Surabaya, 4 September 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

TIDAK DAPAT MENGKOTAK-KOTAKAN ILMU, ADA ILMU UTAMA & ADA ILMU RENDAH
Black Aswad
Surabaya - INDONESIA.

 

HARUS MAMPU MELIHAT SUATU PERMASALAHAN DARI SUDUT KOMPREHENSIF

Menarik memang mengikuti pembicaraan saudara Ahmad dengan Wahabiyin-Salafi et al. Hanya saya ingin menambah informasi sedikit tentang pemahaman bahwa tidak dapat mengkotak-kotak ilmu sehingga ada ilmu yang dianggap lebih utama dan ada yang lebih rendah darajatnya. Sehingga bila sedang menghadapi suatu permasalahan, maka mampu melihatnya dari sudut komprehensif.

Menurut saya (maaf kalau salah) teman kita Wahabiyin-Salafi et al. selalu melihat masalah dari satu sudut pandang secara central dan sudut pandang lainnya jadi terabaikan.

Sebagai permisalan misalnya, kita tahu bahwa haram memikirkan zat Allah SWT; penjelasannya bila hanya mengutip terjemahan yang ada dalam Al-Quran maka kita hanya berpendapat bahwasanya Allah SWT adalah bukti sehingga tidak perlu dibuktikan.

Sebenarnya yang perlu dilihat mengapa Allah bisa menjadi bukti? Hanya dengan terciptanya alam, makhluk dll? Itu akan lemah bila berhadapan dengan dunia saat ini yang mana technology science sudah mencapai titik puncaknya (mightbe).

Tengku2 (para ahli ilmu agama) yang berfikiran tradisional akan menjawab : "Hame!" (artinya haram mempertanyakan hal tersebut). Tetapi bagi saya dan teman2 lainnya (insyaAllah) yang bergelut dalam bidang rekayasa (engineering) dapat memperjelas sedikit jawabannya.

Manusia hidup dalam keadaan 3 dimensi (selama masih didunia), yang bila dimodelkan secara matematis bentuknya dapat didekati oleh garis x,y dan z. Tapi terkadang sulit untuk memperoleh model relatif benar dalam 3D karena biasanya ada satu garis yang sulit didekati.

Untuk itu kita mengenal model 2D dimana hanya ada x dan z,dan juga model satu dimensi untuk lebih mempermudah.

Ada memang persamaan yang bisa kita buat untuk pendekatan 4D dengan melibatkan tetapan waktu yang dianggap paralel. Untuk model 4D mungkin sangat sulit dipahami jika belum mempelajari prinsip pemodelan (rekayasa) secara mendalam, tapi model 4D tidak jadi pilahan karena sulitnya pendekatan tersebut.

Jadi, bagaimana dengan Allah SWT? Apakah kita tahu berada dalam kondisi dimensi berapakan Allah; ambilah umpanya jika langit berlapis-lapis sebagai tamsil dimensi; maka Alah bisa saja berada dalam dimensi ke 8 (tapi saya lebih yakin bila dimensinya tak terbatas)!

Apakah pikiran kita mampu mencapai bentuk-NYA? Sedangkan 3Dimensi saja kita sudah reneng (bingung)?!

Penjelasan tadi sekiranya memperlihatkan bahwa kita sebagai manusia dan hamba Allah SWT harus terus menggali dan menggali pemahaman, jangan terkait pada satu ilmu saja, karena kejatuhan umat agama ini karena umatnya yang bodoh dalam memahami Al-Quran. Sehingga mengangap ilmu yang tidak berkaitan dengan ibadah formal tidak wajib bahkan percuma dipelajari.

Iman akan rapuh bila hanya dengan doktrin, lihat bagaimana orang2 di wonosari, klaten, kebumen etc di Kristenkan karena pemahamannya akan konsep2 Tauhid (dalamnya ada logika dan good will) hanya sebatas doktrin karena ilmu2 yang dimiliki ulama2nya hanya sebatas ilmu dalam satu kitab.

Akan sangat dewasa dan arif jika ingin membedah setiap permasalahan diikuti oleh pemahaman ilmu yang sepadan, sehingga bukan hanya kita yang jadi dipermalukan tapi juga tidak memperlihatkan kesan hanya kitalah yang akan masuk surga karena kita paling benar.

Kebenaran itu sangat relatif teman, mungkin saja seorang pelacur bisa jadi mulia di mata Allah karena suatu hal yang tidak kita pahami tetapi jika yakin akan Allah kita pasti menyuarakan hal tsb adalah keadilan.

Manusia hanya bisa menghukum yang lahir tidak yang ghaib dari mata badannya, maka lihat dulu dengan mata yang ada sejelas-jelasnya; barulah menghukum.

Wassalam

Black Aswad

ba_99@plasa.com
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
----------