Stockholm, 1 September 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

WAHABIYIN ROKHMAWAN MEMBAWA UMAT ISLAM NEGARA KAFIR RI KELEMBAH KESESATAN YANG NYATA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

WAHABIYIN ROKHMAWAN DAN SALAFI-SOLO-WAHABI-SAUDI KARENA KEBODOHANNYA DAN SOK JADI ULAMA TELAH MEMBAWA UMAT ISLAM NEGARA KAFIR RI KELEMBAH KESESATAN YANG NYATA

"Pak Ahmad yang Insya Allah dirahmati Allah swt. Setelah saya membaca diskusi bapak dengan orang2 salafi/wahabi. Menurut saya sih mereka itu secara karakter sudah jelek. Ditambah lagi pola didik/ta'lim mereka yang sangat kondusif untuk perkembangan karakter mereka ke arah yang lebih buruk lagi. Sumun bukmun 'umyun fahum laa yarji'uun. Mereka seperti orang yang cuma tahu 1 atau 2 ilmu/pengetahuan, tapi berlagak seperti tahu seluruh ilmu. Mungkin cara mereka belajar cuma sekedar hafalan saja (tapi sepertinya mereka juga tidak bagus hafalannya). Tapi tidak/kurang faham terhadap ilmu yang mereka punya. Kemampuan iqra'/analisis terhadap suatu masalah juga sangat kurang. Ini terbukti dari seluruh tanggapan2 mereka. Tapi satu kelebihan mereka, mereka memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi bahkan mungkin PEDE-nya sampai ke langit sehingga lupa bahwa mereka sebenarnya berada dibawah tempurung kelapa. PEDE ABISSS ! (kalo saya yang dibilang seperti itu saya akan sangat tersinggung, malu & marah. Tapi kalo mereka, saya tidak tahu?)" (Teguh Harjito, teguh.harjito@mas-dna.com , Tue, 31 Aug 2004 16:20:21 +0700)

Terimakasih saudara Teguh Harjito di Indonesia.

Memperhatikan apa yang disampaikan oleh saudara Teguh Harjito diatas tentang Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi, memang kalau ditelaah secara mendalam, ada benarnya. Mengapa ?

Karena bagi yang mendalami dan memahami tentang dakhwah yang dikembangkan oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, jelas itu tidak seperti yang ditampilkan oleh Wahabiyin Rokhmawan di mimbar bebas ini.

Misalnya Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi mengkopi beberapa hadist untuk dijadikan alat penguat apa yang ingin disampaikan oleh Wahabiyin Rokhmawan yang bertema "Sikap Kita Terhadap Amir (Pemimpin/presiden/penguasa dll) yang Dzalim"

Memang maksud dan tujuan dari Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi ingin melihat dari sudut aqli, yang dimaksud aqli oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi adalah kata-kata ulama. Sedangkan yang dinamakan naqli adalah dasar Nash Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Ternyata dari semua hadist yang dikopinya itu tidak satupun yang diperkuat oleh nash Al-Qur'an. Dan kalau ditelaah samua kopian hadist tersebut justru semuanya menjurus kepada sikap terhadap para pimpinan atau amir atau sultan yang berkuasa di Negara atau dinasti atau khilafah atau kesultanan yang memiliki dasar dan sumber hukum negaranya Islam dengan undang-undang dasarnya yang mengacu kepada Al Qur'an dan As-Sunnah sebagaimana yang dicontohkan dalam Daulah Islam Pertama di Yatsrib yang dibangun dan didirikan oleh Rasulullah saw.

Kalau sekarang Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi mengambil itu kopian hadist-hadist untuk memperkuat penguasa di Negara kafir RI yang dasar dan sumber hukum negaranya pancasila, jelas itu pengambilan kopian hadist-hadist tersebut sangat menyesatkan dan justru suatu kemunafikan yang terbesar yang dilakukan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi.

Apakah semua kopian hadist yang diambil oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi itu ada dimaksudkan untuk daulah atau negara atau dinasti atau khilafah atau kesultanan yang dasar dan sumber hukum negaranya bukan Islam ?.

