Stockholm, 9 September 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

KEDANGKALAN BERPIKIR & KETUMPULAN DAYA ANALISA WAHABIYIN ROKHMAWAN
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KARENA KEDANGKALAN BERPIKIR & KETUMPULAN DAYA ANALISA WAHABIYIN ROKHMAWAN AKHIRNYA TERJERUMUS KEDALAM JURANG KEPICIKAN

"Dengan terpaksa hari ini saya muncul di hadapan anda semua dan terutama ingin melabrak Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman serta sdr Ham an yang sedang belajar menjadi seorang dukun profesional. Tahukah anda mengenai profesi seorang dukun ? Salah satu di antara profesi seorang dukun yang profesional adalah meramal atau menebak seseorang baik mengenai nasib, mimpi, jodoh dll. Akan tetapi bagi seorang dukun yang baru buka praktek sudah barang tentu dia akan tidak sedikit mengalami kegagalan dalam menebak. Begitulah sekiranya ungkapan yg tepat untuk seorang Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman serta sdr Ham an yang mencoba menebak jati diri sdr Joko riyanto yang menurutnya adalah saya sendiri, namun sekali lagi berhubung mereka berdua merupakan 'Dukun" kelas teri atau baru buka praktek walhasil tebakannya meleset 180 derajat." (Rokhmawan , rokh_mawan@yahoo.com , Thu, 9 Sep 2004 00:29:23 -0700 (PDT))

Baiklah Rokhmawan Agus Santosa dan Salafi di Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Bagi Ahmad Sudirman tidak begitu penting apakah itu Wahabiyin Rokhmawan menjelma menjadi Joko Riyanto, atau Wahabiyin Rokhmawan berbeda jasad dengan Joko Riyanto.

Yang penting bagi Ahmad Sudirman di mimbar bebas ini apakah ada kesamaan pemikiran dan pemahanan yang dikembangkan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan saudara Joko Riyanto dalam hal aqidah, tauhid dan paham gerakan wahabiyyah atau gerakan dakhwah salafiyyah yang digembar-gemborkan oleh Wahabiyin Rokhmawan dari Yayasan Pesantren Bukhori Solo ini.

Nah, karena pagi ini itu Wahabiyin Rokhmawan muncul lagi, dengan ucapan yang menggebu-gebu dan memberikan penjelasan bahwa dirinya Wahabiyin Rokhmawan adalah berbeda dengan diri saudara Joko Riyanto, sambil mengacungkan kepalan tangannya dan mulutnya berteriak: "Saya beritahukan kepada anda berdua Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid,ah dan Bahlul Ahmad Sudirman serta sdr Ham an bahwasanya sdr Joko riyanto bukanlah saya, saya pun bukan dia. Saya dan Joko adalah dua individu yang berlainan. Saya kaget dengan dengan ulahnya Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman serta sdr Ham am yang terlewat batas dan ulahnya itu menjadikan bumerang bagi dirinya sendiri."

Jelas dengan adanya deklarasi dari Wahabiyin Rokhmawan yang menyatakan tentang dirinya dan saudara Joko Riyanto adalah dua jasad yang berbeda, menunjukkan bahwa memang benar dalam sebagian besar pandangan saudara Joko Riyanto mengikuti jalur pemikiran Wahabiyin Rokhmawan, walaupun tidak sepemahaman tentang paham gerakan wahabi dan dakhwah salafiyyah, melainkan lebih mengarah kepada model dakhwah-dakhwah yang dikembangkan oleh para juru dakhwah ala karkun-karkun dari Jamaah Tabligh yang berasal dari India.

Bagi Ahmad Sudirman tidak menjadi suatu hal yang penting, apakah saudara Joko Riyanto lebih banyak tertarik kepada model dakhwah Islamiyah yang dikembangkan oleh karkun-karkun Jamaah Tabligh, atau Wahabiyin Rokhmawan yang terjerumus kedalam paham wahabi dengan dakhwah salafiyyahnya. Karena yang penting bagi Ahmad Sudirman dalam masalah dakhwah yang menyangkut aqidah dan tauhid ini tidak menganggap bahwa kelompoknya yang paling benar dan paling lurus tauhidnya. Sedangkan kelompok yang ada diluarnya dianggap kelompok yang sudah membelok dan tidak mengikuti jalur yang telah menjadi pemahamannya. Contohnya seperti Wahabiyin Rokhmawan dengan gerakan wahabi dan dakhwah salafiyyahnya.

