Stockholm, 3 September 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

BENTENG PERTAHANAN WAHABIYIN ROKHMAWAN & SALAFI-SOLO-WAHABI-SAUDI KEBOBOLAN
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS SUDAH KELIHATAN ITU BENTENG PERTAHANAN WAHABIYIN ROKHMAWAN DAN SALAFI-SOLO-WAHABI-SAUDI KEBOBOLAN

"Sdr Sumitro jangan anda katakan kalau mereka dibekali ilmu agama melainkan ilmu agama ( Al-qur'an ) berdasarkan tafsiran seenak udele dewe. Lihat saja mereka terutama Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman yg mereka (GAM/TNA, NII) anggap sebagai ustazd ternyata tidak mampu berkata banyak menghadapi salah satu orang islam yg bermanhaj lurus kecuali hanya berkoar-koar tanpa arah, nabrak sana nabrak sini walhasil pusing tujuh keliling. Di tanya soal pengertian hadist atau assunnah saja tidak mau menjawabnya, sebenarnya dia sudah tahu tetapi kalau ia jawab maka semua yang ada dalam NII, GAM/TNA banyak yg bertentangan dg Al-qur'an dan Al-hadist atau paling tidak mereka (NII, GAM/TNA) mengamalkan hanya sebagian kecil saja, seperti perang dan hijrah itupun pengertiannya hanya berdasarka makna harfiah saja yaitu bukan makna yg sebenarnya, hayo jawab Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman perang yg bagaimana yg dimaksud dalam Al-qur'an begitupun hijrah?" (Rokhmawan , rokh_mawan@yahoo.com , Thu, 2 Sep 2004 20:18:27 -0700 (PDT))

Baiklah Rokhmawan Agus Santosa dan Salafi di Solo, Jawa Tengah, Indonesia.

Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi kalau kalian mau membaca dan memahami komentar saudara Peace org yang dilambungkan di ahmad.swaramuslim.com yang tertulis: "semua ucapan2 itu keluar hanya sekedar pelampiasan kekesalan karena tdk mampu mempertahankan argumentasinya dan tanggapan apapun yg diberikan oleh peserta yg lain dianggap angin lalu, tdk digubris, dan tdk dipelajari dan dipahami.Kalau sudah begitu sulitlah lagi utk diajak berdiskusi. Barangkali sekedar saran sebaiknya pak rokhmawan menenangkan diri dulu, tdk usah mengumbar hawa nafsu ingin menang sendiri dan sok tahu ilmu islam. Coba dipahami itu apa yg disanggah dari pernyataan2 dia, teliti, barangkali ada kelemahan dlm argumentasinya, lalu siapkan bantahan yg lain yg lebih kuat dan ilmiah, jangan sekedar asal cuap yg hanya akan menandakan kebodohan diri sendiri" (Commented by Peace ORG on 03 Sep, 04 - 6:55 pm )

Kalaulah Ahmad Sudirman adalah Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi, lalu membaca komentar saudara Peace, maka Ahmad Sudirman terdiam termenung, memikirkan secara mendalam, menganalisa apa yang sudah ditulis, menggali kembali sumber-sumber yang dijadikan sebagai bahan referensi. Kemudian timbul pertanyaan, mengapa saudara peace memberikan komentar dan saran yang demikian ?

Tetapi sayang Ahmad Sudirman tidak bisa menjelma menjadi Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi, sehingga apa yang tergambar dalam profil dan bayangan Ahmad Sudirman tidak tergambar dalam profil dan bayangan pemikiran Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi.

Akhirnya apa yang terjadi pada diri Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi tidak lebih dan tidak kurang selain sebagai sosok tubuh yang otaknya tidak bisa diisi dengan siraman ilmu pengetahuan dan hikmah yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya baik melalui hasil ciptaan-Nya maupun melalui Rasul-Rasul-Nya.

Terbukti sekarang, dari apa yang ditampilkan Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi untuk menanggapi apa yang ditulis Ahmad Sudirman dan saudara Ham Am dari Kuala Lumpur, Malaysia. Ternyata hanya berisikan keminiman otaknya dari percikan ilmu pengetahuan yang telah dilimpahkan Allah SWT kepada hamba-Nya.

