Stockholm, 11 September 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

KOLONEL INF GEERHAN LANTARA DI ACHEH HANYA TAKLID BUTA PADA SOEKARNO
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KELIHATAN JELAS ITU KOLONEL INF GEERHAN LANTARA DI ACHEH HANYA TAKLID BUTA PADA SOEKARNO YANG MENDUDUKI DAN MENJAJAH NEGERI ACHEH

"Kalau ada pihak yang angkat senjata ingin merdeka, tetap saya kejar meski sampai ke lubang tikus sekalipun. Hal itu jelas ditulis dalam pembukaan UUD 1945. Maka siapa pun yang ingin memerdekakan diri dan pisah dari NKRI, itu gila. Kalau kami tidak menjaga keutuhan NKRI, berarti kami (TNI) ingkar janji, orang ingkar janji adalah munafik" (Danrem 012/TU Kolonel Inf Geerhan Lantara, Kecamatan Pulo Aceh, Kamis, 9 September 2004)

Kalau kita dalami apa yang dikatakan oleh Danrem 012/TU Kolonel Inf Geerhan Lantara ketika berpidato pada meresmikan Makoramil Pulo Aceh yang merupakan Makoramil pertama di Kecamatan Pulo Aceh pada hari Kamis, 9 September 2004. Jelas itu Danrem 012/TU Kolonel Inf Geerhan Lantara hanyalah melakukan taklid buta terhadap Soekarno.

Seharusnya pasukan dan perwira TNI menggunakan akal dan pikirannya untuk mengetahui sejarah yang sebenarnya bagaimana itu Negara RI ini tumbuh dan berkembang dan dihubungkan dengan Negeri Acheh.

Tetapi, karena memang itu Danrem 012/TU Kolonel Inf Geerhan Lantara hanya diajarkan patuh dan taat pada atasan, walaupun atasannya hanya taklid pada Soekarno, maka jelas apa yang dilontarkannya tentang Negeri Acheh, isinya hanyalah merupakan isi dari pikiran yang hanya mengikuti apa yang telah diulang-ulangnya oleh atasanannya. Kalau Tidak oleh Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, jelas itu yang dikatakan oleh Jenderal TNI Endriartono Sutarto.

Coba perhatikan apa yang dikatakan oleh Danrem 012/TU Kolonel Inf Geerhan Lantara: "Kalau ada pihak yang angkat senjata ingin merdeka, tetap saya kejar meski sampai ke lubang tikus sekalipun. Hal itu jelas ditulis dalam pembukaan UUD 1945"

Mari kita kupas apa yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.

Baru saja dibuka itu Pembukaan UUD 1945 langsung dibagian atas sudah terbaca: "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

Nah, ternyata itu Danrem 012/TU Kolonel Inf Geerhan Lantara tidak pernah diajarkan oleh atasannya untuk menghayati isi dari Pembukaan UUD 1945 tetapi hanya sebagai jimat saja, maka tidak tahu ada kalimat seperti diatas yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Dan kalimat tersebut kalau dihubungkan dengan dengan Negeri Acheh. Jelas itu merupakan senjata makan tuan.

Kalau itu Danrem 012/TU Kolonel Inf Geerhan Lantara diajarkan sejarah pertumbuhan dan perkembangan Negara RI yang sebenarnya lalu dihubungkan dengan Negeri Acheh, maka jelas itu Danrem 012/TU Kolonel Inf Geerhan Lantara akan mengetahui dengan jelas dan benar bahwa Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 telah menelan, mencaplok, menduduki, dan menjajah Negeri Acheh dengan menggunakan PP RIS No.21/1950 dan PERPPU No.5/1950 melalui mulut Sumatera Utara.

Jadi, kalau itu Danrem 012/TU Kolonel Inf Geerhan Lantara mempelajari sejarah RI yang benar, maka jelas tidak akan sembarangan ketika berpidato dihadapan warga Kecamatan Pulo Aceh, pada hari Kamis, 9 September 2004 sambil berkoar-koar: "Kalau ada pihak yang angkat senjata ingin merdeka, tetap saya kejar meski sampai ke lubang tikus sekalipun. Hal itu jelas ditulis dalam pembukaan UUD 1945"

Jelas, yang menjajah Negeri Acheh adalah Soekarno bersama APRIS pada awalnya, kemudian ganti nama TNI. Jadi kalau ada rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila, itu memang masuk akal, karena memang Negeri Acheh dirampok, ditelan, diduduki, dan dijajah RIS diteruskan oleh RI sampai detik sekarang ini.

Coba tunjukkan itu fakta, bukti, sejarah dan dasar hukumnya bahwa Negeri Acheh itu milik Soekarno, milik RI kalau memang benar apa yang dikatakan oleh Danrem 012/TU Kolonel Inf Geerhan Lantara ? Bagaimana itu Negeri Acheh bisa berada dalam sangkar RI ?

Jangan asal berpidato yang sangkut sana sangkut sini, sambil acungkan Pembukaan UUD 1945. Ternyata apa yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 itu justru merupakan suatu peringatan bagi pihak Pemerintah RI dan TNI "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

Kalau yang dimaksud oleh Danrem 012/TU Kolonel Inf Geerhan Lantara dalam Pembukaan UUD 1945 adalah "untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia"

Itu harus dipelajari sejarah pertumbuhan dan perkembangan Negara RI yang dihubungkan dengan NegeriAcheh. Karena yang dimaksud dengan seluruh tumpah darah Indoensia itu adalah Negara-negara Bagian RIS yang ditelan oleh Negara RI, yang juga Negara RI adalah Negara Bagian RIS. Sedangkan negeri Acheh adalah bukan Negara Bagian RIS. Negeri Acheh adalah Negeri yang ditelan, dicaplok, diduduki, dan dijajah oleh RIS diteruskan oleh RI yang menjelma menjadi NKRI pada tangal 15 Agustus 1950.

