Stockholm, 8 September 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ROKHMAWAN MENJELMA JADI JOKO RIYANTO TANPA SENJATA DALIL AQLI & NAQLI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS SEPINTAS KELIHATAN ROKHMAWAN TELAH MENJELMA JADI JOKO RIYANTO TANPA MEMANGGUL SENJATA DALIL AQLI & NAQLI YANG BISA TERJERUMUS KE JALUR SEKULAR DAN INI LEBIH BERBAHAYA.

"Waduuh, kemaren hari selasa saya di tegur sama beliau pak Rokhmawan agar hati-hati kalau berbicara dengan orang-orang yang belum dikenal. Dan tentunya saya banyak dinasehati tentang tingkah laku salafy yang mengatakan ini biad'ah, itu bid'ah yang ada dalil shohehnya. Ma'af mungkin hari ini saya kelihatan agak memihak pak Rokhmawan, tetapi bukan berarti saya membelanya, ini hanya sekedar ungkapan hati saya yg dimana telah banyak mengambil ilmu dari beliau pak Rokhmawan." (Joko Riyanto , mas_rey_2004@yahoo.com , Tue, 7 Sep 2004 21:58:51 -0700 (PDT))

Baiklah saudara Joko Riyanto di Solo, Jawa Tengah, Indonesia.

Pagi ini Ahmad Sudirman menerima tanggapan dari saudara Joko Riyanto. Setelah Ahmad Sudirman membacanya, terbayang bahwa saudara Rokhmawan telah menjelma menjadi saudara Joko Riyanto yang sama-sama bekerja di Yayasan Pesantren Pondok Imam Bukhori di Solo.

Bagi Ahmad Sudirman tidak begitu penting, apakah saudara Rokhmawan telah menjelma, seperti paham ajaran hindu, menjadi saudara Joko Riyanto, ataukah memang benar saudara Joko bekerja ditempat yang sama tetapi lain bidang pekerjaannya. Saudara Joko dibagian Tata Usaha, sedangkan saudara Rokhmawan bekerja di bagian Laboratorium Komputer.

Seperti yang ditulis saudara Joko yang mengggambarkan dua sosok yang berbeda: "Pak rokhmawan titip salam untuk semua peserta di mimbar bebas ini yang masih aktif. Sedangkan beliau sendiri sudah tidak ada minat lagi untuk berdiskusi dan berdebat dimana alasannya bukan alasan yang datang dari pribadi melainkan datang dari ustadz dan ulama Salaf."

Yang jelas isi dari pandangan saudara Joko pagi ini jauh sekali berbeda dengan isi pandangan yang pertama yang disampaikan kepada Ahmad Sudirman.

Menyinggung saudara Joko mengatakan: "Saya juga heran kepada pak Ahmad yang mengatakan kalau mimbar bebas ini adalah ajang untuk berdiskusi dan berdebat bukan untuk mencari permusuhan. Mengapa pak ahmad dulu menyuruh umat islam di seluruh dunia dan di aceh untuk menghadapi beliau pak rokhmawan ? bahkan kalau tidak salah ada yang menyuruh menbunuhnya."

Joko, saudara kalau membaca dulu apa yang telah didiskusikan antara Rokhmawan dengan Ahmad Sudirman, maka akan ditemukan jalur benang merahnya. Tetapi karena saudara Joko hanya main tulis langsung saja, tanpa membaca kembali kronologis jalannya perdebatan antara Rokhmawan dengan Ahmad Sudirman, maka lahirlah apa yang diungkapkan oleh saudara Joko ini. Mengapa ?

Karena yang ditulis oleh Ahmad Sudirman adalah:

"NII, GAM dan TNA digolongkan kepada Khawarij oleh saudara Rokhmawan dan Salafi-nya di Solo itu sudah bisa ditebak, yakni mereka itu bukan anggota Salafi yang sebenarnya, melainkan kelompok Salafi di Solo yang sesat yang lebih banyak memakai cara-cara teroris dalam tindakannya. Apalagi sarang mereka itu di Solo tempat berkumpulnya para teroris. Tujuan Rokhmawan dan Salafi-nya di Solo memang mau menghancurkan NII, GAM dan TNA. Tetapi sayang tujuan mereka sekarang terbongkar. Dimana sebenarnya Rokhmawan dan salafi-nya di Solo bukan hanya kelompok sesat dan munafikun, tetapi juga kelompok teroris yang disatu pihak mau menghancurkan sistem thoghut pancasila, tetapi dilain pihak mau juga menghancurkan NII, GAM dan TNA. Nah sekarang, kaum teroris Rokhmawan dan Salafi-nya di Solo ini memiliki dua musuh. Pertama musuh NII, GAM dan TNA kedua musuh BIN, TNI, dan Pemerintah Megawati. Tetapi untuk sementara pihak BIN dan TNI memanfaatkan kelompok Rokhmawan dan Salafi-nya di Solo ini untuk dijadikan senjata memukul NII, GAM dan TNA. (Ahmad Sudirman, 17 Juli 2004)

"Kalian Rokhmawan dan salafi-nya di Solo secara sadar dan terang-terangan telah membuka front pertentangan dan permusuhan secara terbuka dengan ASNLF/GAM, TNA, NII, Abdullah Sungkar, Abu Bakar Baasyir, Hizbut Tahir, LDII, dll. Kalian Rokhmawan dan salafi-nya di Solo telah secara sadar dan terang-terangan ikut mendukung dan membantu pembunuhan yang dilakukan oleh TNI/POLRI terhadap rakyat Acheh yang muslim di Negeri Acheh. Rokhmawan dan Salafi-nya kalian secara sadar telah menjadikan ummat Islam yang ada diluar golongan Salafi-nya di Solo yang sesat, munafik, dan teroris sebagai musuh utama kalian. Kalian Rokhmawan dan salafi-nya telah dengan rela, sadar dengan sepenuh hati mendukung dan membela sistem thaghut pancasila yang dipakai untuk menggempur dan membunuh rakyat Acheh yang muslim yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan negara kafir Pancasila. Wahai kaum muslimin di seluruh Nusantara dan diseluruh dunia, itu Rokhmawan dan Salafi-nya di Solo telah membuka konfrontasi dan permusuhan terhadap kaum muslimin yang berada diluar kelompok dan golongan Salafi di Solo, seperti ASNLF/GAM, TNA, NII, Abdullah Sungkar, Abu Bakar Baasyir, Hizbut Tahir, LDII, dll. (Ahmad Sudirman, 22 Juli 2004)

