Kuala Lumpur, 4 September 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ROKHMAWAN TAFSIRKAN BIRU UUSIKUM TAPI JANGAN GUNAKAN ILMU TAFSIRMU
Ham Am
Kuala Lumpur - MALAYSIA.

 

ROKHMAWAN COBA TAFSIRKAN BIRU UUSIKUM TAPI JANGAN GUNAKAN ILMU TAFSIRMU

"Itu hadist untuk menafsirkan Ayat-ayat Al-qur'an, kedua itu hadist maknanya jelas, tidak mengandung kiasan. Berbeda dg Ayat Al-qur'an yang memang diperlukan ilmu tafsirnya, kadang maksud didalamnya tidak sebagaimana bunyi terjemahannya ( seperti di situ kita disuruh membasuh kepala kalau sedang berwudlu ) nah ini khan Al-qur'an jadi harus mengikuti tafsiran ataupun yang dicontohkan Rosululloh SAW dst. Akan tetapi kalau itu Ayat Al-qur'an sudah ditafsirkan oleh Rosululloh SAW dlm praktek kehidupannya atau para sahabat, tabi'in kemudian masih saja pingin/minta ditafsirkan maka penafsir kedua ini batal begitu pula dengan hukum-hukum atau apa-apa yg tidak ada dalam Al-qur'an maka disabdakanlah oleh Rosululloh SAW dalam Al-hadist Shahihnya," (Rokhmawan, Thu, 2 Sep 2004 20:18:27 -0700 (PDT))

Wahai pembaca yang baik hati. Bila kita perhatikan tulisan Rokhmawan di atas, jelas mencerminkan kelemahan ilmu alatnya. Tapi tak mengapa saya pun tak juga pandai semua ilmu ini. Saya mengaku kalau saya bodoh. Yang di paparkan di atas sangat jauh panggang dengan api, kerana yang saya maksud kan:

"Dalam surat Al-Maaidah, ayat ke 6 ada tertulis biru uusikum, mungkin anda Rokhmawan akan tafsir kan Allah menyuruh kita basoh seluruh kepala ketika ber wuzuk, sebab kalau ikot ulama atau Nabi basoh sedikit rambut saja. Jadi apakah yang lain tak termasok kepala?". Tapi sebetulnya saya tak mau mempertikaikan ayat ini, namun ketika Rokhmawan mengurai kan:

"Akan tetapi kalau itu Ayat Al-qur'an sudah ditafsirkan oleh Rosululloh SAW dlm praktek kehidupannya atau para sahabat, tabi'in kemudian masih saja pingin/minta ditafsirkan maka penafsir kedua ini batal begitu pula dengan hukum-hukum atau apa-apa yg tidak ada dalam Al-qur'an maka disabdakanlah oleh Rosululloh SAW dalam Al-hadist Shahihnya," (Rokhmawan, Thu, 2 Sep 2004 20:18:27 -0700 (PDT))

Dengan jawaban Rokhmawan di atas mencerminkan dia sangat takot kalau saya suruh dia tafsirkan biru uusikum Al-Maa-idah ayat 6 itu. Kita tafsir yang tak lari dari tafsir Rasulullah.

Ok mari pembaca sekalian kita test kepakaran syaikhuna Rokhmawan dalam mentafsirkan ayat ini, Saya akan cipta kan 1 pertanyaan tentang ayat ini.

Ok, secara bodoh [kasar] biru uusikum disini Allah perintahkan kita basoh kepala, yang dinamakan kepala adalah seluruh kepala [rambut]. Ini seluruh kamus dalam duniapun tetap artinya seluruh kepala atau satu kepala yang disuruh basuh. Amar disini wajib. Tapi ramai orang ketika berwuzuk basuh kadar 3 helai rambut. Alasan ikut ulama. Ulama ikot Nabi saw. Nah saudara Rokhmawan, kenapa disini Nabi tak ikut Al-Quran? padahal ini perintah Allah. Tentu anda menjawab ayat ini perlu ditafsir kan? Sila tafsir kan.

Nah yang ingin saya tanyakan untuk pengetahuan kita bersama dimimbar ini adalah:

cuba syaikhuna Rokhmawan tafsirkan hadist ini sehingga membolehkan kita basoh kadar beberapa helai rambut saja. Pertanyaan ini sangat senang. Tapi ternampak kedangkalan dari cara anda menangkis, maka saya ingin pastikan ilmu alat anda.

Disini ada syarat, kalau anda pandai, tafsirlah biru uusikum dengan tak usah guna ilmu tafsir anda, gunakan satu ilmu saja, yaitu kaidah nahwu tingkat tinggi.

Nampaknya disini saya bertanya. Tapi sebenarnya saya ingin menimba sedikit ilmu dari anda. Sebelumnya saya mohon sejuta maaf atas kata kasar saya.

wallahu 'aklam

Wassalam

Ham Am

nacara2004@yahoo.com
Kuala Lumpur, Malaysia
----------