Stockholm, 14 September 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

WAHABIYIN ROKHMAWAN KELUARKAN DALIL NAQLI TETAPI SEBATAS KERONGKONGANNYA SAJA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KELIHATAN ITU WAHABIYIN ROKHMAWAN MENGELUARKAN KEMBALI DALIL NAQLINYA DAN PENDAPAT KAUM WAHABI SAUDI TETAPI HANYA SEBATAS KERONGKONGANNYA SAJA

"Semakin lama itu Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman cs, Hasan Tiro semakin kelihatan pengecutnya. Sudah mereka semua pengecut ditambah sesat dan menyesatkan lagi. Coba kita perhatikan apa yang saya tinjukan kepada Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman tentang sindiran pertanyaan mengenai " Apakah perang modern yang dimaksud pernah di contohkan Rosululloh SAW ? Apakah Rosululloh pernah mengirimkan delegasinya untuk menyamarkan dengan bergabung ke penduduk Madinnah ? dll. Wahai Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman, memang benar Rosululloh membolehkan strategi memata-matai atau mengintai gerak-gerik musuh tetapi jelas itu dilakukan dengan tidak menyamarkan diri berbaur dengan penduduk Madinnah akan tetapi delegasi tersebut diutus Rosululloh untuk mendekat dan mengintai perkemahan musuh yang letaknya jauh dari penduduk." Baiklah Rokhmawan Agus Santosa dan Salafi di Solo, Jawa Tengah, Indonesia.

Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi.

Ternyata terbukti bahwa Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi adalah seorang yang seperti ular atau londok. Sering bertukar warna tergantung keadaan, begitu juga melilit dan mengkelit dari apa yang telah diucapkannya.

Perhatikan saja, pagi ini Ahmad Sudirman membaca kiriman email Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi yang isinya sebagian hanyalah merupakan kopian-kopian dalil naqli atau dalil nadhari ditambah dengan beberapa pendapat pimpinan kaum wahabi di Saudi.

Disamping itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi memang tidak mampu memberikan argumentasi yang berdasarkan dalil naqli untuk memberikan tanggapan atas apa yang telah diterangkan oleh Ahmad Sudirman tentang taktik dan strategi perang Rasulullah saw sebelum pecah perang Badr pada tahun 2 H melawan kaum musyrikin Mekkah dan sekutunya.

Yang bisa dikatakan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi ini adalah seperti burung beo saja. Karena memang itu otak Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi ini kosong dari pengetahuan sirah Nabi, maka untuk membantah apa yang diterangkan Ahmad Sudirman-pun susah, begitu juga untuk menerima-pun pura-pura seperti orang yang menolak.

Coba saja perhatikan apa yang diungkapkan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi: "Jelas sekali Itu Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman yang telah memaparkan strategi perang Rosululloh SAW yg telah mengirimkan utusan beliau untuk memata-matai musuh hanyalah mengaburkan apa yang saya pertanyakan. Wahai Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman, memang benar Rosululloh membolehkan strategi memata-matai atau mengintai gerak-gerik musuh tetapi jelas itu dilakukan dengan tidak menyamarkan diri berbaur dengan penduduk Madinnah akan tetapi delegasi tersebut diutus Rosululloh untuk mendekat dan mengintai perkemahan musuh yang letaknya jauh dari penduduk."

Sebelumnya, mana ada itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi menerangkan taktik dan strategi perang Rasulullah saw menghadapi kaum musyrikin Mekkah dan sekutunya. Barulah setelah Ahmad Sudirman menjelaskannya di mimbar bebas ini, itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi mengenal ada taktik dan strategi perang yang dijalankan Rasulullah saw sebelum menghadapi perang Badr pada tahun 2 H.

Yang paling celaka yang dibuat oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi adalah tanpa merasa berdosa telah menempatkan dirinya dipihak orang-orang yang telah melakukan pembunuhan, pemerkosaan, penjarahan, perampokan, pendudukan, dan penjajahan di Negeri Acheh.

Inilah salah satu kemunafikan Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi yang dengan terang-terangan dipertontonkan dan dipertunjukkan kehadapan seluruh rakyat Acheh dan seluruh rakyat RI.

