Sandnes, 4 September 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ROKHMAWAN MENGELABUI PEMIKIRAN ORANG-ORANG AWAM
Muhammad Al Qubra
Sandnes - NORWEGIA.

 

KELIHATAN JELAS ITU ROKHMAWAN MENGELABUI PEMIKIRAN ORANG-ORANG AWAM

Makin banyak "hikayat musang" yang dipaparkan Rohkmawan dan Sumitro plus Mazda, makin jelas bagi orang-orang dalam wilayah thaghut hindunesia jawa dhalim dan munafiq untuk memahami bahwa semua orang-orang yang bersekongkol dalam system tersebut kafir menurut Allah sendiri, bukan menurut manusia sebagaimana yang dituduhkan Rohkmawan cs.

Justru itulah sebahagian mereka yakin untuk menjadi golput (menghindarkan diri agar tidak terlibat dalam ke dhaliman thaghut hindu tersebut, agar terlepas dari azab Allah yang sangat sengsara kelak.

Apa yang kita saksikan di mimbar ini sekarang sepertinya pertarungan Ilmu. Masing-masing sepertinya menonjolkan diri bahwa sayalah yang lebih banyak ilmu. Namun anehnya ketika berhadapan dengan wilayah aqidah mereka takberdaya. Artinya mereka termasuk orang-orang yang bersekongkol dalam membela pemimpin dhalim. Bukankah disini nyata seka li berbeda tempat berpijak mereka dengan orang-orang yang benar-benar beriman yang senantiasa mengikuti Rasulullah bersatupadu untuk membela kaum dhuafa ?(QS,7:157).

Lalu apa artinya mereka (baca Rohkmawan dan orang-orang semacamnya) membangga-banggakan ilmu sampai-sampai mengatakan "saya, kami dan orang yang berilmu" sementara Aqidah mereka sesungguhnya telah terkontaminasi dengan ide Snough Houghrounye, seorang orientalis Belanda yang berhasil mensirnakan Idiologi orang-orang di kepulauan Melanesia sehingga kendatipun mereka berilmu dimata orang-orang awam namun sebenarnya ilmu mereka itu adalah "hikayat musang" pakai istilah Husaini Daud.

Rohkmawan sama persis seperti anak-anak yang senantiasa memuji orang tuanya, namun ketika orang tuanya menyuruhnya untuk mengerjakan sesuatu, tidak dipatuhinya. Rohkmawan senantiasa memaparkan Hadist, namun dia menempatkan diri pada posisi yang berlawanan dengan Rasulullah sendiri.

Kalau kita mau berafala ta`kilun dan berafala yatazak karun, itu Malaikat yang diciptakan dari api lalu di foniskan Allah sebagai Kafir disebabkan membangkang perintahNya, apa yang tidak di ketahuinya? Bukankah machluk tersebut juga sangat pintar ? Tapi apalah artinya kepintaran itu kalau tidak berbuat sebagaimana perintah Allah. Bukankah dipintu gerbang ilmu tertulis dengan jelas: "Dilarang masuk orang-orang yang tidak beriman"(QS.56:79)

Rohkmawan ! Tidak ada artinya ilmu kalian sebab kalian termasuk orang-orang yang tidak beriman. Kalian adalah kafir yang mengaku Islam. Dengan cara pengakuan demikianlah kalian dapat mengelabui pikiran orang-orang awam. Justru itu kalian dinamakan munafiq. Apa yang kukatakan ini dapat kupertanggung-jawabkan kepada Allah, bukan sekedar cuap-cuap macam kamu berjingkrak-jingkrak melawan Ustaz Ahmad Sudirman.