Kalau Wahabiyin Rokhmawan mengatakan: "Dengan terpaksa hari ini saya muncul di hadapan anda semua dan terutama ingin melabrak Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman serta sdr Ham an yang sedang belajar menjadi seorang dukun profesional. Tahukah anda mengenai profesi seorang dukun ? Salah satu di antara profesi seorang dukun yang profesional adalah meramal atau menebak seseorang baik mengenai nasib, mimpi, jodoh dll. Akan tetapi bagi seorang dukun yang baru buka praktek sudah barang tentu dia akan tidak sedikit mengalami kegagalan dalam menebak. Begitulah sekiranya ungkapan yg tepat untuk seorang Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman serta sdr Ham an yang mencoba menebak jati diri sdr Joko riyanto yang menurutnya adalah saya sendiri, namun sekali lagi berhubung mereka berdua merupakan 'Dukun" kelas teri atau baru buka praktek walhasil tebakannya meleset 180 derajat."

Dari jawaban yang diungkapkan oleh Wahabiyin Rokhmawan diatas menggambarkan bagaimana sebenarnya jalan pikiran pendek tanpa disaring dengan pengetahuan yang luas, sehingga hanya mampu meluncurkan percikan-percikan pikiran yang bercampur dengan dorongan nafsunya yang tidak terkendali, sehingga keluarlah tulisan yang sebagiannya berbunyi: "Dengan terpaksa hari ini saya muncul di hadapan anda semua dan terutama ingin melabrak Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman serta sdr Ham an yang sedang belajar menjadi seorang dukun profesional. Tahukah anda mengenai profesi seorang dukun ? Salah satu di antara profesi seorang dukun yang profesional adalah meramal atau menebak seseorang baik mengenai nasib, mimpi, jodoh dll. Akan tetapi bagi seorang dukun yang baru buka praktek sudah barang tentu dia akan tidak sedikit mengalami kegagalan dalam menebak"

Dengan lahirnya senjata gombal dukun, dihubungkan dengan pandangan Ahmad Sudirman yang sebelumnya yang pernah diungkapkan di mimbar bebas ini yaitu:

"Pagi ini Ahmad Sudirman menerima tanggapan dari saudara Joko Riyanto. Setelah Ahmad Sudirman membacanya, terbayang bahwa saudara Rokhmawan telah menjelma menjadi saudara Joko Riyanto yang sama-sama bekerja di Yayasan Pesantren Pondok Imam Bukhori di Solo. Bagi Ahmad Sudirman tidak begitu penting, apakah saudara Rokhmawan telah menjelma, seperti paham ajaran hindu, menjadi saudara Joko Riyanto, ataukah memang benar saudara Joko bekerja ditempat yang sama tetapi lain bidang pekerjaannya. Saudara Joko dibagian Tata Usaha, sedangkan saudara Rokhmawan bekerja di bagian Laboratorium Komputer. Seperti yang ditulis saudara Joko yang mengggambarkan dua sosok yang berbeda: "Pak rokhmawan titip salam untuk semua peserta di mimbar bebas ini yang masih aktif. Sedangkan beliau sendiri sudah tidak ada minat lagi untuk berdiskusi dan berdebat dimana alasannya bukan alasan yang datang dari pribadi melainkan datang dari ustadz dan ulama Salaf." Yang jelas isi dari pandangan saudara Joko pagi ini jauh sekali berbeda dengan isi pandangan yang pertama yang disampaikan kepada Ahmad Sudirman. (Ahmad Sudirman, 8 September 2004)

Nah, dari apa yang telah Ahmad Sudirman kemukakan di mimbar bebas ini, dihubungkan dengan apa yang disimpulkan oleh Wahabiyin Rokhmawan dengan kesimpulannya: "Salah satu di antara profesi seorang dukun yang profesional adalah meramal atau menebak seseorang baik mengenai nasib, mimpi, jodoh dll. Akan tetapi bagi seorang dukun yang baru buka praktek sudah barang tentu dia akan tidak sedikit mengalami kegagalan dalam menebak"

Jelas, dengan lahirnya kesimpulan yang dilambungkan oleh Wahabiyin Rokhmawan atas apa yang telah Ahmad Sudirman nyatakan di mimbar bebas ini, menggambarkan bagaimana sebenarnya jalan pikiran Wahabiyin Rokhwan ini yang sebenarnya kalau sedang berdiskusi dan berdebat yang memerlukan daya pikir dan daya analisa yang tajam dengan didasari oleh ilmu pengetahuan yang luas bukan saja ilmu penegatuhan agama melainkan juga harus ditambah dengan ilmu pengetahuan umum.