Mengapa Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi ini tebal muka dan tidak ada merasa malu apalagi merasa berdosa ikut menyokong dan mendukung kelakuan TNI yang diperintahkan Megawati untuk terus menduduki dan menjajah serta membunuh rakyat muslim Acheh ?

Karena, memang Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi ini otaknya telah dipenuh dan telah dijejali dengan apa yang telah dijalankan oleh pimpinan kaum wahabi Saudi yang memang para pimpinannya telah dengan gampang dan seenaknya mengkafirkan orang-orang Islam yang ada diluar kaum wahabi Saudi ini.

Jadi, kalau hanya sekedar ikut menyokong dan mendukung kebijaksanaan pembunuhan dan penjajahan di Negeri Acheh, itu bagi kaum wahabi ini bukan suatu hal yang berdosa. Cukup dengan menampilkan dan mengkopi hadits-hadits yang hanya dibaca sampai dikerongkongannya saja. Mana itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi hapal semua hadits yang dituliskannya atau dikopikannya itu. Karena memang pandainya hanya menjiplak kelakuan pimpinan kaum wahabi Saudi saja.

Karena itu wajar dalam hal melihat tentang konflik Acheh inipun, mana itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi mampu mencerna, menganalisa akar masalah utama timbulnya konflik Acheh ini.

Dan memang secara sadar itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi telah menempatkan dirinya didepan pasukan TNI/POLRI untuk ikut membunuh rakyat muslim Acheh dalam rangka melanggengkan penjajahan RI di Negeri Acheh.

Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi karena memang picik dan degil dalam masalah konflik Acheh ini, maka dengan seenak udelnya sendiri mereka-reka dan mengada-ada dengan mengatakan: "Sedangkan yang terjadi pada GAM/TNA mereka begitu pengecutnya yang membaurkan diri dengan rakyat aceh untuk menghadapi TNI. Nah ketika TNI mengetahui gelagat mereka yang menyamar sebagai penduduk aceh biasa dan ketika menangkap atau membunuhnya maka di lontarkanlah isu bahwa TNI membunuhi rakyat aceh yg tak berdosa. Jelas ini adalah akal bulus yang made in Hasan Tiro pengecut itu. Seharusnya kalau GAM/TNA benar-benar ksatria yg tidak pengcut maka umumkan bahwa dirinya berada di hutan tertentu dan tidak membaur kepada rakyat."

Kalaulah memang itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi adalah seorang yang pandai dan bijak, maka ia tidak akan menuliskan hal seperti itu. Mengapa ?

Karena kalau itu yang namanya pasukan TNI telah dilatih untuk melakukan perang modern oleh Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, maka jelas itu pasukan TNI mampu menghadapi dan melakukan perang gerliya ini.

Tetapi karena memang pasukan TNI yang dibina oleh Ryamizard Ryacudu ini adalah sebagian besar hanya diperintahkan untuk membunuh dan terus menduduki Negeri Acheh, maka tanpa peduli disapunya siapa rakyat Acheh yang diangap sebagai anggota GAM.

Nah, hal-hal demikian yang tidak dimengerti dan tidak dipahami oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi. Karena memang otak Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi adalah otak udang.

Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi, kalian memang bodoh dan tidak mengerti dalam hal perang yang dilakukan oleh TNI di Negeri Acheh ini, karena itu janganlah seenak udel sendiri memberikan komentar yang dangkal dan salah kaprah itu.

Paling apa yang kalian kemukakan di mimbar bebas ini yang menyangkut pembunuhan TNI terhadap rakyat muslim Acheh diketawakan oleh itu Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu dan Jenderal TNI Endriartono Sutarto.

Kalian Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi karena memang buta tentang konflik Acheh dan budek karena tidak mau mendengar dan membaca sejarah tentang pertumbuhan dan perkembangan Negara RI dan Negeri Acheh, maka akhirnya kalau berbicara tentang konflik Acheh dan cara penyelesaiannya, hanyalah seperti sampah saja, lagi salah kaprah.