Nah, itulah yang pernah Ahmad Sudirman kemukakan di mimbar bebas ini sebagai suatu jawaban atas salto dan tembakan senjata gombal khawarijnya Rokhmawan. Jelas, siapa yang lebih awal mendeklarkan permusuhan melalui cara penggolongan kelompok diluar salafi ke dalam golongan khawarij ?.

Seterusnya apa yang dikemukakan oleh Joko: "Tetapi saya paling tidak setuju dengan ulah pak Ahmad dan kawan-kawannya yang mengatakan kafir kepada pejabat pemerintahan RI. Memang semuanya baik itu pak Rokhmawan yang menggolongkan khowarij untuk NII, GAM, LDII dll dan pak ahmad yang mengatakan kafir yang ditujukan kepada pejabat RI dan pendukungnya, menggunakan dalil yang shahih jadi bukan asal-asalan. Menurut saya, masih mending NII, GAM, LDII dll dikatakan Khowarij dari pada di katakan kafir seperti ketika pak Ahmad mengkafirkan pejabat RI dengan dasar Al-maidah tersebut."

Saudara Joko, kalian mengerti dan paham apa yang dikemukakan oleh Ahmad Sudirman tentang dasar hukum Al-Maidah: 44, 45, 47 ?

Dimana Ahmad Sudirman mengatakan berpuluh kali di mimbar bebas ini dengan ungkapan: "para pimpinan RI dari mulai Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurahman Wahid dan Megawati yang telah membentuk lembaga tandingan dalam pembuatan aturan, hukum, undang- undang disamping aturan, hukum, undang-undang yang diturunkan Allah SWT, lalu tidak menetapkan aturan, hukum, undang undang menurut aturan, hukum, undang undang yang telah diturunkankan Allah SWT kepada Rasul-Nya Muhammad saw, maka mereka itu oleh Allah SWT telah dijatuhi vonis dengan sebutan kafir, zhalim, fasik. Jadi jelas Ahmad Sudirman tidak mendahului Allah SWT dalam hal menjatuhkan vonis kafir, zhalim, fasik.

Sekarang bandingkan dengan yang diceritakan oleh Arif Rahman Webmaster Laskar Jihad Staf Divisi Penerangan FKAWJ sebelum Laskar Jihad dibubarkan, yang menulis kepada Ahmad Sudirman pada hari Jumat, 20 Juli 2001, 3 tahun yang lalu yang berbunyi: "Perlu anda ketahui bahwa Gus Dur jelas-jelas telah kafir seperti yang difatwakan oleh Syaikh Rabi'i bin Hadi (Mekkah) dan Syaikh Muqbil bin Hadi' (Yemen) kedua-duanya adalah guru dari Ustadz Ja'far Umar Thalib. Bahkan ustadz Ja'far juga telah menyatakan Gus Dur kafir pada beberapa pernyataan di majalah Sabili, dll. Apakah mungkin Laskar Jihad ingin, membela pemerintahan Gus Dur yang jelas-jelas kafir?" (Arif Rahman, webmaster@laskarjihad.or.id , Fri, 20 Jul 2001 17:17:24 +0700)

Nah, kelihatan dengan jelas, perbedaan yang sangat jauh dari apa yang dikemukakan oleh Ahmad Sudirman dengan apa yang difatwakan oleh dua Syeikh wahabi salafi dari Mekkah dan dari Yemen juga Ustadz Ja'far Umar Thalib sebagaimana ditulis oleh Arif Rahman diatas.

Dimana Ahmad Sudirman tidak melangkahi Allah SWT dalam memberikan hukuman dengan sebutan kafir, zhalim, fasik. Sedangkan kedua Syeikh wahabi salafy dan Ustadz Ja'far Umar Thalib sudah berani terang-terangan mendahului Allah SWT dalam menjatuhkan hukuman vonis dengan sebutan kafir kepada Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang pada waktu itu, tahun 2001 menjabat sebagai Presiden RI.

Jadi saudara Joko, kalau saudara belum mengerti dan belum paham atas apa yang dikemukakan oleh Ahmad Sudirman, dan belum pernah mengetahui apa yang telah dilakukan oleh para Syeikh salafi dan wahabi ini, maka jangan sekali-kali melambungkan pikiran yang justru akhirnya menjadi senjata makan tuan.

Kemudian, kalian saudara Joko, pelajari, hayati, pahami sepak terjang Syeikh Muhammad bin Abdul wahab yang bersekutu dengan Amir Muhammad bin Saud nenek moyangnya dari Amir-Amir yang berkuasa di Dar'iyah, Najd, Hijaz, dan Saudi sekarang, juga bekerja sama dengan Pemerintah Kerajaan Inggris yang salah satunya menyebabkan jatuhnya Dinasti islam Usmainyah.

Dan memang kalau melihat dari apa yang ditulis Joko ini, maka kelihatan belang dari saudara Joko Riyanto yang merupakan jelmaan Rokhmawan dengan bunyi tulisannyai: "Dan kalau Salafy mengatakannya demikian, bid'ah, khowarij dll tetapi mereka benar-benar konsekuen dengan keimanan dan ketauhidannya, sedangkan pak ahmad atau orang-orang NII termasuk GAM yang mengatakan kafir dimana kata-kata kafir sangat berbahaya bagi seorang muslim, namun kelihatannya mereka tidak konsekuen dengan keimanan dan ketauhidannya."