Kesalahan dalam mengambil kesimpulan yang dilakukan oleh Wahabiyin Rokhmawan inilah yang sebearnya menyebabkan tersungkurnya Wahabiyin Rokhmawan ini, ditambah dengan pemahamannya tentang gerakan wahabi dan dakhwah salafiyyahnya.

Selanjutnya Wahabiyin Rokhmawan mengungkapkan lagi: "Masih ingatkah ketika beberapa bulan yg lalu saya menggap Ahmad Sudirman adalah ahmad jefery asy-syayaf ? langsung saja itu Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman sewot dengan anggapan saya demikian ...demikian. Dan diapun dengan sewotnya mengatakan kalau saya asal cuap, asal mencukil nama orang dll lebih-lebih tidak di tabayyun kan kepada yg bersangkutan. Tetapi walaupun demikian setelah itu saya minta maaf karena telah salah menebak orang (inilah sikap kasatriya)"

Nah, disipun itu Wahabiyin Rokhmawan berusaha untuk membandingkannya apa yang telah dilakukan dirinya pada hari Senin, tanggal 12 Juli 2004 yang jelas-jelas suatu kebohongan. Mengapa didasarkan kepada suatu dasar kebohongan ?

Karena ketika Wahabiyin pada tanggal 12 Juli 2004 memberikan tanggapan terhadap Ahmad Sudirman dengan menyatakan: "sebenarnya bapak Ahmad ini hanya mengkambinghitamkan pemerintahan RI saja lihat saja dalam tulisannya yang intinya "Sebenarnya Pemerintahan RI yang memecah NII menjadi 14 faksi. Atas dasar apa bapak mengatakan demikian ? Padahal dalam artikel yang bapak tulis khusus buat saya mengatakan yang intinya : Perpecahan tersebut dikarenakan : 1.Karena NII Kartosuwiryo pada waktu itu belum memperoleh pengakuan secara dejure dan defacto sehingga umat islam belum banyak yang mengetahuinya. 2.Karena adanya ketidaktahuan orang-orang yang ingin meneruskan perjuangan Kartosuwiryo dengan adanya UUD NII dll. 3.Mereka sudah tahu, tetapi karena ingin tujuan tertentu sehingga memaksakan aturan-aturan sediri. Naah khan kelihatan sekali Bapak Ahmad kalau menulis menanggapi komentar saya hanya asal-asalan. Bapak boleh meralat artikel bapak sesuai dengan nafsu bapak yang mengkambing-hitamkan bahwasanya Pemerintahan RI yang memecah-belah NII (sebenarnya perpecahan dalam tubuh NII dikarenakan lemahnya iman mereka)." (Rokhmawan, Mon, 12 Jul 2004 00:40:47 -0700 (PDT))

Kebohongan yang dilakukan oleh Wahabiyin Rokhmawan ini didasarkan kepada pernyataan: "Padahal dalam artikel yang bapak tulis khusus buat saya mengatakan yang intinya...."

Dasar kebohongan Wahabiyin itu adalah pertama mengatakan bahwa Ahmad Sudirman menulis artikel khusus buat Wahabiyin Rokhmawan. Padahal Ahmad Sudirman tidak pernah menulis artrikel khusus untuk Wahabiyin Rokhwanan yang isinya seperti yang disimpulkan oleh Wahabiyin Rokhmawan diatas.

Rupanya setelah Ahmad Sudirman menelusuri sampai mendalam, akhirnya Ahmad Sudirman menemukan jawabannya, yaitu tulisan saudara Jeffrey Ahmad Assayyaf yang berjudul "Jeffrey Ahmad: Paradigma baru NII" yang dimuat pada tanggal 2 Mei 2000 di www.dataphone.se/~ahmad/opini.htm

Nah disinilah kebohongan dasar yang dijadikan argumentasi oleh Wahabiyin Rokhmawan ini, yaitu pertama mengaku bahwa Ahmad Sudirman menulis artikel khusus untuk Wahabiyin Rokhmawan. Kedua, kesimpulan dari isi tulisan saudara Jeffrey Ahmad Assayyaf dijadikan alat untuk memukul Ahmad Sudirman. Ketiga, menunjukkan dangkalnya cara berpikir dari Wahabiyin Rokhmawan.

