Namun apabila memang Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman tidak mengetahui maksudnya berarti memang benar dia pemahamannya seperti anak SD dan terlalu lugu sekali melebihi lugunya sdr Peace org.

Maksud saya adalah kita tidak boleh menengok atau mengungkit-ngungkit kesalahan pada masa lalu. Ambil contoh saja Sahabat-sahabat Rosululoh SAW yg sebelum masuk islam jelas mereka sangat bertentangan dengan Al-qur'an dan Al-hadist, seperti itu Umar Bin Khotob ra yang pada waktu masa jahiliyah mengubur putri kandungnya hidup-hidup. Tetapi ketika dia masuk islam dan lebih-lebih menggantikan Abu bakar Ashshidiq ra sebagai Kholifah maka itu kejahata pada masa lalunyapun tidak dipermasalahkan sehingga sahabat-sahabat Rosululloh pun bersedia dipimpin olehnya. Nah bisakah kau fahami Wahai Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman ?.

Kemudian dengan Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman menulis "Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi, itu ketika Ahmad Sudirman mengatakan: "Apakah yang ingin menjatuhkan presiden Megawati lewat pemilu dianggap memberontak dan meruntuhkan penguasa Megawati?" Itu dilihat dari sudut kacamata yang dipakai oleh Mazda yang memandang "Tiap hari siang malam mulut mereka kotor mencaci maki penguasa muslim yang memerintah dinegeri-negeri kaum muslimin. Mereka rajin melancarkan propaganda untuk memberontak dan meruntuhkan penguasa muslim".

Lihat dan baca komentar saya dan komentar balik Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman, saya tidak menulis huruf miring dan yg bergaris bawah itu. Kok malah anda sebut-sebut itu tulisan.

Kemudian mengenai itu tulisan sdr mazdha "Tiap hari siang malam mulut mereka kotor mencaci maki penguasa muslim yang memerintah dinegeri-negeri kaum muslimin. Mereka rajin melancarkan propaganda untuk memberontak dan meruntuhkan penguasa muslim". Jelas sekali itu ditujukan kpd anda Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman, NII, GAM/TNA dan yang sejenisnya karena mereka benar-benar telah melakukan pemberontakan. Sebenarnya yang lugu itu siapa ? Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman atau saya ?. Jelas saya mampu memahami dan menampilkan dalil aqli ( pendapat ulama ) dan dali naqli.

O yaaa pertanyaan saya kemaren yg termudah kok belum dijawab ? Misal seperti pengertian hadist/sunnah Rosul.

Kemudian Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman menuliskan, "Makin bodoh dan budek saja Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi ini. Sekarang apa hasil perjuangan gerakan wahabi di dunia ?. Apa yang telah dilakukan kaum wahabi melalui kerajaan Saudi ? Bisakah itu ulama wahabi mencegah Ibu saud dan keturunannya untuk tidak bertekuk lulut kepada George W. Bush ? Sudahkan itu khurafat, bid'ah, syirik dihapuskan dari muka bumi ?. Sudahkan itu kuburan-kuburan yang diatasnya dibangun bangunan-bangunan yang ada disekitar Solo dihancurkan oleh kalian para pengikut paham wahabi?".

Atas pertanyaan saya ini, "Baiklah wahai Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman, dengan anda menampilkan proklamasi NII tersebut secara intinya saya dapat menyimpulkan, Proklamasi NII atas nama Alloh SWT, dan NII berdasarkan Al-qur'an dan Al-hadist. Memang kalau secara teorinya bagus itu NII tetapi realisasinya mana ? Noool Besaar."

Ternyata setelah di baca sekilas saja itu jawaban Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman atas pertanyaan saya itu, maka dapat disimpulkan betapa lugunya sekali Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman yang menyimpulksn realisasi seenak perutnya dewe. Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman itu realisasi, hasil artinya berbeda sekali. Jelas anda terlalu lama berlindung dibawah ketiak Negara Zhionis Swedia, jadi bingung memahami kosa kata bahasa indonesia bahkan mungkin andapun sudah membenci bahasa indonesia. Anak SMP atau SMA tahu perbedaan dari realisasi dan hasil. Pelajari dan buka lagi itu kosa kata bhs indonesia, jelas artinya berbeda.

Sedangkan yang saya tuliskan kemaren mengenai, "Baiklah wahai Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman, dengan anda menampilkan proklamasi NII tersebut secara intinya saya dapat menyimpulkan, Proklamasi NII atas nama Alloh SWT, dan NII berdasarkan Al-qur'an dan Al-hadist. Memang kalau secara teorinya bagus itu NII tetapi realisasinya mana ? Noool Besaar."

Maksudnya adalah walaupun proklamasi NII atas dasar asma Alloh SWT dan UUD NII berdasarkan Al-qur'an dan Al-hadist tetapi kenyataannya itu hanya secara teori saja. Sudah fahamkah maksud saya wahai Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman ? atau mungkin anda bingung dengan tulisan , "realisasinya mana ? Noool Besaar". Itu maksudnya adalah dalam kehidupan Warga NII, GAM/TNA baik dalam berkeluarga, bermasyarakat, bernegara ternyata tidak mencerminkan siindah bunyi teks proklamasi dan UUD NII yang berdasarkan Al-qur'an dan Al-hadist. Masih bingung lagikah ?. Intinya begini " Warga NII, GAM/TNA, termasuk anda Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs serta Hasan Tiro dkknya tidak sesuai bahkan bertentangan dengan Al-qur'an dan Al-hadist. Apa perlu saya tuliskan semua kesatan, kebid'ahan dan sikap anda ( Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman, Hasan Tiro, Warga NII, GAM/TNA ) yang bertentangan denga Al-qur'an dan Al-hadist ?.

