Stockholm, 4 September 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MAZDA INGIN SEMUA ORANG ISLAM DIGIRING KE ALAM PAHAM WAHABI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS KELIHATAN ITU MAZDA MENGINGINKAN SEMUA ORANG ISLAM DIGIRING KE ALAM PAHAM WAHABI DENGAN DAKHWAH SALAFIYYAHNYA

"Dari pertanyaan yang saya garis bawahi diatas ternyata Ahmad Sudirman belum mengerti apa yang diinginkan dari pertanyaan saya tsb diatas. Justru jawaban yang saya terima adalah jauh api dari panggangnya. Ahmad Sudirman malah menjawab panjang lebar soal dasar berdirinya NII padahal bukan itu objek yang menjadi pertanyaan saya. Coba deh anda baca kembali wahai Ahmad Sudirman. Anda jangan terburu-buru menjawab pertanyaan saya, yang hasilnya jauh panggang dari apinya. Baiklah akan saya coba untuk memperjelas lagi pertanyaan saya. Dalam tulisan anda tentang sejarah NII dan tulisan anda yang lainnya mengenai NII dengan segala dasar dan aturannya. Saya ingin menanyakan kepada anda Ahmad Sudirman sekali lagi: Anda dan orang-orang yang sefaham dengan anda mempelajari Al-Quran dan Al Hadits itu dengan pemahaman siapa?. Saya harap anda bisa memberikan jawaban yang jelas tanpa lari dari konteks pertanyaan saya." (Mazda , mazda_ok@yahoo.com , Fri, 3 Sep 2004 19:05:17 -0700 (PDT))

Baiklah saudara Mazda di Surabaya, Indonesia.

Sebenanrnya kalau saudara Mazda ini mau saja membaca sedikit lebih hati-hati dan lebih mendetil, maka tidak akan timbul lagi pertanyaan yang meminta jawaban yang sama. Mengapa ?

Karena dalam tulisan sebelum ini ketika menjawab pertanyaan saudara Mazda Ahmad Sudirman telah mengupas dan membahasnya dan sekaligus Ahmad Sudirman menyatakan: "Dan memang celakanya kalau semua pemahaman oleh Mazda langsung diarahkan kepada paham wahabi dengan dakhwah salafiyyahnya. Makanya kalau ada sedikit saja istilah asing langsung mencak-mencak, seperti cacing kepanasan." (Ahmad Sudirman, 3 September 2004)

Jadi sebenarnya Mazda menginginkan Ahmad Sudirman memberikan jawaban atas pertanyaan : "Anda dan orang-orang yang sefaham dengan anda mempelajari Al-Quran dan Al Hadits itu dengan pemahaman siapa?.", dengan jawaban yang semisal dengan bunyi mengikuti paham wahabi yang menekankan pada pelurusan dan pembaharuan tauhid melalui dakhwah salafiyyahnya yang mengacu kepada paham dan pemikiran yang dikembangkan oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab yang lahir pada tahun 1115 H / 1703 M di Uyyainah, Najd dan meninggal pada tahun 1206 H / 1792 M di Dar'iyah, yang menggandrungi dan dipengaruhi oleh hasil pemikiran dan pemahaman Ibnu Taimiyah yang hidup pada tahun 7 H.

Saudara Mazda.

Sebelum Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab melahirkan dan meluncurkan pemikiran dan pahamnya tentang pelurusan dan pembaharuan tauhid dengan cara dan metode menghancurkan khurafat, bid'ah, syirik, yang mengacu kepada hasil pemikiran dan paham yang dikembangkan oleh Ibnu Taimiyah, itu istilah dakhwah salafiyyah atau mengacu kepada para sahabat Rasulullah saw melalui tulisan dan karya-karyanya tidak ada.

Coba saja perhatikan, baca, telaah, apakah ada istilah dakhwah model salafiyyah sebelum Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab lahir dan mengembangkan pemikiran tentang pelurusan dan pembaharuan tauhid ?