Coba bagaimana bodoh dan budeknya itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi mengatakan: "Jelas ini adalah akal bulus yang made in Hasan Tiro pengecut itu. Seharusnya kalau GAM/TNA benar-benar ksatria yg tidak pengcut maka umumkan bahwa dirinya berada di hutan tertentu dan tidak membaur kepada rakyat."

Nah, makin kelihatan bagaimana otak Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi yang melihat dan memperhatikan tentang perang di Acheh ini.

Dari apa yang dikatakan oleh Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi ini saja orang sudah bisa membaca siapa sebenarnya orang yang kerja di Yayasan Pesantren Bukhori Solo bagian Laboratorium komputer ini.

Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi nafsunya saja besar. Otaknya adalah otak udang.

Sebenarnya kalau Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi mengerti bagaimana jaringan TNI di Acheh tidak akan bercuap seperti itu. Mengapa ?

Karena jelas, dalam perang modern yang didalamnya termasuk perang gerilya ini, tidak ada itu yang namanya seperti penjual obat, yang memberitahukan khasiat obatnya, padahal sebenarnya bohong. Sambil teriak-teriak, inilah obatnya, coba kejar sini.

Dipikir Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi itu perang gerilya di Acheh seperti perangnya tukal jual obat di alun-alun atau di pusat kota Solo sana.

Lihat dan contoh Rasulullah saw, sebelum pecah perang Badar, menugaskan kepada Abdullah bin Jahsy dengan pembantunya untuk mengintai dan mengawasi gerak-gerik musuh di daerah Nakla antara Mekkah dan Tha'if.

Kemudian itu Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi mengatakan: "Nah kalau sudah, intailah itu gerak gerik TNI. Tetapi boro-boro mereka (GAM/TNA) mengikuti strategi perang Rosululloh SAW, secara nyata saja mereka dikejar-kejar TNI. Nah inilah kepengecutan GAM/TNA belum lagi bagimana itu pengecutnya Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman cs serta pimpinan mereka (Hasan Tiro dan antek-anteknya) yang enak-enak duduk santai-santai di swedia sana sambil menghisap rokok (istilah saja, jangan dibahas)."

Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi dalam perang gerilya tidak ada istilah pengecut. Yang ada adalah siapa yang paling baik dan paling canggih dalam menjalankan siasat, taktik, dan strategi untuk membuat pihak musuh perperosok kedalam jaringan lawannya.

Kalau perang gerilya model Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi, itu namanya bukan perang gerilya, tetapi adu jotos model Wahabi-Solo yang diajarkan kepada anak muridnya di Pesantren Bukhori Solo.

Jelas Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi kalian lah yang sekarang mengikuti hawa nafsu. Mana ada kalian mendasarkan dalil naqli bagaimana Rasulullah saw melakukan taktik dan strategi perang sebelum perang Badar, setelah perang Badr, sebelum Perang Uhud, dan sesudah perang Uhud, perang melawan Bani Nadhir, sebelum perang Ahzab, sesudah perang Ahzab, taktik dan strategi sebelum Perjanjian Hudaibiyah, perang Mut'ah, strategi pembebasan Mekkah, perang Hunain, sebelum perang Tabuk.

Kalau memang masalah taktik dan strategi perang yang telah dijalankan Rasulullah saw ini dajarkan oleh kalian dalam kalangan kaum wahabi, coba ceritakan secara jelas dan gamblang dengan dasar naqlinya.

Kalian jangan hanya tabi pada Raja-Raja keturunan Saud dan pimpinan Wahabi kalian saja.
Apakah itu pimpian dan raja kalian di Saudi itu mempergunakan dasar naqli ketika membangun Kerajaan Saudi ? Coba jelaskan oleh kalian Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi. Biar murid-murid di Pesantren Bukhori Solo paham dan mengerti bagaimana itu kaum wahabi membangun kerajaan Saudi atau dinasti Ibnu Saud dengan paham wahabi dan dakwah salafiyyahnya.

Jelas Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi yang kalian katakan: "Sudah begitu mereka melakukan BID'AH yang besar lagi dengan mendirikan Daulah Islam tetapi tidak mengikuti contoh bagaimana Rosululloh berhasil membentuk DIR di Madinnah."