Barulah setelah Ahmad Sudirman menyatakan: "Saudara Rokhmawan, itu saudara Jeffrey Ahmad Assayyaf adalah bukan Ahmad Sudirman. Walaupun tulisan saudara Jeffrey Ahmad Assayyaf dimuat di www.dataphone.se/~ahmad , tetapi tidak berarti bawa Ahmad Sudirman setuju dengan isi yang ditulis oleh saudara Jeffrey Ahmad Assayyaf." (Ahmad Sudirman, 13 Juli 2004)

Rupanya itu Wahabiyin Rokhmawan terbongkar kebohongannya, maka pada hari yang sama Wahabiyin Rokhmawan langsung menulis dan menyanggah: "Kemudian mengenai tulisan saya tentang terjadinya perpecahan di NII di tuliskan oleh Djefery Ahmad Asysyayaf dengan judul Paradigma Baru NII BAB II, saya tidak tahu apakah ini juga nama Bapak Ahmad Sudirman atau tidak yang jelas dia berasal dari swedia, dan dia mengatakan dari Djefery Ahmad Asysyayaf Warga Negara Karunia Alloh yang di tulis juga lewat mimbar bebas ini pada thn 2000 nomer kode 000502 alamat situsnya : www.dataphone.se/~ahmad/daftar.htm, yang jelas alamat emailnya mirip dengan bapak kalau tidak salah Jeffery_ahmad@hotmail.com, saya mengira dia adalah bapak Ahmad Sudirman karena dia juga mengetahui UUD NII, PDB dll.Yang jelas cara penulisannya mirip dengan Bapak Amad Sudirman. Silakan lacak dia." (Rokhmawan, Mon, 12 Jul 2004 23:21:59 -0700 (PDT) , 13 Jul 2004 13:21:59 + 0700 WIB)

Jadi dari apa yang dikemukakan oleh Wahabiyin tentang saudara Jeffrey Ahmad Assayyaf , jelas berbeda dengan ketika Ahmad Sudirman memandang kepada saudara Joko Riyanto. Mengapa ?

Karena Ahmad Sudirman tidak didasarkan kepada suatu dasar kebohongan. Melainkan dari apa yang langsung telah dikemukakan dan ditulis oleh saudara Joko Riyanto yang langsung ditujukan kepada Ahmad Sudirman.

Dimana Ahmad Sudirman menyatakan karena adanya sebagian besar kemiripan dari arah jalur berpikir saudara Joko Riayanto dengan Wahabiyin Rokhmawan, maka Ahmad Sudirman menyatakan sebagaimana ditulis diatas: "Bagi Ahmad Sudirman tidak begitu penting, apakah saudara Rokhmawan telah menjelma, seperti paham ajaran hindu, menjadi saudara Joko Riyanto, ataukah memang benar saudara Joko bekerja ditempat yang sama tetapi lain bidang pekerjaannya. Saudara Joko dibagian Tata Usaha, sedangkan saudara Rokhmawan bekerja di bagian Laboratorium Komputer. Seperti yang ditulis saudara Joko yang mengggambarkan dua sosok yang berbeda: "Pak rokhmawan titip salam untuk semua peserta di mimbar bebas ini yang masih aktif. Sedangkan beliau sendiri sudah tidak ada minat lagi untuk berdiskusi dan berdebat dimana alasannya bukan alasan yang datang dari pribadi melainkan datang dari ustadz dan ulama Salaf." Yang jelas isi dari pandangan saudara Joko pagi ini jauh sekali berbeda dengan isi pandangan yang pertama yang disampaikan kepada Ahmad Sudirman. (Ahmad Sudirman, 8 September 2004)

Sekarang, kalau apa yang telah dikemukakan oleh Ahmad Sudirman itu, kemudian oleh Wahabiyin disimpulkan dengan kesimpulan: "namun sekali lagi berhubung mereka berdua merupakan 'Dukun" kelas teri atau baru buka praktek walhasil tebakannya meleset 180 derajat."

Nah, dari kesimpulan yang diambil oleh Wahabiyin Rokhmawan ini sudah bisa memberikan gambaran bagaimana sebenarnya cara berpikir dan daya kemampuan analisa dari Wahabiyin Rokhmawan ini dalam hal mengambil premis-premis yang ada dalam suatu permasalahan.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Thu, 9 Sep 2004 00:29:23 -0700 (PDT)
From: rohma wawan rokh_mawan@yahoo.com
Subject: Itu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah serta Si Bahlul Ahmad Sudirman dan Ham an Berlagak Menjadi Seorang Dukun Kelas Teri
To: ahmad@dataphone.se
Cc: ahmad_jibril1423@yahoo.com, hudoyo@cbn.net.id, sea@swipnet.se, siliwangi27@hotmail.com, habearifin@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com, yuhe1st@yahoo.com, dityaaceh_2003@yahoo.com, megawati@gmt.net, hassan.wirayuda@ties.itu.int, alchaidar@yahoo.com, perlez@nytimes.com, syifasukma@yahoo.com, imarrahad@eramuslim.com, viane@kon-x.com, muhammad59iqbal@yahoo.com, husaini54daud@yahoo.com,abu_farhan04@yahoo.com