Lihat ungkapan Joko ini persis seperti yang selalu diungkapkan oleh Rokhmawan yang sekarang katanya sudah tidak mau lagi menampilkan satu kalipun dalil aqli dan dalil naqli. Yang kalau saya telusuri bisa saja itu Rokhmawan terjerumus kedalam jurang sekularisme yang tidak lagi melibatkan dan membicarakan masalah naqli dalam pembicaraannya. Dan terbukti sekarang saudara Rokhmawan menggunakan corong sekularisme yang disemburkan oleh saudara Joko Riyanto.

Kemudian saudara Joko ini belum pernah jumpa dan melakukan penyelidikan terhadap orang-orang NII dan GAM secara mendalam, sudah berani Joko mengatakan: "sedangkan pak ahmad atau orang-orang NII termasuk GAM yang mengatakan kafir dimana kata-kata kafir sangat berbahaya bagi seorang muslim, namun kelihatannya mereka tidak konsekuen dengan keimanan dan ketauhidannya."

Coba perhatikan, Ahmad Sudirman yang tidak pernah mendahului Allah SWT menjatuhkan vonis dengan sebutan kafir, zhalim, fasik, selain dengan mengatakan Negara kafir RI, yang artinya negara yang dasar dan sumber hukumnya tidak bersumberkan pada Islam, artinya pada Al Qur'an dan As-Sunnah Rasulullah saw. Jelas Negara kafir RI, tidak indentik dengan Megawati atau Abdurrahman Wahid. Jadi tidak bisa disimpulkan karena Ahmad Sudirman mengatakan Negara kafir RI, maka Megawati dan Abdurrahman Wahid adalah kafir.

Nah kalau ingin membuka dan menyaring para pelaksana Negara kafir RI, apakah mereka itu bisa disebut kafir, zhalim, fasik atau tidak bisa disebutkan dengan istilah tersebut, maka perlu dipakai dasar hukum Al-Maidah: 44, 45, 47, sebagaimana yang telah Ahmad Sudirman jelaskan diatas.

Selanjutnya, bagaimana saudara Joko sudah berani mengatakan: "namun kelihatannya mereka tidak konsekuen dengan keimanan dan ketauhidannya".

Lihat dan perhatikan para peserta mimbar bebas ini. Saudara Joko yang saya yakin belum pernah bertemu dengan pimpinan NII dan rakyat NII begitu juga dengan para pimpinan ASNLF atau GAM dan sebagian besar rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila, sudah berani dengan lantangnya mengatakan bahwa kelihatannya mereka tidak konsekuen dengan keimanan dan ketauhidannya. Kalau begini memang benar-benar saudara Joko sudah melangkahi Allah SWT dalam memberikan penilaian yang sudah masuk kedalam dunia aqidah dan ketauhidan.

Saudara Joko Riyanto alias Rokhmawan wahabi, janganlah banyak memberikan pandangan yang telah melampaui batas kewenangan kalian sebagai hamba Allah SWT. Kalian tidak punya wewenang dan hak untuk mendahului Allah SWT dalam hal penilaian keimanan, keyakinan, aqidah, ketauhidan, akhlaq ul kharimah. Kalian hanya mampu melihat dari permukaan saja. Itu sama saja dengan orang yang melihat fatamorgana, dimana yang disangka ada air, tetapi hanyalah pantulan panasnya terik matahari diatas padang pasir.

Kalian saudara Joko, kalau hanya sekedar menampilkan contoh dengan mengatakan: "Ini memang fakta karena tetangga saya sendiri sering mengatakan pejabat RI itu begini, begitu tetapi suatu saat ketika saya tegur mengapa anda tidak sholat wajib dengan berjamaah di masjid ? dia pun menjawab dengan entengnya, kita kan disuruh menjadikan rumah seperti suasana di masjid atau bagaimana kalau saya pergi ke masjid namun istri saya sholat sendirian di rumah padahal sholat berjamaah lebih tinggi 27 derajat dibanding dengan sholat sendirian. Menurut pak Rokhmawan dan Salaf yang lainnya alasan demikia adalah termasuk mempermainkan Sunnah-sunnah Rosul bahkan ayat Alloh. Saya sudah mendapatkan pengertian atau contoh-contoh yang begitu banyak dari pak Rokhmawan tentang mempermainkan ayat Alloh ataupun sunnah rosul-NYA. Sekali lagi saya minta maaf kalau ini terkesan membela beliau."

Wahai saudara Joko alias Rokhmawan wahabi, kalau saudara Joko baru menampilkan contoh seorang tetangga di dekat kantor yayasan kalian itu. Kemudian kalian buat suatu generalisasi, atau menjadikan umum, dengan melibatkan kepada NII dan GAM, maka itu kelihatan betapa picik dan dangkalnya cara berpikir kalian saudara Joko alias Rokhmawan wahabi.

Seterusnya saudara Joko mengtakan: "Pak Ahmad saya kira ada hal-hal yang belum di jawab oleh anda atas kiriman email saya kemaren. Seperti adakah kajian dalam NII Kartosuwiryo ? Bagaimana cara mengetahui ajaran-ajaran dalam NII Kartosuwiryo ? Mengapa NII Kartosuwiryo sampai saat ini belum terdeteksi Situsnya padahal hampir semua firkoh terutama yang hasil impor dari timur tengah pasti mempunyai situs tentangnya."