Itu yang kalian sebutkan Negara yang tidak mencontoh Rasulullah saw dan membuat bid'ah adalah raja-raja kalian dari keturunan Ibnu Saud yang bekerja sama dengan Muhammad bin Abdul Wahab dengan paham wahabi dan gerakan salafi-nya dan juga bersekutu dengan Pemerintah Kerajaan kafir Inggris.

Kalian Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi jangan menutup mata, dan hanya bisa menudingkan jari telunjuk kepihak orang yang ada diluar kaum wahabi saja. Coba tunjukkan itu jari telunjuk kedalam diri kalian sendiri. Apakah dibenarkan itu raja-raja kalian dari dinasti Saud meminta dan mengemis senjata kepada George W. Bush untuk dipakai membunuh sesama umat Islam di Irak.

Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi kalian memang budek dan buta, apa yang kalian katakan: "Mana ada itu NII, GAM/TNA mengadakan perjanjian dengan penduduk indonesia dan penguasa."

Jelas itu pihak ASNLF atau GAM telah melakukan dialog dan perundingan dengan wakil Pemerintah kalian dari negara RI.

Sedangkan dengan pihak NII, pimpinan kalian Soekarno dengan seenak udelnya sendiri membunuh dan menghancurkan umat Islam yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri membangun Daulah Islam di Nusantara ini. Tetapi karena pimpinan kalian Soekarno yang mencampur adukkan paham nasionalisme, Islam dan komunis menjadi pahak rujak uleg Solo, maka menjadilah itu NII sebagai Negara yang wilayah kekuasaannya dijajah oleh Soekarno dan diteruskan oleh Megawati dan TNI/POLRI-nya sampai detik sekarang ini.

Wahai Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi kalian dengan seenak udel sendiri mengatakan: "Jelas sekali itu proklamasi NII yg di proklamirkan Kartosuwiryo BATAL karena kenyatannya yang menghadirinya hanyalah tokoh-tokoh NII dan rakyat indonesia mayoritas tidak setuju. Begitu pula dengan GAM yang diproklamasikan ulang oleh Si Pengcut Hasan Tiro tetap dianggap dan dinyatakan batal."

Kalian Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi memang budek, mana mengerti dan paham tentang Negara RI. Kalian datang dari Arab sana, walaupun jasad kalian orang Jawa Solo asli, tapi pikiran dan paham kalian adalah paham imporan dari Arab sana. Makanya mana pikiran kalian itu mengerti dan bisa memahami tentang perjuangan Umat Islam di Nusantara dan di Negeri Acheh ini. Seharusnya kalian ini wahai Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi kembali ke Negeri Saud sana bergabung dengan induk kalian kaum wahabi, tidak perlu ada di Solo.

Itu yang tidak setuju dengan NII adalah orang-orang model kalian Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi dan model-model Soekarno dan para penerusnya. Kalian memang munafik.

Sedangkan perjuangan rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila tidak usah kalian berbuih-buih mengucapkannya, karena memang kalian tidak mau memahami dan tidak mau mengerti, otak kalian sudah penuh dengan paham wahabi dicampur dengan racun pancasila walapun mulut kalian mengatakan menolak pancasila, tetapi kenyataanya kalian telah menceburkan diri dengan sukarela kedalam lumpur hitam sistem pancasila, kalian memang tidak sadar, karena kalian memang munafik.