Saya berani ber-mubahalah dengan kalian, sebagaimana tersebut dalam surat Ali 'Imran, QS 3: 61, mari kita sama-sama memintakan kepada Allah agar mendapatkan kutukan-Nya langsung andaikata kita berada dalam golongan yang bathil. Orang orang tipe anda tak layak berada di mimbar bebas ini. Lazimnya dua tiga kali sudah cukup, namun kalian ini benar benar menyebalkan. Tidakkah kamu berfikir kenapa Rasul sendiri mengajak untuk bermubahalah. Apakah tidak cukup logika ? Kapan se lesai kita berdebat dengan syaithan yang berani mempelintirkan ayat-ayat Allah ?

Perdebatan seperti itu menambah kesesatan bagi kalian sendiri. Coba kalian renungkan semenjak dari pertama sekali berdebat. Bukankah Rohkmawan, Mazda dan lain-lainnya padamulanya dengan sopan sekali sepertinya bertanya pada Ustaz Ahmad Sudirman ? Lalu setelah Ustaz memberikan penjelasanya, kalian memakinya sebab tidak sesuai dengan nafsu syaithan kalian malah memanggil kepada Ustaz dengan panggilan "Ahlul ahwa dan ahlul bid-ah" yang menunjuk kan justru kalianlah yang frustasi.

Bukankah kalau kita termasuk orang-orang yang beriman tidak dibenarkan memanggil dengan panggilan yang menyakitkan kepada kepada saudara kita seiman dan seagama? Bukankah kalau kita menga ku sebagai orang-orang yang beriman "haq" memanggil kepada siapapun menurut apa yang dipanggilkan Allah. Tidakkah kamu Rohkmawan mau diam sekejap untuk merenungkan andaikata menurut Allah bahwa Ustaz Ahmad Sudirman bukan Ahlul ahwa atau ahlul bid-ah?

Apakah argumentasi kamu itu tepat untuk panggilan yang demikian ? Bukankah justru tervonis ke kamu sendiri sebagai Ahlul ahwa dan ahlul bid-ah kalau ternyata Ustaz tidak termasuk dalam golongan yang kamu sebutkan itu?

Dan disinilah terbukti bahwa sesungguhnya kalianlah yang termasuk dalam golongan Munafiq. Justru orang-orang munafiqlah yang paling benci kepada orang-orang seperti Ustaz Ahmad Sudirman.

Sebab melalui tulisannya di mimbar bebas ini terbuka kedok orang-orang yang bersekongkol dalam system Thaghut Hindunesia Jawa Dhalim sebagai Penjajah terhadap negeri Papua. Maluku, Acheh-Sumatra dan lain-lain nya.

Kendatipun saya juga tidak menafikan bahwa adanya tulisan-tulisan orang lain yang saling menguatkan. Sementar Rohkmawan dan Sumitro cs adalah bal-am kelas terinya Hindunesia Jawa, mempertahankan mati-matian dengan menampilkan hadist-hadist yang meragukan pemahamannya bagi orang-orang awam.

Bagaimana mungkin Hadist dapat berlawanan dengan ayat-ayat Al Qur-an, kecuali Hadist Palsu atau keliru memahami hadist tersebut.

Kalau kita ber afala ta`qilun dan afala yatazakkarun, kita akan menemukan kebenaran ini. Bukankah semua kitab yang diturunkan Allah telah dipalsukan kecuali kitab Al Qur-an?

Bukankah kitab-kitab itu dipalsukan agar sesuai dengan nafsu mereka sebagaimana Rohkmawan cs mempelintirkan ayat-ayat Allah surah Al Maidah ayat 44, 45 dan 47 yang memvoniskan kepada orang-orang yang tidak menghukum dengan hukum yang diturunkan Allah sebagai kafir ?

Bukankah Tujuan Rohkmawan agar mereka yang bersekongkol dalam system Thaghut Hindunesia Jawa Dhalim dalam menjajah Acheh, Papua, Maluku dan lain-lain tidak disebut kafir ? Bagaimana mungkin penjajah dapat digolongkan sebagai orang Islam ?

Justru itulah rohkmawan cs melawan Ustaz mati-matian sampai memberikan gelaran yang demikian kepada Ustaz agar orang awam dapat terkecoh.