Itu kalau kalian seorang yang pandai dan bijak, maka kalian akan menemui rakyat NII dan pimpinan NII untuk membicarakan dan mempertanyakan apa yang kalian tanyakan itu. Kemudian soal situs NII. Itu soal situs bukan suatu hal yang wajib. Punya situs atau tidak punya situs, tidaklah menjadikan aqidah dan tauhid pimpinan dan anggota NII membelok. Itu soal situs hanya tingal tunggu waktu saja. Kalau mau kenal dan mengenal NII hubungi rakyat NII dan pimpinan NII, dengan niat yang ikhlas, bukan dengan niat dan tujuan untuk melakukan hal-hal yang kurang baik. Contohnya seperti yang telah ditunjukkan oleh Rokhmawan, dari sejak awal sudah menembakkan senjata gombal khawarijnya ke arah NII. Jadi kalau mau mengetahui apa itu NII harus dibersihkan dulu niat-niat dari apa yang seperti dicontohkan dan ditunjukkan oleh Rokhmawan. Karena kalau tidak, bukan hasil yang baik, melainkan sikap negatif dan timbulnya pertentangan.

Seterusnya soal GAM yang juga ditanyakan oleh Joko: "Lalu atas pertanyaan kemaren juga ada yg belum dijawab yaitu seputar GAM yang merekapun memiliki situs tetapi isinya kok kekerasan politik saja. Bagaimana cara mereka mencari ilmu agama? Apakah sudah memiliki jamaah tersendiri ? Adakah situs yang mereka buat tetapi mengenai ilmu agama bukan kekerasan politik."

Disinipun tidak perlu dan tidak wajib itu GAM memiliki situs mengenai jamaah atau apa istilahnya. Yang penting rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila secara penuh keyakinan dan kesadaran belajar dan mengamalkan apa yang telah diperintahkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw, tidak perlu digembar gemborkan dan ditulis macam-maca melalui situs.

Selanjutnya itu soal penyelesaian Acheh, dan juga apa yang ditulis oleh saudara Joko sebeleum ini yang menyebutkan: "apakah lebih utama kemerdekaan atau keamanan".

Ahmad Sudirman telah menjelaskan bepuluh kali di mimbar bebas ini yaitu, penyelesaian konflik Acheh diserahkan kepada seluruh rakyat Acheh untuk menentukan sikap mereka melalui cara jajak pendapat atau referendum dengan memilih dua opsi, YA bebas dari RI dan opsi TIDAK bebas dari RI dengan disaksikan oleh badan PBB.

Cara penyelesaian ini belum pernah dijalankan dan ditempuh. Sedangkan cara perundingan, dialog, militer telah ditempuh, malahan sampai detik sekarang inipun sedang dijalankan cara penyelesaian militer dengan memakai baju Darurat Sipil.

Coba lakukan dulu seperti yang disarankan oleh Ahmad Sudirman ini. Kita serahkan seluruh permasalahan dan pemecahan konflik Acheh ini kepada seluruh rakyat Acheh. Biarkan seluruh rakyat Acheh yang akan menentukan masa depan mereka. Jangan diatur dan ditentukan oleh kalian saja dari pusat.

Dan yang lebih utama lagi coba jangan terus menerus menutupi kebohongan dan kejahatan yang telah dilakukan oleh Presiden RIS Soekarno yang telah menelan, mencaplok, menduduki, dan menjajah Negeri Acheh. Coba membuka diri dan berusaha untuk menyadari bahwa apa yang telah dilakukan oleh Soekarno terhadap Negeri Acheh adalah suatu perbuatan yang sangat durjana dan sangat tidak beradab.

Selanjutnya saudara Joko mempertanyakan lagi: "Atas jawaban pak Ahmad tentang bagaimana cara menyatukan umat islam, maka bapak menjawab dengan pemahaman kesamaan aqidah dan tauhid maka tercapailah persatuan umat islam. Yang menjadi pertanyaan lanjutannya adalah bagaimana mungkin mereka bisa memahami adanya kesamaan aqidah dan tauhid ? Kalau aqidah mungkin sama yaitu islam dan sama-sama ingin menegakkan kalimat-kalimat Alloh di muka bumi ini. Sedangkan untuk tauhid maka ada perbedaan di antara mereka (firkoh-firkoh)."

Itu adalah hal yang mudah, kalau diantara kalian dan semua umat Islam sudah meyakini, menyadari, memahami bahwa aqidah adalah sama, ketahuhidan adalah juga sama. Karena memang tidak ada yang menyembah matahari, dewa, pohon beringin, atau kepala banteng hitam seperti gambar PDI-P, maka selama itu tidak berbeda, bisa kelompok-kelompok Islam di Nusantara ini disatukan. Masalahnya bukan karena masalah tauhid, alasannya karena diantara kalian itu masih menganggap bahwa paham dan pendapat serta pemikiran kalian yang paling benar. Itu saja.

Misalnya suatu contoh, kalau anggota wahabi atau salafi menyebah kepala banteng, anggota NII menyembah pohon beringin, anggota GAM menyembah batu, maka itu namanya berbeda ketauhidannya. Dan tidak bisa dinamakan tauhid. Itu sudah dinamakan syirik. Jadi, kalau anggota wahabi atau salafi , anggota NII, anggota GAM, dan anggota kelompok lainnya sama dalam hal tauhid, walaupun ada yang membagi istilah dan pengertian tauhid, jadi dua atau jadi tiga atau jadi empat bagian, itu bukan suatu halangan besar, yang penting dan mendasar adalah hanya Allah SWT saja yang disembah dan dipatuhi segala perintah dan aturan-Nya, dan mengakui kebesaran seluruh ciptaan-Nya di alam raya ini, maka itu bisa disatukan dan diarahkan kejalur yang sama. Yaitu caranya walaupun tidak dilebur jadi satu, tetapi dari masing masing kelompok saling bergandeng tangan. Jangan menggangap diri paling lurus tauhidnya dibanding dengan yang lain. Coba itu dulu langkah pertama. Kalau langkah pertama ini masih juga belum bisa dilaksanakan, jangan langsung loncat ketingkat berikutnya. Tetapi coba jajagi terus. Walaupun sampai kepala menjadi botak, tetapi terus usahakan penjajagan itu. Yang penting jangan ada yang melemparkan salto seperti contohnya dengan senjata gombal khawarij kepada kelompok lainnya.