Jawabannya yaitu jelas, tidak ada.

Jadi, saudara Mazda. Coba buka sedikit otak dan pikiran jangan terkurung oleh paham yang sempit yang membuat cakrawala pandang saudara terdindingi oleh rambu-rambu paham yang kalian anggap lebih baik dari pada yang lain. Sehingga hasil pemikiran orang lain, kalian anggap enteng dan anggap remeh.

Sekarang apa yang ingin saya sampaikan disini adalah untuk menjawab pertanyaan Mazda tersebut diatas, maka Ahmad Sudirman menyatakan bahwa dalam "mempelajari Al-Quran dan Al Hadits" adalah mengikuti pada paham yang tumbuh pada masa periode sebelum Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab lahir dan muncul bersama hasil pemikirannya, yaitu pada paham manhaj yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah saw, dan diikuti oleh sahabat Abu Bakar Sidik, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Mu'az, Abdullah bin 'Umar, Abdullah bin 'Abbas, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Ma'ud, Abu Musa Al Asy'ari, Abu Darda, 'Ubbadah bin Shamit, 'Abdullah bin Amr bin 'Ash, sampai ke para mujtahid terbesar pada zamannya yakni Imam Abu Hanifah, Malik bin Anas Al Ashbahi, Muhammad bin Idri bin Syafi'i, dan Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal.

Inilah jawaban Ahmad Sudirman, apakah ada kesamaan atau kemiripan dengan paham wahabi kalian ?

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Fri, 3 Sep 2004 19:05:17 -0700 (PDT)
From: maz da mazda_ok@yahoo.com
Subject: AHMAD SUDIRMAN TERNYATA MASIH JUGA BELUM BISA MEMAHAMI PERTANYAAN SAYA
To: ahmad@dataphone.se
Cc: rokh_mawan@yahoo.com

AHMAD SUDIRMAN TERNYATA MASIH JUGA BELUM BISA MEMAHAMI PERTANYAAN SAYA

Ini adalah copyan pertanyaan saya yang telah lalu:
"Anda telah menjelaskan mengenai panjang lebar sejarah NII yang sesuai yang anda tulis berdasar Alqur'an dan Hadits yang shohih. Dan pertanyaan saya, mengapa berhenti sampai disitu ? maka timbul pertanyaan lagi, menurut pemahaman siapakan berdasar Al Quran dan Hadits itu? Apa berdasar pemahaman Kartosuwiryo atau berdasar dengkulnya Ahmad Sudirman." (Mazda, Wed, 1 Sep 2004 20:28:07 -0700 (PDT))

Dari pertanyaan yang saya garis bawahi diatas ternyata Ahmad Sudirman belum mengerti apa yang diinginkan dari pertanyaan saya tsb diatas.

Justru jawaban yang saya terima adalah jauh api dari panggangnya. Ahmad Sudirman malah menjawab panjang lebar soal dasar berdirinya NII padahal bukan itu objek yang menjadi pertanyaan saya.

Coba deh anda baca kembali wahai Ahmad Sudirman.

Anda jangan terburu-buru menjawab pertanyaan saya, yang hasilnya jauh panggang dari apinya.

Baiklah akan saya coba untuk memperjelas lagi pertanyaan saya. Dalam tulisan anda tentang sejarah NII dan tulisan anda yang lainnya mengenai NII dengan segala dasar dan aturannya. Saya ingin menanyakan kepada anda Ahmad Sudirman sekali lagi: Anda dan orang-orang yang sefaham dengan anda mempelajari Al- Quran dan Al Hadits itu dengan pemahaman siapa?. Saya harap anda bisa memberikan jawaban yang jelas tanpa lari dari konteks pertanyaan saya.

Ini saja dulu koment saya.

Wallahu A'lam Bishawwab.

Mazda

mazda_ok@yahoo.com
Surabaya, Indonesia
----------