Jelas, itu tidak ada satupun kata yang terkandung dalam kopian hadist-hadist itu yang mengisarahkan ke arah negara atau daulah atau dinasti atau khilafah atau kesultanan yang memiliki dasar dan sumber hukumnya non Islam.

Jadi jelas kalau ditelaah lebih kedalam memang benar itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi dengan telah sengaja dan dengan kepicikan dan kebodohannya, dan dengan sok tahunya telah berusaha untuk menggiring kaum muslimin di Negara kafir RI untuk menuju kedalam lembah kesesatan yang nyata.

Ditambah kalau semua kopian hadist yang dijiplak Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi ini diuji oleh dasar hukum Al-Maidah: 44, 45, 47, maka jelas itu para pimpinan Negara kafir RI itu ada yang digolongkan kedalam golongan kafir, ada yang digolongkan kedalam golongan zhalim, dan ada yang digolongkan kedalam golongan fasik.

Sudahlah Negara RI adalah Negara kafir ditambah lagi para pimpinannya ada yang masuk golongan kafir, ada yang masuk golongan zhalim, dan ada yang masuk golongan fasik.

Jadi makin sesatlah kalau itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi yang mengkopi hadist-hadist dibawah ini untuk dijadikan alat penguat apa yang ingin disampaikan oleh Wahabiyin Rokhmawan yang bertema "Sikap Kita Terhadap Amir (Pemimpin/presiden/penguasa dll) yang Dzalim" di Negara kafir RI, atau di negara-negara sekular lainnya.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Mon, 30 Aug 2004 23:27:04 -0700 (PDT)
From: rohma wawan rokh_mawan@yahoo.com
Subject: Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs, Itu Hasan Tiro dan Antek-anteknya, NII Serta GAM/TNA Melangkahkan Kakinya Berdasarkan Hawa Nafsunya.
To: ahmad@dataphone.se
Cc: ahmad_jibril1423@yahoo.com, hudoyo@cbn.net.id, sea@swipnet.se, siliwangi27@hotmail.com, habearifin@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com, yuhe1st@yahoo.com, dityaaceh_2003@yahoo.com, megawati@gmt.net, hassan.wirayuda@ties.itu.int, alchaidar@yahoo.com, perlez@nytimes.com, syifasukma@yahoo.com, imarrahad@eramuslim.com, viane@kon-x.com, muhammad59iqbal@yahoo.com, husaini54daud@yahoo.com

Bismillaahirrohmaanirrohiim
Assalaamu'alaikum Wr.Wb

Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs, Itu Hasan Tiro dan Antek-anteknya, NII Serta GAM/TNA Melangkahkan Kakinya Berdasarkan Hawa Nafsunya.

Itu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs, Hasan Tiro dan Antek-anteknya, Warga NII serta Anggota GAM/TNA dan yang sejenisnya telah melangkahkan kakinya menuruti langkah Syaiton terbukti dengan tidak maunya mereka semua kembali kepada apa-apa yang di sabdakan, contohkan oleh Rosululloh SAW dalam kehidupan beragama. Bukan hanya itu mereka semua terang-terangan telah mempermainkan Ayat-ayat Alloh SWT dan Sunnah-sunnah Rosululloh SAW dengan alasan yang berdasarkan Hawa Nafsu. Bagaimanakah hukumnya orang demikian di atas atau yang mempermainkan hadist Roosululloh SAW ? Wajib baginya untuk mengulang syahadat dan berjanji atas nama Alloh untuk tidak mengulangi perbuatan, perkataan yg mencerminkan pengejekan terhadap Ayat Alloh SWT ataupun Sunnah Rosululloh SAW. Yang dinamakan pokok dalam kehidupan beragama adalah pengagungan terhadap Alloh SWT dan Rosululloh SAW sedangkan penolakan dengan cara mempermainkan Ayat Alloh atau Sunnah Rosululloh SAW berarti menenggelamkan keagungan Alloh dan Rosululloh SAW tersebut dan meruntuhkan pokok agama dengan dahsyat ( baca lagi Dalil kafirnya orang yg mempermainkan Sunnah Rosululloh SAW ).