Kemudian, kalau kalian Rokhmawan mengatakan tidak mungkin, dengan alasan dalil naqli yang berupa hadits menyatakan umat Rasulullah saw akan terpecah menjadi 73 golongan, dan hanya satu yang masuk Surga, yakni jamaah atau ahlu Sunnah wal Jamaah.

Jelas, walaupun isi hadits tersebut demikian, tetapi itu dalil naqli bisa dipakai untuk dasar persatuan. Mengapa ?

Karena semua kelompok yang berbagai macam nama itu, masih tetap memiliki paham manhaj Rasulullah saw artinya Ahlu Sunnah wal Jamaah. Bukan ahlu Bush atau ahlu Clinton atau ahlu Ariel Sharon.

Mengapa tidak bisa bergandeng tangan kalau pahamnya sama yaitu Ahlu Sunnah wal Jamaah ?. Sedangkan aqidah sama, tauhid sama. Yang jelas, kalau ada kelompok ahlu Sunnah wal Jamaah yang menolak tidak bisa bersatu karena beda pelaksanaan ketauhidannya, jelas itu yang justru ingin menghancurkan Ahlu Sunnah wal Jamaah. Dengan cara misalnya, gampang dan ringan mengatakan kepada kelompok Ahlu Sunnah wal Jamaah lainnya membikin bid'ah, melakukan syirik, membuat khurafat, dsb. Kemudian kalau diketahui ada salah seorang dari perawi dasar naqli yang berupa hadits tidak jelas dan diragukan, lalu dianggap apa yang dinyatakan dalam isi dalil naqli yang berupa hadits itu lemah dan batal. Lalu langsung menganggap kelompok yang melakukan isi hadits tersebut melakukan bid'ah.

Seterusnya saudara Joko menulis: "Saya sebenarnya merasa heran ketika pak Ahmad mengatakan, kalau ada kelompok atau golongan yang mengatakan pada orang atau kelompok atau golongan Islam bahwa mereka telah melakukan pembuatan aturan, hukum, undang-undang disamping aturan, hukum, undang-undang yang diturunkan Allah SWT, lalu tidak menetapkan aturan, hukum, undang-undang tidak berdasarkan aturan, hukum yang diturunkan Allah SWT, kemudian mereka dicap kafir, zhalim, fasik oleh Allah SWT. Janganlah mereka tersinggung dan merasa terpukul. Melainkan berikan dasar argumentasi secara aqli dan naqli, atau secara daruri dan nadhari. Mengapa pak ahmad juga tersinggung atau marah ketika beliau pak Rokhmawan menggolongkan NII, GAM, LDII dll kedalam khowarij ? Maaf saya terpaksa menyarankan kepada pak Ahmad kalau anda sendiri tidak mau dikatakan ini, itu, anu maka janganlah pak ahmad mengatakan terlebih dahulu tentang kafir kepada pejabat RI."

Saudara Joko, ketika saya menulis itu adalah kalau ada pihak penguasa yang kalau dihubungkan dengan dasar hukum Al-Maidah: 44, 45, 47, menurut Allah disebut kafir, zhalim, fasik, maka orang tersebut jangan merasa tersinggung dan merasa terpukul. Melainkan berikan dasar argumentasi secara aqli dan naqli, atau secara daruri dan nadhari.

Artinya disini, dari pihak para pimpinan Negera atau para pendukungnya, misalnya pimpinan di Negara RI, harus sanggup memberikan dasar argumentasi yang membenarkan apa yang telah dilakukannya itu, yakni ketika menentukan aturan, hukum, undang undang tidak menurut aturan, hukum yang diturunkan Allah SWT dan tidak dinyatakan dengan sebutan kafir, zhalim, fasik.

Jadi, jangan langsung balik menyerang, dengan mengatakan kalian Ahmad Sudirman cs mengkafirkan Megawati, Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Susilo Bambang Yudhoyono.

Itulah yang Ahmad Sudirman maksudkan dari apa yang ditulis diatas itu.

Kemudian Ahmad Sudirman membalas terhadap apa yang dilontarkan oleh Rokhamawan terhadap NII, GAM, LDII dll dan memasukkan kedalam khawarij. Itu membalas dalam arti memberikan dasar argumen yang setelah digali apa yang telah dilakukan oleh gerakan wahabiyah dan dakhwah salafiyyah yang bersekutu dengan Amir Muhammad bin Saud dan keturunan yang juga sekaligus bergabung dengan pihak Pemerintah kerajaan Inggris untuk menjatuhkan Dinasti Islam Usmaniyah, ternyata tindakan mereka itu sama dengan tindakan kaum khawarij menentang dan memberontak terhadap Khilafah Islam dibawah Khalifah Ali bin Abi Thalib. Sehingga Khalifah Ali bin Abi Thalib dibunuh oleh pengikut golongan khawarij ini.

Nah, disini Ahmad Sudirman memberikan dasar argumen mengapa kaum wahabi atau salafi digolongkan juga kedalam khawarij.

Jadi Ahmad Sudirman tidak tersinggung atau marah. Melainkan balik membalas dengan disertai dasar aqlinya. Artinya ada dasar sejarahnya dan pendapat ulamanya yang menggolongkan khawarij bagi kelompok yang menentang kepada Penguasa Islam di daulah atau dinasti atau negara atau khilafah atau kesultanan yang dasar dan sumber hukum negaranya Islam. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Asy-Syihristani yang menyatakan: "Siapa saja yang keluar dari ketaatan terhadap pemimpin yang sah, yang telah disepakati, maka ia dinamakan Khariji (seorang Khawarij), baik keluarnya di masa shahabat terhadap Al-Khulafa Ar-Rasyidin atau terhadap pemimpin setelah mereka di masa tabi'in, dan juga terhadap pemimpin kaum muslimin di setiap masa" (Al-Milal wan Nihal, hal. 114).

Tentang saudara Joko yang menyinggung Jamaah Tabligh, ya itu silahkan saja kalian dari Jamaah Tabligh untuk menjalankan dan melaksanakan dakhwah kalian dengan cara atau metode dakhwahnya.