Saya kira tidak perlu karena secara jujur dalam hati anda pasti mengakui akan sikap dan perbuatan-perbuatan anda yg tidak sesuai bahkan bertentangan dengan Al-qur'an dan Al-hadist. Akan tetapi mana ada itu pencuri mengaku langsung kalau ia pencuri, sudah pasti pencuri tersebut begitu ketangkep massa atau polisi maka akan beralasan karena ini ..itu...begitu pula dengan seorang ahli kesyirikan ketika ditegur seseorang kalau perbuata itu tidak diperbolehkan Alloh SWT dan Rosululloh SAW, maka iapun akan marah-marah dan bisa juga berkata yg tidak pantas ( bodoh kamu itu nak, budek telingamu nak ini khan kata mbah-mbahmu dulu dll ). Persis dengan Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman ketika terbongkar kesesatan, kebid'ahan dan ke hawa nafsuannya langsung saja itu marah-marah dan berkata yg tidak pantas kpd saya, padahal saya berusaha menasehatinya dengan cara bergurulah kpd ulama RUSYDI.

Kemudian itu mengapa Ulama, ustadz, santri dari Manhaj Ahlus sunnah wal jama'ah atau Salafus shalih tidak atau belum ada yang berkenan tampil di mimbar bebas ini. Jawabannya banyak..
Jawaban dari saya...lhoh kok anda ( Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahamad Sudirman ) malah menantang..lha wong baru berhadapan dengan salah satu darinya saja, anda sudah bingung tujuh keliling ( mana itu dalil aqli dan dalil naqli yg saya pertanyakan kemaren ). Itu baru satu dari kami belum rekan se manhaj saya, belum ustadz saya belum lagi ulama kami dll. Anda itu jangan mimpi dapat berdiskusi dan berdebat dengan mereka, baru berdiskusi dan berdebat dengan saya saja udah kebingungan wal hasil apa yg diucapkannya hanya berdasarkan sejarah yg penuh hawa nafsu dll.

Kalau jawaban dari Ustadz, ulama kami, "Janganlah kau ladeni pertanyaan dan perdebatan dengan Ahlu Ahwa dan Ahlu Bid'ah karena yang demikian sia sia belaka bahkan bisa mendatangkan mahdlorot seperti fitnah juga bisa mengeraskan hati kita". Nahh Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman tahukan anda tentang hal-hal yg dapat mengeraskan hati ?. Coba jawab yg satu itu berdasarkan dali aqli ( pendapat ulama terdahulu atau generasi pendahulu.

Ingat yang namnya manusia ada kelemahan dan kekurangannya, begitu pula yg terjadi dengan Manhaj Kami, Syeikhul Islam Muhammad bin abdul wahab, Syeikh Muhammad Ibnu saud dll, Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs, Hasan Tiro dkk, Warga NII, Anggota GAM/TNA dll. Tetapi kita harus melihat pasti ada yang lebih unggul maksudnya, kadang kelemahan dan kejelekannya lebih banyak, ada yg lebih sediki atau ada yang seimbang. Nah jelas InsyaAlloh itu Manhaj Salafus Salih terdapat sedikit kesalahan atau kejelekannya dan lebih banyak kebaikannya ( Amiin..), akan tetapi itu Warga NII, GAM/TNA tidak bisa dikatakan kebaikan dan kelebihannya lebih banyak dari kelemahan dan kejahatannya dengan kata lain NII, GAM/TNA kelemahannya, kesesatannya lebih banyak dari kebaikannya. Orang islam yang tidak teracuni dengan propaganda Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman maka bisa melihat dengan jelas kesesatan-kesesatan dan kebid'ahan bahkan kekufuran-kekufuran mereka semua.
Wallohu'alam bi showab

NB : InsyaAlloh 1 jam kedepan akan saya tampilkan Sikap kami ( orang mukmin ) terhadap pemerintahan yg dzalim yg syarat akan dalil aqli ( pendapat ulama terdahulu atau generasi pendahulu kita ) dan dalil naqli Al-hadist yg shohih.

Sedikit mengomentari Ham am, saya tidak mencontoh kata-kata halus Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah ( kata-kata halus yg mana yg anda sebut ). Jelas Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman mengatakan perkataan yg tidak lazim seperti bodoh, budek, biadab. Anda mengatakan hal ini biasa...memang kebiasaan manusia banyak itu sebagian besar adalah langkah syaiton ( ada firman Alloh SWT tentang demikian di atas ) tanya saja sama Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman. Jelas dia setelah saya katakan NII, GAM/TNA termasuk khowarij ee..langsung marah-marah kepada saya dengan mengatakan biadab, tolol, bodoh, budek dll, inikah ketenangan yg anda maksud ?. Kemudian itu Sumitro anda jangan berkata yang tidak pantas dengan panggilan- panggilan yg tidak diperbolehkan dlm islam ( lihat Al-hujurot : 12 atau 13 ). Sdr Ham am suatu saat akan saya bahas tulisan anda mengenai mengapa indonesia tidak mau memakai hukum islam dan tentunya juga komentar-komentar yg anda tulis utk Sumitro.

Wassalaam

Rokhmawan Agus Santosa

rokh_mawan@yahoo.com
rokh-mawan@plasa.com
solo, jateng, Indonesia
----------