Assalaamu'alaikum Wr.Wb

Itu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah serta Si Bahlul Ahmad Sudirman dan Ham an Berlagak Menjadi Seorang Dukun Kelas Teri

Dengan terpaksa hari ini saya muncul di hadapan anda semua dan terutama ingin melabrak Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman serta sdr Ham an yang sedang belajar menjadi seorang dukun profesional. Tahukah anda mengenai profesi seorang dukun ? Salah satu di antara profesi seorang dukun yang profesional adalah meramal atau menebak seseorang baik mengenai nasib, mimpi, jodoh dll. Akan tetapi bagi seorang dukun yang baru buka praktek sudah barang tentu dia akan tidak sedikit mengalami kegagalan dalam menebak. Begitulah sekiranya ungkapan yg tepat untuk seorang Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman serta sdr Ham an yang mencoba menebak jati diri sdr Joko riyanto yang menurutnya adalah saya sendiri, namun sekali lagi berhubung mereka berdua merupakan 'Dukun" kelas teri atau baru buka praktek walhasil tebakannya meleset 180 derajat.

Saya beritahukan kepada anda berdua Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid,ah dan Bahlul Ahmad Sudirman serta sdr Ham an bahwasanya sdr Joko riyanto bukanlah saya, saya pun bukan dia. Saya dan Joko adalah dua individu yang berlainan. Saya kaget dengan dengan ulahnya Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman serta sdr Ham am yang terlewat batas dan ulahnya itu menjadikan bumerang bagi dirinya sendiri.

Masih ingatkah ketika beberapa bulan yg lalu saya menggap Ahmad Sudirman adalah ahmad jefery asy-syayaf ? langsung saja itu Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman sewot dengan anggapan saya demikian ...demikian. Dan diapun dengan sewotnya mengatakan kalau saya asal cuap, asal mencukil nama orang dll lebih-lebih tidak di tabayyun kan kepada yg bersangkutan. Tetapi walaupun demikian setelah itu saya minta maaf karena telah salah menebak orang (inilah sikap kasatriya).

Naah bagaimana dengan mereka berdua (Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah serta Bahlul Ahmad Sudirman maupun sdr Ham am) yang seenak perutnya sendiri mengaggap saya menjelma / menyulap menjadi Joko riyanto, bukankah perlakuan dan perkataannya ini bertentangan dengan bulan-bulan kemaren, kenapa tidak di tabayyunkan dulu kepada pihak yang bersangkutan ?.

Kami beritahukan, sdr Joko sekarang tidak masuk kerja dikarenakan sakit...begitu dia sembuh,dan membuka emailnya diapun akan heran bin kaget. Wahai Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah, Bahlul Ahmad Sudirman serta sdr Ham an mungkin anda tidak percaya dengan apa yang ada pada tulisan joko.

Itu joko sebelumnya sudah saya nasehati berkali-kali tentang perdebatan saya dengan anda Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman, jadi sudah semestinya dia akan lebih percaya dengan orang yang di dekatnya dari pada dengan orang yg belum tahu rimba dan jati dirinya. Dan kemungkinan besar seandainya dia kembali lagi ke mimbar bebas ini maka bisa saja hasil pikirannya hampir sama denga saya tetapi banyak bedanya juga, karena jelas dia sudah sering bermudzakaroh kepada saya.

Saya tidak akan memperpanjang masalah tersebut di atas.

Kemudian saya akan menjawab pertanyaan sdr Sumitro mengenai Hukum Islam apabila diterapkan di Indonesia pada saat sekarang ini. Sebenarnya hal tersebut saya menginginkan jawaban dari Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman tetapi karena sdr Sumitro menujukannya kpd sdr Ham am jadi yaaa tidak bakal di jawab oleh Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman. Karena mengapa saya menginginkan jawaban dari dia ? jelas sekali kemungkinan besar karena dialah yang lebih faham dari pada Ham an. Namun demikian tidak masalah atas apa yang dijawab oleh sdr Ham am, yang pada intinya hanya melihat dari 1 sudut saja, yaitu Al-qur'an.