Bagi Ahmad Sudirman bukan suatu persoalan yang besar, yang penting tidak menganggap diri mereka dengan anggapan bahwa kelompok Jamaah Tabligh adalah jamaah yang benar dan paling lurus tauhidnya. Kalau ada diantara kelompok Jamaah Tabligh menyatakan hal itu dalam dakhwahnya baru Ahmad Sudirman turun tangan. Sebagaimana terhadap kaum wahabi atau salafi yang disponsori oleh saudara Rokhmawan yang sekarang mewakilkan kepada saudara Joko dengan pandangan yang tidak didasarkan kepada dalil naqli, hanya sedikit menyinggung dalil aqli saja.

Karena memang itulah yang diinginkan sekarang oleh Rokhmawan, bahwa Rokhmawan tidak akan lagi melambungkan dalil naqli dan dalil aqli. Dengan alasan seperti yang dinyatakan oleh Rokhmawan sendiri: "saya mengundurkan diri bukan berarti 100 % mohon diri tetapi saya tidak akan lagi menyampaikan dalil-dalil Aqli maupun dalil-dalil naqli walau satupun karena sudah menjadi kebiasaan seorang Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah apabila disampaikan dalil-dalilnya maka akan dibantahnya dengan berbagai alasan" (Rokhmawan, Sun, 5 Sep 2004 23:15:00 -0700 (PDT))

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Tue, 7 Sep 2004 21:58:51 -0700 (PDT)
From: joko riyanto mas_rey_2004@yahoo.com
Subject: Pak ahmad kok masih ada yang belum dijawab ?
To: ahmad@dataphone.se
Cc: ahmad_jibril1423@yahoo.com, hudoyo@cbn.net.id, sea@swipnet.se, siliwangi27@hotmail.com, habearifin@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com, yuhe1st@yahoo.com, dityaaceh_2003@yahoo.com, megawati@gmt.net, hassan.wirayuda@ties.itu.int, alchaidar@yahoo.com, perlez@nytimes.com, syifasukma@yahoo.com, imarrahad@eramuslim.com, viane@kon-x.com, muhammad59iqbal@yahoo.com, husaini54daud@yahoo.com, abu_farhan04@yahoo.com

Assalaamu'alaikum
Waduuh, kemaren hari selasa saya di tegur sama beliau pak Rokhmawan agar hati-hati kalau berbicara dengan orang-orang yang belum dikenal. Dan tentunya saya banyak dinasehati tentang tingkah laku salafy yang mengatakan ini biad'ah, itu bid'ah yang ada dalil shohehnya. Ma'af mungkin hari ini saya kelihatan agak memihak pak Rokhmawan, tetapi bukan berarti saya membelanya, ini hanya sekedar ungkapan hati saya yg dimana telah banyak mengambil ilmu dari beliau pak Rokhmawan.

Sebenarnya dalam hati saya tetap mengatakan tidak setuju dengan metode penerapan pembid'ahan walaupun itu ada dalilnya sendiri yg shoheh. Dan sayapun tidak setuju ketika beliau mengatakan si ini, si itu termasuk khowarij. Tetapi saya paling tidak setuju dengan ulah pak Ahmad dan kawan-kawannya yang mengatakan kafir kepada pejabat pemerintahan RI. Memang semuanya baik itu pak Rokhmawan yang menggolongkan khowarij untuk NII, GAM, LDII dll dan pak ahmad yang mengatakan kafir yang ditujukan kepada pejabat RI dan pendukungnya, menggunakan dalil yang shahih jadi bukan asal-asalan. Menurut saya, masih mending NII, GAM, LDII dll dikatakan Khowarij dari pada di katakan kafir seperti ketika pak Ahmad mengkafirkan pejabat RI dengan dasar Al-maidah tersebut.

Dan kalau Salafy mengatakannya demikian, bid'ah, khowarij dll tetapi mereka benar-benar konsekuen dengan keimanan dan ketauhidannya, sedangkan pak ahmad atau orang-orang NII termasuk GAM yang mengatakan kafir dimana kata-kata kafir sangat berbahaya bagi seorang muslim, namun kelihatannya mereka tidak konsekuen dengan keimanan dan ketauhidannya.

Salafy mengatakan amalan ini, amalan itu Bid'ah atau mereka termasuk Khowari, tetapi salafy tidak melakukan kebid'ahan dalam hidupnya, dan tidak melakukan hal-hal yg menggolongkannya sbg khowarij, kemudian mengenai pemberontakan Syeikh Muhammad bin abdul wahab itu terjadi pada masa lampau. Sedangkan NII, GAM mengatakan pejabat RI termasuk kafir namun sangat disayangkan NII, GAM sering atau kadang-kadang melakukan hal-hal yg mengakibatkan dirinya menjadi kafir, seperti yg dikatakan pak Rokhmawan, NII, GAM mempermainkan Sunnah-sunnah Rosululloh ataupun ayat-ayat Alloh SWT.

Ini memang fakta karena tetangga saya sendiri sering mengatakan pejabat RI itu begini, begitu tetapi suatu saat ketika saya tegur mengapa anda tidak sholat wajib dengan berjamaah di masjid ? dia pun menjawab dengan entengnya, kita kan disuruh menjadikan rumah seperti suasana di masjid atau bagaimana kalau saya pergi ke masjid namun istri saya sholat sendirian di rumah padahal sholat berjamaah lebih tinggi 27 derajat dibanding dengan sholat sendirian. Menurut pak Rokhmawan dan Salaf yang lainnya alasan demikia adalah termasuk mempermainkan Sunnah-sunnah Rosul bahkan ayat Alloh. Saya sudah mendapatkan pengertian atau contoh-contoh yang begitu banyak dari pak Rokhmawan tentang mempermainkan ayat Alloh ataupun sunnah rosul-NYA. Sekali lagi saya minta maaf kalau ini terkesan membela beliau.