Coba saja perhatikan ketika saudara Ham Am mebeberkan salah satu dari cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan erat dengan Al Quran, yakni ilmu bahasa Arab, yang terurai menjadi ilmu nahwu, ilmu sharaf, balaghah, dan ilmu bahasa. Lalu ilmu Syariat yang terurai menjadi ilmu tafsir, hadists dan mushthalah hadists, fiqh dan Ushul Fiqh, dan ilmu kalam. Kemudian ilmu sejarah. Dan tentu saja Al Hikmah dan filsafah (ilmu-ilmu selain bahasa dan agama).

Dari apa yang ditampilkan oleh saudara Ham Am tentang hadist yang dijadikan dasar dalil naqli oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi untuk tetap taat dan patuh kepada pimpinan zhalim, yang berbunyi: "Dari Hudzaifah bin Yaman berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku, dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul (pula) ditengah-tengah kalian orang-orang (dikalangan penguasa) yang hatinya adalah hati syaithan dalam wujud manusia. Aku (Hudzaifah) bertanya : Apa yang harus saya perbuat jika aku mendapatinya? Beliau bersabda : (Hendaknya) kalian mendengar dan taat kepada amir, meskipun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu". (Hadits shahih riwayat Muslim dalam Shahihnya no. 1847 (52))

Ternyata saudara Ham Am walaupun hadist itu tidak dituliskan dalam bahasa Arab, melainkan dalam bahasa melayu, tetapi agar supaya bisa dimengerti hadist itu, maka saudara Ham Am mengupasnya dari sudut ilmu bahasa Arab yang mencakup nahwu dan sharaf. Walaupun yang akan dikupasnya tidak ditulis dalam bahasa Arab, tetapi tidaklah menjadi suatu halangan besar. Karena ilmu tatabahasa Arab sudah jelas bisa diterapkan dan dijadikan alat uji bagi kalimat-kalimat yang berasal dari bahasa Arab, walaupun sudah diterjemahkan kedalam bahasa lain. Nah disinilah kelebihan dan kemampuan saudara Ham Am melihat dan menganalisa kata-perkata dalam isi hadist ini.

Memang Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi tidak ada yang namanya ilmu tafsir hadist, yang ada adalah ilmu Syariat yang terdiri dari ilmu tafsir, hadists dan mushthalah hadists, fiqh dan Ushul Fiqh, dan ilmu kalam. Dan ilmu bahasa Arab yang meliputi ilmu nahwu, ilmu sharaf, balaghah, dan ilmu bahasa.

Nah melalui cabang ilmu bahasa Arab yang bernama nahwu dan sharaf inilah saudara Ham Am menganalisa kata-perkata dari isi hadist tersebut, walaupun telah diterjemahkan kedalam bahasa melayu. Dan inilah cara yang terbaik untuk mengetahui, memahami, menganalisa, maksud dan tujuan dari isi hadist yang aslinya ditulis dalam bahasa Arab.

Karena Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi tidak menguasai ilmu bahasa Arab, maka tidak akan pernah mampu berbicara atas ilmu bahasa Arab dengan cabang-cabangnya.

Selanjutnya Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi menulis: "Sdr Sumitro jangan anda katakan kalau mereka dibekali ilmu agama melainkan ilmu agama (Al-qur'an) berdasarkan tafsiran seenak udele dewe. Lihat saja mereka terutama Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman yg mereka (GAM/TNA, NII) anggap sebagai ustazd ternyata tidak mampu berkata banyak menghadapi salah satu orang islam yg bermanhaj lurus kecuali hanya berkoar-koar tanpa arah, nabrak sana nabrak sini walhasil pusing tujuh keliling"

Kemudian, apakah bisa diterima oleh orang-orang yang berpikiran waras dan berilmu, kalau Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi menulis hanya sekedar menuliskan ungkapan kata: "Lihat saja mereka terutama Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman yg mereka (GAM/TNA, NII) anggap sebagai ustazd ternyata tidak mampu berkata banyak menghadapi salah satu orang islam yg bermanhaj lurus kecuali hanya berkoar-koar tanpa arah, nabrak sana nabrak sini walhasil pusing tujuh keliling"

Dari segi mana, apa yang telah ditulis oleh Ahmad Sudirman ketika menanggapi hadist-hadist yang dikopikan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi, dianggap sebagai bentuk tanggapan "berkoar-koar tanpa arah, nabrak sana nabrak sini" ?.

Ahmad Sudirman tidak pernah sekalipun memberikan tanggapan terhadap tulisan atau pendapat Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi dengan cara "berkoar-koar tanpa arah, nabrak sana nabrak sini".