Sdr Sumitro untuk menjawab pertanyaan anda maka haruslah dilihat pula dari sudut Shiroh Nabawiyah dimana pada saat Rosululloh SAW berdakwah di Makkah dam di Madinnah. Pada saat Rosululloh SAW berdakwah di Makkah maka anda semuapun tahu keadaan penduduknya yang sebagian besar memusuhi dan menolak ajaran beliau. Keika Rosululloh SAW berhijrah ke Madinnah maka yang didapatkan adalah banyak kaum anshor madinnah yg sudah memeluk dan merindukan kedatangan Rosululloh SAW. Walaupun begitu (keadaan madinnah lebih baik dibanding di makkan pada saat itu) Daulah Islam tidak langsung terbentuk tetapi membutuhkan waktu terlebih dahulu untuk membina iman kaum anshor di madinnah. Dan setelah Rosululloh berhasil membinan iman kaum muslimin anshor di madinnah maka sesuai janji Alloh SWT bahwa Dia akan memberikan pemerintahan islam bagi orang-orang yang benar-benar beriman dan beramal shalih, maka dibentuklah Daulah Islam di Madinnah atas perjanjian kaum anshor di madinnah (muslimin, yahudi dan nasrani) dengan Rosululloh SAW. Sudah pasti karena hijrah, dakwah dan pembinaan beliau berhasil maka kaum anshor di madinnah tersebut tidak ada yang menolak terang-terangan di saat perjanjian tersebut diadakan. Karena kedua belah pihak (kaum anshor dan muhajirin) ada kesepakatan tanpa ada paksaan maka berdirilah itu Daulah Islam Rosululloh di Madinnah.

Khan tidak mungkin itu Daulah Islam dibentuk pada saat Rosululloh SAW berada di makkah, karena jelas tidak mungkin bisa dibentuk dimana hampir semua penduduk makkah masih dalam keadaan kafir. Alloh SWT maha tahu akan keadaan di makkah saat itu, pada masa yang akan datang dengan langsung terbentuknya Daulah Islam.

Nah begitu pula dengan di Indonesia pada saat ini, walaupun penduduknya sebagian besar islam namun apabila melihat keimanan dan ketaqwaannya kepada Alloh SWT maka belum saatnya untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi yaitu pembentukan Daulah Islam. Bagaimana kalau di paksakan ? maksudnya tidak dengan perjanjian yang mencakup semua elemen penduduk indonesia. Kemungkinan besar itu Daulah Islam Indonesia tidak akan bertahan lama dan hukum-hukum-Nya pun tinggal sebatas di atas kertas.

Coba bayangkan, apabila di Indonesia benar-benar di bentuk Daulah Islam, namun kondisi masyarakat yang demikian rusak yaitu banyak pencurian, perzinahan dll maka tetap saja itu kemaksyiatan tidak akan berhenti, bahkan bisa juga akan lebih mengglobal apabila kita menengok apa yang di sangsikan oleh sdr Sumitro tsb.

Sudah sering kali saya bahas untuk membentuk Daulah Islam maka caranya adalah dengan Dakwah tanpa kenal lelah, dakwah yg hikmah (sunnah) dan bijaksana. Nah apabila langkah ini sudah berhasil maka mudah sekali untuk membentuk Daulah Islam di Indonesia. Adapun keberhasilan dakwah antara lain : keimanan dan ketaqwaan para dai semakin meningkat, semakin banyaknya penduduk yang kembali kepada islam yang benar (banyak masjid yg makmur, banyak majlis ilmu yg makmur dll), semakin berkurangnya kemaksyiatan di Indonesia sehingga tinggal sedikit dan tidak adanya pertikaian antara sesama kelompok islam sendiri maupun dengan yg diluar islam.

Setelah kita melihat ciri-ciri tersebut maka barulah kita bentuk perjanjian antara pemerintah dengan penduduk untuk membentuk Daulah Islam. Apabila kedua belah pihak setuju dan tanpa paksaan alias dengan kesadaran maka itulah yang sesuai bagaimana terbentuknya Daulah Islam Rosululloh di Madinnah yang tanpa ada paksaan alias dengan kesadaran masing-masing wakil dari kabilah-kabilah. Wallohu'alam bi showab

Wassalaam

Rokhmawan Agus Santosa

rokh_mawan@yahoo.com
rokh-mawan@plasa.com
solo, jateng, Indonesia
----------