Pak Ahmad saya kira ada hal-hal yang belum di jawab oleh anda atas kiriman email saya kemaren. Seperti adakah kajian dalam NII Kartosuwiryo ? Bagaimana cara mengetahui ajaran-ajaran dalam NII Kartosuwiryo ? Mengapa NII Kartosuwiryo sampai saat ini belum terdeteksi Situsnya padahal hampir semua firkoh terutama yang hasil impor dari timur tengah pasti mempunyai situs tentangnya.

Untuk dipertimbangkan dimana katanya islam kafah itu menyangkut semua aspek termasuk teknologi. Berarti kalau memang benar pengertian islam kafah itu menyangkut semua aspek mengapa NII Kartosuwiryo belum mempunyai situs tersendiri. Coba pak Ahmad buka itu situs-situs salafy yang begitu banyak, kemudian situs tabligh, situs PKS dll.

Lalu atas pertanyaan kemaren juga ada yg belum dijawab yaitu seputar GAM yang merekapun memiliki situs tetapi isinya kok kekerasan politik saja. Bagaimana cara mereka mencari ilmu agama? Apakah sudah memiliki jamaah tersendiri ? Adakah situs yang mereka buat tetapi mengenai ilmu agama bukan kekerasan politik.

Kemudian kelihatannya pak Ahmad belum menjawab secara tegas, lebih utama kemerdekaan atau keamanan tentunya melihat sikap ngototnya RI yang tidak mau mengakui kalau Aceh milik rakyat aceh. Kalau mereka mengutamakan merdeka jelas selamanya aceh tidak akan merdeka dan tidak akan aman, sedangkan kalau mengutamakan keamanan maka langkah yang paling tepat adalah mengikuti kemauan RI tetapi bukan berarti menyerah, perjuangan bisa dilanjutkan setelah keadaan menjadi aman tentunya GAM jangan membuat ulah lagi yg memicu TNI untuk menggempur Aceh.

Sekiranya ini solusi terakhir setelah solusi Referendum YA bebas dari RI dan TIDAK bebas dari RI tidak disetujui oleh RI. Perlu saya tanyakan kepada pak Ahmad bahwasanya referendum tersebut tidak bakal dipenuhi oleh RI maka langkah selanjutnya yg ditempuh bapak apa ? sebagai manusia kita harus bisa menghadapi segala kemungkinan yg terjadi dan mengambil langkah berikutnya.

Atas jawaban pak Ahmad tentang bagaimana cara menyatukan umat islam, maka bapak menjawab dengan pemahaman kesamaan aqidah dan tauhid maka tercapailah persatuan umat islam. Yang menjadi pertanyaan lanjutannya adalah bagaimana mungkin mereka bisa memahami adanya kesamaan aqidah dan tauhid ? Kalau aqidah mungkin sama yaitu islam dan sama-sama ingin menegakkan kalimat-kalimat Alloh di muka bumi ini. Sedangkan untuk tauhid maka ada perbedaan di antara mereka (firkoh-firkoh).

Kalau Salafi mengatakan tauhid itu ada 3 Tauhid rububiyah, uluhiyah dan asma wa sifat, sedangkan NII dll mengatakan tauhid itu ada 3 juga, tauhid rububiyah, uluhiyah dan mulkiyah (saya membaca dari salah seorang NII di mimbar bebas ini). Kemudian masih banyak lagi tauhid-tauhid yang ada dalam firkoh-firkoh namun pada intinya satu yaitu mengesakan Alloh. Dari perbedaan pengertian macam-macam tauhid inilah yang akan mengakibatkan perbedaan yg sangat mencolok.

Kemudian yang menjadi perbedaan yang sangat mencolok adalah ketika menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari yang kadang-kadang tidak mencerminkan ketauhidan tersebut, mungkin ini yang dinamakan cara atau sistem. Misal di dalam salafy ketika akan beribadah kepada Alloh SWT maka harus ada dalil naqlinya agar tidak dikatakan bid'ah, sedangkan dilain pihak mereka beribadah kepada Alloh dengan metode-metode baru yang penting tidak mengandung kesyirikan.

Seterusnya pak Ahmad menyarankan agar mereka (firkoh-firkoh tersebut) duduk bersama di subuah meja, tidak ada yg dibelakang tidak ada yg didepan semua sejajar dst. Tolong di jelaskan lebih lanjut agar lebih gamblang dan jelas. Kalau menurut saya itu tidak mungkin dilakukan dan apabila dilakukanpun akan terjadi kebuntuan dimana mereka merasa paling benar sendiri. Dan ketika saya tanyakan kepada pak Rokhmawan tentang persatuan umat islam, beliaupun menyanggah hal tersebut sesuai dalil yg mengatakan umat islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Namun demikian beliau menjawab persatuan umat islam akan terwujud di bawah kaki Imam Al-mahdi sesuai dengan hadist Rosululloh pula.

Saya sebenarnya merasa heran ketika pak Ahmad mengatakan, kalau ada kelompok atau golongan yang mengatakan pada orang atau kelompok atau golongan Islam bahwa mereka telah melakukan pembuatan aturan, hukum, undang-undang disamping aturan, hukum, undang-undang yang diturunkan Allah SWT, lalu tidak menetapkan aturan, hukum, undang-undang tidak berdasarkan aturan, hukum yang diturunkan Allah SWT, kemudian mereka dicap kafir, zhalim, fasik oleh Allah SWT. Janganlah mereka tersinggung dan merasa terpukul. Melainkan berikan dasar argumentasi secara aqli dan naqli, atau secara daruri dan nadhari. Mengapa pak ahmad juga tersinggung atau marah ketika beliau pak Rokhmawan menggolongkan NII, GAM, LDII dll kedalam khowarij ? Maaf saya terpaksa menyarankan kepada pak Ahmad kalau anda sendiri tidak mau dikatakan ini, itu, anu maka janganlah pak ahmad mengatakan terlebih dahulu tentang kafir kepada pejabat RI.