Bahkan Ahmad Sudirman menjelaskan dari sudut aqli dan naqli. Apa itu aqli dan naqli. Mengapa hadist-hadist yang dikopikan Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi tidak bisa diterapkan dalam Negara RI dengan maksud untuk taat dan patuh pada pimpinan yang zhalim. Kemudian disinggung juga dasar ilmu pengetahuan daruri dan pengetahuan nadhari yang dijadikan dasar dibangunnya NII.

Tetapi ternyata apa yang dijelaskan Ahmad Sudirman tetap saja ditolak oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi dengan alasan: "Di tanya soal pengertian hadist atau assunnah saja tidak mau menjawabnya, sebenarnya dia sudah tahu tetapi kalau ia jawab maka semua yang ada dalam NII, GAM/TNA banyak yg bertentangan dg Al-qur'an dan Al-hadist atau paling tidak mereka (NII, GAM/TNA) mengamalkan hanya sebagian kecil saja, seperti perang dan hijrah itupun pengertiannya hanya berdasarka makna harfiah saja yaitu bukan makna yg sebenarnya"

Coba saja ketika Ahmad Sudirman memberikan jawaban atas komentar Mazda yang berbunyi: "Oh ya saya mau sedikit kasih koment soal tulisan Ahmad Sudirman bahwa pendirian NII berdasar Al Qur'an dan hadits sohih. Itu cuman berhenti disitu aja ya. Kok nggak jelas berdasar Al Quran dan hadits berdasarkan pemahaman siapa tuh. Apa pemahamannya Kartosuwiro atau pemahaman Al Quran dan hadits menurut dengkulnya Ahmad Sudirman, kalo menurut dengkulnya Ahmad Sudirman buang aja deh artikel itu ke tong sampah, soalnya nggak ada nilainya lagipun yang bikin sedang fly karena koplo." (Mon, 30 Aug 2004 21:19:34 -0700 (PDT)). Dan ditulis dalam tulisan "Mazda & Wahabiyin Rokhmawan itu NII berdiri berdasar dalil aqli & naqli" (3 September 2004). Ternyata dijawab oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi sebagaimana yang diungkapkannya diatas: "Di tanya soal pengertian hadist atau assunnah saja tidak mau menjawabnya, sebenarnya dia sudah tahu tetapi kalau ia jawab maka semua yang ada dalam NII, GAM/TNA banyak yg bertentangan dg Al-qur'an dan Al-hadist atau paling tidak mereka (NII, GAM/TNA) mengamalkan hanya sebagian kecil saja, seperti perang dan hijrah"

Inilah memang suatu bukti tanda kepicikan dan kedangkalan ilmu pengetahuan syariat, bahasa, dan sejarah, yang dimiliki oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi.

Dan tentu saja inilah akibat dari kungkungan paham wahabi. Sehingga kalau tidak didasarkan pada paham wahabi dengan dakhwah salafiyyahnya, maka apapun yang dijelaskan, baik itu dilihat dari pengetahuan daruri ataupun dari pengetahuan nadhari, tetap saja oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi dianggap bertentangan dengan Al-Qur'an dan Al-Hadist.

Selanjutnya, karena memang Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi sudah kebobolan benteng pertahanannya, tetapi karena masih juga tidak menyadari akan kekurangan yang ada pada dirinya, dan masih menganggap apa yang ada dalam otaknya adalah benar, maka dilambungkannya lagi tantangan: "hayo jawab Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman perang yg bagaimana yg dimaksud dalam Al-qur'an begitupun hijrah?"

Nah, coba perhatikan baik-baik oleh seluruh peserta mimbar bebas ini, baik yang ada di Negeri Acheh ataupun yang ada di RI. Sudah tidak berhasil meloloskan kopian hadist-hadist untuk dijadikan dasar naqli guna dipakai pedoman taat dan patuh kepada Megawati, lalu sekarang merembet ke masalah perang dan hijrah.

Mengapa Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi merembet ke masalah perang ? Karena dengan akal bulusnya, kalau bisa itu masalah perang bisa dijadikan alat untuk menghantam kepada GAM dan TNA, tetapi tidak dipakai untuk menghantam TNI dan mbak Megawati.

Begitu juga dengan masalah hijrah. Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi bermaksud dan bertujuan untuk menghantam GAM. Alasannya bahwa hijrah yang diterapkan oleh GAM adalah hijrah menurut harfiyah. Sedangkan hijrah yang dimaksud oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi dengan paham wahabinya adalah "pindah dari amalan keburukan kepada amalan kebaikan".