Mohon dengan sangat janganlah anda (sdr Peace org cs serta Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs) membantah, mengritik yang berdasar hawa nafsu dan bacalah, fahamilah hadist-hadist berikut ini tentang tata cara atau sikap seorang muslim dan mukmin ketika menghadapi pemimpin yg dzalim. Bagi yg merasa bukan muslim dan mukmin diperkenankan tidak usah membaca karena dengan membacanya akan balik mengomentari berdasarkan hawa nafsu dan amarah yg meluap-luap. Simak uraian yg singkat dibawah ini :

Sikap Kita Terhadap Amir (Pemimpin/presiden/penguasa dll) yang Dzalim

Rasulullah SAW telah meninggalkan kepada kita Agama Islam yang sempurna. Tidak ada suatu perkara yang penting pun yang terlewati dari agama ini. Barangsiapa tetap berpegang teguh kepada agama ini setelah sampai hujjah kepadanya maka dia adalah termasuk orang yang selamat, Insyaa Allah. Dan barangsiapa yang berpaling setelah sampai keterangan dari perkara agama ini maka dia akan binasa. Semoga Allah SWT menggolongkan kita kepada orang yang tetap mendengar dan taat dari setiap perintah-perintah yang telah disampaikan oleh-Nya lewat lisan Rasul-Nya SAW. Aamiin.

A.Sikap Seorang Muslim Kepada Penguasa Yang Zhalim, Mendengar dan Taat.

Dari Wail bin Hujr, berkata : Kami bertanya, Wahai Rasulullah ! Bagaimana pendapatmu jika kami punya amir (dimana mereka) menahan hak kami dan mereka meminta haknya dari kami ? Maka beliau menjawab : "(Hendaknya kalian) dengar dan taati mereka, karena hanyalah atas mereka apa yang mereka perbuat, dan atas kalian yang kalian perbuat". (HR. Muslim no. 1846 dari hadits Asyats bin Qais)

Dari Hudzaifah bin Yaman berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku, dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul (pula) ditengah-tengah kalian orang-orang (dikalangan penguasa) yang hatinya adalah hati syaithan dalam wujud manusia. Aku (Hudzaifah) bertanya : Apa yang harus saya perbuat jika aku mendapatinya? Beliau bersabda : (Hendaknya) kalian mendengar dan taat kepada amir, meskipun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu". (Hadits shahih riwayat Muslim dalam Shahihnya no. 1847 (52)

Dari Adi bin Hathim ra. berkata : Kami bertanya, Ya Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang (ketaatan) kepada (amir) yang bertaqwa, akan tetapi bagaimana yang berbuat (demikian) dan berbuat (demikian) (Adi bin Hathim menyebutkan perbuatan yang jelek) ? Maka Rasulullah SAW bersabda : "Bertaqwalah kepada Allah dan (tetaplah) mendengar dan taat (kepada mereka)". (HR. Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal hal 493 no. 1069)
Dari Abu Hurairah ra. dia berkata, Rasulullah SAW bersabda :"Wajib bagi kamu mendengar dan taat baik dalam keadaan sulit ataupun mudah, semangat ataupun tidak suka, walaupun ia sewenang-wenang terhadapmu". (HR. Muslim)

B.Mendengar & taat dalam perkara yang maruf, bukan dalam perkara maksiat.
Dari Ibnu Umar ra. berkata : Rasulullah SAW bersabda,"Wajib atas seorang muslim (untuk) mendengar dan taat (kepada pemimpin) pada apa yang ia sukai ataupun yang ia benci, kecuali kalau ia diperintah (untuk) berbuat maksiat, maka tidak ada mendengar dan taat". (HR. Bukhari dan Muslim)

