Stockholm, 8 September 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MUNIR DENGAN SENJATA HAM-NYA MEMBUAT TNI & MEGA GEMETAR KINI TELAH MENGHADAP ALLAH SWT
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MUNIR KETURUNAN ARAB DENGAN SENJATA HAM-NYA MEMBUAT TNI & MEGA GEMETAR KINI TELAH MENGHADAP ALLAH SWT

Munir keturunan Arab yang lahir di Malang pada 8 Desember 1965 dan menyelesaikan studi hukumnya di Universitas Brawijaya, Malang pada tahun 1989. Kemudian masuk LBH Malang, dan menjadi staf LBH Malang pada 1991. Tahun 1992 pindah ke LBH Surabaya, menjadi Koordinator Divisi Perburuhan dan Divisi Hak Sipil Politik. Pada 1993 sampai 1995, menjadi Ketua Bidang Operasional LBH Surabaya. Pada tahun 1996 dipercaya menjabat sebagai Direktur LBH Semarang selama tiga bulan, setelah itu ditarik ke Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta, menjadi sekretaris bidang operasional. Disamping itu bekerja selaku Koordinator Komisi Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) pada tahun 1998. Setelah menikah dengan Suciwati dikaruniai dua anak, Sultan Alif Allende berusia 5 tahun dan Difa berusia 2 tahun. Setelah mundur dari Kontras Munir mendirikan lembaga Indonesian Human Rights Monitor (Imparsial). Mendapat penghargaan Thian Hien Award dari Yayasan Pusat HAM pada tahun 1998, dan pada tahun 2000 mendapat penghargaan dari The Right Livelihood di Stockholm, Swedia, serta penghargaan dari UNESCO.

Setahun yang lalu, Munir dirawat di RS Saint Carolus karena menderita sirosis hati. Kemarin, 7 September 2004, dua jam sebelum pesawat GA-974 mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam yang dijadwalkan mendarat pukul pukul 08.10 waktu Belanda, dengan tujuan untuk menempuh satu tahun program master di Fakultas Hukum Universitas Utrecht bidang European Protection of Human Rights yang akan berlangsung pada bulan September sampai September tahun depan. Dengan beasiswa dari Interchurch Organisation for Development Cooperation (ICCO) atau Organisasi Antargereja untuk Kerjasama Pembangunan. Ternyata Munir telah menghembuskan nafasnya yang terakhir menghadap ke-Khadlirat Allah SWT didalam pesawat yang membawanya ke Belanda.

Munir tampil digelanggang hukum dalam Hak Hak Asasi manusia, terutama ketika ikut mendirikan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras) pada 1996. Dalam Kontras ini Munir memperjuangkan Hak Hak Asasi manusia dalam bentuk anti kekerasan. Dimana Munir sangat menentang penggunaan kekerasan senajata yang selalu dilakukan oleh TNI/POLRI. Dengan gerakan anti kekerasan inilah Munir muncul dipermukaan gelanggang hukum Indonesia. Sehingga pihak Penguasa khususnya pihak TNI merasa terhalangi gerakannya akibat adanya Munir pejuang HAM di Nusantara.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, selamat jalan Munir, semoga amal ibadah, dan semua jerih payah, dalam memperjuangkan orang-orang yang hak hak asasi manusia-nya telah dirampas dan diperlakukan sewenang-wenang oleh pihak Penguasa khususnya oleh pihak TNI, menjadi amal ibadah yang diridhai Allah SWT, dan bagi keluarga yang ditinggalkannya diberikan kekuatan dan ketabahan serta tetap dalam bimbingan Allah SWT, amin.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------