Karena itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi mengenyampingkan ayat-ayat yang berisikan Hajaru (berhijrah), seperti yang di Firmankan dalam surat Al Anfal, yang diulang-ulang sampai lima kali dalam surat Al-Anfal (harta-harta rampasan perang) pada ayat 72, 74, 75 yang diturunkan seluruhnya di Madinah berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua Hijrah menurut riwayat Ibnu Abbas ra. Dan juga Karena pentingnya itu perintah berhijrah, pada ayat 72 surat Al-Anfal sampai diulang tiga kali. Begitu juga dalam surat Al Baqarah, QS 2: 218, Al Ahzab, QS 33: 50, Ali 'Imran, QS 3: 195, At Taubah, QS 9: 20, An Nahl, QS 16: 41, 110, Al-Haj, QS 22: 58, An-Nisa, QS 4: 89, 97, 100.

Disamping mengenyampingkan ayat-ayat hajaru diatas, Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi tidak mengakui hijrah yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah saw pada bulan Rajab tahun ke 5 kenabian ke Negeri Abyssinia.

Selanjutnya mengenai masalah perang. Jelas dasar pengetahuan nadhari atau naqlinya ada. Misalnya perang pertama yang dicontohkan Rasulullah saw ketika perang Badr pada bulan Jumadil Awwal tahun 2 H.

Dimana Rasulullah saw menghadapi pasukan Abu Jahal dan Utbah bin Rabi'ah yang datang untuk menyerang Daulah Islamiyah Yatsrib dan mereka berhadapan dengan pasukan kaum muslimin di Badr. Sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur'an: "Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya, mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu). Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir" (QS, Al-Anfal, 8: 5-7)

Dasar naqli diatas ini yang menyangkut perang badr adalah bisa dijadikan sebagai pegangan untuk mempertahankan serangan dari kaum yang dipimpin oleh Abu Jahal dan Utbah bin Rabi'ah yang ingin menghancurkan Daulah Islamiyah yang didalamnya ada kaum muslimin, perangkat lembaga Daulah Islamiyah.

Sebelum perang Badr telah dideklarkan perang oleh Allah SWT sebagaimana yang tertuang dalam QS, Al-Anfal, 8: 5 diatas. Ini jelas menunjukkan bahwa kalau ada pihak luar yang akan menyerang daulah Islamiyah Yatsrib, maka wajib untuk mempertahankan dan membelanya.

Sekarang kita hubungkan dengan Acheh. Kalau dari pihak RI dibawah Megawati dan TNI/POLRI telah mendeklarkan perang berdasarkan Keppres No.28/2003 untuk menyerang rakyat Acheh di Negeri Acheh, maka wajib rakyat Acheh untuk mempertahankan diri keluar rumah guna menghadapi kaum penyerang TNI/POLRI. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw ketika menghadapi pasukan Abu Jahal dan Utbah bin Rabi'ah di medan perang Badr.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Thu, 2 Sep 2004 20:18:27 -0700 (PDT)
From: rohma wawan rokh_mawan@yahoo.com
Subject: Fwd: GAM/ASNLF PIMPINAN HASAN TIRO ADALAH KUMPULAN PARA RASIS.
To: ahmad@dataphone.se
Cc: ahmad_jibril1423@yahoo.com, hudoyo@cbn.net.id, sea@swipnet.se, siliwangi27@hotmail.com, habearifin@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com, yuhe1st@yahoo.com, dityaaceh_2003@yahoo.com, megawati@gmt.net, hassan.wirayuda@ties.itu.int, alchaidar@yahoo.com, perlez@nytimes.com, syifasukma@yahoo.com, imarrahad@eramuslim.com, viane@kon-x.com, muhammad59iqbal@yahoo.com, husaini54daud@yahoo.com, abu_farhan04@yahoo.com