Kalian Wahabiyin Rokhmawan dan Salafi-Solo-Wahabi-Saudi mengaku tidak jahil ilmu agama, tetapi kenyataan kalian memang jahil tentang manhaj Rasulullah saw dalam hal menegakkan dasar-dasar hukum dan sumber hukum yang dicontohkan Rasulullah saw. Kalian telah dengan seenak udel sendiri sambil menkopikan berbagai dasar naqli hanya dipakai untuk kepentingan pihak penguasa Negara kafir RI dan juga kalau di Kerajaan Saudi hanyalah untuk penetingan raja-raja kalian yang sudah menyimpang dari apa yang dicontohkan Rasulullah saw dalam hal membangun Daulah Islamiyah atau Negara Islam yang dibangun oleh Rasulullah saw.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Tue, 14 Sep 2004 00:53:28 -0700 (PDT)
From: rohma wawan <rokh_mawan@yahoo.com>
Subject: Fwd: AHMAD SUDIRMAN SANG PENGECUT
To: ahmad@dataphone.se
Cc: ahmad_jibril1423@yahoo.com, hudoyo@cbn.net.id, sea@swipnet.se,siliwangi27@hotmail.com, habearifin@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com, yuhe1st@yahoo.com, dityaaceh_2003@yahoo.com, megawati@gmt.net, hassan.wirayuda@ties.itu.int, alchaidar@yahoo.com, perlez@nytimes.com, syifasukma@yahoo.com, imarrahad@eramuslim.com, viane@kon-x.com, muhammad59iqbal@yahoo.com, husaini54daud@yahoo.com, abu_farhan04@yahoo.com

Bismillaahirrohmaanirroohiim
Assalaamu'alaikum Wr.Wb

Itu Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman, Hasan Tiro Seperti Wanita di Dalam Pingitan

Semakin lama itu Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman cs, Hasan Tiro semakin kelihatan pengecutnya. Sudah mereka semua pengecut ditambah sesat dan menyesatkan lagi. Coba kita perhatikan apa yang saya tinjukan kepada Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman tentang sindiran pertanyaan mengenai " Apakah perang modern yang dimaksud pernah di contohkan Rosululloh SAW ? Apakah Rosululloh pernah mengirimkan delegasinya untuk menyamarkan dengan bergabung ke penduduk Madinnah ? dll.

Jelas sekali Itu Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman yang telah memaparkan strategi perang Rosululloh SAW yg telah mengirimkan utusan beliau untuk memata-matai musuh hanyalah mengaburkan apa yang saya pertanyakan.

Wahai Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman, memang benar Rosululloh membolehkan strategi memata-matai atau mengintai gerak-gerik musuh tetapi jelas itu dilakukan dengan tidak menyamarkan diri berbaur dengan penduduk Madinnah akan tetapi delegasi tersebut diutus Rosululloh untuk mendekat dan mengintai perkemahan musuh yang letaknya jauh dari penduduk.

Sedangkan yang terjadi pada GAM/TNA mereka begitu pengecutnya yang membaurkan diri dengan rakyat aceh untuk menghadapi TNI. Nah ketika TNI mengetahui gelagat mereka yang menyamar sebagai penduduk aceh biasa dan ketika menangkap atau membunuhnya maka di lontarkanlah isu bahwa TNI membunuhi rakyat aceh yg tak berdosa. Jelas ini adalah akal bulus yang made in Hasan Tiro pengecut itu. Seharusnya kalau GAM/TNA benar-benar ksatria yg tidak pengcut maka umumkan bahwa dirinya berada di hutan tertentu dan tidak membaur kepada rakyat. Nah kalau sudah, intailah itu gerak gerik TNI. Tetapi boro-boro mereka ( GAM/TNA ) mengikuti strategi perang Rosululloh SAW, secara nyata saja mereka dikejar-kejar TNI. Nah inilah kepengecutan GAM/TNA belum lagi bagimana itu pengecutnya Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman cs serta pimpinan mereka ( Hasan Tiro dan antek-anteknya ) yang enak-enak duduk santai-santai di swedia sana sambil menghisap rokok ( istilah saja, jangan dibahas ).

Dengan demikian alasan apapun yang mereka (Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman cs serta Hasan Tiro bersama antek-anteknya, GAM/TNA ) tampilkan tetaplah mereka semua berperang berlandaskan Hawa nafsu, sakit hati, balas dendam, rasa benci kepada penguasa (pemerintahan RI).

