Stockholm, 2 September 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

TEGUH ITU POLRI GUNAKAN ALI IMRON UNTUK DIPAKAI MENJERAT MEREKA YANG DIANGGAP TERORIS
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

TEGUH HARJITO PERLU DIKETAHUI ITU POLRI MENGGUNAKAN ALI IMRON UNTUK DIPAKAI MENJERAT MEREKA YANG DIANGGAP TERORIS

"Pak Ahmad yang insya Allah dirahmati Allah swt. Bapak mungkin sudah membaca berita dibawah ini. Bagaimana tanggapan Bapak terhadap Ali Imron & pihak POLRI? Apakah ada kemungkinan kasus2 pemboman di Indonesia merupakan rekayasa? Terima kasih atas perhatiannya." (Teguh Harjito, teguh.harjito@mas-dna.com , Thu, 2 Sep 2004 15:23:07 +0700)

Terimakasih saudara Teguh Harjito di Indonesia.

Membaca cerita yang dilambungkan oleh detik.com yang menyangkut Ali Imron guru mengaji pada Ponpes Al-Islam Tenggulung, Lamongan, yang telah dijatuhi vonis hukuman seumur hidup terlibat ledakan bom di depan Diskotek Sari Club Legian, Kuta, Bali 12 Oktober 2002, yang telah memakan korban lebih dari 202 jiwa, diantaranya 88 warga Australia, kelihatan "sedang asyik ngobrol, minum dan makan bersama Brigjen Pol Gorries Mere, Direktur Narkoba Mabes Polri yang sering menangani kasus-kasus pengeboman, di Starbuck Cafe, lantai 2 Plaza X jalan MH Thamrin Jakarta Pusat" pukul 18.30 WIB Kemaren Rabu 1 September 2004. Padahal Ali Imron sedang menjalani hukuman seumur hidup di LP Kerobokan di Denpasar, Bali.

Dua abangnya Ali Imron, Amrozi dan Ali Gufron alias Muklas telah dijatuhi vonis hukuman mati. Begitu juga Imam Samudera. Hanya Ali Imron dibandingkan dengan kedua kakaknya dan Imam Samudra adalah orang yang paling lemah dan tidak tahan dan tidak teguh dalam memagang keyakinannya atas apa yang telah dikerjakannya. Dan mudah sekali menyerah. Karena itulah Ali Imron ini tidak dijatuhi hukuman mati, melainkan dijatuhi hukuman seumur hidup. Sekarang sedang meminta grasi kepada Megawati.

Sekarang kalau kita lihat dan perhatikan sistem peradilan di RI ini dimana didalamnya termasuk penanganan para terhukum, yang dikenal dengan nama pemasyarakatan. Dimana walaupun dihukum dalam penjara, tetapi kalau melihat kepada istilahnya, berarti dimasyarakatkan. Artinya orang yang dijatuhi vonis hukuman karena melakukan tindak pidana kejahatan akan dihukum dengan melalui jalan pembentukan perilaku agar nantinya bisa kembali ke masyarakat. Memang itu kdengarannya ideal. Tetapi belum tentu dan tidak pasti dalam pelaksanaannya. Atau hanya sekedar untuk menutup-nutupi saja, dari istilah tempat teror atau tempat penyiksaan.

Jadi menyinggung kasus Ali Imron yang sedang menjalani hukuman seumur hidup dan sambil menunggu grasi dari Presiden, di LP Kerobokan di Denpasar, Bali. Ternyata kemaren kepergok oleh wartawan detik.com sedang asyik ngobrol, minum dan makan bersama Brigjen Pol Gorries Mere di Starbuck Cafe, lantai 2 Plaza X jalan MH Thamrin Jakarta Pusat. Bukan hanya dengan Mere saja Ali Imron ngobrol melainkan juga dengan psikolog Dr. Sarlito Wirawan.

Dibawanya Ali Imron berjalan-jalan ke Jakarta oleh Brigjen Pol Gorries Mere memang tidak menyalahi aturan. Hanya yang ditekankan disini adalah kalau saya melihat adalah mengenai metode yang dipakai oleh pihak Kepolisian dalam usaha mengembangkan kasus dan melakukan penyidikan kasus, dengan cara mempergunakan teknik yang berupa penipuan licik terselubung.

Perhatikan saja, dengan dibawanya Ali Imron ngobrol dengan santai ditempat yang mewah sambil minum kopi dengan didampingi seorang psikolog, menandakan bahwa pihak Kepolisian sedang kesulitan untuk mendapatkan informasi dari tempat atau sumber lain. Dan saya yakin itu ada hubungannya dengan kasus teroris. Apakah itu peledakan bom, atau ada hubungannya dengan kasus Abu Bakar Basyir. Karena memang Ali Imron ini adalah salah satu anggota inti yang mengadakan aksi penentangan terhadap Amerika melalui cara peledakan bom ditempat-tempat yang dianggap penuh maksiat yang tempatnya dimiliki oleh orang Amerika atau yang bersekutu dengan Amerika. Tetapi salah seorang yang paling lemah dalam mempertahankan keyakinan atas aksi teror peledakan bom-nya.

Karena memang Ali Imron dianggap oleh pihak Kepolisian memiliki informasi yang banyak yang ada hubungannya dengan tindakan teroris dan peledakan bom juga dengan Abu Bakar Basyir, maka kesempatan inilah yang dimanfaatkan oleh pihak Brigjen Pol Gorries Mere untuk mengorek dan memancing informasi yang dianggapnya berharga dalam rangka pengembangan kasus.