Coba baca lagi itu sejarah pertumbuhan dan perkembangan Negara RI dan Negeri Acheh, jangan hanya pidato yang isinya kosong, Kolonel Inf Geerhan Lantara. Rakyat Acheh jangan terus dibodohi dan ditipu dengan berbagai argumentasi Pembukaan UUD 1945. Itu argumentasi yang ada dalam Pembukaan UUD 1945 merupakan senjata makan tuan kalau dipakai oleh Kolonel Inf Geerhan Lantara dalam mempertahankan Negeri Acheh dalam sangkar RI.

Rakyat Acheh sekarang sudah sadar. Mana bisa lagi dibodohi dan ditipu dengan berbagai alasan UUD 1945 dan rincian Pancasila yang ada dalam Pembukaan UUD 1945.

Seharusnya sekarang, kalau memang Kolonel Inf Geerhan Lantara ingin melihat Negeri Acheh aman, coba serahkan kepada seluruh rakyat Acheh untuk menentukan masa depan mereka melalui jalan jajak pendapat dalam bentuk referendum dengan memberikan dua pilihan. Pilihan pertama YA bebas dari RI dan pilihan kedua TIDAK bebas dari RI, dengan disaksikan oleh PBB.

Itu cara dan jalan penyelesaian yang demikian adalah jalan penyelesaian yang adil, jujur dan bisjaksana. Bukan dengan moncong senjata seperti yang dilakukan oleh Kolonel Inf Geerhan Lantara sekarang.

Itu Negeri Acheh bukan milik orang Bugis, bukan milik orang Jawa, bukan milik orang Sunda, bukan milik orang Melayu, bukan milik orang Dayak, bukan milik orang Madura, bukan milik orang Batak, tetapi milik seluruh rakyat Acheh.

Jadi Kolonel Inf Geerhan Lantara janganlah taklid buta pada pinpiman saja. Walaupun memang benar itu tercantum dalam Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Tetapi kalau itu yang dikatakan oleh atasan adalah tidak benar dalam hal Negeri Acheh, maka harus berani mengatakan bahwa apa yang dilakukan pihak RI terhadap Negeri Acheh adalah merupakan bentuk penjajahan, yang melanggar Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan"

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

http://pendidikan.bangkapos.com/index.php?aksi=bacaberita&beritaid=955&rubrik=2&kategori=1&topik=4

Copyright (c) 2004 Serambi Indonesia. All rights reserved.
Rubrik: Serambi Nusa Edisi: Jum'at, 10 September 2004
Danrem 012: "Yang Ingin Merdeka, Saya Kejar sampai Lubang Tikus"

BANDA ACEH - Danrem 012/TU Kolonel Inf Geerhan Lantara kembali menegaskan komitmen TNI untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari Sabang sampai Merauke. "Kalau ada pihak yang angkat senjata ingin merdeka, tetap saya kejar meski sampai ke lubang tikus sekalipun," tegas Danrem 012 di hadapan warga Kecamatan Pulo Aceh, Kamis (9/9).

Kolonel Geerhan menandaskan, kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 bukan semata-mata karena kesamaan georgrafis, senasib, dan sejarah tetapi kemerdekaan yang lahir waktu itu adalah berkat ramhmat Allah SWT.

"Hal itu jelas ditulis dalam pembukaan UUD 1945. Maka siapa pun yang ingin memerdekakan diri dan pisah dari NKRI, itu gila," tegas Geerhan.

Menurutnya, TNI sebagai institusi resmi pemerintah yang bertugas menjaga keutuhan NKRI sampai saat ini masih tetap setia mempertahankan negara ini dari Sabang sampai Meurauke. "Kalau kami tidak menjaga keutuhan NKRI, berarti kami (TNI) ingkar janji, orang ingkar janji adalah munafik," katanya.

Bila nantinya ada pihak yang ingin menjadikan 4 Desember sebagai hari kemerdekaan, tetap tidak diperbolehkan, karena hari kemederdekaan bangsa ini adalah 17 Agustus. "Bila nanti ada yang melakukannya akan saya serang," tegasnya. Dikatakan, kalau ada orang Aceh yang ingin merdeka dan pisah dari NKRI, tanya dulu pada pihaknya, sebab kemerdekaan yang diprolamirkan oleh para pejuang dan pahlawan terdahulu sudah komitmen dari Sabang sampai Meurauke. "Berarti Aceh ini bukan milik orang Aceh itu sendiri, tapi juga milik orang di luar Aceh. Saya sebagai orang Bugis, tanya dulu pada saya kalau Anda ingin memerdekakan daerah ini, jangan keinginan sendiri-sendiri," ujar Geerhan Lantara.

Menyingung tentang prilaku prajurit TNI di lapangan, pihaknya tidak tutup mata terhadap ada satu dua orang yang melakukan tindakan di luar prosedur yang telah digariskan. Danrem berharap agar masyarakat tidak segan-segan melapor pada pihaknya. "Kalau saudara semua cinta TNI, maka bila ada anak buah saya yang salah, tolong lapor pada saya. Jangan takut. Kita pasti tindak yang berbuat salah itu," pintanya dengan tegas.

Kunjungan Danrem 012 selama dua jam ke Pulo Aceh dalam rangka meresmikan Makoramil Pulo Aceh yang merupakan Makoramil pertama sejak kecamatan itu berpisah dengan Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Dalam kunjungan tersebut, Danrem 012 didampingi Dandim 0101 Aceh Besar, Letkol Joko Warsito.(su)
----------