Stockholm, 15 September 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

RASJID PRAWIRANEGARA ITU TENTANG BERSUMPAH DAN MEMVONIS KAFIR
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

RASJID PRAWIRANEGARA PERLU DIKETAHUI TENTANG BERSUMPAH DAN MEMVONIS KAFIR KEPADA SESEORANG

"Pak Ahmad Sudirman, apa hukumnya orang Islam yang mengatakan kafir kepada sesama muslim dilihat dari sudut pandangan kita bersama sebagai orang yang mengaku muslim." (Rasjid Prawiranegara , rasjid@bi.go.id , Tue, 14 Sep 2004 08:04:26 +0700)

"Pak Ahmad Sudirman, Apakah ada hak kita untuk mengatakan orang yang bersumpah dan memeluk agama Islam itu kafir ?" (Rasjid Prawiranegara , rasjid@bi.go.id , Tue, 7 Sep 2004 14:01:08 +0700)

Terimakasih saudara Rasjid Prawiranegara di Jakarta, Indonesia

Saudara Rasjid Prawiranegara, soal menghukum atau menjatuhkan vonis seseorang kafir itu harus dikembalikan kepada dasar hukum yang diturunkan Allah SWT. Kita tidak punya hak untuk mengkafirkan atau menyatakan seseorang keluar dari keyakinan keIslamannya, kecuali semuanya dikembalikan kepada dasar hukum Allah SWT yang telah diturunkan Allah SWT.

Seseorang sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. "Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS, At-Taubah, 9: 115). Karena itu seseorang tidak akan diazab oleh Allah karena kesesatannya, kecuali jika orang tersebut melanggar perintah-perintah yang telah diturunkan-Nya.

Begitu juga "Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng'azab sebelum Kami mengutus seorang rasul." (QS, Al-Isra, 17: 15). "Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS, An-Nisa, 4: 115)

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (QS, Al-Maidah: 44).

Orang orang kafir yang divonis Allah SWT ini adalah karena mereka benci dan ingkarnya kepada hukum Allah.

"Barangsiapa berhukum dengan selain hukum Allah maka tidak keluar dari empat keadaan: Pertama, seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia lebih utama dari syariat Islam," maka dia kafir dengan kekafiran yang besar. Kedua, seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia sama (sederajat) dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam," maka dia kafir dengan kekafiran yang besar. Ketiga, seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini namun berhukum dengan syariat Islam lebih utama, akan tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah," maka ia kafir dengan kekafiran yang besar. Keempat, seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini," namun dia dalam keadaan yakin bahwa berhukum dengan selain hukum Allah tidak diperbolehkan. Dia juga mengatakan bahwa berhukum dengan syariat Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum dengan selainnya. Tetapi dia seorang yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini) atau dia kerjakan karena perintah dari atasannya, maka dia kafir dengan kekafiran yang kecil, yang tidak mengeluarkannya dari keislaman dan teranggap sebagai dosa besar. (Asy-Syaikh Abdul 'Aziz bin Baz , Al-Hukmu Bighairima'anzalallahu wa Ushulut Takfir, hal. 71-72, dinukil dari At-Tahdzir Minattasarru' Fittakfir, karya Muhammad bin Nashir Al-Uraini hal. 21-22)

Jadi saudara Rasjid Prawiranegara, dari apa yang dijelaskan diatas, bahwa memvonis sesorang itu kafir harus dikembalikan kepada dasar hukum yang diturunkan Allah SWT.