Sudah begitu mereka melakukan BID'AH yang besar lagi dengan mendirikan Daulah Islam tetapi tidak mengikuti contoh bagaimana Rosululloh berhasil membentuk DIR di Madinnah. Mana ada itu NII, GAM/TNA mengadakan perjanjian dengan penduduk indonesia dan penguasa. Jelas sekali itu proklamasi NII yg di proklamirkan Kartosuwiryo BATAL karena kenyatannya yang menghadirinya hanyalah tokoh-tokoh NII dan rakyat indonesia mayoritas tidak setuju. Begitu pula dengan GAM yang diproklamasikan ulang oleh Si Pengcut Hasan Tiro tetap dianggap dan dinyatakan batal. Mana ada itu semua penduduk aceh yang setuju dengan proklamasinya Hasan Tiro kecuali hanya Anggota GAM dan simpatisan GAM. Dan ironisnya yang menjadi Anggota GAM dan simpatisan dengan GAM hanyalah orang-orang bodoh, jahil terhadap ilmu agama islam dll. Mana pernah itu Rosululloh SAW mengadakan perjanjian damai atau perjanjian pembentukan Daulah Islam dengan sepihak ( umat muslim saja ), melainkan melibatkan beberapa pihak yang bersangkutan.

Sementara waktu saya tampilkan artikel satu ini.

Diriwayatkan dari Abi Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah telah bersabda: "Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya."(H.R Tirmidzi dan periwayat lainnya).

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam kitabnya "Al-Arba'in" bahwa derajat hadits ini hasan. Syaikh Salim Al-Hilali (Murid Syaikh Al-Albani rahimahullah) dalam kitabnya Shahih Al-Adzkar wa dhi'fuhu bahwa derajatnya shahih lighorihi (shahih karena adanya riwayat yang lainnya). Jadi hadits ini bisa dijadikan dasar untuk beramal.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan "Hadits ini merupakan pondasi yang sangat agung diantara pondasi adab." Beliau mengatakan dalam "Jami'ul 'Ulum wal Hikam" 'Sesungguhnya barangsiapa yang baik Islamnya pasti ia meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak penting/bermanfaat baginya." Ukuran penting atau bergunanya itu tentu ditimbang dari syari'at, bukan menurut rasio atau akal, atau hawa nafsu.

Termasuk meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak penting ialah meninggalkan yang makruh, samar-samar, bahkan berlebih-lebihan dalam masalah mubah.

Imam Ibnu Rajab mengatakan pula "Kebanyakan pendapat tentang meninggalkan apa-apa yang tidak berguna ialah menjaga lisan dari apa-apa yang tidak berguna, seperti umpatan, dll" Allah berfirman" Tidaklah seseorang mengucapkan sesuatu ucapan kecuali ada malaikat yang mengawasi dan mencatat"(Qaaf: 18).

Umar bin Abdul Aziz berkata "Barangsiapa yang membandingkan antara ucapan dan perbuatannya, maka ia tidak akan berbicara kecuali hanya dalam hal yang penting saja."

Imam An-Nawawi berkata "Ketahuilah, setiap mukallaf (orang yang dewasa dan terbebani hukum syari'at) diharuskan untuk menjaga lisannya kecuali untuk hal-hal yang mengandung maslahat/kebaikan. Apabila sama maslahatnya, jika ia berkata ataupun diam, sunnah untuk menahannya, karena kata-kata yang mubah dapat menjerumuskan seeorang dalam hal-hal yang haram atau makruh, dan ini sering terjadi. Padahal mencari keselamatan itu tak ada bandingannya."

Imam Ibnu Qoyyim berkata "Menjaga lisan ialah dimaksudkan agar seseorang jangan sampai mengatakan hal yang sia-sia. Apabila hendak berkata, maka hendaknya dipikirkan apakah ada manfaat bagi dien/ agamanya. Apakah akan terdapat manfaat dari apa yang diucapkannya itu? Jika bermanfaat, maka katakan lagi, adakah kata-kata yang lain yang lebih bermanfaat atau tidak?(Dari kitab Ad-Daa'u wad Dawaa').