C.Larangan Menghina (Menjelek-Jelekkan) Penguasa & Perintah Memuliakannya Walau Zhalim Sekalipun Dari Muawiyah berkata : Tatkala Abu Dzar keluar ke Ribdzah, dia ditemui sekelompok orang dari Irak, kemudian mereka berkata : Wahai Abu Dzar, pancangkanlah bendera (perang) untuk kami, niscaya akan datang orang-orang yang membelamu. (Maka) Abu Dzar berkata : Pelan-pelan (bersabarlah) wahai Ahlul Islam, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda :
"Akan ada sepeninggalku seorang sulthan (pemimpin), muliakanlah dia, maka barangsiapa mencari-cari kehinaannya, berarti dia telah melubangi Islam dengan satu celah dan tidak akan diterima taubatnya sampai dia mampu mengembalikannya seperti semula". (Hadits Shahih riwayat Ahmad, Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal)

Dari Abi Bakrah ra. berkata : Rasulullah SAW bersabda :"Sulthan adalah naungan Allah dimuka bumi, barangsiapa menghinanya, maka Allah akan menghinakan dia (orang yang menghina sulthan), dan barangsiapa memuliakannya, niscaya Allah akan memuliakan dia". (Hadits shahih riwayat Ibnu AbiAshim, Ahmad, At-Thoyalisi, Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Dihasankan Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal no. 1017 dan 1023, dan dalam As-Shahihah 2297)

Dari Ziyad bin Kusaib Al-Adawi beliau berkata :Dulu aku pernah bersama Abi Bakrah berada dibawah mimbar Ibnu Amir dan beliau sedang berkhutbah sambil mengenakan pakaian tipis. Kemudian Abu Bilal berkata : Lihatlah oleh kalian pada pemimpin kita, dia mengenakan baju orang-orang fasiq. Lantas Abi Bakrah pun langsung angkat bicara : Diam kamu! Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang menghinakan penguasa Allah di muka bumi niscaya Allah menghinakannya". (Tirmidzi dalam sunannya (2225)

Didalam At-Tarikh AL-Kabir (7/18) oleh AL-Bukhari dari Aun As-Sahmy beliau berkata : Janganlah kalian mencela Al-Hajjaj (Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi) karena dia adalah pemimpin kalian dan dia bukan pemimpinku. Adapun ucapan beliau :dia bukan pemimpinku, karena Abu Umamah tinggal di Syam sedangkan Al-Hajjaj pemimpin Iraq.

Dikitab yang sama (8/104) Imam Bukhari meriwayatkan dari Abi Jamrah Ad-DhobiI, beliau berkata : Tatkala sampai kepadaku (khabar) pembakaran rumah, lalu aku keluar menuju Makkah dan berkali-kali aku mendatangi Ibnu Abbas sampai beliau mengenaliku dan senang kepadaku. Lalu aku mencela Al-Hajjaj di depan Ibnu Abbas sampai beliau berkata : Janganlah kamu menjadi penolong bagi syaithan.

Hannad mengeluarkan (riwayat) dalam Az-Zuhd (II/464) :Abdah menceritakan kepada kami dari Az-Zibriqan, berkata,Aku pernah berada disisi Abu Wail Syaqiq bin Salamah lalu au mulai mencela Al-Hajjaj dan au sebutkan kejelekan-kejelekannya. Lantas beliau berkata,Janganlah engkau mencercanya, siapa tahu barangkali dia berdoa, Ya Allah, ampunilah aku, kemudian Alla mengampuninya.

Dari Ibnu Abi Dunya mengeluarkan dalam kitab Ash-Shamtu wa Adabu Lisan hal 145 dan juga Abu Nuaim dalam Al-Hilyah (5/41-42) dari Zaid bin Qudamah beliau berkata : Saya berkata kepada Manshur bin Al-Mutamar: Jika aku puasa apakah aku boleh mencela sulthan (penguasa/pemimpin)? Beliau berkata : Tidak boleh. Lalu aku terus bertanya apakah aku boleh mencela Ahli Ahwa (para pengekor hawa nafsu/Ahlul Bidah) ? Beliau menjawab : YA! (boleh).
Ibnu Abdil Barr telah mengeluarkan dalam At-Tamhiid (XXI/287) dengan sanadnya dari Abu Darda ra. bahwa ia berkata, Sesungguhnya awal terjadinya kemunafikan pada diri seseorang adalah cacimakiannya terhadap pimpinan/pemerintahnya.