Karena itu kalau dalam Negara RI misalnya, dimana para pelaksana lembaga negara seperti anggota lembaga legislatif seperti DPR dan MPR menyatakan bahwa berhukum dengan hukum, undang-undang DPR, karena hukum, undang-undang itu lebih utama dari syariat Islam, maka anggota legislatif DPR dan MPR itu kafir dengan kekafiran yang besar. Juga kalau anggota lembaga legislatif seperti DPR dan MPR menyatakan bahwa berhukum dengan hukum, undang-undang DPR, karena ia sama (sederajat) dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam, maka anggota legislatif DPR dan MPR itu kafir dengan kekafiran yang besar. Begitu juga kalau anggota lembaga legislatif seperti DPR dan MPR menyatakan bahwa berhukum dengan hukum, undang-undang DPR namun berhukum dengan syariat Islam lebih utama, akan tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah, maka anggota legislatif DPR dan MPR itu kafir dengan kekafiran yang besar.

Kemudian menyinggung masalah bersumpah. Kalau kita ambil contoh Presiden dan Wakil Presiden RI yang melakukan Sumpah Presiden (Wakil Presiden) dengan mengatakan: "Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia (Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa."

Kita teliti apa itu yang dimaksud dengan "memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya"

Dimana kalau pengertian dan maksud "memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya" adalah untuk menegakkan dan menjalan Undang Undang Dasar yang dibuat oleh lembaga Legislatif MPR dan DPR serta Presiden, dengan suatu keyakinan bahwa berhukum dengan Undang Undang Dasar MPR, undang-undang DPR, dan Peraturan Pemerintah karena Undang Undang Dasar MPR, undang-undang DPR, Peraturan Pemerintah itu lebih utama dari syariat Islam, maka melakukan sumpah Presiden dan Wakil Presiden itu kafir dengan kekafiran yang besar.

Juga dengan pengertian dan maksud "memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya" adalah untuk menegakkan dan menjalan Undang Undang Dasar yang dibuat oleh lembaga Legislatif MPR dan DPR serta Presiden, dengan suatu keyakinan bahwa Undang Undang Dasar MPR, undang-undang DPR, dan Peraturan Pemerintah sama (sederajat) dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam, maka melakukan sumpah Presiden dan Wakil Presiden itu kafir dengan kekafiran yang besar.

Begitu juga pengertian dan maksud "memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya" adalah untuk menegakkan dan menjalan Undang Undang Dasar yang dibuat oleh lembaga Legislatif MPR dan DPR serta Presiden, dengan suatu keyakinan bahwa berhukum dengan Undang Undang Dasar MPR, undang-undang DPR, dan Peraturan Pemerintah namun berhukum dengan syariat Islam lebih utama, akan tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah, maka melakukan sumpah Presiden dan Wakil Presiden itu kafir dengan kekafiran yang besar.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Tue, 7 Sep 2004 14:01:08 +0700
From: "Rasjid Prawiranegara" <rasjid@bi.go.id>
To: "Ahmad Sudirman" <ahmad@dataphone.se>
Cc: "Sumitro" <mitro@kpei.co.id>
Subject: RE: HAM AM: SUMITRO PERLU GALI LEBIH DALAM AL-MAIDAH: 44, 45, 47

Pak Ahmad Sudirman, Apakah ada hak kita untuk mengatakan orang yang bersumpah dan memeluk agama Islam itu kafir ?

Wassalam

Rasyid Prawiranegara

rasjid@bi.go.id
Bank Indonesia
Jakarta, Indonesia
----------

Date: Tue, 14 Sep 2004 08:04:26 +0700
From: "Rasjid Prawiranegara" <rasjid@bi.go.id>
To: "Ahmad Sudirman" <ahmad@dataphone.se>
Cc: <mitro@kpei.co.id>
Subject: RE: WAHABIYIN ROKHMAWAN MAKIN SESAT MENGHANCURKAN KESATUAN KAUM MUSLIMIN

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

Pak Ahmad Sudirman,
Apa hukumnya orang Islam yang mengatakan kafir kepada sesama muslim dilihat dari sudut pandangan kita bersama sebagai orang yang mengaku muslim.

Wassalam

Rasyid Prawiranegara

rasjid@bi.go.id
Bank Indonesia
Jakarta, Indonesia
----------