Nah kalau kitab yang berasal dari Allah saja dapat dipalsukan, bagaima na mungkin Kitab-kitab yang lain termasuk kitab hadist takdapat dipalsu kan.

Makanya kita harus benar-benar selectif terhadap hadist-hadist yang dapat mengaburkan a yat-ayat Allah. Kalau Rohkmawan mengatakan Hadist sahih setaraf dengan Al Qur'an, bukankah dengan demikian akal liciknya dia untuk berpedoman pada hadist saat terdapat perbedaan Antara Ayat-ayat Allah dengan Hadist yang diyakini nya hadist sahih ? Justru itulah tidak akan putus-putusnya kita berdebad kalau berpegang teguh pada Hadist.

Sebaliknya kita"haq" berpegang teguh pada kitab Al Qur'an sedangkan hadist kita butuhkan ketika kita berhadapan dengan ayat-ayat mutasyabihat. Sementara rohkmawan mempelintirkan ayat-ayat muhkamat sebagai ayat-ayat mutasyabihat dengan cara demikianlah dia dapat membela kaum yang dhalim (penjajah hindunesia jawa) dalam menjajah bangsa papua, maluku dan acheh-sumatra.

Andaikata kita enggan mengatakan kafir kepada orang-orang yang dinyatakan Allah sebagai kafir (baca orang-orang yang bersekongkol dalam thagut hindu-jawa dhalim), justru kitalah yang kafir (hadist).

Kalau Rasulullah mengatakan bahwa kita tidak boleh mengkafir kan seseorang. Bagi orang-orang yang sempurna fikirannya memahami betul bahwa kita juga tidak boleh mengislamkan seseorang kalau Allah sendiri telah menyatakan kafir.

Jadi disinilah gunanya kita diberikan fikiran oleh Allah agar dapat mengambil kesimpulan yang tepat mana kala berhadapan dengan realita yang rumit. Untuk lebih jelas mari kita simak alinia berikut ini:

Berdasarkan afala ta`qilun dan afala yatazakkarun, manusia didunia ini diklasifikasikan kepada 4 katagori:
1. klasifikasi orang-orang yang islam disisi Allah, islam disisi manusia.
2. klasifikasi orang-orang yang islam disisi Allah, kafir disisi manusia.
3. klasifikasi orang-orang yang kafir disisi Allah, kafir disisi manusia.
4. klasifikasi orang-orang yang kafir disisi Allah, islam disisi manusia.

Manusia pada point nomor satu memiliki pandangan yang sama dengan Allah adalah islam, lalu menyatakan kepada orang-orang dalam klafisikasi tersebut islam. Manusia pada point nomor dua adalah kafir, memiliki pandangan yang bertolak belakang dengan Allah sendiri, lalu menyatakan kafir kepada orang-orang yang Allah nyatakan islam. Manusia pada point nomor tiga yang memiliki pandangan yang sama dengan Allah adalah islam, mereka mampu melihat keka firan orang-orang dalam klasifikasi kafir kendatipun manyak orang sekelilingnya mengatakan bahwa orang-orang dalam klasifikasi tersebut Islam. Yang terachir adalah manusia yang berbeda pandangan dengan Allah beraninya mengatakan islam kepada orang-orang yang dinyatakan Allah kafir.

Rohkmawan termasuk dalam golongan manusia dalam point nomor dua dan yang terachir, tidak mengatakan sebagaimana yang Allah katakan, tidak mengatakan kafir kepada orang-orang yang Allah katakan kafir dan tidak mengatakan islam kepada orang yang Allah katakan islam.

Dengan menggunakan bahasa geometri ini saya mampu menjelasakan bahwa orang-orang yang bersekongkol dalah system thaghut panca sila hindunesia jawa dhalim adalah kafir kecuali yang bertaqiah. saya vmenggunakan bahasa geometri ini berdasarkan firman Allah yang senantiasa berulan-ulang dalam Al Qur-an: "afala ta`qilun dan afala yatazakkaraun"

Andaikata kita analisa kenapa Rohkmawan cs tidak setuju kalau orang-orang yang bersekongkol dalam system thaghut hindunesia jawa dhalim dan munafiq disebut kafir.