Ibnu Ab Syaibah rahimahullahu taala berkata dalam Al-Mushannaf XV/75 & II/137-138 : Ibnu Uyainah menceritakan kepada kami dari Ibrahim bin Maisarah dari Thawus, berkata, Pernah disebutkan (nama-nama) para pemimpin negara dihadapan Ibnu Abbas, lalu seseorang sangat bersemangat mencacimaki kehormatan mereka. Lalu dia lakukan demikian sambil meninggi-ninggikan (badannya), sampai-sampai dirumah itu aku tida melihat orang yang lebih tinggi daripadanya. Kemudian aku mendengar Ibnu Abbas ra. berkata,Janganlah engkau jadikan dirimu sebagai fitnah (pemicu kekacauan) bagi orang-orang yang zhalim. Maka serta merta orang tersebut merendahkan tubuhnya sampai-sampai dirumah tersebut aku tida melihat orang yang lebih rendah / merendahkan tubuhnya daripadanya.

D.Tidak Boleh Memberontak Selama Penguasanya Tidak Kafir atau Masih Menegakkan atau mengerjakan Shalat.Dari Ummu Salamah r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda "Akan ada sepeninggalku nanti pemimpin (yang) kalian mengenalnya dan mengingkari (kejelekannya), maka barangsiapa mengingkarinya (berarti) dia telah berlepas diri, dan barangsiapa membencinya (berarti) dia telah selamat, akan tetapi barangsiapa yang meridhoinya (akan) mengikutinya". Mereka para sahabat bertanya : Apakah tidak kita perangi (saja) dengan pedang ? Beliau menjawab : "Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat ditengah-tengah kalian". (HR. Muslim 6/23)

Dari Said Al-Khudri beliau berkata : Bersabda Rasulullah SAW :"Akan ada nanti para penguasa yang kulit-kulit kalian menjadi lembut terhadap mereka dan hati-hati pun menjadi tenang kepada mereka. Kemudian akan ada para penguasa yang hati-hati (manusia) akan menjadi benci kepada mereka dan kulit-kulit pun akan merinding ketakutan terhadap mereka". Kemudian ada seorang lelaki bertanya : Wahai Rasulullah, tidakah kita perangi saja mereka ? Beliau bersabda : Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat ditengah-tengah kalian. (As-Sunna Ibnu Abi Ashim hal. 498)

Dari Ubadah bin As-Shamit ra., beliau menceritakan, Kami membaiat Rasulullah SAW untuk mendengar dan taat (kepada pemerintah muslimin) dalam keadaan kami senang atau benci kepadanya, dalam keadaan kesulitan atau kemudahan, dan dalam keadaan kami dirugikan olehnya, dan tida boleh kita memberontak kepada pemerintah. Kemudian beliau SAW bersabda : "Kecuali kalau kalian melihat kekafiran yang nyata dan kalian mempunyai bukti dari Allah pada perbuatan pemerintah tersebut". (HR. Bukhari dan Muslim)

E.Tercelanya melakukan tanzhim rahasia (Gerakan bawah tanah)
Dari Ibnu Umar ra. Berkata, Seseorang datang kepada Rasulullah SAW lalu bertanya : Wahai Rosulullah, berwasiatlah kepada kami. Maka Rasulullah SAW bersabda : "Dengarlah, taatlah, wajib bagi kalian dengan (sikap) terang-terangan (terbuka), dan hati-hatilah kalian dari (rencana) rahasia". (Hadits shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal)