Celakanya kalau Ali Imron ini mudah ditipu dan diiming-iming dengan grasi atau segala macam janji muluk. Sehingga bisa mengeluarkan dan memuntahkan semua informasi yang dimilikinya. Sehingga yang tadinya tidak diketahui, bisa terbuka kegiatannya. Inilah yang diharapkan dan sedang dijalankan oleh pihak Kepolisian, khususnya yang sedang dijalankan oleh Brigjen Pol Gorries Mere yang dibantu oleh psikolog Sarlito Wirawan

Dimana Sarlito Wirawan seorang psikolog bisa menangkap dari gerak perilaku dan cara menjawab dan cara berbicara Ali Imron jika Ali Imron berbicara dibuat-buat atau memang berbicara benar. Jadi minimal informasi yang bisa dikorek dari mulut Ali Imran walaupun tidak banyak, tetapi akan sangat membantu dalam pengembangan kasus yang sedang dijalankan oleh pihak Brigjen Pol Gorries Mere.

Sekarang mengapa Ali Imron yang diajak jalan-jalan sambil minum kopi di tempat mewah di Jakarta, bukan abang-abangnya, Amrozi atau Ali Gufron alias Muklas atau Imam Samudera ?. Jelas orang tiga ini tidak bisa diajak kerjasama oleh pihak Kepolisian. Dan ketiga orang ini tidak mau membukakan semua informasi dan kebanyakan menyatakan penolakan atas tuduhan-tuduhan yang dituduhkan kepadanya. Sehingga tanpa ayal lagi dijatuhi hukuman mati. Sedangkan Ali Imron, bukan menolak bahkan sambil terisak-isak menangis dan menyatakan penyesalannya tidak akan mengulangi lagi perbuatannya dan meminta ampun. Dan semua anak murid dan santri-santrinya diberitahukan untuk tidak melakukan dan mencontoh langkah jejaknya.

Jadi dari segi itulah kalau saya melihat apa yang dilakukan oleh pihak Kepolisian bersama Ali Imron dalam usaha mengembangkan kasus, yang kemungkinan kasus teroris atau yang ada hubungannya dengan kasus Abu Bakar Basyir, yang sampai detik sekarang ini beliau masih tetap bungkam tidak mau membukakan informasi sedikitpun. Inilah yang sangat memberatkan dan menyulitkan bagi tim Jaksa penuntut dan tim Kepolisian untuk menjerat dan menuntut kepada Abu Bakar Basyir. Karena Abu Bakar Basyir menganggap apa yang ditutuduhkan pada dirinya itu merupakan usaha komplot dan pesanan dari George W. Bush.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.com
ahmad@dataphone.se
----------

From: "teguh H" <teguh.harjito@mas-dna.com>
To: "'Ahmad Sudirman'" <ahmad@dataphone.se>
Subject: FW: ck..ck..ck...
Date: Thu, 2 Sep 2004 15:23:07 +0700

Assalamu 'alaikum wr. wb.

Pak Ahmad yang insyaallah dirahmati Allah swt, Bapak mungkin sudah membaca berita dibawah ini. Bagaimana tanggapan Bapak terhadap Ali Imron & pihak POLRI? Apakah ada kemungkinan kasus2 pemboman di Indonesia merupakan rekayasa? Terima kasih atas perhatiannya.

Wassalamu 'alaikum wr. wb.

Teguh Harjito

teguh.harjito@mas-dna.com
Jakarta, Indonesia
---------

detikcom - Jakarta, Tahanan bom Bali keluyuran? Di Jakarta pula, di kafe pula, dan bersama polisi pula. Ada apa? Kok bisa?
Pukul 18.30 WIB, Rabu (1/9/2004), detikcom memergoki seorang tahanan bom Bali, yakni terpidana seumur hidup bom Bali Ali Imron. Dia sedang dugem bersama Brigjen Pol Gorries Mere, Direktur Narkoba Mabes Polri yang kerap menangani kasus-kasus pengeboman.

Mereka berdua bersama 8 orang lainnya sedang asyik ngobrol, minum dan makan di Starbuck Cafe, lantai 2 Plaza X jalan MH Thamrin Jakarta Pusat. Informasi menyebutkan mereka berada di lokasi sejak pukul 15.00 WIB.

Imron dan Gorries duduk satu meja dengan 6 orang lainnya. Mereka merupakan pria setengah baya, rata-rata berkepala botak dan beruban. Salah seorangnya adalah Psikolog Dr Sarlito Wirawan yang duduk di sebelah Gorries. Satu meja persis di sebelahnya ada 2 polisi berpakaian preman.

Gorries mengenakan kemeja dan celana hitam. Sedangkan Imron yang terlihat berperawakan gemuk dan terawat itu mengenakan kemeja hijau tua kotak-kotak garis kuning, celana bahan abu-abu gelap, sepatu pantopel dan bertopi biru tua.

Imron kebanyakan diam, hanya sesekali tertawa dan ngobrol dengan orang di sebelahnya. Sedangkan yang lainnya ngobrol dengan Gorries yang tampak seru bercerita sambil berkali-kali menggerakkan tangannya memberikan gambaran pada ceritanya.

Saat detikcom melintasi mereka, tampak gelas-gelas minuman dan piring-piring kecil yang di meja mereka sudah kosong. Tak lama kemudian, pelayan mengangkatnya.

Mereka tampak rileks ngobrol sambil menggoyangkan kaki mendengarkan alunan musik. Sekitar pukul 19.00 WIB, tiga orang di antaranya meninggalkan lokasi. Mereka saling bersalaman dan cipika-cipiki, juga dengan tahanan bom Bali.

Gorries dan Imron masih di lokasi bersama lima orang lainnya. Mereka melanjutkan obrolan. Gorries beberapa kali tampak berbicara dengan ponselnya. Pukul 19.10 WIB, mereka meninggalkan kafe. (sss)
----------