Pertama, ilmu wahabiyin sesat sudah terlanjur memasuki wilayah otaknya. Ilmu ini sangat berbahaya bagi kemanusiaan sebagaimana ilmu snough houghronye yang dapat menghentikan sebahagian orang-orang acheh yang berperang mela wan penjajahan belanda.

Sekarang ilmu tersebut sudah diwarisi sontoloyo-sontoloyo jawa untuk menggempur idiologi orang-orang acheh jaman sekarang, namun tidak berdaya sebagaimana dikatakan ustaz Ahmad Sudirman. Bagi orang-orang acheh sekarang ini ternyata kemantapan idiologi yang di gembleng Teungku Hasan Muhammad di Tiro memang terbukti. Kendatipun Rohkmawan dan Sumitro cs mengatakan kepada beliau dan kami orang-orang acheh sebagai teroris. Maklumlah kalau syaithan tidak pernah menghormati manusia dan manusiapun tidak pernah menghormato syaithan ke cuali manusia seperti Rohkmawan dan Sumitro cs.

Berbicara masalah teroris Sumitro asal cuap, yang bicara itu memang kamu atau cacing yang terdapat dalam perutkamu. Bagaimana kalau kami buktikan ternyata kalian yang termasuk teroris.

Bukankah kalian sudah kesekian kali meludah ke atas diri sendiri? Ajaklah pemimpin dhalim kalian untuk sama-sama kita buktikan di meja hijau internasional, kamikah yang teroris atau kalian yang bersekongkol dalam system thaghut hindunesia jawa dhalim dan munafiq.

Kedua, sudah begitu banyak Rohkmawan cs membela pemimpin dhalim dengan menggunakan "hikayat musangnya" yang memiliki kesamaan dengan hikayat musangnya Gus Dur sosok yang mengetawain orang, bagaimana mungkin dia menga takan "assalamualaikum" sebagai kebudayaan arab, lalu menawarkan agar menggunakan salam madein hindunesia dha lim. (QS.2:7).

Ketiga, bagaimana mungkin dia meyakini bahwa Sukarno, Suharto, Gus Dur dan Megawati serta orang-orang yang berse kongkol dengan mereka kafir, bukankah dengan demikian berarti dia telah mengakui dirinya sendiri juga kafir. Bukan kah orang kafir yang mengaku diri sebagai islam disebut munafiq ? Jadi secara syar'i Rohkmawan adalah munafiq na mun secara filosofis dia adalah kafir.

Keempat, golongan wahabiyin sesat tersebut tidak mampu memahami bahwa islam itu terdiri dari dua dimensi, yaitu dimensi ritual (hablum minallah) dan diumensi sosial (hablum minannas).

Kesalahannya berpunca pada ketidak mampuannya memahami surah Az-Zariat ayat 56 yang merupakan sebagai "tujuan hidup" Mereka keliru dalam menafsirkannya. Agar lebih jelas mari kita teliti apa yang dikatakan Allah dalam hal tujuan hidup : "Wamaa khalaqtul Jinna wal Insa illaa liya`buduuni" (Q.S. 51:56). Yang artinya: Tidaklah Kujadi kan Jin dan Manusia kecuali untuk tunduk patuh kepada Ku. Mereka keliru dalam menafsirkan arti dari "liya`buduuni" yaitu "untuk menyem bah Ku".

Akibatnya mereka memfocuskan hidup ini pada "Sembahyang" semata-mata. Memang demikianlah pemahaman Rohkmawan tentang ayat tersebut bahwa tujuan hidup di dunia ini adalah untuk menyembah Nya, sehingga jelas kita lihat dalam sepakterjangnya yaitu ibadah ritual semata-mata tanpa mempedulikan rintihan kaum dhuafa yang didha limi Sukarno, Suharto, Gus Dur, Megawati dan orang-orang yang bersekongkol dengan mereka.