Saya mencoba memahami kedua belah pihak dimana dua-duanya ada dalilnya sendiri untuk mengatakan bid'ah, khowarij ataupun kafir. Bukankah bapak atau yang merasa pro dengan pak Ahmad terlebih dahulu menjatuhkan vonis di mimbar bebas ini walaupun itu menurut Al-maidah 44 ?. Sedangkan pak Rokhmawan memang pada awalnya hanya ingin meluruskan pendapat tersebut tetapi mungkin karena beliau sudah memahami siapakah itu GAM, NII dll lalu dilancarkanlah salto khowarijnya kepada NII, GAM, LDII dll. Setelah itu pertarungan semakin sengit dimana pak Ahmad balik memukul beliau tentang ulah Syeikh beliau yg kemudian pak Ahmad katakan khowarij pula. Belum lagi hal-hal yang tidak pantas bapak Ahmad ucapkan kepada seorang muslim (pak Rokhmawan).

Namun demikian atas kelakuan kalian berdua maka sayapun berlepas dari pergunjingan tersebut. Saya harapkan kaliyan berdua termasuk yang lainnya sama-sama bertaubat kepada Alloh. Soal minta maaf saya kira itu tidak perlu buat apa minta maaf kalau kelakuannya masih sama saja yaitu saling menunjuk orang lain sebagai ini, itu, anu dll.

Untuk semua kalangan baik Salafy, NII, GAM, Hisbut tahrir, Ikhwanul Muslimin, pak Rokhmawan dan pak Ahmad dll kalau ingin mengoreksi orang lain maka carilah jalan dengan pendekatan individu, persuasif bukan dilakukan dengan terang-terangan, kalau dilakukan secara terang-terangan maka terjadilah semacam kesalah pahaman.

Saya juga heran kepada pak Ahmad yang mengatakan kalau mimbar bebas ini adalah ajang untuk berdiskusi dan berdebat bukan untuk mencari permusuhan. Mengapa pak ahmad dulu menyuruh umat islam di seluruh dunia dan di aceh untuk menghadapi beliau pak rokhmawan ? bahkan kalau tidak salah ada yang menyuruh menbunuhnya. Dan mengapa pula pak ahmad menyuruh umat islam untuk menjauhi dan berhati-hati terhadap Salafy ?. Sekedar info saya sudah membaca dari awal pak Rokhmawan terjun di mimbar bebas ini dan tentunya sebelumnya di beritahu oleh beliau. Coba pak ahmad terangkan kenapa anda bisa berkata demikian di atas dan berkata pula kalau semua ini untuk diskusi dan debat bukan cari musuh.

Sekali lagi saya minta maaf kalau terkesan membela pak Rokhmawan.

Pak rokhmawan titip salam untuk semua peserta di mimbar bebas ini yang masih aktif. Sedangkan beliau sendiri sudah tidak ada minat lagi untuk berdiskusi dan berdebat dimana alasannya bukan alasan yang datang dari pribadi melainkan datang dari ustadz dan ulama Salaf.

Sedikit pengetahuan saya yang diambil dari Jamaah Tabligh mengenai bagaimana Syaiton menggoda bani adam yaitu ada beberapa langkah sebagai berikut :
1.Syaiton menggoda manusia agar berbuat maksyiat baik besar maupun kecil.
2.Kalau tidak bisa maka syaiton membisikkan agar manusia menganggap amalan buruk itu sebagai amalan baik.
3.Kalau tidak bisa lagi maka syaiton membisikkan kepada manusia agar melakukan amalan bid'ah.
4.Kalau tetap tidak bergeming syaitonpun akan membisikkan kepada manusia agar menunda amal kebaikan.
5.Masih saja tidak mempan maka syaiton menggoda manusia agar senantiasa membicarakan hal-hal yang tidak penting sehingga dapat melupakan waktu untuk ibadah kpd Alloh.
6.Inilah langkah yg terakhir yaitu syaiton membisikkan di dalam hati manusia perasaan paling pandai, paling pintar sendiri di antara keluarga, teman dll.

Saya yakin untuk Salafy maka Syaiton menggunakan langkah yang paling mujarab yaitu langkah ke enam "merasa paling pintar". Jangankan Salaf para imam besarpun bahkan para sahabat rosululloh mendapat godaan dari langkah ke enam ini. Namun bedanya di saat para imam besar atau para sahabat, hatinya mengatakan atau terbesit kata-kata paling pintar sendiri maka seketika itu mereka akan taubat dan minta ampun kepada Alloh, sedangkan untuk Salaf yg berhasil dibawa Syaiton ke perasaan paling pintar sendiri mungkin sampai ada orang yang menegur barulah mereka sadar.

Untuk firkoh-firkoh yang lainnya maka syaiton tidak susah-susah menggodanya, paling baru langkah ke dua atau ke tiga maka berhasillah syaiton menggodanya. Tapi bukan berarti syaiton menghentikan godaannya. Walaupun orang tersebut sudah tergiring masuk ke langkah dua tersebut di atas syaiton tersebut tetap mencari titik lengahnya yaitu seperti langkah ke empat sampai ke enam, seperti menunda amal, sholat dll. Bahkan mungkin bagi mereka yang lemah iman akan mudah tergoda dengan langkah syaiton yang pertama.

Dari semua godaan-godaan syaiton di atas hanyalah orang-orang yang mukhlis atau mukhsin yang tidak akan tergoda. Coba buka Al-qur'an, ketika Alloh akan menciptakan seorang manusia dan janji syaiton kepada Alloh untuk menyesatkan manusia kecuali orang-orang yg mukhlisin. Merekalah generasi-generasi Rosululloh, para sahabat, tabi'in dan orang-orang islam jaman sekarang yang segera bertaubat disaat melakukan kesalahan dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Wassalaam.

Joko Riyanto

mas_rey_2004@yahoo.com
Solo, Jawa Tengah, Indonesia
----------