Bismillaahirrohmaanirroohiim
Assalaamu'alaikum Wr.Wb

Itu Sdr Ham Am cs Benar-benar Tidak Mengerti Ilmu Tafsir

Sdr Sumitro jangan anda katakan kalau mereka dibekali ilmu agama melainkan ilmu agama ( Al-qur'an ) berdasarkan tafsiran seenak udele dewe. Lihat saja mereka terutama Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman yg mereka (GAM/TNA, NII) anggap sebagai USTAZD ternyata tidak mampu berkata banyak menghadapi salah satu orang islam yg bermanhaj lurus kecuali hanya berkoar-koar tanpa arah, nabrak sana nabrak sini walhasil pusing tujuh keliling. Di tanya soal pengertian hadist atau assunnah saja tidak mau menjawabnya, sebenarnya dia sudah tahu tetapi kalau ia jawab maka semua yang ada dalam NII, GAM/TNA banyak yg bertentangan dg Al-qur'an dan Al-hadist atau paling tidak mereka (NII, GAM/TNA) mengamalkan hanya sebagian kecil saja, seperti PERANG dan HIJRAH itupun pengertiannya hanya berdasarka makna harfiah saja yaitu bukan makna yg sebenarnya, hayo jawab Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman PERANG yg bagaimana yg dimaksud dalam Al-qur'an begitupun HIJRAH ?

Kemudian saya, kami dan orang-orang yg berilmu kalau membaca komentar si Ham am maka akan geli dicampur gemas. Memang kalau orang yg nggak paham ilmu tafsir itu untuk siapa maka begitu membaca komentarnya, akan manggut-manggut sambil berkata dlm hati (Nah dikarain GAM/TNA itu bodoh).

Sebenarnya bukan bodoh hanya jahil terhadap tafsir Al-qur'an. Saya persingkat saja karena ini hari jum'at, begini sdr Ham Am yang berlagak jadi pahlawannya GAM/TNA atau tangan kanan Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman, yang dinamakan ilmu tafsir, nahwu-shorof, mantik, lughog, nasukh mansuhk dll itu adalah ilmu tafsir Al-qur'an bukan ilmu tafsir hadist.

Karena pertama, itu hadist untuk menafsirkan Ayat-ayat Al-qur'an, kedua itu hadist maknanya jelas, tidak mengandung kiasan. Berbeda dg Ayat Al-qur'an yang memang diperlukan ilmu tafsirnya, kadang maksud didalamnya tidak sebagaimana bunyi terjemahannya (seperti di situ kita disuruh membasuh kepala kalau sedang berwudlu) nah ini khan Al-qur'an jadi harus mengikuti tafsiran ataupun yang dicontohkan Rosululloh SAW dst. Akan tetapi kalau itu Ayat Al-qur'an sudah ditafsirkan oleh Rosululloh SAW dlm praktek kehidupannya atau para sahabat, tabi'in kemudian masih saja pingin/minta ditafsirkan maka penafsir kedua ini batal begitu pula dengan hukum-hukum atau apa-apa yg tidak ada dalam Al-qur'an maka disabdakanlah oleh Rosululloh SAW dalam Al-hadist Shahihnya, akan tetapi karena ini (Al-hadist) maksudnya adalah jelas dan terang tidak mengandung kiasan (yang berkata adalah bukan Alloh SWT melainkan seorang manusia biasa yg diberi kewahyuan sebagai Rosululloh) maka tidak diperlukan itu tafsirannya paling yg diperlukan hanya penjelasannya , namun apabila ada yg menafsirkan setiap huruf dlm Al-hadist maka tafsiran ini batal.

Ingat tidak pernah ditemukan Ilmu Tafsir Al-hadist yang ada adalah ilmu Al-hadist serta sanadnya yg lengkap. Sdr Ham am jangan-jangan tidak tahu itu yg dinamakan Ilmu Hadist ?, inilah salah satu kejahilan orang GAM/TNA, NII yaitu menafsirkan setiap huruf atau kata dalam Al-hadist.

Sana belajar lagi tentang Ilmu Tafsir Al-qur'an dan Ilmu Al-hadist (kok Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman menampilkan tulisan yg menggelikan ini ya).

Wahai Sdr Ham an yg begitu lugu tapi sok tahu sebaiknya ikuti saja saran saya kemaren yaitu duduk, diam yg manis dan saksikan, ikuti perdebatan saya dengan Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman, karena kalau anda ikut-an dan sok tahu maka hasilnyapun akan ditertawakan orang-orang islam yg paham Ilmu Tafsir Al-qur'an dan Ilmu Al-hadist.

Jangankan anda sdr Ham an, Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah pun tidak mampu berbuat banyak (paling seputar Al-maidah 44, 45, 47 dan sejarah aceh yg penuh hawa nafsu) di mimbar bebas ini. Wallohu'alam bi showab

Wassalaam

Rokhmawan Agus Santosa

rokh_mawan@yahoo.com
rokh-mawan@plasa.com
solo, jateng, Indonesia
----------