F.Perintah Bagi Mukmin untuk bersabar menghadapi pemimpin yang zhalim
Dari Anas berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Sepeninggalku nanti kalian akan menemui atsarah (pemerintah yang tidak menunaikan haq rakyatnya-ed) maka bersabarlah sampai kalian menemuiku". (HR. Bukhari dan Muslim) Dari Anas bin Malik berkata : Para pembesar kami dari kalangan sahabat Muhammad SAW melarang kami. Mereka berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kalian mencela pemimpin-pemimpin kalian, janganlah kalian dengki kepada mereka dan janganlah kalian membenci mereka, (akan tetapi) bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya perkaranya (adalah) dekat". (Hadits shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal, hal 474 no. 1015)

Dari Abdullah bin Abbas ra. bahwa Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa melihat sesuatu yang ia benci ada pada pemimpinnya maka hendaklah ia bersabar, karena barangsiapa melepaskan diri dari Al-Jamaah meskipun sejengkal maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah". (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim, "Barangsiapa membenci sesuatu dari pemimpinnya (pemerintah) maka hendaklah ia bersabar. Karena tida adak seorang manusiapun yang keluar dari (kekuasaan) penguasa meskipun sejengkal lalu dia mati dalam keadaan demikian( benci, memberontak dll ), melainkan matinya tak lain dalam keadaan mati jahiliyyah".

G.Buah Dari Mengikuti Sunnah
Dari Abul Yaman Al-Hauzani dari Abu Darda ra. beliau berkata : Hati-hati kalian, jangan kalian melaknat para penguasa. Sebab, sesungguhnya melaknat mereka adalah kemelut dan kebencian terhadap mereka adalah kemandulan yang tidak mendatangkan buah apa-apa. Ada yang menyatakan,Ya Abu Darda, lantas bagaimana kami berbuat jika kami melihat apa yang tidak kami sukai ada pada mereka ? Beliau menjawab,Bersabarlah! Sesungguhnya Allah bila melihat perkara itu ada pada mereka maka Dia akan mencegahnya dari kalian dengan kematiannya.(HR. Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (II/488)

H.Cara Menasehati Penguasa
Dari Iyadh bin Ghanim berkata : Bersabda Rasulullah SAW "Barangsiapa berkeinginan menasehati sulthan (penguasa), maka janganlah melakukannya dengan terang-terangan (di depan umum) dan hendaknya dia mengambil tangannya (dengan empat mata dan tersembunyi). Jika dia mau medengar (nasehat tersebut) itulah yang dimaksud, dan jika tidak (mau mendengar), maka dia telah menunaikan kewajiban atasnya". (Hadits Shahih riwayat Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Al-Hakim, Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal hal. 507 no. 1096)

Dari Ubaidillah bin Al-Khiyar berkata : Aku pernah mendatangi Usamah bin Zaid, kemudian saya katakan kepadanya : Tidakkah kau nasehati Utsman bin Affan agar menegakkan had (hukuman) atas Al-Walid ? Usamah berkata : Apakah kau kira aku tidak mau menasehatinya kecuali dihadapanmu ?! Demi Allah, aku telah menasehatinya antara aku dan dia saja. Aku tidak mau membuka pintu kejelekan kemudian aku menjadi orang pertama yang membukanya. (Atsar shahih riwayat Bukhari dan Muslim)

Demikian tadi di atas telah kita simak beberapa nasehat Rosululloh SAW kepada orang munkmin yg sedang menghadapi pemimpin yg dzalim dll tetapi tentunya masih senantiasa mengerjakan dan melaksanakan syariat-syariat islam yg lainnya seperti sholat, puasa dll. Namun kalau merasa dirinya tidak muslim dan mukmin terserah apa yang akan diperbuat ketika menghadapi pemimpin yg dzalim. Itupun kalau mereka ( yg meberontak dan melawan pemerintahan ) menginginkan keadaan semakin kacau, bukankah dengan apa yang dilakukannya menimbulkan kemaksyiatan yg lebih besar ?. Untuk contohnya dengan perlawanan GAM/TNA, NII malah memicu kedzaliman dari pemerintah yaitu pembunuhan terhadap sesama muslim. dan yang jelas itu GAM/TNA maupun TNI sama-sama tidak berpedoman kepada adab-adab perang dll.