Kata beliau juga "Adalah sangat mengherankan orang bisa menghindari dari hal-hal yang haram, berzina, mabuk-mabukan, mencuri, memandang hal yang diharamkan, dan lainnya, tetapi sulit menjaga gerakan lisannya. Sampai-sampai ada orang yang dipandang ahli ibadah, zuhud, tetapi ia berbicara dengan ucapan yang tanpa ia sangka telah mendatangkan murka Allah." Ancaman itu sebagaimana dalam hadits Nabi "Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kata-kata, ia tidak memikirkan (baik/buruk) didalamnya maka ia tergelincir disebabkan kata-katanya itu ke dalam neraka sejauh timur dan barat" (HR.Bukhari Muslim)

Seorang 'Alim negeri Saudi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rahimahullah dalam kitabnya Syarah Riyadhus Shalihin menasehatkan beberapa hal.

Seorang Muslim yang ingin baik Islamnya maka hendaklah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Contohnya, jika engkau bingung, apakah mengerjakan sesuatu atau tidak jadi, maka lihatlah apakah ia mengandung manfaat dalam agamamu dan dunia, atau tidak penting. Jika penting, maka lakukanlah, jika tidak maka tinggalkanlah karena mencari keselamatan harus diutamakan.

Demikian pula jangan pula mencampuri urusan orang lain jika kamu tidak ada kepentingan terhadapnya. Janganlah seperti kebanyakan orang hari ini, dimana rasa ingin tahu terhadap masalah yang sedang dibicarakan oleh dua orang mendorongnya untuk mendatangi keduanya itu dan mencampurinya.

Termasuk contoh yang kurang baik lagi, jika engkau bertemu dengan seseorang engkau menanyakan "Dari mana?" atau "Mau ke mana?". Sepintas itu hanya pertanyaan 'kepedulian' saja padahal jika orang yang ditanya itu baru saja pulang/ sedang akan ke masjid, atau pengajian, dan ia tidak suka orang mengetahuinya karena takut riya' maka pertanyaan itu justru memojokkannya dan susah untuk dijawabnya padahal ia tidak mau berbohong. Jadi, jika engkau hendak berkata atau beramal, maka pikirkanlah apakah yang engkau lakukan itu bermanfaat bagi urusan agamamu (akhiratmu) atau duniamu. Jika tidak maka tinggalkanlah. Demikianlah manusia berakal, dia senantiasa memperhatikan amal kebaikannya sebagai bekal menghadapi kematian yang pasti datang, baik dari segi keikhlasannya, dan juga dari segi sesuai/ tidaknya dengan yang dicontohkan Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam. Sabda beliau "Barangsiapa yang beramal yang tidak berdasarkan perintah dari kami maka ia (amal itu) tertolak" (Muslim).

Jelas sekali bahwasanya Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman bukan merupakan orang-orang yang beriman melainkan hanyalah orang islam biasa saja, terbukti dengan apa yang di umpatkan Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman terhadap lawan debatnya ( Bodoh, budek, dungu, biadab dll ).

Imam Ibnu Rajab mengatakan pula "Kebanyakan pendapat tentang meninggalkan apa-apa yang tidak berguna ialah menjaga lisan dari apa-apa yang tidak berguna, seperti umpatan, dll"

Jelas begitu Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman cs begitu membaca artikel saya bisa saja mereka mengomentari " lhoh bagaimana dengan Rokhmawan dan salafynya yg mengatakan NII, GAM/TNA termasuk Kaum Khowarij" ?. Jelas sekali itu bukan umpatan tetapi itu adalah suatu penggolongan yang berdasarkan kaidah ilmu, sejarah, bukti dan fakta dalam kehidupannya sehari-hari.

Wahai Si Ahlul Ahwa, Ahlul Bid'ah dan Bahlul Ahmad Sudirman cs, Hasan Tiro dan antek-anteknya serta NII, GAM/TNA kalau anda semua mati pada saat ini yaitu dengan membenci dan memberontak kepada pemerintahan umat islam yg syah maka mati anda semua adalah mati dalam keadaan JAHILIYAH ( na'u dzubillaahi min dzalik ). Tahukah anda mengenai pengertian mati jahiliyah ?.

Wallohu 'alam bi showab

Wassalaam

Rokhmawan Agus Santosa

rokh_mawan@yahoo.com
rokh-mawan@plasa.com
solo, jateng, Indonesia
----------