Padahal ketepatan kita untuk memfungsikan diri sebagai pembebas kaum dhu-afa lah yang dapat membebaskan diri dari api neraka. Bagaimana mungkin kita mengatakan bahwa kita pengikut Rasul sementara kerja Rasul membela kaum dhuafa tak pernah kita contohi malah masuk dalam kelompok yang mendhalimi kaum dhuafa itu sendiri (baca Rohkmawancs)

AFALA TA`QILUN, AFALA YATAZAKKARUN

Pengamat yang mulia ! Allah senantiasa mengulang kalimatNya: "Afala ta`qilun dan afala yatazakkaraun". Disini jelas sekali bahwa Allah me nyuruh kita untuk berfikir dengan intelek yang sudah difasilitasiNya ke pada kita agar kita dapat mengambil petunjuk yang benar dalam menga rungi hidup ini agar terselamat dari azabNya. Andaikata kita tidak mau berfikir kita akan menjadi binatang bahkan lebih sesat dari binatang (QS.........) Kalau binatang tidak tau mana yang baik dan mana yang buruk pantas, sebab dia tidak difasilitasiNya dengan alat fikir.

Diantara hal yang perlu kita fikir dan analisa adalah mengapa sepertinya tidak pernah muncul lagi Negara yang menggunakan petunjuk Allah dijaman kita ini sebagai undang-undangnya, bahkan dalam kurun waktu yang demikian lama, sementar menurut sensus dunia bahwa orang Islam sudah bertambah banyak. Apa masalahnya. Bukankan diantara sebab-sebabnya ketidak yakinan mereka terhadap suarah Al Maida ayat 44,45 dan 47 ? Bukankah ayat-ayat tersebut sebagai indikasi untuk mendirikan system Allah? Bagaimana mungkin kita memberlakukan hukum Allah kepada rakyat didalam system thaghut yang anti hukum Allah. Bukankah kita akan mengalami konyol

Sebagaimana yang dialami Ja'far Umar Thalib di Ambon dengan merajam muridnya yang bersalah dalam system thaghut hindunesia jawa ? Justru itulah kita diperintahkan untuk memperjuangkan wilayah de-facto dan de-yure-nya lebih dahulu.

Betapa anehnya Rokhmawan cs yang katanya berdakwah dalam system thaghut hindunesia jawa dhalim, mungkinkah? Kalau berdakwah sekedar memakai jilbab okelah kata mister Suharto, Gus Dur dan Megawati, tapi jangan coba-coba mengatakan bahwa pancasila itu sesat. Jangan coba-coba mengatakan bahwa pancasila itu berasal dari bahasa sangskerta/bahasa hindu. Panca=lima, yang hanya berarti limasila. Jangan coba-coba mengatakan bahwa "Ketuhanan Yang (Hiyang) Maha Esa berarti tuhan brahmana, wisynu dan syiwa. Jangan coba-coba mengatakan bahwa pengertian ketuhanan yang tertera pada sila pertama relatif (tidak pasti), menurut orang hindu seperti yang saya sebutkan diatas, menurut nasara itu adalah Yesus (tuhanmaesa) sedangkan menurut orang Islam palsu itu adalah aqidah mereka. Betapa konyolnya aqidah boleh kongsi-kongsi.

Itulah yang namanya hindunesia yang kata orang berarti orang-orang hindu bermazhab "wayang", hindu=hindunesia yang orang malaysia kata "endon atau hendon yaitu nama isteri Abu Sofyan yang tega mengunyah hati Saidina Hamzah dalam peperangn uhud. betapa bangganya.

Billahi fi sabililhaq

Muhammad Al Qubra

acheh_karbala@yahoo.no
Sandnes, Norwegia.
----------