Perhatian...
Janganlah membantah Ayat-ayat Allah SWT maupun Sunnah-sunnah Rosululloh SAW karena dengan membantahnya berarti secara disadari atau tidak dia telah keluar dari agama islam yg syammil ini. Adapun jenis bantahan atau ejekan telah saya kemukakan lewat artikel kemaren lusa, Istihza' sharih dan istihza' ghoiru syarih ( silakan baca lagi )

Nah setelah kami merujuk dan memahami hadist-hadist tersebut di atas maka sangat jelas sekali sikap kami terhadap pemerintahan yang dzalim dll ( pemerintahan RI ) yaitu sami'na wa atho'na dalam hal kebaikan tetapi kalau dlm kemaksyiatan maka terang kami menolaknya.

Sebenarnya hawa nafsu kami pun menginginkan untuk segera merobah keadaan saat ini menjadi keadaan yg lebih baik tentunya dipandang dari Agama Islam yaitu dengan cara memerangi pemerintahan, tetapi karena kami merupakan orang-orang yg faham akan Al-qur'an dan Al-hadist yg Shohih sehingga membatalkan keinginan kami tersebut dan berlaku sabar itulah yg di perintahkan Alloh SWT dan Rosululloh SAW. Ingat adapun hadist tentang melihat kemungkaran di cegah dengan tangan jelas ini bukan dengan perang fisik apalagi terhadap pemimpin yg dzalim jelas tidak boleh memberontak, membenci dll.

Nah setelah kami memahami hadist-hadist di atas maka saya dapat mengatakan bahwasanya NII, GAM/TNA sesuai dengan sabdanya Rosululloh SAW yg berbunyi, "Barangsiapa membenci sesuatu dari pemimpinnya (pemerintah) maka hendaklah ia bersabar. Karena tidak seorang manusiapun yang keluar dari (kekuasaan) penguasa meskipun sejengkal lalu dia mati dalam keadaan demikian( benci, memberontak dll ), melainkan matinya tak lain dalam keadaan mati jahiliyyah" ( HR.Muslim ).

Jadi biar lebih tegas lagi, orang yang mati ( NII, Anggota GAM/TNA ) dlm memperjuangkan nasibnya terhadap pemerintahan yg dzalim maka matinya dalam keadaan mati jahiliyah (Na'udzubillahi min dzalik).
Wallohu'alam bi showab

NB : Untuk sdr Peace org termasuk Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs ingat sabda-sabda Rosululloh SAW di atas. Jelas sekali selama ini anda mengingkari Sabda-sabda Rosululloh SAW terutama tentang hadist yg saya kemukakan lewat mimbar bebas ini dan yg bertentangan dg nafsu anda semua, seperti dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yg sebagian besar berdasar logika dan hawa nafsu tanpa menggunakan rujukan dalil-dalil yg shahih. Seandainya anda ( sdr Peace org ) hidup dlm jaman Rosul tetapi dlm keadaan iman anda seperti ini maka sudah tentu anda cs termasuk Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman akan banyak bertanya dan membantah apa yg di sabdakan Rosululloh SAW karena tidak sesuai dengan nafsu anda cs.

Bagi orang yang tidak berilmu ( Al-qur'an dan Al-hadist ) janganlah coba-coba membantah komentar saya atau kami karena jelas saya mengomentari berdasarkan Al-hadist bahkan Al-qur'an sekaligus dan juga berdasrkan pendapat ulama generasi terdahulu (dalil aqli). Kalau masih ada yg tetap membantah terhadap keterangan-keterangan dalam Al-qur'an dan Al-hadist dan tafsiran ulama terdahulu berarti orang tersebut bukan dari golongan Rosululloh SAW.

Wassalaam

Rokhmawan Agus Santosa

rokh_mawan@yahoo.com
rokh-mawan@plasa.com
solo, jateng, Indonesia
----------